Zheik, The One With Power - 4th Scroll Chapter 1

Gulungan IV
Bés Yua, Hari ke-17, Bulan Siwali, Tahun 514.

“Hei Mikaél, kamu bisa membantuku tidak?” sebuah suara membangunkan Pangeran Mikaél dari tidurnya. Suara yang akrab di telinga Pangeran Mikaél.

“Symon? Ada perlu apa kamu ke sini?” Pangeran Mikaél beranjak dari tempat tidurnya. Kenapa sekarang dia bisa berada di kamar tidur istana pikir Pangeran Mikaél sambil mengamati kamar itu. Ya, itu adalah kamar dia sendiri Pangeran Mikaél meyakini apa yang dilihatnya.

”Mikaél, aku akan pergi ke tempat yang jauh. Jauh sekali. Tempat yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya.”

Symon duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur Pangeran Mikaél. Dia mengamati buah-buahan yang berada di piring di atas meja. Symon mengambil satu buah apel dan langsung menggigitnya.

”Pergi kemana?” Pangeran Mikaél menarik sebuah tali kecil yang berjuntai yang berada di dekat meja buah tadi. Tidak berapa lama seorang pelayan perempuan masuk ke dalam kamar.

”Buatkan minuman segar untuk kami berdua!” perintah Pangeran Mikaél pada pelayan yang baru masuk tadi. Setelah menunduk dan memberi hormat, pelayan perempuan itu keluar dari kamar.

”Memangnya kamu ada keperluan apa hingga harus pergi? ”Tidak biasanya kamu berpamitan padaku kalau mau pergi?” Pangeran Mikaél mengambil satu buah jeruk dan mengupas kulitnya.

”Ada sesuatu yang harus aku lakukan. Sesuatu yang akan berakibat sangat besar bagi keadaan di Hyrnandher sekarang. Aku akan ke Helas.”

Pangeran Mikaél tersedak.

”Helas! Apa kamu gila? Kamu tahu sendiri kan kalau Helas tempat yang sangat penuh dengan orang-orang jahat? Mau apa kamu ke sana?” Pangeran Mikaél mendelikan mata. Menatap tajam ke arah Symon. Symon membalas tatapan Pangeran Mikaél dengan tatapan yang bersungguh-sungguh.

Pangeran Mikaél tahu kalau Symon sudah membulatkan hatinya.

”Apa yang membuatmu sampai mempunyai pikiran seperti ini?”

Symon mengangkat kedua bahu. Seolah-olah berkata kalau dia juga tidak tahu kenapa dia harus pergi ke kerajaan Helas.

”Aku tidak tahu dengan pasti. Tapi aku tahu aku harus ke Helas untuk melakukan sesuatu.”
Symon baru saja menghabiskan apelnya.

Pelayan perempuan tadi sudah kembali sambil membawa sebuah nampan yang di atasnya terdapat dua gelas kristal berisikan minuman berwarna hijau muda.

Pelayan tadi meletakkan gelas kristal di meja buah-buahan. Setelah selesai meletakkan gelas, Pangeran Mikaél memberi isyarat bahwa tidak ada yang perlu pelayan itu lakukan lagi dan dia boleh pergi. Pelayan itu memberi hormat pada Pangeran Mikaél dan Symon sebelum keluar dari kamar tidur pangeran.

Symon bergegas meminum minuman yang disuguhkan pelayan tadi.

”Ayo berdiri!” Symon meletakan gelas kembali ke meja dan memerintahkan Mikaél untuk berdiri.

”Buat apa? Hei, kamu belum menjawab pertanyaanku! Jangan mengalihkan pembicaraan.”

Namun tak urung Pangeran Mikaél beranjak dari tempat tidur.

”Nanti akan ku beritahu. Sekarang cepat berpakaian, aku tunggu di ruang latihan. Sudah lama kita tidak bertanding.” kata Symon sambil berggeas menuju ke luar kamar.

”Kamu membangunkanku hanya untuk bertanding denganku? Aku mengerti sekarang. Kamu mengatakan semua ini hanya untuk membuat aku bingung kan? Supaya kamu bisa mengalahkanku dalam pertandingan. Heh, rencanamu sudah terbaca degan jelas. Kamu tidak akan pernah bisa mengalahkanku sampai kapanpun, meskipun pikiranku kamu kacaukan.” Pangeran Mikaél membanggakan diri. Memang dari dulu Symon tidak pernah menang kalau berlatih tanding dengan Pangeran Mikaél.

Symon hanya tersenyum menyeringai dan segera berlalu menuju ruang latihan.

Symon bersiap-siap dengan pedang besarnya. Pedang yang sama besar dengan pedang milik Pangeran Mikaél. Hanya saja pedang Symon adalah satu pedang utuh, tidak seperti pedang Pangeran Mikaél yang bisa dilepas menjadi pedang kecil.

Symon mengayun-ayunkan pedang, melakukan pemanasan sebelum bertanding dengan Pangeran Mikaél.

Tidak berapa lama Pangeran Mikaél datang dengan pakaian berlatihnya, tidak ketinggalan pedang besar miliknya. Pedang yang khusus dibuat untuk Pangeran Mikaél, pedang yang dibuat oleh pembuat pedang dari tiga dunia luar, perpaduan keajaiban dunia tengah, kecanggihan dunia barat dan kekuatan dunia timur.

”Jadi Symon sang calon pangeran, apakah kamu siap untuk menantang sepupu terhebatmu ini?” Pangeran Mikaél mendekat ke arah Symon dan ikut melakukan pemanasan.
Symon memang belum bertitel pangeran. Berbeda dengan Bés Yua, di Fletchia seorang putra mahkota akan resmi menjadi pangeran jika sudah berumur 18 tahun dan menjalani ujian khusus. Jika lulus, baru dia secara resmi bergelar pangeran. Jika tidak, dia boleh mengikuti ujian lagi sampai kapanpun saat dia sudah siap kembali. Umur mereka berdua hanya terpaut dua bulan lebih tua Symon. Namun Pangeran Mikaél sudah lebih dulu di angkat menjadi Pangeran.

”Sejujurnya aku tidak yakin akan bisa mengalahkanmu hari ini dan besok serta besoknya lagi seperti yang biasa terjadi.” Symon menghentikan pemanasan, dia berdiri tegap dan menghadap Pangeran Mikaél pertanda dia sudahsiap untuk memulai pertandingan.
Pangeran Mikaél ikut menegapkan badan.

”Tapi kamu bukan sepupuku yang paling hebat.” Symon menyerang Pangeran Mikaél begitu selesai mengucapkan kalimat tadi. Beruntung Pangeran Mikaél sudah siap dari awal. Dengan sigap dia menangkis dan menghindari serangan beruntun dari Symon.

Sama dengan Pangeran Mikaél, Symon juga memiliki kekuatan. Symon menguasai tenaga angin. Bersungguh-sungguh, dia tidak segan mengeluarkan ilmu pedang angin untuk melawan Pangeran Mikaél, begitu pula sebaliknya, Pangeran Mikaél juga mengerahkan ilmu pedang api.

Pertandingan antara pedang api dan pedang angin akhirnya berhenti setelah beberapa putaran pasir. Dan seperti sudah diduga sebelumnya, Pangeran Mikaél memenangkan pertandingan.

Symon merebahkan diri di lantai. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Nafasnya tersengal-sengal.

”Jadi sepupuku Symon, siapakah sepupu kita yang paling hebat yang kamu katakan tadi?” Pangeran Mikaél ikut merebahkan diri di samping Symon.

”Semua jawaban yang kamu inginkan ada pada perjalananmu. Perjalananmu akan membawa pada jawaban kenapa aku harus melakukan ini dan tentang sepupu kita yang lain. Teruskanlah perjalananmu. Nanti kamu akan bertemu dengan mereka yang mengetahui keadaan yang sebenarnya tentang aku. Tentang kematianku.” perlahan-lahan tubuh Symon memudar.

”Kematian?” Pangeran Mikaél tersentak. Dia baru sadar kalau Symon sudah tewas.

”Benar. Bukankah kamu sudah tewas?” Pangeran Mikaél berkeringat dingin, dia merasakan tubuhnya tidak bisa digerakkan.

”Apakah ini mimpi? Ya, ini pasti mimpi. Tidak mungkin kamu hidup kembali.” Pangeran Mikaél melihat Symon tersenyum.

”Akan ada perang di Avalon. Jagalah Rein untukku. 14 hari setelah ---------- jatuh kamu akan bertemu dengannya. Tunggulah dia di Avalon, apapun yang terjadi. Tunggulah dia.” Symon mengucapkan pesan terakhir.

”Tunggu, apa yang kamu maksudkan?” teriak Pangeran Mikaél. Seiring dengan teriakannya, semua yang ada di sana perlahan memudar. Menghilang ke dalam berkas-berkas cahaya terang.

Pangeran Mikaél terbangun. Pagi sudah menjelang. Mencoba mengingat-ingat mimpinya. Terutama kata-kata yang diucapkan Symon yang tidak jelas.

Read previous post:  
16
points
(2298 words) posted by makkie 10 years 10 weeks ago
53.3333
Tags: Cerita | fanfic | dunia fantasi | fantasi | pedang | petualangan | zheik
Read next post:  
80

”Akan ada perang di Avalon. Jagalah Rein untukku. 14 hari setelah ---------- jatuh kamu akan bertemu dengannya. Tunggulah dia di Avalon, apapun yang terjadi. Tunggulah dia.” Symon mengucapkan pesan terakhir.

Apa maksud dari -------------- di atas?

Btw, setting cerita ini mengingatkanku pada kerajaan Israel di masa Raja-Raja. Nama2 yang dipakai pun seperti nama dalam bahasa Ibrani.

maksud "-------" tu artinya kata yang ge jelas didengar Mikael...awalnya bingung mw ditulis apa..."????????" apa mw ditulis apa...
kalo masalah kerajaan sebenarnya si campur aduk...aku asal comot aja...ada yang dari skandinavia, britain, asia...hehehehe...

70

mengejar ketertinggalan...