Cinta yang Terlalu

AOI STUDIO, 12 tahun yang lalu,

“Hei, Tan… tahu nggak… ini adalah es krim vanilla paling enak di seluruh dunia…” celoteh Ganis sambil menjilati es krimnya.
“Nggak mungkin, ah…” cibir Ditan, “Kamu berlebihan.”
“Iya, kok…” bantah Ganis, “Kalau dibelikan sama Ditan, semuanya jadi enak… hehehe….”
Kedua bocah itu tertawa bersamaan. Tidak merasa risi dengan tatapan orang-orang yang lewat di depan studio itu, tatapan aneh melihat dua orang anak kecil yang makan es krim di malam yang sangat dingin itu.
***

Di suatu malam yang lain, cowok itu kembali mematung di teras studio itu, yang tak berubah selama duabelas tahun. Kali ini tanpa es krim vanilla, juga tanpa Ganis.

“Ngalamun, Tan?” tanya sebuah suara yang muncul dari belakangnya.
Cowok itu menoleh. “Eh, Put…”

Putra merangkul pundak Ditan, mengajak sahabatnya itu memasuki ruangan. “Mikirin apa?”
Ditan menggeleng. “Cuma takjub… rasanya nggak percaya besok kita nggak rekaman di sini lagi.”
“Oh, kirain mikirin Kintan lagi…”
Ditan tak menjawab. Dan rasanya menyangkal pun tak ada gunanya lagi. Dia memang memikirkan Kintan.

Tapi Putra telah terlanjur pergi dari sisinya dan menghampiri gitar kesayangannya.
“Indra dan yang lain mana?” tanya Ditan sambil mengikuti langkah Putra.
“Lagi makan, tadi aku telepon Ginda.”
Ditan tak bertanya lagi, karena ponsel di sakunya bergetar.
“Halo…”
“Ditan, besok berangkat jam berapa?” suara Kintan.
“Sekitar jam dua siang.”
“Ohh, kalau gitu aku nggak bisa ikut mengantarmu… aku mau ke rumah sakit sama Deo.”
“….”
“Maaf, ya…”

Klik. Telepon ditutup. Padahal Ditan belum sempat mengatakan apa-apa pada cewek itu. Dan dari kejauhan, Putra menatap Ditan dengan iba.
“Sudah… sudah…. Besok kita berangkat, Tan… jangan sampai konsentrasimu rusak karena Kintan.”
Ditan mengangguk. Mengingat kenangan-kenangan itu kemudian berusaha menguburnya. Tapi seperti biasa, ia selalu tak yakin akan bisa.
Setahun yang lalu, di kota yang sama, di studio yang sama, tapi lewat perasaan yang tak lagi sama… sebuah perpisahan tercipta dengan sengaja.

“Aku nggak bisa nunggu lagi, Tan. Kemarin Deo dan orang tuanya melamarku. Mamaku bilang…”
“Kintan… kita kan udah pacaran tiga tahun…” bantah Ditan sebelum Kintan menyelesaikan kalimatnya.
“Mamaku bilang aku sudah cukup umur untuk menikah, dan aku sudah capek nunggu kamu.”
“Meskipun cuma setahun kamu nggak mau nunggu aku?”
“Setahun lalu kamu juga bilang gitu, Tan. Jadi aku harus nunggu kamu berapa tahun? Berapa tahun lagi kamu dan bandmu terkenal lalu bisa menikahiku?”

Ditan terdiam, membiarkan gadis terkasihnya itu menatapnya dengan putus asa.
“Aku pilih Deo, Tan,” bisik Kintan lagi, sangat lirih.
Ada jeda yang lama. Keduanya duduk berhadapan tanpa saling tatap. Tanpa cerita-cerita konyol tentang Naruto dan Inuyasha kesukaan mereka.
“Kamu cinta sama Deo?” tanya Ditan akhirnya, setelah jeda yang lama itu.
Kintan mendongak, mengamati mata Ditan yang memerah. Ia tak menjawab.

“Kin….” Ujar Ditan lagi. Ia tahu, Kintan selalu punya banyak pilihan. Bukan Deo seorang yang ingin dirinya, tapi juga Raka, Veha, Dimas, Singgih… banyak lagi. Ditan tahu ia terlalu berani menunggu Kintan di antara banyaknya pilihan itu, karena ia yakin Kintan hanya untuknya. Tapi rasanya waktu memberinya ketidakadilan sejak Deo datang, sejak ia dan bandnya sulit mengangkat diri ke major label dan jadi band populer yang bisa dibanggakan. Sejak ia tahu… ia akan ditinggalkan.
“Aku pulang.” Kintan berdiri dan meninggalkan Ditan tanpa menjawab pertanyaan cowok itu.

Ditan hanya menatap sosoknya yang ramping hingga menghilang di balik pintu. Merasakan sakit dalam hatinya, dalam hidupnya, dan dalam lagunya…
Lamunan itu terpangkas saat beberapa orang masuk dengan suara gaduh.
“Makan-makan, yuk…”
Ditan mendongak. “Kintan?”
“Kalian kan mau rekaman besok di Jakarta, perayaan, dong… ayo traktir kami…yuk…”
“Kin? Kamu kan barusan telepon aku…”
“Memangnya kenapa? Aku sengaja ngerjain kamu, kok…”

Ditan menatap berkeliling. Di sekitarnya kini berdiri lima orang cewek yang dibawa Kintan.
“Kamu ini kayak anak SMA aja…” ujar Ditan lirih, tapi Kintan tak mendengarnya, karena ia telah menggelandang Ditan keluar. Di belakang mereka, Putra mengikuti dengan langkah kaku.
Dan di luar, anggota LoverBoys yang lain telah menunggu. Ditan menghentikan langkahnya yang canggung saat Kintan menggenggam tangannya.

“Aku mohon….”
“Apa?” tanya Kintan bingung melihat Ditan menghentikan langkahnya.
“Aku mohon jangan begini…”
“Kenapa? Kalian nggak mau nraktir kami?” tanya Kintan asal, sambil terus menarik tangan Ditan.
Ditan memejamkan matanya dan ikut berjalan. Ada rasa sakit yang aneh di dadanya.
“Kintan…. Kenapa kamu selalu begini? Selalu memberiku harapan, lalu mengambilnya kembali…”
Kalimat itu selalu tak pernah Kintan dengar. Selalu tanpa keberanian, terpendam hanya di hati Ditan saja. Selalu.
***

“Hari ini ada yang laku?”
Cewek berponi itu mengangguk. “Mawar putih dan kemuning.”
“Cuma dua?”
“Ya nggak pa-pa, Bu… kan toko bunganya masih baru, belum banyak yang tahu,” jawab cewek itu.
“Lebih baik kamu ngelamar kerja, Nis… ngapain jualan bunga nggak jelas begini?”
“Ganis kan suka bunga, Bu. Ganis nggak bisa ngerjain hal yang nggak Ganis suka.”
“Ya, berjuang tho, Nduk… berusaha nyari kerja yang kamu suka.”
“Nggak ada, Bu… Ganis sukanya ya, jualan bunga.”
Ibunya hendak berkata lagi, tapi terpangkas oleh teriakan tukang es krim.
“Es krim, pak… rasa vanilla!” teriak Ganis sambil berlalu pergi.
***

“Kemarin kamu sakit, ya?” tanya Ditan.
Ganis mengangguk. “Sudah sembuh. Kata ibu, gara-gara kebanyakan maka es krim.”
“Es krim kan nggak jahat, nggak bikin sakit. Ya kan, Nis? Ibumu bohong.”
Ganis mengangguk. Di tangannya telah ada satu cup es krim vanilla.

Lalu seperti dikomando, kedua anak itu menoleh ke arah pintu studio yang tertutup rapat.
“Kalo sudah besar nanti, aku akan masuk ke studio ini,” ujar Ditan mantap.
“Mau ngapain?”
“Jadi anak band.”
“Hahaha… hebat!”
“Kalo Ganis pingin jadi apa?”
“Nggg… jadi…. Penjual bunga…”
“Yah… kok cita-cita Ganis sederhana banget, sih?”

Ganis terdiam sejenak. Matanya memandang dedaun yang terserak di halaman studio itu. “Bukan masalah sederhana atau tidak, Tan,” bisiknya kemudian, “Tapi itulah yang aku sukai. Aku ingin hidup dengan sesuatu yang aku sukai…”
Ditan terlongong sejenak. “Ng… iya, iya… semangat!” Ditan mengepalkan tangannya, tertawa. Ganis mengikutinya.
***

“Banyak orang yang di punya cita-cita di masa kecil mereka, tapi nggak banyak yang bisa mewujudkannya di saat mereka dewasa.”

Ganis tercenung. “Tapi saya bisa, Pak,” jawabnya.
Bapak penjual es krim tertawa. “Memangnya dulu Ganis ingin jadi apa?”
“Penjual bunga. Berhasil kan, pak? Hehehe… kalo bapak dulu waktu kecil, bercita-cita jadi penjual es krim juga?” tanya Ganis polos.
“Ya, ndak to, nduk… dulu bapak pingin jadi guru SD… biar nggak usah panas-panasan kayak gini. Tapi, nggak kesampaian…”
“Kenapa, pak?”
“Ndak ada biayanya, nduk…”

Ganis mengangguk. “Mungkin karena cita-cita saya terlalu sederhana, pak… jadi sangat mudah meraihnya…” Ia menerawang. Mendadak ia ingat seseorang yang pernah mengomentari cita-cita sederhananya itu.
“Ya ndak pa-pa, nduk… berbahagialah karena bisa meraih cita-citamu, sesederhana apapun itu… disyukuri, ya… sudah, ya… bapak mau jalan lagi. Assalamualaikum…”
“Waalaikumsalam, dadaaah, Pak Adam…” Ganis menatap bapak penjual es krim langgannya itu sampai menghilang di balik tikungan. Kemudian ia berbalik dan kembali ke tempat bunga-bunganya berada.
“Hei, Ditan… kamu dimana? Bahkan nomor ponselmu pun aku nggak punya… apa kamu sudah bisa masuk ke studio itu? Jadi apa kamu sekarang, Tan? Aku kangen…” ia membatin, sedih.
***

Ditan memandangi pintu gerbang studio itu sekali lagi. Tapi Putra terus menarik tangannya.
“Ayo, Tan… kita sudah ditunggu, tuh!”
Ditan mengangguk lemah, mengikuti langkah Putra menuju mobil yang menunggu mereka.

Hari ini tidak ada Kintan. Mungkin dia sedang bersama Deo. Ditan berusaha melupakan keinginannya untuk bertemu Kintan sebelum pergi. Berusaha tidak menaruh harapan apapun lagi pada cewek itu, cewek yang telah berulang kali menyakiti hatinya.

Ia merasakan rangkulan Putra di pundaknya. “Tan… jangan terus hidup di masa lalu. Kintan sudah pergi. Sudah, lupakan… Jangan mikirin istri orang. Nggak baik, lho…”
Ditan menggeleng. “Hanya ingat pesannya sebelum menikah dengan Deo… dulu Kintan bilang, ia benar-benar ingin aku terkenal, menjadi apa yang aku inginkan. Dia nggak tahu, Put… dialah hal pertama yang aku inginkan.”
Mereka memasuki mobil hitam itu. Sesekali Ditan masih menoleh untuk menatap tulisan di depan studio itu. AOI STUDIO. Tapi Putra terus merangkul pundaknya.

“Ngapain sih, Tan? Kita sekarang mau rekaman di Jakarta, major label, bukan hanya rekaman sendiri di studio lokal… album kita segera launching… kita buat video klip… dan kamu akan punya ribuan fans, kamu akan diburu cewek-cewek lain yang lebih menarik… kamu harus lupain Kintan, Tan! Yakin deh, setelah kita terkenal, nggak akan ada cewek yang berani nolak kamu, nggak ada yang berani nyakiti kamu kayak Kintan… Cewek nggak hanya satu di dunia ini, Tan.”

“Tapi kamu nggak tahu apa yang aku rasakan saat dekat dengannya, saat jauh darinya, saat bersamanya…Ya kan, Put? Kalo saja setahun lalu Kintan masih mau nunggu aku, pasti aku nggak akan kehilangan dia.”
“Ck! Ngomong apaan, sih? Itu artinya kalian nggak jodoh, Tan.”

Ditan menghela nafas, mengamati pepohonan lewat mobil yang mulai melaju. “Aku… terlalu cinta… dia…”
“Tan… udah…”
Ditan diam. Entah berapa kali ia akan mendengar kalimat itu lagi. Entah dari siapa lagi. Lupakan Kintan. Lupakan Kintan. Lupakan Kintan. Cewek lain masih banyak. Bla-bla-bla…
***

“Ada apa sih Nis? Kok tiba-tiba pingin ke Solo… mendadak begini? Kamu itu kenapa?” tanya Ibu Ganis panik melihat putrinya tiba-tiba packing barang-barang untuk ke Solo, padahal Ganis baru bangun tidur, bahkan belum solat Subuh, “Nis… kamu mimpi apa, sih?”
“Harus berangkat hari ini, Bu. Ganis pingin sampai sebelum malam.”
“Tapi kamu mau ngapain, Nduk?”

Ganis tiba-tiba tersadar, matanya telah basah. “Ganis… pingin ketemu Ditan, Bu. Penting.” Sementara tangannya terus mengemasi baju-baju.
“Mau apa ketemu Ditan? Ada apa?”
“Nggak pa-pa. Pingin ketemu aja.”
Sejak perpisahan di hari itu, sepuluh tahun yang lalu, Ganis tidak pernah ke Solo. Setelah perceraian orang tuanya, ia ikut ibunya pulang ke Malang, dan tak pernah menengok Solo lagi, sampai sekarang.
“Nis… tapi kan…”
“Ini salah Ibu sama Bapak! Kenapa dulu harus cerai? Kenapa dulu nggak mikirin perasaan Ganis?” sentak Ganis tiba-tiba dengan volume tinggi. Perasaan sakit yang telah lama dipendamnya itu akhirnya keluar sekarang, untuk pertama kalinya.
“Nduk… ya Allah, kamu ini kenapa? Perasaan apa?”
Ganis tidak menjawab. Ia lemparkan tasnya ke kasur, kemudian melesat keluar, ke kamar mandi.
Di belakangnya, Ibu mengelus dada. “Nis… pergilah sesukamu… tapi jangan dengan kemarahan, Nduk…” Airmata wanita itu meleleh.
Tapi Ganis tak mendengar ucapannya.
***

Cewek itu sedang sibuk dengan keypad ponselnya saat Ganis datang dan menyapa.
“Selamat sore, Mbak…”
“Sore… eh, iya, mau cari siapa?”
“Ini benar kan Studio musik AOI?”
“Iya, ada apa?”
“Apa pernah ada cowok bernama Ditan main musik di sini?”
Cewek itu tersentak, membuang tatapannya pada keypad. “Ditan Raditya?” tanyanya balik.

Ganis mengangguk semangat. “Iya, Ditan Raditya.”
“Ditan… pemain keyboard LoverBoys kan? Kamu siapanya Ditan? Eh ayo duduk dulu. Kenalin, aku Kintan.”
“Ganis. Aku teman kecilnya Ditan. Dulu kami sering main ke sini, tapi aku udah lama pindah ke Malang. Baru sekarang main ke Solo lagi.”
Kintan tercenung. “Kamu ke sini cuma mau cari Ditan?”
“Ditan kemana?”
“Jam dua tadi Ditan berangkat ke Jakarta untuk rekaman album.”
Mata Ganis membola. “Rekaman? Dia sudah berhasil sekarang? Ya Tuhan…”
“Nis, boleh aku tahu… kamu ke sini mau ngapain?”
“Hari ini ulang tahun Ditan. Aku mau ngucapin selamat, dan… mau bilang kalo sekarang aku udah meraih cita-cita masa kecilku. Dulu, Ditan bilang dia pingin jadi anak band yang terkenal. Sekarang, ternyata cita-cita kami sudah teraih… aku senang sekali…”

Kintan tersenyum pahit. Ah, Tan… maafkan aku, bahkan aku melupakan ulang tahun orang yang paling mencintaiku.
“Kamu pasti sedih nggak bisa ketemu dia hari ini,” ujar Kintan lagi.
Ganis mengangguk. “Aku kangen banget sama Ditan. Sekarang dia kayak apa? Cakep, kan? Pinter, kan? Baik, kan? Apa dia masih suka makan es krim vanilla?”
Kintan tersentak. “Es krim vanilla?”
“Ditan dulu sering nraktir aku es krim vanilla. Es krim vanilla paling enak di seluruh dunia…”
“Kamu… suka sama Ditan, ya?”
Ganis tak menjawab. Entah, tak tahu harus bilang apa.
“Pasti Ditan juga suka sama kamu…. Buktinya, dia nggak pernah nraktir aku es krim vanilla…”
Ganis mendongak. “Ditan… cinta pertamaku. Kalo Kintan… siapanya Ditan? Kenapa bilang begitu?”
“Hanya seorang teman.” Kintan menyertakan seulas senyum di akhir kalimatnya. Kemudian ponselnya bergetar. Ia berdiri setelah membaca pesan di sana.
“Aku harus pulang. Suamiku udah jemput di luar, tuh. Kamu mau di sini aja, atau mau kemana?”
Ganis mengangkat bahu. “Pulang ke rumah ayah. Oia, boleh minta nomor ponsel Ditan?”
Kintan tersenyum dna menyerahkan ponselnya. Dilihatnya Deo memasuki ruangan, tersenyum lebar penuh cinta.
Tan, maafkan aku. Tadinya aku datang untuk menyesali kepergianmu, dan juga penghianatanku padamu dulu. Tapi sekarang, aku lega, aku telah bertemu dengan orang yang lebih mencintaimu di sini. Kita masing-masing telah memiliki orang lain yang mencintai kita lebih dari cinta kita dulu… sampai di sini saja, Tan… maafkan aku yang tak bisa mengimbangi cintamu yang terlalu. Selamat tinggal…
“Terimakasih,” ujar Ganis membuyarkan lamunan Kintan.
Keduanya tersenyum dan berjabat tangan, untuk pertama dan terakhir kali…
***

“Tan, ada ribuan nggak?” tanya Putra membangunkan Ditan yang tertidur di sampingnya, “Aku pingin pipis.”
“Hmmm…. Pipis kok bawa duit?” tanya Ditan sambil menguap, masih menutup matanya.
“Ya, kan bayar, Tan! Gimana, sih?”
“Ngg… Hehehehe, iya, aku lupa kita lagi di jalan… ambil di dompetku, cari aja sampai ketemu.”
Putra meringis sambil membuka dompet Ditan. Kemudian ia mengernyit mengamati sesuatu.
***

“Ibu, maafin Ganis, ya… sekarang Ganis mau pulang. Malam ini nginep di rumah Bapak. Ganis nggak ketemu Ditan. Ganis pulang besok, Bu,” ujar Ganis di telepon. Ibunya diam saja, hanya mengiyakan dalam hati.
Ganis menguap. Teringat mimpinya semalam. Dia melihat Ditan kecil berlari-lari sambil tersenyum, membawa lukisan bintang. Kemudian turun hujan…. Hujan vanilla…
***

“Ganis. Itu Ganis. Temanku waktu kecil,” jawab Ditan setelah membuka matanya lebar-lebar, karena Putra memaksanya mengamati selembar foto yang ia temukan di dompet Ditan. Foto Ditan kecil bersama seorang gadis kecil yang memegang cup es krim vanilla.
“Cuma teman? Kenapa fotonya sampai ada di sini? Bertahun-tahun, lagi…”
“Dia ninggalin aku…. Tanpa pesan, tanpa pamitan. Dia cuma bilang, suatu saat nanti, aku dan dia akan meraih cita-cita kami sama-sama.”
“Pergi kemana?”
“Nggak tahu. Sepuluh tahun lalu orangtuanya cerai dan dia pergi… padahal aku suka sekali padanya. Dia cinta pertamaku…” Ditan tersenyum simpul. Ia bahkan tak bisa membayangkan wajah Ganis di masa dewasa.
“Jadi bukan Kintan?”
Ditan menoleh sekilas. “Aku kira Kintan cinta terakhirku, makanya aku selalu menjaganya, memberinya apa saja biar dia nggak pergi kayak Ganis dulu. Tapi, Kintan juga pergi…”
Putra baru saja hendak membuka mulutnya lagi, saat ringtone Dalam Setiaku mengalun dari ponsel Ditan. Sebuah pesan.
Mlm, Tan. Hr ini ak dtg ke AOI.kukira kt bs bertemu,tp ak tkut km sdh lpa pdku.slmat ulng thn,tan… kimi o wasurenai… Ganis Little Vanilla.
“Ganis…” desisnya tanpa sadar. Putra menatapnya bingung.
“Tahu nggak, Put… cinta yang terlalu itu nggak selalu tinggal terlalu lama dalam hati kita…. Tapi kalo cinta sejati, ia akan terus tumbuh meski pernah dilupakan….” ujar Ditan tiba-tiba, sambil mengguncang-guncang pundak Putra.
“Ck! Kamu ngomong apaan, sih?” ujar Putra sambil menepis tangan Ditan, “Eh, masih punya seribu, nggak? Aku mau pipis lagi….” []

23112007, 12:25 pm

Ket:
Aoi: biru (Jepang)
Kimi o wasurenai: Aku tak akan pernah melupakanmu (Jepang)

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer sang INSPIRATOR
sang INSPIRATOR at Cinta yang Terlalu (11 years 9 weeks ago)

wew,,,,maksudd??? xD

Writer pelangijingga
pelangijingga at Cinta yang Terlalu (11 years 14 weeks ago)
70

Cerita ini sedikit banyak bisa membawaku masuk dalam kisahnya. Ak emang masih awam dlm tulis menulis jd ga bs komentar cara penulisan atau apalah itu. Yang penting ak suka aja. Trs bikin lagi ya... ak tunggu.

Writer cepiklepi
cepiklepi at Cinta yang Terlalu (11 years 14 weeks ago)
50

Cerita yg menarik.

dan berahkir mau pipis. ;)

Wassallam,

Writer athadarmawan
athadarmawan at Cinta yang Terlalu (11 years 14 weeks ago)
60

buatku inti ceritanya sebenernya menarik bgt
tp cara penyampaiannya masi kurang ngena
coba di olah lagi
pasti bisa jadi cerita yang bagus bgt
baca carita2ku juga ya^^