Simpanan #4 (Derai Air Mata)

Kami masih saja terpaku dalam diam. Kala itu sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan halte tempatku dan Juno duduk. Sesosok pria yang berpakaian formal turun dari mobil.

Sosok itu adalah paman. Seorang yang telah berperan besar hingga membuat hidupku seperti ini. Seorang yang berhasil membuatku mengerti bagaimana suka-duka seorang wanita simpanan.

“Ini kekasihmu, Erika?” tanya paman dingin, memandangi Juno tak suka, “Hahahaha, ternyata kekasihmu adalah anakku yang pembangkang. Ironis sekali hidup ini…”

Apa?! Juno adalah anak dari seorang Rio Wijaya? Jika ini adalah kisah orang lain, pasti akan kutertawai habis-habisan. Sayangnya ini kisahku. Kisah rumitku yang bodoh dan konyol. Kini aku mengerti mengapa Juno tampak begitu terluka setelah ciuman kami usai. Aku juga mengerti apa yang Juno tanyakan tadi. Meski tetap tak bisa menjawab pertanyaannya.

Tadi dia bilang, Juno pembangkang? Memangnya kenapa?

Kulirik Juno sesaat. Wajahnya tampak tenang meski aura kesinisan terpancar jelas dari sepasang mata tajamnya. Dia menatap paman dengan penuh emosi. Sungguh aku bingung harus berkata dan berbuat apa.

Aku mengaku-ngaku sudah punya kekasih pada paman padahal tidak ada meskipun aku tulus memendam perasaan pada Juno sejak lama. Hebatnya lagi, kini aku baru sadar bahwa aku adalah seorang wanita simpanan dari ayah seseorang yang begitu kucintai. Rasanya begitu naïf jika membayangkan seseorang yang ibunya sudah begitu kusakiti bisa membalas perasaanku.

“Bukan, Juno bukan kekasihku. Sama sekali bukan,” dua kalimat yang begitu berat kuucapkan baru saja meluncur keluar

“Nggak, dia salah. Kami baru saja meresmikan hubungan kami tadi. Kami adalah sepasang kekasih yang saling mencintai,” ujar Juno tegas dan lantang seraya memandang keras paman. Andai saja aku tidak pernah menjadi simpanan paman. Aku pasti bisa berharap penuh pada ucapan Juno barusan.

Juno menyambar tanganku. Menggenggamnya kuat-kuat. Jantungku berdegup keras. Kuharap Juno akan menggenggam tanganku terus, tak pernah melepaskannya.

“Kalau begitu, kalian harus putus. Satu hal, Juno. Erika adalah wanitaku. Kau adalah anakku. Itulah status kalian. Kalian tidak akan pernah bisa bersatu selama aku masih hidup,” paman berkata begitu tenang dengan nada datar

“Memangnya kau siapa?! Menjadi suami dan ayah saja tak becus, masih bisa mengatur-ngatur hidup orang? Pokoknya Erika milikku. Aku mencintainya. Lebih daripada diriku sendiri. Kau pasti hanya terobsesi pada keceriaan dan jiwa muda seorang Erika saja!” emosi Juno mulai tampak dalam caranya berbicara.

Apakah benar yang barusan Juno katakan? Dia… mencintaiku? Aku hampir tak bisa percaya. Juno mencintaiku. Paman—yang ternyata adalah ayahnya—menginginkanku menjadi miliknya. Hidupku kini benar-benar kacau.

Kutatap wajah mereka berdua yang kini sedang bersitegang. Aku merasa berada dalam sebuah dilema yang begitu berat. Semua karena perbuatan dan kebodohanku yang mau saja dan pernah menjadi seorang wanita simpanan.

“Kau pikir kau bisa melawanku? Lihat saja nanti, Juno. Erika akan menjadi milikku. Cepat atau lambat,” kelihatannya obsesi paman makin menggila.

“Kau benar-benar sudah membuang Mama dari hati terdalammu ya? Laki-laki tua tidak tahu diri,”

Nada dering ponsel seseorang berbunyi. Ponsel Juno. Dia mengeluarkannya dari saku celana dan kemudian mengangkat teleponnya.

“Halo,” sapanya. Juno mendengarkan pembicaraan di telepon dengan raut wajah yang begitu serius. “Oke, saya akan segera kesana.” Ekspresi Juno berubah kusut. Aku khawatir melihatnya.

Siapa yang menelepon? Mengapa Juno tampak begitu sedih?

“Kau akan menyesal,” ucap Juno sebelum menarikku pergi meninggalkan paman. Juno membawaku masuk ke dalam mobilnya. Aku merasa begitu patuh pada Juno. Kusadari setelah malam ini aku semakin mencintainya. Aku tak peduli ia membawaku kemana.

*

Aku menangis. Bukan hanya berlinangan air mata. Mungkin terdengar agak berlebihan, namun aku baru saja menangis sesunggukan sambil memeluk bingkai foto seseorang.

Seseorang yang tak pernah berbicara padaku sepatah kata pun. Seseorang yang pernah begitu tulus tersenyum padaku. Seseorang yang kini sangat kukagumi karena ketabahan dan kesabarannya menghadapi hidup.

Kini beliau telah tiada. Beliau telah memulai istirahat terpanjangnya. Beliau sudah menyelesaikan kehidupannya disini.

Selamat jalan, tante. Tante sudah berjuang begitu keras menghadapi kehidupan ini.

Kusentuh nisan yang bertuliskan “Themia Wijaya” dengan sedih. Aku adalah orang yang begitu kejam. Begitu tega menyakiti perasaan Tante Themia. Aku sudah bermain di belakangnya. Aku telah melukai perasaan terdalamnya, dengan menjadi simpanan paman.

“Juno, kau membenciku? Jika memang kau membenciku, aku rela. Aku sudah begitu menyakiti perasaan ibumu. Aku sudah merusak hubungan dalam keluargamu. Aku tak tahu apakah aku masih pantas disebut sebagai manusia atau bukan,” bisikku pelan, menatap Juno lekat-lekat.

Wajah Juno penuh air mata. Dia tampak begitu rapuh. Aku ingin sekali memeluknya, ingin sekali meredakan perasaan sedihnya. Tapi aku sadar aku tak pantas. Akulah penyebab semua ini. Aku yang menghancurkan keluarganya.

Juno langsung memelukku. Aku sudah terlalu sedih untuk terkejut. Terlalu banyak kejutan untukku akhir-akhir ini. Dengan perasaan bersalah menemui Tante Themia. Dia tetap tersenyum setelah mendengar pengakuanku. Meski berada dalam keadaan stroke, ia tetap berusaha keras untuk tersenyum padaku saat itu. Hatiku teriris melihatnya. Aku begitu membenci diriku. Juga paman. Kami berdua telah merusak semuanya.

“Erika, kau perlu tahu aku mencintaimu. Selalu mencintaimu. Tak peduli kau pernah menjadi simpanan ayahku dulu. Tak peduli dirimu siapa. Tak peduli kau begitu diinginkan ayahku,”

Suara langkah kaki semakin mendekat. Kami melepaskan pelukan. Kualihkan pandanganku. Paman berada di sana. Dia tampak begitu hancur pula. Wajahnya sama dengan Juno. Sangat terluka.

“Sekarang kau menyesal, pria tua? Sepertinya semua sudah terlambat! Kemana aja dua tahun ini? Pergi mencari korban wanita yang kesulitan untuk menemanimu?!” Juno berdiri, sulit menahan amarahnya. Dia sepertinya ingin menghampiri ayahnya. Kutahan dia, kugengam lengannya.

“Juno, jangan. Jangan bertengkar di depan makam Tante Themia,” ucapku lirih.

Juno terdiam di posisinya. Paman berdiri mematung. Keheningan menyelimuti kami. Kini semua terasa kacau. Air mataku kembali menetes terbawa suasana dingin. Suasana yang terasa menusuk hati dan jiwaku.

Juno. Almarhum Tante Themia. Paman. Ketiga sosok kunci dalam hidupku. Kami semua terbawa dalam arus hubungan yang kompleks. Tak mampu menahan derasnya badai yang meluluhlantahkan kami.

Simpanan. Satu kata berakibat besar. Satu status pembawa malapetaka. Satu jenis hubungan penghancur hidup. Sayangnya, aku pernah menjadi simpanan. Label simpanan akan selalu melekat pada kehidupanku. Sampai kapanpun. Sampai aku mati sekalipun. Bekasnya mungkin selalu terbawa pada diriku.

Bersambung

17.46
Jumat, 13 November 2009.
Calvin

Read previous post:  
16
points
(875 words) posted by Calvin 9 years 10 weeks ago
53.3333
Tags: Cerita | cinta | cerita bersambung | Erika | Juno | paman
Read next post:  
Writer zaphelyne
zaphelyne at Simpanan #4 (Derai Air Mata) (9 years 9 weeks ago)
90

cerita ini bikin aku mw nangis ..
di bagian akhir bener2 terasa menyedihkan
gk sabar nunggu lanjutannya ..
.
*oya, kenapa mobilnya toyota yaris lagi??
cuman heran, kok sama kyk cerita yg sebelumnya..

Writer Chie_chan
Chie_chan at Simpanan #4 (Derai Air Mata) (9 years 9 weeks ago)
80

hoooo. iya, sudah kuduga hubungan antara juno dengan si paman adalah ayah anak. insting pembaca, kurasa. :p
.
eniwei, better daripada sebelumnya. :)

Writer anggra_t
anggra_t at Simpanan #4 (Derai Air Mata) (9 years 9 weeks ago)
80

*kaget*
ga sangka ternyata mereka bapak anak >.<
tapi entah kenapa aku ngerasa episode kali ini agak klise ya? terlalu banyak kebetulan2nya.
ayo lanjutannya kutunggu ^^