Zheik, The One With Power - 4th Scroll Chapter 5

Pelabuhan Perang Sahna, malam hari

Kapal-kapal perang Bés Yua mulai berlabuh. Delapan kapal besar itu dibagi menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama, tujuh buah kapal perang paling besar bermuatan masing-masing seribu prajurit ditugaskan untuk menuju kerajaan Fletchia, menjemput Yang Mulia Raja dan bergabung dengan armada perang kerajaan Fletchia. Masing-masing kapal dipimpin oleh panglima perang dan semuanya berada di bawah pimpinan Jenderal Einar.

Sementara itu kelompok kedua masih menunggu Reiđ yang belum kunjung tiba. Tak berapa lama setelah kapal-kapal kelompok pertama berangkat, Reiđ datang. Tapi dia tidak sendiri. Di sampingnya terlihat seorang gadis tomboi lengkap dengan senjata perang. Mina Kynthia, entah bagaimana dia bisa tahu keadaan ini.

Pangeran Mikaél melirik ke arah Reiđ, Reiđ hanya bisa mengangkat kedua bahu.

“Nggak usah banyak tanya. Dia pernah menyelamatkan nyawaku dua kali. Karena itu aku bakalan bantu dia sebisa mungkin.” jelas Mina sambil langsung memasuki kapal perang itu tanpa mempedulikan Pangeran Mikaél yang kebingungan. Mina memang suka berbicara dengan mencampur adukan bahasa, terutama bahasa dunia barat tempat pamannya yang membuatkan dia senapan busur pernah bekerja.

Pangeran Mikaél mengenalkan Aelita kepada Mina dan Reiđ.

”Terima kasih untuk mempercayaiku!” kata Reiđ sambil menjabat tangan Pangeran Mikaél. Pangeran Mikaél hanya mengangguk, dia tidak perlu menceritakan detilnya kenapa dia memutuskan untuk berangkat ke Avalon selain karena Reiđ.

Aelita dan beberapa prajurit keheranan melihat ’tamu’ Pangeran mereka yang tidak mengenal sopan santun berhadapan dengan putra kerajaan. Padahal jelas sekali kalau kedua orang itu bukanlah dari keluarga bangsawan. Apakah mereka memang tidak diajarkan bagaimana bila berhadapan dengan keluarga kerajaan dan orang yang mempunyai jabatan penting di istana pikir prajurit-prajurit itu.

”Sebenarnya aku tidak langsung percaya begitu saja. Penasihat ku inilah yang menambahkan keyakinanku.” kata Pangeran Mikaél menekankan kata penasihat sambil melirik ke arah Aelita. Pangeran Mikaél mempersilakan mereka memasuki ruang komando di dalam kapal. Sebuah meja bundar dengan delapan kursi dari kayu tersedia di dalam kamar itu.

Pangeran Mikaél menarik sebuah kursi dan langsung duduk, yang lain mengikuti.

Aelita memandang Reiđ,

”Darimana kamu tahu kalau Zahaifé dalam bahaya? Apa yang kamu ketahui?” Aelita langsung bertanya pada Reiđ. Rupanya dia masih belum mengetahui tentang surat yang diberikan Reiđ pada Pangeran Mikaél. Reiđ memandang Pangeran Mikaél. Dia juga belum menceritakan kepada Pangeran Mikaél. Sekarang dia merasa bisa mempercayai semua yang ada di sini. Tidak lama akhirnya dia membuka mulut,

”Dari pedang ini.” kata Reiđ sambil melepaskan pedangnya dari punggung dan meletakkannya di atas meja.

Hypérion berbicara memperkenalkan diri setelah dari tadi diam. Macon tersentak, namun akhirnya dia sadar hanya dia yang bisa mendengar perkataan Hypérion.

”Dia mengaku dirinya sebagai Énziéle. Namanya Hypérion. Salah satu pemilik elemen cahaya.” jelas Reiđ.

tambah Hypérion. Reiđ tidak mengatakan itu pada yang lain. Menurutnya tidak ada gunanya dia menambahkan kalimat itu.

Mekipun sudah pernah melihat pedang itu, Pangeran Mikaél dan Mina masih tertegun dengan keindahannya. Apalagi dengan Aelita yang baru pertama kali melihatnya.

”Saat ini dia tidak bisa menunjukkan wujud aslinya. Dia bilang sebuah segel membuat para Énziéle yang tidak bisa menggunakan kekuatannya. Dan sekarang dia hanya bisa bertahan dengan bentuk seperti ini. Tapi tidak apa, dia masih bisa berbicara. Paling tidak, bisa berbicara denganku.” kata Reiđ.
Setelah berangkat dari desa Hallari, Reiđ akhirnya tahu kalau Hypérion bisa berbicara meskipun dalam wujud pedang. Namun Hypérion hanya bisa berbicara dengan dirinya, pengguna dari Énziéle.

Hypérion membanggakan diri. Hypérion memang suka "bercanda" dengan gaya meremehkan, itulah kesan yang didapat Reiđ saat dalam perjalanan menuju Contur bersama dengan Hypérion. Sedikit merepotkan juga berbicara dengan Hypérion. Beruntung yang lain terutama Pangeran Mikaél tidak bisa mendengar kata-kata Hypérion.

”Dia mengatakan kalau pulau Zahaifé sedang dalam bahaya. Adanya kekuatan jahat yang menginginkan untuk memiliki kekuatan Unheil.” lanjut Reiđ. Matanya tidak lepas menatap pedang. Cahaya bulan yang menembus dari celah-celah jendela terpantul dengan indah pada pedang itu.

”Unheil? Benarkah itu?” potong Aelita. Dirinya yang lulusan dari Akademi Sihir sedikit banyak mengetahui tentang keberadaan Unheil. Seseorang di Akademi pernah memberitahukan itu pada dirinya, tetapi mereka merahasiakan hal itu.
Reiđ mengangguk.

”Apakah kamu mengetahui tentang Unheil?” tanya Mina.
Giliran Aelita yang mengangguk.

”Aku belajar sihir di Akademi Sihir.” Aelita membenarkan tempat duduk. ”Unheil adalah sihir yang dilarang. Menurut cerita, Unheil pernah digunakan para pengguna sihir untuk melawan para jiwa bintang yang tidak bisa dilawan dengan kekuatan fisik belaka pada saat perang Afras.” Aelita menghela nafas.

”Tetapi setelah perang Afras berakhir dan jiwa bintang disegel, beberapa penyihir merasa kalau keberadaan Unheil bisa menimbulkan bencana jika jatuh ke tangan yang salah. Oleh sebab itu mereka menyegel Unheil tidak lama setelah jiwa bintang disegel. Di Akademi Sihir, hanya para Mata Tertingi yang mengetahui tentang Unheil. Tapi desas desus tentang Unheil sempat bocor ke telinga beberapa orang.”

Hypérion kembali berulah. Apa gara-gara Hypérion terlalu lama berada di Jurang Falco ya pikir Reiđ. Namun Reiđ menjadi terpancing dengan perkataan Hypérion dan sempat melirik bibir dan tubuh Aelita. Reiđ menjadi senyum-senyum sendiri.

”Ada apa? Kenapa kamu tersenyum?” Mina yang mengamati Reiđ bertanya.

Reiđ sedikit kelabakan,
”Oh tidak, itu..mm..apa kamu juga mengetahui tentang segel pemanggil?” tanya Reiđ sambil menatap Aelita, kali ini tidak pada bibir dan tubuh. Bagi Reiđ jika mereka berhasil membuka segel pemanggil dan menggunakan kekuatan jiwa bintang, maka semua masalah bisa terpecahkan.

Aelita merasa mendapat sesuatu. Sesuatu yang sudah membuat dirinya bertanya-tanya selama beberapa hari ini.

”Aku pernah mendengar tentang hal itu.” Aelita menatap ke arah Pangeran Mikaél, tetapi matanya menerawang ke tempat lain. Ada sesuatu yang dia pikirkan namun tidak bisa dia ungkapkan dengan jelas.

Reiđ dan yang lain menunggu dengan sabar.

Hypérion mengira Aelita sedang mengingat-ingat.

Reiđ yang mendengar perkatan Hypérion menjadi sedikit terganggu. Dengan sengaja dia memukulkan benda yang berbetuk seperti bola kristal pada gagang pedang ke sandaran kursi. Reiđ tahu kalau itu adalah bagian ”kepala” Hypérion. Hypérion mengaduh.

teriak Hypérion.

”Ah, sekarang semuanya sudah jelas. Naster Tatiana pernah menceritakan aku tentang segel pemanggil.” Aelita tersenyum.

”Paling tidak itulah yang aku ketahui dari buku ini. Beberapa hari yang lalu, Naster Tatiana mengirimkan buku tentang segel pemanggil kepadaku. Sampai beberapa saat lalu aku masih tidak mengerti kenapa dia mengirimkan buku ini kepadaku yang sudah bukan murid Akademi lagi. Sekarang aku tahu, mungkin dia ingin agar aku membantu untuk membuka segel pemanggil. Tapi jika kita harus membuka segel pemanggil, maka kita memerlukan empat buah kunci untuk membuka segel itu.” jelas Aelita.

”Kunci?” Pangeran Mikaél belum paham.

”Mmm..menurut buku ini, untuk membuka segel pemanggil harus menggunakan empat buah kunci yang berisikan mantra-mantra untuk membuka segel itu.”

”Maksudmu kunci seperti kunci untuk pintu penjara atau seperti kunci kura-kura?” tanya Mina. ”Kalau cuma kunci berbentuk itu, aku bisa membuka kunci pintu penjara atau kunci kura-kura manapun. Aku sudah belajar dari ahlinya masalah membuka kunci.” Mina membanggakan diri. Mina memang pernah belajar cara membuka kunci kura-kura hanya dengan menggunakan sebatang besi kecil sekecil mata kail.

Aelita mengeluarkan sebuah buku dari kantung yang dia bawa.
”Bukan. Kunci yang kumaksud bukan kunci biasa seperti itu. Tapi kunci yang berbentuk batu. Runestone, BatuBertuah yang mempunyai simbol atau huruf. Tiap huruf atau simbol pada batu melambangkan kekuatan yang terdapat di dalam batu. Batu yang sekarang kita cari adalah BatuBertuah unsur Tanah, Api, Air dan Angin. Kunci-kunci itu disebarkan ke beberapa tempat di Hyrnandher. Dulu, kunci-kunci itu dibawa oleh para mantan Mata Tertinggi generasi ketiga yang telah mengasingkan dari kehidupan dunia. Sekarang tidak ada yang mengetahui keberadaan kunci-kunci itu. Bahkan Mata Tertinggi yang sekarang pun tidak mengetahui keberadaan kunci-kunci itu.” Aelita menunjukkan mimik muka bersalah, seakan-akan karena dialah kunci-kunci itu hilang karena dirinya.

”Apa tidak ada petunjuk tentang bagaimana menemukan kunci-kunci tersebut?” tanya Pangeran Mikaél. Aelita menggeleng. Dia sudah membaca isi buku itu berkali-kali dan tidak menemukan petunjuk tentang mencari kunci-kunci BatuBertuah tersebut.

Reiđ tertunduk lemas. Ternyata begitu sulit untuk menjalani tugas ini. Apa tidak ada cara lain untuk membuka segel pemanggil pikirnya. Pangeran Mikaél pun bingung karena tidak ada yang bisa dilakukan sekarang. Dia memang tidak mengetahui apa-apa tentang Akademi Sihir dan semua yang berbau sihir. Maklum dia lebih memilih mempelajari ilmu pedang daripada ilmu sihir yang menurutnya sangat rumit dan susah. Belum lagi Hypérion yang juga tidak mengetahui tentang kunci-kunci tersebut.

Aelita menunjuk ke arah pedang Reiđ yang berada di atas meja di depan Reiđ duduk. Reiđ sedikit tidak mengerti.

”Bolehkah?” tanya Aelita. Reiđ baru sadar, Aelita ingin meminjam pedang miliknya. Reiđ menatap Pangeran Mikaél sedikit bertanya-tanya. Pangeran Mikaél hanya mengangguk tanda mempercayai dengan apa yang akan dilakukan Aelita. Reiđ menyerahkan pedang yang masih di dalam sarung.

Aelita menerima pedang itu dan langsung mengeluarkannya dari sarung. Dia memegang pedang itu dengan kedua tangan. Perasaan dingin tapi hangat menjalar di telapak tangan. Aelita mencoba mengkonsentrasikan pikiran. Dia memejamkan mata.

Hypérion berteriak saat Aelita merapal mantra.

Tidak lama Aelita membuka matanya. Ekspresi wajah yang menujukkan kegagalan.

”Seperti yang ku duga, kemampuanku memang tidak bisa digunakan pada sesuatu yang terlindungi oleh sihir yang mempunyai tingkatan yang lebih tinggi dariku. Mungkin butuh 10 tahun lagi bagiku untuk bisa membaca pedang ini.” Aelita meletakkan pedang itu di atas meja.

<10 tahun? Memangnya dengan kemampuan seperti itu kamu bisa melebihi kemampuanku? Kakek buyutmu ditambah 10 tahun dan ribuan domba pun tidak bisa menandingi kemampuanku. Ku maafkan karena kamu yang paling seksi di sini. Lagipula tanganmu lembut dan wangi. Hei Reiđ, sekali-kali kamu juga harus mencobanya.> Hypérion tertawa.

Reiđ menjadi ikut tersenyum,

”Kali ini ada apa?” Mina yang merasa ada sesuatu yang ganjil antara Reiđ dan Hypérion.

”Oh tidak, dia cuma memuji kecantikan Aelita.” kata Reiđ sambil menunjukkan jari ke arah Hypérion. Reiđ mencoba menutupi.

Tiba-tiba Reiđ berteriak membuat kaget yang lain,

”Tunggu dulu, mungkinkah...” Reiđ berbicara sendiri. Yang lain tambah kebingungan. Hypérion sendiri juga kebingungan. Reiđ malah mengacak-acak isi tasnya. Tidak lama dia menemukan apa yang dia cari. Segera dia menunjukkannya pada Aelita.

”Apakah ini BatuBertuah itu? Aku teringat saat melihat semacam simbol aneh yang ada di bagian depannya.”

Aelita menerima batu bertulisan itu,

”Dari mana kamu mendapatkannya?”

”Saat aku mengalahkan Classyalabolas Collat, kepalanya ikut terjatuh bersama diriku. Saat kepalanya pecah menghantam tanah, aku melihat ada benda aneh yang tertancap di kepalanya. Aku tidak tahu kapan aku mengambilnya, yang jelas batu bertulisan itu sudah berada di kantung tasku. Adikku yang pertama kali mengetahuinya saat membongkar-bongkar isi tas milikku.” jelas Reiđ.

”BatuBertuah unsur Api!” desah Aelita saat menatap simbol yang terpatri di salah satu sisi batu yang berbentuk pipih itu.

Aelita tidak bertanya lagi, dia menggenggam batu itu dengan kedua tangan. Sama seperti saat dia menerawang buku yang dibawa Pangeran Mikaél. Lama-lama nafasnya berhembus semakin pelan. Keanehan saat menggunakan kemampuan ini, Aelita merasakan waktu selain dirinya seakan-akan berhenti. Kilatan-kilatan kejadian dengan cepat di dalam otaknya. Begitu selesai, waktu dan nafas Aelita kembali menjadi normal.

”Fletchia!” desah Aelita sambil membuka mata.

Pangeran Mikaél, Mina dan Reiđ yang dari tadi menunggu saling bertatapan.

”Aku bilang apa tadi?” Aelita balik bertanya mencoba memperjelas apa yang dikatakannya tadi seakan-akan bukan dirinya yang mengatakan kata-kata itu.

”Fletchia! Kerajaan Fletchia!” jelas Mina.

”Memang ada apa dengan kerajaan Fletchia? Apakah kunci-kunci itu berada di sana?” Reiđ mengernyitkan keningnya.
Aelita mendorong kursinya ke belakang dan berdiri. Keduanya memegang pinggiran meja.

”Kalau tidak salah, menurut penglihatanku salah seorang Mata Tertinggi generasi kedua ada yang berasal dari kerajaan Fletchia. Dia salah seorang utusan dari kerajaan Fletchia. Ini dulu adalah milik dia. Mungkin kita bisa menemukan petunjuk di sana.”

Reiđ dan Pangeran Mikaél memperhatikan Aelita dengan serius. Mereka merasa harapan telah muncul kembali.

”Dia yang dulu membawa salah satu dari ke empat kunci segel pemanggil. Aku tidak tahu apakah kita akan menemukan kunci-kunci itu di sana, tapi aku yakin kita akan menemukan sesuatu di sana!” katanya sambil mengepalkan kedua tangannya dan memukul permukaan meja.

”Sialan!” gumam Pangeran Mikaél. Kenapa tadi tidak mereka saja yang berangkat menuju Fletchia, bukan Jenderal Einar pikir Pangeran Mikaél sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

”Bagaimana Pangeran Mikaél? Apakah kita akan menuju Fletchia? Perjalanan ke sana akan memakan waktu. Apakah kita tetap akan ke sana meskipun nanti mungkin, aku bilang mungkin kita tidak akan menemukan apa-apa? Paling tidak kita akan memerlukan waktu sekitar sepuluh hari untuk menuju ke Avalon, dan itu yang paling cepat.” Mina menanyakan keputusan yang akan Pangeran Mikaél ambil. Biar bagaimanapun Pangeran Mikaél adalah orang yang bertanggung jawab atas perjalanan.

”Kalau begitu, tidak perlu membuang waktu lagi. Kita berangkat menuju Fletchia sekarang juga!” Pangeran Mikaél berdiri dan bergegas menuju nahkoda kapal untuk memberitahukan tempat tujuan mereka.

Tidak berapa lama setelah itu, kelompok kedua yang hanya membawa satu buah kapal perang yang bernama Atros dengan membawa seratus orang prajurit melakukan pencarian terhadap kunci-kunci pembuka segel pemanggil sesuai dengan jalur yang ditetapkan oleh Aelita. Berkat Aelita, mereka bisa mendapat sedikit informasi tentang keberadaan kunci-kunci pembuka segel pemanggil. Aelita hanya tersenyum merasa berjasa karena dia merasa perjalanan ini akan sesuai dengan yang mereka harapkan. Dia merasa sedikit bahagia, perjalanannya menjadi satu langkah lebih dekat menuju orang yang ingin ditemuinya.
#####

Read previous post:  
0
points
(2104 words) posted by makkie 9 years 13 weeks ago
Tags: Cerita | fanfic | dunia fantasi | ksatria | pedang | petualangan | zheik
Read next post:  
90

bagus bagus

makasi...makasi...

100

wleh wleh seru jez,
koyok perange avatar nang tipi, sip sip !

makasi..makasi..kalo mw baca dari awal liat aja di http://id.kemudian.com/node/228349