Kisah Tanpa Judul

Lima hari yang lalu,

“Za?” sebuah suara.

Ghiza tergeragap, “Eh… i-iya…” Matanya tertuju pada Meru, cowok yang baru saja memanggil namanya. Tapi sesekali, ia masih menoleh ke belakang, seolah enggan meninggalkan tempat itu.
Meru menggelengkan kepalanya melihat gadis di hadapannya itu. Dengan cepat ia menarik tangan Ghiza pergi.

”Meru, aku...” Ghiza menyentak tangannya. Kali ini ia benar-benar berbalik ke belakang.

”Ghiza, kita harus pulang, dear...” Meru mengamati arlojinya gusar. Ia tahu waktu mereka tak banyak lagi.

Ghiza tak menjawab. Inginnya ia tetap tinggal di situ entah untuk apa. Tapi Meru telah terlanjur menarik tangannya lagi, kali ini lebih kuat. Ghiza tak bisa menolak. Dengan langkah berat ia mengikuti Meru. Pergi meninggalkan LP itu dengan perasaan yang tak ia mengerti.

Sepuluh hari yang lalu,

”Wawancara?” Ghiza membulatkan mata sipitnya. Di hadapannya ada Pak Liyan dengan sisa-sisa kemarahannya.

Ghiza bergidik. Ia paling sulit menghadapi orang yang baru ia kenal. Apalagi untuk wawancara. Tapi Pak Liyan, pembina mading sekolah itu, terlanjur marah padanya karena ia terlambat menyerahkan naskah-naskah untuk lomba cerpen nasional kemarin. Satu-satunya yang bisa menyelamatkan Ghiza adalah berbuat yang terbaik untuk lomba berikutnya, lomba mading SMU terbaik tingkat kabupaten.

Akhirnya, akhir yang jadi awal ketakutannya, Ghiza mengangguk lesu. Pak Liyan masih menyimpan senyumnya rapat-rapat. Kemarahan itu masih ada.

”Saya masih cukup berbaik hati dengan memberimu ide untuk artikel utamanya. Sekarang, saya tidak ingin kamu gagal lagi,” ujar beliau dengan suara yang–menurut Ghiza–sangat menyebalkan.
Ghiza mengangguk sekali lagi, kemudian keluar ruangan dengan gontai. Dan di depan pintu, Meru sudah menunggunya.

”Apa kata Pak Liyan, Za? Kau dimarahi, ya?” tanya Meru sambil menggandeng tangan pacarnya itu.

Ghiza mengangkat bahu. ”Kita harus cepat mempersiapkan lomba berikutnya. Dan tugas wawancara diserahkan padaku sebagai hukuman,” jawabnya lesu.

Meru menepuk-nepuk pundak Ghiza, sekedar memberi dukungan. ”Ya sudah. Kita tentukan narasumbernya.”

”Tapi aku kan paling takut sama wawancara,” Ghiza menarik nafasnya, berat.

Ia selalu takut pada keramaian. Ia takut ada di dekat orang-orang yang tak dikenalnya. Ia takut memulai sebuah pembicaraan, maupun mengakhiri. Ah... begitu banyak ketakutan dalam hidupnya.

Ia merasakan genggaman erat Meru di tangannya. Mendadak ia teringat sesuatu.

”Semalam aku bermimpi,” ujarnya, dan Meru menarik tangannya ke arah kursi taman di depan kelas mereka.

”Apa?” tanya Meru saat mereka duduk.

”Tidak jelas, tapi aku tak bisa melupakannya. Ada api, teriakan-teriakan, dan hawa panas menyerang tubuhku. Aku bisa merasakan kesedihan dan rasa sakit yang dalam, tapi aku tak tahu aku dimana, sebagai apa. Aku hanya melihat merasakan semua itu. Dan setelah hawa panas itu lenyap, aku melihat orang-orang yang menangis di dalam penjara,” Ghiza menerawang, menatap daun-daun delima yang bergoyang di atas kepalanya.

Meru menoleh. Ada kerutan di dahinya. ”Penjara?”

”Ya. Aku tidak tahu apa hubungannya, antara api dan penjara itu, aku...” Ghiza tertunduk. Tanpa sadar, ia menangis. Tangisan yang tak ia mengerti sebabnya.

Meru mengguncang bahu Ghiza pelan, ”Hei Za, jangan menangis. Dengar... mimpi itu bisa jadi inspirasi buat kita.”

Ghiza mendongak, dan Meru bisa melihat airmata gadis itu yang jatuh satu persatu. ”Apa?”

”Kita wawancarai para napi di LP....”
Ghiza menyusut airmatanya pelan. Wajahnya memerah. Tak satu kalimat pun keluar dari bibirnya.

Meru menatap Ghiza cemas. Rasanya ia tahu apa yang Ghiza takutkan.
”Kau takut, ya Za?” tanyanya seraya melukis wajah Ghiza di benaknya. Wajah seorang gadis dengan begitu banyak ketakutan dalam hidupnya. Ghiza pasti takut melihat orang-orang dalam penjara itu, nantinya.

Tapi ia melihat Ghiza menggeleng. ”Aku tidak takut. Aku akan mendatangi mereka.”

Meru mengembangkan senyum di wajah ovalnya. Tapi belum sempurna senyum itu, ia telah mendengar Ghiza berkata lagi, ”Aku hanya takut pada mimpiku.”
Meru tertegun. Hening.

Enambelas tahun lima bulan yang lalu: 09. 43 pm,

”Beras kita habis,” ujar seorang wanita muda pada suaminya.

Laki-laki itu tertunduk. ”Aku kira dunia ini adil, tapi ternyata terlalu banyak penderitaan yang harus kita rasakan,” ia menghela nafas berat. Teringat pekerjaannya yang hilang sepuluh hari lalu.

Kini dalam hari-harinya ia hanya bisa mematung mendengar isrtrinya bersenandung untuk anak mereka.
Wanita itu–istrinya–terdiam memandang langit-langit. Ia percaya, dunia menyimpan keadilan untuk mereka. Hanya saja ia tak tahu, apa yang harus dilakukannya sekarang. Dan gelombang hening hadir di tengah keduanya. Lama. Sampai kemudian, terdengar tangisan.

Wanita itu bangkit, mendatangi anaknya yang menangis di kamar. Di depan pintu, ia mendengar suaminya berkata,
”Aku pergi dulu.”

Wanita itu menoleh cepat. Suaminya telah menutup pintu dari luar.
”Mau kemana?” ia bertanya. Tapi ia tak mendengar jawaban apapun.


Tiga hari yang lalu,

”Aku sudah enam kali bermimpi tentang penjara dan api itu,” ujar Ghiza sambil menatap layar komputer.

”Jangan terlalu dipikirkan. Itu cuma mimpi biasa, sama seperti biasanya saat kau memimpikanku,” jawab Meru sekenanya, diakhiri tawa yang berderai panjang.

Ghiza menghela nafas panjang, meletakkan mouse-nya dan menatap Meru dengan tampang serius.

”Apa kita akan ke LP itu lagi?” tanyanya lagi, dan Meru spontan meletakkan kertas-kertas di tangannya.

”Hah?! Kau ini kenapa, sih? Wawancaranya kan sudah selesai dua hari lalu,” jawab Meru. Ia teringat dua hari lalu, saat Ghiza seolah tak mau pergi dari LP itu setelah wawancara.

”Aku seperti terikat pada tempat itu.”

”Ck! Sudahlah, lupakan! Kita harus cepat membereskan semua ini sebelum Pak Liyan marah lagi.” Meru kembali mengamati kertas-kertasnya. Ia tahu ada yang aneh pada kekasihnya itu. Sesuatu yang tak ia mengerti, dan ia takut menebaknya.

”Meru, aku...”

”Kita pulang sekarang, yuk!” Meru memotong. Ia merapikan kertas-kertas itu cepat, lalu mematikan komputer. ”Ini kita selesaikan di rumahmu.”

Ghiza tak sempat menjawab. Tapi tak juga menolak. Yang ada di kepalanya sekarang adalah rumahnya yang besar tanpa pernah ada bayangan orangtuanya yang selalu sibuk. Sakit mendesak dadanya sesaat. Dan Meru segera menarik tangannya keluar dari ruang mading.

Ghiza tak tahu, Meru sedang berusaha menariknya dari seribu satu keanehan dan ketakutan yang menyelimutinya.


Enambelas tahun lima bulan yang lalu: 11. 55 pm,

Malam hari di tempat tinggal wanita itu selalu hening. Tapi malam itu ia mendengar suara-suara aneh di kejauhan, yang dirasanya semakin mendekat. Ia teringat suaminya yang pergi entah kemana. Didekapnya bayinya lebih erat.

”Maling.... maling...”

Wanita itu gemetar. Suara-suara itu semakin dekat, semakin membuatnya takut.

”Bakar! Bakar!”
Bayinya menangis. Hati wanita itu miris. Ia tak tahu apa yang terjadi di luar sana. Tapi ia sangat takut. Dadanya berdebar berkali lebih kencang dari biasanya.

Keramaian itu sampai di depan rumahnya yang kecil. Wanita itu hampir menuju pintu, saat tiba-tiba pitu itu terbuka dari luar. Seorang ibu setengah tua, tetangganya, menyeretnya keluar dengan panik.

”Itu... suamimu...” ujar ibu itu terbata. Nafasnya memburu.

”I-iya... suami saya...” wanita itu tak kalah gugup. Bayi di gendongannya menjerit kencang.

”Suamimu mencuri uang dan beras pak lurah. Orang sekampung mengejarnya, itu...”

Sepasang kaki kurus wanita itu lemas seketika. Dengan gontai ia melangkah ke pintu, menyambut suaminya yang terkapar di depan rumahnya, dikelilingi banyak orang yang penuh kemarahan.

”Bakar.... Bakar saja! Dasar maling!”

”Ja-jangan... jangan... itu.... suami saya, jangan...” wanita dengan bayi di gendongannya itu memekik tertahan. Tak seorang pun mendengarnya.

Ia menangis, melihat kesedihan di mata suaminya, yang menatapnya sayu. Mulut lelaki itu bergerak-gerak. Wanita itu mengurut dada.

Ia tahu apa yang ingin lelaki itu katakan. Sebuah kata maaf. Airmatanya tak bisa ia bendung.

Beberapa detik kemudian, hawa panas memenuhi tempat itu. Wanita itu tergugu, menatap tubuh suaminya yang terbalut api. Ia berteriak. Berteriak lagi. Tapi teriakannya tak mengubah apapun. Kesedihan terlanjur menguras seluruh tenaganya. Ia lunglai.


Dua hari yang lalu,

Ghiza merasakan hawa panas di sekelilingnya. Ia mendengar teriakan-teriakan menakutkan. Ia merasakan kesedihan yang mendesak hebat. Ia tak sanggup bergerak.
Aku takut.... tolong, aku takut...
Panas...
Takut...
Ghiza tersentak dalam tidurnya yang singkat. Mimpi itu lagi.

Enambelas tahun empat bulan lima hari yang lalu,

Wanita itu mencium kening bayinya dengan airmata berlinang.

”Maafkan Ibu, nak... Ibu tidak bisa lagi memberimu makan. Tidak bisa lagi menjagamu. Tapi sampai kapan pun, Ibu mencintaimu....”
Ia meletakkan bayi itu dalam kardus kecil, dan meninggalkannya di depan gerbang panti asuhan. Ia masih sempat menyusut airmatanya saat kakinya mulai melangkah pergi.

Ia ingat, dua hari yang lalu, ia tertangkap polisi saat mencuri dompet seorang mahasiswa di dalam bus. Dan sekarang ia berhasil melarikan diri, sekedar untuk ’menitipkan’ buah hatinya di tempat yang layak. Setelahnya, ia seakan tak peduli lagi pada hidupnya.

”Aku telah terbiasa dengan airmata,” desisnya seraya menatap kardus itu kembali. Tatapan selamat tinggal yang meninggalkan banyak cinta yang terurai dalam tangis. Dan ia mulai membayangkan api, menyala dalam hari-harinya yang pedih.


Enambelas tahun dua bulan dua hari yang lalu, sebuah penjara,

Wanita itu memegang erat dadanya yang sakit. Ia tak sempat mengeluh, juga menangis. Sakit itu sudah lama ada padanya. Sakit yang terpaksa ia lupakan seiring kerasnya hidup. Kemudian pandangannya gelap. Di otaknya terbayang api, dan sebuah kardus.

Ia mulai bisa menangis, dalam diam. Ia tahu ia akan pergi. Ia pergi tanpa perlu mengucapkan selamat tinggal pada siapa-siapa.
Di tempat lain....

”Selamat jalan....” ibu pemilik panti melambaikan tangan pada seorang wanita kaya yang baru saja mengadopsi seorang anak dari panti miliknya.

Lambaiannya itu terbalas dengan selarik senyum tulus.
”Ghiza ya, bu?” tanya seseorang yang muncul dari belakangnya.

Ibu pemilik panti mengangguk. ”Ghiza yang cantik. Semoga ia bahagia dengan kehidupannya yang baru,” ujarnya menerawang. Ia teringat dua bulan lalu. Teringat seorang bayi cantik dalam kardus.


Satu hari yang lalu,

”Aku merindukan wanita itu,” ujar Ghiza menerawang.
Di hadapannya, Meru menarik nafas panjang. ”Ghiza, sudahlah....”
Ghiza tersenyum sambil menimang dua lembar kertas di tangannya.

”Hasil wawancaraku bagus, ya? Sekarang aku tidak takut lagi sama wawancara. Aku rasa, wanita itu yang memberiku keberanian. Aku berharap bisa memimpikannya lagi...”

Meru tersenyum samar. Ia senang, gadis itu telah menguak sebagian dari ketakutannya, meski dengan cara aneh yang tak ia mengerti.

Ghiza masih tersenyum, teringat mimpinya semalam.
Seorang wanita muda memegang dadanya sambil tersenyum di hadapan Ghiza. Tapi Ghiza melihat airmata di wajah itu.
Wanita itu tersenyum sambil menangis, menatapnya, ”Ghiza....”[]

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer e_nal
e_nal at Kisah Tanpa Judul (11 years 9 weeks ago)
90

anjrit keren!!! hebat timeline nya.. bener2 gak bisa dibaca sambil lalu.. hehehe.. hebat2!!!

Writer XuSabutos
XuSabutos at Kisah Tanpa Judul (11 years 9 weeks ago)
40

Cerita kamau baru dimengerti kalau sudah dibaca semuanya, kalu sepotong2 jadi bingung... tapi sip lah.. cuma kalau baca ceritamu..nggak bisa ditinggal pipis..

Writer ranggadek
ranggadek at Kisah Tanpa Judul (11 years 9 weeks ago)
80

stading ovation....

that's all....

gk bisa berkata ap2 lg

Writer ubr
ubr at Kisah Tanpa Judul (11 years 9 weeks ago)
90

Trik pengacakan timeline di cerita ini menurutku sukses, karena membuatnya jadi penuh nuansa 'prasangka' hwehehe. Lagipula tanpa dijelasin para pembaca (mestinya) dapat mengerti inti cerita ini.

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Kisah Tanpa Judul (11 years 9 weeks ago)
80

agak bingung juga karena setting waktunya maju-mundur. Tapi secara ide, sepertinya ini menarik. Lagipula tulisanmu (terlepas dari setting waktu yang maju mundur itu) terasa mengalir. Bagus kok.

Writer ki_anomsulung
ki_anomsulung at Kisah Tanpa Judul (11 years 9 weeks ago)
90

wow.. keren banget nih ! walau dalam bentuk potongan namun seperti membaca cerita penuh.

nice!

Writer akina
akina at Kisah Tanpa Judul (11 years 9 weeks ago)
60

wah,,, critana mundur.. rada binun aq