The Benevolent Society--Bab 1--Berita Buruk

Ini Sabtu dan ini hanya berarti satu hal bagi Elia: bangun jam 10 pagi atau lebih. Anak itu memeluk erat gulingnya. Kedua matanya terpejam rapat. Kulitnya tampak lebih gelap dari seharusnya karena kamarnya hanya diterangi oleh cahaya matahari yang harus berjuang keras menembus tirai bewarna biru tua.

Kamar itu sederhana tapi perabotan di dalamnya lumayan lengkap. Elia paling suka tiga deret rak bukunya yang penuh dengan setumpuk novel dan komik. Di dekat tempat tidurnya ada sebuah meja belajar, sewarna dengan rak buku. Pensil-pensil, buku tulis, gunting, lem, dan beberapa robekkan kertas bergeletak tak beraturan di atasnya.

Di pojok ruangan, diapit oleh sepasang rak buku bewarna coklat gelap, seekor anjing golden retriever menguap lebar-lebar. Dia memandang sebentar ke arah Elia lalu kembali membaringkan dirinya di atas karpet dan tidur(jangan membayangkan dia anjing pintar yang akan membangunkan tuannya, percayalah Elia dan Molly memiliki sifat yang mirip sehingga mereka bisa menoleransi kebiasaan satu sama lain dengan sangat baik).

Jarum panjang menunjukkan jam sebelas lebih dua puluh tiga menit, akhrinya Elia bangun dan menguap lebar sambil mengucek-ngucek matanya. Dia mengambil jam beker dari meja samping tempat tidurnya, melihatnya sebentar, mendengar suara detak jamnya sesaat, lalu meletakkannya kembali dengan serampangan sampai menimbulkan bunyi benturan.

Elia membuka jendela kamarnya. Pemandangan puncak pohon belimbing dan langit biru cerah menyambutnya, cahaya matahari langsung menerobos masuk dan membuat rambut hitamnya tampak lebih mengkilap. Dia mengucek lagi matanya kemudian teringat kalau dia mempunayai satu sahabat yang berbulu emas ketika mendengar suara dengkingan menguap.

“Molly,” panggilnya, memutar kepalanya ke belakang.

Anjing itu masih berbaring santai tapi kedua matanya memandang Elia lekat-lekat. “Molly,” kata Elia lagi, sekarang membalikkan badannya. Tapi Molly hanya mengoyang-goyangkan ekornya, begitu keras hingga membuat bunyi tuk-tuk-tuk di lantai.

“Anjing malas,” Elia meletakkan kedua telapak tangannya di pinggang, “bangunlah,”

Tapi reaksi Molly hanyalah kibasan ekor yang semakin keras. “Oh Mooooooly, ayolah, mana ada tuan yang mendatangi anjingnya?” Elia berkata frustasi.

Keadaan masih sama. Elia mengerang lalu berjalan mendekati Molly. Setelah cukup dekat anjing itu baru mengangkat kepalanya seakan mengatakan, “Anaaaaak pintaaaaaaar!”

Elia memberengut kesal dan menarik badan anjing itu untuk memaksanya bangun.

“Molly! Molly, ayolaah bangun!!!” Elia mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengangkat anjing itu, mengerang begitu beban lemak membebani tangannya, sementara Molly terus berusaha bertahan pada posisinya. Akhirnya Elia mundur selangkah dan bernafas terengah-engah. Molly kembali tiduran lagi, membuat Elia semakin jengkel. Dia hendak menarik karpet merah yang berfungsi sebagai alas tidur Molly tapi…

“Elia! Elia?? Kau sudah bangun?” terdengar suara seruan samar-samar.

Elia memandang tajam ke arah Molly yang kedua kupingnya bergerak gelisah mendengar suara ibunya. “A-lihat! Kau sih malas bangun,” desis Elia.

“Elia? Kau sudah bangun?” suara itu terdengar lagi. Elia buru-buru menjawab, “Iyaaaaaaaaaaa! Aku sudah bangun ma!”

Hening sebentar. “Turunlah kalau begitu! Ada yang ingin mama bicarakan denganmu,”

Firasat tak menyenangkan langsung menyergap Elia. Dia memandang Molly sekarang bernafas terengah-engah lagi. “Iya sebentar ma,” seru Elia, lalu bergegas turun dengan masih mengenakan kaos tidurnya.

~~~

Suara pancuran air keran dan piring yang saling beradu adalah yang pertama kali Elia dengar. Ibunya, Yeni yang berambut ikal, mencuci lebih cepat, meletakkan piring dengan ceroboh di dapur. Penampilannya sama sederhananya dengan seisi dapur yang sempit.

Elia melihat kalungnya Salib menggelatung di lehernya bergerak-gerak tak beraturan. Rambut hitam lurusnya agak berantakan. Kaos hijau dan celana satin yang sudah lusuh menutupi tubuhnya yang kurus. Sama lusuhnya dengan dinding dapur dekat kompor yang memiliki bercak-bercak kekuningan.

“Ma?” kata Elia yang langsung menutup telinganya mendengar suara piring yang memekakkan telinga.
“Oh, Elia,” dia menoleh, membuat Elia cemas dengan senyum terpaksa dan raut wajahnya yang datar, “akhirnya kau bangun juga,” suaranya terdengar dibuat-buat ceria.
“Ma? Ada apa?” Elia berjalan mendekatinya, bingung harus bertingkah apa.

Terdengar lagi suara piring yang bersentuhan secara kasar dengan rak almunium dan sesama piring, membuat telinga Elia sakit. Disusul suara piring yang jatuh ke tempat pencucian piring, suara sendok yang tertimpa, dan suara kucuran air keran. Ibunya mengambil lagi piring yang penuh busa sabun, kali ini Elia sudah bersiap-siap menutup telinganya kalau piring itu jatuh lagi.

Tapi ternyata tidak. Yeni akhirnya selesai mencuci piring terakhir di sana, Elia langsung menutup telinganya ketika melihat ibunya hendak meletakkan piring di rak. Dia merasa kakinya mulai pegal-pegal akibat tidur kelamaan dan tubuhnya berkeringat serta lengket karena belum mandi sehingga cepat kehabisan kesabaran.

“Ma?” kata Elia lagi, berdiri mematung di dekat meja dapur. “Elia,” akhirnya ibunya menoleh juga. “Ada apa, Ma?” Elia merasa darahnya mendesir cemas.

“Dengarkan,” Wanita itu mengelap tangannya, menaruh lap yang masih menggumpal di atas meja dapur yang terbuat dari kayu, memandang Elia lekat-lekat, sebelum melanjutkan. “Ini tentang anjing itu,” dia memberi tekanan pada kata itu. Setetes keringat mulai mengalir di dahi Elia.

“Molly?” suaranya agak bergetar saat mengucapkannya.
“Ya dia,” Alis mata ibunya agak naik karena cemas. Elia menelan ludah yang terasa pahit.

“Elia dengar,” Ibunya berjalan mendekat, membungkukkan badan sehingga tinggi mereka sejajar, begitu dekat sampai samar-samar Elly mencium bau bedak. “Anjing macam Molly, memakan biaya perawatan yang sangat besar,”

Mereka berdua terdiam. Elia merasa tenggorokannya tercekat menyakitkan sekalipun dia tahu suatu saat pasti akan mendengar hal ini. Sementara itu ibunya cemas akan respon anaknya. Elia memalingkan wajahnya, menatap ubin putih dan jari kakinya untuk sesaat, merasa tak nyaman harus melihat wajah ibunya yang sudah berkeriput.

“Ki-kita,” Elia berbicara agak tersendat, “bisa memberinya sisa nasi!”
“Elia…” ibunya menggerakkan satu tangannya sebagai maksud gerakan menenangkan. “Aku bisa mengurangi jatah makanku!” Elia berbicara cepat.
“Tidak bisa, tidak—“
“Bisa!” Elia berbicara lebih keras dari yang dia inginkan. “Ibu bisa memotong uang jajanku!”
Wanita itu mencoba berbicara tapi gerakan mulutnya kacau, “Elia… De—“
“Ma—mama bisa menggunakan jatah uang jajanku!” seru Elia, beberapa tetes keringat di dahi mengalir, mengelitik pipinya, tapi dia mengabaikannya.
“Dengarkan dulu!” akhirnya wanita itu kehabisan kesabaran. Dia berdiri, punggungnya pegal karena harus membungkuk dari tadi.

“Kita tidak bisa lagi merawatnya,” suaranya melengking tinggi, “ayahmu baru saja di PHK,”

“T-tapi,” wajah Elia agak memerah. Kedua tangannya mengepal terjepit antara keputusasaan dan harapan.

Elia memandang khawatir ke karung beras yang nyaris tak berisi lalu melihat kembali ke wajah ibunya yang benar-benar tampak putus asa.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
90

akhirnya... datang juga satu lagi penulis fantasi yg layak ditunggu karyanya *nyengir mode: on*
saia suka deskripsinya. dan ketikanmu rapi, bikin orang gak mumet bacanya.
welkam buat leona-san :)

90

Ga ada masalah berarti di sini. Kupikir kau udah ngelakuin pendahuluan yang bagus dengan ngegambarin ritual bangun tidur Elia dan suasana kamarnya kayak apa. Karena masih pendahuluan banget, belum bisa bicara banyak soal cerita. Tapi kalo udah ada lanjutannya, aku berminat baca.

70

:) nafas panjaaaang....
baiklah. teruskan dulu.
tapi yang ini sudah rapi :)

^_^

Walo t'kesan lambat. Tp enak bacanya
salam kenal ya
^_^

80

Gaya penulisannya bagus. Untuk cerita belum bisa komentar apa-apa, di bag. pertama ini alurnya masih cukup datar. Ditunggu kejutannya.

Postingan pertama ^ ^ Mohon tanggapannya. Boleh kritik, saran, pujian(yg ini boleh banget, hohoho), kesan, apa saja xD