Zheik, The One With Power - 4th Scroll Chapter 3

Di dalam istana, di sebuah ruangan yang penuh dengan beratus-ratus buku dan perkamen lama dan baru tersusun dengan rapi. Ruangan ini adalah perpustakaan istana. Kerajaan Bes Yua memang sudah berpuluh-puluh tahun mengkoleksi buku-buku dan perkamen-perkamen baik dari dalam atau luar Kerajaan, baik tentang ilmu perang, politik, sosial dan ilmu tentang pengetahuan-pengetahuan lain. Raja Aiden Ignatius, raja ke empat Bés Yua memang seorang yang sangat gemar membaca dan mempunyai keingintahuan yang sangat besar. Karena itu, sewaktu belum menjadi raja, Raja Aiden Ignatius sering berkelana ke beberapa belahan Érde untuk berburu pustaka-pustaka itu.

Di salah satu jendela perpustakaan yang tepat menghadap ke arah taman, Pangeran Mikaél sedang menatap taman itu, tempat dia, Symon, Mina, dan Rein adik Symon dulu sering bermain. Teringat di kepala kenangan-kenangan bersama mereka, rasanya seperti baru kemarin mereka masih bermain di taman itu. Sekarang mereka sudah beranjak dewasa. Pangeran Mikaél juga teringat betapa sedihnya dia ketika Mina menghilang tanpa memberi kabar sama sekali.

Memang sudah lima hari sejak pertemuan kembali mereka di Hallari, Mina kembali berkunjung ke istana lagi, walau hanya sebentar. Dia lebih senang berada di rumah keluarganya yang berada di Contur. Entah kenapa seperti ada jarak yang memisahkan persahabatan mereka.

Pangeran Mikaél kembali teringat dengan peristiwa beberapa tahun yang lalu. Setelah kedua orang tuanya tewas, Mina seakan-akan menjadi angin yang tidak bisa di tangkap, hanya bisa dirasakan. Petugas-petugas Istana yang diperintahkan untuk mencari Mina, pulang hanya dengan membawa kabar saja. Suatu waktu dia berada di kota Aldoras tempat pamannya berada, di lain waktu dia sudah berada di kota lain. Begitu seterusnya. Tapi satu benang merah yang bisa disimpulkan oleh Pangeran Mikaél dari laporan prajurit-prajuritnya, Mina selalu menuju tempat-tempat yang mengajarkan ilmu untuk bertarung. Menurut dugaan Pangeran Mikaél, Mina mempunyai keinginan untuk membalas dendam kepada pembunuh kedua orang tuanya.

Dugaan Pangeran Mikaél tidak salah, kemarin dia kebetulan tidak punya kesibukan. Pergilah dia menuju Hallari dengan menyamar sebagai seorang pengembara. Saat sedang mencari informasi, dia merasakan kejanggalan tentang sayembara yang diadakan Tuan Tanah. Menurut pengetahuan Pangeran Mikaél, ayahnya, Raja Bes Yua tidak pernah mengadakan sayembara semacam ini. Tidak mungkin Raja Phalken tega meminta orang-orang sipil bertarung sedangkan para prajurit saja pernah tewas karena memburu monster itu. Bergegaslah Pangeran Mikaél menuju pos penjagaan hutan Collat.

Kecurigaaan Pangeran Mikaél benar, surat-surat yang diberikan kepada prajurit yang menjaga daerah itu dipalsukan, dari situlah Pangeran Mikaél mengetahui kalau semua ini berasal dari Tuan Tanah. Karena menurut para prajurit itu mereka mendapat surat tugas dari Tuan Tanah yang mengaku sebagai penghubung dengan pihak istana. Prajurit-prajurit itu memang benar prajurit Kerajaan atau lebih tepatnya mantan prajurit Kerajaan. Mereka ditugaskan oleh raja sendiri untuk menjaga hutan itu agar tidak ada yang masuk ke hutan Collat. Dari prajurit itu pula, Pangeran Mikaél mendapat informasi kalau seorang gadis yang mempunyai ciri-ciri yang hampir sama dengan Mina masuk ke dalam hutan Collat beberapa hari yang lalu. Pangeran Mikaél memeriksa surat pernyataan yang di isi oleh seseorang yang mempunyai ciri mirip dengan Mina. Ternyata benar, Mina Kynthia anak dari Ardola Khynthia, sang penyembuh istana.

Namun saat Pangeran Mikaél memasuki hutan itu, tidak berapa lama Mina keluar dari hutan. Mereka berselisih jalan ketika berada di dalam hutan. Dengan tergesa-gesa menggunakan sebuah kereta barang peninggalan entah siapa yang didapat Mina di hutan Collat, Mina melewati pos penjaga tanpa mempedulikan para prajurit yang bertugas di sana. Beruntung kondisi kereta itu masih bagus, sehingga saat melewati bagian sungai yang dangkal, kereta itu tidak rusak. Segera saja salah seorang prajurit yang berjaga mencari Pangeran Mikaél ke dalam hutan untuk memberitahukan gadis yang dia cari sudah keluar dari hutan Collat.

++++++++++++

Seseorang memasuki perpustakaan. Orang yang sudah sangat tua, badannya terlihat renta namun cara berjalan masih seperti inland berumur 60 tahunan. Rambut dan jenggot yang tidak terlalu panjang sudah penuh dengan uban. Meskipun wajahnya sudah dipenuhi dengan keriput, wajahnya masih terlihat segar. Kharisma yang dipancarkan oleh orang tua itu terlihat seperti masih berumur 40 tahunan. Pangeran Mikaél tidak menyadari kedatangannya. Orang tua itu mendekat dan memberi salam,

”Salam Pangeran ..” suara yang tidak terlalu keras rupanya tidak mengimbangi kesegaran jasmaninya.

Pangeran Mikaél menoleh, terjaga dari lamunan. Seorang pejabat istana yang sudah tua, seorang yang sudah dia kenal sejak lama, berjalan menghampiri. Dia menjabat sebagai penasihat Kerajaan Bés Yua. Pangeran Mikaél memanggilnya Kakek Penasihat, begitu sejak dari kecil ia menyebut penasihat Kerajaan itu. Memang umur penasihat itu sudah tua, bahkan sedikit lebih tua dari ayahnya, Raja Phalken.
”Ada gerangan apakah kiranya sampai Pangeran memanggil hamba yang sudah tua ini?” Kakek Penasihat menjawab dengan suara yang gemetar. Perjalanan menuju perpustakaan sudah cukup membuat kelelahan.

Pangeran Mikaél menjadi sedikit sungkan, Kakek yang sangat dipercaya oleh ayahnya malah merendah di depan dirinya. Padahal jika dibandingkan dengan dirinya, Pangeran Mikaél-lah yang seharusnya merendah di depan Kakek Penasihat. Di antara semua orang yang ada di istana, Kakek Penasihat adalah orang yang mempunyai pengetahuan yang sangat banyak, meskipun begitu Kakek Penasihat tidak pernah menyombongkan diri atau terlalu pamer pada kelebihan. Itulah yang menyebabkan Raja dan keluarganya sangat menyukai pribadi beliau.

”Kakek, ada hal yang beberapa hari ini sangat menganggu pikiranku.” Pangeran Mikaél melangkah menjauh dari jendela dan menuju Kakek Penasihat.

”Kakek pasti sudah mengetahui tentang kejadian di Harrali. Tentang penipuan yang dilakukan oleh Tuan Tanah.” Pangeran Mikaél menatap Kakek Penasihat. Kakek Penasihat mengangguk, menandakan mengerti tentang peristiwa yang dikatakan oleh Pangeran Mikaél.

”Kakek, apa kakek tahu tentang kreyzure yang mengacau di hutan Collat dan Hillari?” Pangeran Mikaél mempersilakan Kakek Penasihat untuk duduk di salah satu kursi yang berada di dalam ruang perpustakaan. Begitu Kakek Penasihat mendapatkan kursi yang tepat, Pangeran Mikaél juga mengambil tempat di kursi yang berada di seberang Kakek Penasihat.
”Aku memang sering mendengar tentang Classyalabolas Collat, tapi aku tidak pernah mengetahui tentang sejarah makhluk itu. Pun aku tidak pernah melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana bentuk makhluk itu.” Pangeran Mikaél melanjutkan pembicaraannya setelah Kakek Penasihat berada pada posisi nyaman di kursi tempat dia duduk.

”Beberapa hari ini aku mencari segala sesuatu tentang monster itu di perpustakaan ini tapi aku tidak menemukan keterangan yang lengkap tentang kreyzure itu. Bahkan aku tidak dapat mencari keterangan tentang kreyzure berbadan seperti kera yang sangat besar, berbulu putih dan mempunyai wajah seperti kerbau, yang bisa menjelma menjadi sesosok inland.” Pangeran Mikaél melipat kedua tangan di atas meja dan menatap erat Kakek Penasihat seakan-akan berharap Kakek yang sejak kecil dianggapnya serba tahu ini bisa menjawab tentang keberadaan dua kreyzure yang menjadi pikirannya.

Kakek Penasihat menarik nafas dengan dalam, pikirannya yang sudah tua dia paksa untuk bekerja keras demi menjawab pertanyaan seorang yang sudah dia anggap seperti cucunya sendiri. Hembusan demi hembusan nafas berlalu, akhirnya Kakek Penasihat membuka mulutnya,

”Maaf Pangeran, tampaknya orang tua ini sudah tidak bisa diandalkan. Otakku yang lamban dan mulai terkikis ini tidak dapat menemukan jawabannya.” jawab Kakek Penasihat dengan nada yang menyesal seakan-akan dia melakukan kesalahan yang sangat fatal.

Pangeran Mikaél memundurkan badan dan bersender di kursi. Pikirannya kembali ke dalam kebingungan, padahal dia sangat berharap kalau Kakek Penasihat bisa memberikan jawaban.

”Namun Pangeran,..” Kakek Penasihat memberikan harapan baru. ”Mungkin bukan saatnya Pangeran boleh mengetahui ini, tapi sepertinya hal ini tidak dapat di tunda satu atau dua tahun lagi. Menurut peraturan, setelah Pangeran resmi diangkat menjadi Putra Mahkota, barulah Pangeran boleh memasuki tempat ini.”

Pangeran Mikaél menjadi tambah bingung mendengar perkataan Kakek Penasihat.

”Apa maksud Kakek?”

”Sepertinya sedikit melanggar peraturan demi kebaikan tidak ada salahnya.” Kakek Penasihat tersenyum.

“Mari Pangeran, ada yang hendak saya tunjukkan pada anda.” Kakek Penasihat mengajak Pangeran Mikaél menuju ruang bawah tanah yang berada tepat di bawah ruang perpustakaan. Dengan langkah yang lebih cepat dari biasanya Kakek Penasihat berjalan. Memang saat sedang bersemangat untuk memberitahukan sesuatu hal yang dia ketahui, Kakek Penasihat sering melupakan umurnya.

Pangeran Mikaél mengikuti Kakek Penasihat. Untuk pertama kali Pangeran Mikaél memasuki tempat ini. Memang sejak kecil, ayahnya sudah melarang Pangeran Mikaél mendekati tempat itu, karena di tempat ini disimpan buku-buku atau perkamen-perkamen yang sangat penting atau sangat langka. Ayahnya tidak ingin Pangeran Mikaél yang masih kecil merusak benda-benda yang ada di dalam.

Kakek Penasihat semakin masuk ke dalam ruangan itu hingga mendekati sebuah lukisan besar yang menempel di sebuah dinding. Sebuah lukisan seekor burung Sinniey yang sedang tidur. Lukisan itu sangat besar sehingga bagian bawah hampir menyentuh lantai. Hanya berjarak satu kaki dengan permukaan lantai. Pada bagian pinggir, terdapat bingkai emas dengan hiasan-hiasan yang timbul. Pangeran Mikael memperjelas penglihatannya. Ternyata hiasan-hiasan itu merupakan ukiran matahari berukuran kecil.

Kakek Penasihat mendekati lukisan itu sementara Pangeran Mikaél mendekat dari belakang. Kakek Penasihat meraba-raba ukiran-ukiran matahari di bagian kanan bingkai lukisan itu yang terjangkau dengan tangan. Tangannya berhenti pada salah satu hiasan matahari. Sedikit agak memaksa, dia menekan hiasan matahari dengan tiga jari tangan kanan.

Terdengar suara klik begitu Kakek Penasihat menekan hiasan matahari kecil tadi. Pangeran Mikaél memperhatikan keadaan sekeliling. Suara klik untuk yang kedua kali terdengar, kali ini Kakek Penasihat mundur beberapa langkah seiring dengan lukisan besar yang terbuka. Pangeran Mikaél tidak menyangka, masih banyak yang belum dia ketahui tentang istana dan Kerajaan. Padahal sudah belasan tahun dia tinggal di istana.
Begitu lukisan itu terbuka, terlihat sebuah pintu yang berukuran sedikit lebih kecil daripada lukisan burung Sinniey tadi. Kakek Penasihat mengambil sebuah gelang besi dengan beberapa buah kunci dari balik baju. Entah kunci untuk ruang apa saja, Pangeran Mikaél tidak terlalu memikirkan, dia masih berpikir rahasia-rahasia apalagi yang tidak dia ketahui di istana ini.

Kakek Penasihat mengambil sebuah kunci dan mencoba membuka pintu ruangan rahasia itu. Rupanya bukan kunci yang itu. Umur yang tua serta bentuk kunci yang tidak jauh berbeda membuat orang yang sudah tua itu tidak bisa dengan cepat membuka pintu rahasi tersebut. Kakek Penasihat mencoba mencari lagi kunci yang benar. Dia kembali mencoba membuka pintu rahasia, setelah kali keempat, pintu berhasil dibuka. Suara klik lagi-lagi terdengar begitu Kakek Penasihat memutar kunci itu. Segera saja dia mendorong pintu yang ternyata tidak seberat yang Pangeran Mikaél duga.

Pintu terbuka, Kakek Penasihat mempersilakan Pangeran Mikaél memasuki ruangan itu. Bersamaan dengan terbukanya pintu lampu-lampu minyak menyala seketika. Sang arsitek benar-benar jeli dalam membangun istana ini pikir Pangeran Mikaél. Tidak hanya itu tetapi juga hebat.

Tibalah mereka di sebuah ruangan yang sudah tidak terawat lagi. Debu menumpuk sangat tebal. Namun semua barang-barang masih tersusun rapi seakan-akan tidak pernah ada seorang inland pun yang memasuki ruangan itu. Ternyata ini adalah perpustakaan rahasia istana, tidak berbeda dengan perpustakaan di ruang atas dan ruangan sebelumnya, di ruang ini juga banyak terdapat buku-buku dan perkamen-perkamen meskipun tidak sebanyak perpustakaan di ruang atas. Tidak sembarang orang yang boleh memasuki ruangan ini, karena di ruangan ini terdapat buku-buku dan perkamen-perkamen yang tidak boleh jatuh ke tangan orang yang salah.

Pangeran Mikaél berjalan dengan perlahan memasuki ruangan sambil membaca beberapa judul buku yang belum pernah dia dengar, ada buku tentang mantera-mantera sihir, tentang menggabungkan senjata dengan sihir, necromancer, dan lainnya. Sementara itu, Kakek Penasihat mengamati deretan buku yang berada di rak paling atas dari lemari yang berada di pojok kanan ruangan. Sambil bergumam kecil Kakek Penasihat mencari benda yang dia inginkan. Setelah menemukan benda yang dia cari, Kakek Penasihat langsung mengambil benda yang ternyata adalah sebuah buku. Debu yang menumpuk beterbangan akibat ia menarik buku itu.

Kakek Penasihat mengambil kacamata bergagang perak miliknya. Bagi orang yang berumur seperti dirinya memang sewajarnya menggunakan alat bantu baca itu. Dia meniup dan menyapu sisa-sisa debu yang masih menempel di bagian depan dan belakang buku dengan tangan. Sebuah simbol berbentuk matahari dan sepasang bulan sabit di dalam matahari seperti terukir dengan tinta emas di sampul buku. Segera setelah debu berkurang, dia membuka buku dan membalik-balikkan halaman buku, sengaja melewatkan beberapa halaman yang dia kira tidak terlalu penting untuk dibahas sekarang.

“Ah, ini dia! “ suaranya terdengar lirih seperti sedang bergumam “Pangeran, lihatlah ini!” lanjut Kakek Penasihat seraya beralan menuju sebuah meja yang berada tidak terlalu jauh di samping kiri dan meletakkan buku tersebut di atasnya. Tepat berada di bawah sebuah lampu minyak yang masih menyala terang meski entah sudah berapa lama tidak ada orang yang merawat tempat ini.

Pangeran Mikaél mendekat mencoba memperhatikan tulisan dan gambar yang ada pada buku itu. Kakek Penasihat bergeser sedikit setelah meletakan buku agar Pangeran Mikaél bisa mengamatinya sendiri. Pangeran Mikaél membuka beberapa lembar buku itu. Dia mencoba mencerna tulisan-tulisan itu.
Pangeran Mikaél membuka buku itu dan membalik-balikkan beberapa halaman. Sampai pada sebuah yang terlihat gambar seekor monster yang mirip dengan monster jelmaan Tuan Tanah.
”Gargontaur. Kreyzure yang mempunyai bentuk seperti kera besar dengan bulu-bulu berwarna putih yang menutupi sekujur tubuh. Bagian kepala mempunyai empat buah tanduk. Wajahnya lebih mirip dengan kerbau daripada kera. Gargontaur mempunyai taring. Meskipun tidak mempunyai kemampuan tarung yang hebat, kelebihan Gargontaur adalah dia mempunyai pikiran seperti inland. Hal ini mungkin seiring dengan kemampuan yang bisa menyusutkan tubuh dan mengubah diri menjadi inland.”

“Gargontaur paling sering ditemukan di daerah yang beriklim dingin.” Pangeran Mikaél menjadi semakin bertanya-tanya. “Beriklim dingin! Buat apa kreyzure daerah dingin berada di tempat kita sejak beberapa belas tahun yang lalu? Apa dia tersesat, terdampar atau ada yang membawanya ke sini, dengan sengaja?”

Pangeran Mikaél menatap Kakek Penasihat,
Pangeran Mikaél membalikkan beberapa halaman lagi sampai menemukan sebuah gambar yang menyerupai Classyalabos Collat. Pada buku disebut sebagai Vawwel, Kadal Api. Buku itu juga menyebutkan kalau Vawwel tidak pernah akur dengan makhluk hidup lain. Apalagi yang tidak sejenis.”

“Mina mengatakan kalau Gargontaur itu berusaha mendapatkan Bunga Bening. Dan dia memerintahkan seekor Vawwel untuk menjaga Jantung Hijau yang akan menjadi Bunga Bening.” Pangeran Mikaél memang merasakan sedikit kecurigaan pada keberadaan Gargontaur dan Vawwel yang berasal dari tempat yang berbeda bisa bekerja sama. Belum lagi kecendrungan Vawwel yang selalu berburu sendirian.

“Siapa atau apa yang bisa membuat mereka bisa bekerja sama seperti ini? Tidak mungkin hanya karena Bunga Bening semata?”
Pangeran Mikaél kembali membalik-balikan buku yang sangat tebal itu sambil mebaca sedikit penjelasan tentang buku itu sendiri.

Pangeran Mikaél akhirnya mengetahui kalau buku itu merupakan sebuah jurnal yang dibuat oleh seseorang yang bernama Légio. Orang ini berteman dengan Raja Ivan Héironéous, pendiri Kerajaan Bés Yua. Selain itu juga diceritakan tentang perang Afras dari Kerajaan Fletchia, yang kebanyakan orang mengira hanyalah sebuah dongeng. Pangeran Mikaél mengamati beberapa halaman awal jurnal pada bagian perang Afras.

Sedikit penggalan puisi yang ditulis dengan aksara Samplesta, bahasa bangsa Angin, mengawali cerita tentang perang Afras yang dulu terjadi beberapa waktu sebelum Kerajaan Bés Yua berdiri. Memang cerita itu berasal dari Kerajaan yang sangat jauh dari Bés Yua, namun entah kenapa Légio menuliskan tentang perang itu. Apa ada kaitannya dengan Kerajaan Bés Yua, Pangeran tidak begitu mempedulikan, terlebih dia tidak begitu paham dengan aksara Samplesta.

Pangeran Mikaél meneruskan membaca buku jurnal itu lembar demi lembar mencoba mencari sesuatu yang berkaitan dengan kejadian di desa Hallari. Sesaat matanya melihat tulisan yang sebuah gambar yang mirip dengan pedang yang didapatkan Reiđ.

”Pedang Bintang Pagi, pedang yang merupakan pusaka Kerajaan Fers, Kerajaan Cahaya. Pedang pemberian Dewa Urim, sang dewa cahaya.” Pangeran Mikaél mengambil jeda.

”Dewa Urim? Apakah dewa yang sama dengan Dewa yang disembah Kerajaan Avalon?”

Pangeran Mikaél kembali membalik-balikkan halaman buku sampai dia menemukan sebuah tulisan mengenai Bunga Bening.

”Untuk membangkitkan kembali mereka yang pernah mati, necromance merupakan sihir yang tepat untuk itu. Tapi keberadaan mereka layaknya seperti budak yang harus diperintah oleh tuannya. Mantra yang lain adalah Ritual Hitam Pemanggil Wujud Rajah, berbeda dengan necromance, Pemanggil Wujud Rajah akan membangkitkan kembali kesadarannya sama seperti dengan keberadaannya saat hidup.”

Pangeran Mikaél terus membaca tanpa menghiraukan keberadaan Kakek Penasihat. Bunga Bening, Pangeran Mikaél akhirnya menemukan juga keterangan tentang benda itu di dalam buku. Ternyata Bunga Bening juga sebagai salah satu dari syarat untuk melakukan ritual kebangkitan.

Tanpa sengaja Pangeran Mikaél menjatuhkan buku tersebut ke lantai sehingga dalam keadaan tertutup kembali. Tepat pada saat hendak mengambil buku itu, mata Pangeran Mikaél menatap sepasang bulan sabit yang ada di dalam matahari.

Di dalam ukiran bulan sabit terdapat tulisan kecil. Awalnya tulisan itu tidak terlihat, namun saat Pangeran Mikaél mengangkat buku dalam posisi tegak, pantulan cahaya dari lampu minyak membuat tulisan itu memantul tepat ke wajah Pangeran Mikaél.

Tulisan disampul depan buku ditulis bukan dengan aksara yang diketahui Pangeran Mikaél, bukan juga dengan tulisan Samplesta. Anehnya Pangeran Mikaél bisa memahami tulisan itu. Memahami bukan membaca.

Pangeran Mikaél tersentak saat Kakek Penasihat menepuk bahunya. Untuk beberapa saat tadi Pangeran Mikaél terdiam sambil mengamati sampul buku. Karena itu Kakek Penasihat menyadarkan Pangeran Mikaél setelah tidak menyahut saat dipanggil berkali-kali.

#########

Read previous post:  
0
points
(1121 words) posted by makkie 9 years 28 weeks ago
Tags: Cerita | fanfic | fantasi | pedang | petualangan | zheik
Read next post: