Zheik, The One With Power - 3rd Scroll Chapter 3

Di rumah Keluarga Reream.

Bulan Azur dan bulan Muracco menghiasi malam itu. Posisi mereka hampir berdekatan. Beberapa hari menjelang malam cincin merah, yaitu posisi bulan Azur yang menutupi bulan Muracco, sehingga cahaya yang terlihat seperti cincin berwarna merah seperti terbuat dari darah.

Dalam keheningan malam di teras rumahnya, Reiđ duduk di bangku panjang yang terbuat dari kayu. Bangku yang umurnya hampir sama dengan dirinya.
Reiđ mengeluarkan pedang ajaib, mengamati dengan seksama tiap sudut pedang. Seberkas cahaya masih menyelimuti pedang itu. Reiđ tidak habis pikir, bahkan dia yang tidak tahu menahu masalah pedang pun bisa merasakan kalau pedang ini sangatlah indah, dari bentuk dan bahannya semuanya sangat menawan hati. Pikirannya diselimuti banyak pertanyaan, tapi Reiđ tidak mendapatkan jawaban yang dia cari. Reiđ mengayun-ayunkan pedang. Tangannya telah terbiasa memegang pedang itu.

Tiga hari sejak kejadian di balai desa. Satu hari setelah itu Reiđ baru tersadar dari pingsan. Badannya terasa sangat lemas, seperti orang berlari satu hari penuh tanpa henti. Dia tidak sempat berterima kasih kepada Mina, karena begitu telah mengantarkan dirinya ke rumah, Mina langsung pulang menuju ibukota.

“Sebenarnya ini pedang apa?” gumam Reiđ.

Tiba-tiba pedang itu melesat melayang. Reiđ tersentak kaget. Melesat jauh namun tak pernah lepas dari pandangan Reiđ, seakan-akan pedang itu sengaja menuntun menuju suatu tempat. Pedang itu melayang ke arah bukit tempat ia sering menggembalakan upyua.

Reiđ langsung mengejar sambil terus menatap pedang yang mulai jatuh di balik bukit. Cahaya terang menyelimuti bukit itu. Reiđ hanya bisa terkesima. Kemudian mendekati pedang yang menancap di tengah-tengah padang rumput itu. Tiba-tiba pedang itu bercahaya menyilaukan, Reiđ pernah merasakan kejadian yang sama seperti ini.

Dari dalam cahaya pedang itu muncul sebuah bola cahaya. Lama kelamaan pedang itu berubah menjadi seperangkat pakaian perang lengkap dengan helm pelindung, dan jubah. Hanya saja, baju perang itu bisa bergerak. Bergerak walau tidak ada orang di dalam. Sebuah bola kecil bercahaya berada di dalam helm seakan-akan sebuah kepala.

“Jangan takut Reiđ putra Reream!” Baju perang itu berbicara. Reiđ bertambah heran kenapa makhluk itu bisa tahu siapa dirinya. Namun entah kenapa dia merasa tidak ada yang perlu ditakuti, ada perasaan aman dan tenang dari pancaran cahaya makhluk itu. Reiđ mendekat ke arah makhluk baju perang itu.

“Aku adalah Hypérion.” baju perang itu berbicara seakan membaca pikiran Reiđ yang bertanya-tanya dalam hati. Suara makhluk itu tenang dan berwibawa. Tidak, bukan berbicara. Reiđ tidak mendengar suara itu dari kedua telinganya. Melainkan langsung ke dalam pikiran.

“Aku adalah salah satu dari Énziéle.”

“Énziéle?” Reiđ merasa dirinya berada di alam mimpi. Dia pernah mendengar nama itu, ya, dulu ayahnya pernah menceritakan tentang legenda dari tanah luar. Enziele, para utusan Élyon, Pencipta Tertinggi. Reiđ memang tidak mempercayai keberadaan para Énziéle. Baginya itu hanyalah dongeng-dongeng kuno yang diceritakan oleh orang tua kepada anak-anaknya sebagai dongeng sebelum tidur. Tidak mungkin ada makhluk seperti Énziéle di muka Érde menurut Reiđ.

”Seperti yang kamu tahu, Élyon yang menciptakan kita semua, pada awalnya menciptakan jiwa bintang untuk membantu kaum inland yang lemah terhadap kreyzure daripada kaum yang lainnya. Dengan harapan, inland bisa bertahan hidup di dunia. Jiwa bintang yang pertama Élyon adalah kami, Énziéle, makhluk tanpa tubuh kasat, disucikan, tanpa tubuh. Seperti yang kamu lihat, inilah bentuk kami para Énziéle. Kami para Énziéle bertugas menjaga keteraturan di Érde. Dengan bentuk halus, kami bisa mengubah wujud menjadi benda-benda tak bernyawa seperti pedang, perisai, atau benda lainnya. Ini kelebihan dan juga kekurangan kami, karena kami menjadi tidak bisa membaur dengan alam. Kemudian Élyon menciptkan jiwa bintang kedua yaitu Geist yang bisa mengambil bentuk makhluk bernyawa, atau setidaknya berwujud makhluk bernyawa, meskipun kadang terlihat aneh.”

”Kami para Énziéle mempunyai dua wujud. Yang pertama wujud benda, wujud ini berguna untuk menghemat energi kami karena saat berganti menjadi wujud kedua, kami menyebutnya wujud istirahat. Wujud asli seperti yang sekarang kamu lihat, sangat memakan energi. Kecuali jika kami berada di dunia langit, Celestine. Tempat itu memang memberikan kami energi tambahan untuk bisa terus berwujud asli. Berbeda dengan kami, Geist hanya mempunyai satu wujud, saat tidak digunakan Geist akan kembali menjadi inti, semacam bola kristal kecil. Sedangkan bagi Énziéle, inti juga ada pada saat kami dalam wujud istirahat. Namun inti akan menyatu pada benda yang kami tiru. Kamu bisa melihat inti-ku pada bagian gagang pedang. Bagian yang berbentuk seperti bola. Boleh dibilang, itulah jiwa kami.”

Énzielé itu meneruskan penjelasannya, suaranya datar dan dingin membuat Reiđ semakin merasakan kalau yang di depannya bukan makhluk hidup.

“Akan aku ceritakan dengan singkat,” Énzielé melanjutkan tanpa menunggu rekasi Reiđ. ”Beratus-ratus tahun yang lalu kami bersama para penduduk Érde berperang untuk menjaga Érde melawan mereka yang berusaha menghancurkan Érde. Dengan bantuan seorang ixeian yang bernama Moonfang, Érde berhasil diselamatkan.” jelas Hypérion.

“Perang Afras!” gumam Reiđ. Dia memang pernah mendengar tentang cerita itu. Cerita yang berasal dari negeri yang jauh, Kerajaan Avalon. Tapi di Bés Yua, mereka memuja Kyros, sang dewa api. Berbeda dengan penduduk Avalon yang memuja Élyon sebagai dewa tertinggi mereka, sang pencipta dari segala ciptaan. Karena itulah cerita tentang perang Afras hanya sebagai sebuah cerita dari negeri tetangga bagi penduduk Bés Yua.

“Tapi kupikir itu hanya sebuah dongeng pengantar tidur buat anak kecil?” Reiđ kembali bertanya pada Hypérion.

“Itu bukanlah dongeng. Beberapa tahun sejak perang Afras, para inland dan iexian bersepakat untuk tidak lagi menggunakan Énziéle dan Geist. Maka kekuatan kami untuk bersatu dengan pengguna pun disegel oleh para penyihir hebat masa itu. Sejak itu, sedikit demi sedikit penduduk Érde mulai terbiasa tidak menggunakan kemampuan jiwa bintang. Sehingga lama kelamaan kalian mulai melupakan keberadaan jiwa bintang.” Hypérion menjelaskan.

“Jadi Énziéle dan Geist memang ada? Tapi kenapa sampai sekarang tidak terlihat tanda-tanda keberadaan mereka? Bukankah paling tidak pasti ada satu atau dua jiwa bintang yang digunakan akan terlihat oleh orang-orang?”

“Memang orang-orang yang masih menggunakan jiwa bintang pun masih ada, tetapi beberapa dari mereka tidak menyadari bahwa yang mereka memiliki jiwa bintang. Selama masih ada segel pemanggil , segel yang tidak memperbolehkan makhluk-makhluk Érde bersatu dengan jiwa bintang. Sampai segel pemanggil terbuka, baru jiwa bintang bisa digunakan. Bila segel pemanggil belum terbuka, hanya kekuatan elemen jiwa bintang yang bisa digunakan oleh pengguna.” Hypérion menjelaskan.

“Apakah ini berarti aku menjadi pengguna. Tadi saat aku bertarung dengan kreyzure di balai desa, tiba-tiba aku bisa mengeluarkan bola cahaya. Bahkan tiba-tiba aku bisa berpindah dari gua ke balai desa dengan sangat cepat. Padahal seingatku aku belum pernah melakukan perjanjian?” Reiđ mencoba mengetahui apa yang terjadi pada dirinya.

“Perjanjian memang digunakan untuk memiliki jiwa bintang tapi untuk melakukan persatuan dengan Geist. Berbeda dengan pengguna Geist, kami par Énziele akan memilih sendiri siapa yang layak bersatu dengan kami, bukan karena kehendak pengguna. Apakah kamu ingat saat seberkas cahaya memasuki tubuhmu saat kamu hendak mengambil pedang di gua yang berada di Jurang Falco? Aku telah memilihmu menjadi pengguna-ku saat kamu menyentuh dinding kasat mata yang kubuat. Saat itulah aku memasuki hati dan pikiranmu untuk melihat apa yang ada pada hati dan pikiranmu, dan kemudian baru aku memutuskan untuk memilihmu. Sudah lama aku menunggu seorang pengguna seperti kamu.” Hypérion menjelaskan.

”Kenapa kamu memilih aku? Aku tidak pernah menginginkan itu. Aku juga tidak mempunyai kemampuan untuk melakukan hal yang besar seperti itu.” Reiđ mencoba mengelak.

”Sudah tertulis dalam ramalan yang akan terjadi padaku.” Hypérion mengulang ramalan yang pernah ditujukan padanya.

Akan datang seorang dalam kegelapan penyendirianku.
Seorang pemuda yang akan membawa beban di pundaknya.
Dia yang terpilih menjadi pejuang dari bangsanya sendiri,
Dialah nanti yang akan menjadi sesuatu yang akan menggemparkan Érde
Seorang Zheik akan datang lagi.

”Dan selama ratusan tahun aku, Hypérion, sang Énziele dari unsur cahaya, menunggu untuk memenuhi ramalanku, dan kamulah yang datang.” kata Hypérion setelah selesai membacakan ramalan.

”Ramalan? Zheik?”

”Zheik, pejuang yang dipilih oleh Élyon sendiri untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Élyon.” jelas Hypérion lagi.

”Kenapa aku? Tugas apa?” tanya Reiđ lagi.

”Akupun tidak tahu. Aku hanya mengikuti apa yang telah digariskan pada diriku. Untuk menunggumu, untuk membimbingmu dan memberimu kekuatan yang ada pada diriku. Tak pernah ada yang tahu apa alasan dan tugas yang diberikan. Kecuali oleh Élyon dan sang Zheik itu sendiri. Nanti jika tiba saatnya kamu akan mengetahui tugas yang dibebankan padamu.”

“Bagaimana caranya agar aku bisa menggunakan kekuatan jiwa bintang sesuai dengan kemauanku sendiri? Karena saat bertarung tadi siang, aku seperti dikendalikan oleh orang lain.” Reiđ bersemangat mendengarkan penjelasan Hypérion.

“Memang, saat itu aku menggunakan dirimu sebagai wadah. Karena keinginanmu untuk menyelamatkan keluarga melebihi dari semua kemauanmu, aku mengambil kekuatanmu untuk menggerakkan kekuatan cahaya, karena aku belum bisa menggunakan kekuatanku selama segel pemanggil masih ada. Itu sebabnya kamu jatuh pingsan begitu selesai menggunakan kekuatanmu. Tenaga untuk menggunakan jiwa bintang tanpa penyatuan terlalu besar bagi seorang inland.”

Reiđ mengangguk dan memperhatikan Hypérion. Dia memutari mencoba untuk mengamati Hypérion dari segala sisi.

“Untuk bisa menggunakan kekuatanku tanpa menghabiskan kekuatanmu sendiri, kamu harus bisa menyelaraskan dirimu. Itulah yang dinamakan penyatuan. Dengan begitu kamu bisa dengan mudah menggunakan kekuatan cahaya!”

“Menyelaraskan? Bagaimana?” Reiđ masih belum mengerti.

“Itu tergantung dari masing-masing emosi dan karakter pengguna. Nanti kamu akan tahu caranya seiring dengan waktu. Kurasa itu bisa kamu ketahui nanti saat segel pemanggil sudah terbuka, tapi sekarang aku butuh bantuanmu. Ini sangat penting, Érde kembali terancam bahaya.” Hypérion menyudahi pembicaraan tentang jiwa bintang.

Reiđ terkejut mendengar perkataan Hypérion.

“Maksudmu apa?” Reiđ lebih mendekat untuk mendengar lebih jelas.

”Sesuai dengan ramalan, jika pada suatu masa Zheik telah dipilih maka akan ada sesuatu yang akan terjadi, sesuatu yang besar. Meskipun aku tidak mengetahui dengan pasti tapi aku mendapat sedikit firasat. Aku merasakan keadaan kekuatan jahat di hyrnandher mulai bergerak. Dan sepertinya kekuatan-kekuatan jahat itu mengarah ke pulau Zahaifé.”

“Pulau Zahaifé? Bukankah itu pulau yang melayang di udara. Pulau yang berada di atas kerajaan Avalon. Zahaifé, tempat orang-orang yang bisa menggunakan sihir, pulau yang terkenal dengan Akademi Sihirnya?”

“Benar. Pulau Zahaifé adalah basis tempat dari semua ilmu sihir yang ada di hyrnandher. Dan sekarang seseorang yang jahat bersama pengikutnya berhasil menguasai pulau itu. Aku yakin mereka mempunyai tujuan yang amat sangat jahat dengan menggunakan semua sihir yang ada. Dan aku takut mereka berhasil mendapatkan segel mantra Unheil.” Hypérion menerangkan

“Mantra Unheil? Apa itu?” Reiđ belum tahu apa yang dimaksud oleh Hypérion. Bahkan dia tidak pernah mendengar kata itu. Memang sepengetahuan Reiđ ada berpuluh-puluh bahasa di hyrnandher, namun dia tidak pernah mempelajarinya sedikitpun. Dia hanya mempelajari Bahasa Perjanjian, bahasa yang telah disepakati semua Kerajaan yang ada di hyrnandher, yang telah diajarkan oleh mendiang ayahnya sejak dia masih kecil.

“Dulu Unheil digunakan bangsa angin untuk membantu melawan Hemiél. Segel itu tidak boleh muncul lagi. Begitu yang aku ketahui. Tidak banyak yang aku ketahui tentang segel itu. Beberapa pengetahuan sudah dihilangkan dari sadar kami.”

Reiđ sedikit mengenal tentang bangsa angin. Sebelum inland atau iexian bisa menggunakan pedang, bangsa angin sudah terlebih dahulu mempelajari ilmu sihir. Bahkan bisa dikatakan merekalah yang menciptakan ilmu sihir. Mereka pulalah yang mendirikan Akademi Sihir agar ilmu mereka bisa menyebar luas dan dapat berguna jika suatu saat ilmu-ilmu sihir yang mereka ciptakan akan digunakan tangan yang salah.

“Hei, apakah tidak ada yang bisa mengalahkan mereka. Bukankah sihir bisa kita lawan dengan jiwa bintang?” Reiđ merasa itu pekerjaan mudah.

“Memang kita bisa menggunakan jiwa bintang untuk melawan mereka. Namun itupun belum tentu kita bisa mengimbanginya. Unheil merupakan sihir yang mempunyai kekuatan yang tidak bisa diperkirakan dan tak terbatas. Karena itulah mantra itu disegel. Lagipula jika kita ingin melawan mereka dengan jiwa bintang, kita harus menghadapi mereka terlebih dahulu tanpa menggunakan jiwa bintang, karena segel pemanggil juga berada di Akademi Sihir. Itu berarti kita harus memasuki kota Zahaifé.”

“Sialan! Terus apa yang bisa aku lakukan?” kata Reiđ mencoba berpikir sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal

“Mencari bantuan sebanyak-banyaknya!” kata Hypérion

Reiđ merogoh-rogoh saku celana. Dia mengambil sebuah benda berbentuk lempengan besi yang dilapisi emas pada bagian lambang Kerajaan Bés Yua.

“Bantuan? Mungkin aku bisa mengusahakannya.” Reiđ teringat pada lambang Kerajaan yang diberikan Mina kepada ibunya sebelum dia pergi. Pemberian dari Pangeran Mikaél jelas Mina. Pangeran Mikaél mengatakan jika butuh sesuatu hubungi saja dia menggunakan lambang Kerajaan itu.

“Bagus sekali, sebaiknya kita bergegas, sebab aku tidak tahu kapan para penjahat itu bisa membuka segel. Karena itu hanya masalah waktu. Jika Unheil berhasil dikuasai oleh orang-orang jahat, maka bukan tidak mungkin perang kembali terjadi. Dan kali ini bisa dipastikan kemenangan tidak berpihak pada kita.”

Reiđ tersentak. Dia tidak pernah berpikir akan jadi seperti ini. Dia tidak pernah berharap untuk ikut ambil andil dalam peperangan. Dia hanya ingin hidup damai bersama keluarganya. Lama dia termenung.

“Untuk sementara aku akan kembali dalam bentuk pedang. Sampai saat segel pemanggil terbuka, kita akan bertemu lagi. Jangan terlalu sering menggunakan kekuatanku. Terlalu besar kekuatan yang kamu gunakan tanpa penyatuan akan berakibat buruk bagi tubuhmu, risikonya terlalu besar, bahkan bisa membuatmu kehilangan nyawa!” Hypérion kembali mengubah wujud menjadi sebilah pedang dan menancap di atas tanah.

”Jangan khawatir, meskipun dengan wujud pedang, aku masih bisa berkomunikasi denganmu. Melalui pikiranmu. Namun hanya kamu wahai ksatria yang kupilih.” perlahan suara Hypérion semakin pelan dan akhirnya hanya kesunyian yang terdengar.

Reiđ tersentak, terbangun, terjaga dari mimpi. Dia mendapati dirinya masih duduk di bangku teras rumah. Reiđ merasa kalau dia barusan tertidur dan bermimpi. Ya, hanya bermimpi. Reiđ mengambil pedang yang terbungkus rapi di dalam sarung. Reiđ mengamati pedangnya dan masuk ke dalam rumah untuk beristirahat. Namun ada sesuatu yang membuatnya tersentak saat menatap pedangnya sesaat sebelum dia mendorong pintu rumahnya. Ukiran yang dulu tidak bisa dia kenali, sekarang menjadi jelas terlihat menembus dari balik sarung pedang. Cahaya biru terang yang bertuliskan aksara yang tidak dikenali oleh Reiđ sebelumnya. Entah kenapa dia mengerti arti ukiran itu. Hypérion, cahaya bintang pagi.

”Zahaifé, ke sanalah aku akan pergi!” gumam Reiđ.

Read previous post:  
10
points
(3718 words) posted by makkie 10 years 16 weeks ago
50
Tags: Cerita | fanfic | dunia fantasi | fantasi | pedang | petualangan | zheik
Read next post:  
70

maaf..maaf..saya sedang sibuk ma kerjaannya...jadi ga sempat buat posting2...makasih msh setia...

Baru muncul sih?
Lupa lo aq ma cerita sebelumnya

80

Penjelasannya terlalu banyak dan rumit untuk ditampilkan dalam satu bagian. Oke deh, lanjut.