Zheik, The One With Power - 5th Scroll Chapter 4

Setengah hari berlalu,

Rapat persiapan telah selesai. Azura sedang termenung menatap lautan luas di sekeling kapal Amukhasa. Jenderal Einar datang menghampiri.

“Bagaimana keadaanmu anak muda?” tanya Jenderal Einar.
Azura memandang Jenderal Einar. Dia memaksakan untuk tersenyum.

“Aku baik-baik saja.” kata Azura. Namun Jenderal Einar tahu dari tatapan mata Azura kalau Azura masih memendam kepedihan yang dalam.

Jenderal Einar tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya berdiri di sana menemani Azura yang sedang menatap lautan. Jenderal Einar sengaja, dia tahu pemuda seperti Azura bukan pemuda yang senang berbicara mengenai kesedihannya. Akhirnya dia memilih berdiam diri, namun tetap menemani Azura.

“Jenderal…” akhirnya Azura membuka pembicaraan setelah mereka lama terdiam.

“Ada apa?” Jenderal Einar menjawab tanpa memandang Azura.
Azura malah terdiam. Mulutnya masih terasa berat untuk berbicara. Namun Azura memaksakan diri,

“Kenapa Jenderal percaya dengan cerita saya? Padahal saya bukan orang yang Jenderal kenal, bahkan tidak ada satupun dari semua yang berada di kapal ini mengenal saya.” Azura tiba-tiba menjadi lancar berbicara.

Jenderal Einar menghembuskan nafas,

“Anak muda, masih banyak kehidupan yang belum kamu jalani. Masih banyak hal yang belum kamu ketahui. Aku sudah pernah bertemu berbagai orang, dari kalangan manapun. Baik dari yang jahat, yang baik, atau mereka yang punya niat tersembunyi.”
Jenderal Einar menatap Azura dengan pandangan bersahabat, Azura merasa nyaman dengan pandangan itu. Jarang dia mendapatkan perasaan seperti itu saat bertemu dengan orang-orang yang mempunyai jabatan tinggi. Mungkin hanya Naster Eva yang mempunyai tatapan seperti itu.

“Dan percayalah, seiring dengan berjalannya waktu dan semakin banyak kamu mengenal orang. Kamu akan dengan sendirinya bisa mengetahui mereka hanya dengan tatapan mata mereka.” Jenderal Einar tersenyum kecil.

“Aku pernah mengenal anak muda seperti kamu. Tatapan kalian berdua mirip. Bahkan dia orang yang tidak segan langsung meminta bantuan kepada orang lain, padahal dia mempunyai jabatan yang lebih tinggi daripada aku. Sayang sekarang dia tidak ikut dalam rombongan ini. Namun aku yakin nanti di Fletchia kamu akan bertemu dengannya. Dia seorang Putra Mahkota, Pangeran dari Kerajaan Bés Yua.”

Matahari semakin turun ke arah barat.

“Sesuai yang direncanakan.” kata Jenderal Einar tiba-tiba.
“Besok siang kita akan sampai di Fletchia. Anak muda, aku permisi untuk beristirahat dulu. Beberapa hari ini memang melelahkan, tapi beberapa hari ke depan pasti akan lebih melelahkan.” Jenderal Einar malah meminta ijin kepada Azura yang bahkan tidak mempunyai pangkat apa-apa.

“Jenderal, apa aku boleh ikut berperang?” tanya Azura.
Jenderal Einar mengerutkan kening,

“Bukan aku yang memutuskan. Kamu dari Baja atau Zahaifé, salah satu dari mereka yang berhak memutuskan. Kalau tidak ada yang bisa memutuskan, maka itu menjadi pilihanmu sendiri. Lagipula, apakah benar yang kamu inginkan adalah ikut berperang?” Jenderal Einar balik bertanya.

Azura terdiam, Jenderal Einar melanjutkan berjalan. Beberapa langkah kemudian dia berhenti dan membalikan badan.
“Aku tahu kamu sudah banyak beristirahat, tapi….” Jenderal Einar tersenyum,

“Beristirahatlah lagi.”

Azura ikut tersenyum, dia hanya mengangguk. Jenderal Einar berlalu menuju ruang tidurnya.

“Hei, sedang apa?” tanya sebuah suara dari arah belakang Azura. Azura mengenal suara itu. Dari sekian banyak orang yang ada di kapal ini, hanya suara ini dan suara Jenderal Einarlah yang terdengar akrab di telinga.

“Tidak sedang apa-apa, Harith.” jawab Azura sambil membalikkan badan.

“Jadi-” Harith mendekat ke arah pinggiran kapal. Menatap matahari yang mulai terbenam sepertiga di balik laut. “-apa yang akan kamu lakukan?”

Harith sempat mendengar saat Azura bertanya kepada Jenderal Einar agar diperbolehkan iktu berperang.

“Apa kamu akan ikut berperang?” tanya Harith lagi.
Azura menundukkan kepala. Lama terdiam,

“Aku harus menyelamatkan Akademi Sihir. Tidak peduli bagaimanapun nanti jadinya, tidak peduli jika tidak ada yang mengijinkan, aku akan tetap pergi. Ada janji yang harus ku penuhi.” Azura mengenang kembali saat terakhir dia melihat Naster Eva, sesaat sebelum Azura jatuh.

Saat terpojok, Naster Eva mengeluarkan sisa tenaganya untuk membuat perisai pelindung dari api. Namun cukup untuk menahan serangan dari Mata Tertinngi yang lain yang sedang mengepung mereka, untuk sementara. Saat itu Azura baru tersadar setelah mendapat satu serangan bola sihir dengan telak. Dengan tubuh tak bertenaga dia mendekati Naster Eva

“Aku sudah tidak bisa bertahan lagi.” kata Master Eva setengah berbisik. Bukan karena dia tidak ingin ada yang mendengar, tapi memang karena kekuatannya sudah terkuras habis akibat pertarungan melawan Lazsanahon dan ketiga Mata Tertinggi sebelumnya. Azura hanya bisa berdiam diri, tidak tahu harus melakukan apa.

“Hanya satu yang bisa kulakukan sekarang.” Kata Master Eva lagi sambil memegang dada Azura dengan tangan kanan sementara tangan kirinya masih mengendalikan perisai api. Azura merasakan dadanya terasa hangat.

“Naster Eva, apa yang kau lakukan?” tanya Azura kebingungan. Azura tidak dapat menggerakkan tubuhnya.

“Tenang, sekarang aku sedang memindahkan semua ilmuku padamu. Kamulah satu-satunya harapanku untuk mengalahkan Lazsanahon dan membebaskan Mata Tertinggi yang lain dari pengaruh sihir Lazsanahon. Kamu juga harus membebaskan teman-temanmu, aku yakin Lazsanahon tidak akan membunuh mereka. ” jelas Mata Tertinggi unsur Api.

Kilatan-kilatan pengetahuan berlintasan di kepala Azura dengan cepat, sangat cepat, melebihi dari kedipan mata. Pengetahuan-pengetahuan yang Azura sama sekali tidak atau belum mengetahuinya, tentang sihir, tentang Zahaifé, akademi dan bermacam-macam. Bermacam-macam mantra dan ilmu sihir memasuki kepala Azura. Tapi tidak ada satupun yang bisa dicerna Azura dengan jelas. Semuanya bergerak terlalu cepat. Perlahan Azura merasakan kepalanya terasa berat dan panas akibat pengetahuan-pengetahuan yang dengan cepat masuk ke dalam pikiran. Azura merasakan sedikit darah mulai menguncur dari salah satu lubang hidungnya.

”Lakukanlah apa yang menurutmu harus kamu lakukan. Pelajarilah apa yang kau perlukan. Pelajarilah dengan cepat. Kemudian bebaskan Akademi kita dari tangan kotor mereka. Bebaskan teman-teman kita!” Naster Eva terhenti sebentar, perisai api sedikit demi sedikit kehilangan kekuatannya dan perlahan-lahan mengecil.

”Jangan sampai siapapun mendapatkan Unheil. Hentikanlah dengan segala cara. Meskipun untuk menghentikannya harus dengan cara menghancurkan Akademi, lakukanlah. Tapi jika mereka sudah mendapatkan Unheil, bukalah segel pemanggil. Itu tidak akan mencegah Unheil, tapi paling tidak masih ada harapan untuk melawan. Sekarang pergilah, dan carilah bantuan. Sebanyak-banyaknya, secepatnya!” Naster Eva melepaskan tangan yang mengendalikan perisai api, dengan kedua tangannya dia mendorong Azura hingga terpental menembus dinding, dinding itu tidak hancur melainkan berubah menjadi semacam cairan begitu tersentuh tubuh Azura.

”Katakan Harith, apa di kapal ini ada tempat untuk berlatih sihir?” Azura menghentikan lamunannya. Matahari sudah tenggelam sepenuhnya. Bulan Azur dan Muracco muncul memberikan cahaya menggantikan matahari.

”Bés Yua tidak begitu ahli dalam ilmu sihir. Jadi kami tidak menyediakan tempat untuk sihir di kapal ini. Tapi kalau kamu mau berlatih menggunakan sihir, mungkin kamu bisa menggunakan ruang latihan Pangeran. Ruangan itu di rancang khusus untuk tidak mudah hancur.” jelas Harith.

”Tidak mudah hancur?” Azura sedikit tidak paham.

Harith sadar kalau Azura tidak mengenal Pangeran Mikaél.
”Ruangan itu memang diciptakan khusus. Pangeran Mikaél menggunakan ruangan itu untuk melatih ilmu pedang api. Pangeran Mikaél memang bukan penyihir, tapi dia bisa menggabungkan api dengan pedangnya. Itulah sebabnya ruang ini dibuat agar tidak mudah hancur, terbakar atau meledak.”
Harith juga sebenarnya tidak terlalu mengenal Pangeran Mikaél, dia hanya pernah melihat wajahnya. Namun seperti apa orangnya, Harith hanya bisa menyimpulkan dari cerita orang lain.

Azura sedikit tidak memahami. Padahal dia punya kenalan di Bés Yua, tapi kenapa dia tidak pernah mendengar cerita tentang Pangeran dengan Pedang Api-nya.

”Tapi sebaiknya kamu minta ijin terlebih dahulu kepada Jenderal Einar. Aku rasa mungkin untuk kamu, beliau akan mengijinkan.” Harith mengedipkan mata. Harith tahu, di mata Jenderal Einar Azura sudah di anggap seperti tamu kehormatan. Tidak semua orang bisa mendapatkan kebaikan hati sang Jenderal.

Untuk puluhan kalinya Azura mengangguk.

*****

”Kenapa kamu ingin meminta agar langsung dibimbing dengan Naster Eva?” tanya Naster Tatiana. Satu-satunya perempuan yang menjadi Mata Tertinggi generasi sekarang. Naster Tatiana adalah kepala keluarga Vasanta.

”Untuk menguji teori saya tentang ilmu sihir yang saya buat, saya membutuhkan seseorang yang mempunyai kekuatan api yang hebat. Bukan hanya kekuatan tetapi juga kemampuan pengendaliannya. Saya tidak mau kalau nanti saya celaka karena meminta bantuan dengan orang yang tidak bisa mengendalikan kekuatan api. Saya membutuhkan api yang sangat kuat, karena itu harus orang yang tepat untuk menjaga api yang kuat tersebut. Dan setahu saya, Naster Eva yang paling ahli mengendalikan api.” Azura menerangkan maksudnya untuk meminta izin kepada Naster Tatiana agar bisa menjadi bimbingan Naster Eva yang mengepalai keluarga Estio.

Azura sedang mengajukan sebuah penelitian untuk teori yang baru saja disempurnakan. Sebuah mantra baru, ilmu sihir baru. Ilmu sihir yang bisa membekukan api, tidak sembarang api, tapi api yang sangat kuat. Setelah 1 tahun berkutat dengan buku-buku ilmu sihir dan sebagainya, Azura mengemukakan penelitian baru ini agar disetujui Naster Tatiana.

”Baiklah,” Naster Tatiana mengiyakan setelah membaca tulisan tentang penelitian Azura dan mendengar langsung penjelasan Azura. ”Aku akan memberikan surat keterangan kepada Naster Eva untuk dimintai bimbingannya. Tapi ingat, jangan sampai memalukan keluarga Vasanta di depan Naster Eva!”

Azura mengangguk, dia tahu ada persaingan antar keluarga yang terjadi di Akademi. Tidak lama kemudian dia pergi menuju ruang keluarga Estio sambil membawa surat untuk meminta bimbingan Naster Eva.

*****

Azura tertidur di ruang latihan Pangeran Mikaél yang ada di kapal perang Amukhasa. Di sampingnya Harith juga tertidur, tapi tidak sepulas Azura. Pagi baru saja menjelang, tapi kedua pemuda itu malah tidur.

Harith terbangun. Dia terkejut dan sedikit panik saat menyadari bahwa pagi sudah lama menampakkan diri. Harith menatap Azura.

Tadi malam Azura berlatih menggunakan beberapa ilmu sihir yang berhasil dia cerna dari pikirannya. Bukan sihir-sihir yang besar, tapi cukup berguna untuk pertarungan kata Azura.
Harith yang malam itu sedang tidak bertugas ikut menemani Azura, siapa tahu Azura butuh pengobatan kalau seandainya terjadi ’kecelakaan’ saat berlatih.

Tidak banyak ilmu sihir api yang digunakan Azura, namun dia harus mengulang satu ilmu beberapa kali sampai benar-benar lancar dan benar. Bahkan salah satu jurus sampai diulang sebanyak 200 kali. Kuat juga tekad Azura mempelajari ilmu sihir pikir Harith.

Harith tersenyum meringis, masih teringat kejadian tadi malam. Saat menggunakan ilmu sihir, Harith hampir saja celaka saat Azura belum berhasil mengendalikan ilmu sihir itu. Entah apa namanya, yang jelas saat itu dari telapak tangan Azura muncul banyak sekali bola-bola api kecil. Pertama bola-bola api itu hanya melayang-layang di sekitar tubuh Azura, tapi lama-kelamaan bola-bola api itu menjadi ’gila’. Tanpa bisa dikendalikan bola-bola api itu melesat dengan cepat dan bergerak semaunya sendiri. Benar-benar tidak bisa dikendalikan. Harith sangat panik saat itu, apalagi saat bebrapa arah bola melesat dan meledak di dekat dirinya.

Beruntung Azura mempunyai sihir penangkalnya. Azura mengeluarkan sihir es dari kedua telapak tangannya. Dengan bersusah payah Azura mengejar bola-bola yang masih melesat-lesat di ruangan latihan.

Memang bukan sihir es yang hebat, kata Azura itu hanya ilmu sihir standar. Semua yang sudah belajar dua tahun di Akademi Sihir harus bisa menggunakan beberapa sihir standar seperti api, air, angin, tanah, memindahkan benda, pindah tempat jarak pendek, dan beberapa sihir ’mudah’ lainnya.

Harith menatap Azura. Dia masih merasa mengantuk. Bagaimana tidak, mereka baru tidur kira-kira tiga putaran pasir yang lalu. Dan sekarang mereka, atau setidaknya dia harus kembali bertugas di ruang pengobatan.

Harith membangunkan Azura.

”Hei, Azura. Ayo ke ruang pengobatan. Lebih baik kamu melanjutkan tidurmu di sana!” perintah Harith.
Namun Azura tidak menjawab. Sama sekali tidak bereaksi, Azura tertidur sangat pulas. Harith tidak mau menganggu tidur Azura namun dia juga tidak ingin Azura tidur di tempat ini. Dan entah kenapa Harith tiba-tiba saja mengangkat tubuh Azura dan memapahnya. Harith sendiri kaget dengan tubuhnya yang bergerak dengan sendirinya.

”Harith, terima kasih.” kata Azura beberapa waktu sebelum mereka tertidur. Azura menghentikan latihan, kemudian mereka berbaring di atas lantai.

Harith kaget mendengar ucapan terima kasih dari Azura. Dia merasa sudah tugasnya untuk merawat orang yang sakit, apalagi ini perintah dari atasannya.

”Untuk apa?” Harith menoleh ke samping tepat ke wajah Azura. Namun saat itu Azura sedang memandang langit-langit.

”Untuk semuanya.” Azura berkata tanpa menoleh,

”Sejak dari pertama aku tiba di kapal ini. Untuk merawatku, untuk menjadi teman bicaraku, menemaniku.” kata Azura lagi.

”Tidak usah terlalu hanyut dalam perasaan.” kata Harith. ”Sudah menjadi tugasku untuk merawat orang.”

”Meskipun begitu...” Azura memalingkan wajahnya dari langit-langit dan menatap Harith. Seakan mereka saling menatap.
”Kamu membuatku merasa nyaman. Sudah lama aku tidak merasa senyaman ini. Sejak aku meninggalkan sahabat-sahabatku. Aku tidak pernah merasa senyaman ini. Bahkan di Akademi Sihir sekalipun. Mungkin karena aku sendiri yang begitu menutup diri sehingga mereka menganggap aku orang yang sombong.”

Giliran Harith yang menatap langit-langit. Tidak lama Azura juga kembali menatap langit-langit ruang latihan.

”Di Akademi Sihir, apa kamu tidak mempunyai teman?”
Azura menggeleng,

”Tidak, aku tidak mempunyai teman.” Azura menghela nafas,

”Aku mempunyai kemampuan yang lebih daripada anak-anak seumurku. Beberapa dari pelajar-pelajar Akademi Sihir tidak menyukainya. Mereka menganggap aku anak yang suka pamer, padahal aku hanya melakukan apa yang aku yakin bisa.”
Azura menaruh pergelangan tangannya untuk menganjal kepala, seakan-akan menjadi bantal.

”Bukan salahku kalau aku mahir menggunakan sihir. Pada saat itu ada seorang gadis yang tetap menyemangatiku dan mau berteman denganku. Meskipun itu menjadikan dia juga berstatus ’musuh masyarakat’ karena berteman denganku.”

”Hanya gadis itu...” lirih Azura.

”Apakah gadis itu sekarang masih di Akademi Sihir? Apakah dia ditawan di sana?” tanya Harith.

”Tidak. Sudah lebih dari setahun yang lalu dia meninggalkan Akademi. Dengan alasan keluarganya sedang membutuhkan dia. Dia mempercepat kelulusannya. Padahal Naster Tatiana, yang juga Mata Tertinggi di sana menginginkan gadis itu menjadi penerusnya. Aku tahu sebenarnya dia ingin menolongku. Dia tahu kalau aku dan dia terus bersama, maka berakibat buruk bagi diriku.”

Harith mengernyitkan dahi. Tidak mengerti dengan ”berakibat buruk” yang dikatakan Azura. Tapi saat Harith menunggu penjelasan dari Azura, Azura tidak mengatakan apa-apa lagi. Harith menduga Azura tidak mau menceritakan hal itu.

”Apa kalian tidak pernah saling berkirim surat?”

”Tidak, aku tidak mau mengganggu kehidupannya lagi. Sudah cukup beban yang aku berikan padanya saat bersamaku.” Azura menghembuskan nafas. Lama mereka berdua berdiam diri.

”Hei, Azura. Setahuku penyihir membawa sapu terbang untuk berpergian. Jadi kenapa kamu tidak menggunakan sapu terbangmu saat terjatuh?”

”Sapu terbang? Itu sudah kuno. Kami tidak lagi menggunakan sapu terbang. Cukup dengan membaca mantra, maka sepatu biasa kami menjadi sapu terbang. Lebih bagus daripada harus membawa sapu kemana-mana.”

”Lalu kenapa kamu tidak menggunakan ’sepatu terbang’mu saat terjatuh?”

Azura tersentak. Perlahan dia menatap Harith,

”Iya. Betul juga apa yang kamu katakan. Kenapa saat itu aku tidak menggunakan sepatu-ku ya?” Azura menyadari kebodohannya. ”Entahlah, mungkin karena aku tidak bisa berpikir jernih, saat itu aku panik sekali. Sesaat sebelum mendiang Naster Eva menyelamatkanku, aku merasa saat itu aku pasti sudah tewas. Beruntungnya aku.” gumam Azura.
Harith hanya mengangguk-angguk. Matanya sudah tidak kuat lagi.

”Selamat malam-telat Azura.” Harith memiringkan badannya membelakangi Azura.

”Selamat tidur juga Harith.’ jawab Azura sambil bergegas untuk tidur juga.

”Oh ya...” Harith berkata lagi,

”Terima kasih kembali Azura.”

Azura tersenyum.

*****

Jenderal Einar terperangah, entah apa yang harus disampaikannya pada Yang Mulia Raja dan Ratu. Kapal Atros yang seharusnya bisa menyusul mereka sampai sekarang masih belum terlihat, bahkan Elang pembawa pesan kembali mendarat di Amukhasa dengan membawa pesan yang dia kirim. Apa yang terjadi dengan Atros dan Pangeran Mikaél geram Jenderal Einar. Sementara di depan sudah terlihat pelabuhan perang kerajaan Fletchia.

Akhir dari Gulungan V

#####

Read previous post:  
7
points
(2558 words) posted by makkie 9 years 22 weeks ago
35
Tags: Cerita | fanfic | dunia fantasi | ksatria | pedang | petualangan | zheik
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

Baca dari awal sampai akhir~

Mataku langsung pedes XD

Hahaha, sep!

heuheuhue...terimakasih Ka Ea... XD XD XD

90

keren keren

oke..oke...makasi Ka dah setia mampir...

80

cepat sekalii >< sabar dong, ki. baca gulungan satu aja belum kelar. hix hix.. ninggalin jejak dulu deh. poinnya udah 8. ceritamu seru sih :)
btw.. pertamax.. ^^

hue hue hue...muuph muuph...
mumpung lagi nganggur, jadi posting2 dulu...
owke..ni juga lagi ngembangin yang gulungan ke 6...
thx...