Simpanan #3 (Perceraian)

Hari ini terasa melelahkan—dan tentu saja menyebalkan. Padahal aku sudah berusaha memfokuskan diri untuk bekerja. Benar-benar serius bekerja. Tapi pikiranku terus berputar-putar pada Juno, paman, dan istri paman. Mengapa semua harus serumit ini? Akibatnya, aku beberapa kali membuat kekeliruan dalam menyelesaikan analisa laporan keuangan perusahaan. Hasil analisaku dikatakan tidak valid dengan angka-angka yang tertera pada laporan itu.

Aku ditegur oleh sang manager—yang untungnya masih saja mau memaklumiku karena aku baru bergabung di perusahaan ini.

Tadi pagi sebelum bekerja, aku mengirimkan sebuah email kepada Juno. Kujelaskan semua apa yang kurasa perlu ia ketahui. Kutumpahkan segala perasaanku selama menjalani kehidupanku yang makin runyam akhir-akhir ini. Jujur saja aku berharap ia akan mengerti keadaanku yang sulit. Sehingga harus melakukan ini semua.

Kini aku sedang menuju gedung kampusku. Kebetulan aku mengambil kelas malam pada semester enam ini. Hampir saja aku masuk menuju gedung kampus, jika saja tidak ada sosok yang begitu kuat menarikku. Dan bahkan lebih parahnya lagi, ia lalu membopongku. Begitu terkejutnya aku ketika melihat wajahnya. Ternyata paman. Aku langsung meronta-ronta, berusaha melepaskan diri.

“Apa-apaan? Lepas! Lepaskan aku!” bentakku kesal, terlalu marah mengetahui apa yang diperbuat paman ini bisa merusak reputasiku di kampus ini.

“Ternyata kamu gadis yang bodoh, Erika. Dengan berteriak-teriak seperti itu, pasti bertambah banyak orang yang melihat kita. Aku sih tidak peduli. Tapi tentu kamu peduli kan dengan nama baikmu di sini?” ucapnya tenang. Dan sayang kata-katanya benar.

Aku diam, merenggut sebal dan merasa jijik pada perlakuan tidak pantas yang kuterima. Seperti biasa, dia membawaku masuk ke mobilnya.

“Mau ngomong apa? Aku tidak punya banyak waktu. Ada mata kuliah penting yang harus kuikuti,” ujarku sinis.

“Aku mau memberitahu kamu kalau sebentar lagi hubungan kita tidak akan menjadi suatu hubungan yang tersembunyi. Karena besok adalah sidang perceraian pertamaku dengan istriku. Kamu bisa lihat hasilnya. Cepat atau lambat kamu akan jadi istriku,”

Apa? Aku akan jadi istrinya? Enak sekali dia bicara? Memang dia berhak mengatur masa depanku? Hanya aku yang bisa memutuskan aku mau menikah dengan siapa. Bukan dia! Lagi pula, mengapa ia bisa begitu tega untuk menceraikan istrinya? Apa karena obsesinya untuk mempertahankanku?

“Cih! Siapa yang mau menikah dengan paman? Aku tidak akan pernah mau menikah dengan paman! Lebih baik paman cari saja wanita lain seperti kriteria yang paman sebutkan waktu itu. Cantik, muda, ceria, penuh semangat… dan apa lagi ya? Pokoknya jangan ganggu hidupku lagi!” sergahku kesal.

“Erika, Erika. Kenapa mulutmu setajam ini sekarang? Mana semangatmu yang dulu begitu menggebu? Kau bawa kemana sikapmu yang biasanya ramah?”

“Semuanya sudah pergi bersamaan dengan sikap paman yang makin lama makin nekat! Lebih baik paman jangan meninggalkan istri paman demi mendapatkanku. Sampai kapan pun aku tidak akan mau lagi menjalin hubungan dengan paman,”

“Memangnya kenapa? Apa aku semenjijikkan itu di matamu?” ia melirikku penuh harap saat menanyakannya.

“Pokoknya aku tidak mau! Aku tidak perlu menjelaskannya. Paman bukan siapa-siapaku. Aku hidup sendirian!”

“Apa… karena kau sudah punya kekasih?” Aha! Poin yang bagus. Sepertinya aku harus sedikit berbohong.

“Ya, aku sudah punya kekasih. Apakah alasan itu sudah cukup untuk paman sehingga bisa berhenti mencariku lagi? Gawat, aku sudah telat. Aku pergi dulu,” aku keluar dari mobil dan membanting pintu kuat-kuat.

Seusai keluar dan berjalan menuju kampus, aku terus berpikir. Siapa kekasihku? Bagaimana jika paman berusaha mencaritahu?

Mati aku.

*

Malam sudah begitu larut. Halte bus tempatku menunggu pun sudah sepi. Aku berusaha sabar menunggu bus yang akan kutumpangi segera tiba. Angin malam yang dingin bertiup kencang. Aku memeluk tubuhku sendiri.

Terdengar suara deru mesin mobil. Kupikir busnya udah sampai. Kuangkat kepalaku yang sebelumnya tertunduk. Ternyata yang muncul adalah mobil Toyota Yaris hitam. Mobil itu pun berhenti dan seseorang keluar.

Juno. Lagi-lagi Juno. Cobaan apalagi yang akan kudapatkan? Apakah ia akan memarahiku lagi? Apakah ia akan mencelaku lagi? Ya Tuhan. Semoga hal itu tidak terjadi. Hatiku yang terlalu mencintainya tidak sanggup menerima perlakuan seperti itu.

Dia pun berjalan ke arahku dengan ekspresi wajah yang begitu sendu. Aku yang tak tahu harus berbuat apa hanya bisa terdiam kaku. Dirinya pun duduk tepat di sebelahku. Aku membuang pandanganku ke bawah. Tak berani lagi menatapnya.

“Erika?” panggilnya lembut.

Kuangkat kepalaku lalu memalingkan wajahku ke sisinya. Dengan cepat dan mengejutkan, ia menyentuhkan bibirnya yang hangat pada bibirku. Aku begitu syok. Tapi tak berusaha menolak. Inilah yang kuinginkan. Ciuman ini yang kudambakan. Ciuman indah dari seseorang yang begitu kucintai. Seseorang yang selalu mengisi mimpiku.

Kuharap ini bukan mimpi. Jikalau ini memang mimpi pun, kuharap ketika terbangun aku tidak mendapati diriku sedang berciuman dengan paman. Kuharap ini tetap Juno. Selalu Juno. Selamanya Juno.

Waktu terasa begitu singkat hingga ciuman kami usai. Dirinya memandangiku pilu. Tatapannya seolah mengatakan aku telah begitu menghancurkannya. Seolah aku telah begitu menyakitinya.

Dia pun tak mengizinkan aku berpikir dengan memelukku erat. Air mataku menetes. Segalanya terasa begitu pahit. Pelukan dan ciuman ini kudapatkan dalam momen seperti ini. Segala perlakuan yang kuharapkan ini kudapatkan saat aku masih menjadi seorang simpanan. Saat dimana seharusnya aku tidak pantas lagi mendapatkannya.

“Kenapa harus kamu, Erika? Kenapa? Aku nggak mengerti. Kenapa semuanya harus seperti ini?” desisnya lirih.

Ada apa ini? Ada apa dengan aku? Memangnya ada peristiwa apa?

Aku pun sama dengan Juno. Sama-sama tak mengerti.

Bersambung

11.11
Jumat, 11 September 2009.
Calvin

Read previous post:  
39
points
(1020 words) posted by Calvin 9 years 11 weeks ago
65
Tags: Cerita | cinta | emosi | paman | sesal
Read next post:  
Writer Chie_chan
Chie_chan at Simpanan #3 (Perceraian) (9 years 10 weeks ago)
70

Hmmm. Jujur aku merasa ga puas sama keterkaitan antar adegannya yg gak begitu meninggalkan kesan. Adegan kissing itu juga bikin aku mengernyit soalnya gak beralasan (yg kumaksud alasan disini bukannya "karena mereka kan saling cinta", lebih mengenai "kok tahu-tahu ada adegan kayak gitu? apa dasarnya?" Dan kalau ini soal teknik, maka kusarankan pikir-pikir lagi. Meninggalkan pembaca di tengah adegan sepenting itu sementara penjelasannya menyusul belakangan kayaknya bisa bikin orang-orang mikir pengarangnya ga tahu apa yg sedang dia lakukan). Dan percakapan di sini juga kurang ngalir. Bukan masalah pemilihan kata sih kayaknya, mungkin lebih karena dialognya ga terlalu bernyawa. Kusarankan, tingkatkan kemampuan narasimu. Berdasarkan pengalamanku, narasi yg puitis itu belum tentu otomatis berarti bagus lho. Selain itu ada pula pemotongan kalimat yg sebenarnya malah bikin boros. Misalnya:

Quote:
Jujur saja aku berharap ia akan mengerti keadaanku yang sulit. Sehingga harus melakukan ini semua.

Kalau dibaca, bukannya bakalan lebih nyaman jika seperti ini:
Quote:
Jujur saja aku berharap ia akan mengerti kesulitanku sehingga harus melakukan ini semua.

.
Tapi ya, itu kan cuma pendapatku. Semoga lanjutannya bisa lebih oke lagi. :)

Writer anggra_t
anggra_t at Simpanan #3 (Perceraian) (9 years 10 weeks ago)
90

aduh, pendek banget, bro. lagi terhanyut baca ceritamu, tau2 malah dipotong bersambung.. hix.. TT_TT

Writer Calvin
Calvin at Simpanan #3 (Perceraian) (9 years 10 weeks ago)

sabar ya bro.
besok sudah ada sambungannya kok.
:)