Winter Sister Mizuki (1)

Bulatan-bulatan putih mulai turun dari angkasa. Dia datang tidak sendiri, melainkan bergerombol. Seiring berputarnya waktu, bulatan putih selembut kapas itu terus turun ke bumi hingga membuat bumi putih olehnya. Kejadian itu terjadi secara periodik. Selain itu, suhu terasa dingin olehnya. Hingga terjadilah sebuah musim salju, musim dambaan semua orang.

Pemuda itu lari tergopoh-gopoh menerobos jalan yang bersalju. Ia tahu bahwa medan yang dilaluinya cukup berat, sehingga ia mengerahkan seluruh tenaganya hanya untuk berlari menuju suatu tempat. Tempat penantian semua orang yang sedang menunggu seseorang untuk dijemput, dan disalami dengan hangat. Meskipun dingin menyengat tubuhnya, toh ia tak bisa berbuat banyak kecuali mengayunkan kakinya lebih kencang bagaikan seekor Rusa Kutub. Ketika sebuah tumpukan kecil salju menimpuk kepalanya, ia segera mengibaskan tangannya di atas kepalanya. Oh, ia lupa memakai kupluk ternyata.

Usaha si pemuda yang mengenakan jaket coklat, syal putih-hitam, dan celana panjang hitam tidak sia-sia. Terbukti ia berhasil mencapai sebuah tempat yang ramai dikerumuni manusia yang memiliki tujuan yang sama dengan pemuda itu. Ia memburu nafasnya karena sehabis berlarian menuju tempat ini. Keringat mulai mengucur, lantas ia mengelap dahinya dengan tangan kanannya. Ia melangkah menuju sebuah kursi kayu berwarna hijau yang saat itu belum diduduki siapa-siapa. Setelah ia duduk, ia selempangkan kaki kanannya di atas dengkul kaki kirinya. Dengan rasa penasaran terhadap sanak famili yang akan datang berlibur di tempatnya. Menunggu dengan amat sabar meskipun dingin yang sampai menusuk tulangnya. Meratapi sebuah jalur besi yang panjangnya ribuan kilometer demi menanti orang yang ditunggunya.

===============================================================

17 Tahun Yang Lalu....

"Kamu disini rupanya...!" seru seorang gadis kecil pada seorang anak lelaki.

Si anak lelaki nampaknya mendengar suara gadis kecil berambut pendek hitam itu. Namun, ia hanya duduk jongkok di pinggiran sungai yang membeku serta menyaksikan sungai beku tersebut. Entah apa yang dilihatnya sampai-sampai ia menatap sungai beku itu dengan serius.

"Onii-san?" tanya gadis itu sekali lagi.
anak lelaki itu memalingkan pandangan dari sungai itu ke arah gadis yang sedari tadi memanggilnya. Pas sesuai harap si gadis kecil itu.

"Onii-san, kamu tahu aku bakal meninggalkan kota ini besok..."

Gadis kecil ini tersenyum lebar pada anak lelaki tersebut. Tangannya menyembunyikan sesuatu yang dingin di balik kedua tangannya di belakangnya.

"Jadi... Umm... Terimalah kenang-kenangan dariku ini... Onii-san..."

Gadis kecil itu menunjukkan sebuah gumpalan putih lembut di tangan kanannya. Dua biji semangka, dua daun hijau yang menancap di ujung gumpalan itu. Jadilah sebuah kelinci salju rancangan si gadis itu.

"Sederhana, ya? Kuharap kamu bisa menikmatinya..."

Si gadis meratap wajah anak lelaki yang berusia 10 tahun itu dengan harapan ada balasan dibalik pemberian ini. Gadis yang berusia tiga tahun lebih muda dari anak lelaki itu mengharapkan satu kata pun dari lelaki itu. Si anak lelaki menatap gumapalan itu dengan dingin. Keningnya mulai dikerutkan, matanya mulai menyipit. Ia mengangkat tangan kecilnya agak tinggi dan...

PLAAKK!!

Anak lelaki itu mengayunkan tangan kecilnya ke arah tangan kanan si gadis yang saat itu memegang gumpalan salju tersebut. Lantas si gadis kaget bukan kepalang. Sebuah kenang-kenangan sederhana yang dimaksudkan untuk membuat si anak lelaki terus ingat padanya ketika ia pergi dari kota ini ternyata ditolak mentah-mentah. Siapa lagi pelakunya kalau bukan anak lelaki itu.

"Ouh... Tidak apa-apa.... Tidak apa-apa, Onii-san... Aku mengerti..." si gadis mulai merangkak membenahi kelinci saljunya yang mulai hancur tak karuan.

"Aku mengerti kalau..... Kalau kamu tidak menyukai salju... Ini semua salahku... Ya, salahku.... Seharusnya aku tidak memberikanmu ini...."

Dari nada si gadis yang agak terbata-bata, sepertinya ia sedang meratapi kesedihan. Sementara anak lelaki yang di depannya tidak bergeming akan situasi tersebut. Tak lama kemudian, ia berlari meninggalkan gadis kecil itu sendiri. Meratapi tangisan kesedihan.

===============================================================

Sebuah susunan besi yang berwarna krem menghampiri tempat yang disinggahi oleh pemuda itu. Susunan besi beroda itu yang sepertinya dari awal melaju kencang di atas rel mengerem, sehingga menimbulkan suara bising yang tidak nyaman didengar. Namun, justru kehadiran alat transportasi yang dinamakan kereta listrik itulah yang ditunggu banyak orang. Memastikan bahwa seseorang yang ditunggunya hadir di hadapannya dan lantas memberikan salam hangat, terkadang disertai pelukan jua. Si pemuda tidak sadar bahwa ia sejak pertama hadir dalam tempat ini ia tertidur melepas lelahnya.

Diantara ratusan orang yang keluar dari kereta listrik tersebut, hanya satu orang yang ditunggu oleh seseorang. Ia mengenakan jaket putih dengan syal yang serupa dikenakan oleh seseorang yang ditunggunya. Rambutnya panjang sampai pinggang dan berwarna hitam bersih. Matanya tajam, mungkin tidak setajam orang yang ditunggunya. Lantas, langkah kakinya dengan gemulai diarahkan menuju seorang pemuda yang tertidur di atas kursi kayu.

"Onii-san..... Onii-san...."

Si pemuda terbangun secara tiba-tiba. Ia mengucek kedua matanya dan melihat apa yang ia hadapi sekarang. Itulah orang yang ditunggunya sedari tadi.

"Oh! Kamu rupanya..... Maaf tadi aku ketiduran...."

"Tak apa, Onii-san. Yang penting aku sudah kembali kesini. Ohya, ayah dan ibu sepertinya punya sesuatu yang menarik untukmu..."

Gadis itu menyerahkan sebuah tas plastik putih ke tangan sang pemuda. Ia mengintip isi tas plastik itu. Oh, sebuah selimut tebal rupanya. Padahal ia mengira ada sesuatu yang mengenyangkan perutnya ketika ia melihat tas plastik yang berukuran besar itu.

"Ouh.... Selimut rupanya? Kenapa kedua orang tuamu tidak memberikan sesuatu yang bisa kuuangkan untuk makan?"

"Hush! Onii-san..." si gadis menyekap mulut si pemuda dengan cekat. "Tak baik berkata seperti itu di tempat umum..."

"Maaf..."

"Humm.... Onii-san. Apa kamu ingat namaku setelah kita berpisah selama tujuh belas tahun yang lalu?"

"Biar aku tebak....." nampak si pemuda memejam matanya dan mengusap-usap rambutnya. Ia segera berpikir untuk mencari tebakan yang benar.

"Hazune?" terka pemuda itu.

Si gadis menggeleng.

"Nagisa?"

Si gadis menggeleng lagi.

"Kotori?"

Si gadis menggeleng untuk ketiga kalinya.

"Huuh... Sepertinya kamu melupakan namaku ya?" komentar sang gadis dengan nada agak cemberut.

"Sudahlah, namamu kita bahas nanti dirumah..."

Pemuda itu berniat mengajak si gadis pulang ke rumahnya. Ia segera menggenggam tangan kanan si gadis dengan tangan kanan pemuda itu. Ia menggenggamnya dengan erat dan hangat.

"Mari kita pulang, Mizuki..."

Lega rasanya hati gadis yang bernama Mizuki itu. Ia senang kakak kandungnya dapat mengingat nama si gadis yang genap berusia 23 tahun.

"Oh... Onii-san...." tukas Mizuki dalam hati.

Akhirnya, di bawa pulanglah si gadis yang merupakan adik kandung pemuda itu ke rumahnya. Dengan senang hati, Mizuki mengikuti kakaknya kemanapun sang kakak membawanya. Beban di tas ranselnya bahkan tidak menghalangi Mizuki.

Mungkin Bersambung...

Read previous post:  
Read next post:  
Writer scaramouche
scaramouche at Winter Sister Mizuki (1) (9 years 20 weeks ago)
90

wah gw tertarik ama temanya, jg keinget film Boku wa imôto ni koi wo suru ^^
btw salut bgt, padahal bikin slice of life itu susah bgt :)

Writer neko-man
neko-man at Winter Sister Mizuki (1) (9 years 23 weeks ago)
80

Eh, temanya kayak dulu ya? Sip dah.

Writer Gladiss Gazelle
Gladiss Gazelle at Winter Sister Mizuki (1) (9 years 25 weeks ago)
100

mungkin bersambungnya diganti sudah bersambung :p

uwh rasanya imut sekali menggunakan kata onni-san untuk sebutan kaka..

Writer al0enxz
al0enxz at Winter Sister Mizuki (1) (9 years 27 weeks ago)
50

intronya keren, nunggu isinya nih :D

Writer anggra_t
anggra_t at Winter Sister Mizuki (1) (9 years 27 weeks ago)
70

hore! tom bikin cerita roman lagi! yeaa! *seneng*
hmm... pengawalannya memang gak seindah awal cerita venice-mu sih, tapi cukup menarik buat diikuti lebih lanjut. ayo! ayo! jangan kecewakan diriku lagi, tom.. ^o^
kok mungkin? aku nunggu lanjutannya nih ^^
btw jangan ladenin komentar gak jelas, tom. sekarang kan dah bisa nge-delete. hahaha~! santai aja. :)

Writer smith61
smith61 at Winter Sister Mizuki (1) (9 years 27 weeks ago)

Wah wah

Writer Tom_Hirata
Tom_Hirata at Winter Sister Mizuki (1) (9 years 27 weeks ago)

Sip!! Ntar ane lanjutin. Thanks

Writer smith61
smith61 at Winter Sister Mizuki (1) (9 years 27 weeks ago)
70

Wah lama tak lihat Temon Hirata haha peace!

Kurang suka cerita macam ini..

Writer Tom_Hirata
Tom_Hirata at Winter Sister Mizuki (1) (9 years 27 weeks ago)

yaah.... :(

Writer Tom_Hirata
Tom_Hirata at Winter Sister Mizuki (1) (9 years 27 weeks ago)

Ganti namanya ahh.....
Btw, ada nama yg cocok ga buat kakaknya nih??

Writer alcyon
alcyon at Winter Sister Mizuki (1) (9 years 27 weeks ago)

kayaknya udah cocok deh, gak usah diganti!

Writer alcyon
alcyon at Winter Sister Mizuki (1) (9 years 27 weeks ago)
80

Aneh, bisa lupa nama kakak kandungnya sendiri........ hmmmM~

Writer Tom_Hirata
Tom_Hirata at Winter Sister Mizuki (1) (9 years 27 weeks ago)

Inspired by Kanon 2006, eps 1