Bentang Langit (Bagian 1)

“Kakang....”

Genta Tubih membuka matanya.

“Kakang Genta.....”

Segera ia duduk dari berbaring di atas lantai baja ruang tahanan. Rantai yang mengikat borgol tangan dan kakinya ikut bergemerincing.

“Kau merasakan itu, Kakang...?” suara Candipa kembali terdengar dari lubang angin kamar penjara.

“Ya....” Lantai tahanan bergetar halus.

“Kau tahu apa itu, Kakang?”

Getaran kembali terasa.” Tidak. Semua ajianku terkunci.”

Terdengar Candipa terkekeh, lalu mengumpat, “Penjara sialan.” Ia dan dua ratus tahanan lain bernasib sama. Di bawah naungan penjara yang telah berusia dua abad itu, ilmu kanuragan mereka tidak bisa dipakai. Entah pendekar berilmu tinggi seperti apa yang telah membangun penjara ini. Penjara yang berada di tengah laut, dikelilingi tebing terjal dan batu karang, dikepung oleh barisan ombak paling ganas.

Usai mengumpat, Candipa dan ratusan tahanan lain tersentak. Dentuman keras terdengar. Guncangannya membuat debu di langit-langit berluruhan. Candipa terpancing untuk mengintip dari jendela kecil di pintu kamar penjaranya. Ia bisa melihat, ratusan tahanan lain turut mengintip, ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Ruang tahanan ini memiliki lima lantai. Setiap lantai diisi tujuh puluh lima kamar penjara. Kebetulan, Candipa dan Genta Tubih berada di lantai paling bawah. Candipa mendongak untuk memastikan bahwa sebagian besar tahanan di lantai atas turut mengintip.

Ledakan besar tiba-tiba menghantam pintu penjara. Pintu baja yang sangat tebal itu terpelanting dan terbelah menjadi empat, lalu menghantam beberapa kamar penjara yang tepat berada di depannya hingga hancur. Candipa tercengang. Kamar-kamar itu tidak kosong. Ada tahanan lain di sana.

Angin kencang berhembus, menyingkirkan asap tebal yang mengepul. Seorang pria kini tampak berdiri di tengah-tengah ruang penjara. Rambut pria itu tergerai panjang dengan gelang kepala berwarna emas. Di balik jubah hitamnya yang berkibas, terlihat lengan kirinya juga dilingkari gelang lengan, sementara seluruh tangan kanannya dibaluti pelindung berwarna perak.

Tak salah lagi. “Tuan Soka?”

Pria itu sepertinya mengangkat sebentuk pedang. Bilahnya nan kecil dan panjang berkemilau biru. “Bagi yang masih ingin hidup, menyingkir dari pintu dan merunduklah!”

Pedang pun diayun, menciptakan angin besar yang berputar-putar dan menghantam pintu semua kamar penjara hingga hancur. Candipa melompat untuk berlindung di sudut kamar. Namun, masih saja ia terkena amukan angin tersebut. Beberapa helai rambutnya terpotong dan melukai pelipis kanan.

Candipa menyilangkan tangannya untuk melindungi wajah. Sama sekali ia tak berani membuka matanya, meski deruan angin yang begitu kencang telah berhenti. Hingga akhirnya, sebuah suara membuatnya mendongak.

“Jangan membuatku malu, Candipa. Kau berlindung bagai anak kecil.”

Candipa menoleh. Sosok yang ia kenal sebagai Soka Menggalih telah berdiri di depan pintu yang porak-poranda.

“Kau masih ingin bekerja denganku?”

Candipa segera berdiri. “Tentu, Tuan Soka!”

“Dinding tak terlihat yang mengekang kanuragan kalian telah hancur. Lepaskan rantai itu dan keluarlah.”

Candipa mengangguk. Kedua tangannya ia angkat. Api tiba-tiba berkobar. Dan dengan sekali sentak, borgol dan rantai di tangannya berderai dengan noda hangus dan pendar merah.

Di luar, ternyata sudah ada Genta Tubih. Borgol di tangan dan kakinya juga sudah tidak ada.

Beberapa penjaga tiba di lokasi. Mereka bersenjata lengkap. Menemukan keberadaan Soka Menggalih, begitu saja mereka memberondong peluru.

Soka Menggalih tak kalah nyali. Ia memburu langkah ke arah para penjaga yang menembak. Namun, belum kakinya penuh menjangka tiga langkah, tubuhnya lenyap tak berbekas. Genta Tubih yang turut terkenal akan kecekatannya berputar dan menerjang Candipa sekuat tenaga. Keduanya terpental berlawanan arah. Meskipun harus menjebol tembok penjara, Candipa terbebas dari rentetan peluru.

Beberapa penjaga mencari-cari keberadaan Soka Menggalih. Meski dilengkapi kacamata penerawang, Soka Menggalih sama sekali tak terlihat. Jelas ia tidak memakai ajian menghilang, melainkan tubuhnyalah yang mampu meluncur lebih cepat dari peluru.

Belasan penjaga kembali datang. Mereka menenteng senapan khusus dan langsung memberondong para tahanan yang terlihat keluar dari kamar penjara. Tak terkecuali Genta Tubih.

Tidak ingin seperti tahanan lain yang menggelepar setelah tertembak, Genta Tubih segera melepas ajian Tameng Bumi. Telapak kirinya menyentuh lantai dan sebongkah tanah besar menjulang menerobos beton, menahan tembakan-tembakan itu.

Setelah beberapa detik tak tampak, Soka Menggalih muncul di sisi lain. Pedang yang ia genggam kembali berpendar. Begitu diayun, angin besar menerpa, menghancurkan lantai yang dilalui.

**Bersambung**

Read previous post:  
Read next post:  
Writer gogotaro
gogotaro at Bentang Langit (Bagian 1) (9 years 2 weeks ago)

manteb mbak.. aku seneng baca crita yang narasinya kuat. semoga aku bisa nulis kayak gini...

Writer tikamutz
tikamutz at Bentang Langit (Bagian 1) (9 years 25 weeks ago)
100

aduh , bagus banget sech ceritanya ajarin bikin cerita seperti ini jadi ngiri nech sama yang bikin kok bisa banget bikin cerita seperti ini bagusnya... tolong mampir ke tempat aku dan mohon komentarnya... sekalian komentarnya dikasih lada biar lbh pedas

Writer demigod
demigod at Bentang Langit (Bagian 1) (9 years 48 weeks ago)
90

cersil modern.....boleh juga tuh...

Writer aksarajiwa
aksarajiwa at Bentang Langit (Bagian 1) (9 years 48 weeks ago)
80

boleh... boleh... jujur, selama di kekom saya g pernah buka bagian cerita (kecuali beberapa kali saat diundang temen). saya paling gak suka baca cerita yang terputus2. palagi yang seri berikutnya harus nunggu lama baru keluar mwehehe

saya buka ceritamu karena penasaran, apa mungkin dirimu yg dimaksud sama si nandiari? setelah baca ceritamu, ya, menurutku memang kamu pandai bertutur...
salam

Writer dirgita
dirgita at Bentang Langit (Bagian 1) (9 years 48 weeks ago)

Aku patut bersyukur, karena menjadi salah satu dari yang jarang itu. Dan itu karena rekomendasi dari Dayang Mimpi (alias Nandiari).
Ah, tidak masalah tentang suka atau tidak suka dengan cerita yang terputus-putus. Aku maklum. Ini hanya masalah selera. Kalo udah masuk ke masalah selera, jangan diperdebatkan^^

Writer d757439
d757439 at Bentang Langit (Bagian 1) (9 years 19 weeks ago)

ehh??? ngomongin saya??
ada apa tuh bawa nama2 saya??

ehh apa sih?

Writer dewisun
dewisun at Bentang Langit (Bagian 1) (9 years 49 weeks ago)
100

waduh...ada tutur - tinular nyasar di k.com.( buat yang ga tahu : itu cerita bersambung yang sempet beken di radio } . alurnya manis ngalir, dapat referensi dari mana nih istilah2nya, en btw nama tokohnya oke2....2 jempol deh. aku lanjut ya

Writer dirgita
dirgita at Bentang Langit (Bagian 1) (9 years 49 weeks ago)

Istilahnya dapet dari beberapa cersil dan film-film silat yang dulu sempat diputar di TV-TV^^

Writer vaniamathilda
vaniamathilda at Bentang Langit (Bagian 1) (10 years 1 week ago)
100

seruuuuu..
cara menceritakannya menarik.
kamu hebat!!

Writer Jumirdan
Jumirdan at Bentang Langit (Bagian 1) (10 years 3 weeks ago)
80

punggawa2 pewayangan nyasar ke era modern... uwooooke!

Writer rhie rhie
rhie rhie at Bentang Langit (Bagian 1) (10 years 4 weeks ago)
80

mantaf,menarik n LANJUTKAN

Writer Armanda
Armanda at Bentang Langit (Bagian 1) (10 years 8 weeks ago)
100

tak tunggu kelanjutanna

Writer Vee_Violet
Vee_Violet at Bentang Langit (Bagian 1) (10 years 8 weeks ago)
80

Weks! Cerita laga. Menarik. Unik karena jarang ada di k.com saya rasa ^^

Writer DeMEter
DeMEter at Bentang Langit (Bagian 1) (10 years 9 weeks ago)

Indonesia banget! jarang ada yang buat cerita kaya gini

Writer cat
cat at Bentang Langit (Bagian 1) (10 years 10 weeks ago)
80

aku sll sk cersil n cerita1 klasik ..
di tunggu lanjutannya ...

practice make perfect

Writer panah hujan
panah hujan at Bentang Langit (Bagian 1) (10 years 10 weeks ago)
80

Uh, aku dari dulu engga pernah suka cerita silat. Dan sampai sekarang pun masih demikian. Hm. Sori, Pap. :D

Writer f_zaliya
f_zaliya at Bentang Langit (Bagian 1) (10 years 10 weeks ago)
90

keren.... ngindonesia banget. like this!!!

Writer Yugata
Yugata at Bentang Langit (Bagian 1) (10 years 10 weeks ago)
100

Wuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhh.. Cersil niyh!!!!
Ckckcckckk.... menarik. Lanjut ah!

Writer Chie_chan
Chie_chan at Bentang Langit (Bagian 1) (10 years 10 weeks ago)
80

iy bener kak gita, s7 ma papi icchan. kayak avatar. jd pengen tau lanjutannya =))

Writer icchan-chan
icchan-chan at Bentang Langit (Bagian 1) (10 years 10 weeks ago)
100

WHAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAATTTTTTTTTT !!!!
CERSIIIIIIILLLLLLLLL !!!

wtf* ... what heppen with dirgita, wak wak wak wak
tapi mantab tenan iki ... gaya penceritaan cersil + elemetal martial arts nya Avatar. ... trus ada senapan segala.

ini cerita jadi kayak apa terusannya, ....

btw : kamu udah lumayan pake istilah dan bahasa kuno, tapi ditambah ya .. wawkawkak biar kesan cersilnya makin terasa.. ekekek

Writer dirgita
dirgita at Bentang Langit (Bagian 1) (10 years 10 weeks ago)

Ini adalah jendela bagi beberapa cersilku yang lain^^

Writer icchan-chan
icchan-chan at Bentang Langit (Bagian 1) (10 years 10 weeks ago)

git saya belum bisa buka file ODT kamu ... susah banget cari konverter ... btw .. cersil lainnya mana? di post dunk...

Writer dirgita
dirgita at Bentang Langit (Bagian 1) (10 years 9 weeks ago)

Pake OpenOffice.org aja, Bang^^
Sekarang sedang dalam tahap pengembangan cerita. Tunggu aja.

Writer panah hujan
panah hujan at Bentang Langit (Bagian 1) (10 years 10 weeks ago)

Haha. Memang penulis serbabisa. :)