Circus is Over

Aku heran, kenapa Ayah tertawa? apa sih yang lucu?

Hari ini adalah salah satu dari sekian banyak hari, dimana aku pulang sambil menangis. Seperti biasanya, aku menangis disebabkan hal yang sama. Ada ribuan alasan di dunia ini yang bisa membuatku menangis, tapi hanya masalah ini yang mengikutiku kemana-mana. Rekan sekolah. Ya, rekan sekolah bagiku adalah masalah.

Aku sering pindah sekolah karena pekerjaan Ayah yang mengharuskan kami berdua berpindah-pindah tepat tinggal. Dalam 8 tahun, kami sudah pindah rumah 9 kali. Aku benci ini. Tapi karena tidak ada ibu yang mau menemaniku tinggal di satu tempat, aku terpaksa mengikutinya. Aneh juga sebenarnya, karena Ayah seakan terus dilempar-lempar oleh tempatnya bekerja.

Setiap kali kami akan pindah, Ayah selalu berkata padaku bahwa aku akan mendapat teman baru, lingkungan baru, suasana baru dan hidup baru di tempat baru kami. Ya, Ayah benar, kecuali satu hal: Teman baru. Aku hanya menemukan musuh baru dimana-mana. Aku tidak menemukan anak-anak yang sopan dan baik sejauh ini, hanya anak-anak yang bisanya menggencet rekan sekolahnya yang terlihat lemah.

Ya, maksudnya menggencetku.

Tapi aku heran, Ayah seperti tidak mengambil tindakan. Aku semakin heran ketika ia malah tertawa ketika aku menceritakan bagaimana mereka menyergapku saat aku sedang berjalan ke kantin dan menurunkan celanaku di depan siswa lainnya.

"Apa yang lucu?" tanyaku.

Ayah mengusap air matanya yang keluar karena saking kerasnya tertawa. "Nak," Ayah memulai, tapi kemudian tertawa lagi.

"Oh, maaf, nak. Tapi Ayah jadi ingat masa lalu" kata Ayah setelah tawanya reda. "Ayah ingat dulu Ayah juga melakukan hal serupa: Ayah, bersama teman-teman Ayah, pernah menyergap rekan sekolah kami ketika ia sedang pipis di toilet, dan kemudian menyeretnya ke tengah lapangan. Anak itu menangis sejadi-jadinya sementara pipis-nya masih keluar" Kemudian Ayah tertawa keras lagi.

Aku syok "Jadi Ayah juga dulu seperti mereka? Kejam kepada rekan sesama murid?" kataku jijik. Aku tidak menyangka Ayahku tega melakukan itu.

"Ya ampun, nak..." Ayah meredakan tawanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya "waktu itu Ayah masih anak-anak, masih 14 tahun..."

"Aku 14!" kataku tersinggung.

"Ya, itu yang Ayah mau bilang" Ayah melanjutkan "14 tahun, mungkin masih merupakan usia dimana anak sedang nakal-nakalnya. Perbuatan Ayah dan teman-teman Ayah dulu tidak bermaksud jahat. Kami hanya bercanda. Kebetulan saja, selera humor kami agak buruk" kata Ayah.

Tapi rasa jijikku kepada Ayah belum hilang "Jadi menurut Ayah, mereka yang mengerjaiku itu hanya bercanda? mempermalukan aku di depan seluruh rekan sekolah dan menganggapnya sebagai lelucon?"

"Ya!" Ayah terlihat senang aku mengerti dengan cepat. "Maksud Ayah begitu.."

"Apa Ayah tidak pernah berpikir bagaimana rasanya jadi bahan bercandaan?"

Sepertinya nada bicaraku agak keras, karena Ayah terlihat kaget. Tapi aku tidak peduli, aku melanjutkan kata-kataku.

"Apa Ayah tidak pernah berpikir bagaimana rasanya menjadi orang yang Ayah kerjai? Jadi bahan lelucon? Apa Ayah tidak pernah membayangkan rasanya menjadi rekan Ayah itu, yang diseret ke tengah lapangan? Apa Ayah tidak coba berpikir, bagaimana kalau aku, anak Ayah sendiri, yang Ayah kerjai seperti itu? Atau Ayah memang tidak bisa berpikir saat itu, karena Ayah masih 14 tahun?"

"nak..."

"Ayah tidak berpikir, kan? Seperti yang Ayah bilang: '14 tahun, mungkin masih nakal-nakalnya' dan kemudian menjadikannya pembenaran atas semua tindakan Ayah dulu, dengan begitu Ayah juga membenarkan tindakan rekan sekolahku sekarang, kan"

"Cukup!" Ayah membentakku, membuatku berhenti bicara tapi tidak menghentikanku mendelik marah padanya.

"Nak, bukan salah mereka kalau mereka selalu mengerjaimu!" kata Ayah "Ayah tidak membenarkan perbuatan mereka, ataupun perbuatan Ayah dulu, tapi Ayah akan katakan: Mereka mengerjaimu karena mereka berpikir kau adalah anak yang lemah! Penampilanmu, caramu bersikap, menunjukan kelemahan-kelemahan yang tidak seharusnya ditunjukan oleh seorang pria sejati!"

Aku merasa ada yang menggelegak dalam diriku. "Ayah mengataiku banci?" teriakku marah.

"Bukan itu maksud Ayah!" Ayah ikut berteriak "tapi ya, kau belum menjadi pria sejati! Pria sejati tidak menangis ketika ditekan! Tidak mengadu setiap kali ada masalah! Pria sejati selalu menyelesaikan masalahnya sendiri, tanpa tergantung orang lain!"

Ayah bernafas cepat seakan ia baru berhenti berlari. Sementara itu, aku menangis lagi. Diteriaki, ditekan atau dihina oleh orang lain mungkin bisa kuterima, tapi oleh Ayah sendiri? Aku tidak akan menerimanya, tidak akan pernah...

Mungkin Ayah mengetahui apa yang ada dalam pikiranku, karena kemudian ia bicara lagi, dengan nada lembutnya yang biasa "Nak, Ayah tidak bermaksud mengataimu banci, bukan pria, atau apapun yang mungkin ada dalam pikiranmu" kata Ayah. "Ayah hanya ingin kau menjadi pria yang kuat, yang tegar menghadapi cobaan. Pria yang bisa memecahkan masalahnya sendiri" lanjutnya "Kau tahu, kan? itu juga yang pasti diinginkan oleh almarhumah ibumu..."

"Jangan bawa-bawa Ibu" kataku tegas "Jangan berkata seakan Ayah tahu apa yang ada dipikiran Ibu."

Ayah menghela napas "Nak, jangan berpikir bagitu. Ibumu pasti...."

"Sudah kubilang, jangan bawa-bawa Ibu. Ibu sudah mati, tidak ada disini untuk memberi pendapat." kataku, masih sesegukan. "Selain itu, Ayah tidak usah memikirkan apa yang kupikirkan. Bukankah anak 14 tahun masih belum berpikir?"

"Nak..."

"Aku mau belajar. Besok ujian." Aku menutup obrolan tidak menyenangkan ini dengan melangkah masuk ke kamar. Ayah tidak bicara apa-apa lagi. Di kamar, aku melanjutkan tangisanku.

====================================================================

"HA! Minta ampun, nggak? Cepat minta ampun!"

Tapi aku hanya bisa menangis, walaupun kali ini aku diseret ke gerbang dan kemejaku dikaitkan ke pagar. Aku tidak bisa melawan. Bagaimana caranya melawan delapan siswa biadab yang badannya dua kali lebih besar dariku?

"Yah, nangis lagi dia!" kata salah satu dari mereka "Ah, nggak asik nih. Masa kali ini baru digantung saja sudah nangis? Kita kan belum buka celananya!"

Mereka tertawa. Tunggu, bukan hanya mereka, tapi semua orang disitu...

Salah satu dari mereka menggoyangkan pagar sekolah dan kemudian bicara "Eh, sepatu ini baru gue beli. Lo seenaknya saja nginjek sepatu gue ini. Kotorkan jadinya!" Ia dan teman-temannya tertawa lagi. Ia kemudian melepas sepatu kirinya dan kemudian mengulurkannya ke mukaku. "Ini! Cepat bersihkan!"

Aku mengangkat tanganku, tapi ia menepisnya "Bukan, tolol! Jilat!" katanya diikuti sorakan dari teman-temannya.

Kemana semua guru? Apa yang bisa dilakukan para guru itu selain rapat menentukan besarnya biaya SPP? Kenapa tidak ada satupun guru yang memergoki kejadian ini sejak tadi? Aku memikirkan banyak hal sekarang, untuk mengeluarkanku dai keadaan ini, tapi entah mengapa ada salah satu alternatif yang muncul di kepalaku sementara aku sendiri benci memikirkannya.

Sementara itu, sepatu itu sudah disodorkan ke mulutku.

"Ayo jilat!" kata anak tadi. Aku menyadari, kini bukan cuma teman-temannya yang menyorakiku, menyuruhku untuk menjilat sepatunya, tapi juga seluruh penonton kekejaman ini. Apa sih yang mereka pikirkan? Apakah bagi mereka aku seperti hewan sirkus yang layak dicambuk hanya karena terpeleset? Kalau ya, mana orang yang menjual tiketnya?

Aku meludah, mengenai sepatu itu lagi. Marah, anak tadi menamparku dengan sepatunya. "Kurang ajar, lo! Berani ngeludahin sepatu gue!" dan ia kemudian meludahi mukaku.

Aku merasakan ada yang menggelegak dalam diriku. Hentikan ini, kumohon... aku tidak ingin...

"Hentikan... aku tidak mau..." aku berkata lemah.

Sekarang mereka tertawa semakin keras "Nah! Begitu dong! Ayo minta ampun ke kita! Mungkin lo bakal kita ampunin! Tapi mungkin, loh, gue nggak janji." Kata salah satu dari mereka.

Aku menangis lagi. Aku tahu aku harusnya jadi kuat, tapi aku tidak bisa melawan kali ini. Aku menggoyang-goyangkan pagar. Semakin lama semakin kuat sehingga salah satu dari mereka memegangi pagar agar suaranya tidak semakin keras.

"Berhenti, tolol!" katanya "Nanti guru-guru dengar!"

Tapi aku tidak berhenti. Aku harus pergi dari sini!

Anak yang tadi menyuruhku menjilat sepatunya, sekarang memegangi bahuku, dan kemudian menonjok perut dengan keras. "Sialan lo, ya! Lo mau ngadu ke guru? Banci, lo!"

Kata-kata terakhirnya seperti melempar korek api ke tangki minyak. Aku menggoyangkan pagar lebih keras, sehingga bunyi deritnya semakin mengerikan. Aku memegangi tiang-tiang pagar dan menambah kekuatan. Anak tadi terus memukuliku, berharap aku berhenti. Tapi aku malah semakin keras menggoyangkan pagar tempatku dikaitkan.

"Hei! Ada apa ini! Apa yang kalian lakukan!"

Seorang guru berlari menghampiri acara sirkus manusia ini. Guru itu sepertinya ngeri menyadari apa yang terjadi disini. Para penggencetku sudah bersiap lari. Tapi anak-anak itu terlambat. Guru itu terlambat. Mereka semua terlambat.

Pagar roboh. Aku melepaskan diri. Semuanya terasa seperti diputar lambat ketika tanganku bergerak mendekati dada kiri anak yang memukuliku...

====================================================================

Aku baru selesai menulisi dinding. Aku memandangi tulisan yang kubuat. Cukup besar, sehingga aku yakin semua orang bisa membacanya. Aku tersenyum senang. Belum pernah aku merasa sebahagia ini.

Biasanya, kalau ada yang siswa ketahuan mencoret-coret dinding sekolah dengan cat semprot, siswa tersebut akan dikeluarkan atau minimal diskors. Tapi aku tidak peduli. Toh aku bukannya mencoret dinding dengan cat semprot.

Selain itu, sekarang sudah tidak ada lagi orang disini.

Aku berbalik, menunggu sesorang datang. Aku memandangi kedelapan anak yang biasa menggencetku. Untuk pertama kalinya, aku tersenyum pada mereka. Aku tidak menangis lagi melihat mereka.

Ya, tentu saja. Mereka sudah tidak bisa lagi menggencetku. Tidak dengan tangan yang terpelintir terbalik keluar dari sendinya. Tidak dengan kemaluan yang berdarah terpotong. Tidak dengan kaki yang kehilangan tubuhnya. Terutama, tidak dengan tubuhnya yang telah kehilangan jantungnya.

Aku membalikkan tubuh salah satu dari mereka agar menghadap kepadaku. Aku tersenyum semakin lebar. Di dada kirinya, kini terlihat lebih merah daripada daging yang biasa dimasak Ayah. Masih banyak darah yang keluar dari lubang itu, lubang dimana seharusnya jantung terletak.

Dibelakangku, puluhan jantung yang kuambil paksa dari pemiliknya, menumpuk segunung.

Sirine terdengar. Akhirnya, mereka tiba! Apa mereka membawanya, seperti yang kuharapkan? Oh, mereka membawanya! Mereka bersama Ayah!

Lima orang polisi berseragam lengkap memasuki kawasan sekolah. Diantara mereka, ada Ayah. Aku tersenyum. Di wajah mereka, terukir rasa takjub bercampur ngeri memandangi sekitar. Aku tidak akan heran kali ini. Kalau aku jadi mereka, aku juga akan takjub melihat betapa banyaknya tubuh tanpa jantung yang terbaring dengan mata melotot dan mulut menganga. Semuanya, mengarah kepada bukti bahwa aku telah mengambil jantung mereka ketika mereka masih bernapas.

Salah satu dari mereka menodongkan pistolnya, tapi tidak berani mendekat "Angkat tanganmu!".

"Angkat tangan", seakan dia bisa memerintahku saja! Tapi aku menurut. Bukankah aku anak yang baik?

"Tidak! tunggu Herik!" kata Ayah "Dia anakku!"

Ayah menyimpan pistolnya, tetapi polisi-polisi itu tidak menirunya. Ayah berjalan mendekatiku, sementara aku menurunkan tanganku.

"Hai, Ayah." Sapaku "Suka dekorasinya?"

Ayah berjalan mendekatiku "Nak... kau mengenali Ayah, kan? Ini Ayah, nak..."

"Tentu saja aku mengenali Ayah" kataku dingin "kalau tidak untuk apa tadi aku memanggil 'Ayah'? Jangan bodoh, Yah, ini masih aku" kataku tersenyum.

Sepertinya, Ayah malah semakin percaya bahwa aku bukan anaknya. Aku menghela napas. "Kenapa Ayah? Apa yang salah? Bukankah ini yang Ayah mau?"

Ayah terlihat bingung, tapi aku segera menjelaskan "Bukankah Ayah ingin aku menjadi anak yang kuat? Pria sejati? tidak menangis? tidak mengadu? menyelesaikan masalah sendiri?" senyum menghilang dari wajahku. "Aku sudah melakukannya, Yah. Aku sudah jadi anak yang kuat, tegar. Aku menyelesaikan masalahku sendiri. Lihat! Sudah tidak ada lagi masalah! Aku sudah menyelesaikannya!"

Ayah terlihat semakin ngeri. Ia kemudian berkata "Nak! Bukan ini yang Ayah maksud! Apa kau tidak memahami apa yang Ayah katakan kemarin?" kata Ayah.

"Sebaliknya, aku sangat paham." Kataku "Ayah menganggap mereka bercanda, kan? Kami hanya anak 14 tahun, jadi segala tindakan kami tidak dipikirkan masak-masak, itu menurut Ayah, kan?" kataku.

"Mereka, anak-anak ini, menertawakan apa yang mereka anggap lucu, walaupun itu sebenarnya menyakiti orang lain. Ya, betul. Mereka cuma bercanda. Kalau mereka cuma bercanda, maka aku juga cuma bercanda sekarang!" aku melangkah mendekati salah satu mayat siswa yang kupatahkan lehernya, mengangkat tubuhnya, dan mengaitkan kemejanya di pagar. "Lihat Yah! Aku bercanda! Kenapa Ayah tidak tertawa? Mereka saja tertawa ketika aku diperlakukan seperi ini!"

"Nak..." kata Ayah "Apa kau... apa kau tidak memikirkan bagaimana mereka..."

"Jangan mengulang kata-kataku kemarin, Yah. Ayah kurang kreatif." kataku "Lagipula, aku sudah memikirkannya! Walaupun Ayah kira anak 14 tahun sepertiku tidak berpikir, aku berpikir! Siapa lagi yang tahu bagaimana rasanya dipermalukan di depan umum, selain si korban sendiri? Aku tahu rasanya, dan jujur, ternyata memang itu lucu!" Aku menonjok keras perut siswa yang kugantung tadi. Terdengar bunyi pecah. "Ow, sepertinya aku memecahkan lambung-nya!"

Aku tertawa terbahak-bahak. Ya, belum pernah aku sebahagia ini!

Aku meredakan tawaku. Kembali diam, sebelum akhirnya melanjutkan "Aku paham, Yah. Aku sangat paham. Aku sangat memahami bahwa Ayah sesungguhnya tidak pernah memahamiku."

Aku berbalik, menghadap Ayahku lagi. Ia sepertinya menangis. "Kenapa Ayah menangis? Bukankah Ayah bilang, pria sejati tidak menangis? Aku sudah tidak menangis lagi, Ayah... jadi kenapa Ayah menangis?"

Ayah menghapus air matanya dan berkata "Maafkan Ayah, nak... Ayah sudah salah mengasuhmu" kata Ayah "Seharusnya Ayah tidak pernah mengatakan hal-hal itu kepadamu, seharusnya Ayah lebih memahamimu, seharusnya Ayah..."

"Seharusnya, seharusnya, seharusnya, seharusnya yang tidak ada habisnya" potongku "Seharusnya, Ayah tidak usah mengasuhku."

Ayah menangis lagi "Hentikan semua ini, nak" kata Ayah "Hentikan, dan kembalilah menjadi anak Ayah yang dulu. Ayah menerimamu apa adanya. Ayo nak..."

"Ayah terlambat" kataku "Sama terlambatnya dengan guru ini. Ya kan, pak?" aku menendang tubuh seorang guru yang tadi datang berlari. "Ya kan Pak? Bapak tadi terlambat kan? Coba kalau bapak lebih perhatian, pasti bapak sekarang sedang diskusi dengan Ayah saya! Sekarang bapak mau diskusi, tidak?" aku kemudian memandang sekitar, dan menunjuk ke tiang bendera. "Sepertinya bapak tidak bisa mendengar saya, karena kepala bapak tersangkut di tiang bendera."

"Nak! Hentikan! ibumu..."

"Harus berapa kali kubilang," kataku dingin sambil melangkah mendekati Ayah, menginjak hidung seorang penggencetku sampai patah, "jangan bawa-bawa ibu. Ibu sudah mati."

Aku kini berdiri berhadapan dengan Ayah. Aku baru sadar, tubuhku sudah hampir sama tinggi dengannya. Delapan tahun terasa cepat ya?

"Nak," Ayah bicara lagi sambil memegan bahuku "Kita pulang ya, nak? kita lupakan semua ini, kita mulai lagi dari awal. Ayah minta maaf, Ayah berjanji akan lebih memperhatikanmu. Kau mau, ya?" Ayah berusaha tersenyum, tapi aku tahu senyumnya bukan karena bahagia "Ayo kita pulang, nak. Ini semua sudah selesai..."

Ayah memelukku. Ia menangis, tapi aku sudah tidak bisa menangis lagi. Aku tidak percaya padanya. Dimana lagi tempat yang pantas buatku? Bukan, sudah pasti bukan rumah. Pasti tempat lain. Aku tidak mau.

Aku melepas pelukan Ayahku. "Ibu sudah mati," kataku "dan Ayah juga."

Tanganku bergerak menerjang dada kiri Ayah. Terdengar bunyi derak keras, robekan, jeritan dan terakhir letusan pistol...

====================================================================

"Aku... tidak percaya ini..."

Herik dan ketiga polisi lainnya mendekati kedua mayat terkahir, mayat seorang ayah dan seorang anak. Tubuh sang ayah sudah kehilangan jantungnya, tapi matanya masih memperlihatkan kengerian tak terkira saat hidupnya diakhiri oleh anaknya sendiri.

"Kau melihatnya juga, kan?" kata seorang polisi lainnya "Bagaimana tangan anak itu menembus tulang rusuk sersan Hanif? Itu... bagaimana mungkin!"

"Tentu saja!" kata polisi yang lain. "Kukira ini hanya terjadi di film-film, bahwa amarah bisa melipatgandakan kekuatan seseorang melampaui normal. Tapi setelah aku melihat tempat ini..."

"Cukup Fadil" kata Herik sambil memasang pengaman pistolnya "Ini memang kejadian yang tidak normal, tapi bukan berarti kita harus membahasnya disini." Teman-temannya ikut memasang pengaman pistol mereka dan menyimpannya. Herik memandang berkeliling dan pandangannya terpaku pada tulisan di dinding.

"Ya, itu mengerikan" kata Fadil. "Siapa menyangka anak 14 tahun bisa mencopot jantung orang dan menggunakannya sebagai pensil warna? Ini kasus unik."

Herik mengangguk. Ia kemudian berbalik menghadap rekan-rekannya. "Baiklah, karena sersan sudah tidak ada, sepertinya aku yang membuat keputusan sekarang." Herik berpikir sebentar sebelum melanjutkan "Segera tutup tempat ini dan panggil tim forensik. Kita akan membuat laporan tentang kasus ini untuk ditindaklanjuti."

Salah satu polisi segera kembali ke mobil untuk mengambil pita dilarang melintas. Sementara itu, polisi yang lain menelepon tim forensik. Herik mencatat beberapa hal dalam buku catatannya.

"Eh, Herik, aku mau tanya" kata Fadil "Pernah tidak kau menonton film The Fury dan The Rage? "

"Film tahun 80an itu?" kata Herik tanpa memandang Fadil "Aku pernah nonton The Rage dan aku tidak suka. Kalau The Fury aku belum pernah nonton." Herik selesai mencatat, ia kemudian menangkat mukanya "Kenapa?"

Herik heran, karena Fadil sedikit mundur. "Aku pernah nonton keduanya. Dalam film-film itu diceritakan bahwa rasa marah orang yang tertindas bisa memberikannya kekuatan yang besar, hampir supranatural." kata Fadil sambil mengeluarkan pistolnya "Sekilas disebut dalam film The Fury, bahwa manusia bisa hidup hanya karena rasa marahnya."

"Jadi?" tanya Herik.

"Kau tahu," kata Fadil, membuka pengaman pistolnya dan mengarahkannya, diikuti oleh polisi yang satu lagi, "Aku benci kalau itu benar."

Mengikuti arah moncong pistol kedua rekannya, Herik melihat ke belakang ke arah mayat si anak tadi, dan refleks menjauh.

Anak tadi telah berdiri, dengan jantung sang ayah digenggam ditangan kanannya, berlumuran darah disekujur tubuhnya, tersenyum dan menatap para polisi dengan tatapannya yang dingin, dengan dilatar belakangi tulisan di dinding yang ditulis dengan darah:

CIRCUS IS OVER. PLEASE CHECK YOUR LOAD BEFORE YOU LEAVE.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer just_hammam
just_hammam at Circus is Over (7 years 42 weeks ago)
70

Cerpen recomended by Kika
http://www.kners.com/showthread.php?t=1270&page=4
.
Sadis....

Writer Sam_Riilme
Sam_Riilme at Circus is Over (7 years 44 weeks ago)
100

Saya harus bisa bikin cerita kayak gini~!!!!!!!!!!!

Writer Riesling
Riesling at Circus is Over (8 years 1 week ago)
100

a yummy story <3

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Circus is Over (8 years 3 weeks ago)
100

Kereeen XD
padahal biasanya saya nggak terlalu suka adegan gore
tapi yang ini mengena banget ><
direkomendasiin sama Kika

Writer arryeaisvarhya
arryeaisvarhya at Circus is Over (8 years 32 weeks ago)

keren

Writer Kumiiko_chan
Kumiiko_chan at Circus is Over (8 years 45 weeks ago)
100

K E R E N!!!!
saya terlambat bacanya mas penguin, tp ini kuerenn!!
saya akui saya sangat suka adegan sadis2nya dan bahkan berdarah-darahnya, xixixi. tp saya buka siko lo :p
hem.. mungkin bagus kisah ini dibaca para ortu yang ga merhatiin anaknya, apalagi mereka2 yg di bully, ketika kemarahan itu bangkit efeknya sangat mengerikan..
Kalo saya pribadi ada yg bully saya ga bully balik tp balasannya akan lebih pedas dari bully yg mereka lakukan, kekeke...
(tp ga sampai ngebunuh ya.. ehehe.. paling buat mereka jera)

Writer redscreen
redscreen at Circus is Over (8 years 50 weeks ago)
100

salam kenal kak penguin :D
cerita ini kereeeen banget!!
tapi apa hubungannya dgn sirkus ya? 0,o

Writer Daniella
Daniella at Circus is Over (9 years 4 weeks ago)
90

lumayan... ^^

Writer Maximus
Maximus at Circus is Over (9 years 7 weeks ago)
100

Salam kenal kak penguin :) , saya sampai frozen baca cerita ini (anda mungkin nggak, secara biasa di kutub XD XD -maap jayuz :p)
.
Kerasa banget feelnya si anak tertindas ini, secara saya juga ngalamin bully T__T, walau ngga separah ini si. Paling cuma semacam diejek dan didorong-dorong.
.
Btw saya minta maap sama kak penguin
Berhubung akhir-akhir ini cerita yang bikin saya speechless dikit, iseng-iseng aja buka cerita lama user yang OL :D

Writer Penguin
Penguin at Circus is Over (9 years 7 weeks ago)

salam kenal max :) dan saya sendiri sebenernya udah frozen, jadi gak frozen lagi. hehehe

kenapa mesti minta maap, malah saya seneng dong :D

Writer raven_hill
raven_hill at Circus is Over (9 years 11 weeks ago)
60

Sebenernya ini bisa bagus lho.. :)
tapi kalo masalahnya cuma gara2 digencet temen2 sekolah ma enggak dapet perhatian dari ayah (yang sama sekali enggak kejam kayak dieskskul) malah kesannya kayak terlalu maksa..
coba dibuat tekanan sosialnya lebih menderita lagi.. kalo nyampe nyabut2 jantung gitu berarti udah tensi banget..

aku malah gak ngerasa ngeri baca cerita ini.. malah rasanya kayak kayak baca cerita biasa... umm.. ekskul ver. sadis.. hehe.. umm... apa karena alurnya terasa terlalu cepet dan maksa. beneran deh, kerasa maksa banget, terutama setelah digencet dia tiba-tiba narik jantung temennya itu.. apa saking emosinya dia langsung kepikiran narik jantung..? biasanya kan main tonjok dulu.. hehe.. ^^

oh ya.. itu aja deh komentku.. maap kalo terlalu sok tau. peace.. ^^v
kita sama2 belajar yha... hehe.. aku pendatang baru sih di kemudian.com ini...

Writer Penguin
Penguin at Circus is Over (9 years 10 weeks ago)

makasih kritik dan sarannya :)

ya sih, saya akui cerita-nya agak berlebihan alias lebai :D. Kalau masalah agak 'maksa', ini relatif sih, tergantung psikologi orang (tokoh). Ada beberapa orang yang kalau digencet malah ketawa (itu saya. hehehe), ada juga orang yang diintimidasi sedikit udah mewek. Nah, ada juga orang yang kalau mood lagi gak enak, lagi banyak pikiran, cuma nyenggol terus diteriakin "eh! jalan pake mata dong!" langsung ngebunuh (kasus kayak gini pernah liat saya di buser).

Lagipula, tokoh dalam cerita ini nggak digencet satu-dua kali, tapi berkali-kali. Perasaan terhina diperparah dengan tidak pedulinya sang Ayah terhadap masalah anaknya. Coba aja bayangin, saat kita nggak punya orang lain sebagai tempat curhat sehingga satu-satunya orang yang bisa kita mintai pendapat cuma orang tua, ternyata beliau cuma ngomong "halah, paling cuma becanda!" sambil nerusin baca koran atau masak, kira-kira gimana rasanya sakit hati?? (lebai mode: on)

btw, sekali lagi makasih sudah mau berkunjung dan memberikan kritik/saran yang bagus sekali. Salam kenal ya ^^

Writer raven_hill
raven_hill at Circus is Over (9 years 10 weeks ago)

huhuhhu.. T.T
*nangis terharu..*
tentu aku sangat paham sekali perasaan sang tokoh utama.. kita kan senasib sama2 sering digencet bin dihiraukan...
tpi aku anaknya cuek setengah mampus sih.. hehe.. :D

iya.. sama2.. senang bisa membantu..:D
mariii kita belajar lagi.. ^^

Writer Penguin
Penguin at Circus is Over (9 years 10 weeks ago)

wew... beruntunglah dirimu, nak. aku baru bisa cuekin para penggencet-penggencet itu setelah aku balas dendam ke mereka... *kasusnya ada, tapi gak separag ini sih...*

Writer raven_hill
raven_hill at Circus is Over (9 years 10 weeks ago)

wewewew.... kau apakan mereka??
sandra, ancam pake pistol?? dorong ke jurang *O.O*...?
hehehehe...

Writer Penguin
Penguin at Circus is Over (9 years 10 weeks ago)

gak separah itu kali -___________- cuma kupretelin aja sepeda motor mereka, lepasin mur-murnya satu-satu, bocorin tanki bensin, motong kabel rem, trus ditendang deh ke got :p

Writer raven_hill
raven_hill at Circus is Over (9 years 10 weeks ago)

hahahaha... sekalian.. orangnya aja yang ditendnag ke got... XD

fhydha099imutzz at Circus is Over (9 years 11 weeks ago)
100

EYD!EYD!

Writer balqies arifah yumni
balqies arifah yumni at Circus is Over (9 years 12 weeks ago)
90

sadis, tapi keren bgt!! saya suka ceritanya
salam kenal, saya baru disini^^

Writer Penguin
Penguin at Circus is Over (9 years 13 weeks ago)

oper cerita ke grup "Bangkit dari Kubur" :)

Writer niNEFOur
niNEFOur at Circus is Over (9 years 15 weeks ago)
100

aku suka

Writer Lignify
Lignify at Circus is Over (9 years 17 weeks ago)
100

Merinding bacanya. Keren bgt bgt!

*sambil nyeruput segelas vodka*

Writer nh_ranie
nh_ranie at Circus is Over (9 years 18 weeks ago)
70

keren bangeett.. aku sukaa..
mau dwong diajarin bikin yg kaya gini..

btw, salam kenal yahh :)

Writer arydhamayanti
arydhamayanti at Circus is Over (9 years 18 weeks ago)
90

nger.. nger.. ngeriiii.... huwoohh.. merinding banget.. >.<

Writer dibbie
dibbie at Circus is Over (9 years 20 weeks ago)
80

menarik :)
tapi dialog di penutupnya kesannya kok jadi deskriptif banget ya? hehehe IMHO yaaa ^_^
tapi ok ceritanya!

Writer dhewie
dhewie at Circus is Over (9 years 21 weeks ago)
100

keren bgt

Writer bobhizz
bobhizz at Circus is Over (9 years 21 weeks ago)
100

keren deh...like this..

Writer SnowDrop
SnowDrop at Circus is Over (9 years 21 weeks ago)
70

sebenernya udah baca dari lama, tapi baru sempet komen sekarang, gomen pingu-san ^^

kesan pertama yang gw dapet setelah selesai baca, adalah oke, ni orang sadis. tapi entah kenapa, kesadisannya berasa terlalu dipaksain. dan sejak gw baca dialog si aku dengan ayahnya, gw bisa nebak kalo ntar si aku ini suatu saat bakal kalap..yah, cuma tebak2 buah manggis, ternyata beneran :D

mungkin bagian yang kerasa aneh adalah, itu kan sekolah, dan dia disiksa di gerbang (ga ada tulisan gerbang mana sih, jadi gw asumsiin gerbang depan sekolah),,masa ga menarik perhatian siapa puN? bahkan orang lewat? dan sekolah kan muridnya ga cuma 8 orang-an..pasti ada lah satu dua orang yang punya jiwa sosial dan ngadu sebelum si aku mulai ngebunuhin orang-orang. Ato paling ga satpam sekolah/petugas yang lain (petugas bersih2, ato abang2 jualan depan sekolah) yang ngeliat dan ngebantu. Dan setelah mereka semua mati pun, efek dari tulisan yang lu buat dan yang gw tangkep, adalah background sekolah yang kosong, ga ada orang lain kecuali si aku dan mayat2 yang berserakan. kemana orang2? melapor ke polisi? ratusan murid dan puluhan guru semuanya ilang?

juga bagian guru yang kepalanya nyangkut di ujung tiang bendera..dan menurut TUB, standar tinggi tiang bendera untuk sekolah (SMA) itu 14 meter lho..dia bener2 manjat ke atas dan nancepin kepala itu? soalnya buat benerin kait bendera yang nyangkut di ujung tiang aja biasanya kita puter baut tiang dan dituruning, cuz manjat tiang itu agak susah dan bahaya..

Tapi sisi positifnya, endingnya keren, gw suka kata2 yang dia tulis di dinding, sugoi desu!! dan supah, gw ga dapet feeling2 mistis gimana,,ini orang kan psycho, bukan dukun ==a

ah, eniwei, gw juga pernah bikin cerita kaya gini, judulnya Sleeping Beauty,,kalo sempet dibaca aja ^^

keep writing Pingu-chan!! (kalo EYD gw ga ikut bahas, udah dikupas sama mba worm) ^^

Writer Penguin
Penguin at Circus is Over (9 years 21 weeks ago)

panjang lebar..... dan berbobot. keren!

begini, idenya mirip dengan film "Ekskul" (udah pernah nonton?). Walaupun ada juga yang berjiwa sosial, begitu siswa itu ketauan lapor, dia juga taku digencet. alhasil mereka takut lapor.

trus, tentang nggak ada yang orang yang liat acara "sirkus" ini, mungkin memang kurang detil saya ngejelasinnya (maafkan kealpaan ini...) kalau pagar sekolah itu panjang, dan sejauh yang saya tahu tidak semua gerbang dijaga dan dilalui orang (buktinya sekolah saya sendiri).

Kalau orang-orang yang hilang, bisa diasumsikan begini: semua panik, sebagian lari keluar sekolah, dan yang masih didalam sekolah dibantai habis oleh si "aku".

NAh, yang masalah tiang bendera, coba deh bayangin tiangnya, pasti ada bagian yang sering orang lihat tapi nggak ngeh kalau itu juga termasuk "ujung".... apakah itu?? Tempat tali digulung! ujungnya lumayan buat nancepin kepala, kan? :D

tapi, memang kealpaan saya karena tidak melengkapi detil bagian itu :)

makasih masukannya mbak! cerpen mbak akan segera saya render :D

Writer chocoberryna
chocoberryna at Circus is Over (9 years 21 weeks ago)
70

Gimana ya... suka sih... tapi... Hummm

Writer fairynee
fairynee at Circus is Over (9 years 23 weeks ago)
90

Wuih, ini keren, Peng... Walau panjang banget tapi buat mataku gak berkedip bacanya.
Hmmm, menurutku sih. Ending yg begitu lumayan jadi twist. Membuat pembaca berpikir, koq bisa yah. Mistis? Aku gak kepikiran sampe kesitu. Aku menikmati koq, kyk lagi nonton film horor.

Writer d757439
d757439 at Circus is Over (9 years 23 weeks ago)
100

aku sng sekali crt mengerikan gn,
trnyata ini lbh serem dr yg ak buat.*
wow
ada dikit,
akhir kalimat dialog sebelum tanda '' setw nandi harus ada tanda baca entah . , atau yg lain

Writer Chie_chan
Chie_chan at Circus is Over (9 years 23 weeks ago)
90

OH GOD. keren banget peng! xDD
*speechless*

Writer Ari KPIN
Ari KPIN at Circus is Over (9 years 23 weeks ago)

numpang baca, kawan

Writer Ann Raruine
Ann Raruine at Circus is Over (9 years 23 weeks ago)
100

jadi inget dark wood circus, hehe..

tapi ini lebih seru.

Writer Ferrischya
Ferrischya at Circus is Over (9 years 24 weeks ago)
80

ada bacaan menarik

huff...

nilai plus: cerita ini tak mengizinkan pembaca seperti erri untuk lepas dari tiap katanya. selamat atas strategi ceritanya. hehehe.

minusnya, cerita ini punya tempo yang cenderung cepat hingga erri kewalahan meresapi. faktanya horor itu menyajikan ketegangan yang datang pelan-pelan tapi tetap menakutkan. malahan, erri kehilangan deskripsi, semacam detil setting yang seharusnya bisa lebih menghidupkan cerita ini, atau membuat segalanya berkabut untuk menimbulkan efek "seram" seperti horor kebanyakan.

banyak dialog di dengan peta yang rapat. mungkin itulah yang membuat erri tergesa-gesa jadinya. bdw, POV kan orang pertama, sayang sekali ia tak begitu imajinatif menangkap situasi yang akan ia paparkan kepada pembaca.

erri pikir, ini lebih ke arah thriller, tapi kurang memuaskan gejolak kaget pembaca, atau semacam, "aduuhhh, segitunya?", atau, "berarti anak itu...?" dan "ternyata fakta sebenarnya..."

mungkin ini bisa erri katakan karena endingnya yang menjelaskan detil cerita dengan dialog, (karena endingnya adalah di bagian keempat yang penulis pisahkan) bukan narasi singkat namun padat. sedangkan momen si anak menjadi "lebih kuat" seakan-akan redam karena dipatahkan plot cerita yang kurang mulus.

selebihnya, terasa ingin menyampaikan secara gamblang kepada pembaca apa yang menjadi penyebab ketidakmasukakalan tragedi dalam cerita tsb.

hehehe.

maaf, sudah banyak cuap-cuap. padahal, erri sendiri tak ada menulis cerita. maaf, kalau kurang berkenan.

salam

Writer Penguin
Penguin at Circus is Over (9 years 24 weeks ago)

terima kasih atas komentarnya yang berbobot. Saya suka deh kalau ada yang bisa ngasih pendapat dengan detil :)

btw, gabung yuk diskusiin cerpen saya di forum. Saya sangat mengharapkan kunjungannya :D
http://www.kners.com/showthread.php?t=468

Writer Ferrischya
Ferrischya at Circus is Over (9 years 23 weeks ago)

erri sudah dari sana. dan selama ini juga ikutan nimbrung kok. hehehe.

ngga nyadar aja kali :p

Writer Penguin
Penguin at Circus is Over (9 years 23 weeks ago)

ups. sowry.... :D

Writer dewisun
dewisun at Circus is Over (9 years 24 weeks ago)
80

oke oke oke banget, sadis, tapi kurang gambar euy pas adegan pembantainnya....ceritanya di sensor ya...padahal lebih oke loh kl sedikit dikulik.....lanjut

Writer Penguin
Penguin at Circus is Over (9 years 24 weeks ago)

hehehe... satu-satunya pembelaan saya adalah: susah mbak, kalau terlalu dieksplor adegan sadisnya, nanti saya sendiri yang jadi susah tidur :D

Writer dewisun
dewisun at Circus is Over (9 years 24 weeks ago)

hahahahah.....genre ky gini jgnkan yg baca yg bikin aja kdg jadi merinding....yg pasti aku ga bisa bikin genre beginian, takut ada yg bisikin pas lagi ngarang..hehhee

Writer Fany Ijo
Fany Ijo at Circus is Over (9 years 25 weeks ago)
90

paham c gambaran yg kamu masukkin semuanya..
tentang yg jangan nyiksa org..
trus kekuatan di luar batas kesadaran manusia yg sebenarnya emang betul2 ada. kalo versi sederhananya c org yg dikejar anjing bisa ngelompatin sungai selebar 10m, yg dalam keadaan biasa (tidak dikejar anjing) itu tidak mungkin.
salut sama penggambarannya yg detail..
oya, ak uda baca trit kners yg agenda cerpen.katanya ini mo dibahas.
AKU SETUJU!!!
^^

Writer Penguin
Penguin at Circus is Over (9 years 25 weeks ago)

Hehehe... makasih :) Senang rasanya bisa membuat karya yang baik walaupun belum bagus sekali :D

Writer just_hammam
just_hammam at Circus is Over (9 years 26 weeks ago)
70

Jiah..gila kamu...serem bener bikin ceritanya...
Menurutku penjelasan di ending justru mengurangi kekuatan cerita kamu. Lebih asyik jika pembaca dipersilakan menebak-nebak sendiri darimana kekuatannya muncul. Toh sedikit petunjuk sudah kamu berikan.

Writer Penguin
Penguin at Circus is Over (9 years 25 weeks ago)

wuah makasih sarannya mas. Waktu nulis ini, sebenernya saya nggak merasa kalau yang di ending itu merupakan penjelasan. Karena sebenernya dari awal tidak ada unsur mistik disini.

Untuk berikutnya akan lebih baik!

Writer buzztardz
buzztardz at Circus is Over (9 years 26 weeks ago)
100

wuiw...
mantaph...mantaph...
saya suka yang psycho2 begini.
Great Job!

Writer smith61
smith61 at Circus is Over (9 years 26 weeks ago)

Penguin imut bikin cerita gini hehehe mantap lah

Writer red_line
red_line at Circus is Over (9 years 26 weeks ago)

waa, kren2!
berasa kaya n0nt0n phobia 3 lho.
hhehe. ;D

endingnya memungkinkan adanya sekuel.

Writer Penguin
Penguin at Circus is Over (9 years 26 weeks ago)

ide bagus tuh! ntar deh kalau ada ide....