Jeda untuk Dialog dengan Diri Sendiri

Writer epri_tsaqib

Tulisan ini dimuat di Harian Radar Bogor edisi Minggu 9 November 2008 halaman 11.

* Memasuki Ruang Lengang Epri Tsaqib
http://apresiasipuisi.multiply.com/reviews/item/29

Jeda untuk Dialog dengan Diri Sendiri

Oleh: Affandi Kartodihardjo

Lengang bukan berarti sepi, lengang
merupakan dialoq batin. Itulah Ruang
Lengang Karya Epri Staqib. Buku kumpulan puisi yang kini diterjemahkan dalam empat
bahasa asing yakni Jerman, Inggris,Spanyol, dan Perancis tersebut, cukup
membuat pelaku sastra terkesima.

Puisi-puisi
karya Epri ini merupakan paduan antara puisi rumahan dengan puisi panggung,
sebab, ketika dimusikalisasi seperti di Surabaya beberapa
waktu lalu, ternyata enak untuk dilihat dan dirasakan.

Ruang
Lengang karya Epri ini mengajak kita
untuk keluar sejenak dari rutinitas dunia. Dunia lengang untuk lepas dari
kepenatan hidup. Ibarat rel kereta api yang terbuat dari besi baja itu, ada
sedikit ruang lengang di tiap sambungannya. Gunanya, banyak sekali, Di saat
besi itu memuai atau berubah sedikit panjang, tidak akan bertumpukan dengan
besi yang lainnya, Ruang lengang itulah yang mengindarkan diri dari bengkoknya
besi. Begitu juga dengan ruang lengang Epri yang menginspirasi banyak orang
untuk menyediakan ruang lengang dalam dirinya tiap hari untuk bisa berdialog
dengan diri sendiri.

Bayangkan
saja, tiap hari banyak orang yang dikejar-kejar pekerjaan. Mau berangkat ke
kantor sudah dihadapkan dengan kemacetan yang luar biasa. Baru sampai kantor
tugas sudah menumpuk, belum lagi tugas
dadakan dari bos yang harus diprioritaskan. Sore hari, perjalanan pulang macet lagi, nyampai di rumah sudah ribet lagi
dengan masalah rumah tangga.

Jika itu berjalan tiap hari dan bertahun-tahun, maka, jiwa dan ragalah
yang kena. Tanda-tandanya bisa beragam, mungkin dalam bentuk strok,hipertensi,
diabetes, jantung atau yang lainnya. Karena itu perlu ruang lengang untuk bisa berdialoq dengan diri sendiri.
Tidak perlu lama-lama, mungkin cukup 10 menit tiap hari untuk memanjakan jiwa. Biarkan kosong untuk
menjadi wadah jiwa raga yang memuai agar tidak bengkok seperti rel kereta api
yang tidak ada celah di sambungan relnya.

Hidup yang nyaris di bawah tekanan yang
semakin lama kian menekan akan terjadi jika kita tidak menyediakan waktu
sedetikpun untuk berdialog dengan diri sendiri.

Lewat puisinya,
Epri melihat ke dalam, ke kedalaman kemanusiaan, karena kedalaman kemanusiaan
itulah yang sebenarnya tidak terbatas, lebih luas dari dunia luar. Dengan
Secara sengaja Epri mengingatkan akan adanya ruang lengang.

Puisi-puisi Epri Tsaqib
memiliki arti penting. Yaitu mengingatkan kita pada introspeksi diri saat kita
sendiri yang hening, sunyi, lengang. Dalam
buku puisinya berjudul Ruang Lengang
yang diterbitkan oleh Pustaka Jamil,
2008 adalah sebuah peringatan, sebuah
koma, dari kesibukan dan kebisingan hidup yang lebih banyak menyeret bahkan
menenggelamkan kita ke dunia-luar kita hingga titik yang amat jauh.

Buku ruang lengang tersebut jug
atermasuk unik, sebab, jarang ada buku kumpulan puisi yang menyajikan foto-foto
unik. Saat berdialog di Bogor yang diadakan oleh Komunitas Menulis Bogor (KMB)
bekerjasama dengan Toko Buku Jendela Alternatif dan GeraiBuku.com Minggu 2
November lalu Epri merasa bersyukur dengan sambutan yang luar biasa atas
penerbitan buku tersebut.

Menurut
Ayah dari tiga anak ini, puisi yang dirangkai dalam bukunya itu merupakan
kumpulan dari puisi-puisinya yang ia buat selama beberapa tahun. Sebelum
dicetak ada beberapa penundaan, karena, antara penerbit dengan penulisnya masih
melakukan sinkronisasi.

Epri menginginkan adanya foto-foto dalam
bukunya, sementara, selama ini belum ada buku puisi yang didalamnya terdapat
gambar atau foto-foto. Ternyata,
keinginan Epri ini merupakan ruang bagi Epri untuk diterima pasar. “Foto cover
buku ini diambil di kawasan Anyer,” kata Epri kepada peserta dialog sastra
tersebut.

Gambar
di cover depan buku tersebut cukup unik. Yakni berupa ayunan kosong di pinggir pantai. Ayunan tersebut terlihat
sejuk, karena berada di bawah pohon, sementara di kejauhan terdapat laut,
dengan ombak yang tenang. (*)

*Pic taken by Epri Tsaqib ; Location Danau Dendam Tak Sudah Bengkulu

Posted In Bahas Buku

memang sebuah ruang lengang kita butuhkan untuk kontemplasi: refleksi. tetapi, pun lengang jangan diterima mentah sebagai sepi. karena diatas bus kopaja pun kita bisa merenung-renungkan diri sendiri. :)

semoga sukses bukunya mas. bagilah beberapa puisi mas itu secara cuma-cuma disini. karena ilmu adalah berbagi. :P

jadi, bagaimana? ;)

musti mampir banyak di multiplynya mas epri nih,..sambil nimba ilmu..makasih mas epri.. O:)

wah mas, sy ud membuat artikel ttg ini klo gitu, sblm sy tau. dimuat di SINDO rubrik GAUL judulnya "alasan menjadi autis", intinya yaa jeda utk sendiri itu. dan bener Bang Jo, di tengah ramai juga bisa menyepi, dan mengambil waktu utk diri sendiri...

memang satra puisi ini cukup menguras energi dan otak...