Sand and Ocean <Memperkenalkan Mayo> Bagian 7

Sinar matahari kembali mengusik kesadaran Marina, matanya menyipit dan kemudian membuka. Samar-samar ia mengetahui tempat ia berbaring, di tempat yang sama ia bangun tadi pagi. Samar-samar juga nampak sosok Sam berbayang sedang duduk di sampingnya, menatapanya dengan penuh kekhawatiran.
Namun Marina kembali memejamkan matanya dengan kuat, menarik selimut menutupi kepalanya. Marina baru teringat apa yang baru saja dialaminya.

“Rin…buka mata mu…jangan takut…Ada aku disini” Ujar Sam berusaha menenangkan Marina.

“Tapi Sam, ada….”

“Rine, Jangan khawatir…..” Sam terus berusaha menenangkan.

“Hua Ha…Ha…Ha” Suara tawa menyeramkan itu tiba-tiba terdengar lagi.

Marina pun menjerit-jerit ketakutan lagi.

“Yo, hentikan!” Tegur Sam kepada suara tanpa ujud itu.

Marina benar-benar tidak mau keluar dari selimutnya.

“Rine tenang, suara tertawa konyol itu milik Mayo, saudara ku, ia mempermainkan mu” Sam mencoba menjelaskan dan menenangkan.

“Ya benar, mana ada hantu di tempat ini” Suara tanpa ujud itu menimpali.

Mendengar suara itu lagi, Marina terus gusar dibuatnya,

“Yo..diam dulu” Seru Sam kepada suara tak berujud yang bernama Mayo itu.

“Okay..okay..aku hanya tidak mau dikira hantu terus-terusan Sam, aku hanya…” Suara tanpa ujud itu berusaha memberi alasan namun tak selesai setelah melihat tatapan tajam Sam yang menusuk yang seperti menyuruhnya untuk benar-benar menutup mulutnya.

“Percayalah kepada ku Rine, tidak ada hal buruk yang akan terjadi pada mu…” Sam terus berusaha meyakinkan.

Marina tidak menggubrisnya, ia masih diam ketakutan di balik selimutnya itu.

“Rine…ada aku disini bersama mu” Bujuk Sam untuk kesekian kalinya dengan sungguh-sungguh.

Marina diam dan tenang, ketakutannya perlahan menghilang, entah bagaimana bisa, Marina seperti selalu percaya begitu saja kepada Samudera.

“Yo, cepat kamu meminta maaf..” Perintah Sam kepada sosok tak berujud yang disebut sebagai saudaranya itu.

“Bagaimana bisa aku memohon maaf kalau kau tadi menyuruh ku diam Sam” Suara tak berujud itu menjawab sekenanya.

Sam mendelik dan menatapnya Saudaranya itu dengan tajam.

“Baiklah…baiklah, nona, aku meminta maaf, benar-benar meminta maaf” Suara itu memohon.

Di balik selimutnya Marina mendengar permohonan maaf suara itu dengan ragu, suara tanpa ujud itu sekarang terdengar tidak menyeramkan lagi. Terdengar seperti suara pemuda biasa, pemuda yang tengil dan suka usil tapinya. Marina pun memberanikan diri untuk keluar dari persembunyiannya.
Sam lega melihatnya.

“Mayo sini, biar ku perkenalkan sekali lagi” Perintah Sam kepada suara tanpa ujud itu.

“Marina perkenalkan, ini Mayo adik ku, ia sekarang sedang mengulurkan tangannya” Sam mencoba menjelaskan.

Marina mencoba menyambut jabatan tangan tak terlihat tersebut dengan mengira-ngira.

“Sekarang ia ada di depan mu Rine…nah itu” Sam mengarahkan.
Marina merasakan tangannya seperti di jabat dan diayunkan lalu dilepas oleh tangan tak terlihat itu.

“Mayo…” Suara tanpa ujud itu memperkenalkan dirinya.

“Marina” Marina juga memperkenalkan dirinya sembari tersenyum dan mencoba dengan janggalnya melihat ke depan seolah ada seseorang di hadapannya.

“Sekarang ia mencoba mencium pipi mu…mencium pipi mu!” Sam terlambat buat mengingatkan, Marina merasakan ada sesuatu yang lembut menyentuh pipinya.

“Plak!” Satu tamparan refleks mengenai sesuatu di hadapan Marina yang kaget pipinya tahu-tahu sudah dicium cowok kurang ajar tak berujud.

Suara mengaduh terdengar.

Sam juga tidak ketinggalan, ia tendang pantat saudara yang di antara ia dan Marina itu sampai tersungkur mencium lantai.

Di atas lantai itu, sosok tanpa ujud itu bukannya marah, justru tertawa tergelak-gelak berguling-guling karena merasa berhasil mempermainkan tamu mereka.

Marina masih menggosok-gosok pipinya dengan memasang wajah jijik karena telah dicium diam-diam oleh makhluk tak berujud yang bernama Mayo itu.

“Maaf kan saudara ku Rine..karena telah berbuat kurang ajar…” Sam masih merasa bersalah dibuatnya.

Marina tidak menjawab, hanya mengangguk-angguk dan memasang senyum kecut masih tak rela.

Sementara di atas lantai masih terdengar suara berguling-guling dan suara tertawa makhluk tak berujud itu.

“Untuk orang yang tidak terlihat…Saudara mu berisik sekali ya Sam” Komentar Marina.

“Ha..ha…iya…” Sam tidak menyangkalnya, ia mengenal saudaranya ini dengan baik. Sam mengerti, dengan kondisi tubuh saudaranya itu yang tidak terlihat, kecuali oleh Sam, hanya dengan membuat gaduh Mayo bisa memperlihatkan keberadaannya di lingkungan mereka.

“Bagaimana bisa…saudara mu tidak terlihat Sam..” Tanya Marina lagi dengan polosnya.

“Ya..aku pun suka menanyakan hal yang sama..” Timpal Mayo, si pemilik suara tak berujud itu usil.

Sam tidak begitu yakin bisa memberi jawaban dengan tepat kepada seseorang dari negeri seberang seperti Marina.

“Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, hanya saja, nampaknya kami berbeda dengan manusia yang kamu ketahui Rine” Sam mencoba menjelaskan dengan ragu.

“Pulau apa ini sebenarnya?” Tanya Marina lagi.

“Pulau ini tak bernama, di seberang tempat asal mu. Tak nampak, kecuali disaat kami menginginkannya, seperti ketika kami menginginkan seseorang seperti diri mu untuk ke tempat ini” Jelas Sam lagi.

“Menginginkan orang seperti diri ku? Untuk apa?”

“Saat ini seperti yang kamu ketahui Rine, untuk menjadi petugas kesehatan di tempat ini” Jawab Sam.

Marina masih bertanya-tanya dan berprasangka di dalam benaknya, sepertinya ada yang tidak mau diberitahukan oleh Sam kepadanya.

“Oleh karena itu, tujuan ku kesini sebenarnya, untuk menyampaikan pesan Bunda agar kau memulai tugas mu di pulau ini segera”

“Tugas?”

“Iya, sebagai petugas kesehatan, ada keluhan dari beberapa penduduk kampung di pinggir sebelah ujung pulau ini yang sepertinya terserang sakit” Sam menjelaskan tugas yang harus dijalankan Marina.

“Sakit? Apakah seperti yang tadi malam?” Marina agak bergidik khawatir.

“Tidak-tidak, bukan seperti malam itu, ini hanya penyakit biasa yang kemungkinan besar sering kamu lihat di tempat asal mu” Jelas Sam yang menangkap kekhawatiran Marina.

Marina bernafas dengan lega mendengarnya.

“Kenapa tidak Bunda saja?” Tanya Marina teringat dengan kemampuan Bunda.

“Tidak bisa, Bunda saat ini hanya mampu menyembuhkan sekali dalam 15 hari. Untuk lebih jelasnya, Bunda berjanji akan menjelaskan kepada mu setelah tugasnya selesai”

“Mayo akan membantu membawa barang-barang yang kau perlukan, ia juga akan menunjukan jalan menuju tempat yang kamu tuju Rine” Jelas Sam lagi.

“Siap pak!” Sergah Mayo mengejek saudaranya.

Marina tidak bisa membayangkan, ditunjukan arah dan jalan dari seseorang yang tidak kelihatan, tapi juga ia tidak meminta banyak.

“Kenapa tidak dengan diri mu saja Sam?” Pinta Marina malu-malu.

“Maaf kali ini aku tidak bisa, ada keperluan yang berkaitan dengan yang terjadi tadi malam Rine” Sam dengan berat menolaknya, sebenarnya ia juga senang jika harus menemani Marina nanti.

“Sudahlah jangan khawatir! Memangnya cuma Sam laki-laki perkasa disini huh!” Mayo merasa agak tersinggung seperti tidak dianggap.

Marina jadi tidak enak hati dibuatnya.

“Ya Rine, Mayo akan melindungi mu seperti aku melindungi mu jangan khawatir” Sam meyakinkan Marina.

Marina tidak bisa menolak lagi, ia kembali hanya tersenyum kecut, agak kecewa, Sam bukan tidak menyadarinya.

“Baiklah, kita berpisah sekarang, setelah tugas selesai, temui aku di tepi pantai di depan sini, baru setelah itu kita akan bersama-sama ke tempat Bunda”

Marina pun mengangguk kecil menyanggupi.

Hari kedua setelah hari sebelumnya yang luar biasa membingungkan sekaligus menarik. Hari ini, Marina akhirnya menjalankan tugas pertama di pulau yang mistis ini sebagai petugas kesehatan,.

Read previous post:  
7
points
(1103 kata) dikirim Redo Rizaldi 9 years 31 weeks yg lalu
35
Tags: Cerita | non fiksi | Lautan | pagi | Pantai | pasir | Samudera
Read next post: