Zheik, The One With Power - 1st Scroll Chapter 6 - REPOST

Mina terdiam sejenak berpikir,

”Pilihan pertama, kita bisa saja menunggu makhluk itu tidur atau keluar lagi untuk berburu dan kita secepatnya mengambil Jantung Hijau. Pilihan kedua, salah satu dari kita memancing makhluk itu pergi dan yang satu mengambil Jantung Hijau.” Mina memberikan pilihan.

Reiđ mengerutkan kening, berpikir cara yang tepat. Jika menunggu makhluk itu pergi, tentu akan memakan waktu, padahal untuk kembali menuju desa Hallari paling tidak membutuhkan tiga hari. Dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Dia membutuhkan Jantung Hijau itu secepatnya, Tuan Tanah adalah orang yang sangat licik. Tidak ada waktu lagi. Satu-satunya cara adalah memancing agar Classyalabolas pergi dari sarangnya, saat itu juga.

”Pilihan kedua.” jawab Reiđ pendek.

Mina mengangguk,

”Aku akan memancing kreyzure itu, kamu bergegas ambil bunga itu. Jika kita terpisah, kita bertemu lagi di pos penjagaan.”
Reiđ kaget, baru saja dia hendak mengatakan kalau dia yang memancing Classyalabolas pergi. Pekerjaan berbahaya itu harusnya laki-laki yang melakukan, bukan perempuan seperti dia.

Mina tanggap dengan reaksi Reiđ.

”Akui saja, aku lebih gesit daripada kamu. Lagipula aku lebih pandai memanjat pohon daripada kamu.” Mina sedikit menyindir Reiđ. Reiđ mengangguk, kalah dalam menyanggah.
Reiđ mengeluarkan semua persenjataan. Dia mengambil beberapa bom lempar yang dia rakit sendiri. Mina juga bersiap dan mengambil sebuah senjata dari balik punggung. Sebuah senjata yang belum pernah dilihat Reiđ sebelumnya. Mirip dengan sebuah busur bersilang, tetapi ada benda seperti batang bambu seukuran genggaman tangannya di bagian tengah. Bambu yang terbuat dari bahan logam.

Mina melepaskan bambu logam, Reiđ mengintip, Di dalam bambu logam itu terdapat lagi lubang-lubang kecil, Mina memasukkan anak panah – anak panah kecil ke dalam lubang-lubang kecil itu. Anak panah yang bentuknya pendek dan sedikit aneh. Reiđ ingat, itu adalah senjata yang Mina gunakan saat melawan kumbang-kumbang saat pertama kali mereka bertemu.

“Senapan Busur...” kata Mina yang merasa kalau Reiđ sedang mengamati senjata miliknya. “Penemuan terbaru dari pamanku. Teknologinya mengadaptasi dari senjata dunia barat yang di sebut senapan. Bisa menembakkan anak panah secara beruntun sebanyak anak panah yang ku masukkan ke bagian ini.” kata Mina sambil menunjukkan ke arah bambu logam di bagian tengah Senapan Busur itu.

“Dan yang lebih hebat, peluru ini sudah dicampur dengan macam-macam eksperimen pamanku. Anak panah merah untuk jenis peledak, hijau untuk jenis racun, biru untuk pembeku. Dan masih ada beberapa anak panah lagi yang belum ku coba. Sihir dan teknologi bersatu.” Mina selesai memasukkan anak panah-anak panah ke dalam Senapan Busur.

Reiđ hanya bisa terkesima dengan penjelasan Mina. Mina menarik badan bagian belakang Senapan Busur, tepat di atas gagang. Suara klak terdengar dan busur kecil tiba-tiba muncul di bagian depan Senapan Busur. Senjata yang tidak pernah dibayangkan oleh Reiđ, sungguh jenius sekali sang pembuat senjata ini pikir Reiđ.

“Siap untuk mengantarkan nyawa?” tanya Mina yang sudah siap dengan bowgun yang berisi panah peledak. Reiđ mengangguk sambil menyeringai. Benda yang sangat menarik dan ajaib, pasti tidak dijual dipasar manapun pikir Reiđ.

“Hitungan ketiga, satu..dua..” Reiđ menggenggam bom lemparnya. Mina mulai mencari posisi dan mengarahkan moncong Senapan Busur ke mulut gua, tepat ke bagian kepala Classyalabolas.

“TIGA…” teriak Reiđ sambil melemparkan empat bom sekaligus. Seiring dengan itu Mina melepaskan lebih dari lima panah peledak dalam hitungan detik. Suara mendesing terdengar oleh Reiđ begitu panah-panah kecil itu melesat dari perut bambu logam Senapan Busur Mina.

Suara ledakan keras terdengar berkali-kali diiringi dengan suara-suara bebatuan yang jatuh dari langit-langit gua. Getaran itu terasa sampai ke tempat Reiđ dan Mina bersembunyi, Reiđ terpental ke jatuh ke tanah. Reaksi Mina lebih bagus daripada Reiđ, dia melompat berjungkir balik ke belakang dan mendarat dengan mulus di permukaan tanah.

Asap menutupi mulut gua itu. Mereka tidak bisa melihat apa-apa. Suasana kembali menjadi sepi.

“Apakah kita berhasil membunuhnya?” kata Mina setengah tak percaya.

Reiđ berdiri sambil memegang punggungnya, rasa sakit menjalar namun dia mencoba tidak mempedulikan. Reiđ mendekat sedikit ke arah gua, memastikan apa yang terjadi pada Classyalabolas. Asap mulai menipis. Namun makhluk itu tidak terlihat.

“Hei kreyzure jelek, ayo cepat tunjukkan muka jelekmu.” lirih Reiđ sambil bergerak maju ke depan dengan perlahan. Reiđ menyiapkan goloknya. Mina menghampiri Reiđ dari belakang.
Tiba-tiba dari arah depan terdengar suara dentaman langkah kaki. Tanah bergetar denga keras. Dari kabut yang mulai menipis terlihat sebuah bayangan besar sedang menuju ke arah Reiđ dan Mina.

“Sialan!” Reiđ menarik lengan Mina dan berlari dengan cepat menerobos semak-semak dan kembali memasuki hutan yang gelap. Reiđ mencoba melemparkan beberapa bom lagi, namun kedua tangannya sedang digunakan.

Kreyzure yang berbentuk seperti iguana raksasa dengan ekor berduri itu terlihat segar bugar, seakan-akan peledak yang Reiđ lempar tidak melukai makhluk itu sedikitpun. Hanya itu yang sekilas bisa dilihat Reiđ. Dia berlari sekuat tenaga sambil membabat semak-semak yang ada di depan dengan membabi buta.

Classyalabolas tetap mengejar Mina dan Reiđ. Mereka terus berlari sekuat tenaga tanpa peduli arah. Mina mengambil bom yang berada di sabuk Reiđ, dengan cekatan dia mengambil sebuah bom dan melempar bom tepat ke kepala kreyzure. Kreyzure itu terhuyung beberapa kaki ke belakang sehingga membuat jarak mereka agak jauh.

Tiba-tiba Mina tersandung akar pohon dan terjatuh. Reiđ dengan sigap mengambil beberapa bom dengan salah satu tangannya yang kini kosong dan melemparkan beberapa bom. Mina segera bangkit. Mereka kembali berlari. Jarak mereka menjadi semakin dekat. Reiđ mulai merasa tidak ada harapan, mereka tidak boleh mati. Salah satu dari mereka tidak boleh mati. Paling tidak ada yang bisa mendapatkan Jantung Hijau. Reiđ melirik Mina yang belari sedikit di belakangnya, teman yang baru saja dia kenal. Harus ada yang berkoban, harus ada yang dikobankan pikir Reiđ.

”Maafkan aku!” kata Reiđ dan dengan ceepat mendorong Mina ke samping hingga Mina terjatuh ke semak-semak yang rimbun. Taktiknya berhasil Classyalabolas mengejar dirinya, tidak mengejar Mina.

“Cepat ambilkan Jantung Hijau yang ada di depan sarangnya. Aku memancingnya menjauh dari sarang. Kita ketemu lagi di pos penjaga!” teriak Reiđ kepada Mina yang sedang melompat ke sebuah pohon. Sedikit perubahan rencana tidak harus membuat rencana mereka gagal pikir Reiđ.

Padahal Reiđ tahu bahwa kemungkinan dia selamat sangat kecil. Tapi paling tidak pertemuan dengan kreyzure ini tidak sia-sia.
Mina langsung melompat dari dahan ke dahan. Mina memang sudah terbiasa dengan gerakan itu. Sesuatu yang sudah pernah dia pelajari sejak dia mengembara beberapa tahun yang lalu.

”Berjanjilah kita akan bertemu lagi di pos penjaga!” teriak Mina.

Reiđ tidak menyahut, dia sudah berada jauh berlari.

Mina bergegas menuju sarang Classyalabolas. Tubuh Mina yang lincah membuat dia tidak kesulitan melompat dari dahan ke dahan.

Reiđ berlari sambil kadang-kadang mengamati kreyzure yang mengejar dengan penuh nafsu membunuh. Reiđ sempat melihat punggung kreyzure itu tiba-tiba bercahaya. Bagian dada Classyalabolas menggelembung dipenuhi udara. Kreyzure itu membuka mulut dan menyemburkan semburan asam. Reiđ sempat berkelit, membelokkan larinya dengan tiba-tiba. Namun semburan asam hampir saja mengenai dirinya. Semburan itu mengenai beberapa pohon yang hanya beberapa kaki di sampingnya, dan batang-batang pepohonan langsung hangus terbakar. Kemampuan lari Reiđ benar-benar teruji saat ini.

“Pallas memang benar, aku cepat tetapi tidak gesit!” pikir Reiđ teringat perkataan Pallas beberapa hari yang lalu saat bermain crushball. Permainan yang mungkin terakhir bagi dirinya, Reiđ membatin.

Reiđ mengambil semua bom yang tersisa di balik baju. “Ah sialan, sisa dua!”

Reiđ menunggu saat yang tepat untuk melempar bom. Reiđ melihat di depan menjadi lebih terang, ada cahaya dan pepohonan menjadi semakin jarang. Apa dia mendekati pinggir sungai Vanora pikir Reiđ, beruntung dia bisa melompat ke sungai dan menyeberang, Classyalabolas tentu tidak akan mengejarnya di air. Atau paling tidak itu yang diharapkan Reiđ.

Reiđ terkejut begitu mendapati yang di depannya bukanlah sungai Vanora, melainkan sebuah jurang yang dalam menghadang, Jurang Falco, Reiđ tidak menyangka arah larinya malah membawa ke daerah ini. Reiđ berpikir betapa bodohnya dirinya yang berlari tanpa tahu arah. Jurang Falco merupakan jurang yang dijuluki jurang tanpa dasar, tidak ada yang mengetahui seberapa dalam jurang itu. Reiđ sedikit mengintip, di bawah sana yang terlihat hanya kegelapan. Sementara di sisi yang lain menunggu pegunungan milik kerajaan tetangga. Hanya binatang yang bisa terbang yang bisa menyeberangi jurang ini.
Reiđ terjebak. Tidak ada pilihan lain kecuali harus berhadapan dengan Classyalabolas. Reiđ berhenti lari dan berbalik arah, menantang Classyalabolas satu lawan satu. Matanya mengamati kiri dan kanan. Tidak ada tempat untuk lari atau sembunyi.

Reiđ memutar pikirannya, hanya tanah lapang yang tidak begitu besar, sebuah golok, dan beberapa bom yang tersisa. Memutar keras pikiran untuk menyelamatkan diri, Reiđ tidak menyadari Classyalabolas muncul dari balik semak-semak.

Classyalabolas berhenti, menatap buruannya yang telah terpojok. Nafasnya mendengus, seakan marah sekaligus merasa kemenangan sudah dia dapat.

Reiđ mengelap keringat dingin yang membasahi seluruh wajahnya, seluruh bagian tubuhnya lemas. Tidak cukup waktu buat berpikir, tidak ada jeda untuk membuat sebuah rencana.
Reiđ menepuk kedua pipinya dengan kedua tangannya. Dia memantapkan hati, tidak ada pilihan lain selain menghadapi makhluk ini.

“Hanya tinggal aku dan kamu saja sekarang kreyzure jelek.” Reiđ mencoba menguatkan tekad sambil mengambil dua buah bom lempar.

Reiđ siap menghadapi Classyalabolas. Kadal raksasa itu maju siap menerkam, Reiđ melemparkan sebuah bom tepat di mata Classyalabolas. Makhluk buas itu buta untuk beberapa saat, namun tetap berlari ke arah Reiđ. Bukannya menghindar, Reiđ malah berlari menuju Classyalabolas.

Reiđ masih berlari dan melemparkan lagi sebuah bom, kali ini mengenai bagian dada Classyalabolas. Classyalabolas terhuyung sesaat, larinya melambat. Reiđ melihat sebuah kesempatan, dia mencabut goloknya dan semakin mendekat ke arah Classyalabolas.
Setelah berjarak hanya beberapa kaki, Reiđ menjatuhkan diri sesaat sebelum kreyzure itu menabrak dirinya, menukik, meluncur, menggesekkan diri dengan tanah. Kreyzure itu berlari melintasi Reiđ yang siap menanti di tanah.

Reiđ menusukkan golok tepat di jantung kreyzure. Classyalabolas tetap berlari ke depan meski kesakitan. Merasa buruannya belum mati Reiđ menusuk jantung kreyzure sedalam-dalamnya, dengan sekuat tenaga, sehingga tanpa sadar dia ikut terseret kreyzure yang berlari ke arah jurang.

Dua puluh kaki……..lima belas kaki…delapan kaki. Kreyzure itu tidak menyadari ada jurang di depan karena matanya masih buta. Classyalabolas berhenti tepat di mulut jurang, matanya sudah mulai bisa melihat lagi. Melihat jurang menganga, Classyalabolas mengangkat dua kaki depannya sehingga Reiđ terangkat bergelantung di udara, berada tepat di mulut jurang berpegangan hanya pada gagang goloknya, Reiđ dengan erat menggenggam goloknya.

Classyalabolas mencoba mengumpulkan tenaga, menggoyang-goyangkan badan mencoba menjatuhkan Reiđ. Classyalabolas menggerak-gerakan tangannya yang pendek mencoba menangkap Reiđ. Gerakan-gerakan itu membuat pegangan Reiđ semakin tergelincir.

Mina datang tidak jauh dari arah samping mereka. Melihat keadaan itu langsung saja dia menembak dengan bowgun tepat di kedua tangan kreyzure itu dengan panah pembeku hingga tak berapa lama kemudian kedua tangan Classyalabolas membeku dan tidak dapat digerakan.

Tidak kekurangan akal, kreyzure itu menghirup udara dalam-dalam. Reiđ ingat gerakan itu, Classyalabolas pasti hendak mengeluarkan semburan asam. Benar saja, beberapa saat setelah itu punggung Classyalabolas bercahaya.

“Sialan!” Reiđ kalang kabut. Dia melepaskan salah satu pegangan tangan dan mengambil satu-satunya bom yang tersisa yang belum menyala. Sial, bom bersumbu, Reiđ lupa kalau ada bom bersumbu di antara bom lemparnya.

Reiđ memandang Mina dari kejauhan, berteriak memanggil Mina sambil mengacungkan bom itu. Mina paham, segera berkonsentrasi dia menembakkan beberapa anak panah api ke arah sumbu bom lempar Reiđ. Berhasil, salah satu anak panah api mengenai sumbu dan tepat saat mulut kreyzure terbuka hendak menyemburkan cairan asam, Reiđ memasukkan bom yang sudah menyala.

Bom meledak di dalam tenggorokan kreyzure dan memutuskan leher. Reiđ berhasil membunuh kreyzure itu. Namun bersamaan dengan ledakan, Reiđ terjatuh ke dalam jurang.

“Reeeeeeeiiiiiiđ…..tidaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkk !”Mina hanya bisa berteriak menyaksikan teman ‘sebentar’nya terjatuh ke dalam jurang yang paling ditakuti di Kerajaan Bés Yua.

*****

Akhir dari Gulungan I

Read previous post:  
39
points
(2051 words) posted by makkie 10 years 31 weeks ago
78
Tags: Cerita | fanfic | cerita | fantasi | pedang | petualangan | zheik
Read next post:  
90

battle-nya seru :D
wew, kalo jatuh ke jurang ga berdasar bisa selamat ga ya?

kalo tokoh utama mati ga seru dung...heuheuheu...

90

Keren!

makasih..jadi malu ni...tapi masih banyak kekurangannya..
btw, ikutin dari awal ya...
prolognya di http://www.kemudian.com/node/228349