Ia yang Tanpa Nama

[cerita ini 100% fiksi, apabila ada kesamaan nama, tempat, atau kejadian, mungkin itu keajaiban dunia, hehehe...]

Kafe Tanpa Nama. Itu yang tertulis di atas pintu kayu di hadapanku. Dengan langkah pelan aku memasuki ruangan yang tidak bisa dibilang luas itu. Dan di sana hanya kutemui seorang gadis yang sedang merokok sambil menyilangkan kakinya di samping meja kassa.

“Selamat malam, silakan,” ujarnya dengan senyum manis, tanpa membuang rokoknya.

Aku memilih meja paling pojok di samping jendela yang menghamparkan pemandangan sebuah kebun bunga matahari di bagian luarnya.

Gadis itu mendekat dan menyodorkan menu. Rokoknya sudah ia singkirkan, mungkin selagi aku mengamati bunga-bunganya tadi.

“Silakan...”

Aku tersenyum simpul lalu memesan segelas milkshake vanilla.

Gadis itu meninggalkanku, berjalan lenggak-lenggok selayaknya di atas catwalk. Menarik. Gadis dengan bentuk tubuh seperti itu selalu menarik.

Beberapa lama setelahnya ia muncul dengan dua gelas milkshake dan setoples kue kering. Juga, sebatang rokok baru terjepit di antara bibirnya.

“Silakan,” ujarnya, lalu duduk di sebelahku.

Aku menatapnya heran, “Saya cuma pesan satu, mbak. Dan tanpa kue.”

Gadis itu mengambil gelas dari nampan, menahan senyum. Satu diangsurkan padaku, satu lagi ia taruh di hadapannya. Stoples kue diletakkan di antara dua gelas itu.

“Tapi saya juga mendadak ingin minum milkshake,” katanya, “Malam ini panas sekali, bukan?”

Aku mengangguk sambil menyeruput milkshake milikku. Masih merasa heran dengan kelakuan gadis itu, yang memperlakukanku bukan seperti pembeli tapi tamu yang harus disuguhi dan ditemani ngobrol.

“Mau rokok?” ia mengangsurkan sebatang rokok yang barusan diambilnya dari balik bra. Gadis yang aneh.

Aku menggeleng. “Saya tidak merokok.”

Ia tertawa, suaranya manis. “Laki-laki yang sendirian, dan tidak merokok?”

“Saya suka sendirian.”

“Saya tidak suka. Tapi yang ada di sini adalah kesendirian. Kafe ini tidak laku.” Ia menerawang.

“Sebenarnya saat ini pun saya sedang ingin sendiri,” aku mengusirnya secara halus.

Ia mengerti, tapi tampaknya tak peduli. “Nama Anda?”

“Idris.” Aku menjabat tangannya yang dingin dan lembut.

“Saya Tama.”

Tiba-tiba aku tersenyum, teringat sesuatu yang dengan cepat kulontarkan kepadanya. “Pernah baca komik Subtropical Zone Girl?”

Ia mengernyit lalu menggeleng. “Sudah lima tahun saya tidak baca komik.”

“Di komik itu, Tama adalah nama kucing aneh yang jatuh cinta pada majikannya.”

“Kucing yang bodoh,” ujarnya kesal, “Cerita seperti itu bukannya cerita komik cewek? Lagipula nama saya adalah sebuah akronim.”

“Saya memang suka semua jenis komik. Tidak membedakan gender. Oia, akronim dari apa? Dari Tanpa Nama-kah?”

Sebenarnya kata gender tidak pas dimasukkan dalam tema kalimatku. Aku tahu. Hanya saja, aku melihat gadis itu masih kesal dengan candaanku, dan aku terlalu salah tingkah untuk menemukan kata lain yang lebih pas. Untung saja ia masih mau mengangguk untuk membenarkan tebakanku tentang akronim namanya.

Ia mengetuk-ngetukkan rokoknya di bibir meja dan abunya berceceran di lantai.

“Hei, nanti bos Anda marah,” ujarku memerhatikan abu itu.

“Ini kafe milikku, kok.” Ia menjawab cuek. Oh, sekarang sudah mulai ber-aku-kamu rupanya...

“Lalu mana pegawaimu?”

“Tidak ada. Buat apa? Toh kafe ini tidak pernah laku.”

“Lalu semua menu ini? Masakannya?”

“Kalau sudah tutup, semua yang aku masak akan kubuang.”

Gadis edan. Seperti bisa mencetak uang sendiri saja. Mungkin setiap orang punya cara sendiri untuk memuaskan diri. Dan inilah cara baru yang aku tahu. Memasak capek-capek hanya untuk membuangnya. Membuka kafe bukan untuk bisnis dan mencari uang, hanya untuk menyalurkan hobi.

“Aku tahu apa yang kamu pikirkan,” ia menyeruput milkshakenya. “Tapi beginilah jadinya kalau seseorang kehilangan orang yang paling dicintainya. Hanya butuh hati untuk mengenangnya, tidak butuh logika, tidak juga ilmu akuntansi untuk menghitung rugi laba. Semua berjalan sesuai kehendak hati.” Ia menunjuk dadanya yang terbusung, seolah hati itu terletak di dada. Lalu menerawang. Aku hanyut dalam kepulan asap rokok dan kecantikannya yang seakan menjadi-jadi.

“Memangnya... kemana lelaki yang kaucintai itu?” tanyaku sembari memerhatikannya menggeraikan rambutnya yang lembut.

Ia tersenyum lalu mencondongkan tubuhnya dekat ke arahku. Sangat dekat hingga aku takut ia akan mendengar detak jantungku. Sangat dekat hingga aku bisa mencium wangi lemon di rambutnya, bercampur asap rokok.

“Lelaki?” ia tertawa lirih, terdengar pahit. “Dia bukan lelaki. Dia wanita yang meninggalkanku dengan menikahi seorang atlet sepakbola.”

Aku ternganga senganga-nganganya. Sungguh tidak menyangka gadis semenarik dia ternyata tidak suka lelaki. Padahal, sungguh, kurasa hanya lelaki bodoh yang tidak tertarik padanya.

“Hanya kafe inilah kenangan darinya. Tempat kami selalu bertemu dan menceritakan apa saja. Saat ia pergi, kafe ini aku beli. Aku memilikinya sendirian. Hanya sendiri, mengenang satu-satunya orang yang bisa membuatku jatuh cinta.”

“Kamu bisa mencoba jatuh cinta pada lawan jenismu,” ujarku terbata-bata, masih belum bisa menyembuhkan keterkejutanku.

“Aku tahu,” ia semakin mendekat. “Dan aku telah merencanakan untuk jatuh cinta padamu. Tapi sayang...” ia menggantung kalimatnya.

“Kenapa?”

“Tapi sayang ini hanya mimpi...” suaranya melemah.
***

Rasa dingin yang menggigit menjalari daguku dan membuatku menjerit tiba-tiba. Dan suara tawa yang sudah sangat aku kenal, terdengar nyaring di kupingku.

“Bangun, sayang... lihat, kamu telat ke kampus lagi.” Ia memandangiku dengan matanya yang damai.

“Kam-kampus?” aku mengusap dahiku yang basah tersiram air es. Itulah caranya membangunkanku di pagi hari. Cara yang menyiksa, namun begitu aku tetap senang berada di sisinya.

“Yuk, mau mandi sama-sama?” ia menarik tanganku.

“Eh, tunggu...” aku menahan tangannya hingga ia terduduk di depanku. “Aku barusan mimpi.”

“Oh, ya? Tentang apa?”

“Sebuah kafe tanpa nama, dan aku... aku sembuh!”

“Sembuh?” ia mengernyit, tampak kurang suka pada ceritaku. Aku tahu ia tak mau aku sembuh. “Sembuh apanya?”

“Aku mimpi jatuh cinta pada seorang wanita,” aku tersenyum.

“Tapi itu cuma mimpi!” tukasnya sambil berdiri dan kembali menarik tanganku. “Mimpi selamanya hanyalah mimpi.”

Aku bangkit dan mengikuti langkah Irwan ke kamar mandi. Berhenti bercerita tentang mimpi dan para wanita. Benar katanya, mimpi selamanya hanyalah mimpi bagi kaum gay seperti kami.
***

Selasa, 25 Maret 09
21 : 35

(inspired by Komunitas Tanpa Nama)

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer yumemizue
yumemizue at Ia yang Tanpa Nama (9 years 13 weeks ago)
100

Asssikkk~! :D
Ceritanya kereen sekalee~! Haha

Writer megaaisyah
megaaisyah at Ia yang Tanpa Nama (10 years 36 weeks ago)
2550

cerpennya asyik dech...
lucu...
hehehe...

tapi kayaknya bakalan lebih menarik kalo cewek itu digambarinnya yang biasa aja mbak...
apa mank sengaja dibuat cewek yang agak nakal gitu?
hehehe...

dimana ada kata2 "homo", "guy", dll, koq ada kata2 "irwan" ya?
jangan2...

gyahahahaha...
dia masih normal khan mbak?

Writer amierchan
amierchan at Ia yang Tanpa Nama (10 years 36 weeks ago)
90

elegance.... cing!! 9 point dech!!! klo kurang tambahin sendiri cuy..

Writer Senja_Berjingga
Senja_Berjingga at Ia yang Tanpa Nama (10 years 36 weeks ago)
50

tragis...tapi menggelitik,kadang memang ga faham kalo baca cerita yang menurut saya perlu menggunakan rasa hati untuk memahami karakter didalamnya....apalagy ini tentang gay,dunia yang blum pernah aku sentuh,memikirkannya saja tak pernah. tapi aku juga coba memahami si idris yg sedang bermimpi sembuh....mungkin tak ada kommen tntang alur ato plot dlm crita,tapi hanya sekedar kesan sekilas setelah membaca cerita anda... great.

Writer on3th1ng
on3th1ng at Ia yang Tanpa Nama (10 years 36 weeks ago)
80

wakakaka...mantap!!...endingnya twist banget yah..
cm mau tanya, pas kalimat
'Gadis dengan bentuk tubuh seperti itu selalu menarik.'
bentuk tubuh yang seperti apa yah, soalnya kalimat sebelumnya gak ada penjelasan, cm ada kata2 berlenggak lengok saja..
:D

Writer hujaniaku
hujaniaku at Ia yang Tanpa Nama (10 years 36 weeks ago)

on3th1ng wrote:
wakakaka...mantap!!...endingnya twist banget yah..
cm mau tanya, pas kalimat
'Gadis dengan bentuk tubuh seperti itu selalu menarik.'
bentuk tubuh yang seperti apa yah, soalnya kalimat sebelumnya gak ada penjelasan, cm ada kata2 berlenggak lengok saja..
:D

ohoho, iya ya, saya kurang jeli dgn bagian itu. memang kemampuan deskripsi saya rendah. mungkin jg karena saya ini cewek, jd gak terlalu perhatian sama bentuk tubuh cewek, hahaha... makasih ya...