Hasrat

Hasrat. Nafsu. Gairah. Apapun itu, bagiku kedengarannya sama saja: keinginan. Dan itu yang sedang kurasakan sekarang. Mengejar-ngejarku seperti petugas siskamling memburu maling jemuran. Dan aku tak berdaya, terjebak di tengah kemacetan. Sialan!

Sudah hampir satu jam dan mobilku hanya maju lima meter saja. Apa yang dilakukan para polisi? Masa ngurus jalan macet saja tidak becus! Rumah kos Aira, gadisku, hanya tinggal satu kilometer dari sini, tapi rasanya pergi ke Bali bakal lebih cepat sampai daripada melalui ruas jalan ini! Sedari tadi aku tak bisa menyingkirkan Aira dari benakku, aku nyaris tidak tahan lagi.

Kuhantam telapak tanganku ke panel klakson—saking besarnya aku tak bisa menyebutnya ‘tombol’—sambil memaki seseorang di depan sana yang berhasil membuat jalan macet total begini, siang bolong pula! Sia-sia, suara klakson mobilku tertelan riuh klakson mobil-mobil lain yang sama seperti aku, terjebak. Mobilku tak ber-AC, dan lagi aku sedang terburu-buru. Sedang sangat ingin.

Kuraih ponselku dari kursi di sebelahku. Aku menekan sebuah tombol dan menunggu fungsi automatic dialing bekerja. Sebentar kemudian suara Aira muncul di telingaku.

“Sayang ...” sapanya manja, seperti biasa.

“Lagi di mana?”

“Eh?” Aira terdengar heran. Pasti karena aku tidak basa-basi seperti biasanya. “Lagi di kos. Emang kenapa?”

Kupotong sebelum ia sempat berkata lagi, “Jangan ke mana-mana. Gue mau ke sana.”

“Hah, sekarang? Tapi gue mau ...”

“POKOKNYA JANGAN KE MANA-MANA!”

Aira terdiam mendengar bentakanku. Mestinya ia sudah mengerti keinginanku, karena kemudian aku mendengar ia menjawab, “Oke.”

“Bagus.” Kututup sambungan teleponku, lalu mengembalikan ponselku ke tempatnya semula dengan setengah melempar saking kesalnya. Situasi mendesak seperti ini sangat tidak kusukai.

Di luar, suara klakson semakin bersahutan, membuat telingaku pekak. Aku tidak bisa menutup jendela karena hal itu sama saja dengan membuat diriku sendiri serasa masuk ke oven.

Gila! Gila!

Tak sabar, kujulurkan kepalaku keluar jendela, lalu berteriak, “Jalan, anj***! Nunggu apa lo?!”

“Sabar, Bang,” sebuah suara tanpa terduga muncul di sebelahku. Seorang anak kecil, pedagang koran. Wajahnya lelah, tapi masih bisa tersenyum. “Ini bulan puasa.”

“Bodo amat!” sambarku cepat. “Gue udah sejam di sini, gue buru-buru! Apa sih yang bikin macet?”

“Ada mobil mogok.”

“Lah terus? Nggak ada yang ngurus?”

“Masih di tengah jalan tuh,” si anak kecil menunjuk ke arah depan, tidak jelas tepatnya di mana. “Kalo Abang bisa benerin tu mobil, benerin aja, Bang.”

Aku makin panas. “Heh, nantangin gue, lo?!”

“Habis Abang bisanya cuma marah-marah,” si anak berdalih, nyengir.

“Gue buktiin ya,” kataku, turun dari mobil. Si anak langsung pucat, mundur selangkah. “Lo liat aja entar! Siapa nama lo?”

“Ng ... Mamat.”

Aku mengunci pintu mobil tuaku—jangan salah, mesinnya masih baru—lalu menoleh ke arah Mamat. “Kalo sampe lo baretin mobil gue, gue uber lo! Ngerti?”

Mamat mengangguk, takut-takut.

Kutinggalkan bocah itu di samping mobilku, lalu berjalan melewati deretan mobil dan kendaraan lain yang masih mengantri, ditingkahi para pengendara motor yang berusaha menyalip di setiap celah yang ada. Membuat jalan semakin semrawut.

Di ujung jalan, tepat di bawah lampu merah, kutemukan biang keroknya.

Sebuah Innova terdiam di ujung barisan. Kelihatannya ia hendak belok ke kanan tapi mengambil jalur tengah atau kiri, dan mendadak mogok ketika akan berbelok, memalang jalan. Orang bego mana sih yang ngasih SIM sama sopir bloon itu?!

Dengan langkah cepat kuhampiri pintu depan mobil berwarna perak itu, kuketuk—nyaris menggedor—kacanya. Aku sudah siap untuk mendamprat sopir bloon ini. Kaca mobil membuka, turun dengan mulusnya. Aku tertegun. Kalimat makian yang sudah kusiapkan lenyap tak berbekas.

Sopirnya cewek?!

“Iya, ada apa, Mas?” suaranya renyah. Gadis itu menatapku dengan ekspresi campuran antara takut dan khawatir. “Maaf ya, Mas, mobilku mendadak mogok. Aku udah panggil mobil derek tapi ternyata mobil dereknya kena macet juga. Aduuuhh ... padahal aku harus syuting!”

Aku tersihir pemandangan di depanku. Rambut panjang ikal, kulit putih, bibir merah merona. Makhluk satu ini sering kulihat di televisi, di sesi iklan. Aslinya jauh lebih cantik. Dan aku kacau. Sialan! Sialaaann!

“Buka kapnya,” kataku lirih, berusaha mengalihkan pandangan dari tank top biru muda di depanku. Aku tidak tahu, gadis ini bidadari yang nyasar ke bumi, atau justru setan? Yang suka menggoda manusia namanya setan, kan?

“Oke,” jawab si bidadari, eh, setan, menekan sebuah tombol dan suara ‘klik’ terdengar. Aku berjalan ke arah kap mobil yang sudah terbuka, mencantolkan penyangganya, lalu mulai mencari bagian mana yang bermasalah. Punya bengkel ternyata banyak gunanya.

Satu, air di karburator habis. Dua, satu kabel terlepas. Cetek banget. Anak TK juga bisa ngerjain ini sambil merem! Kupasang kembali kabel yang lepas. Tinggal airnya.

“Masalahnya apa, Mas?”

Aku menoleh dan setan itu sudah berdiri di sebelahku, bersinar dengan cemerlang. Dadaku langsung sesak. Mampus, mampus, mampus! Kenapa juga betina satu ini mesti keluyuran pake celana pendek?!

Sambil memaki para malaikat yang gagal membelenggu setan satu ini, aku menjawab, “Punya air?”

“Ini. Akua, nggak apa-apa, kan?” gadis itu mengangsurkan sebotol air yang sudah setengah habis. Lumayan daripada tidak ada sama sekali. Kutuang semua isi botol plastik itu ke dalam karburator, lalu kubereskan lagi semuanya.

“Coba starter,” perintahku padanya, berusaha tidak melihat isi tank top-nya. Aku masih punya masalah dengan hasrat yang tadi, tidak perlu bertambah pusing dengan yang ini!

Gadis itu bergegas masuk kembali ke dalam mobil, dan ia menyalakan mesin. Berhasil. Tentu saja, mobilnya telah ditangani tangan yang tepat! Tawa senang gadis itu menggelitik benakku, membuatku ingat Aira lagi.

Aku mengitari bagian depan mobil, kembali ke mobilku. Si gadis memanggilku.

“Mas, makasih ya!” katanya, mengangsurkan kartu nama dari jendela yang masih terbuka. “Hubungi aku aja ya, nanti kukasih imbalan! Namaku Luna Buaya ....”

Aku melambaikan tangan, asal. “Nggak,” tolakku sambil terus berjalan. “Gue gak doyan sinetron! Buruan jalan!” Bergegas, aku kembali ke mobilku. Si Luna masih meneriakkan terima kasihnya di kejauhan.

Mobil-mobil mulai berjalan lagi. Mobilku aman tanpa baret. Aku membuka pintu mobil, lalu duduk. Si Mamat masih berdiri di sebelah mobilku, mengatakan sesuatu yang kedengarannya seperti ‘abang hebat’ dan ‘artis’, tapi aku tidak memperhatikannya sama sekali. Aku langsung memacu mobilku secepat mungkin, begitu lalu lintas bisa kulalui lagi.

Bagian tubuhku sebelah bawah sudah di ujung tanduk! Aku butuh ke tempat Aira, secepatnya!

Kuparkir mobilku di depan tempat kos Aira. Tidak rapi dan aku juga tidak peduli. Aku melewati gerbang dan berpapasan dengan seorang gadis berkaca mata.

“Aira ada?”

“Ada di kamarnya, masuk aja!”

Tanpa membuang waktu lebih lama lagi aku langsung masuk dan menuju ruangan paling ujung. Pintunya terbuka. Aku menyeringai senang. Tak ada penghalang!

Aku masuk dan langsung mengunci pintu. Cepat-cepat kubuka celanaku, dan mengambil posisi. Aira, untung tempat kos lo deket! Gue makin cinta sama lo!

Kutuntaskan hasratku. Terlampiaskan dengan segera. Lega. Aku menghela nafas, senang.

Tiba-tiba pintu digedor dari luar. Suara manja yang kukenal sekarang bercampur kesal, “Sayaaaang? Lo di kamar mandi ya? Gimana, sih! Jadi lo ke sini cuman buat numpang boker doang?!”

Aku terkekeh di atas kloset.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer bLuE_dRagOn
bLuE_dRagOn at Hasrat (10 years 47 weeks ago)
100

ya ampun... bravoo!!! 1 lgi karya yg bqin q penasaran bgd bwt baca truz... q qira mw ngapain.. g twx mw boker??
hhaa...
gyax kocak, aq ska bgd tulisnmu..

sngkat kata pkoe.. BraVVoO..!!!

oia...Lam Knl,,!^

Writer ewingerwin
ewingerwin at Hasrat (11 years 6 weeks ago)
100

MANTAPH!!!! Penulisannya keren dan kocak. Nggak ada masalah selain aspek logika yang memang seharusnya nggak dipermasalahin di cerita sejenis ini.

Kudos!!!

Writer Loki
Loki at Hasrat (11 years 6 weeks ago)
90

hahahah, nyengir gw bacanya sis,

endingnya pas & 'enak' tuh.

Writer panah hujan
panah hujan at Hasrat (11 years 20 weeks ago)
100

just..

COOL.

*cool untuk komen di atas saya, juga :D

karakter tokohnya mantab, seperti udah pernah jadi lelaki aja, jeng ;;)

endingnyaa iyaaa banget :D

bagian Luna Buayanya bikin takjub..

etc. etc. :D

it's totally fun ;)

Writer andrea
andrea at Hasrat (11 years 25 weeks ago)
90

Kinda story I can't get enough of.

Satu poin ajah. Soal penyembunyian informasi. POV-nya 1st person. Adalah mengganjal bila dari awal, 'aku' yang sudah sedemikian diburu hasrat fekalnya, tidak sesegera mungkin mengeluhkan gelora di usus besarnya, di mulut atau di benak, sebab, apapun lingkaran yang ditatap 'aku' saat itu akan tampak seperti lubang kakus.

Lain halnya kalo POV-nya 3rd person limited, tatkala pembaca tak akan bisa menangkap yang terjadi di bawah kulit. Nurut gue, O. Henry si biang ironi sengaja bermain aman di posisi ini.

Ini maksud gue tentang 'makian Kurt Vonnegut' tempo hari, perihal kecurangan semantik gue di par.1 MJ. Ini juga yang sempat gue perkatakan ke elbintang.

Tapi bagaimana lagi? Memang 'numpang boker doang'-lah _punchline_-nya. Aku ikut terkekeh di atas kloset.

Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at Hasrat (11 years 25 weeks ago)
100

Ternyata aku baru tahu kalau Dian K. lihai dan tangkas untuk bercerita dengan nuansa komedi. Kupikir sebelumnya adalah cerita yang agak-agak vulgar gitu lho (padahal itu yg diharapkan hahaha). Namun ternyata oh ternyata, hasrat untuk "pup" alias BAB hik hik hik (sedih) gak jadi omes (otak meseum)

Writer Onik
Onik at Hasrat (11 years 25 weeks ago)
100

Pokoke okelah... siiip, benar-benar menghibur... ;)

Kunjungi karyaku juga ya...thx

Writer thalitabrand
thalitabrand at Hasrat (11 years 26 weeks ago)
100

Cerita segarr menghiburr! Sipplahh! Asik sekali membaca cerita ini, membuatku tak bisa berhenti nyengir! Aku salut, kk! *plok-plok (kunjungi ceritaku juga kalo sempet ya^^)

Writer navigator
navigator at Hasrat (11 years 26 weeks ago)
100

??? excellent, baru kali ini ak baca crita ukuran panjang tp gak bosan.

dadun at Hasrat (11 years 27 weeks ago)
80

waaaah dasarrrrrrrrrrrrrr =))
ampir gak nyangka jeng dian nulis ini.
bagian luna buayanya itu lho... ckckckck
hahahaha

Writer elbintang
elbintang at Hasrat (11 years 25 weeks ago)

aku menikmati setiap adegannya M`Dian...

menahan diri pun untuk tidak bersicepat ke akhir (kan puasa-kudu menahan napsu)...

...
tob!
:)
----
cheers!

Writer Villam
Villam at Hasrat (11 years 28 weeks ago)
80

hmm...
aku pernah tuh dulu kayak gini.
reaksiku adalah... tetap diam coba tak bergerak di dalam mobil, gak mau pusing dg apa yang terjadi di luar. solving some problems outside is beyond imagination. gak bakal kepikir, atau bertenaga, buat bertindak heroik begitu. heheheh... kalaupun keluar, mestinya aku nyari batu aja buat dipeluk.
btw, alhamdulillah selamat.
huh... kenapa aku cerita beginian yak? hehe...

Writer Oiem
Oiem at Hasrat (11 years 28 weeks ago)

mbakyu ceritamu cukup menghiburku, tanks ya..........

Writer Arfin Rose
Arfin Rose at Hasrat (11 years 28 weeks ago)
80

boker apa boker...??hayoo ngaku...he,,he,,he,,

Writer arsenal mania
arsenal mania at Hasrat (11 years 28 weeks ago)
100

Jah!!!!!
Gak modal banget!!!!!
Numpang boxer doank!!!!!!!

Mbak ceritanya mantebh, nggak norak, tapi lucu =))

*Tank-top tuh apa sih?*

Writer man Atek
man Atek at Hasrat (11 years 28 weeks ago)
100

hek eh
bisa ajja loh

seeep !

Writer addang13
addang13 at Hasrat (11 years 28 weeks ago)
100

glek...!

*bengong tak berdaya*

Writer Arra
Arra at Hasrat (11 years 28 weeks ago)
90

hahahahha.................
mbak dian salutttttttttttttt!!!!

Writer GodelivaSilvi
GodelivaSilvi at Hasrat (11 years 28 weeks ago)
100

:)) :))
brilian oyyyy!!!!!! four thumbs upppp!!!

Writer Super x
Super x at Hasrat (11 years 28 weeks ago)
100

Huakakakakakaka.... Dunia sudah GILAAAAAAAAAAAA!!!! DSG DSG DSG DSG DSG... danger danger... Mari masuk RSJ bareng-bareeeeng!!! WKWKWkwkwkwkwk

Writer mocca_chi
mocca_chi at Hasrat (11 years 28 weeks ago)
90

jijay, kirain apaan.wkwkkw...

pan ada wece umum tuh, napa nda sana aj. wkwkwk

Writer dian k
dian k at Hasrat (11 years 28 weeks ago)

mocca_chi wrote:
jijay, kirain apaan.wkwkkw...

pan ada wece umum tuh, napa nda sana aj. wkwkwk

Nanggung, Rik, rumah Aira udah deket. Lagian nyari WC umum di tengah semrawut jalan Jakarta yg selalu macet nggak gampang lho :D

Writer mOOel
mOOel at Hasrat (11 years 28 weeks ago)
90

:-? :)) =)) =)) =)) =))