Kutukan Pimred Mading (Bagian 1)

“Kunyuuuuuk!” Baru Lita menutup pintu ruang redaksi, ia tiba-tiba menjerit sejadinya. Dua kepala yang tengah menatap monitor komputer segera menoleh. Kening keduanya sontak berkerut mendapati wajah Lita ditekuk sebelas.

Dengan langkah menghentak dan wajah beringas, Lita kemudian menghampiri meja kerjanya di pojok. Dini yang keheranan segera menegur.

“Ada apa, Kak?”

Masih dengan paras kecut, Lita menjawab, “Jesika c.s. kunyuk!” Tubuhnya yang ramping kemudian dihempaskan begitu saja di atas kursi kayu. Screensaver laptop di atas meja di hadapannya sontak menghilang, berganti sebuah dialog peringatan, lengkap dengan tiga ekor penguin yang berlari panik kanan kiri.

Gempa! Gempa!” Dialog tersebut hilang lima detik kemudian.

Bibir Dini membulat. “Oh...,” ujarnya mengerti. Ternyata, kakak kelasnya itu sempat berjumpa dengan Jesika dan kawan-kawan, ketika ke luar untuk menjumpai kepala sekolah. Karena sudah tahu masalahnya, Dini segera kembali memandu Arief mendesain mading untuk terbit minggu depan. Anak baru itu belum terbiasa memakai Scribus.

“Ada apa dengan Kakak Pimred?” Arief berbisik penasaran.

“Kamu belum tahu?” Dini malah terlihat kaget.

Dengan wajah polos, Arief menggeleng. Dalam waktu nyaris serempak, Dini menepuk kening.

“Aku baru ingat kalau kamu baru seminggu pindah ke sekolah ini. Kamu pasti belum mendengar rumor yang santer beredar, kan?”

“Tepi Barat? Kalau kakak kelas yang pernah mengerjai adik kelasnya sewaktu orientasi akan dihabisi jika lewat di sana?”

“Bukan! Tapi sebuah cerita yang lebih seram lagi!” Mata Dini memincing. Nada suaranya ditekan hingga terdengar berat dan menakutkan.

“A..., apa?”

Dan dengan suara yang lebih berat dan mata yang lebih memincing, Dini berujar, “Kutukan... pimred... mading...!”

Pletak!” Sebuah kotak pensil mendarat keras di belakang kepala Dini. Serta-merta, gadis yang pandai bicara itu berkedip-kedip bagai kelilipan.

“Jangan didramatisir! Jangan cerita apa-apa!” Lita lagi-lagi menjerit. Ia ternyata masih mampu menguping.

Begitu saja, Dini pun berdiri dan balik berteriak, “Anak ini perlu diberi tahu! Aku tidak ingin ia bernasib malang seperti pemuda-pemuda lain yang mendekatimu!”

Lita turut berdiri. Mukanya merah padam. Namun setelah beberapa detik, berubah merah muda. Dan tak berapa lama kemudian, berangsur-angsur menjadi kuning langsat sembari ia kembali duduk.

“Terserah kamu saja!” Tangannya mengetik sesuatu di kibor laptop. “Asal, jangan bawa-bawa nama Jesika. Jika kalian sebut nama itu di sini, aku bunuh kalian berdua!”

Arief menelan ludah. Dini kembali duduk menghadap komputer.

“Apa Kakak Pimred selalu marah segarang itu?” Arief kembali berbisik.

“Hanya saat PMS.” Bagai tidak pernah terjadi sesuatu, Dini menata wajahnya dengan senyum berseri nan manis. “Tapi, itu cukup membuat anggota mading sekolah ini hanya kita bertiga, selain karena kutukan yang menjadi rumor itu.”

Cukup basa-basinya. Dini pun mulai menggulir cerita dari sebuah desas-desus yang telah lama beredar di sekolah.

“Tidak ada yang tahu kapan tepatnya rumor ini mulai beredar. Ini kisah tentang seorang siswi yang menjabat sebagai pimpinan redaksi majalah dinding di masa-masa awal berdirinya sekolah ini. Semenjak ia menjabat, ia menjadi sangat sibuk. Singkat kata, siswi itu nilainya anjlok, tidak lagi menerima beasiswa prestasi, kekasihnya pun kabur. Pada akhirnya, ia bunuh diri. Semenjak saat itu, kabarnya siapa pun yang menjadi pimred mading sekolah ini, akan mengalami hal yang nyaris sama. Karena hal ini pula, mading di sekolah ini sempat vakum sepuluh tahun dan baru aktif ketika Kak Lita menjabat. Kira-kira, sudah dua tahun.”

“Sejenis kutukan, ya?”

“Begitulah.”

“Ada-ada saja!” Arief tergelak dan kembali berusaha fokus pada tugasnya.

“Ketahuilah, kami juga sama-sama tidak percaya. Tapi, apa yang telah terjadi membuat Kak Lita harus menerima ejekan dari Jesika dan teman-temannya itu.”

“Kak Lita nilainya turun?”

Dini menggeleng. “Pacar Kak Lita tiba-tiba menghilang setelah dua hari ia menjabat. Begitu pula dengan akun Facebook-nya. Menurut teman sekolah pacar Kak Lita, pemuda itu pindah sekolah ke luar negeri.”

“Hanya gara-gara itu?” Arief kembali tergelak. Sama sekali tidak ada indikasi bahwa Lita terkena kutukan.

“Bukan hanya itu...!” Wajah Dini kembali berubah sangat provokatif. Menurut seorang kakek tua yang pernah ia jumpai di sebuah pohon beringin keramat, Dini diramalkan akan menjadi orang yang mampu mempengaruhi banyak orang. Entah itu memberi semangat saat berpidato, merayu seorang lelaki beristri, atau menjadi pembakar emosi para demonstran saat berdemo. Tidak hanya emosi yang bisa ia bakar, tetapi juga spanduk, foto, hingga ruko dan mobil.

“Meski temperamen pimred kita itu jelek, Tuhan menganugerahinya dengan paras dan penampilan yang menarik. Jangan kaget, Kak Lita pernah dekat dengan tiga pemuda setelah putus dengan pacar pertamanya.”

“Lalu...?” Meski terlihat acuh, Arief mulai terseret cerita Dini.

“Sayang, pemuda pertama babak belur dihajar preman saat mengajak Kak Lita jalan-jalan di malam Minggu. Dan setelah itu, ia tidak terlihat lagi. Sementara pemuda kedua, ditangkap polisi dan dipenjara belasan tahun karena kasus perampokan disertai pembunuhan. Pemuda kedua itu adalah preman yang menghajar pemuda pertama.”

Arief geleng-geleng. “Lalu pemuda ketiga?”

“Polisi reserse yang menangkap pemuda kedua. Padahal, ia baru dekat dengan Kak Lita, tapi akhirnya dipindahtugaskan ke Medan. Dan kabarnya di sana, ia sudah menikah sekarang.”

“Ouh...!” bibir Arief membulat.

“Sampai sekarang, kami masih belum percaya kutukan itu. Tapi Jesika dan teman-temannya selalu mengganggu Kak Lita, bahwa kutukan itu ada. Menurut mereka, kutukan itulah yang membuat kisah asmara Kak Lita selalu berakhir tak jelas. Mereka memanggil Kak Lita dengan sebutan ‘Pimred Terkutuk’.”

Arief mengurut dada. Tanpa ia dan Dini sadari, semakin lama Dini bercerita, semakin Lita menelungkupkan wajahnya di atas meja dan menutupnya dengan kedua tangan. Lalu tiba-tiba, ia berdiri dan berorasi mengagetkan Arief, memuntir kepala Dini.

“Akan kubuktikan bahwa kutukan itu tidak ada! Aku akan dapat pacar!”

Cowok mana yang mau Kak Lita sengsarakan?” sambar Dini.

Lita melengos. Dengan lenggang genit dibuat-buat, ia keluar dari ruang redaksi mading.

“Apa kalian selalu saling sindir begitu?” tanya Arief kemudian. Dini malah tertawa terpingkal-pingkal.

Bersambung....

Read previous post:  
Read next post:  
Writer panah hujan
panah hujan at Kutukan Pimred Mading (Bagian 1) (9 years 46 weeks ago)
70

Ckakakakakakakaka. Ini mah genre-nya udah enggak teenlit lagi. Ini udah masuk mitos! Logikaku gak jalan pas mikirin apa tujuannya sang penulis memberikan tiga pacar yang saling berkaitan untuk kak Lita. Pacar awal-preman yang menggebuki pacar awal-reserse yang menangkap preman yang menggebuki pacar awal. LOL. Gyahahahahahaha.

Writer 261184
261184 at Kutukan Pimred Mading (Bagian 1) (9 years 46 weeks ago)

w blom bs ngasih comen skarang....

Writer sekar88
sekar88 at Kutukan Pimred Mading (Bagian 1) (10 years 6 weeks ago)
80

Kasih poin ah Lanjutsss^^

Writer vaniamathilda
vaniamathilda at Kutukan Pimred Mading (Bagian 1) (10 years 11 weeks ago)
90

yaaaaaah.. mana lanjutannya?
lagi! lagi! lagi! lagi!!!

80

Ceritanya dirgita punya narasi yang enak dan mengalir, sama sekali nggak bikin bosan. Udah ada lanjutannya belum ya? Penasaran....

Writer Yugata
Yugata at Kutukan Pimred Mading (Bagian 1) (10 years 12 weeks ago)
100

Aku ikutan Penguin deh. LANJUTKAN!

Writer Penguin
Penguin at Kutukan Pimred Mading (Bagian 1) (10 years 13 weeks ago)
100

nggak banyak-banyak komen yang penting LANJUTKAN!

Writer icchan-chan
icchan-chan at Kutukan Pimred Mading (Bagian 1) (10 years 13 weeks ago)
90

Waiii .. Gita bikin cerita baru ga bilang-bilang.

kembali ke jalur mainstream nih ceritanya, wkwkkw ...
lucu nih ceritanya .. terutama ketiga mantan pacarnya

Writer dirgita
dirgita at Kutukan Pimred Mading (Bagian 1) (10 years 12 weeks ago)

Sewaktu menulis, tiba-tiba saja muncul ide untuk me-link mantan-mantan pacarnya Lita. Biar lebih tragis dan dramatis^^

Writer alcyon
alcyon at Kutukan Pimred Mading (Bagian 1) (10 years 13 weeks ago)
100

ahak! KUNYUK!
menghibur kak, suweer!

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Kutukan Pimred Mading (Bagian 1) (10 years 13 weeks ago)
90

LANJUTKAN...!

mantaplah, bikin penasaran, kocak punya! komikal abis.

salam kenal...

Writer Chie_chan
Chie_chan at Kutukan Pimred Mading (Bagian 1) (10 years 13 weeks ago)
90

ahaii... kak gita xDDD
rasanya ngalir dan enak dibaca. bikin nyengir2 sendiri pula. ahahah...
btw, menurut chie ini MEMANG kependekan. :)

Writer herjuno
herjuno at Kutukan Pimred Mading (Bagian 1) (10 years 13 weeks ago)
70

Ho...dirgita, konsisten dengan bahasa baku, ya? Jarang sekali aku melihat ada kata "pemuda" dalam dialog kisah-kisah yang bersetting di sekolah. Begitu pula dengan kata "cowok" yang ditulis miring. Tapi, silakan. Kalau urusan gaya bahasa, terserah kamu aja, sih! Lagipula idenya bagus, kok, ttg kutukan. Kita lihat sambungannya bareng-bareng, OK?

Writer Aussey
Aussey at Kutukan Pimred Mading (Bagian 1) (10 years 14 weeks ago)
80

ceritanya bikin penasaran tapi koq pendek yah XDD

lanjut aja dah....