Jendela Orpheus

Kalau teringat pada Legenda Jendela Orpheus, maka aku akan cepat melangkahkan kakiku ke arah balkon tanpa atap di rumah bergaya Bali yang sudah hampir dua tahun jadi tempat kosku. Balkon tempatku menatap bunga kamboja di pemakaman.
“Makin lama kamu makin aneh aja,” ujar Meru ‘memuji’. Aku tahu, ia akan segera tertawa terbahak-bahak bila aku mulai menggelitik perutnya karena gemas. Entahlah, Meru belum pernah mengatakan hal baik tentangku. Paling-paling yang dia katakan adalah ‘jelek, cengeng, aneh, childish, cewek jadi-jadian’, atau sebangsanya yang tidak enak didengar. Dan kali ini, saat aku datang dengan kisah Jendela Orpheus, dia kembali ‘memuji’ku.
Tapi Meru juga jelek, menurutku. Wajahnya mulus banget, seperti bukan cowok. Dia bilang sih, dia memang lahir di Jepang, makanya wajahnya putih oriental begitu. Tapi matanya yang sipit malah terlihat aneh, meski teman-teman kosku selalu bilang dia keren. Bagiku, ia biasa saja. Tidak seperti Mars yang hitam manis atau Soren yang macho. Bagiku, cowok metroseksual itu tidak menarik. Mereka pasti tidak jago berantem. Mana bisa disebut cowok kalau begitu? Huh!
Ah, lamunanku tentang Mars dan Soren malah membuatku sedih mendadak. Dan saat aku hendak menarik nafas untuk menenangkan diriku, terdengar suara Meru.
“Memangnya sampai sekarang, kamu masih punya komik itu?”
Aku menggeleng. “Komik itu sudah lamaaaaa banget. Aku bahkan tidak membacanya sampai tamat. Tapi aku masih ingat legenda itu, Meru. Barang siapa yang berdiri di jendela itu dan jatuh cinta pada seseorang yang ia lihat dari sana, maka ia akan mengalami kisah cinta yang pahit…”
Aku menoleh ke arah Meru saat kalimatku selesai. Tumben dia tidak tertawa. Ia malah menatapku iba dan menepuk-nepuk kepalaku. Satu kebiasaan yang sangat aku benci. Tapi kali ini kubiarkan saja tangannya berada di kepalaku. Lama.
“Aku kan sudah bilang… jangan fokus pada rasa sakit. Itu hanya akan menambah sakit hatimu. Lagipula, semua kisah pahit cintamu itu cuma kebetulan, tidak ada hubungannya dengan Jendela Orpheus…”
“Aku terkena kutukan Jendela Orpheus, Mer… kutukan itu merambat di udara dan jatuh lewat balkon sakura. Ia melewati waktu ratusan tahun untuk mengirimiku Mars dan Soren…” bantahku serius dan berapi-api.
Kulihat kerutan di dahi Meru. “Balkon sakura?”
Aku mengangguk. “Balkon kos. Kalau berdiri di balkon itu dan melihat ke arah makam, maka yang terlihat adalah kumpulan bunga kamboja merah muda dan pohonnya yang besar. Aku yakin, kalau dilihat beberapa puluh meter dari atas, pohon dan bunga itu pasti mirip sakura….”
Wajah Meru berubah pucat. Sesaat kemudian jadi merah, lalu bersemu ungu, dan… Ah, sudah kuduga. Ia menertawaiku.
“Dasar cewek bodoh! Hahahaha…”
Aku memukul lengannya dan berdiri dengan kesal. Sia-sia saja aku cerita pada cowok tidak sopan ini. Menyebalkan!
“Eh, tunggu!” cegah Meru saat aku mulai berjalan.
Saat aku menoleh, ia mengambil sesuatu dari saku jaketnya dan melemparkannya ke arahku.
“Good luck, Ghiza Vanilla!”
Aku meringis. Di tanganku kini ada sekotak susu vanilla.
Lantas tanpa menoleh lagi, aku meninggalkan taman itu.
***

Tuh, benar kan? Bunga kamboja di seberang sana itu mirip sakura. Kenapa banyak yang bilang tidak? Bahkan saat aku melihat Soren untuk pertama kalinya dari balkon ini pun, kamboja sedang berlomba untuk mekar.
Aku seperti melihat bunga-bunga itu beterbangan mengelilingi tubuh Soren yang sedang berjalan ke sekolahnya. Itu bukan berarti aku jatuh cinta pada pandangan pertama kepadanya, cowok yang dua setengah tahun lebih muda dariku itu. Hanya saja, wajahnya yang dingin dan tak peduli padaku, membuatku tidak bisa mengalihkan pandangan. Saat teman-temannya sibuk mencari perhatian teman-temanku, Soren hanya menunduk dan terus berjalan. Seakan dia tidak akan membiarkan seorang cewek pun memasuki hatinya. Tapi toh akhirnya aku bisa menemukan kunci pintu hati itu dan berdiam di sana beberapa lama.
Qm pst ga pcy,Meru.prtm kli ak jth cnta sma soren, ak mlhtny dr blkon in. bklon in adl jdla orpheusku. Blkon in mengutukku.
Send.
Kukirim pesan itu pada Meru. Hanya dia yang bisa mengimbangi ketololanku selama ini. Meski kebanyakan tertawa dan menghinaku, Meru selalu bisa membaca hatiku sekaligus membacakan hikmah dari kisah-kisahku. Ia mengenalku lebih dari aku mengenal diriku sendiri.
Ponselku bergetar beberapa menit kemudian, menampilkan balasan pesan dari Meru.
Km emg cew terkutuk.
Shit! Kurang ajar sekali dia saat aku sedih begini. Baru saja aku melangkahkan kakiku untuk meninggalkan balkon itu, terdengar suara tepukan tangan. Aku melihat ke bawah, di sana ada Meru. Huh, dimana-mana kok ada Meru?
“Eh, cewek terkutuk, pergi yuk!” teriaknya.
Aku melengos, dan dengan cepat berlari keluar menemuinya.
“Yuk! Traktir aku es krim vanilla! Itu hukuman karena kamu sudah membuatku kesal.” Aku menarik tangan Meru yang masih terbengong menatapku. “Ayo!”
“Ya ampun… dandan dulu, kek… cewek macam apa kamu ini, Vanilla?”
Aku melotot. “Sudah kubilang jangan panggil aku Vanilla. Aku ini manusia, bukan es krim…” Dan aku kembali menarik tangan Meru.
“Tapi, Za…”
Suara Meru yang melembut membuatku perlahan melepaskan genggaman tanganku. Aku menatapnya sayu.
“Ya sudah. Aku tidak jadi pergi saja. Aku memang begini, Mer. Kamu benar, sama seperti Mars, hanya cewek cantik yang pantas diajak pergi keluar. Cewek macam aku, hanya akan membuat malu. Sudah, pergilah. Aku mau masuk dulu,” pamitku kecewa, sembari berjalan menjauhinya. Tapi Meru menangkap lenganku cepat-cepat. Saat aku menoleh, ia nyengir lebar.
“Nah, ini baru hebat!” ujarnya sembari balik menarikku.
“Eh, Mer! Kenapa sih kamu?” tanyaku kesal, meski langkahku telah terseret olehnya.
“Aku kira kamu bakal berubah karena Mars,” katanya pelan.
“Mars?” Aku mengernyit. Mars adalah cowok yang sebulan lalu meninggalkanku karena tidak tahan pacaran jarak jauh dan memilih orang lain. Cowok yang juga pertama kali kulihat lewat balkon Sakura, sama seperti Soren.
“Mars selalu bilang, kamu kurang cantik, kurang enak dilihat, tidak seperti mantan-mantan pacarnya yang selalu membuatnya bangga, dan….”
“Sudahlah,” potongku seraya tersenyum lebar, “Dia itu tidak penting. Yuk, pergi!”
Meru membalas senyumku. Manis sekali, seperti vanilla.
***

Setiap kali pergi bersama Meru, aku merasa seperti menemukan potongan-potongan hatiku yang tercecer entah dimana. Dan saat aku memungut potongan hati itu, Meru hanya tersenyum dan membiarkan aku menjadi diriku sendiri. Meru menciptakan ruang untukku bernafas, ruang yang tak pernah disisakan untukku oleh cinta Soren dan Mars. Tapi aneh…. Bukankah aku tidak mencintai Meru?
“Hei, ngalamunin apa, non?” Meru menyenggol lenganku, sampai sendok es krimku berdenting di atas gelas.
“Eh, apa? Aku tidak melamun, kok,” jawabku berdusta.
Meru tersenyum lagi. Tapi kali ini senyumnya tidak semanis vanilla. Entah.
“Kita sudah kenal berapa lama, Za?” Tanya Meru lirih.
“Erm, sekitar satu setengah bulan, waktu aku belum pisah sama Mars. Waktu itu kamu lewat di jalan samping rumah kosku dan aku melihatmu dari atas…. Eh, dari atas balk… balkon sakura…” tiba-tiba suaraku tercekat di kerongkongan, seolah tersumbat beribu benda aneh. Saat menyadarinya, kulihat senyum Meru lagi. Kali ini pahit.
“Balkon…. sakura?” aku berucap tanpa suara.
***

Mer,where’re u?
Kukirim sms pada Meru. Ini sudah ketiga kalinya, dan ia tetap tidak membalas. Aku gusar. Setelah pertemuan tiga hari lalu, aku tak pernah melihatnya lagi. Padahal aku ingin sekali melihatnya. Aku ingin ia mendengar ceritaku tentang Soren, tentang Mars, dan balkon sakura aneh itu. Aku ingin ia bercerita tentang milkshake vanilla paling enak di Tokyo, tentang Tokyo Tower dan sekolah manga di sana, seperti biasanya saat aku mulai menangis. Tapi kenapa tiba-tiba Meru tidak ada? Apa karena balkon sakura? Apa karena balkon ini mengutukku? Kalau sampai kehilangan Meru, aku… aku bisa…
Sekelebat bayangan orang berlari di bawah balkon membuatku tersentak. Hanya Meru yang saat ini terbayang di pikiranku. Dengan tergesa aku berlari turun mencarinya. Tapi saat aku sampai di bawah, aku tidak menemukan siapapun.
“Mer... kamu dimana?” tanyaku sedih. “Aku salah apa, Mer? Kamu dimana?”
Aku terduduk di bawah pohon delima sambil memeluk lututku. Terbayang wajah Meru yang pucat, rambutnya yang rapi dan bergaya Harajuku, baju warna-warninya, mata sipitnya…. Meru yang tidak bisa berantem dan bicara kasar. Meru yang seperti bukan cowok, Meru yang…
“Uuuuh, dasar bodoh!” sebuah teriakan terdengar di belakangku, seiring rasa dingin di pipiku.
Saat aku menoleh, yang terlihat adalah Meru, memegangi cup es krim yang menempel di pipiku.
“Meru!” jeritku kesal, “Kamu ngapain, sih!”
“Kamu yang ngapain? Dari tadi kok tidak bisa menemukanku? Dasar bodoh!” ia memukul kepalaku dengan cup es krim vanilla itu, yang akhirnya ia berikan padaku.
Ingin rasanya aku memeluk Meru saat itu, mengatakan bahwa aku kesal saat ia tidak ada. Tapi kuurungkan niat itu dan memilih untuk sibuk dengan es krim pemberiannya. Duduk membelakanginya seolah tidak ada dia. Lama.
***

“Mer….” Aku menoleh cepat saat merasakan angin berhembus di balik punggungku. Tapi Meru tidak ada di sana. Kutatap cup es krim yang sudah kosong di tanganku. Benar kan ini tadi dari Meru? tanyaku dalam hati.
“Meru…” aku berdiri dan meneliti setiap sudut itu dengan pandanganku. “Meru, dimana? Kenapa kamu selalu menghilang? Mer… Meru….”
“Ghiza! Za! Za, bangun!” seseorang mengguncang pundakku dari atas.
“Meru! Jangan iseng, dong!” balasku bingung. Memangnya Meru dimana, siapa yang mengguncang pundakku?
“GHIZA VANILLA! BANGUUUUN!!! SUDAH JAM DELAPAN!”
Aku tersentak. Mataku terbuka dan tampak seraut wajah di depanku. Wajah galak yang seketika membuatku ling-lung.
“La… Lana?”
***

Aku melemparkan kertas berisi undangan itu dari atas balkon. Angin yang lumayan kencang segera mengayun kertas itu terbang ke pemakaman di seberang jalan. Aku tersenyum sendiri. Sudah satu tahun sejak saat itu, saat Mars meninggalkanku. Dan undangan pernikahannya datang di musim hujan, saat aku mengetik cerita tentang Meru.
Meru yang datang dalam mimpiku untuk menyadarkan aku bahwa aku ini istimewa, tidak perlu berubah jadi orang lain, tidak perlu menyesali semua pemberian Tuhan hanya karena diprotes oleh seseorang tentang fisikku. Meru yang selalu mengingatkanku pada vanilla, Meru yang metroseksual, Meru yang tidak jago berantem, Meru yang sipit, dan Meru yang sebenarnya tidak pernah ada….
“Makin lama kamu makin aneh aja,” terdengar suara Lana di belakangku, “Senyum-senyum sendiri…”
Aku menoleh, “Mars mau menikah lho, Lan…”
Lana mengangkat bahu. “Memangnya kenapa? Kamu kan, tidak pernah mencintainya?”
Aku mengernyit. “Kamu bicara apa, sih?”
“Kamu menerima cinta Mars, karena tersakiti oleh Soren. Karena ingin jadi pahlawan baginya, ingin menghibur hidupnya yang kau kira menderita dan penuh beban. Dan untuk meyakinkan dirimu sendiri bahwa kamu mencintainya, kamu menolak perasaanmu yang sebenarnya suka melihat cowok oriental, ya kan?”
Aku menggeleng sambil memelotototi Lana. Angin mengibar-ngibarkan rambutnya yang tipis.
“Padahal sudah setahun berpisah, dan kamu belum menyadarinya? Dasar bodoh!”
“Apaan, sih… aku sakit waktu dihianati dia, Lan…”
“Itu karena kamu kecewa, merasa kebaikanmu tidak dihargai. Seperti… air susu dibalas air tuba begitu… tidak ada cinta di dalamnya.”
“Lan, aku…”
“Sudahlah! Kamu ini selalu tidak mau jujur pada hatimu sendiri. Memangnya enak, terus berbohong begitu? Untuk apa? Apa untungnya buatmu, Za? Toh kamu tetap tidak jadi pahlawannya Mars, kamu tetap ditinggalkan…”
“Tapi kan aku juga tidak butuh dia,” jawabku sengit, dan itu malah membuat Lana tertawa.
“Nah, ketahuan kan kalau kamu tidak mencintainya? Sudahlah, cepat turun, ada yang menunggumu di bawah.”
“Si… siapa yang mencariku?”
“Cowok, putih, sipit, wangi, murah senyum, pokoknya kebalikannya Mars.”
Sepertinya masih ada yang akan dikatakan Lana, tapi aku memilih untuk cepat pergi dari hadapannya.
Itu pasti Meru. Atau cowok yang mirip Meru, atau…Meru yang ber-reinkarnasi, atau siapapun dia. Yang pasti, kali ini aku bahagia karena tidak melihatnya dari balkon sakura. []

Ruangvanilla, 30 August, 2008

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Saga Gemini
Saga Gemini at Jendela Orpheus (11 years 13 weeks ago)
100

Wow, Keren ceritanya...
Uuuuuhhhh, so sweet, membiarkan sang cewek menjadi apa Adanya...

Writer panah hujan
panah hujan at Jendela Orpheus (11 years 15 weeks ago)
80

deskripsi karakternya terlalu "langsung", walau cerita ini ditulis melalui sudut pandang pertama (yang kelihatannya serba tahu)

secara implisit, dapat disimpulkan karakter utama cerita ini agak cerewet, yah?

gaya bahasanya beda, yah, sama ceritamu yang "sketsa peti mati"?

yang ini nuansanya teenlit.

ceritanya juga terlalu kompleks, tanpa fokus yang jelas tentang apa yang ingin dicapai.

satu-satunya yang menarik mungkin sebatas tentang mitos (atau legenda? semacamnyalah..)Jendela Orpheus yang kamu angkat :)

ceritamu kaya pengetahuan :) suka riset, yah?

saya baca, tulisan-tulisanmu juga agak beda-beda (padahal baru baca dua, ;))), kamu suka bereksperimen yah dalam bercerita? salut ^^

keep the good re-search :)

Writer hujaniaku
hujaniaku at Jendela Orpheus (11 years 15 weeks ago)

salam,
terimakasih sekali atas tanggapannya...
yang ingin dicapai... oh, ini aku tulis setelah putus sama seorang cowok, karakternya seperti Mars dalam kisah ini, jadi mungkin ini hanyalah emosiku yang berlebihan dalam menuliskan 'hatiku'.inginnya sih, menulis tentang cewek yang tegar dan menerima dirinya apa adanya walau gak cantik... tapi sepertinya kurang mengena ya... hehehehe...
aku emang suka buku sastra, tapi jga suka komik dan teenlit, jadi menulis pun gak jelas genrenya. begitulah...
terimakasih sekali, ya...
untuk jeda, aku kurang jeli karena ini aku copi paste dari ms. word...;p

Writer Lyasan
Lyasan at Jendela Orpheus (11 years 15 weeks ago)
80

Keren!

Writer d757439
d757439 at Jendela Orpheus (11 years 15 weeks ago)
70

kok gk ada jeda sih...

bikin ya

semuanya udah keren kok

Writer w1tch
w1tch at Jendela Orpheus (11 years 15 weeks ago)
70

Tau nggak, kamu berbakat mengolah kosakata. ada beberapa kekeliruan dengan tanda baca, tapi ga masalah. aku sendiri lebih suka paragraf itu dikasih jarak satu spasi biar lebih enak dibacanya. aku pengen baca cerita2mu yang lain setelah ini.

salam kenal, keep writing.

eh, Meru namanya indah. Is he real? ;;-p

Writer hujaniaku
hujaniaku at Jendela Orpheus (11 years 14 weeks ago)

w1tch wrote:
Tau nggak, kamu berbakat mengolah kosakata. ada beberapa kekeliruan dengan tanda baca, tapi ga masalah. aku sendiri lebih suka paragraf itu dikasih jarak satu spasi biar lebih enak dibacanya. aku pengen baca cerita2mu yang lain setelah ini.

salam kenal, keep writing.

eh, Meru namanya indah. Is he real? ;;-p

meru... nama seorang cowok di tempat asalku, Wonogiri. aku baru malihatnya sekali. dia itu kakak kelas SMP-nya kakak kelas SMA-ku, hehehehe...
thanks....

Writer hujaniaku
hujaniaku at Jendela Orpheus (11 years 15 weeks ago)

terimakasih... salam kenal juga...

semangatttt....