Bumi kepada Langit

Aku mencintai kamu layaknya bumi kepada langit. Kamu tahu kan langit itu terlihat oleh bumi. Tapi bumi tak dapat menjangkaunya. Bumi memimpikan langit setiap saat. Tapi tak pernah menyentuhnya.

Kebetulan namaku Bumi. Tapi aku tak tahu namamu. Okey kalau begitu, aku panggil kamu Langit.

Kamu itu layaknya bintang tapi tak pernah tersentuh. Dan kamu memang bintang. Kamu memainkan peran di sebuah drama. Drama itu tak banyak diminati orang, karena pemeran utamanya bukan wajah-wajah tampan yang secara tipikal disukai perempuan-perempuan seumurku waktu itu. Kamu buka siapa-siapa di drama itu. Tapi kamu mencuri hatiku.

Saat itu kamu terlihat ‘cute’, jelas-jelas seperti itulah tipe laki-laki yang aku sukai dulu. Beranjak semakin tua, aku juga menyukai sesuatu yang lebih dewasa. Dan seperti kebetulan kamu pun bertumbuh menjadi pria dewasa. A gentleman, not a boy anymore. Dan aku bersyukur aku bisa tetap menyukaimu dari dulu sampai sekarang.

Kamu sempurna. Itu kata-kata yang paling sering aku tulis tentang kamu dalam puisi-puisi yang aku tulis. Buatku, kamu adalah kesempurnaan itu sendiri. Kamu mencintai Tuhan, kamu bermain alat musik, kamu mempunyai ilmu bela diri, artinya kamu bisa menjagaku kalau ada apa-apa, tinggi kita berbeda tepat 20 centimeter – seperti yang aku impikan ketika aku kecil, yang artinya kepalaku akan tepat sejajar dengan pundakmu ketika kita berjalan berdampingan – kamu baik hati sekaligus nakal, kamu lembut sekaligus manly, singkatnya kamulah impianku.

Tapi kamu hanya bayang-bayang. Kamu semu. Kamu hanya sebentuk informasi dalam dunia maya.

Tapi aku terlanjur jatuh cinta pada sosok informasi itu.

Terkadang aku berpikir ini hanya delusiku saja. Kamu sebenarnya tidak nyata. Semakin lama aku belajar tentang manusia, semakin aku mengerti ‘kemanusiaan’-ku. Dan terkadang aku tidak normal, aku takut kamu benar-benar sebuah delusi.

Bodohnya aku tetap percaya, kamu ada.

Lalu aku mulai kecanduan dirimu. Aku harus melihat, mendengar, mengetahui apapun tentang kamu. Saat aku melihat langit pun, aku sedikit banyak merasa kamu sedang melihat langit juga.

Terkadang aku percaya kalau kamu juga mencariku. Mencari seorang perempuan yang belum pernah kamu kenal. Berbeda bahasa, budaya, dan bukan perempuan yang kamu impikan. Aku sadar itu sama sekali tidak mungkin, namun sampai detik ini aku percaya kita menarik napas bersamaan.

Kemudian aku sadar aku seharusnya melupakan sosok sempurna yang menyita segalanya, bahkan ketika berdua dengan Tuhan aku lupa tentang apa yang harusnya kulakukan dengan Tuhan atau apa yang seharusnya aku utamakan untuk Tuhan. Yang bisa kuucapkan hanyalah keinginanku menemuimu dan semoga Ia mengingatkanmu untuk menjemputku secepatnya. Aku berdosa karena menomorduakan Tuhan.

Untuk itu, aku berjanji dalam 6 bulan ini aku tidak boleh menyentuhmu dalam ruang-ruang maya itu. Sekalipun berkali-kali tanpa sengaja aku melihatmu. Aku merasa itu anugerah Tuhan, Ia membiarkanku tetap mengingat mata dan lesung pipimu ketika tersenyum.

Saat itu juga aku melatih pendengaranku tentang suaramu. Biar jika tiba-tiba kita bertemu dan aku tidak mengenali wajahmu lagi, setidaknya aku bisa mengenali suaramu. Kamu tahu, kadang jika mendengar rekaman suaramu, hatiku bergetar.

Ada saat-saat di mana aku mulai sesak. Sudah jenuh menahan diri dari melihat wajahmu. Yang bisa aku lakukan adalah menangis sambil mendengar suaramu. Sambil aku berbisik pada Tuhan bahwa kamu adalah lelaki yang paling aku inginkan.

Tanda-tanda Tuhan memang tak pernah terbaca jelas. Namun, setiap kali ada sesuatu yang tersirat yang menumbuhkan kepercayaanku bahwa kamu ada dan suatu hari nanti kita akan bertemu. Setiap pagi ada saja satu kejutan baru yang membuatku percaya kita sedang berjalan di suatu jalan dan akhirnya pada waktu yang tepat kita akan berpapasan. Di situlah aku akan melihat cahaya matamu yang nyata.

Suatu malam, saat aku mulai terhanyut untuk tidur. Aku bermimpi kamu mengecup dahiku dan mengucapkan selamat tidur. Aku merasa itu nyata dan akhirnya terbangun. Demi kemurnian hatiku, aku bicara pada Tuhan. Jangan membuat aku berpikir bahwa kau benar-benar mengecupku dan mengucapkan selamat tidur. Sampai sekarang aku selalu meyakinkan diriku bahwa Tuhanlah yang mengecupku waktu itu.

Dan saat aku menuliskan ini, aku berharap kamu bisa merasakannya.

Aku sedang merindukanmu. Merindukanmu sampai sepertinya setengah nyawaku sedang melayang mencarimu.

Aku harap aku memimpikanmu malam ini.

Aku juga berharap kamu memimpikanku malam ini.

Selamat Tidur! Anyonghi Chumuseyo!
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Aku mencintai kamu layaknya langit kepada bumi. Kamu tahu kan bumi itu terlihat oleh langit. Tapi langit tak dapat menjangkaunya. Langit memimpikan bumi setiap saat. Tapi tak pernah menyentuhnya.

Tapi aku pikir langit bertemu bumi di batas cakrawala.

Namaku Langit. Dan aku tahu namamu Bumi.

Aku sedang dalam perjalanan menjemputmu dan aku tahu kamu sedang berjalan mencariku. Nantikan aku saat kita berpapasan di cakrawala.

Tidurlah dengan nyenyak! Aku akan mengantarmu ke dalam tidur dengan sebuah kecupan seperti yang lalu. Tak perlu memimpikan aku, karena aku sebuah kenyataan.

Selamat Malam!

Niken Putri Utami
Kamis, 6 Mei 2010
09.22 pm

O Lord, sorry, I miss him...

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Goldwizard
Goldwizard at Bumi kepada Langit (9 years 13 weeks ago)
60

tulisan puitis dan romantis ya :) jadi bisa ngebayangin harapannya pada seseorang. mungkin ini semacam diary, atau mungkin prolog suatu cerita, yang manapun kembali pada penullisnya :) yang jelas, saya merasa tulisan ini ditulis dengan hati.
keep writing

salam kenal :)

Writer sakurasasaki
sakurasasaki at Bumi kepada Langit (9 years 11 weeks ago)

thanks.. ini memang ditulis dengan segenap hati dan perasaann...

Writer fanta
fanta at Bumi kepada Langit (9 years 13 weeks ago)

Layaknya bumi mencintai langit.. Hanya menatap, tak dpt tersentuh..
Suka..suka..suka..

Writer sakurasasaki
sakurasasaki at Bumi kepada Langit (9 years 13 weeks ago)

terimakassiiihh banyaakkk....

Writer sekar88
sekar88 at Bumi kepada Langit (9 years 13 weeks ago)
80

delusi dari KBBI online :
de·lu·si /délusi/ n Psi pikiran atau pandangan yg tidak berdasar (tidak rasional), biasanya berwujud sifat kemegahan diri atau perasaan dikejar-kejar; pendapat yg tidak berdasarkan kenyataan; khayal

sedangkan ilusi

ilu·si 1 n sesuatu yg hanya dl angan-angan; khayalan; 2 n pengamatan yg tidak sesuai dng pengindraan; 3 a tidak dapat dipercaya; palsu

^^ cuma itu kok agak menganggu

Writer Shinichi
Shinichi at Bumi kepada Langit (9 years 13 weeks ago)
50

lumayan asyik, tapi nggak begitu menarik.

saia cenderung sukak cerita dngan dialog banyak

yang ini kagak ada

salam

Writer sakurasasaki
sakurasasaki at Bumi kepada Langit (9 years 13 weeks ago)

hmmm... iya sih,,, ini kan monologue... but anyway thanks...

Writer Gladiss Gazelle
Gladiss Gazelle at Bumi kepada Langit (9 years 13 weeks ago)
100

saya gak bisa komen kelebihan ato kekurangan (karena gak tau) pissss

salam kenal

Writer me_everywhere
me_everywhere at Bumi kepada Langit (9 years 13 weeks ago)
70

Dipoles dan diperhalus sedikit pasti jadi bagus. :) Menurut saya sudah lumayan mengalir dan enak dibaca.

Cuma sedikit lengah aja di sini :'Kamu itu layaknya seperti bintang tapi tak pernah tersentuh.' --> 'layaknya' dan 'seperti' itu artinya sama. Menurut saya ini kurang efektif. Kalau saya pribadi lebih suka 'Kamu layaknya bintang yang tak pernah tersentuh'.

Cuma saran.
Keep writing ya! :)

Writer sakurasasaki
sakurasasaki at Bumi kepada Langit (9 years 13 weeks ago)

hmmm... hahhah ga sadar....

thankss...

Writer ishjenie
ishjenie at Bumi kepada Langit (9 years 13 weeks ago)
70

'aku mencintai kamu layaknya bumi kepada langit'

delusi delusi.. hehehhe keep writing ya, salam kenal!
:p hehe...