Zheik, The One With Power - 1st Scroll Chapter 4

Reiđ berjalan tak tentu arah, sudah lebih dari lima putaran pasir sejak dia memasuki hutan Collat, dia masih belum menemukan tanda-tanda keberadaan makhluk itu. Dan kini dia mulai kehilangan arah, meskipun sudah lewat tengah hari namun keadaan di dalam hutan gelap, tidak jauh berbeda pada saat langit diselimuti awan mendung tebal. Kabut tipis masih menyelimuti beberapa tempat.

Reiđ mengeluarkan kayu api, kayu yang bisa mengeluarkan cahaya dalam gelap. Finly bilang kayu ini berasal dari pohon lenha yang biasa tumbuh di daerah pegunungan. Kayu ini akan mengeluarkan cahaya jika berada di daerah gelap. Meskipun tidak terlalu terang tapi cahaya yang dikeluarkan cukup untuk menerangi dalam radius delapan sampai sepuluh kaki. Reiđ tersenyum mengingat adiknya yang lebih muda tetapi pengetahuannya lebih banyak daripada dirinya.

Reiđ terus berjalan sambil meninggalkan tanda di pepohohan agar tidak semakin tersesat di hutan, sesuatu yang harusnya dia lakukan sejak masuk ke dalam hutan Collat. Reiđ melihat cahaya terang di depan dan bergegas menuju cahaya tersebut. Reiđ berhenti sejenak, samar-samar dia mendengar suara. Suara mendesing bagaikan ratusan lebah yang sedang berkerumun.

Reiđ kembali berlari menuju arah sumber suara sambil menghindari akar-akar pohon yang menyembul ke permukaan tanah. Di depan cahaya semakin terang, Reiđ menebarkan pandangan sekilas mengamati hutan, bagian hutan ini jarang di tumbuhi pohon sehingga matahari bisa mengenalkan cahayanya.

Reiđ sangat terkejut, di depan terhampar sebuah pemandangan yang mengerikan. Perasaan Reiđ bercampur aduk antara merinding, mual, dan takut. Tanpa sadar tubuhnya gemetar. Reiđ melihat puluhan mayat dan tulang-belulang yang berserakan, tulang-tulang inland. Terlihat pula beberapa baju besi berwarna biru pudar dan senjata milik prajurit istana Bés Yua yang sudah berkarat dan tercampur dengan darah kering.

Bau busuk mulai tercium, padahal jarak antara Reiđ dan tempat itu kurang lebih dua ring (200 kaki atau 100 meter--red). Reiđ mulai waspada. Mungkin ia telah sampai di ‘ruang makan’ si kreyzure pikirnya.

Reiđ kembali mendengar suara berdesing, beberapa puluh kaki di arah kiri tempat dia berdiri sekarang. Reiđ merunduk serendah mungkin, mencoba menyembunyikan diri dibalik rerumputan yang tingginya hampir sepinggang dan langsung memasang kuda-kuda. Mata difokuskan tajam ke arah sumber suara. Terlihat kelebat bayangan tidak hanya satu.

Sesosok inland, atau mungkin seorang inland sedang dikepung oleh kumbang-kumbang berukuran seperti anjing. Jumlahnya enam atau tujuh ekor Reiđ tidak bisa memastikan. Reiđ berlari mendekat sambil mengeluarkan goloknya.

Jarak semakin memendek, Reiđ bisa melihat dengan jelas. Ada 10 ekor kumbang besar, atau tadinya sepuluh ekor. Sekarang tinggal enam, inland itu dengan lincahnya menembakkan panah-panah sambil menghindar dari serangan kumbang-kumbang.

Reiđ tidak bisa melihat dengan jelas siapa inland itu, wajahnya ditutupi dengan kain, yang bisa Reiđ lihat hanya sepasang mata. Pakaian yang dikenakan inland itu juga sedikit asing bagi Reiđ. Reiđ menduga kalau dia bukan dari Bés Yua.

Reiđ terhenti sejenak, bukan karena dia memikirkan siapa inland itu. Tubuhnya mendadak kaku begitu melihat dengan jelas kumbang-kumbang yang menyerang inland itu. Sebuah kesadaran yang terlambat, dia tidak pernah bertarung atau bertemu dengan makhluk-makhluk aneh dan buas sebelumnya. Bulu kuduknya semakin bertambah merinding. Pandangan matanya serasa mengawang, berkunang-kunang. Kedua lututnya bergetar, ekornya menjadi lemas.

Reiđ berusaha untuk menutup mata dan berlari ke arah sebaliknya, berpura-pura tidak pernah berada di tempat ini. Namun nurani kecilnya berkata dia harus membantu inland itu, hati kecilnya memaksa untuk tidak menutup mata. Pikiran dan hatinya bergelut, mencoba mengatakan mana yang paling benar.

Reiđ berharap ada Pallas di sampingnya. Pallas yang selalu optimis, yang tahu apa yang harus dilakukan jika berada pada situasi seperti ini. Sedikit menyesal dia tidak mengajak Pallas.

Reiđ mengeratkan genggaman pada goloknya. Berteriak dia melemparkan golok pada salah satu kumbang yang pada saat itu hendak menerjang inland itu dari belakang. Tepat menancap di mata kanan kumbang, kumbang itu terlempar beberapa kaki dan meraung kesakitan hingga akhirnya tidak bergerak lagi.

Inland itu melompat mundur menghindar. Dia memang tidak menyadari kumbang tadi akan menyerang. Dia menatap Reiđ yang masih berdiri beberapa kaki.

Reiđ balas menatap, dia bisa melihat dengan jelas bola mata berwarna kuning terang, seperti kilauan emas dari wajah inland itu. Namun mata Reiđ menjadi terbelalak, kumbang-kumbang tadi melompat bersamaan ke arah inland bermata emas. Dengan cepat Reiđ mengambil dua buah bom lempar tanpa sumbu dari sabuknya.

”Awas!” teriak Reiđ sambil melemparkan bom-bom itu ke arah para kumbang.

Inland itu terlambat menyadari, kelebat kumbang-kumbang begitu cepat. Dia melompat sejauh-jauhnya menghindar dari serangan kumbang-kumbang, menghindar dari benda yang dilemparkan Reiđ.

Kedua bom Reiđ meledak begitu membentur para kumbang. Tiga dari lima kumbang-kumbang itu meledak, cairan hijau pekat menyemprot kemana-mana. Kumbang yang lain terpental, terhempas beberapa kaki dan melarikan diri dengan penuh ketakutan.

Inland yang memakai penutup wajah sempat terpental terkena daya hempas dua bom Reiđ. Dia jatuh tersungkur di antara tumpukan tulang, percikan darah hijau kumbang mengenai betisnya.

Reiđ mendekat mencoba memeriksa keadaan inland tadi. Reiđ tetap mengawasi ke arah kumbang-kumbang yang masih hidup berlari, ketakutan masih ada pada dirinya. Inland itu tidak bergerak. Reiđ menepuk punggung yang terbungkus pakaian yang terbuat dari cincin-cincin kecil dari logam, chain mail, Reiđ mengenali jenis armor itu. Tidak ada reaksi.

Reiđ membalikkan tubuh inland itu. Matanya terpejam. Reiđ membuka penutup kepala untuk memeriksa denyut nadi pada leher inland. Seorang perempuan yang sebaya dengan dirinya. Agak canggung, Reiđ memang tidak mempunyai teman perempuan. Semua temannya adalah laki-laki.

“Hei buka matamu!” Reiđ menepuk-nepuk pipi gadis yang berambut merah lurus yang dipotong pendek seperti seorang pemuda.

Gadis itu membuka matanya dan langsung menyentak, terkaget, terbangun dari mimpi buruk, dari bayangan yang mencekam dirinya. Berteriak ketakutan dengan keringat dingin yang membasahi.

“Hei, jangan takut!.” Reiđ menenangkan gadis itu.

Gadis itu berhenti meronta. Dia menoleh dan menatap Reiđ. Mata yang berwarna kuning terang terlihat berkaca-kaca, masih ada rasa ketakutan terpancar di sana.

“Apa yang kamu lakukan disini. Gadis sepertimu tidak seharusnya berada di sini!” Reiđ sedikit membentak. Padahal dia sendiri juga merasa ketakutan, Reiđ berusaha menutupi. Nada bicara Reiđ yang ketus membuat kesan pertama yang tidak baik.

Gadis itu agak marah karena pemuda yang berada di hadapannya ini merasa serba tahu tentang dirinya. ”Gadis sepertimu?” Memangnya aku terlihat seperti apa hingga dianggap tidak pantas berada di hutan ini? Apa karena aku seorang gadis? pikir gadis itu. “Aku tahu itu dan aku sadar. Memangnya aku anak kecil. Aku ke sini mau mengambil kepala Classyalabolas.” gadis itu membela diri. Duduk sambil mengambil kain penutup kepala dan menjadikannya sebagai selendang penutup leher.

”Tapi aku malah diserang kumbang-kumbang tadi.”

Reiđ kaget. Dia tidak mengira gadis ini juga mempunyai urusan dengan Classyalabolas.

“Mmm, tujuan kita ternyata hampir sama.” Reiđ mencoba mengurangi kekesalan gadis itu.

Reiđ berdiri, mengamati mayat-mayat dan tulang-tulang, mencoba mencari beberapa barang yang dianggap berguna. Mayat yang sudah bertahun-tahun, tak ada yang berani datang kemari untuk mengambil mayat-mayat ini dan menguburkannya dengan layak. Beruntung ayahnya tewas saat di rawat karena luka-luka.

“Aku ke sini hendak mengambil Jantung Hijau untuk menyelamatkan keluargaku. Kabarnya Jantung Hijau itu di jaga ketat oleh si Classyalabolas. Jadi, mau tidak mau aku harus berhadapan dengan makhluk itu.”

“Jantung Hijau? Bunga yang bisa menyembuhkan semua penyakit itu?” tanya gadis itu.

Reiđ mengangguk,
”Ceritanya panjang.”

Reiđ mengulurkan tangan mengajak gadis itu berkenalan sekaligus membantu gadis itu berdiri dari tempat dia terjatuh.

”Reiđ Reream dari Hallari.”

Gadis itu menyambut uluran tangan Reiđ dan mengangkat dirinya dengan bantuan tangan Reiđ.

“Namaku Mina. Mina Kynthia dari Contur.”

Mina yang tingginya hampir sama dengan Reiđ itu membersihkan beberapa bagian tubuh dari dedaunan dan tanah yang menempel akibat pertarungan kecil. Rambut yang berwarna merah sangat cocok dengan wajah yang anggun Mina, meski kulit wajahnya tertutup oleh debu dan pasir yang menempel.

Reiđ menduga kalau Mina sudah beberapa hari tidak bertemu dengan air untuk membersihkan diri. Padahal seingat Reiđ, beberapa gadis dari kota yang pernah mampir ke desa Hallari selalu menjaga penampilan diri mereka, berbeda sekali dengan gadis yang mengaku berasal dari ibukota ini.

“Ayo. Kita cari tempat persembunyian kreyzure itu!” ajak Mina menyudahi basa-basi mereka.

“Sudah berapa lama kamu di sini?” tanya Reiđ sambil mengamati keadaan sekitar. Mencoba mencari petunjuk keberadaan Jantung Hijau. Namun dia tidak menemukan apa-apa di antara tumpukan mayat-mayat itu. Reiđ bergegas menuju ke arah kumbang yang terkena lemparan goloknya.

“Kalau tidak salah mungkin aku sudah hampir tujuh hari di sini.” jawab Mina sambil memunguti senjatanya yang jatuh di antara tumpukan mayat. Reiđ mengganggap Mina sedikit aneh karena Mina merasa biasa-biasa saja berjalan di antara mayat-mayat. Padahal Reiđ sendiri sedikit bergidik melihat tumpukan mayat-mayat itu.

“Apakah kamu tahu di mana Jantung Hijau berada?” tanya Reiđ lagi sambil memperhatikan Mina yang masih asyik mencari barang-barang miliknya yang mungkin terjatuh.

Mina menggeleng.

“Melihat kreyzure itupun aku belum pernah. Bahkan dia tidak pernah kembali ke tempat ini lagi. Kupikir mungkin kreyzure itu sudah mati karena kehabisan umur.” kata Mina berhenti mencari-cari barang.

“Aku tidak tahu di mana Jantung Hijau berada, tapi aku pikir mungkin berada di bagian paling dalam hutan ini. Aku baru mengitari bagian pinggir, aku belum pernah ke bagian dalam.” lanjut Mina.

Apa kamu mau ke sana?” Mina menatap Reiđ.

Reiđ menginjak kepala kumbang dan menarik goloknya, cairan hijau menempel pada badan golok.

Reiđ menganggukkan kepala. ”Aku harus mendapatkan Jantung Hijau secepatnya. Atau kepala Classyalabolas. Terserah yang mana.” Reiđ menarik kain dari salah satu mayat yang tinggal tulang saja. Dia mengelap goloknya.

“Kalau begitu ayo kita sana!” kata Mina setelah selesai mengambil beberapa barang yang menurut dia masih bisa digunakan.

Reiđ hanya menggeleng. Beberapa saat yang lalu gadis itu menjerit ketakutan, sekarang malah dengan berani ia bertindak seakan-akan pemandu di hutan ini.

Enam putaran pasir hampir berlalu, Reiđ dan Mina menyusuri bagian hutan yang terang. Namun tidak sedikitpun mereka melihat tanda-tanda keberadaan Classyalabolas. Tidak ada jejak kaki. Bekas makan atau apa saja yang menandakan keberadaan makhluk itu. Atau apa yang dikatakan Mina tadi memang benar pikir Reiđ. Mungkin saja kreyzure itu sudah mati lebih dulu akibat usia.

Siang sudah jauh meninggalkan mereka. Matahari sudah tertutup oleh the great wall. Keadaan di hutan menjadi semakin gelap.

Mina mengusulkan mereka beristirahat dahulu dan melanjutkan besok pagi. Karena akan sia-sia melakukan pencarian di malam hari, apalagi yang tersisa bagian hutan yang gelap. Reiđ mengangguk saja, dia percaya dengan Mina yang lebih lama berada di hutan ini.

Reiđ mengambil beberapa ranting kering untuk dijadikan api unggun. Sementara Mina sudah mengeluarkan peralatan tidur. Sambil merapikan peralatannya, Mina duduk di atas kain yang biasa digunakan oleh pengembara untuk tidur di alam terbuka. “Bagaimana kamu bisa terdampar ke tempat ini?” Mina memecahkan keheningan yang ada.

Reiđ melepaskan jubah coklat tua yang diberikan prajurit penjaga gerbang dan menjadikan jubah itu sebagai alas untuk tidur. Dia memang tidak membawa banyak perlengkapan.

“Aku tidak terdampar, aku memang sengaja datang ke sini.” Reiđ melepaskan beberapa benda yang masih melekat di tubuhnya hingga tinggal memakai pakaian biasa.

”Alasan utamanya adalah karena aku ingin balas dendam terhadap binatang ini.” kata Reiđ sambil meletakkan golok dan peralatan tempur lain, beberapa pisau dan bom lempar yang jumlahnya tidak banyak.

“Aku selalu ingin membalaskan kematian ayahku. Setiap saat aku ingin ke hutan ini, namun tiap kali aku memikirkan itu, tiap kali juga aku memikirkan ibu dan adikku.” Reiđ menyalakan ranting-ranting yang tadi dikumpulkan. Reiđ mengeluarkan sepasang batu api, dengan cekatan dia memukul-mukulkan kedua batu itu. Tidak berapa lama api menyala.

Mina menyela sebentar,
”Maaf, biasakah kau berpaling sebentar. Aku mau melepas chain mail-ku.” Mina memberi isyarat pada Reiđ untuk memalingkan badan.

Reiđ memalingkan badan dan meneruskan bercerita,
“Beruntung, kemarin seseorang yang juga sangat ku benci memberikan kesempatan pada diriku untuk datang ke hutan ini.” lanjut Reiđ sambil duduk di atas jubah. Reiđ menceritakan tentang Tuan Tanah dan kondisi keuangan keluarganya kepada Mina. Reiđ tersadar, entah kenapa mulutnya terasa lancar berbicara dengan Mina yang baru dia kenal. Ada perasaan yang membuatnya nyaman untuk berbicara dengan Mina, perasaan yang membuatnya lancar berbicara. Mina kembali memberi isyarat kalau Reiđ sudah boleh membalikkan badannya.

“Ingin rasanya aku melemparkan kepala Classyalabolas dan uang hadiahnya ke muka dia!” raut wajah Reiđ berubah geram. Mina sempat melihat perubahan itu.

Reiđ menghela nafas,
“Kamu sendiri?” Reiđ balik bertanya. Roman wajahnya berangsur-angsur kembali tenang.

“Apa yang membuat kamu begitu membenci Classyalabolas?” Reiđ menatap Mina dari balik api unggun yang berada di tengah-tengah mereka.

Mina menelungkupkan badan, mendekap lututnya dengan kedua tangan. Matanya menerawang ke dalam api.

“Tidak jauh berbeda denganmu, kedua orang tuaku juga tewas dibunuh oleh Classyalabolas.” Mina menghela nafas. Matanya masih menatap api unggun.

“Ayah dan ibuku adalah pekerja di istana Bés Yua. Mereka diangkat sebagai pembuat obat di sana. Lima tahun yang lalu, mereka diperintahkan oleh Raja Aleksy untuk mengambil Jantung Hijau. Memang sebelumnya, pihak Kerajaan menemukan bibit Jantung Hijau yang entah darimana datangnya. Setelah diselidiki tentang kebenaran keberadaan Jantung Hijau, maka pihak Kerajaan memutuskan untuk menutup hutan ini untuk umum dan menjadikannya sebagai hutan lindung milik Kerajaan. Hanya mereka yang mendapat ijin dari Raja yang boleh memetik Jantung Hijau.” Mina bercerita dengan tatapan mata yang kosong.

”Kembali ke ayah dan ibuku, pada saat mereka diperintahkan oleh Raja, belum ada desas desus sedikitpun tentang Classyalabolas. Maka ayah dan ibu tanpa perasaan apa-apa memasuki hutan ini untuk mengambil Jantung Hijau seperti biasa jika diperintahkan oleh Raja. Namun beberapa hari setelah keberangkatan mereka, tidak terdengar lagi kabar dari mereka. Setelah diadakan penyelidikan, ternyata kedua orang tuaku telah tewas. Itulah pertama kalinya keberadaan Classyalabolas diketahui oleh orang-orang. Kedua orang tuaku menjadi korban pertama kreyzure jahanam itu.” Mina menyembunyikan wajah di balik kedua pergelangan tangannya. Suaranya menjadi semakin pelan, hampir tidak terdengar oleh Reiđ.

“Dan dia membuatku membenci sahabatku, sahabatku sejak kecil.” Mina menangis tanpa suara, kesedihan-kesedihan itu kembali datang, kenangan yang membuat dirinya selalu bermimpi buruk dari hari hingga sekarang, walaupun sekarang tidak sesedih dan sesering dulu.

Reiđ tahu kalau Mina sedang menangis, dia bisa melihat gerakan yang ditimbulkan oleh isakan tangis Mina. Reiđ tidak tahu harus bagaimana, tidak ada satu ucapan pun yang bisa dia lontarkan. Reiđ kadang ingin seperti Pallas yang tahu harus bersikap dan berkata apa. Reiđ semakin merasa bingung, di satu sisi dia senang mendapat teman yang bisa mengerti penderitaan Mina, di sisi lain dia juga tahu betapa sedihnya kehilangan orang tua. Apalagi Mina malah kehilangan kedua orang tuanya di saat yang bersamaan. Mungkin perasaan sedih dan dendam yang sama inilah yang membuat Reiđ bisa membuat dia lancar bercerita kepada Mina.

Reiđ tersadar, perutnya memanggil. Tersadar sejak tadi pagi dia belum makan, bukan karena tidak sempat tapi hatinya sudah terburu oleh hasrat memburu Classyalabolas. Sekarang badannya meminta untuk mendapatkan energi setelah terkuras selama satu siang. Reiđ mengeluarkan dua bungkusan dari daun dari dalam kantong bekalnya.

”Hei, cobalah ini.” Reiđ melemparkan satu buah bungkusan dari daun ke samping Mina. Mina mengangkat kepalanya, menatap Reiđ kemudian menatap bungkusan yang ada di sampingnya. Malam gelap membantu menyamarkan maatanya yang merah dan berlinang air mata.

Reiđ sudah membuka bungkusan itu, di dalamnya terdapat dua potong roti jagung. Mina bergegas membuka bungkusan miliknya dan langsung hendak memakannya.

”Hei, jangan langsung dimakan!” teriak Reiđ.

”Biar lebih enak, lakukan seperti ini.” kata Reiđ sambil menusukkan kedua roti jagung dengan sebatang ranting kecil dan memanggangnya di atas api unggun.

Mina mengernyit, baru kali ini dia tahu kalau ada cara lain makan roti jagung selain di makan langsung dan dituangi sirup arbei. Tak urung Mina melakukan seperti apa yang dilakukan Reiđ.

”Jangan sampai terlalu gosong.” kata Reiđ. ”Sebentar saja, sampai aroma wanginya tercium.”

Mina mengangguk saja, tidak berapa lama roti-roti mereka sudah mengeluarkan aroma wangi khas roti jagung yang telah bercampur dengan madu.

Mina makan dengan lahap,
”Aku sudah lama tidak makan makanan yang dimasak. Selama di sini aku hanya makan buah dan buah.”

Reiđ tersenyum sambil menikmati roti jagung madu bakarnya.

”Terima kasih.”

”Bukan masalah, hanya sepotong roti.”

”Maksudku bukan hanya roti ini, tapi tadi siang. Kamu menyelamatkanku.”

Reiđ tersenyum masam. Seandainya Mina tahu kalau tadi dia sempat kebingungan dan ingin lari meninggalkan Mina.

##

Next

Read previous post:  
64
points
(1927 words) posted by makkie 10 years 32 weeks ago
80
Tags: Cerita | fanfic | cerita | fantasi | pedang | petualangan | zheik
Read next post:  
90

ooh, akhirnya muncul sidekick ^^
sampai sini masih bagus.
besok saya lanjut lagi yaa :)

owke...thx ya msh ngikutin...

sama2 :)
oh ya, makkie gabung aja ke grup Le Château de Phantasm biar makin banyak senior yg mampir ke lapakmu ^^
hehe

sankyu bwt infonya...

70

Hmmm...masih byk yg perlu diedit lg

80

wow
keren nih
curiga bukan pemainj baru dalam bidang fantasy nih
:>

ga, sumpah aku baru ikutan..
mang sih ni dah ku revisi berkali-kali..aslinya mah norak abis.. :D

90

Wah wah udah selesai aja nh critany, hadoh gw gak sabar pingin bca lanjutanny

gw sempet ktawa pas gw bca ekor reido lemes hehe... Entah kenapa gw jd snyum2 ndiri hehe...

Trus perkenalan Reido ama mina yang saling ngasih tau daerah asalny, kok terkesan kyk perkenalan d anime pokemon yah, hehe

80

Wah kynya lumayan nih fantasynya. Komennya nanti de, kudu baca dari chapter 1. Ga enak lgsg loncat, terlalu banyak istilah asing yg memusingkan. hehe...

btw, mohon baca juga cerita fantasyku ya, judulnya Felgirth.
http://en.kemudian.com/node/221509

80

heehehehe ni ku uda baca nih....
istilah asing di sini lebih baik kalo dicetak miring...

hahaha... btw kalo km pernah denger diakon dkk, ku memang ngambil dari suatu game rpg yang terkenal ngakngakngak tebak ndiri deh apa.... ahhahaah sip dah... lanjut yakk!

yup, nanti kalo sempet ku edit lagi..
maklum lagi banyak acara...wkwkwkwkkww