Zheik, The One With Power - 5th Scroll Chapter 2

Pintu kabin terbuka. Seorang bertubuh besar memasuki kabin. Tubuhnya sangat besar hingga menutupi cahaya yang masuk dari pintu yang seharusnya bisa dilewati dua orang dewasa. Tubuhnya dibalut dengan pakaian resmi kerajaan. Meskipun tidak memakai pakaian resmi lengkap, namun dari pakaian yang dipakai bisa terlihat bahwa dia mempunyai jabatan yang tinggi. Sosok itu mendekati pemuda yang tadi pingsan di permukaan laut.

Sang pemuda sedang duduk di salah satu meja di ruang pengobatan sambil meminum secangkir minuman penghangat yang diberikan salah satu Kuraré di situ. Dua lembar selimut tebal masih dikenakannya untuk menghangatkan tubuhnya yang masih belum pulih. Pemuda itu menengok ke sosok orang yang baru saja masuk, namun tatapan matanya masih kosong. Pikiran dan badan si pemuda tidak sedang bersatu, belum.

“Einar Redfang!” ucap Jenderal Einar.

Namun pemuda itu hanya menatap dingin ke arahnya. Bahkan tidak menerima uluran tangan Jenderal itu. Dia hanya diam membisu dan meletakkan tempat minum yang tadi dia pegang ke atas meja. Mengingat pesan Naster Eva bahwa ada pengkhianat, dia berusaha untuk tidak dengan mudah mempercayai orang-orang ini meskipun mereka telah menyelematkan dirinya. Dia mendekap dengan erat selimut yang sejak pingsan sudah dia kenakan, sambil mengalihkan pandangan menatap cangkir minumnya.

Jenderal Einar menarik kembali tangannya dan mengambil kursi di seberang pemuda itu. Meskipun Jenderal Einar terkenal tegas dan keras, namun menghadapi orang yang bisa dianggap tidak sopan ini, Jenderal Einar lebih memilih mengambil sikap bijak. Dia tahu kalau pemuda itu sengaja membuat jarak, seakan menjaga diri begitulah yang dipikir Jenderal Einar saat melihat tingkah laku pemuda tadi. Entah kejadian apa yang menimpanya yang jelas Jenderal Einar tahu bahwa itu sesuatu yang sangat buruk. Sangat-sangat buruk. Jenderal Einar bertambah yakin saat melihat tatapan mata pemuda yang dengan dingin menatap dirinya seakan tidak mempercayai siapapun.

Jenderal Einar mencoba mencairkan suasana dengan berbasa-basi mengajak makan pemuda itu. Namun meski makanan sudah disiapkan pemuda itu tidak menyentuhnya. Jenderal Einar tetap berceloteh seakan-akan sudah kenal dekat dengan pemuda itu. Namun sampai Jenderal Einar selesai makan, pemuda itu masih saja diam.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. Tapi kapal ini tidak bisa terus membawamu. Begitu ada kapal sipil yang berselisihan, kamu harus pindah ke kapal itu” kata Jenderal Einar sambil berdiri beranjak pergi.

“Oh ya, satu lagi! Sebaiknya kamu habiskan makanan itu, kalau kepala juru masak kami mengetahuinya dia akan marah besar. Dia akan mengira kamu tidak menyukai masakan yang dibuat salah satu juru masak terbaik di Bés Yua. Dia pasti akan marah besar, dan itu satu hal yang paling tidak kau inginkan terjadi, bahkan aku tidak menginginkan hal itu terjadi pada aku.” Jenderal Einar melangkah ke arah pintu.

Seketika itu juga pemuda tadi berdiri. Tersentak begitu mendengar Bés Yua.

“Tunggu sebentar Tuan! Namaku Azura Brighthide. Aku berasal dari Akademi Sihir, jika benar anda dari Bés Yua, saya mohon selamatkanlah kota kami. Selamatkanlah dunia ini.” pemuda bernama Azura itu berlutut memohon kepada Jenderal Einar. Di matanya terlihat kesedihan sekaligus dendam membara.

Azura menceritakan semua kejadian kepada Jenderal Einar, tidak membutuhkan waktu yang sangat lama. Azura hanya menceritakan bagian yang menurut dia sangat penting untuk diketahui.

Jenderal Einar tidak terlalu banyak berkomentar tentang cerita Azura, entah kenapa Jenderal Einar merasa tidak ada kebohongan dalam cerita Azura. Jenderal Einar hanya sedikit bertanya tentang siapa penyerang Zahaifé, seberapa besar kekuatan mereka dan segala sesuatu informasi tentang pihak lawan lainnya. Jenderal Einar merasa dia harus terlebih dahulu mengetahui siapa lawan yang akan dihadapi nanti.

Tidak lama setelah Azura bercerita, Azura merasa tubuhnya mendadak lemas. Perasaan aneh menjalar dari semua otot-otot dan persendian tubuh Azura. Matanya menjadi berkunag-kunang. Jenderal Einar melihat perubahan pada tubuh Azura. Jenderal Einar memanggil Kuraré yang sedang bertugas.
Setelah Azura diperiksa oleh Kuraré, Jenderal Einar meninggalkan Azura di ruang pengobatan. Dia memerintahkan Azura untuk tidak usah terlalu khawatir dan kembali beristirahat, perjalanan masih jauh, sekitar 4 atau 5 hari lagi, jika kecepatan dan arah angin tetap seperti ini. Sebelum pergi dari ruangan, Azura sempat mendengar Jenderal Einar berbicara pada salah satu prajurit untuk memangil semua komandan pasukan, dari semua kapal yang ikut dalam perjalanan ini untuk membahas tentang kejadian yang diceritakan oleh Azura. Azura tersenyum di atas tempat tidur ruang pengobatan, entah kenapa dia merasa Jenderal Einar seperti seorang teman lama. Teman yang akan langsung membantu saat dia sedang kesulitan.

Teman, Azura menyadari sekarang. Selama di Akademi Sihir dia tidak pernah memiliki banyak teman, bahkan dia tidak memiliki teman yang biasa disebut sebagai sahabat. Bukan salah siapa-siapa, tapi memang Azura sendirilah yang cenderung menutup diri terhadap orang lain. Sahabat, sudah lama Azura tidak bertemu dengan sahabat-sahabatnya yang ada di kota Baja. Sambil melamun tentang masa kecil tanpa sadar Azura tertidur dan bermimpi.

~~~~

“Janu tidal bra-es? Janu agra demiar alt?” sayup-sayup terdengar sebuah suara. Suara anak kecil. Ya, Azura yakin itu suara anak kecil, tapi dia tidak mengerti bahasa yang didengarnya. Azura belum pernah mendengar bahasa itu.

“Hei, kamu tidak apa-apa?” seorang anak kecil berada tepat di depan Azura. Umur anak kecil itu kira-kira 10 tahun. Lebih muda 2 tahun daripada Azura kecil. Di belakang anak kecil itu berdiri seorang anak kecil yang juga berusia sama dengan anak kecil yang pertama, bukan hanya sama tetapi wajah dan perawakan mereka juga mirip. Anak itu mengganti bahasanya dengan Bahasa Perjanjian.

Azura memandang sekeliling, banyak sekali pepohonan, apa dia sedang berada di hutan pikir Azura.

“Mmm…” Azura mengerang. Perlahan dia memegang bagian kepala yang terasa sakit. Bingung, Azura sendiri lupa kenapa dia tiba-tiba pingsan dengan sakit di kepala. Dia lupa dengan apa yang telah terjadi. Tidak ada yang dia ingat selain dia bernama Azura, Azura Brighthide. Hanya itu kenangan yang dia miliki, hanya suara itu yang terdengar jelas. Tapi dia tidak bisa mengingat siapa yang memberi nama, dia tidak bisa mengingat wajah mereka yang memanggil dia dengan nama Azura. Semakin keras dia mengingat, semakin sakit dia rasakan di bagian kepalanya.

“Ini!” anak kecil yang kedua menghampiri sambil membawa sekantung air. Sementara anak yang pertama meletakkan sehelai kain yang sebelumnya telah dibasahi ke kepala Azura. Rupanya bagian yang sakit di kepala Azura terlihat jelas oleh orang lain. Seperti bekas kena pukulan benda tumpul. Azura memegang kain basah dengan satu tangan dan menerima kantung air dengan tangan yang lain.

“Terima kasih.” kata Azura selesai minum. Dia menyerahkan kembali kantung air. Kemudian dia memegangi kain yang basah dengan kedua tangannya. Matanya terpejam saat dia menekan luka memar yang ada di kepalanya.

“Juno agra cha-ara Baja?” anak yang memberikan katung air bertanya dengan bahasa yang tidak dimengerti Azura.
Azura terdiam memandang keduanya, pandangan matanya terlihat jelas menunjukkan bahwa Azura tidak mengerti dengan perkataan dua orang anak kecil di depannya itu.

“Rupanya kamu tidak bisa berbicara bahasa Baja. Aku Sandohr, dan ini adik kembarku, Sandon!” anak kecil yang kedua memperkenalkan diri.

“Aku…” Azura terdiam sesaat,

“Aku Azura. Ya, Azura. Sepertinya itulah namaku. Karena selain itu aku tidak bisa mengingat hal lainnya. Aku bahkan tidak bisa mengingat siapa orang tuaku, aku berasal darimana, siapa..ah..” Mata Azura kembali terpejam. Dia merasakan sakit, tapi bukan dari memar di kepalanya, melainkan dari dalam pikirannya saat dia berusaha mengingat-ingat dirinya.
Sandon dan Sandor berpandangan,

“Hei, jangan dipaksakan. Aku pikir kamu kena penyakit hilang ingatan. Aku pernah dengar dari ayah. Mungkin karena benturan yang kamu alami di kepala.” Sandon memegang pundak Azura. Azura kagum, anak yang lebih kecil dari dirinya itu banyak mengetahui hal-hal yang Azura belum ketahui.

“Ayo, mari kami antar ke rumah pengobatan terdekat. Kebetulan aku kenal dengan paman yang bekerja di sana. Dia bisa menyembuhkan berbagai penyakit.” ajak Sandor sambil memegang lengan atas Azura. Sandon melakukan hal yang sama, tanpa hitungan mereka mengangkat Azura berbarengan.

Azura berusaha mengangkat tubuhnya, tapi seperti tidak ada tenaga yang keluar dari tubuhnya. Beruntung Sandor dan Sandon termasuk anak yang kuat.

Azura memandang sekeliling. Dia memang berada di hutan, hutan kecil dekat sebuah desa. Azura sama sekali tidak mengingat desa itu, bahkan dia sendiri yakin kalau dia tidak pernah ke desa itu. Tapi hutan ini, hutan, entah hutan ini atau bukan, Azura ingat tentang hutan. Sebuah pemandangan hutan muncul sekilas di ingatannya. Hanya hutan, hutan yang sepertinya dia kenal. Tapi apakah itu hutan ini? Azura tidak melanjutkan pikirannya, dia masih teringat dengan kejadian beberapa saat lau saat dia mencoba mengingat-ingat tentang dirinya.

Tiga tahun berlalu. Sejak pertama kali ditemukan oleh Sandor dan Sandon, akhirnya Azura menetap di sebuah desa. Desa yang bernama Mirgoth, sebuah desa yang terletak di kaki gunung Nesasi Mouth, salah satu gunung api terbesar yang terletak di pulau Aisland. Mirgoth merupakan salah satu desa yang berada di bawah pemerintahan Baja.

Mirgoth tidak bisa dibilang sebuah desa yang besar dan maju, hal ini karena Mirgoth berada pada posisi yang tidak menguntungkan, posisi yang terisolir. Di bagian selatan hingga ke barat, Mirgoth terbentengi dengan Nesashi Mouth, di utara terdapat laut namun tidak mempunyai pantai pasir, melainkan karang-karang yang besar, tajam dan bercadas.

Jalan yang bisa di bilang normal hanyalah jalan ke timur, namun ini pun harus melewati padang pasir, padang pasir yang panas dan gersang. Tanah yang terbuang, begitu penduduk Baja menyebutnya. Inilah yang menyebabkan orang-orang merasa malas untuk pergi ke Mirgoth, belum lagi karena letaknya yang berada tepat di bagian ujung daerah kekuasan Baja. Sebenarnya bukan yang paling ujung, karena setelah Mirgoth terdapat sebuah hutan atau bisa dikatakan rimba. Hutan ini disebut hutan Zan Gura.

Namun entah kenapa hutan ini seperti dibiarkan oleh pihak kerajaan, entah ada suatu alasan khusus atau hanya karena pihak kerajaan yang menurut kabar ingin membiarkan hutan itu tetap asli seperti adanya tanpa campur tangan manusia. Karena itu hanya ada satu jalur yang tidak begitu besar yang dibuat dari Mirgoth menuju kota Kurio yang jauh berada di bagian barat daya pulau Aisland. Membutuhkan satu hari satu malam untuk menuju kota Kurio dengan menggunakan kuda dan begitu juga sebaliknya.

Azura mempunyai tiga orang sahabat yaitu Sandor dan Sandon yang menolong dia dulu dan seorang lagi pemuda yang sebaya dengannya. Shumani, itu nama salah seorang sahabatnya lagi. Anak yang menurut Azura sangat aneh. Mungkin Azura bisa mengatakan anak itu pemalas, karena tiap hari pekerjaan yang Shumani lakukan hanya bermain dan sesuatu yang Shumani sebut pesta. Entah darimana dia mendapat permainan itu, kalau pesta bisa dikategorikan dalam permainan.

Berbeda dengan Azura, Shumani bukan seorang inland. Shumani adalah seorang iexian dari ras serigala, seorang Vilkas. Belum lagi sifat Shumani yang cenderung emosi dan agak banyak bicara. Di Mirgoth memang tidak ada yang mempermasalahkan ras, tapi masalah banyak bicara membuat Shumani di cap sebagai ‘nakal’ di desa Mirgoth. Sandor dan Sandon yang juga inland sudah berteman dengan Shumani sejak mereka masih berumur 4 atau 5 tahun, padahal Sandon dan Sandor bahkan tidak tinggal di Mirgoth. Mereka berdua tinggal bersama ayahnya yang sering berkelana di salah satu bagian pedalaman hutan Zan Gura. Karena ayah mereka sering bepergian, maka Sandor dan Sandon sering di tinggal di desa Mirgoth, karena kebiasaan sejak kecil itulah Sandor dan Sandon telah terbiasa berkunjung ke desa Mirgoth.

Berbanding terbalik dengan tingkah laku Shumani yang sering bermain, Ayah Shumani adalah seorang yang sangat serius dan tegas. Selain itu dia juga kuat, karena itulah ayah Shumani mendapat kepercayaan dari penduduk desa Mirgoth untuk menjadi pelindung desa mereka, seorang pemimpin, setara dengan seorang Kepala Desa. Memang di Mirgoth tidak mempunyai Kepala Desa.

Sampai sekarang Azura masih belum menemukan kembali ingatannya yang hilang. Tabib, begitu penduduk Baja menyebut orang yang bekerja di rumah pengobatan, yang ada di Mirgoth tidak mampu menyembuhkan. Tabib itu mengatakan kalau penyakit yang diderita Azura bukan penyakit biasa, penyakit itu bisa hilang dengan sendiri atau bahkan selamanya akan kehilangan ingatan. Tabib manapun tidak bisa menyembuhkan.

Azura cukup menikmati keadaan hidupnya di desa Baja bersama Sandor, Sandor dan Shumani. Tidak perlu waktu lama bagi Azura untuk memahami bahasa Baja dan kehidupan di Mirgoth. Orang yang tidak mengenal Azura akan menyangka kalau dia adalah penduduk asli Mirgoth. Bersama ketiga temannya, Azura banyak menghabiskan masa perubahan dari anak kecil menuju remaja sampai sebelum dia memasuki sekolah di Akademi Sihir.

Setelah bersekolah di Akademi Sihir, hubungan mereka sempat terhenti selama beberapa tahun. Namun Azura yakin persahabatan mereka akan tetap ada. Kenangan tentang Mirgoth dan ketiga sahabatnya tidak akan hilang, karena hanya kenangan itulah yang Azura miliki.

~~~~

Azura terbangun dari tidur. Mimpi tentang masa kecil membuat dia tidak sadar kalau dia sudah tertidur selama satu hari penuh. Namun kata Kuraré itu wajar, karena Azura sekarang masih berada dalam tahap penyembuhan. Tubuhnya masih belum kembali pada kondisi yang kuat. Belum lagi luka-luka di tubuh Azura, beruntung menurut Kuraré, Azura bisa berada pada kondisi saat ini. Seharusnya jika seorang biasa terkena luka seperti itu paling tidak baru satu bulan dia bisa bangkit dari tempat tidur.

Kuraré itu menyarankan agar Azura kembali beristirahat. Tubuh Azura harus diseimbangkan dulu karena beberapa aliran darah Azura belum normal semuanya. Setelah memberikan semacam ramuan yang bisa memperlancar aliran darah Azura. Tapi ramuan itu akan membuat dia tertidur selama tiga hari penuh.

“Jangan khawatir, begitu mendekati Fletchia kamu akan berada dalam kondisi yang paling prima yang pernah kamu dapatkan.” kata Kuraré yang merawat Azura.

“Sekarang kamu minum ramuan ini dan yang ini!” Kuraré menyerahkan dua macam ramuan berbentuk cairan kepada Azura. “Yang satu biar tubuhmu tidak kekurangan makan selama kamu tertidur.” jelas Kuraré saat Azura kebingungan melihat ada dua obat yang harus diminum.

“Paling tidak aku bisa meneruskan mimpiku. Dan semoga saja itu mimpi indah. Aku tidak mau tidur panjang dan isinya hanya mimpi buruk.” Azura meminum obat yang pertama. Dia merasakan berbagai macam rasa di ramuan itu, tapi yang paling terasa adalah pahit. Ya, pahit.

“Kenapa obat rasanya selalu tidak enak?” namun tidak urung Azura meminum ramuan yang kedua. Beruntung kali ini rasanya tidak pahit, melainkan tawar dan segar.

“Heh, kenapa obat yang lain rasanya tidak bisa seperti yang ini saja?”

Kuraré itu tersenyum, dia merasa mental Azura sudah membaik. Paling tidak nada bicara Azura menandakan dia sudah tidak terlalu tertekan dengan keadaan yang dia derita.

Kuraré mengajak Azura berbicara sebentar sambil menunggu reaksi dari ramuan pelancar aliran darah. Tidak sampai satu putaran pasir Azura kembali terlelap.

#####

Read previous post:  
16
points
(2821 words) posted by makkie 9 years 14 weeks ago
40
Tags: Cerita | fanfic | cerita | fantasi | pedang | petualangan | zheik
Read next post:  
90

Bagus ceritanya

...makasih dah mampir...
...tetep ngikutin y... :D

70

menurut saya tulisan kk terlalu kepanjangan

gitu ya...soalnya kan perhari dibatasin dua postingan doang...
jadi mau ga mau ya begini ini... :(