Zheik, The One With Power - 4th Scroll Chapter 2

Reiđ beranjak turun dari kereta barang yang dia tumpangi. Beruntung dia bertemu dengan warga Halari yang juga sedang menuju ibukota. Dari kereta yang berjalan perlahan memasuki ibukota, Reiđ bisa melihat tembok besar dan panjang dari batu setinggi sepuluh meter mengelilingi yang Istana Utama Kerajaan Bes Yua dan ibukota Contur. Tembok kokoh dengan belasan menara pengawas di tiap-tiap sudut tembok melindungi Istana Utama dan kota Contur. Sementara istana yang terlihat sangat kokoh berada tepat di tengah-tengah tembok. Reiđ berdecak, dia hanya pernah satu kali ke ibukota, itupun saat dia berumur 7 tahun saat ayahnya pertama kali diterima sebagai prajurit kerajaan. Banyak perubahan yang dia lihat.

Yang tidak berubah seingat Reiđ adalah jalan untuk untuk masuk ke kota Contur dan Istana Utama, kota ini hanya ada dua jalan. Yaitu melalui dua gerbang yang berada di selatan dan utara. Sesuai dengan arah, gerbang di bagian utara yang menghubungkan Kerajaan dengan jalan menuju kota-kota di bagian luar, yang sekarang dimasuki oleh Reiđ, dan gerbang selatan, satu-satunya jalan menuju pelabuhan Sahna.

Kereta perlahan memasuki gerbang yang dijaga beberapa orang prajurit. Reiđ sempat melihat di atas gerbang masuk utara, sebuah patung besar berbentuk setengah burung Sinniey (phoenix) berdiri dengan kokoh menghadap ke arah luar istana. Burung Sinniey memang dipercaya sebagai pelindung Kerajaan Bes Yua sejak jaman nenek moyang mereka. Burung Sinniey sebagai perlambang hewan peliharaan kesayangan Kyros sang dewa api, dewa rakyat Bés Yua.

Rumah-rumah yang lebih mewah daripada rumah-rumah yang ada di Halari memukau Reiđ yang sudah lama tidak ke ibukota. Reiđ melompat turun dari kereta, berpisah jalan, sang pemilik kereta akan menuju pasar ibukota sementara Reiđ langsung menuju istana. Tak lupa dia berterima kasih pada sang pemilik kereta yang berbaik hati memberinya tumpangan.

Reiđ berjalan perlahan sambil mengamati suasana di ibukota. Reiđ tambah berdecak kagum, ternyata masih ada sebuah tembok lagi yang mengelilingi Istana Bes Yua tapi tembok ini lebih tinggi dari tembok paling luar yang melindungi ibukota. Tidak seperti tembok lapisan luar yang berbentuk persegi enam, tembok bagian dalam berbentuk bujur sangkar. Beberapa menara pengawas menjaga tembok bagian dalam ini, jumlahnya jauh lebih banyak daripada menara pengawas di tembok lapisan luar, setidaknya itulah yang dilihat oleh Reiđ.

Di antara tembok bagian dalam dan tembok lapisan luar inilah kota Contur sebagai ibukota mengelilingi Istana Utama. Tidak heran di sekitar istana selalu penuh dengan keramaian. Kota Contur merupakan kota terbesar yang ada di Kerajaan Bés Yua. Dengan status sebagai ibukota tentu saja kota ini mendapat perlakuan yang lebih dari kota lain. Reiđ hanya menggeleng-gelengkan kepala.

Reiđ kembali mendapati sebuah gerbang, kali ini pintu gerbang berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan jalan dengan pintu masuk istana. Saat ini pintu sedang diturunkan, Reiđ yang langsung berjalan lurus menuju pintu masuk tanpa mengindahkan para pengawal istana yang sedang asyik berbicara satu sama lain.

Para pengawal istana yang sedang berjaga tersebut dengan cekatan menahan langkah Reiđ dengan menyilangkan tombak di depan Reiđ. Reiđ kaget, dia tidak tahu menahu apa yang sedang terjadi. Dia jadi teringat dengan cerita tentang prajurit-prajurit kafiran yang suka memeras penduduk desa. Apalagi pakaian yang dia kenakan sekarang sangat mencerminkan kalau dia datang dari desa.

Reiđ bersiap hendak melawan, sebuah suara tegas namun terkesan ramah membuat Reiđ mengurungkan niatnya. Meskipun sebenarnya Reiđ tidak yakin apakah dia akan menang melawan enam orang pengawal istana ini.

”Tahan sebentar, anak muda!’ prajurit itu mendekat. Mengamati Reiđ dari ujung kaki sampai ujung rambut.

”Apa yang hendak kamu lakukan?” tanyanya lagi.

Reiđ mengeryitkan dahi, ada apa gerangan ini pikirnya.

”Aku mau bertemu dengan Pangeran Mikaél!” tak urung Reiđ menjawab.

Para pengawal itu langsung tertawa, seorang pemuda desa seperti dia hendak menemui Putra Mahkota. Ketidakwarasan apa yang dimiliki pemuda ini pikir mereka.

”Hei Nak! Ada kepentingan apa hingga kamu ingin bertemu dengan pewaris kerajaan ini?” pengawal yang lain bertanya, kali ini dengan nada mengejek.

”Yang boleh masuk ke lingkungan istana hanya orang-orang yang penting atau kerabat dari keluaga kerajaan. Kalau dilihat dari dandananmu, kamu sepertinya bukan orang penting. Kalau begitu apakah kamu saudara Pangeran yang hilang?” pengawal pertama yang tadi ramah malah meneruskan ejekan temannya. Yang lain tertawa semakin menjadi.

Geram, Reiđ merasakan wajahnya memanas. Tangannya bergerak hendak mencabut pedang. Melihat gelagat Reiđ, para pengawal tidak mau kalah. Dengan cekatan, mereka sudah mencabut pedang mereka.

”Hentikan!” sebuah suara keras dari arah dalam pintu gerbang. Serentak semua penjaga gerbang bernhenti seketika, Reiđ pun tak kalah tersentak.

Reiđ mengamati orang yang berteriak tadi, dia tidak mengenalnya. Namun jika dilihat dari pakaian yang dia kenakan, jelas dia berpangkat lebih tinggi dari para penjaga gerbang ini.

Dugaan Reiđ benar, penjaga-penjaga gerbang langsung berdiri tegak dan memberi hormat khas prajurit Bés Yua.

”Bodoh!” bentak sang atasan.

”Lain kali perhatikan dengan seksama!” bentaknya lagi. Para penjaga bingung, tidak mengerti apa yang dimaksud sang atasan. Sang atasan yang mengerti ketidakpahaman anak buahnya dengan tegas menunjuk dada Reiđ.

Reiđ untuk kesekian kalinya mengeryitkan dahi. Ternyata sang atasan menunjuk ke medali yang pernah diberikan oleh Pangeran Mikaél. Reiđ baru tersadar. Dia lupa kalau dia membawa benda itu, medali itu memang sengaja dia jadikan kalung agar tidak mudah terjatuh. Padahal dia sudah berusaha menutupinya, namun mata sang atasan itu sangat jeli.

Para pengawal yang sadar dengan apa yang mereka lihat, langsung pucat pasi. Medali itu adalah medali milik Raja dan garis keturunannya, dan siapa saja yang diberikan medali itu maka kedudukannya setara dengan tamu-tamu penting dari kerajaan lain.

”Maafkan kami Kapten, kami tidak melihatnya. Kami tidak mengetahuinya.” serentak para pengawal.

”Sepuluh cambukan untuk masing-masing kalian.” tegas sang Kapten.

Bertambah pucat pasi para penjaga gerbang mendengar hal itu. Reiđ yang menjadi biang keladi akhirnya angkat bicara.

”Maaf Kapten, kalau boleh saya berbicara. Sebenarnya tidak semua adalah salah mereka. Tapi saya juga salah karena tidak tahu tata cara memasuki istana. Jadi saya mohon, maafkanlah kesalahan mereka.” Reiđ mencoba menengahi.

Sang Kapten akhirnya mereda emosinya,

”Maafkanlah anak buah saya!” Kapten itu malah memintakan maaf atas kesalahan anak buahnya. Reiđ menjadi semakin tidak enak hati.

”Maafkan saya juga.” jawabnya kelabakan, karena dia tidak tahu bagaimana caranya bersikap dalam keadaan seperti ini.

Sang Kapten mempersilakan Reiđ, Reiđ mengangguk dan memberi isyarat agar sang Kapten bersedia mengantarkan dirinya. Tidak butuh kepintaran, sang Kapten mengerti maksud Reiđ. Dengan langkah tegas dia berjalan di depan Reiđ.

Sang Kapten menjelaskan beberapa hal tentang Istana dan beberapa peraturan di dalam Istana. Reid mendengarkan dengan seksama, karena dia tidak ingin ada insiden seperti tadi lagi. Sesekali Reiđ mengamati dalam Istana, dari tembok bagian dalam sampai Istana Utama, di bagian utara terdapat taman yang sangat indah. Bermacam pepohonan indah sengaja ditanam di sana, tidak jarang Raja atau Ratu khusus membeli pepohonan atau bunga-bunga indah dari luar negara Bes Yua. Di taman ini biasanya keluarga Raja menghabiskan waktu di sore hari.

Read previous post:  
8
points
(1047 words) posted by makkie 9 years 40 weeks ago
40
Tags: Cerita | fanfic | dunia fantasi | fantasi | pedang | petualangan | zheik
Read next post: