Tes DNA (Dedeknya Ada Dua!! chap 2)

Aku membetulkan kacamataku yang melorot ke ujung hidungku, dan mengamati Ima lebih lekat.
"Ibu menghendaki tes DNA?" ulangku menegaskan permintaannya. Di hadapanku, Ima nampak gelisah dalam duduknya, dengan mata yang berkeliaran mengamati poster-poster kesehatan yang terpasang di belakangku; tidak fokus. Kali ini, seminggu setelah dia periksa pertama bersama Bedu suaminya, dia datang lagi tapi tidak untuk periksa dan hanya sendiri.
"Ibu..," panggilku lembut mengalihkan perhatian rekayasanya dari poster gambar ibu hamil di dinding. Ima tersentak.
"Iya dok! Eh..i..iya. Maksud saya, bukan..bukan saya yang mau, tapi suami saya," jawabnya gugup. Alisku bertaut.
"Bapak ingin tes DNA untuk dedek yang kembar ini?" Ima mengangguk.
"Alasannya?" kejarku. Bukan ingin tahu. Hanya, tes DNA itu kan bukan semudah dan sesimpel tes darah atau tes air seni. Ada prosedur dan alasan jelas. Misal korban kejahatan, atau perebutan anak, atau meragukan ini anak siapa. Nah!
Ima terdiam sejenak lalu mulai menjawab sambil berkaca-kaca. Sigap, kusiapkan tissue di dekat tangannya yang terkepal saling menggenggan di meja.
"..bapak..bapak ragu ini anaknya..," yah, mulai terisak-isak. Untung antrian pasien di siang hari begini tidak terlalu banyak.
"Lalu?" aku mencondongkan badan, mengurangi jarak di antara kami.
"Bapak berhasil menghubungi ibu dan saudara-saudara saya, ternyata memang nggak ada keturunan kembar di keluarga kami...," aku manggut-manggut. Jadi, keterangan Ima waktu itu hasil kebohongan kilatnya.
"Di keluarga bapak juga katanya nggak ada..," Ima menarik selembar tissue dan menutupi mukanya. Bahunya terguncang-guncang. Aku beranjak dari kursiku dan mengambil tempat di sebelahnya. Kutepuk-tepuk bahunya lembut.
"Sabar ibu.. tenang dulu," kuambilkan segelas air putih yang disediakan Jeng Diah untukku. Dia mengerem isakannya, tersengal-sengal dan menerima uluran gelas air putihku dengan 'terima kasih' pelan.
"Jadi, karena itu, bapak curiga bahwa ini bukan anaknya?"
"I..iya...," Ima membesit hidungnya.
"Maaf, dok..," ujarnya pelan. Aku mengangguk sambil tersenyum.
"Kalau ibu bisa meyakinkan ini memang keturunan kalian berdua, dan yakin tidak melakukan dengan orang lain, kemungkinan superovulasi -dalam satu waktu indung telur ibu mematangkan dua telur sekaligus- bisa jadi penjelasnya, ibu..," aku mencoba membuatnya tenang. Tapi alih-alih lega mendengar jawabanku, tangisnya malah terbit lagi. Kali ini lebih keras. Jeng Diah sampai melongokkan kepala dari tirai pembatas, kujawab dengan kedikan bahu dan kode untuk membawakan segelas air putih lagi.
"I..itulah dok..," Ima mencoba bercerita di sela isakannya.
"Di.. di waktu itu saya pernah me..melakukan sekali dengan..dengan orang lain, mantan pacar saya..," suaranya menjadi pelan, tertelan isakannya. Menyesal sekali tampaknya. Oh, I see... pantas kemarin dia bersikukuh ada turunan kembar dari keluarganya. Supaya Bedu tidak menyelidiki lebih lanjut. Aku memutar bola mataku. Ya..ya.. alasan ketiga dari tes DNA terpenuhi: to find who the daddy is.
"Memangnya mantan pacar ibu ada keturunan kembar?" tanyaku pelan-pelan. Ima menggeleng.
"Nggak..nggak..atau saya yang nggak tau..," dia terisak-isak lagi. Saya menyesal, saya menyesal, ucapnya berkali-kali. Hmm memang kalau sudah begini, penyesalan baru datang. Aku menghela nafas panjang.
"Baik, kalau begitu, saya paham alasan ibu maupun bapak menghendaki tes DNA," aku kembali ke tempat dudukku.
"Tapi, tes itu dilakukan setelah dedek lahir, dan sebelumnya bapak juga perlu berkonsultasi bersama ibu, dengan saya," aku menulis di secarik kertas, tapi sejurus kemudian aku melirik statusnya, melihat hari pertama mens terakhirnya dan menghitung-hitung masa suburnya bulan itu. Dahiku berkerut.
"Maaf bu Ima, kalau saya boleh tahu, ibu berhubungan dengan mantan ibu pada tanggal berapa, sebelum atau sesudah berhubungan dengan bapak?" Ima mengingat-ingat sebentar lalu menyebutkan sebuah tanggal, setelah berhubungan dengan bapak, katanya. Aku manggut-manggut, menghitung lagi di kalender, dan tersenyum padanya.
"Ibu, saran saya, telusuri dulu keturunan kembar di keluarga bapak," pesanku, singkat. Ima mengangguk ragu, mengucapkan terimakasih dan beranjak dari kursi.
Sepeninggal Ima, aku meregangkan tanganku dan menghembuskan nafas panjang.
Ah, mantan pacar.....

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

cerita yang bagus

makanya jangan main api kalau takut terbakar

setelah dibaca, ceritanya menghibur juga

100

Hehehe, hai, udah lama tidak baca ceritamu, tetapi seperti biasa ceritamu menghibur dan keseharian, pokoknya mantafff

90

hahaha... how naughty and lucky she is...
nice story, keren!