Derasnya Air Mata

Terus mengalir tak henti,
Air mata ini.
Mengalir dan membanjiri,
Mengisi penuh kesedihan di dalam diri.

Aku tak pernah mengerti sedikit pun tentangmu,
Perlakuanmu yang tiba-tiba membunuh cintaku.
Membunuh dan bersimbah darah,
Meneteskan rasa kematian padaku.

Benarkah selama ini kau hanya pura-pura dibelakangku,
Benarkah senyummu itu hanya kau perlihatkan dengan terpaksa,
Benarkah ucapan cintamu hanya terucap begitu saja,
Aku benar-benar kecewa padamu, dan kau hanya bisa bilang kata maaf saja.
Percuma...
Sudah terlambat...

Kini aku t'lah sendiri,
Dan sosokmu t'lah kuhapus dari hati.
Sisa-sisa air mata ini masih ada,
Namun ku yakin suatu saat nanti air mata ini 'kan mengering,
Dan kesedihan yang penuh terisi air mata ini 'kan ikut mengering melupakan hal yang sudah-sudah.

*Notes from the Author :
Tak selamanya hal yang nampak itu bisa dimiliki dan Tak selamanya hal yang sudah dimiliki itu bisa dipertahankan, dan Tak selamanya pula hal yang sudah dipertahankan itu bisa dilihat, dimiliki, dan dipertahankan terus menerus.

Cire W

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer dewi linggasari
dewi linggasari at Derasnya Air Mata (9 years 38 weeks ago)
70

Ah, sandiwara kehidupan....
--berulang dan berulang--