Kutukan Pimred Mading (Bagian 2)

Potong bebek angsa, masak di kuali....

Dering ponsel Lita melentikkan alis Deden. Siswa kelas IV SD itu langsung melompat dari kursinya bagai disengat aliran listrik. Sembari menunjuk-nunjuk ponsel kakaknya, ia berteriak histeris, “Kakaaaaak!”

Lita yang tengah asyik tiduran sembari membaca majalah politik, menoleh dengan enggan.

“Mengapa ponsel jadul itu masih disimpan? Buaaaaang!”

Meski malas, Lita akhirnya turun dari tempat tidur. “Dasar tidak tahu malu! Sudah menumpang belajar di kamar orang, malah mengatai ponsel kakaknya sendiri. Yang jadul itu bukan ponselnya, tapi nada deringnya!” Lita meraih ponselnya. Yang menelepon rupanya Dini.

“Apa-apaan itu? Padahal, sudah SMA. Kenapa pakai ringtone anak-anak?”

“Itu artinya, kakakmu ini berjiwa muda. Dibandingkan kamu. Masih bocah, tetapi ringtone-nya patah hati.” Terjadi ketimpangan selera dan usia di keluarga Lita. Ponsel Deden disesaki oleh lagu-lagu dari berbagai grup band tanah air dan mancanegara yang saat ini populer. Sementara Lita, diisi lagu anak-anak yang kini terancam punah. Lain Lita dan adiknya, lain pula kedua orang tuanya. Kedua sejoli yang membesarkan mereka itu sepertinya telah meninggalkan lagu-lagu film India, dan beralih ke soundtrack anime.

Deden terkekeh. Lita kemudian mengambil sapu lidi dan mengusir bocah itu dari kamar. Usai mengunci pintu, Lita menyambut sang penelepon.

“Bagaimana, Kak? Sudah dapat pacar baru?” Baru didekatkan ke kuping, suara Dini menyambar. Pertanyaan yang meluncur membuat kuping Lita sedikit berdiri.

“Kamu benar-benar ingin bertanya atau mengejek?” balas Lita.

“Hehe. Sudahlah. Itu artinya, Kak Lita belum dapat pacar baru, kan? Kalau Kakak merasa harus mematahkan rumor itu, Kakak harus cepat bertindak.”

Lita menghempaskan punggungnya di kasur. “Bagaimana caranya? Kepalaku sudah buntu.” Sudah berjam-jam Lita mencari cara untuk membuktikan bahwa cerita seram itu tidak terbukti. Namun hasilnya, ia malah mendengar sesuatu meledak dan mencium bau hangus di kamarnya. Setelah mandi mendinginkan kepala, ia memilih membaca majalah politik untuk bersantai. Pada saat itulah, Deden datang merengek-rengek untuk menumpang belajar. Katanya, sih, untuk mencari suasana baru.

“Yang penting bisa membuat Jesika malu, kan?” tebak Dini.

“Tujuan utamaku memang itu.”

“Kalau begitu, pura-pura saja. Kakak bisa ambil salah satu siswa di sekolah dan gandeng dia di hadapan Jesika. Gampang, bukan?”

“Tidak segampang itu. Jesika akan mudah curiga jika aku besok tiba-tiba menggandeng salah satu teman sekolah.”

“Kalau begitu, sewaktu pergi sekolah, Kakak seret saja murid sekolah lain atau siapa saja dan perkenalkan sebagai pacar Kakak kepada Jesika.”

“Usulmu membuat diriku terdengar sangat murah. Dini, kalau mau membuat konspirasi, jangan tanggung-tanggung.”

“Lalu, maunya Kak Lita bagaimana?”

Lita memejamkan mata sejenak. “Aku rasa, aku tidak ingin membuat hubungan pura-pura. Dengan berbohong, aku mungkin bisa membalas dendam kepada Jesika, tetapi tidak bisa meyakinkan diriku sendiri bahwa aku terbebas dari kutukan itu.”

“Dengan kata lain, Kakak meyakini rumor yang beredar?”

“Jujur, ini hanya kau, aku, dan Tuhan yang tahu. Sedikit banyak memang iya.”

“Ng..., baiklah. Aku akan bantu Kakak sebagai Mak Comblang. Bisa beri tahu kriteria pemuda yang Kakak suka?”

Lita tertawa kecil. Sempat ia berpikir bahwa memanfaatkan lidah Dini bisa membawa untung. “Hm..., coba aku pikir. Aku suka cowok yang romantis, pandai membuat puisi, bermain gitar, setia kawan, tidak suka kekerasan, tetapi kuat. Ganteng jangan ketinggalan!”

“Ya, ampun, Kak! Kakak itu mencari pacar, bukan suami. Standar Kakak terlalu tinggi. Kakak tidak akan menemukan pemuda seperti itu, kecuali setelah Kakak berusia 25 tahun ke atas.”

“Bantu saja aku!” Lita malah menutup telepon.

Di seberang sana, Dini juga malah tertawa geli. Dalam tertawanya, ia mengingat Arief dan memutuskan untuk menelepon pemuda itu.

“Tumben menelepon. Ada apa, Din?” sambut Arief.

“Nggak. Nggak ada apa-apa. Cuma kangen saja sama kamu. Jalan, yuk?” Dini membuat Arief bergidik.

“Din..., aku sudah punya pacar....”

Menerima jawaban itu, Dini malah tergelak di ujung telepon. Mungkin hingga berguling-guling di lantai, karena Arief sempat mendengar sesuatu jatuh dan pecah. Mungkin vas bunga atau bahkan mungkin jendela.

Bersambung....

Read previous post:  
104
points
(973 words) posted by dirgita 10 years 1 week ago
80
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | misteri | Cinta | horor | kutukan | mading | remaja
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer panah hujan
panah hujan at Kutukan Pimred Mading (Bagian 2) (9 years 33 weeks ago)
70

Kau tahu, pap? Ini cerita pertamamu yang membuatku keranjingan baca (dari entah sekian ribu karyamu yang sudah kubaca, hahaha, lebay ;p). Renyah banget gaya penceritaannya yang ini. ^^ Kemajuanmu menarik juga. Ayo, kirim teenlit ke GPU! :)

Writer dirgita
dirgita at Kutukan Pimred Mading (Bagian 2) (9 years 33 weeks ago)

Perlu banyak semangat, karena banyak sekali yang harus kutulis^^

Writer panah hujan
panah hujan at Kutukan Pimred Mading (Bagian 2) (9 years 33 weeks ago)

Selesaikanlah yang ini, papap. *memohon*

Writer dirgita
dirgita at Kutukan Pimred Mading (Bagian 2) (9 years 33 weeks ago)

Amin...^^

Writer sekar88
sekar88 at Kutukan Pimred Mading (Bagian 2) (9 years 45 weeks ago)
80

Sayang sekali ada satu kekurangan cerita ini

kurang ajar ini cerita udah bikin penasaran sepotong-sepotong
lagi hahahah peace Dirgita saya suka kok ceritanya, makanya jadi penasaran. buruan dilanjutin yaa ^^

Writer Fany Ijo
Fany Ijo at Kutukan Pimred Mading (Bagian 2) (9 years 49 weeks ago)
90

ini bikin penasaran...

Writer Penguin
Penguin at Kutukan Pimred Mading (Bagian 2) (9 years 50 weeks ago)
100

pesan di awal cerita diterima ^^.

@chie he... ini cerita lebai kayaknya. hyak hyak hyak

LANJUTKAN!

Writer Chie_chan
Chie_chan at Kutukan Pimred Mading (Bagian 2) (9 years 50 weeks ago)
80

Wkwkwk.. Dasar kak gita.. XDD
Chie yg baca ga tau sebetulnya nih cerita lebai apa kocak. Hhihi :D

Writer icchan-chan
icchan-chan at Kutukan Pimred Mading (Bagian 2) (9 years 50 weeks ago)
90

git km cewe pa cowo siy? hmmm .. jd ga yakin ..

Writer Chie_chan
Chie_chan at Kutukan Pimred Mading (Bagian 2) (9 years 50 weeks ago)

Huahuahua.. Lagi2 gendermu dipertanyakan.. Huahuahua.. =))
Makanya pasang ava yg lebih macho dongg kak. Yg sekarang ini memperparah kecurigaan publik tauu.. :D

Writer dirgita
dirgita at Kutukan Pimred Mading (Bagian 2) (9 years 50 weeks ago)

Ntar, beberapa bulan lagi semoga fotonya bisa dipajang. Tapi ngomong-ngomong, bagian mana dari cerita ini yang bikin curiga, yah?^^

Writer mailindra
mailindra at Kutukan Pimred Mading (Bagian 2) (9 years 50 weeks ago)
70

Numpang nyengir aja dir :-)

Writer DeMEter
DeMEter at Kutukan Pimred Mading (Bagian 2) (9 years 50 weeks ago)

huahahahaha... tambah penasaran nih!!

Writer herjuno
herjuno at Kutukan Pimred Mading (Bagian 2) (9 years 50 weeks ago)
60

Ada yang kurang, nih! Kurang panjang! Ceritanya jadi menggantung gitu... Selain itu, kayaknya kebanyakan dialog "polosan", deh...

btw, saya suka dengan line ini:

Quote:
“Itu artinya, kakakmu ini berjiwa muda. Dibandingkan kau. Masih bocah, tetapi ringtone-nya patah hati.” Terjadi ketimpangan selera dan usia di keluarga Lita. Ponsel deden disesaki oleh lagu-lagu dari berbagai grup band tanah air dan mancanegara yang saat ini populer. Sementara Lita, diisi lagu anak-anak yang kini terancam punah.

Jadi ingat debat dalam thread umur yang saya buat. Hihihi XD

Writer Aussey
Aussey at Kutukan Pimred Mading (Bagian 2) (9 years 50 weeks ago)
90

beuh... ka Dirgita bikin penasaran aja nih... :D ditunggu ka lanjutannya. Jangan lama-lama yah... xDD *dikemplang dan dilempar ke laut*