Zheik; The One With Power - 1st Scroll Chapter 3

Dua hari berikutnya, sebelum waktu Ritagi, saat ibu dan adiknya masih tertidur lelap Reiđ pergi meninggalkan rumah. Sengaja dia tidak memberitahu kepergiannya pada semua orang. Kabut tipis masih menyelimuti seluruh desa, namun Reiđ yang sudah terbiasa menggembalakan upyua tidak mengalami kesulitan.

Sambil berjalan menuju kandang hewan, Reiđ menaruh beberapa bom rakitan, yang pernah dia beli di toko senjata beberapa bulan yang lalu, di sabuk karet pemberian ayahnya. Reiđ menatap dua ekor ippleon, hewan tunggangan berkaki empat seperti kuda tetapi mempunyai dua tanduk seperti kambing, yang ada di dalam kandang, hanya dua ippleon tunggang dimiliki keluarganya. Reiđ mengambil salah satu ippleon dan bergegas menungganginya. Reiđ terpaksa menggunakan ippleon karena mengenai kecepatan, kuda masih lebih unggul daripada ippleon. Tetapi ippleon lebih unggul daripada kuda karena dia bisa digunakan untuk bertarung dengan menggunakan kedua tanduknya.

Sebelum berangkat menuju hutan Collat, Reiđ menuju rumah Pallas. Pallas dan keluarganya belum bangun, Reiđ mengendap-endap memasuki halaman rumah Pallas. Reiđ meninggalkan sebuah surat dan menancapkannya dengan sebilah pisau kecil di pintu rumah Pallas.

”Maafkan aku Pallas, aku tidak bisa mengajakmu. Hanya ke pundakmulah aku bisa menitipkan Finly dan Ibu. Maafkan aku.” Reiđ berucap dengan lirih.

Reiđ memacu ippleon dengan kencang menuju arah timur, hampir tanpa istirahat. Tiga putaran pasir telah berlalu, bertepatan dengan matahari terbit Reiđ telah berada di depan hutan Collat.

Dari kejauhan Reiđ melihat sebuah tenda kecil, Reiđ mengenali tenda itu sebagai sebuah tenda milik prajurit Bes Yua. Dulu ayahnya pernah mengajak ke salah satu tenda prajurit yang sama dengan tenda itu. Reiđ mengamati keadaan disekitar tenda, seorang prajurit sedang duduk di kursi dan meja kayu. Di samping pos itu terdapat sebuah menara pengawas yang juga terbuat dari kayu, tepat berbatasan dengan sungai dengan pagar panjang dari kayu besar membentang. Di dalam menara terlihat tiga orang prajurit yang berpakaian sama dengan prajurit yang berada di depan tenda.

Reiđ memperlambat jalan ippleonnya, setelah berada tidak terlalu jauh dia turun dan menghampiri tenda itu sambil menarik ippleonnya. Reiđ melilitkan ekornya dipinggang hingga terlihat seperti sebuah sabuk. Terkadang dia melakukan hal ini agar orang-orang yang tidak terbiasa bertemu dengan iexian tidak kaget saat melihat dirinya. Ada seorang prajurit yang terlihat berjaga di dekat pagar kayu yang menutup jalan menuju hutan Collat. Seorang lagi sedang memasak air dengan ketel yang penuh dengan noda hitam di atas perapian. Reiđ mengikat tali kekang ippleonnya di sebuah tiang. Prajurit yang sedang memasak menoleh dan menghampiri.

“Ada keperluan apa kamu ke sini?” tanya prajurit itu.

Reiđ tidak menjawab. Dia sedang asyik menatap ke arah sungai yang mengalir dengan deras. Beberapa penduduk Bés Yua berpendapat sungai lebar yang menjadi pembatas antara hutan dengan desa menjadi pelindung bagi desa Harali. Atau memang makhluk itu sangat takut dengan air, tak ada yang tahu pasti.

Sinar matahari yang baru saja terbit terpantulkan dengan indah di atas permukaan sungai itu. Sementara suasana yang mencekam sangat terasa dari hutan yang berada di seberang, sangat berlawanan. Reiđ sedikit bergetar menggigil, ada perasaan takut yang menjalar di permukaan kulitnya, semakin bertambah dengan dinginnya udara pagi itu.

Reiđ menghentikan kekagumannya dan menceritakan maksud kedatangan untuk mengikuti sayembara membunuh Classyalobalos. Sambil menyelam minum air begitu pikir Reiđ, dengan mencari Jantung Hijau, ada kemungkinan besar dia bakalan bertemu dengan Classyalabolas. Dan dia berpikir kenapa tidak sekalian mengikuti sayembara, siapa tahu dia berhasil mendapatkan Jantung Hijau dan uang sayembara. Uang itu tentu akan cukup untuk menghidupi keluarganya, bahkan agar Finly bisa bersekolah. Tidak seperti dirinya yang tidak lancar membaca dan menulis.

Prajurit tadi mendengarkan sambil menuangkan pirra (kopi--red) ke dalam gelas-gelas kayu yang ada di atas meja.

“Baiklah. Sebelum kamu memasuki hutan, isilah dulu beberapa berkas-berkas ini. Sebagai bukti kalau kamu memasuki hutan ini atas kehendak sendiri.” Prajurit itu menyodorkan beberapa lembar perkamen dan segera beranjak sambil melanjutkan sarapan pagi serta menikmati pirra hangat yang baru saja dibuatnya.

Prajurit itu hanya menggeleng-gelengkan kepala. “Huh, lagi-lagi ada orang bodoh yang merasa dirinya sanggup mengalahkan kreyzure itu. Seandainya kamu anakku, pasti akan ku larang kamu pergi ke sana hanya untuk menjadi menu tambahan buat kreyzure itu. Sungguh kejam sekali yang membuat sayembara ini!” Prajurit itu berkata sambil memandang Reiđ.

Reiđ membaca perkamen itu perlahan, ada beberapa tulisan yang tidak bisa dia mengerti, tapi dia sedikit mengerti maksud perkamen-perkamen itu. Paling tidak dia lancar menulis namanya sendiri.

”Tapi siapalah aku yang bisa menyalahkan, aku hanya menjalankan perintah. Siapapun yang ingin mengikuti sayembara ini atas keinginannya sendiri, maka silahkan. Kami para prajurit tidak akan menghentikan.”

Reiđ hanya menatap dingin sang prajurit.

Prajurit itu berteriak memanggil ketiga rekannya untuk sarapan.

“Kamu ada masalah apa hingga menyerahkan nyawamu yang berharga untuk setan penunggu Collat ini?” tanya prajurit itu lagi

Reiđ berhenti sejenak dan menatap prajurit tadi namun sesaat kemudian dia melanjutkan menulis berkas-berkas itu. Dia merasa tidak perlu membicarakan alasan kenapa dia ingin memasuki hutan itu. Hatinya sudah mantap. Tidak ada yang bisa membuat Reiđ membatalkan niat untuk mengambil kepala Classyalobalos Collat. Tapi yang lebih penting bagi Reiđ adalah bertemu dengan pengambil nyawa ayahnya. Ya, membalas dendam untuk ayahnya.

Setelah selesai melengkapi mengisi surat-surat, Reiđ menyerahkan surat-surat itu kembali pada si prajurit yang baru saja selesai sarapan. Prajurit itu mengambil surat-surat yang baru saja di isi Reiđ dan memeriksa surat-surat itu.

“Reiđ Reream dari Hallari.” Prajurit itu bergumam, membaca sambil sesekali mengucapkan apa yang dibacanya.

”Jadi, Reiđ, apa yang membuatmu merasa bisa mengalahkan makhluk ini?” prajurit itu menanyakan kembali.

“Aku harus bisa mengalahkan Classyalabolas, keluargaku sangat membutuhkan uang sayembara ini.” Reiđ sedikit merasa ragu. Pertanyaan tadi sempat membuat dirinya sendiricberpikir, dia yang tidak mempunyai keahlian bertempur ataupun menggunakan senjata, hendak mengalahkan seekor kreyzure-binatang ganjil berukuran raksasa.

”Senjata apa yang kamu bawa? Apa kamu hanya bermodal nekat saja?” salah seorang prajurit yang baru turun dari menara bertanya. Sejak tadi dia mengamati Reiđ yang tidak membawa senjata apapun.

Reiđ mengeluarkan beberapa bom murahan dari sabuk karetnya.

Prajurit itu hanya menggelengkan kepala.

”Ini, sebuah pedang bagus. Aku beri harga murah, 50 Wina. Kalau kamu beli di toko penjual senjata harganya lebih dari 100 Wina.” prajurit pertama menawarkan seblih pedang.

Reiđ mengernyitkan dahi, 50 Wina, kurang lebih setara dengan 1 karung yang berisi 100 buah jagung. Reiđ menggeleng.

”Maaf Pak, 10 Wina pun aku tidak punya. Tidak, terima kasih.”

“Baiklah, tapi bawalah ini.” Si prajurit tua mengambil dua buah benda yang disimpan di dalam sebuah peti besar yang berada di dalam pos kayu. Prajurit itu memberikan sebuah golok bekas dan sebuah baju zirah yang juga tua serta sebuah jubah berwarna coklat tua yang sudah mulai memudar.

”Aku rasa ini cocok untuk kamu. Lagipula ini peninggalan seseorang yang juga datang dari Haralli. Jadi mungkin tidak ada salahnya kalau kuberikan kepada kamu. Daripada membusuk di peti penyimpanan.”

Reiđ menerima ketiga benda tersebut. Dia langsung mengenakan baju zirah dan jubah tua itu. Bau apak tercium dari jubah tua tersebut, Reiđ tidak mempedulikannya. Badannya menjadi terasa berat akibat memakai baju zirah. Kemudian dia mengamati golok yang panjangnya hampir setengah panjang tangan Reiđ. Agak gamang dia memegang golok itu, selama ini dia tidak pernah menggunakan senjata lain selain bola lempar. Satu-satunya kemampuan yang dimilikinya selain kemampuan ’melarikan diri’ saat bermain crossball.

Ternyata golok itu sedikit lebih berat dari yang dia duga. Dia mencoba mengayun-ayunkan golok sedang melatih bermain pedang. Tangan Reiđ yang belum pernah menggunakan senjata sebelumnya perlahan membiasakan diri. Setelah merasa terbiasa dengan golok, Reiđ memasukkan golok ke dalam sarung golok yang terbuat dari kulit hewan dan langsung menaruh di pinggang. Kecanggungan kembali terasa saat dia membawa golok itu.

Reiđ berandai-andai kalau barang-barang itu adalah milik ayahnya dulu, untuk memantapkan hatinya.

“Aku berharap bisa membatalkan niatmu untuk bertemu dengan kreyzure itu. Aku hanya bisa mendoakanmu Nak.” tambah Prajurit itu. ”Kalau masih ada yang kamu perlukan, katakan saja.”

Reiđ hanya tersenyum. Dua orang prajurit yang bergegas membuka pintu gerbang kayu.

“Terima kasih Pak. Perlengkapan perang ini sudah cukup bagiku.” kata Reiđ sambil berlalu melewati pintu gerbang. Berhati-hati melewati jembatan batu di atas sungai Vanora.
#

Nyonya Lyall termenung, berdiri menatap ke luar jendela dengan pandangan kosong. Jendela ruang makan yang tepat menghadap ke arah timur, arah hutan Collat yang tidak terlihat.

Finly sedang menikmati sarapan bersama Pallas yang baru saja datang.

Pallas membawa surat yang Reiđ tancapkan di depan pintu rumahnya. Finly sesekali menatap ke arah ibunya yang sedih. Finly sendiri merasa sedih namun dia ingin terlihat tegar. Kakaknya berani menerima tanggung jawab ini untuk dia dan ibunya, paling tidak dia tidak membuat ibunya bertambah khawatir.

”Pallas, kuharap kamu tidak menyalahkan Reiđ yang tidak memberitahukan keberangkatannya. Dia tidak jauh berbeda dengan mendiang ayahnya. Selalu menyimpan semuanya sendiri, selalu berusaha untuk melakukan semuanya sendiri. Padalah ada orang-orang disekitarnya yang mau membantu.” Nyonya Lyall membuka mulut, namun masih menatap ke luar jendela, membelakangi Finly dan Pallas yang duduk di kursi tempat meja makan berada.

”Maafkan aku, Nyonya Lyall. Aku hanya merasa kesal karena tidak di anggap oleh dia. Padahal aku adalah sahabatnya sejak kecil. Kenapa dia harus membohongiku, padahal dia berkata besok dia akan pergi ke hutan Collat dan mengajakku serta.” Pallas menghentikan sarapannya. Masih ada makanan di dalam mulutnya.

”Sekarang dia hanya meninggalkan sebuah surat yang memintaku untuk menjaga anda dan Finly.” Pallas meminum air agar makanan yang masih ada di mulutnya langsung menuju perut.

”Pada kamipun dia sama sekali tidak berpamitan.” si kecil Finly ikut bersuara.

Pallas menghela nafas dan menghembuskan sedikit keras, emosinya masih belum tenang. Matanya menatap sekeliling, rumah dari tembok batu. Sebuah pedang pasukan tingkat II kerajaan Bés Yua digantung salah satu dinding. Milik mendiang ayah Reiđ. Pedang itu masih terlihat rapi dan bersih. Entah siapa, tapi pedang itu selalu dibersihkan oleh keluarga yang ditinggalkan.

”Pallas, jika kamu sibuk dengan pekerjaan kamu, kamu tidak perlu melakukan apa yang diminta Reiđ. Aku tahu keluargamu juga sedang kesulitan.” Nyonya Lyall menghentikan lamunan Pallas. Nyonya Lyall membalikkan badan menatap Pallas dengan ramah, dengan cepat Pallas kembali menatap Nyonya Lyall.

”Aku juga tahu kalau kamu adalah sahabat Reiđ sejak kecil. Kamu juga sudah ku anggap seperti anak sendiri. Tapi kamu tidak perlu menjaga kami selama kepergian Reiđ. Aku rasa kami bisa menjaga diri sendiri, tidak ada yang buruk yang akan terjadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Justru dialah yang harusnya kita khawatirkan.” Nyonya Lyall mengatur nafasnya.

”Meskipun Tuan Tanah bukan orang yang baik, aku yakin dia bukan orang yang ingkar janji.” Nyonya Lyall mencoba tersenyum.

”Tapi...” Pallas mendongak, menatap Nyonya Lyall.

”Kalau aku butuh sesuatu, aku akan memberitahu kamu. Secepatnya.” Nyonya Lyall mencoba membuat Pallas tidak merasa kebingungan. Posisi ini membuat dia terjepit, di satu sisi dia ingin mengemban kepercayaan yang diberikan Reiđ dalam suratnya namun di sisi lain dia juga harus bekerja untuk membantu keluarganya.

”Tenang Kak Pallas, begini-begini aku sudah berusia 12 tahun. Aku juga bisa di andalkan.” Finly ikut berbicara. Pallas tersenyum mendengar perkataan si kecil Finly, dia mengacak-acak rambut Finly.

Pallas akhirnya pasrah dan mengangguk, meskipun kedua orang dari keluarga Reream ini tidak sekeras kepala Reiđ dan mendiang Tuan Bach, ayah Reiđ namun kemampuan Nyonya Lyall dan Finly untuk bersikukuh tidak diragukan. Pallas sudah mengetahui itu sejak menjadi mengenal dekat keluarga Reiđ.

”Aku akan menyempatkan mampir ke sini tiap hari. Paling tidak itu yang bisa ku lakukan. Aku tidak mau Reiđ menceramahi aku saat dia kembali.”

”Kalau dia kembali...” lirih Nyonya Lyall.

”Dia pasti kembali. Bukankah dia sudah berjanji pada kamu Finly?” tegas Pallas. Finly mengangguk dengan pasti.

”Janji seorang pemuda dewasa Bés Yua. Lagipula, ada permainan yang belum selesai kami mainkan. Pantang bagi kami untuk tidak menyelesaikan satu permainan.” Pallas tersenyum.
##

Next>

Read previous post:  
59
points
(2415 words) posted by makkie 10 years 32 weeks ago
84.2857
Tags: Cerita | fanfic | cerita | fantasi | pedang | petualangan | zheik
Read next post:  
90

hoo, udah persiapan mau ngambil jantung hijau nih :D
oh ya, ada yg aneh dikit makkie.

  • waktu ditanya alasannya ingin menyerahkan nyawa ke classyalabolas, reid diem aja, ga mau bilang alasannya. tapi beberapa paragraf berikutnya dia tiba2 ngasi tau kalo keluarganya butuh uang. agak ga konsisten menurutku ^^
  • di rumah reid ternyata ada pedang milik ayahnya. kenapa ga dibawa aja ama reid daripada cuma bawa bom2 murahan dan harus nerima golok dari prajurit?

ada beberapa typo juga, terutama yg nyebut classyalabolas.
ok, lanjut~

ah itu...
masalah alasan memang tidak dibuat jelas, karena Reid memang ga pengen orang lain tau, terutama ibunya alasan dia yang sebenarnya..nanti ada kok, dia ceritain alasan yang sebenarnya..ikutin aj he he....
terus masalah pedang, sebenarnya aku mang pengen reid bawa pedang ayahnya, tapi berhubung reid tidak bisa maen pedang dia tidak jadi membawa pedang itu..mang mungkin harus dijelaskan lagi ya...huhuhu,,,malesnya revisi...hihihi...thx buat masukannya...

70

Settingnya jadi lumayan ala game-game RPG. Unik juga mengetahui ada bom rakitan dalam cerita ini >_<

70

edit..edit..repot jg ternyata

80

Cerita yg berkembang bagus, tp hrs dsmpen buat dbca offline, hehe... Dtgu cerita lainny jg. Btw salam kenal lg dech.

90

Waw, asik bgt bacany hehe...
Hmm... Kykny ntar ada hubungan ama umur ke 20 Reido..
Lanjut lagi...

70

yup..snkyu bwt nasihatnya kaka elbintang..gomen, anak baru soalnya..:D
tul juga bwt diakon, mang kurang promosi..ga ada bagian humasnya sih..he3..gomen, karena pstingnya dh pd lm2, jd kadang susah juga nyari bab 1nya..ni ku dah mulai cari2, maklum komp lelet..jadi buka 1 page aja bs sampae selesai mandi br...

80

aku baru scrollfast saja dan belum baca detail tulisan kamu ini makie.

ada cukup banyak penulis fantasi di k.com sejak master epic fantasi Villam menularkan tulisannya di sini.

dan kebijakan point itu sangat berguna untuk kematangan masing-masing tulisan kita. seperti tagnya K.com, ini kumpulan penulis, dan penulis biasanya pengin kematangan tulisannya meningkat sejalan dengan latihan menulis dan baca. maka, bacalah tulisan para master-master yg lain di k.com :-)

-----------------------------
salam
pemandu sorak fantasi dalam negeri
cheers!

80

wow
bener
ceritanya bagus koq
>.<

80

sebenarnya cerita ini bagus banget... aku heran dah, kok kaga ada yang baca yak??

kurang promosinya kali? sering2 lah komentarin punya orang... biasanya orang2 bakal mampir2 juga tuh hahahahaha semangat yak!

mmm...susah huga ya kalo tiap kalo posting harus punya poin dulu...hiks2..akhirnya, di efikasi saja...