Apollo 69

(Hari 1)

Rumi: Benar-benar sial! Malam ini Apollo hilang. Aku sudah mencari ke setiap tempat, dapur, kamar mandi, kamar tidur, di bawah kasur, gudang, semuanya, tapi tidak ada. Mencari ke luar juga percuma, sudah gelap dan tubuhku terlalu lelah. Berkali-kali kupanggil namanya, namun tetap nihil. Salahku juga, seharusnya aku tidak datang terlalu larut dan lupa menyiapkan makanan untuknya. Jendela di belakang rumah terbuka dan akan kubiarkan seperti itu sampai pagi, semoga dia kembali di waktu sarapan. Perasaanku sedikit tidak enak. Ini pertama kalinya anjingku hilang. Sial! Padahal aku ingin merayakan malam ini bersamanya.

Lula: Benar-benar gila! Aku masih tidak percaya, setelah hampir 3 minggu berpacaran akhirnya aku, kami, melakukannya juga. Tidak ada yang merencanakan tapi terjadi begitu saja. Malam yang sempurna. Dibuka dengan makan malam yang romantis, menonton film yang bagus, lalu ia mengantarku pulang dan kami tertawa-tawa sepanjang perjalanan. Dia memang humoris. Dan selanjutnya, mmm, entah mestinya aku malu atau senang, tapi yang jelas kami sama-sama menikmatinya. Hanya beberapa menit saja. Tapi aku akan mengingat ini terus.
Sekarang pukul 2 pagi. Aku belum tidur. Masih tak bisa melepaskan dari kejadian spesial itu bersamanya. Aku bertanya-tanya apakah aku akan menceritakan hal ini pada orang lain? Kira-kira pada siapa? Zizi? Hmm aku penasaran apa dia juga sedang memikirkan hal yang sama denganku? Apa kita akan melakukannya lagi? Kita lihat saja nanti.

(Hari 2)

Rumi: Semalam tak bisa tidur, terus memikirkan Apollo. Kutunggu sampai jam 8 pagi, tapi tetap tidak ada tanda-tanda darinya. Aku menanyakan beberapa tetangga namun tak satupun yang tahu. Sudah berjam-jam berkeliling ke mana-mana termasuk mencari ke setiap toko hewan peliharaan di kota dan hasilnya sia-sia. Aku tidak tahu harus mencari ke mana lagi dan aku mulai memikirkan hal-hal yang mengerikan tentang dia. Brengsek! Apa mungkin seseorang telah menabraknya?

(Hari 3)

Lula: Hari ini suasana hatinya sedang mendung. Semangatnya meluntur. Ia seperti tak punya nafsu makan. Ini gara-gara anjing kesayangannya menghilang entah ke mana. Aku menemaninya mencari Apollo ke seluruh penjuru kota. Berkali-kali aku membesarkan hatinya karena setiap ia melihat seekor anjing di pinggir jalan, wajahnya tampak semakin murung. Aku mengusulkan untuk mengiklankan ini di koran dan radio. Ia benar-benar sedang kehilangan. Kasihan sekali. Keadaan ini membuatku merasa tidak enak untuk mengungkapkan apa yang terjadi di kamar kost-ku bersamanya dua hari lalu. Padahal menurutku itu adalah hal yang spesial. Apa dia juga merasa seperti itu?

(Hari 7)

Rumi: Aku benci mengatakan ini tapi menurutku Apollo telah hilang, hilang sama sekali. Ini sudah seminggu dan aku telah mengitari kota ini seperti orang gila, menanyakan setiap orang, lalu menempelkan puluhan lembar berita kehilangan di setiap tembok tapi belum ada hasil. Apollo tidak mungkin seperti ini, dia anjing yang pintar, dia selalu kembali.
Aku tak terbiasa dengan keadaan ini. Sudah setahun tinggal di kota ini sendirian, menjalani hidup sebagai mahasiswa yang harus melalui hari-hari perkuliahan yang sedikit pun tidak kusukai. Tugas-tugas melelahkan dan tetek-bengek lainnya hanya membuatku sinting. Aku bahkan tidak betah dengan lingkungan di sana, orang-orangnya, suasananya, walaupun aku cukup beruntung bisa mendapatkan seorang pacar. Tapi begitu sampai di rumah, mendengar Apollo berteriak lalu berlari menghampiriku sambil menjulurkan lidahnya kemana-mana rasanya semua rasa frustasi-ku hilang seiring dengan jilatannya di wajahku. Aku tidak terima bahwa mulai sekarang tidak ada lagi yang akan membangunkanku di pagi hari atau duduk mengobrol denganku hingga larut malam dan aku benar-benar sendirian.
Maafkan aku Apollo, dimanapun kamu berada sekarang. Aku tak akan bisa memaafkan diriku tapi kuharap kamu mau memaafkan tuanmu yang tolol ini.

(Hari 10)

Lula: Aku semakin tidak mengerti dengan sikapnya akhir-akhir ini. Aku sendiri bingung apakah harus turut prihatin dalam kesedihannya atau justru merasa kesal karena sepertinya dia mulai kurang memperhatikanku. Selalu saja ia bicara tentang anjingnya itu. Aku mengerti dia merasa kehilangan, tapi bukankah ada aku juga? Apa dia lupa aku ini pacarnya? Dan yang mengganjal pikiranku apa dia juga lupa dengan apa yang terjadi di kamarku seminggu yang lalu? Maksudku, bukankah itu adalah hal yang “besar” bagi hubungan kita berdua? Hmm tak tahulah. Seperti inilah mungkin laki-laki bila kehilangan mainannya. Dasar. Jangan bersedih terus, sayang.

(Hari 14)

Rumi: Rumah terasa lebih lengang dari biasanya. Aku tak terbiasa berjalan-jalan sore ke taman sendirian. Ibuku bilang: “Beri sedikit waktu, baru setelah itu kamu carilah anjing yang baru.” Aku bilang: “Anjing baru? Bagaimana mungkin Apollo digantikan dengan ‘anjing baru’?”
Pacarku bilang: “Jangan bersedih terus, sayang. Aku ada di sini bersamamu.” Aku tak mengucapkan sepatah kata pun, hanya mengangguk.
Temanku bilang: “Ah ini mungkin saatnya buat mengganti hiburan. Anjing peliharaan cuma buat anak kecil, untuk seumuran kita saatnya bermain dengan ‘ayam-ayam’ yang cantik!” Aku bilang: “Diam sajalah idiot.”

(Hari 17)

Lula: Ada yang berubah. Aku bisa merasakannya. Ia tidak lagi menelepon atau mengirimku pesan SMS lebih dulu dan kami tidak pernah lagi pergi berdua.

(Hari 22)

Rumi: Aku tidak mengerti dengan orang-orang di sekitarku. Mereka sudah seperti robot saja menajalani rutinitas kuliah yang membosankan lalu tenggelam dalam ribuan tugas-tugas yang melelahkan dan terus seperti itu. Memangnya hidup seperti apa yang mereka impikan dari melakukan hal-hal suntuk semacam itu? Dan bagian terburuknya adalah… adalah aku telah menjadi bagian di dalamnya! Sialan! Aku benci bila harus mempelajari sesuatu yang tidak kumengerti dan para dosen itu selalu bertingkah bahwa apa yang mereka ajarkan menjamin hidupku di masa depan. Cih!
Satu hal lagi, pacarku mulai sedikit rewel akhir-akhir ini dengan masalah-masalah sepele yang sering ia lontarkan padaku, seperti siapa yang harus meneleponnya, jawaban SMS-ku yang terlalu singkat, tuduhan kurang perhatian dan sebangsanya. Ayolah, yang benar saja!

(Hari 26)

Lula: Aku tak mengerti di mana letak kesalahannya bila aku bertanya kenapa dia susah sekali dihubungi sehingga ia harus menjawabnya dengan begitu kesal. “Aku benci telepon! Aku benci SMS! Buang-buang uang saja. Manusia tidak membutuhkan itu untuk hidup!”
“Tapi aku kangen denganmu, itu saja.”
“Kita kan bertemu tiap hari di kampus, mengobrol, dan lain-lain, jadi apalagi yang harus dibicarakan lewat telepon hah? Menurutku telepon dan handphone tidak pernah benar-benar digunakan untuk hal yang serius dalam berpacaran. Jadi, sudahlah!”

(Hari 31)

Rumi: Kampus tempatku berkuliah sepertinya selalu mempersulit segalanya. Tugas-tugas menjelang akhir semester penuh dengan tetek-bengek tidak penting yang padahal dapat dengan mudah diselesaikan lewat program komputer. Kampusku kembali lagi ke era tulis tangan, penggaris, kalkulator, menggunting dan menempel, dan kegiatan serba manual lainnya. Ini membuatku sibuk setengah mati dan aku benci kesibukan ini. Ditambah lagi, pacarku sepertinya tidak mengerti dengan kondisi ini karena semakin hari ia semakin mengesalkan.

(Hari 35)

Lula: Mungkin ini malam minggu terburuk sepanjang hampir 2 bulan kebersamaan kami. Ya, kami bertengkar! Ia berteriak-teriak sementara aku mencoba menghadapinya sambil menangis. Bagian terburuknya adalah ini dipicu oleh masalah sepele, yaitu telepon dan SMS.
Jujur saja aku tidak bisa menerima dirinya yang sepertinya mulai tertutup dan membuat jarak denganku. Aku hanya ingin tahu keadaannya, tapi dia: “Untuk apa? Apa kamu tidak merasa bosan setiap hari ditelepon atau di-SMS hanya menanyakan ‘apa kabar?’, ‘sedang apa?’ dan selebihnya membicarakan hal yang tidak penting. Kamu dengar, tidak penting! Lagipula aku sedang sibuk dan kamu terus memintaku untuk menelepon atau SMS? Kamu pikir cuma kamu yang ada di hidupku! Berhentilah bersikap manja! Mungkin kamu tidak tahu tapi aku bisa hidup tanpa handphone jadi aku tidak pernah selalu merasa harus menggunakannya tiap waktu! Ingat, aku benci perempuan manja!” katanya dengan penekanan pada kata “benci”.
Sampai di tempat kost aku mengingat ucapannya lagi lalu bertanya-tanya apa dia sudah tidak menyayangiku seperti dulu lagi? Maksudku, kenapa sampai harus membentak segala?

(Hari 39)

Rumi: Bangsat! Aku harus mengulang tugas kuliahku karena aku telat mengumpulkannya. Telat setengah jam. 30 menit! Aku tak percaya dosenku tersenyum saat menolak menerima tugasku. Sialan!
Ini gara-gara malam sebelumnya aku tidak bisa tidur. Entah mengapa tiba-tiba aku seperti mendengar suara Apollo menyalak. Aku berjalan-jalan mengitari rumahku berkali-kali sambil memanggil namanya, bahkan melemparkan bola tenis untuk memancing dirinya keluar. Mungkin sampai 10 kali aku menggeledah rumahku sendiri. Sampai akhirnya aku tahu bahwa aku hanya sedang merasa begitu kangen padanya. Sayang sekali, aku hanya bisa duduk di atas sofa sambil berpura-pura Apollo sedang duduk tepat di sampingku. Seperti yang biasa terjadi di tiap malam. Terutama di malam seperti ini, ketika aku benar-benar kesepian. Dan kalau saja Apollo masih ada dan menjilatiku tiap pagi, aku tidak akan pernah lagi terlambat ke kampus. Ini sudah sebulan dan tidak ada satu pun orang yang menelepon dengan kabar gembira bahwa ia telah menemukan Apollo. Tampaknya tak ada lagi harapan.
Hubungan dengan pacarku sedikit merenggang walaupun sudah lebih baik daripada pertemuan terakhir. Entah mengapa aku merasa tidak lagi begitu menyayanginya. Jauh di dalam hatiku sepertinya aku masih, masih, entahlah, tapi sepertinya aku menyalahkan dia atas kehilangan Apollo. Mungkin.
Oh ya satu hal lagi! Tiba-tiba saja saat mengitari rumah tadi malam sambil menoleh ke arah jendela belakang yang selalu kubuka semenjak Apollo pergi, aku baru ingat, bahwa jendela tersebut selalu terbuka dari jauh-jauh hari sebelumnya. Ya, aku ingat, bahwa 2 minggu sebelumnya Apollo nampak selalu keluar-masuk jendela tersebut namun aku tidak terlalu khawatir karena toh ia selalu kembali di waktu makan malam. Hmm… kalau saja… Ah! Tidak ada gunanya juga sekarang.

(Hari 43)

Lula: Aku selalu merasa gelisah akhir-akhir ini, entah apa penyebabnya. Perutku juga terkadang terasa sakit. Apa mungkin ini berhubungan dengan Rumi? Tak tahulah, tapi aku merasa dia sudah mulai “menjauh” dan ini membuatku sedikit paranoid.
Ini juga diperkuat oleh perkataan Zizi. Ya, akhirnya aku menceritakan lebih tepatnya kelepasan hubungan seks yang aku lakukan dengan Rumi kira-kira sebulan yang lalu. Setelah dibentak olehnya waktu itu, tentu saja aku harus mencurahkan perasaanku pada seseorang, dan Zizi adalah pilihan yang tepat. Aku mengadu padanya dengan bilang bahwa Rumi sepertinya mengabaikan begitu saja “peristiwa” itu karena tak pernah sekali pun menyinggungnya. Dan pendapat Zizi adalah: “Semua laki-laki memang begitu, apalagi remaja jaman sekarang. Sadarlah Lula, laki-laki memposisikan seks sebagai tujuan akhir dari hubungannya dengan perempuan. Setelah tujuan itu tercapai, mereka akan memulai lagi dari awal tapi dengan perempuan yang lain.”

(Hari 48)

Rumi: Awalnya, tujuan kami pergi berjalan-jalan adalah sebagai pelepasan atas hari-hari suntuk yang kulalui untuk mengerjakan ulang tugas kuliah. Sudah lama sekali kita tidak makan malam bersama, menonton di bioskop, mengitari mall, dan sebagainya. Menyenangkan sih, walaupun kuakui ada sedikit rasa canggung diantara kita. Baru di saat kita mengobrol di tempat kost-nya, rasa kesalku tersulut lagi.
Pertama-tama dengan kaku ia menanyakan (lagi!) tentang SMS-nya yang tidak kubalas, lalu kujawab itu karena pulsaku habis. Ia kembali bertanya dengan heran bagaimana pulsaku bisa habis karena selama ini kita jarang sekali berkomunikasi, lalu kujawab bahwa aku tidak hanya ber-SMS atau bertelepon dengan dia. Dari sinilah ia mulai bertanya macam-macam, menuduhku sengaja menghindarinya, berselingkuh dengan perempuan lain, dan sudah tidak mencintainya lagi. Ia menjadi semakin menekanku yang membuat aku merasa bahwa dalam berhubungan dengannya maka aku tidak boleh lagi memiliki privasi.
“Kenapa sih kamu ini? Menuduhku seenaknya tanpa ada bukti! Aku harus menghubungi banyak orang, dosen, temanku, ibuku, jadi berhentilah berpikir bahwa di duniaku hanya ada kamu! Aku juga punya privasi yang seharusnya kamu hormati. Aku tidak perlu mengirim SMS padamu kalau memang tidak ada sesuatu yang harus ku-SMS, begitupun sebaliknya. Bayangkan, siang dan malam, siang dan malam! Kamu seperti mengejar-ngejarku dan aku muak Lula, muak!”
Ia menangis dan meminta maaf sementara aku pulang dengan rasa bersalah dan kesal.

(Hari 50)

Lula: Kepalaku terkadang terasa berputar-putar apalagi setiap bangun tidur pagi. Apa yang dikatakan Rumi dua hari lalu membuatku tidak berani menelepon atau memberi dia SMS lebih dulu dan sebagai ganti untuk memendam limpahan perhatianku terhadapnya, aku sering menelepon dan dan ber-SMS dengan Zizi. Curhat, curhat, dan curhat. Sikap Zizi yang selalu sarkastis terhadap laki-laki, dan dalam kasus ini Rumi, memberiku hiburan tersendiri sekaligus persepsi yang unik. Saat mengeluhkan padanya tentang sakit kepalaku, Zizi bilang: “Kamu terlalu stres memikirkan cowok-mu itu. Kamu harus belajar dari anjingnya bagaimana untuk menghadapi Rumi. Ya, pergi! Tinggalkan saja dia!”

(Hari 55)

Rumi: Aneh juga rasanya. Sebelumnya, setiap kali handphone-ku berdering dan melihat nama Lula di layar, aku selalu menanggapinya dengan kesal. Buat apa sih meneleponku? Dan memang, ketika diangkat, dia hanya mengajukan pertanyaan atau membahas masalah sepele, tidak penting, segala tetek-bengek bernada manja yang menghabiskan waktu dan pulsa hanya untuk menanyakan makanan yang sudah kumakan dan sebangsanya. Tidak heran aku selalu bersikap dingin (lebih baik daripada membentaknya lewat telepon).
Tapi sekarang, aku merasa ada yang kurang ketika dia tidak menelepon atau memberiku SMS seperti biasanya. Kondisi ini malah mendorongku untuk mengirimnya SMS dengan isi yang kuanggap tidak penting yang biasa ia lakukan padaku. Katakanlah, itu semua kulakukan sebagai formalitas. Aku kasihan padanya karena ia merasa tak enak badan akhir-akhir ini. Kami bertelepon cukup lama dan itu memberiku semacam “penyegaran”.
Memang aneh. Kalau kupikir-pikir, sepertinya hubungan pacaran aku dan Lula, atau mungkin remaja pada umumnya, sifatnya hanya sebagai fornalitas dari tiap bentuk rasa sayang kepada lawan jenis yang “dipelajari” lewat film, novel, dan majalah-majalah. Hmm… mungkin kita masih terlalu muda untuk benar-benar tahu apa itu cinta atau sayang, sehingga yang terbaik yang bisa dilakukan adalah, yah, hanya hal-hal tetek-bengek.

(Hari 56)

Lula: Sama seperti Rumi, Zizi adalah pecinta anjing. Bedanya Zizi tidak hanya punya satu tapi 4 ekor. Kemarin aku mengantar Zizi pergi ke dokter hewan untuk berkonsultasi sambil membawa seekor anjingnya yang tengah hamil besar dan tinggal menunggu waktu untuk melahirkan. Ini pertama kalinya bagi Zizi. Dokter menjelaskan cara-cara dan pengobatan yang harus dilakukan saat anjing itu melahirkan. Setelah itu aku kembali mengantar Zizi pulang untuk menyimpan anjingnya lalu kembali pergi berdua ke toko hewan membeli perlengkapan bayi anjing masing-masing 4 buah sesuai dengan jumlah yang dikandung si induk. Menyenangkan juga. Tapi lama-lama aroma dan bulu binatang membuatku pusing dan mual. Mungkin ini alergi.
Malamnya aku sedikit meriang dan tidur cepat sehabis menenggak obat pusing. Pagi ini ketika bangun badanku lemas. Aku kehilangan nafsu makan bahkan memuntahkan telur mata sapi dan segelas susu sarapanku. Aku memilih untuk tidur lagi dan tidak kuliah. Menjelang sore Rumi datang membawakanku makanan dan menemaniku hingga pukul 10 malam. Biasanya satu tablet obat pusing sudah cukup. Ahh… semoga besok kesehatanku kembali.

(Hari 60)

Rumi: Lula meneleponku untuk segera datang ke tempat kost-nya sambil mengatakan: “Ini sangat penting.”

Lula: Ketika Rumi datang dan melihatku, sepertinya tidak ada gunanya berbasa-basi. Ia bisa menebak dari wajahku bahwa ada sesuatu yang membuatku gelisah. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan walaupun sebelumnya aku sudah mempersiapkan kata-kata tetapi ketika berhadapan dengannya mulutku seperti sulit terbuka. Ia tampak heran dan terus bertanya-tanya. Aku menutup mata dan berkata: “Pagi ini perutku mual, aku muntah-muntah, dan tadi siang, ini yang kutemukan,” sambil menyodorkan alat tes kehamilan padanya.

Rumi: Aku mencoba untuk berpikir tenang dalam perjalanan ke rumah sakit. Aku percaya bahwa alat tes kehamilan bisa saja salah dan seharusnya dokterlah yang memutuskan ini. Entahlah, pikiranku terus berkecamuk.

Lula: Ya. Positif. Aku hamil 2 bulan. Aku tidak tahu apa yang harus kurasakan atau kulakukan. Kami berdua diam membisu, berbicara di dalam pikiran masing-masing. Aku hamil.

(Hari 61)

Rumi: Kami berbicara di telepon. Terus terang aku panik dengan kondisi ini. Emosiku memuncak dan ya, aku mengatakannya: aborsi.

Lula: Aku tak percaya ini. Dia terang-terangan melukai hatiku. Dia menuduhku sebagai penyebab segalanya. Dia bilang, kalau saja aku tak memaksanya untuk tinggal lebih lama di kamarku waktu itu, seks itu tak akan terjadi (baru kali ini dia membahasnya), dia tidak akan terlambat pulang, dan Apollo tidak akan hilang. Aku terus menangis dan menekannya, sampai akhirnya ia menyuruhku aborsi. “Oke, kamu kehilangan anjing. Tapi aku, aku kehilangan keperawananku dan sekarang kamu minta aku untuk menghilangkan bayiku juga? Bayi kita?”

(Hari 62)

Rumi: “Bagaimana aku bisa tahu kalau itu benar-benar anakku?”
Lula: “Apa lagi yang kamu pikirkan? Aku bukan pelacur!”
Rumi: “Terserah! Aku sudah capek denganmu. Aku tidak peduli!”
Lula: “Ya, kamu memang tidak pernah bisa menerima kenyataan.”

(Hari 63)

Rumi: Ia datang ke rumahku. Menangis. Bingung. Membisu. Lalu kami berdua saling berteriak. Menurutku, inilah puncak kekesalan yang kurasakan padanya. Semenjak Apollo hilang, aku tak bisa berhenti menyalahkan dia. Kalau saja dia tidak menggodaku untuk melakukannya di malam itu…

Lula: Dia membuatku semakin terpuruk. Kehamilan ini, sikapnya, ditambah dengan perkataannya: “Pergi Lula, pergi! Aku sudah muak! Kalau kamu ingin kembali padaku, lakukan apa yang kubilang!”

(Hari 64)
Lula: Aku menangis seharian ditemani Zizi. Aku belum mengabari orangtuaku, tak tahu harus bilang apa. Aku benci Rumi. Dia telah benar-benar membuangku. Aku tidak bisa menerima ini. Zizi menyarankan untuk tetap melahirkan bayi itu dan dengan kesal ia bilang bahwa Rumi tak lebih baik dari seekor anjing! Dia memang… bajingan!

(Hari 65)

Rumi: Aku merasa harus pergi untuk menenangkan diri. Semuanya berantakan. Aku benci dan menyesal telah terlibat dengan kehidupan Lula dan segala tetek-bengek-nya. Dia telah menciptakan benang kusut di “duniaku”. Kacau balau! Dia bukan anakku!

(Hari 67)

Lula: Aku masih belum siap mengabari orangtuaku. Aku belum siap dengan kemurkaan mereka. Aku belum siap dengan reaksi keluarga dan teman-teman yang lain. Aku belum siap dengan bayi ini. Aku belum siap menjadi seorang ibu. Apakah aku pantas?

(Hari 69)

Rumi: Aku sedang duduk di atas sofa, memikirkan rencana untuk pergi sejenak dari kota ini besok pagi. Bisa dikatakan suasana hidupku sedikit mereda karena aku terus-menerus menyendiri, memutus hubungan dengan dunia luar, mematikan handphone-ku, lalu menenggelamkan diri dalam perenungan. Pikiranku sedang menerawang jauh ketika tiba-tiba sesuatu melompat ke pangkuanku. Sesuatu yang berbulu. Berukuran lebih kecil dari badanku. Bergerak-gerak. Mendengus. Membaui. Menjilati mukaku. Menyalak. Menyalak. Dan Menyalak!
Aku butuh sekitar 10 detik untuk akhirnya sadar bahwa Apollo kini berada di hadapanku. Dia telah kembali! Dia terus menyalak dan menjilatiku sementara aku kegirangan memeluk, mengusap, dan mengangkatnya. Dia benar-benar Apollo! Apollo! Apollo! Aku terus meneriakkan namanya seraya memegang erat dirinya untuk memastikan bahwa saat itu benar-benar terjadi. Ini terlalu mengejutkan, seperti mendapati seseorang yang kamu sayangi telah bangkit dari kuburnya untuk mengucapkan salam. Aku tak percaya. Dan ini benar-benar di luar kendaliku untuk melukiskan perasaan senang yang kurasakan saat itu.
Tapi dia tidak sendiri. Apollo datang bersama 5 ekor anjing lainnya. Seekor betina dan keempat anaknya yang masih mungil. Mereka datang mengikuti Apollo dari belakang, tampak malu-malu dan menatap kami berdua lewat bola matanya yang hitam legam. Apollo lalu bergabung bersama mereka, ia seperti memperkenalkan anjing-anjing itu padaku. Aku memandanginya dengan heran. Anjing milik siapa mereka? Tentu saja Apollo tidak menjawab tapi, kurasa, inilah keluarga baru Apollo. Si betina adalah anjing berjenis sama dengan Apollo, sementara anak-anaknya tampak mirip dengan bapaknya dengan rambut yang lebat dan ekor yang lurus seperti roket. Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Yang jelas aku telah salah mengira bahwa selama ini ia telah mati.
Apa yang telah kaulakukan selama ini? Aku terdiam. Diam untuk waktu yang lama. Diam untuk melihat keluarga Apollo. Diam untuk menafsirkan lewat nalarku tentang kepergian Apollo. Diam untuk mencerna apa yang terjadi selama 69 hari terakhir ini. Diam untuk melihat anjingku yang menatap lekat kedua bola mataku yang bergetar.

Zizi: Salah satu alasan mengapa aku menyukai anjing adalah mereka hewan yang setia. Sekitar dua bulan yang lalu seekor anjing beberapa kali terlihat di halaman rumahku. Aku membawanya ke dalam namun ketika hendak memberinya makan, anjing itu hilang. Sampai di satu hari anjing itu terus berada di rumahku bersama Diana. Aku bisa melihat bahwa mereka berdua sedang jatuh cinta. Mereka saling menjilati, mengelus, membaui, dan kadang ehm saling menunggangi. Anjing itu tidak bernama sampai ketika aku melihat sebuah poster di dinding yang menyebutnya dengan nama Apollo dan ternyata dia adalah milik seseorang yang kukenal dan rumahnya tak begitu jauh dari tempatku.
Aku berniat mengembalikan Apollo tapi aku pikir apa hakku sehingga berani memisahkan kedua pasangan itu. Aku tak rela harus kehilangan Diana dan Diana juga takkan rela kehilangan Apollo. Sebut saja aku jahat atau pencuri tapi demi Tuhan, aku melakukan ini demi mereka dan aku tak mungkin memberi tahu pemiliknya tentang ini karena aku tahu ia pasti akan memaksa Apollo untuk pulang. Hari-hari mereka jalani layaknya anjing yang kasmaran dan tak butuh waktu lama untuk akhirnya tahu bahwa Diana hamil. Selama Diana hamil, Apollo begitu lengket berada di dekatnya, menjaganya dengan baik, dan melindunginya seperti seorang pengawal ratu Inggris. Aku tidak pernah bisa berhenti menahan rasa haru melihat kebersamaan mereka berdua. Sepasang anjing, binatang, bisa sebegitu menawannya saat berada di bawah pengaruh cinta. Aku tidak pernah tahu apakah anjing juga merasakan cinta, tapi mereka berdua setidaknya membuktikan fakta baru.
Diana melahirkan 4 ekor anak anjing yang mungil lewat proses persalinan yang sedikit menjijikan namun berhasil dilalui dengan selamat (aku berteriak ketika melihat kepala anak-anak anjing ini muncul). Apollo selalu datang dan menjilati mereka sambil menempelkan moncongnya dengan lembut. Lucu juga ketika melihat anak-anak anjing ini berjalan, tidur, atau ketika menyusu pada induknya. Mereka berenam terlihat begitu serasi. Senang sekali memiliki mereka di rumah. Sebuah keluarga yang utuh. Dan Apollo menjalani perannya sebagai sosok bapak yang pelindung serta suami yang penyayang. Memang benar-benar sosok yang “jantan”.
Dan malam ini, aku tak melihat mereka. Aku tidak mendengar suara mereka. Hmm, aku rasa ini memang sudah saatnya mereka pergi dan aku tahu mereka ada di mana sekarang. Saat seperti ini memang sudah kuperkirakan. Awalnya memang menyedihkan, aku merasa kesepian, dan tidak bisa lagi bermain-main dengan anak-anak anjing yang imut itu. Entahlah, mungkin bagi Apollo ini sudah saatnya untuk kembali. Kembali ke rumahnya dengan keluarga yang baru. Bagaimanapun juga aku tak bisa menghalangi kesetiaan seekor anjing (Padahal aku belum sempat memberi keempat anak anjing itu nama).

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer vaniamathilda
vaniamathilda at Apollo 69 (9 years 31 weeks ago)
100

Panjang tapi ngga males bacanya. Menarik. Hebat!

Writer fvision
fvision at Apollo 69 (9 years 33 weeks ago)
90

sebuah pelajaran berharga dari Apollo. Cerita yang ditulis dengan sangat bagus dan kreatif. Salam kenal.

Writer vellia
vellia at Apollo 69 (9 years 33 weeks ago)
40

hmmm...maksudnya apollo 69 ntuh apa ya??