Sand and Ocean <Badai> Bagian 5

Setelah melewati hutan kecil yang memisahkan kawasan pantai dan perkampungan pulau ini, mereka akhirnya tiba juga di tempat yang dituju, yaitu rumah pak Badin. Sesampai mereka di sana, nampak di depan rumah kayu milik pak Badin sesak dengan orang-orang satu kampung yang mengerumuni rumah tersebut dengan mimik yang seragam, yakni mimik cemas dan ketakutan.

Begitu melihat sosok yang mereka harapkan telah datang, ada secercah kelegaan muncul di garis wajah mereka. Akan tetapi juga, melihat ada sosok asing di belakang Bunda Buana membuat mereka bertanya-tanya, bahkan ada yang saling berbisik. Membuat orang asing yang tidak bukan adalah Marina, dibuat tidak nyaman olehnya.

Berpuluh penduduk berkerumun di depan rumah Pak Badin memberikan jalan kepada mereka.

“Silahkan masuk Bunda” Pak Badin mempersilahkan tamunya masuk.

Di dalam rumah Pak Badin, keadaanya tidak jauh berbeda dengan rumah Bunda yang baru dilihat oleh Marina, kosong, tak berperabotan, bercahayakan hanya dari pelita yang digantung di tengah ruangan. Di tengah-tengah itu juga, nampak seorang perempuan tua duduk di samping ranjang kecil yang di atasnya tergeletak lemas tak berdaya seorang anak kecil yang sekujur tubuhnya penuh peluh keringat hingga membasahi alas kasur yang ditidurinya.

“Bu, Bunda telah datang” Panggil Pak Badin kepada perempuan tua yang tak lain merupakan Bu Badin, isterinya.

Perempuan tua itu pun menoleh ke belakang, dengan wajah yang seketika tadi terlihat letih dan cemas, sama seperti para penduduk yang di depan rumah, begitu melihat Bunda Buana, wajahnya nampak cerah.

Perempuan tua itu pun beranjak dari tepi ranjang guna hendak menghampiri tamu yang ditunggu-tunggunya, namun Bunda Buana yang memahami, memilih untuk mendekat terlbih dahulu untuk menenangkan perempuan tersebut yang menghamburkan tangisnya yang tertahan tidak lama kemudian.

“Baiklah, sekarang biar aku lihat dulu keadaan Badai, kamu jangan khawatir Bu” Bunda mencoba menenangkan perempuan yang meratap dihadapannya.

Sekali lihat saja sebenarnya Bunda sudah mengetahui kondisi anak yang dihadapinya sekarang. Kondisi yang sama dengan yang ia lihat seminggu yang lalu, hanya saja lebih parah, nafasnya tidak beraturan, wajahnya agak menghitam.

“Ini bahkan belum hari ke lima belas” Keluh Bunda di dalam hati.

Ia tempelkan telapak tangannya ke dada anak tersebut.

Marina yang melihat apa yang dilakukan Bunda, mengerenyitkan kening, ia menyadari ternyata, selain sebagai kepala kampung, Bunda yang baru dikenalnya ini adalah juga seorang dukun. Tidak terlalu mengherankan melihat sekilas, setelah beberapa jam di pulau ini, Marina bisa menyimpulkan, dengan terpencil dan terbelakangnya peradaban yang nampak, tidak pernah ada ahli yang benar-benar ahli dalam bidang kesehatan, profesional, pernah berada di tempat ini.

Ia menghela nafas, nampaknya, ia merupakan ahli kesehatan yang pertama kali berada di pulau ini, pantas lah pandangan orang-orang di luar tadi tidak terlalu mengenakkan. Dari apa yang dilihatnya juga, ia tidak memahami gejala yang dialami anak yang berbaring lemah itu, seperti demam biasa, tapi warna wajahnya seperti ia sedang keracunan, ia tidak bisa yakin, diperlukan penelaahan yang seksama dan penelitian yang dalam untuk mengetahu hal tersebut, tapi karena ia orang baru, sungkan ia untuk mengajukan diri, ia lebih memilih diam dan sekedar mengamati. Kasihan orang-orang disini, selama ini hanya mengandalkan kepercayaan klenik dari seorang perempuan tua yang menjadi tetua juga merangkap pekerjaan sebagai dukun yang mampu mengeluarkan cahaya biru dan asap menghitam dari telapak tangannya.

“Cahaya biru dan asap hitam yang keluar dari telapak tangan??” Pekik Marina di dalam hati, ia tidak mengatakan sepatah kata pun demi melihat apa yang baru dilihatnya, meski wajahnya kembali tidak bisa menyembunyikannya, nampak sekali oleh Sam yang hanya tersenyum kecut melihatnya, nampaknya ini bukan hal yang biasa bagi tamu istimewanya ini.

Tentu saja apa yang dilihat Marina bukan merupakan hal yang biasa, paling tidak di kota tempat tinggal yang ditinggalkan olehnya untuk berada di pulau ini. Ia pernah mendengar dukun, sihir, atau setidaknya sulap. Tapi tidak pernah melihat sama sekali dengan mata kepalanya sendiri, terlihat begitu nyata, bukan seperti tipu daya, mulutnya sedikit menganga, matanya tak berkedip nyaris tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Tubuh anak itu berguncang keras, seperti ada penolakan dan perlawanan dari dalam terhadap upaya yang dilakukan oleh Bunda. Bunda sendiri terlihat gemetaran, bulir keringat sebesar bulir jagung bergelantungan di hampir seluruh wajahnya, ia nampak berusaha teramat keras.

Namun cahaya yang ada di telapak tangannya tidak kuat untuk bertahan lebih lama. Seperti cahaya lampu yang hendak mati, berkelap kelip redup, lalu kemudian menghilang. Wajah Bunda terkesiap melihatnya, ia kini tidak bisa berbuat apa-apa.

Apa yang ditakutkannya pun akhirnya muncul, mata Badai yang dari tadi terkatup,mendadak terbuka, terbelalak membeliak.

Anak itu beranjak dari tidurnya, mendorong dengan keras tubuh tua Bunda Buana yang tidak siap lalu terpental dari tempat tidur tempat ia duduk tadi. Entah apa yang merasukinya, anak yang bernama Badai itu tidak berhenti disitu saja, matanya liar memandang sekelilingnya, lalu terhenti pada satu titik, tidak jauh dari tempat tidur tersebut, Marina yang sedang luar biasa ketakutan, melihat apa yang baru saja dialami oleh Bunda, terlebih setelah melihat tatapan anak tersebut mengarah kepada dirinya.

Belum hilang rasa terkejut Marina, anak itu melompat tinggi, hendak menerjang ke arah Marina, perempuan bertubuh kecil itu tidak bisa bergerak lagi. Namun Sam yang mengetahui apa yang akan segera terjadi, segera melompat melindungi Marina dari serangan anak itu.

“Bruk!!”

Badai yang bertubuh kecil itu mampu membuat Sam tidak bisa menahan keseimbangannya dan terdorong jauh. Sam walaupun kewalahan, berhasil mencengkram kedua lengan anak tersebut sembari terus mempertahankan dirinya di bawah desakan ganas anak yang bernama Badai itu.

“Zaapp!!”

Satu sentuhan yang halus namun tepat dan sempurna dari arah belakang punggung anak itu melemahkan dan menghentikan amukannya. Sam melihat meski dengan terengah-engah setelah terpental tadi, Bundanya berhasil kembali mengendalikan Badai.
Anak itu pun lalu terkulai lemas jatuh ke dalam pelukan Sam yang masih terkapar di lantai. Setelah mengalihkan anak itu ke sebelahnya biar kembali bisa ditangani oleh Bunda, Sam langsung beranjak dan menghampiri tempat Marina berada tadi, nampak yang ada Marina juga tergeletak tak berdaya, bukan karena serangan apa pun,namun hanya karena telah mengami kejadian mencekam yang seumur hidup tidak pernah ia lihat dan alami.

Read previous post:  
7
points
(760 words) posted by Redo Rizaldi 9 years 31 weeks ago
35
Tags: Cerita | non fiksi | Halimun | Lautan | pulau | Samudera
Read next post: