Yang Terlihat, Yang Terasa

Jika saja kau dapat mendengar tangisan pohon-pohon yang menunggu untuk ditebang, kawan

Jeritan sang raja hutan yang berlari tunggang-langgang menyelamatkan diri,

dari si jago merah yang siap menghabisinya

Sang Jati menangis melihat kawananya telah habis ditebang dan terbakar,

dan mungkin mengadu pada Tuhan untuk mengirimkan air bah pada manusia serakah itu

Tengoklah jalan-jalan berdebu yang membuatmu sesak dengan asap knalpot

Bungkus plastik bertebaran ke sana kemari, menari-nari, lalu diinjak roda ban mobil-mobil mewah yang melintas

Sebuah tong sampah yang teronggok di bawah pohon hanya bisa diam melihat aksi si plastik

Ia sudah lama teronggok dan dibiarkan di sana, warnanya pun sudah tak jelas

Tapi mungkin sampah yang pernah ada di dalamnya tak pernah seberapa dengan jumlah sampah yang menari-nari di udara yang dilihatnya setiap hari

Di Senayan, para politikus naik ke singgah sana mereka

Mereka diiringi jeritan para ibu yang kehabisan susu untuk bayi-bayi mereka, yang oleh para politikus itu dielu-elukan sebagai penerus masa depan

Namun lihat apa yang mereka lakukan? Malah mendengkur keras

Dan tiap akhir bulan tinggal menunggu gaji buta mereka mengalir ke kocek mereka

Seorang anak kecil berpakaian seragam lusuh menggigit bibirnya

Ia terus memandang ke dalam kelas, memperhatikan apa yang mungkin sang guru ajarkan pada teman-temannya

Apa yang ia lakukan di sana? Duduk di atas pohon sambil berharap ia dapat masuk ke dalam kelas itu

Kenapa tidak masuk saja? Jawabannya sederhana, belum bayar iuran.

Dalam hati, sang ibu yang sedang terbatuk-batuk mengirup karbon monoksida di jalanan hanya bisa mempertanyakan program sekolah gratis yang mereka teriakkan

Dan kini Tuhan memperingatkan kita dengan meletakkan jarinya di atas Sumatra

Membuatnya bergetar, hanya sedikit—maksudnya mengingatkan.

Ratusan mayat yang tadinya membiarkan busuk di bawah reruntuhan kini jadi ajang kampanye partai

Mereka dimasukkan ke dalam kantung kuning berlogo partai

Kampanye gratis ya, pak?

Entah apa yang akan dilakukan Tuhan terhadap kita selanjutnya

Entah sudah berapa kesalnya Tuhan pada kita..

Ayah, pasti Tuhan sudah kesal sekali pada kita ya? seorang anak kecil berpipi merah bertanya pada pria paruh baya yang ringkih di hadapannya

Untung Tuhan Maha Pemurah dan Pemaaf, nak. Kalau tidak entah sudah jadi apa kita.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
fhydha099imutzz at Yang Terlihat, Yang Terasa (9 years 11 weeks ago)
100

Dasar penulis cerpen! >.<
Lucu, puisi seperti cerpen. But, good luck dech

Writer Arianne
Arianne at Yang Terlihat, Yang Terasa (9 years 11 weeks ago)

hahahahahaha. puisi sebenarnya gak selalu harus berkonotasi. bisa langsung to the point/lugas.

Writer Arianne
Arianne at Yang Terlihat, Yang Terasa (9 years 11 weeks ago)

terima kasih atas komentarnya... *membungkukkan badan 90 derajat*

Writer cahya
cahya at Yang Terlihat, Yang Terasa (9 years 16 weeks ago)
100

Great poems, mungkin jika dibacakan secara lantang d senayan akan bgs sekali. Si aku digambarkan secara lugas mungkin agar menarik minat pembaca dan tidak menimbulkan arti yg bias sekaligus penegasan makna yang langsung. Great
salam
cahya

Writer che.aulia
che.aulia at Yang Terlihat, Yang Terasa (9 years 16 weeks ago)
100

save our earth now...
terlebih untuk para pembalak liar, kalian harus baca dan dalami isi puisi ini...

sempurna

Writer lyricist egi poet
lyricist egi poet at Yang Terlihat, Yang Terasa (9 years 16 weeks ago)
100

sangat dalam maksudnya nice poem komen puisi baru saya juga ya

Writer Titikecil
Titikecil at Yang Terlihat, Yang Terasa (9 years 16 weeks ago)
80

Kk, titik setuju ama idenya, tp maaf, kesan puisi sbg karya sastra yang padat kata dan sarat makna, ga titik temuin disini. Tp entah, mungkin masalah rasa aja. Terus b'karya! Lam kenal....*ada tgn kanan titik ngajak kk salaman hehe!

rip8 at Yang Terlihat, Yang Terasa (9 years 16 weeks ago)
70

ini sie kayaknya bukan puisi >.<

lebih mirip ke arah cerpen tapi entahla