HeartzCruzz : Bab 15 - The End of Biola Village

Di suatu pagi di desa Biola, tepatnya berada di pertengahan antara reruntuhan kerajaan Heaven lama dengan kerajaan Sahara. Tiga ekor pegasus sedang terikat di sebuah pohon besar. Sedangkan Ray dan kawan – kawan sedang berada di sebuah penginapan desa. Keempatnya sedang merundingkan rencana mereka nantinya.

“ Apakah jumlah itu benar? Bukannya ada suatu keliruan?” Tanya Ray kesal.

“ Absolut.” Kata Alice sambil menghitung ulang catatan yang ada di kertas dengan menggunakan kalkulator.

“ Masa kita menghabiskan tiga ratus ribu Zenny dalam waktu enam hari!?” Kata Ray sambil memukul meja kayu. “ I- itukan jumlah yang biasanya aku pakai untuk hidup selama setengah tahun…” Ray menangis.

“ Su- sudahlah, Ray. Ki- kita kan bisa mencari uang lagi.” Kata Dya.

“ Kau!” Kata Ray kesal sambil menunjuk Dya. “ Sejak ada kau, pengeluaran kita membengkak sedrastis ini.”

“ Aku kan hanya membeli perlengkapan sehari – hari saja… he…” Kata Dya.

“ Perlengkapan sehari – hari!?” Kata Ray dengan nada kesal tertekan. Urat besar muncul di permukaan kulit Ray. “ Maksudmu acaramu pergi ke spa setiap hari, membeli baju yang tak perlu, memesan makanan yang berlebih dan menginap di penginapan mewah seperti ini! Yang kau sebut perlengkapan sehari – hari!?”

“ …Er… Mungkin aku agak berlebih…”

“ Agak…!?” Tonjolan urat yang lain muncul di permukaan kulit Ray.

“ Lagi pula aku kan seorang lady (wanita), wajar kan?” Dya membela diri.

“ Kalau dipikir – pikir, kami sebenarnya tidak terlalu mengetahui jati dirimu yang sebenarnya. Tapi kau sudah seenaknya seperti itu.” Kata Ray tajam.

“ APA!?” Kata Dya tak terima omongan Ray.

Keduanya bertambah bersitegang. Sementara Alice dan Rin terlihat sangat bingung.

“ Su- sudahlah kalian berdua. Kita kan bisa membicarakan ini dengan kepala dingin.” Usul Alice.

Dya memandang Ray dengan pandangan dingin kemudian ia berpaling.

“ Kalau aku mengganggu di grup kalian, lebih baik aku pergi dari sini.” Dya pergi menuju pintu keluar penginapan.

“ D- Dya tunggu…!” Kata Alice berusaha mencegah. “ Ray, kenapa kau diam saja?”

“ Lalu kau ingin aku bagaimana? Mengejar dia?” Kata Ray kesal.

“ Aku tahu Dya memang keter… Maksudku sedikit keterlaluan. Namun, bukan berarti kita harus bertengkar dengannya.” Kata Alice.

“ Biarkan saja dia untuk sesaat ini. Mungkin dia akan merenungkan semua perkataanku tadi.” Kata Ray.

“ Aku tak mengerti jalan pikiran kalian…” Alice terduduk lesu.

Sementara itu di tengah desa, Dya sedang mengomel – ngomel sendiri.

“ Dia kira dia hebat apa!? Begitu aku kembali ke istana akan kubayar semua yang ia keluarkan untukku!” Namun Dya terhenti saat melihat segerombolan pasukan berbaju besi hitam melintasi desa. Langsung saja Dya bersembunyi.

“ Baju besi hitam? Mungkinkah mereka salah satu dari dark knight yang dibicarakan ayah dan Barn?” Pikir Dya. Tanpa berpikir panjang Dya mengikuti gerombolan pasukan berbaju besi hitam.

Dya mengikuti gerombolan itu hingga tiba di sebuah pelabuhan yang kosong. Dya melihat gerombolan itu mengeluarkan bermacam – macam senjata dari dalam kantung besar.

“ Celaka! Jangan – jangan mereka hendak menghancurkan desa ini? Aku harus memberitahu Ray dan yang lainnya.” Tapi begitu Dya berbalik, ternyata di belakangnya telah berdiri seorang pria bermuka licik dengan baju besi hitam.

“ Apakah sudah selesai bermain detektifnya, Nona Manis?” Tanya pria itu.

“ Celaka, mungkinkah dia salah satu dari mereka?” Kata Dya dalam hati.

“ Tidurlah dengan nyenyak.” Pria itu memukul leher Dya hingga Dya rubuh.

“ Ray, tolong aku…” Kemudian Dya pingsan.

Hari telah berubah menjadi malam. Namun Dya belum kembali ke penginapan. Tentu saja membuat Ray dan kawan – kawan cemas. Dan yang paling cemas dari mereka semua adalah Ray.

“ Kenapa si bodoh itu belum kembali juga? Apa dia serius mau meninggalkan kita? Ataukah terjadi sesuatu terhadap dirinya?” Kata Ray cemas.

“ Mangkannya tadi aku sudah mengatakannya padamu untuk mengejarnya.” Kata Alice mengingatkan.

Tiba – tiba saja warna mata Ray berubah menjadi semerah darah untuk sesaat dan kembali lagi menjadi biru.

“ Ada apa, Ray? Tadi matamu…” Tanya Alice.

“ Entahlah, tapi aku merasakan Dya sedang dalam bahaya.” Matanya memerah lagi untuk sesaat. “ Tidak, bukan hanya Dya. Tapi seluruh penduduk desa ini dalam bahaya besar.”

“ Apa kau yakin?”

“ Entahlah, hanya saja perasaanku akan hal itu sangat kuat.” Kata Ray.

“ Baiklah, kita akan cari tahu. Kau pergilah duluan, aku akan membangunkan Rin dulu. Nanti kami akan menyusul.” Kata Alice.

“ Sebaiknya kau dan Rin peringatkan penduduk desa untuk mengungsi!” Perintah Ray.

“ Apakah sebegitu besarnya bahaya yang akan segera muncul?” Tanya Alice.

“ Aku melihat sekilas pemandangan yang sangat menakutkan saat mataku berubah…” Jelas Ray.

“ Baiklah… Waspadalah, Ray!” Kata Alice.

Ray menganggukan kepalanya dan segera pergi mencari Dya. Ray meloncati bangunan – bangunan dan memantau desa dari atas. Tapi ia tak berhasil menemukan keberadaan Dya. Kemudian Ray berusaha untuk berkosentrasi dan memusatkan seluruh energinya pada matanya, kemudian perlahan – lahan mata Ray berubah merah. Pemandangan yang diperlihatkan oleh mata merah Ray sungguh ajaib. Dengan mata itu ia dapat lebih fokus melihat dan dapat memperbesar pemandangan yang dilihatnya.

Sementara itu di pelabuhan, Dya yang tubuhnya terikat kini kesadaran mulai pulih. Perlahan – lahan ia membuka matanya. Ia melihat gerombolah pria berbaju besi hitam sedang menyusun batu – batu semacam tugu ritual di atas permukaan tanah.

“ Apa yang mereka lakukan?” Kata Dya dalam hati. Dya berusaha bergerak, namun tangannya yang terikat tak bisa berkutik. “ Ta- tanganku? Sial, kalau begini caranya aku akan mati konyol.” Dya menutup matanya. “ Terpaksa aku harus menggunakan itu. Selama mereka tidak tahu aku sudah sadar, aku akan berusaha mengumpulkan seluruh kekuatanku.” Dya membuka matanya kembali. Kini mata Dya telah berubah menjadi semerah darah. Karena longgar, penjepit rambut Dya terjatuh ke lantai di depannya. Penjepit jatuh dan menimbulkan bunyi yang cukup nyaring.

“ Siapa itu!?” Tanya salah satu dari pria berbaju besi hitam.

“ Mungkin hanya kucing liar.” Jawab salah satu dari pria itu.

“ Apakah kau bodoh!? Dengan aura keberadaan batu ritual ini tidak akan ada satu pun hewan yang akan berani mendekatinya. Berbeda dengan manusia, hewan memiliki insting yang jauh lebih tajam.” Jelas pria pertama.

“ Maksudmu ada manusia di sekitar sini?” Tanya pria kedua.

“ Aku mendengar suara itu dari arah sana.” Pria pertama menunjukkan ke arah dimana Dya desekap.

“ Apa mungkin gadis itu sudah sadar?” Tanya Pria kedua.

“ Mungkin saja. Ayo kita periksa!”

“ Bagaimana jika ia sudah sadar?”

“ Tentu saja dia akan segera pergi dari dunia ini tentunya.”

Tiba – tiba berhenti dan kebingungan. Tiba – tiba saja pemandangan yang diperlihatkan mata Ray tidak seperti seharusnya, namun sebuah pemandangan aneh di sebuah pelabuhan. Ia melihat beberapa orang memakai baju besi hitam sedang membangun altar sihir. Dua orang pria sedang berjalan menuju ke arahnya.

“ Apa – apaan ini? Aku tidak mengerti dengan penglihatan ini.” Kata Ray bingung.

Kedua pria itu semakin mendekat.

Ray berusaha mengingat – ingat dimana posisi yang diperlihatkan matanya itu. Namun Ray merasa tertarik pada benda yang tergeletak di lantai. Benda itu sebuah penjepit rambut yang tidak asing bagi Ray.

“ Celaka! Itu penjepit rambut Dya. Kalau begitu pelabuhan yang diperlihatkan mata ini adalah daerah sini? Kalau tidak salah pelabuhan berada di arah selatan desa ini.” Ray membuat segel, aliran – aliran angin mulai menyelimuti kaki Ray. Dengan cepat Ray berlari dan meloncat menuju arah selatan desa Biola.

“ Bertahanlah, Dya!” Kata Ray sambil berusaha meningkatkan kecepatannya.
Sementara Alice dan Rin pergi menuju pusat desa. Di sana banyak penduduk desa yang berkumpul.

“ Kalian semua, cepatlah lari!” Kata Alice.

Tapi orang – orang melihat aneh kepada Alice.

“ Kumohon tinggalkan desa ini dan mengungsilah!” Ucap Alice.

“ Apa nona sudah gila? Berani sekali kau menyuruh kami meninggalkan desa ini!” Kata salah satu penduduk desa dan diamini oleh seluruh penduduk desa.

“ Kumohon percayalah padaku! Desa ini sebentar lagi akan hancur.” Jelas Alice.

Tapi seluruh penduduk desa malah tertawa dan menganggap Alice sudah gila.

“ Bagaimana ini????” Kata Alice dalam hati. “ Ray, semoga saja kau bisa mencegah bencana itu.”

Dua orang berbaju besi hitam semakin medekati tubuh Dya. Dilihatnya tubuh yang terduduk di sudut bangunan. Mata Dya menatap kedua pria itu dengan mata merahnya yang tajam dan seakan – akan bisa melihat menembus tubuh kedua pria itu.

“ Ternyata kau sudah sadar ya?” Tanya pria pertama.

“ Manis juga tawanan kita ini. Bagaimana jika kau bermain – main dulu bersama kami?” Kata pria kedua.

Dya hanya diam saja dan terus memandang kedua pria itu dengan pandangan yang tajam.

“ Seram sekali matanya.” Kata pria pertama.

“ Tak apa – apa, dia hanya sedang takut.” Pria kedua menjulurkan tangan kanannya dan berusaha membelai kepala Dya.

“ Jangan sekali – kali kau menyentuhku dengan tanganmu yang busuk itu!” Ancam Dya.

“ Akhirnya kau bicara juga. Kukira kau bisu.” Tanpa mendengar ancaman Dya, pria kedua membelai kepala Dya.

Dya membaca mantra dengan suara yang amat pelan. Tiba – tiba saja dari tangan pria kedua muncul tunas tumbuhan. Semakin lama tunas itu semakin tumbuh besar dan menyerap tubuh pria itu. Hingga akhirnya tubuh pria itu habis diserap tumbuhan yang tumbuh di tubuhnya.

“ Sudah kuperingati kau.” Kata Dya dingin.

“ A- apa yang kau lakukan padanya???” Kata pria pertama shock. Pria itu mecabut pedangnya. “ Kau wanita iblis, matilah kau!” Pria itu menebaskan pedangnya ke tubuh Dya.

“ TRANG” Suara besi yang saling beradu.

Ternyata Ray muncul pada waktunya. Dia berhasil menangkis serangan pedang pria itu. Pria itu kaget ketika melihat kedua mata Ray juga bermata merah menyala.

“ Si- siapa kalian sebenarnya?” Tanya pria itu.

“ Kau tidak apa – apa, Dya?” Tanya Ray.

“ Begitulah.” Jawab Dya.

Kini Ray dan Dya sudah terkepung oleh puluhan bahkan ratusan pasukan dark knight. Mereka semua sudah dalam posisi siap menyerang Ray dan Dya.

“ Sial! Melawan satu saja sudah susah, bagaimana ini?” Kata Ray dalam hati.

“ Apa kau bisa menang melawan mereka, Ray?” Tanya Dya. Sepertinya Dya bisa membaca isi hati Ray.

“ Entahlah… Aku tak merasa yakin akan hal ini.” Jawab Ray.

“ Menurut pandanganku, kemampuanmu yang sekarang jauh lebih besar daripada pertarunganmu dulu. Dan sekarang kau memiliki dua buah summon sphere, bukan begitu.” Kata Dya.

Kata – kata Dya membuat semangatnya tumbuh kembali. Ray mengambil Eve’s sphere dari sakunya dan memasukannya pada cekungan yang ada di batang pedangnya.

“ Mudah – mudahan saja aku bisa melakukannya sekarang.” Eve’s sphere bersinar terang. “ Pinjamkanlah tenagamu wahai penjaga kuil, EVE BLADE!” Pedang Ray berubah menjadi bentuk katana dengan simbol bunga sakura terukir emas di pegangan pedang yang berwarna merah muda.

“ Ka- katana? Berbeda dengan Marine’s sphere yang merubah pedang Ray menjadi tongkat sihir. Misteri apa yang ada di balik pedang milik Ray dan seluruh summon sphere?” Kata Dya dalam hati. Tangan kanannya menggenggam saku celananya. “ Apa sebaiknya Panya’s sphere ini pun kuserahkan pada Ray?”

Energi dasyat seperti tornado dasyat yang masuk ke dalam tubuh Ray. Ray melakukan kuda – kuda dan dalam sekejap ia berhasil menyerang puluhan dark knight. Kini kecepatan Ray menjadi berlipat ganda. Mungkin inilah kekuatan Eve yang sebenarnya, yaitu kecepatan yang tiada tandingannya.

“ Bagaimana ini? Dia berhasil mengalahkan puluhan dark knight dalam sekejap…” Kata dark knight pertama.

“ … Monsterkah dia?” Tiba – tiba salah seorang dark knight menyadari sesuatu. “ Dark wizard! Cepat lakukan ritual! Kita harus segera memanggil Dark Garuda sang pelayan setia penjaga kuil kegelapan terhebat diantara keempat sumon sphere legendaris, Dark Alexander. Dengan begitu kebangkitan Dark Alexander akan terwujud.”

“ Apa penjaga kuil Alexander yang merupakan wujud sementara dewi Alexander pun berada dalam wujud kegelapan!? Bagaimana ini? Kudengar kekuatannya hampir sama dengan kekuatan sang dewi Alexander yang sebenarnya.” Ray mulai gelisah. “ Akan kuhancurkan altar itu sebelum berhasil membangkitkan Dark Garuda.”

Simbol bunga sakura di pegangan pedang Ray mulai bersinar, sedangkan batang pedangnya memancarkan aura berwarna merah muda.

“ Apa itu!?” Kata dark knight pertama. Raut muka ketakutan terpancar di wajahnya.

“ Lepaskan seluruh kekuatanmu dan kau akan segera mengetahui seberapa kuat dirimu.” Kata seseorang di pikiran Ray. Suara yang sama dengan suara – suara sebelumnya.

“ Lepaskan seluruh kekuatan?” Tanya Ray dalam hati.

“ Benar, dengan begitu kau akan menang.” Kata suara itu.

Ray memusatkan seluruh tenaganya hingga ia merasa akan segera meledak.

“ Inikah kekuatanku yang sebenarnya?” Kata Ray tak percaya.

Kepala Ray semakin lama semakin berat dan mulai kehilangan kesadarannya.

“ Kenapa kepalaku pusing begini?” Pandangan Ray mulai gelap.

Kornea mata Ray yang tadinya hanya berwarna merah polos kini muncul titik hitam tepat di tengah – tengahnya dan menjadi pupil di kornea matanya. Kepala Ray tertunduk lesu, pandangan matanya kosong.

Namun, tak beberapa lama kemudian kepalanya tegak kembali dan senyuman puas terlihat di wajahnya.

“ Akhirnya aku bisa bangkit kembali setelah sekian lama.” Kata Ray hanya saja suaranya berbeda dengan Ray. Ia menggerakan kedua tangannya seolah – olah ia baru saja bisa merasakan kedua tangannya itu.

“ Heh, Bocah! Kau kira trik sulapmu itu akan membuat kami gentar!?” Para dark knight berjalan mendekati Ray dan Dya. “ Kau salah memilih lawan, Bocah!”

Pandangan dingin Ray seakan – akan bisa menembus tubuh para dark knight, sehingga membuat para dark knight sedikit goyah.

“ Akan kutunjukan siapa yang salah memilih lawan.” Ray mengambil pedangnya dan melakukan kuda – kuda.

“ SERANG!” Kata salah satu dark knight. Para dark knight berlarian menyerang ke arah Ray dan Dya.

“ Hanami Sakura!” Tiba – tiba saja kelopak – kelopak bunga sakura menghujani para dark knight sehingga membuat langkah mereka terhambat.

“ Fire Aura!” Dari tangan kanan Ray muncul sebongkah api.

“ Meteor Strike!” Ray melemparkan api di tangannya ke langit sehingga api itu membakar kelopak bunga sakura dan membuat para dark knight yang berada di garisan depan terbakar.

“ He- hebat…” Kata Dya takjub. “ Apakah ini benar – benar Ray?” Tanya Dya dalam hati.

“ Hidden Sakura!” Badai kelopak bunga sakura menyelimuti tubuh Ray. Setelah badai bunga sakura mereda, tubuh Ray sudah tidak nampak.

“ Dimana bocah itu?” Tanya salah satu dark knight.

“ Tidak mungkin bocah itu hilang.” Jawab dark knight yang lainnya.

“ Mencariku?” Ray tiba – tiba sudah berada di tengah – tengah gerombolan dark knight.

“ Bagaimana mungkin kau…!?” Kata para dark knight tak percaya.

“ Aku tidak punya waktu untuk menjelaskannya pada kalian….” Ray mengacungkan pedangnya dan mulai memutarkan tubuhnya. Semakin lama putarannya semakin cepat. “ Sakura Cyclone!”

Awan yang berada di atas Ray berubah menjadi awan badai dengan cepat. Tekanan angin semakin tinggi sehingga membuat hujan bunga sakura yang sejak tadi turun tersedot ke dalam pusaran angin, begitu juga dengan para dark knight.

Pedang Ray yang berputar mulai menebas tubuh para dark knight yang tersedot pusaran angin. Tubuh – tubuh para dark knight tidak bisa melepaskan diri dari pusaran angin.

“ Serangan terakhir.” Ray melakukan jurus Fire Aura dan melemparkannya ke atas pusaran angin. “ Hell Cyclone!” kelopak bunga sakura yang terkena Fire Aura langsung terbakar sehingga merubah pusaran angin menjadi pusaran api yang sangat panas.

Mayat – mayat para dark knight yang hangus berjatuhan dimana – mana.

Saat Ray melakukan jurus Hell Cyclone, ia tidak memperhatikan para dark wizard yang mendekati altar dan memulai melakukan ritual pemanggilan. Dan begitu Ray menyadarinya, keadaan sudah telat. Para dark wizard itu berhasil melakukan ritual pemanggilan itu.

Tubuh para dark wizard mulai berubah menjadi debu. Debu – debu itu berterbangan dan pergi ke suatu titik dan mulai menggumpal membentuk sesuatu.

Gumpalan itu kini telah berbentuk seekor burung besar berwarna hitam dan mata merah.

“ Ga- Garuda masih ada di dunia ini?” Kata Ray bertanya – tanya seperti tidak mengetahui apa – apa tentang Dark Guardian temple.

“ Hei, Nona! Kenapa Garuda masih ada di dunia ini dan mengapa warnanya menjadi hitam?” Tanya Ray pada Dya.

Dya yang mendengarnya langsung marah.

“ Apa kau masih marah padaku, Ray!? Sehingga kau menjadi pura – pura tak mengenalku dan tidak mengetahui Dark Guardian temple!?” Kata Dya marah – marah.

“ Entahlah, jika yang kau maksud pemuda pemilik tubuh ini, hanya saja aku benar – benar tidak tahu apa – apa tentang dunia ini.” Kata Ray.

Entah mengapa Dya mempercayai Ray dan menceritakan seluruh kejadian yang terjadi di Bumi secara singkat.

“ Kalau begitu kejadiannya, ini bisa berbahaya. Kita harus segera pergi dari sini!” Ray memangku tubuh Dya dan segera berlari.

“ Kenapa tiba – tiba?” Tanya Dya kaget.

“ Penjaga kuil Garuda memiliki kemampuan mengendalikan angin tiada duanya bahkan jika dibandingkan dengan penjaga kuil baru elemen angin sekalipun.” Jelas Ray.

“ Kenapa demikian?” Tanya Dya.

“ Sebab Garuda memiliki setengah dari kekuatan penjaga kuil Alexander sang pemimpin penjaga kuil legendaris. Kalau ia mau, bisa saja ia membuat badai pasir dan menghancurkan sebuah desa dalam sekejap” Kata Ray.

“ Kalau begitu kenapa kau lari selambat ini. Gunakan kecepatanmu seperti biasanya, Ray.” Kata Dya panik.

Mata Ray langsung terlihat sedih.

“ Sayang sekali aku tidak memiliki kemampuan seorang ninja.” Kata Ray.

Sesaat Dya hendak berbicara sesuatu tapi ia mengurungkan niatnya dan memandang wajah Ray yang gagah dengan rona memerah.

Garuda yang sejak tadi hanya diam kini mulai bergerak. Ia menghirup udara di sekitarnya hingga dadanya terlihat membesar dan meniupkan seluruh udara yang dihirupnya ke permukaan tanah. Kontan saja debu, tanah dan batu berterbangan ke arah desa.

“ Celaka ia benar – benar melakukannya!” Kata Ray.

“ Bagaimana ini, Ray?” Tanya Dya.

“ Sudah tidak sempat untuk pergi ke tempat yang aman. Kalau begini terpaksa kugunakan seluruh tenagaku yang tersisa.” Kata Ray dalam hati.

Ray berhenti berlari dan menurunkan tubuh Dya.

“ Apa yang akan kau lakukan?” Tanya Dya.

Namun Ray tak menjawab, ia berkosentrasi untuk memusatkan sisa tenaganya pada pedangnya.

“ Kekkai Sakura!” Ray menancapkan pedangnya ke tanah. Dari permukaan tanah muncul tunas yang tumbuh pesat menjadi pohon dan mengelilingi mereka. Pohon – pohon itu semakin besar dan keras dan akhirnya berbunga. Wangi bunga sakura semerbak memenuhi udara.

“ Ini?”

“ Setidaknya ini bisa melindungi kita dari badai itu…” Tubuh Ray roboh.

“ Kau tidak apa – apa, Ray?” Tanya Dya khawatir.

“ Tenanglah, aku hanya terlalu letih karena kehabisan tenaga.” Kata Ray.

“ KREK!” Bunyi retakan pada pedang.

“ Pedang itu?” Tanya Dya.

“ PRANG!” Pedang Ray hancur berantakan.

“ Apa yang terjadi dengan pedang itu?” Tanya Dya kaget,.

“ Pedang itu sudah terlalu tua untuk digunakan sehingga dia tidak mampu menahan tenaga yang besar dari sphere ini.” Ray mengambil Eve sphere.

“ Bagaimana denganmu jika tanpa pedang itu?” Tanya Dya.

“ Kau tak usah khawatir.” Ray tersenyum.

Ray menutupkan matanya.

“ Nah biarkan aku istirahat sebentar.” Ray menutup matanya dan tertidur.

Dya memandang wajah polos Ray yang sedang tertidur, diam – diam ia tersenyum.

“ DEG!” Dekup jantung Dya. Matanya langsung berubah merah.

Dya mendekap dadanya. “ Perasaan apa ini!?” Dya memandang ke arah desa melalui sela – sela pohon. “ Semoga saja Alice dan Rin berhasil menyelamatkan diri.”

Sementara itu Alice berserta para penduduk desa terkejut melihat badai pasir yang sedang menuju ke arah mereka. Serentak saja mereka berlarian ke segala penjuru.

“ Kakak…” Rin mendekap Alice erat – erat.

“ Bagaimana ini? Dengan kemampuanku yang sekarang mustahil sekali bagiku untuk bisa lolos dari badai ini.” Kata Alice dalam hati.

“ Mungkin nasib kita hanya sampai di sini saja, Rin…” Kata Alice putus asa. “ Maafkan aku, Rin.” Alice memeluk erat Rin sambil mengucurkan air mata.

“ Cepat gunakan sphere yang ada di dalam sakumu!” Kata suara dalam pikiran Alice.

Tanpa pikir panjang Alice mengambil sphere berwarna hijau dari dalam tasnya dan memusatkan seluruh tenaganya pada sphere itu.

“ Kumohon Marine selamatkan kami.” Kata Alice.

Tapi tak terjadi sesuatu.

“ Kumohon…” Alice menangis.

Tanpa sengaja air mata Alice menetes ke permukaan sphere. Tiba – tiba saja sphere itu bersinar dan permukaan tanah di sekitar Alice dan Rin mucul sebuah diagram sihir.

Sphere itu bersinar dan semakin lama bentuknya mulai membesar dan berubah. Kini sphere itu telah berubah menjadi seorang pria muda. Ia menengok ke arah Alice dan berbalik berjalan perlahan menuju Alice.

Alice yang ketakutan hanya bisa pasrah dengan keadaan yang dialaminya. Ia merasa yakin bahwa pria itu akan membunuhnya.

“ Si- siapa kamu…?” Tanya Alice takut.

Pria itu menatap Alice dan tersenyum. “ Kau sudah aman…” Kata pria itu ramah. Entah mengapa saat pria itu berbicara itu perasaan Alice menjadi tenang.

Gelombang pasir akhirnya tiba di tempat Alice. Pria itu menancapkan tongkatnya ke tanah dan munculah sebuah diagram sihir yang melingkari mereka bertiga.

Dari sisi diagram sihir itu muncul air yang entah dari mana dan membuat lapisan pelindung.

Badai pasir yang dasyat menerjang pelindung air dengan dasyat. Namun, pelindung air itu tidak bergeming sedikitpun. Alice yang sudah kelelahan tertidur dipelukan Rin.

“ Alice… Alice…” Kata seseorang yang memanggil namanya.

Pandangan Alice gelap gulita. Ia berusaha untuk membuka kedua kelopak matanya.

“ … Alice…” Kata orang itu lagi.

Akhirnya Alice berhasil membuka matanya. Ia merasa silau karena matanya belum beradaptasi dengan sinar matahari. Ia melihat wajah Ray, Dya dan Rin yang khawatir.

“ Kak Alice…” Kata Rin sambil memeluk erat Alice.

“ Syukurlah kau tidak apa – apa.” Kata Ray merasa lega.

“ Bagaimana kalian bisa selamat dari badai yang amat mengerikan seperti itu?” Tanya Dya

“ Aku tidak ingat…” Kata Alice. Ia merasa bimbang apakah kejadian yang baru saja dialaminya itu nyata.

Dya memandang ngeri ke arah sekitar.

Potongan tubuh manusia bertebaran dimana – mana. Bangunan – bangunan hampir rata dengan tanah. Sungguh pemandangan yang mengerikan.

“ Apa benar kekuatan penjaga kuil Alexander dua kali lipat dari serangan Garuda ini, Ray?” Tanya Dya.

“ Entahlah… Aku tidak tahu. Tapi jika itu benar, kebangkitan Alexander akan mempersulit kita.” Kata Ray.

“ Bukankah…” Dya mengurungkan niatnya untuk bicara. Ia memandang Ray dengan pandangan tak percaya. Benarkah yang melindunginya tadi itu kepribadian Ray yang lain?

“ Lebih baik kita segera ke reruntuhan Heaven. Aku ingin sekali mengumpulkan seluruh summon sphere dan menghentikan mimpi buruk ini.” Kata Ray.

Ketiga temannya mengangguk setuju.

Mereka kembali ke tempat puing – puing penginapan mereka dan mencari barang – barang mereka yang masih bisa dipakai.

“ Sayang sekali ketiga pegasus ini ikut mati oleh serangan Garuda tadi.” Kata Ray.

“ Minggirlah kalian!” Dya mengarahkan telapak tangannya ke arah ketiga pegasus itu. “ Bangkitkan!” Dya mengepalkan tangannya.

Dari dalam tanah muncul sulur yang melilit tubuh ketiga pegasus dan menghisap mereka ke dalam tanah. Beberapa detik kemudian dari dalam tanah muncul sebuah pohon dengan bunga raksasa. Dari bunga yang besar itu, tanaman aneh itu memuntahkan tiga kuda berwarna hitam dengan mata merah.

“ Kuda apa itu?” Tanya Ray kaget.

“ Nightmare…” Jawab Dya.

“ Maksudmu kuda kegelapan yang biasa hidup di Hell?” Tanya Alice kagum.

“ Benar, aku mengorbankan tubuh ketiga pegasus untuk memanggil kuda ini.” Kata Dya.

“ Apa pun tidak masalah. Yang penting kita segera berangkat.” Kata Ray sambil menaiki salah satu nightmare yang diikuti ketiga temannya.

“ Yeah!!!” Ray memukul bokong nightmare. Dari sela – sela kakinya muncul api yang membara dan kuda – kuda itu terbang menuju reruntuhan Heaven.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
70

hmm..akhirnya ku baca smp 15..tapi masih ada lg yah...
yup, lanjut...

100

nexttttt...........

80

kashan banget tuh desa di hancurin...

aku suka sakura....

90

no comment deh.. adegan pertarungannya emang kunanti.. kayak dragon ball yg ngumpulin bola naga :))

80

wkwkwkwkwkwkwk...
makin lama pertarungannya makin banyak yaaaayahahaah lanjuttttt

100

waw, bagus

90

ada spa nya juga ya.......

100

Keren banget....
Tapi Ray itu sebenarnya siapa?

80

Wozzz.... ceritanya udah panjang banget... seperti nya aku harus nyicil bacanya tapi aku kasih point dulu deh.... :)