dalam bayang Bayangan

Aku dikejar bayanganku. Bayangan yang selalu muncul dalam warna hitam itu kurasa mendelik padaku. Awalnya aku tidak takut pada tatapan sinis bayanganku sendiri. Namun kini, aku harus selalu waspada agar bayanganku tidak melukaiku.

Kemarin, baru saja kemarin, aku dijegal oleh bayanganku sendiri hingga aku masuk ke kali. Hari sebelumnya, aku dibuat tidak bisa tidur karena bayanganku terus-terusan memanggilku. Bukan memanggilku, lebih tepatnya memakiku.

Aku sekarang berharap diciptakan tanpa bayangan. Aku mulai muak tiap saat harus mengawasi bayanganku sendiri. Dia yang selalu muncul saat ada cahaya. Selalu hadir tanpa bisa kutolak. Selalu mendelik menatap jijik padaku.

Kini aku berteman dengan kegelapan. Di mana bayangan tidak dapat mengikutiku. Sayangnya kegelapan makin sukar kutemukan. Lampu sialan selalu saja ada di semua tempat. Dari pinggir jalan, kampung hingga perkotaan. Aku jarang dapat kesempatan untuk lolos dari bayanganku. Ditambah lagi aku harus bekerja untuk dapat hidup.

Pekerjaan. Sebuah rutinitas menjemukan yang tiap hari harus kujalani. Tentu saja aku cari pekerjaan dalam kegelapan, agar dapat menghindar dari tatap menyakitkan bayangan. Paling tidak dalam remang-remang malam, agar tatap itu tersamarkan. Jadilah aku wanita malam, dengan Tina sebagai nama panggilan.

Tina hanya sekadar panggilan agar pelanggan gampang menemukan. Agar teman, atau lebih tepatnya saingan, dapat memanggil dengan sapaan. Bukan hanya hah heh atau kamu dengan nada ejekan. Tina juga sekadar sebutan agar polisi atau keamanan tidak mudah menemukan. Tidak ada dalam catatan sipil di kelurahan.

Hari ini aku berencana membunuh bayanganku. Aku sudah tidak sanggup lagi terus-terusan dicemooh, dihina, dan dinistakan. Aku rencanakan dalam malam terkelam akan kutikam bayanganku dari belakang. Segala makian harus kuhentikan.

Sebenarnya aku tidak akan terlalu memikirkan jika bayanganku masih seperti bayangan kebanyakan. Diam. Walau tatapan menghina terus saja dia lakukan, selama dia bersedia diam hal ini tidak akan aku lakukan. Tengah malam barusan aku keluarkan pisau yang kuselipkan di pinggang. Kutusukkan tepat di jantung bayanganku sesaat setelah lampu kunyalakan.

Sakit kurasakan. Darah segar mengalir dari pisau yang tertancap di dada sebelah kanan. Meskipun demikian aku dapat tersenyum senang. Bayangan itu dapat aku leyapkan. Dalam rasa kantuk berat yang tiba-tiba aku rasakan, lamat-lamat masih dapat kudengar suara bayanganku.

“Tono, insyaflah… Ajal menjelang…”

(Bintaro, 26 Februari 2010)

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer dirgita
dirgita at dalam bayang Bayangan (9 years 27 weeks ago)
80

Di saat aku menghadap ke cermin, bukan sosok pendekar silat yang kudambakan yang tampak. Tapi sosok lain yang membuatku takut keluar rumah. Ihiks...~.~

Writer mailindra
mailindra at dalam bayang Bayangan (9 years 28 weeks ago)
60

Show, don't tell.
Biasanya kamu sukses menggarapnya, Mam. Tapi tidak di sini. Hilang semua.

Writer just_hammam
just_hammam at dalam bayang Bayangan (9 years 27 weeks ago)

huhhuhu...maaf mas...
mungkin karena sekarang tidak sempet menggarap...hhiks

Writer just_hammam
just_hammam at dalam bayang Bayangan (9 years 28 weeks ago)

Andai dikembangkan lagi bisa lebih baik, namun ada juga kemungkinan jadi lebih buruk...
Aku lebih nyaman dengan cerita (sangat) pendek.
Trims....
:D

Writer Rijon
Rijon at dalam bayang Bayangan (9 years 28 weeks ago)
80

Sayang sekali ceritanya berakhir terlalu cepat. Andai saja bisa dikembangkan lagi.

Mungkin pernah baca cerpen Sinai? Bisa jadi contoh bagus buat cerita ini. Kurasa temanya hampir serupa.

:P

Writer just_hammam
just_hammam at dalam bayang Bayangan (9 years 28 weeks ago)

hehehe...senang endingnya bisa menghibur...

Writer Maximus
Maximus at dalam bayang Bayangan (9 years 28 weeks ago)
90

LoL, endingnya twist , gak nyangka klw si Tina tu banci hehe

Writer just_hammam
just_hammam at dalam bayang Bayangan (9 years 28 weeks ago)

betul sekali...terima kasih atas masukannya... :D

Writer on3th1ng
on3th1ng at dalam bayang Bayangan (9 years 28 weeks ago)
60

klo Tono jadi Tini kayaknya lebih sreg deh om :p

Writer just_hammam
just_hammam at dalam bayang Bayangan (9 years 28 weeks ago)

yup...semoga kamu "nangkep" maksudku bung penguin... :D

Writer Penguin
Penguin at dalam bayang Bayangan (9 years 28 weeks ago)
100

Tina = Tono?