Cinderella Romeo

Aku tahu malam sudah sangat larut.

Dan di kala seperti ini, memang sungguh tidak pantas bagi lelaki dan perempuan yang baru pertama kali berjumpa masih berjalan-jalan di taman istana hanya berduaan.

Maka segenap hati kusyukuri kelahiranku sebagai putera mahkota. Berkuasa tanpa batas. Bercitra suci. Karena hanya melalui tanda darah ini saja, aku diijinkan berlama-lama denganmu tanpa harus dihantui aib. Tanpa harus lekas memulangkanmu pada ayah ibumu.

Kupandang lekat siluet berlekuk perakmu dari belakang. Harmonis dengan sepasang stiletto kaca yang melekat di ujung tungkai jenjangmu. Untuk kesekian kalinya dadaku mencelos. Tidak sadarkah betapa kau begitu menyiksa batinku?

Huh, mungkin tersirat kau sempat menyangka hidungku belang. Doyan gadis muda yang ranum dan jelita. Sok tampan. Mentang-mentang pangeran pewaris tahta. Baru sekali bertatap wajah saja, boleh langsung mengajak waltz yang haram ditampik. Ah, tapi kau pasti tidak tahu betapa aku selalu merindukan pertemuan ini bahkan hingga ke alam mimpi.

Saat ini, akan kubeberkan seluruh kerinduan dan kejujuran yang selama ini terpendam. Es yang mengungkung bibirku mulai meleleh. Inilah saatnya kebenaran terkuak.

Namun sekonyong-konyong kau berbalik. Terhanyut aku kembali tanpa daya dalam samudera biru itu.

Selanjutnya obrolan picisan kembali mengambil alih. Topiknya tidak jauh seputar warna-warni kembang api, pernak-pernik pesta, kerlap-kerlip percikan air mancur, dan hal-hal tidak perlu lainnya. Ilmu kedewasaan yang kupelajari serius selama ini seolah hangus di hadapanmu. Sungguh konyol dan sentimentil.

Kaubilang bahwa kau sangat menikmati pertemuan perdana kita saat ini.

Aku tersenyum dan mengangguk bisu. Pertemuan perdana?

Ingatlah lagi baik-baik, puteriku. Setahun yang lalu? Lima tahun?

Tepatnya dua belas tahun yang lalu.

Sore itu, aku berhasil lolos dari intaian teliti para pengawalku. Tepatnya aku usil menantang mereka berpetak umpet di taman alun-alun. Di sana kulihat kau melenggang. Seorang lelaki setengah baya mengekor beberapa langkah di belakangmu. Gerak-geriknya penuh perhatian dan waspada. Pastilah ayahmu. Di sampingnya adalah seorang yang bersenyum kaku dan palsu. Hm, aku tidak cukup yakin wanita itu adalah ibumu.

Ya, kau pasti tidak ingat bahwa kita pernah beradu pandang. Tapi aku tidak mungkin lupa. Senyummu geli. Mungkin karena noda lumpur di wajahku. Atau rambut landakku. Tapi itulah awal mula aku tenggelam dalam jernihnya biru bola matamu.

Bukannya aku tidak pernah berupaya mencarimu. Seharusnya kau ingat peristiwa menggegerkan tujuh tahun yang lalu. Saat para prajurit dikerahkan massal dan seliweran gosip menyebutkan bahwa putera tunggal sang raja diculik penyihir jahat. Seminggu lamanya hal itu berlangsung. Tapi sebenarnya aku minggat dan menyamar menjadi Romeo Montague, seorang remaja jalanan tanggung. Saat pagi, siang, dan malam, kujelajahi cermat jalan-jalan lebar maupun sempit di ibukota. Namun tepat langit menjingga, aku selalu mampir ke pojok alun-alun itu, tempat nasib memperkenalkanku padamu dulu. Lalu menunggu, berharap amat keajaiban akan tercipta. Tapi nihil. Sama sekali tidak kuendus jejakmu. Kau pupus begitu saja ditelan masa.

Musim dingin dan panas datang silih berganti. Kau selalu mengingatkanku rutin dalam angan agar aku tidak patah arang. Tapi waktu memang keji, di mana waktu itu adalah ayahku yang sangat mendambakan penerus. Sementara ketiga jarumnya adalah ibuku, paman penasihat, dan Samson – kuda putihku yang selalu kuajak bertualang menelusurimu.

Bukannya aku tidak pernah tertarik pada gadis-gadis yang disodorkan bergantian oleh ayah dan paman kepadaku. Beberapa memang hanya mempedulikan mahkota semu yang suatu saat nanti pasti akan bertengger di atas kepalaku. Namun segelintir lainnya memang benar berhati tulus. Semuanya menawarkan kelembutan dan birahi yang sulit ditolak. Tapi aku tidak menemukan setitik pun birumu dalam mereka.

“Pesta nanti akan sangat megah. Semua gadis layak dari segala penjuru negeri akan datang,” begitu kata ayahku yang hari ke hari semakin uring-uringan tidak sabar. “Jadi kau tinggal memilih saja. Mudah ‘kan?”

Jujur aku letih. Kupikir sosok mulia macam dirimu pastilah berharga diri. Kedudukan agungku tidak akan menyilaukanmu. Oleh karena itu, aku yakin kau pasti tidak akan merendahkan diri dan datang ke pesta vulgar berkedok perjodohan ini.

Seperti yang kuramal, acaranya sungguh membosankan. Aku menguap karena terus membungkuk-tegakkan badan, berkedok kesopanan. Tapi syukurlah, dua gadis kakak beradik yang bentuk wajahnya serba bundar dan besar itu adalah kloter yang terakhir. Sekaligus yang paling liar. Tatapan mereka tanpa jeda memangsa dan mengoyakku ke sana kemari.

Tapi apa yang kemudian kutemukan jauh di sana? Seorang puteri bergaun lebar cemerlang. Berambut coklat tersanggul naik. Bercelingak-celinguk udik persis anak ayam tersesat.

Aku selalu percaya bahwa mimpi adalah doa hati dalam kesunyian. Dua belas tahun lamanya, setiap malam, tanpa henti kubisikkan dirimu. Tepat pada saat itu, Tuhan menjawabnya.

Segera kuhampiri dirimu. Dan dalam biru, aku terbenam.

APA?! KAU MAU PULANG?!

Ya, aku mengerti. Tidak lama lonceng akan berdentang. Sekali lagi, aku juga sadar betapa tidak sopannya seorang perawan melewatkan tengah malam bersama seorang perjaka yang baru dikenalnya beberapa jam yang lalu.

Tapi mana boleh begitu? Aku sudah menanti dua belas tahun. Aku tidak rela menanti lagi.

Panik, kuraih pergelangan tanganmu. Kumohon agar kau mau tinggal barang sejenak lagi. Lega dan gembira, saat kulihat senyum dan anggukkan kepalamu yang penuh pengertian. Lalu kita duduk di dipan panjang itu, berdampingan, berhadap-hadapan wajah begitu dekat.

Akan kuuraikan singkat segalanya yang tidak kauketahui. Akan kutandaskan bahwa aku selalu mengharapkanmu. Bahwa aku selalu memimpikanmu. Bahwa aku tidak rela melepasmu pergi. Bahwa aku ingin kau mendampingiku sekarang dan selamanya.

Tidak pernah hatiku seteguh ini, saat kuputuskan untuk mencintaimu murni tanpa syarat.

Tapi, oh, Tuhan! Dalam biru itu, lagi-lagi lidahku bebal.

DONG!

Aku tidak yakin apakah itu adalah suara lonceng atau degub jantungku. Namun tiba-tiba saja malam menjadi lebih kelam daripada biasanya. Pelita pun meredup kompak. Inilah kesempatan emasku atas restu langit. Jadi aku tidak lagi tersesat saat menghadapi biru di matamu.

“Ada yang ingin kukatakan...Aku...”

Kulihat badai cemas dan pucat berkecamuk di air wajahmu. Seketika kau menarik kedua lengan lalu bergegas pamit.

DONG!

“Aku harus pergi,” ucapmu tergagap.

“Jangan...”

Langkahmu mengalir cepat bagai menjangan. Sementara aku baru saja tersadar akan satu kelalaian yang sangat luar biasa tolol.

“Tunggu, aku bahkan belum tahu siapa namamu!”

DONG!

Aku yakin teriakanku cukup lantang. Tapi kau sama sekali tidak menoleh. Bahkan ayunan kakimu semakin gesit saja saat menuruni anak-anak tangga berkarpet merah itu. Tahu-tahu kau sudah menghilang ke dalam kereta labumu.

Kini aku duduk termangu merana menatap kereta berkilau itu melesat. Seharusnya aku segera bersiul memanggil Samson dan mengejarmu. Namun pelipisku malah berdenyut-denyut pening.

Bodoh. Bodoh. Bodoh.

Demi Tuhan, bagaimana aku sanggup jikalau harus menunggu dua belas tahun lagi?

Kemudian pamanku dengan bulatan lensa bening yang nyaris selalu tergelincir dari mata kanannya menghampiriku tergopoh-gopoh. Sebentuk benda lazim tertadah kedua telapak tangannya.

Segera kuraih benda itu lalu kuamati sendu. Senyumku pahit saat menyadari begitu mungilnya telapak kakimu. Perlahan sanubariku meletup panas.

Ya, aku selalu percaya bahwa mimpi adalah doa tulus yang dipanjatkan hati.

Sepatu bening ini pastilah pertanda. Karena apa yang terjadi hanya sekali saja, urung terjadi lagi. Tapi apa yang telah terjadi untuk kedua kali, pastilah akan ada yang ketiga.

Bagimu memang adalah yang pertama. Tapi jelas-jelas tidak bagiku. Ya, kali ini giliranku dan sepatu inilah yang akan menuntunku ke pestamu. Saat itu, aku berjanji tidak akan lagi menjadi idiot. Meski aku tetap tidak akan mungkin mampu lepas dari pusaran arus birumu, namun nanti aku akan menahan nafas dan menyelam. Tepat di dasar relung hatimu, akan kuungkapkan sejujur-nyaringnya semua kebenaran tersendat itu. Akan kurangkul erat pinggangmu. Tidak akan kubiarkan kau berpaling lagi meski dentang lonceng itu menggema sepanjang masa.

Dan bukankah jalur cinta sejati memang penuh liku dan duri?

Note:
Hm, sepertinya ini adalah karya kolab grup Le Chateau Phantasm yang perdana. Tapi jelas ini bukan karya kolab yang bagus. Bahkan boleh dibilang karya kolab asal yang gak tau malu. Hehehe. Maklum sama sekali gak ada konsep, gak pake acara janjian ato diskusi dulu, dan sama sekali gak permisi ama sang pencetus mula-mula (*digetok Chie*).

Yeah, I hate to admit it. Tapi film animasi dongeng Cinderella selalu punya tempat khusus buatku. It’s so classic and hilarious though it’s also so silly. Jadi saat Chie meletupkan spark tentang cinderella, langsung deh aku terpancing. So, pastinya ini bukan acara curhat ye! It’s totally a fanfic.

Oya, sepertinya fragmen iseng ini bakal ada lanjutannya?!? Tapi tentu saja, dengan syarat topan writer’s block dan laziness gak menghajarku.

***

Read previous post:  
244
points
(258 kata) dikirim Chie_chan 9 years 10 weeks yg lalu
81.3333
Tags: Cerita | cinta | cuma latihan nulis kok | Iseng
Read next post:  
Penulis blackhole
blackhole at Cinderella Romeo (7 years 34 weeks ago)
70

baru baca...(^,^)v
jd ni ky nyeritain awal mula cerita cinderella gt yach.....
pangerannya...wow*duabelastahun??*wow*apaan sih?? hahaha...
yg gue heran dlm cerita cinderella sampe saat ini adalah: KENAPA DARI SEMUA FASILITAS YANG DIPAKE KE PESTA CUMA SEPATU KACANYA DOANK YANG GAK BERUBAH???
hehe..

Penulis just_hammam
just_hammam at Cinderella Romeo (8 years 5 weeks ago)
80

Cerita recomended by anggra_t http://www.kners.com/showpost.php?p=22604&postcount=10
Asyik menyimak cerita yang sudah sangat terkenal diceritakan kembali secara berbeda.
Selamat heinz... cerita bagus :D

Penulis Riesling
Riesling at Cinderella Romeo (8 years 39 weeks ago)
100

Kereeeeeeeeen xDD

Penulis redscreen
redscreen at Cinderella Romeo (8 years 44 weeks ago)
90

fanfic, love it! :D

Penulis franci
franci at Cinderella Romeo (9 years 4 weeks ago)
100

berkedok kesopanan. --> terlalu cepatkah berkedok yg ini dikeluarkan lg?
.
degub --> degup?
.
selainnya aku suka bgt. manis, lentur, emosional.
keren!

Penulis heinz
heinz at Cinderella Romeo (9 years 4 weeks ago)

Ah, ya, degup. Thx koreksinya!
Dan tentang kedok, weks, tajam banget penilaiannya.
Thx berat dah mampir!

Penulis samalona
samalona at Cinderella Romeo (9 years 4 weeks ago)
90

Saya menikmati membacanya. Meskipun tidak ada yang baru (dari segi plot, karakterisasi, dan setting), tapi sudut pandang dan gaya bahasanya menyegarkan. Deskripsinya pas, meskipun mengumpul di paruh awal cerita dan dialog baru muncul di paruh akhir.
Mood yang dari awal sudah serius sedikit dikacaukan dengan masuknya "kloter terakhir".
Secara keseluruhan, saya salut atas kesungguhannya mengeksplor cerita ini.

Penulis heinz
heinz at Cinderella Romeo (9 years 4 weeks ago)

Hm, "kloter" geli kedengerannya ya?
Thx dah mampir dan komen.

Penulis zaphelyne
zaphelyne at Cinderella Romeo (9 years 9 weeks ago)
90

ceritanya kereenn..!
o ya, ceritanya cinderella romeo, tapi mana sisi romeonya?
terlalu banyak dari sisi cinderellanya..
jadi ini kolabnya gak adil buat si romeonya(??)..
.
lanjutin ya!

Penulis heinz
heinz at Cinderella Romeo (9 years 9 weeks ago)

Huh, bukannya ini lebih dominan sisi si Romeo-nya?
Kalo maksudnya gada riwayat tentang si Romeo, ya wajar. Toh, judul tenarnya juga Cinderella.
Hehe, thx dah mampir.

Penulis Tom_Hirata
Tom_Hirata at Cinderella Romeo (9 years 9 weeks ago)
90

Anu..... diriku tak mengerti ini pake POV apa? Kalo POV 1st person (shooter?), kenapa 'aku' tiba-tiba berubah menjadi 'kamu'?
.
Dan aku juga bener2 ga nyangka si heinz-kun bisa bikin cerita model begini. Humm.... padahal cerita kek gini kan biasanya chie-chan yg nulis. Ah, bodo amat.
.
Pokoknya ceritamu itu bagus dah....
Maap kalo ada kata yg ga enak dibaca

Penulis heinz
heinz at Cinderella Romeo (9 years 9 weeks ago)

POV 1st person definitely. Tokoh utama: si prince charming AKA Romeo. Yang jadi kamu itu si Cinderella-nya.
Thx udah mampir dan komen apapun, bro.

Penulis penikmat_cerita
penikmat_cerita at Cinderella Romeo (9 years 9 weeks ago)
100

wow. keren >w<

Penulis heinz
heinz at Cinderella Romeo (9 years 9 weeks ago)

Thx.

Penulis Ann Raruine
Ann Raruine at Cinderella Romeo (9 years 9 weeks ago)
90

lucu lucu. XD

Penulis heinz
heinz at Cinderella Romeo (9 years 9 weeks ago)

Thx.

Penulis Villam
Villam at Cinderella Romeo (9 years 9 weeks ago)
90

hehe... hayo diterusin deh curhat-curhatnya. :-)

Penulis heinz
heinz at Cinderella Romeo (9 years 9 weeks ago)

Yu, mari....

Penulis anggra_t
anggra_t at Cinderella Romeo (9 years 9 weeks ago)
100

SEPULUH!!!! (sayang kkom gak memungkinkan ngasih SEBELAS...)
jika dirimu tenggelam dalam biru, diriku tenggelam dalam ceritamu... XD XD XD
.
bdw bukannya namanya Romeo Montague ya? wkwkwkaa XD

Penulis heinz
heinz at Cinderella Romeo (9 years 9 weeks ago)

Hehe, thx berat atas koreksinya.
Mataku lagi juling pas ngecek di wiki.

Penulis stezsen
stezsen at Cinderella Romeo (9 years 9 weeks ago)
90

Wah keren

Penulis heinz
heinz at Cinderella Romeo (9 years 9 weeks ago)

Thx.

Penulis Chie_chan
Chie_chan at Cinderella Romeo (9 years 9 weeks ago)
100

ooohhhh. ga kusangka curcolan berkamuflase ngaco itu ada juga yang mau nerusin. wkwkwk :))
well heinz-senpai, aku nggak memasukan cinderella juliet ke dalam kastil fantasi soalnya aku ga yakin itu fantasi. tapi karena kau yang melanjutkannya, baru kerasa essensnya bahwa cerita ini bisa dikatakan fantasi. entah karena udah lama nggak baca tulisanmu atau apa, tapi aku sih ngerasanya gaya tulismu meningkat drastis hingga ke tahap bikin diriku terbengong-bengong. ngalir dan kesannya cakep. dan nggak bikin muntah kok. seriously diriku jadi tersanjung karena senpai macam dirimu menyempatkan diri buat meneruskan curcolan ga jelas buatanku. wkwkwk XD XD
.
kalau kau gak keberatan, biar diriku lanjutkan lagi dengan versi julietnya, tapi dalam bentuk cerpen. and oh, kukasih nilai full buat ini. :p

Penulis heinz
heinz at Cinderella Romeo (9 years 9 weeks ago)

Makanya jangan sembarangan curcol di sini. Cause inspiration is in the air. Yup, silakan lebih dulu versi julietnya. Atau bakal kusalip. Hehe.
Dan dengan begini, kolab resmi dimulai.

Penulis aphrodite
aphrodite at Cinderella Romeo (9 years 9 weeks ago)
90

wah, ga nyangka bakal ada yg nerusin cinderella julietnya chie ^^
keren, heinz :)
versi yg ini lebih panjang jadi lebih puas bacanya, hehe
aduh, saya ga bisa komen lagi, ditunggu aja lanjutannya~

Penulis heinz
heinz at Cinderella Romeo (9 years 9 weeks ago)

Thx sis. Lanjutannya sedang dimasak.