Perempuan Kedua (new)

Dua, ternyata tak selamanya bisa menggenapi*.
Dua, ternyata tak selamanya bisa menutupi.
Dan dua, ternyata bukan hanya dari satu. (1)

Aku, Reisha. Lahir 21 tahun yang lalu. Di kala ibuku merejang sendirian. Dalam sebuah kesunyian malam. Hanya dihentikan oleh letupan tangisanku. Merah.

Kenyataan harus menyadarkanku bahwa aku dibesarkan oleh seorang ibu tanpa ayah. Aku tak ingin menangisinya walau bulir air mata menetes pelan menyapu pipi semuku. Dan aku tak pernah sekalipun bertanya. Sampai aku berfikir, aku hanya buah tangan dari surga kepada ibuku. Seperti Isa. Tak ada perasaan kecewa, karena aku bahagia masih mempunyai seorang ibu yang sabar membesarkanku. Sendirian, tanpa ayah yang katanya mencari usaha di sebrang sana. Hingga aku remaja. Hijau.

Alhamdulillah ! Segala puji bagi-Nya. Aku kini bekerja, menghidupi diri dan ibuku yang kian renta. Jari jemari beliau kini berpetakan keriput. Terkadang, kucubit tangan beliau saat bercanda. Kulit lemah itu berkumpul, lambat merekah. Tak sesegar dulu. Duhai ibu... Coklat.

Dia kaya, tampan dan gagah. Aku belum pernah merasakan suka, entahlah aku menyebutnya. Yang jelas, aku merasa betah bersamanya. Aku merasakan ketergantungan dengannya. Aku melupakan dunia dan isinya. Pandangan matanya membuatku kadang tergila-gila. Jujur aku ungkapkan. Aku suka dengannya. Dan dalam mimpiku, dialah malaikat yang dituturkan untuk hidup mengukir masa bersamaku. Oranye.

Tapi, kini. Abu-abu datang. Dia yang kuanggap sang Pangeran gagah ternyata membuatku bisu. Dia yang pernah membawaku hidup bersama mimpi beriringan menuju cakrawala. Melupakan semua dunia dan pasirnya. Melupakan bahwa kami tak hanya hidup berdua. Ternyata hanya seorang lelaki lemah rentan birahi. Oh, ibu... aku tak ingin menjadi abu-abu. Kembalikan biruku...

Aku tergugu dalam tangisan panjang. Sebuah penyesalan telah mengikuti nafsu. Dan kini malaikat** itu meninggalkanku. Aku ingin membiru. Tapi yang kudapati hanya hitam. Tanpa cahaya. Hitam bersama pekat daging kecil dalam rahimku. Tanpa restu. Hitam.

Ya Allah, aku lama meninggalkanmu dalam jenakku. Aku lupa bahwa Engkau akan selalu berada di sisiku. Aku mohon, hapuslah hitamku. Putihkan aku.

Orang itu. Ya, Ridwan aku menyebutnya. Lelaki setia. Pertemuanku dengannya diawali dengan tundukkan kepala. Tatapan mata sopannya membuatku terpana. Wajah tanpa kerut, sedikit janggut hitam di dagunya. Dan bercak jernih terpancar di hatinya. Aku hampir lupa. Dialah yang menemukanku dalam durjana. Dialah yang menarikku dari sumur tua seperti Yusuf yang dibuang saudara-saudaranya. Dialah lelaki yang harus kutemani hidupnya. Tapi, aku bukanlah yang pertama di hatinya. Akulah perempuan kedua. Perempuan merah muda.

Kak Rafifa. Aku menyebutnya. Sang perdana. Sang sabar. Selalu tersenyum berbingkai jilbabnya. Tapi aku percaya ia menangis dalam hatinya. Allah, kuatkan jiwanya.
Aku berkata padanya.
"Ka, mengapa kau menerimaku sebagai nila dalam kehidupan kalian?"

"Engkaulah berkah, bersamamulah kehidupannya. Dan aku mencintainya seperti kau menyukainya. Aku rela berbagi hidupnya bersamamu. Karena aku sangat mencintainya. Apapun yang membuatnya bahagia, akulah ma'mumnya."

"Duhai kakak, betapa teganya dirimu membohongi hatimu ? Bukankah cinta itu tak bisa kau bagi menjadi dua ?" aku hampir tercekat dalam tanyaku.

"Dik Reisha, cintaku sesungguhnya hanya satu. Hanya kepada-Nya. Dan hidupku bersamanya adalah mensyukuri apa yang telah diberikan-Nya padaku dengannya. Dan aku menghormati caramu mencintainya."

Aku tak percaya, aku ingin lebih tahu. Apakah aku diterima sebagai perempuan kedua.

"Ka Ridwan, mengapa kau mengecewakan dia ? Mengapa kau menduakan cintanya?"

"Aku tak menduakan cinta siapapun. Dan aku takkan mengecewakan siapapun. Yang ada adalah, aku mencintai kau dan dirinya. Dan aku akan berusaha sebaik-baiknya menghidupimu juga dirinya. Sebaik-baiknya keluarga adalah keluarga yang saling percaya."

"Mengapa kau jadikan aku yang kedua?"

"Kau bukanlah yang kedua, tak pula yang pertama. Karena cinta sejati takkan pernah bisa terhitung dengan angka."

Aku lelah, dan pasrah. Hanya ingin diri ini. Hidup dan bahagia bersama mereka. Secerah pagi ini. Di saat kami berkumpul bersama, tergelak dalam canda tawa bahagia. Biarkan mentari iri karena kesendiriannya. Biarkan kami menikmati cahayanya. Kuning.

*dari melia ajani. rainbow.
** dari Tyara. aR

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Yulian Em
Yulian Em at Perempuan Kedua (new) (10 years 36 weeks ago)
80

glek!... apa lagi ini?
kebanyakan belajar mantiq ente...

Writer _aR_
_aR_ at Perempuan Kedua (new) (10 years 35 weeks ago)

Yulian Em wrote:
glek!... apa lagi ini?
kebanyakan belajar mantiq ente...

bukan.. tantangan dr saia tuh :D

Writer gadispemalu
gadispemalu at Perempuan Kedua (new) (10 years 37 weeks ago)
80

sugoi .. :)

Writer kenary
kenary at Perempuan Kedua (new) (10 years 41 weeks ago)
70

niken suka awalnya, langsung kebaca pasti drama, idenya cukup bagus, tapi coba diperhatikan antara "coklat" paragrap 3 ke orange paragrap 4 kok nggak ada kaitannya, kesannya tiba-tiba.. pembaca seolah 'dipaksa' merasakan suasana lain yang 180 derajat berbeda... coba belajar lagi ama miss worm, dia tuh hebat, aku juga masih belajar, masih belum bagus.. salam kenal ya.. ^_^

Writer rey_khazama
rey_khazama at Perempuan Kedua (new) (10 years 41 weeks ago)
100

bagus kok!
cerita ini dapat kucerna dengan sangat.
kental sekali bahasanya.
jelas perlu ke-enceran untuk membuat ini menyatu. dan saya rasa kamu hampir meleburkan itu.
sedikit lagi kawan.
dan...
oughhhh.....
luar biasa...
dapet lah bagi saya mah!

hebat2

Writer harlockmail
harlockmail at Perempuan Kedua (new) (10 years 41 weeks ago)
Writer whielsayangkamu
whielsayangkamu at Perempuan Kedua (new) (10 years 41 weeks ago)
100

Hiks..
oce banget

Writer strawcutestraw
strawcutestraw at Perempuan Kedua (new) (10 years 42 weeks ago)
100

keren...

wow, salam kenal..

silahkan memaki cerita saya yang baru ya, hiks..

Writer _aR_
_aR_ at Perempuan Kedua (new) (10 years 42 weeks ago)
100

kak, td saia udah komen tapi kehapus.
males nulis lagi :(

sepuluh, krn ttg perempuan kedua.

Writer dimas_rafky
dimas_rafky at Perempuan Kedua (new) (10 years 42 weeks ago)
80

Oh ini nick LH di k.Com. Komennya sama aja lah ma yg dah aq kasih d blog km. Oia, add nick ym aq ya. Perlu sdikit ngobrol2.. *maaf OOT.

http://dimasrafky.blogspot.com

Writer Super x
Super x at Perempuan Kedua (new) (10 years 42 weeks ago)
90

Semoga nilai 9 bisa memotivasi diri untuk jadi lebih baik.
(1) merah, hijau, orange, abu-abu, biru, hitam, kuning, dll --- Aku gak begitu ngerti nih dengan penyimbolan ini, seolah simbol itu hanya berada di kepala penulis, belum bisa saya pahami dengan utuh. Seperti :
____Oh, ibu... aku tak ingin menjadi abu-abu. Kembalikan biruku...____
Di paragraf itu sendiri tak ada penjelasan warna itu menerangkan apa...
(2) Antar adegan seperti melompat-lompat. Saya rasa jika mas menulisnya dengan sabar, cerpen ini seharusnya lebih panjang daripada ini ^^

Itu aja apresiasi saya. Thanks

Writer ipenk project
ipenk project at Perempuan Kedua (new) (10 years 42 weeks ago)

Super x wrote:
Semoga nilai 9 bisa memotivasi diri untuk jadi lebih baik.
(1) merah, hijau, orange, abu-abu, biru, hitam, kuning, dll --- Aku gak begitu ngerti nih dengan penyimbolan ini, seolah simbol itu hanya berada di kepala penulis, belum bisa saya pahami dengan utuh. Seperti :
____Oh, ibu... aku tak ingin menjadi abu-abu. Kembalikan biruku...____
Di paragraf itu sendiri tak ada penjelasan warna itu menerangkan apa...
(2) Antar adegan seperti melompat-lompat. Saya rasa jika mas menulisnya dengan sabar, cerpen ini seharusnya lebih panjang daripada ini ^^

Itu aja apresiasi saya. Thanks

Dengan rendah hati, saya ucapkan makasih buat Om Amri :D
(1) Warna ini penggambaran keadaan tokoh, seperti biru-saat si tokoh sudah hampir dewasa-/hijau-saat tokoh masih belia-/abu2-saat si tokoh dalam kebimbangan-/ :D
(2) Iyah, saya menulisnya buru-buru. Karena pesenan seseorang yang ingin dibuatkan cerita ttg poligami :)

Makasih ya, Om... :D

Writer Kareena
Kareena at Perempuan Kedua (new) (10 years 42 weeks ago)
90

idem sama mizz poe sjlh

Writer mizz_poe
mizz_poe at Perempuan Kedua (new) (10 years 42 weeks ago)
90

anjisss, keren siah. cerpen yah ini?
warna-warna yang bertabur. landasan sebab-akibat. reliji yang tak menggurui *maaf, saya agak berjarak dg istilah reliji :D *
mengetahui bahwa si penulis adalah laki-laki menunjukkan hasil penulisan-transgender yg oke
BTW, transgender ini terasa di emosi yah? mungkin kerna si tokoh wanita-kedua ini memutuskan 'menyerah' terhadap hitam

bagus, tapi gua gak suka. ada bau feminisme dan baju-agama halah halah halah