Pohon Keluarga (Dedeknya Ada Dua!! chap 3)

Praktek di hari Kamis malam, memang selalu ramai. Baru dibuka satu jam pendaftaran pasien, status yang tertumpuk di mejaku sudah hampir sepuluh. Padahal kalau satu pasien kukelola dalam (minimal) sepuluh menit, satu pasien bisa mengantri sekitar satu jam.
"Lagi dok, laris," Jeng Diah menumpuk tiga lagi status di depanku sambil menyeringai. Aku mengembungkan pipiku.
"Siap pulang telat kan?" balasku.
"Siaapp..apa sih yang enggak buat dokterku ini?" candanya. Aku nyengir.
"Mulai deh," kataku setelah melirik jam dinding, pas jam tujuh malam.
Jeng Diah mengangguk bersiap memanggil pasien pertama. Tapi sebelum itu, dia menghampiriku dan mengangsurkan status urutan kesekian. Punya Ima.
"Datang lagi, dok, sama suaminya sekarang," aku manggut-manggut tanpa suara. Nah, apa maunya mereka sekarang?
***

"Malam, dok," akhirnya Ima dan Bedu duduk di depanku. Aku menguarkan senyum.
"Pas seminggu..ehm dua minggu, ya," kataku meralat. Seminggu setelah Ima datang sendiri, maksudku. Tapi siapa tahu kedatangannya waktu itu disembunyikannya dari Bedu, aku hanya tak ingin menjadi satu faktor pemicu masalah rumah tangga orang. Sepertinya tebakanku benar karena kulihat Ima menatapku dengan pandangan penuh terimakasih.
"Jadi, bagaimana perkembangannya? Bu Ima, masih mual?"
Ima melirik suaminya sebelum menjawab.
"Lumayan dok, tapi sudah tidak begitu mual..," aku tersenyum.
"Baguslah. Selain itu, ada keluhan lain tidak? Pusing atau lemas, misalnya?" Ima menggeleng. Kali ini aku tidak bisa menebak suasana mereka. tapi daripada menyisihkan pikiran untuk hal tidak (terlalu) penting begitu, aku fokus pada bayi kembar mereka (yang entah akhirnya diaku sebagai anak siapa) itu.
"Yuk saya USG lagi," ajakku seperti dua minggu lalu. Proses USG kali ini berjalan lebih tenang. Tidak ada pekik kesenangan. Saat menunjukkan janin kembar mereka yang bergerak-gerak, sesaat aku ingin membalik melihat reaksi Bedu, tapi rasanya janggal.
"Ah, sehat semua dedeknya, Pak. Dijaga ya..," komentarku. Bedu mengguman pelan. Kupikir dia cuek karena masih belum merasa memiliki bayi itu. Tapi di sudut mataku, kulihat dia menghapus ujung matanya. Ima juga. Ah, semoga ini pertanda baik.
Aku mengajak mereka duduk lagi di meja periksa.
"Jadi," kataku sambil menulis resep vitamin untuk sebulan berikutnya.
"..keluarga yang mana kembarnya?" aku mendongak menatap wajah mereka. Ima menunduk. Bedu juga, mereka terdiam cukup lama.
"..keluarga saya, dok," ujar Bedu akhirnya.
"Oh, selamat Pak, garis patrilineal dari Bapak memang kadang kontribusinya kecil, tapi syukurlah, Bapak diberi kelimpahan..," aku merasa lega. Bedu tersenyum.
"Iya dok, kemarin sempat saya ingin cek DNA karena bersikeras di keluarga saya tidak ada yang kembar, dan keluarga Ima juga. Tapi ketika saya bilang ibu saya, saya malah dimarahi, katanya dalam keluarga ibu, budhe dan om kembar. Hanya memang kembarannya meninggal ketika masih kecil," Bedu kembali tersenyum, lebih lebar dan lega, sambil melirik istrinya. Ima balas melirik, tapi kemudian tertunduk lagi.
"Jadi, keinginan tes DNA nya..,"
"Ya nggak jadi lah dok, wong jelas itu anak saya kok," Bedu terkekeh geli. Ima ikut tertawa, tapi tidak selepas suaminya.
Aku mengangguk maklum.
"Syukurlah kalau begitu. Memang baru jadi tren itu. Begitu curiga, tes DNA. Yang penting komunikasi dulu antara Bapak dan Ibu," ujarku dalam senyum dan mengangsurkan resep.
"Cek rutin lagi bulan depan, tapi kalau ada keluhan, bisa datang kapan saja, ya," mereka mengangguk, mengucapkan terimakasih, lalu berlalu.
Sebelum memanggil pasien berikutnya, jeng Diah berbisik padaku.
"Kayaknya Bu Ima nya belum bilang ke suaminya masalah sama mantannya ya dok," ujarnya, berbau gossip. Aku merengut.
"Huss, bukan wilayah kita. Yang penting bayinya sehat toh," jawabku sambil menepis penasaranku sendiri.

Haha..sebenarnya manusiawi ya, penasaran itu? Ah, tapi kuncinya adalah, jangan ingin tahu urusan orang lain. Supaya pikiran ini nggak overloaded.
Semoga mereka bisa berkkomunikasi dengan baik, doaku dalam hati..

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
80

bagus, ga over kayak sinetron.
walopun langsung baca chapter 3, tapi aku langsung dhong. hehehe.
lam kenal ^^

80

Daily banget ...

Setelah mumet sama sinetron di tipi yang plotnya terlalu dibuat-buat, baca ini berasa 'balik lagi ke bumi'.

hehe..

80

Hihi ringan bikin penasaran.
Kok d ruangan mulu settingnya..

80

entah kenapa aku menyukai cerita ini, ingin tau apa yang selanjutnya terjadi. ada chap.4-nya gak? sambung lagi ya...^_^