Simpanan #5 (Senja Saat Perpisahan)

Sudah dua bulan sejak pemakaman Tante Themia diadakan. Suasana hatiku perlahan-lahan membaik meski rasa penyesalan tak berhenti menderaku. Masih sulit rasanya memaafkan diriku sendiri setelah peristiwa meninggalnya Tante Themia setelah aku dan paman telah begitu menyakiti hatinya.

Sudah dua bulan pula Juno tak pernah menemuiku. Aku tak berani lagi berusaha menemuinya. Terlalu malu diriku untuk kembali muncul di hadapannya setelah semua yang aku lakukan begitu menyakiti dirinya dan keluarganya.

Mungkin saja ia marah padaku. Mungkin ia juga menyadari bahwa aku adalah wanita murahan perusak rumah tangga orang lain yang tidak pantas bersanding dengannya secinta apapun ia padaku. Apa mungkin juga ia kini sudah bertemu gadis lain yang lebih pantas dengannya?

Ah, perasaan hati yang sensitif membuatku berpikir negatif tentang Juno. Rasanya aku begitu tidak tahu diri jika masih bisa berbuat begitu setelah semua yang Juno lakukan padaku.

Sudah sepuluh menit aku duduk menunggu di salah satu sudut Starbucks Coffee di Skyline Building. Orang yang kutunggu adalah paman. Dia memintaku menemuinya untuk membicarakan sesuatu. Aku rasa apapun yang ingin dikatakannya nanti tidak akan terlalu mengejutkanku. Hidupku sudah terlalu banyak kejutan. Tentang aku yang menjadi seorang simpanan, Juno adalah anak paman, sampai Tante Themia yang akhirnya harus meninggal akibat stroke.

Paman pun muncul membawa satu cup venti kopi panasnya lalu duduk di hadapanku. Wajahnya tampak datar, tidak seperti biasanya yang selalu riang dan berjiwa muda ketika menemuiku.

"Siang, Erika." ucap paman setelah lima detik ia duduk.

"Siang," balasku ringan.

"Oke, aku datang kemari untuk berbicara padamu mengenai beberapa hal. Tentu saja tentang aku, kau, Themia, dan Juno."

"Ya, langsung mulai saja, paman..."

"Aku menikah dengan Themia sudah dua puluh delapan tahun. Kami begitu bahagia selama pernikahan kami. Kami juga bahagia memiliki Juno. Anak satu-satunya kami yang sangat kami sayangi. Semua itu berubah ketika aku melihat istriku sedang berpelukkan dengan seorang pria,” paman menghela nafas panjang sebelum melanjutkan, “Pria itu masih muda. Seusia Juno. Seusia anaknya sendiri! Aku baru tahu ada seorang wanita yang mau-maunya menjalani hubungan gelap dengan seorang pria yang bahkan umurnya sama dengan anaknya sendiri!” Paman tampak emosi, menahan amarah yang mulai tersulut oleh ucapannya sendiri.

Oh tidak. Tante Themia? Tante Themia berselingkuh lebih dulu? Tidak mungkin. Wanita yang tampaknya begitu keibuan, anggun, dan baik hati itu yang ternyata lebih dulu menyakiti paman? Tidak mungkin. Dia dengan tulusnya tersenyum saat aku mengaku bahwa aku berhubungan gelap dengan paman. Oh, bodoh sekali aku. Tentu saja dia tersenyum karena dia merasa tindakan paman berselingkuh denganku wajar setelah apa yang sudah Tante Themia lakukan.

“Juno tahu tentang ini?” ceplosku penasaran.

“Tunggu dulu. Biarkan aku menyelesaikan ceritaku. Aku tidak langsung bertanya kepada Themia. Tapi aku mencoba mendiamkannya dulu. Dia tak pernah berkata jujur padaku. Kehidupan pernikahan kami juga semakin hambar. Akhirnya aku tak tahan lagi. Aku langsung mengajukan untuk bercerai. Kami berdua pun bertengkar hebat. Aku mengancam akan membunuh pria simpanannya itu. Themia pun langsung pingsan. Dia harus dilarikan ke Rumah Sakit. Keesokkan harinya, dokter memberitahukan kami bahwa dia terserang stroke berat. Sejak saat itu, Juno tak pernah mau berbicara denganku lagi.”

Astaga. Semuanya begitu rumit. Aku pikir tragedi ini dimulai ketika aku menjadi simpanan paman. Rupanya aku salah. Tragedi itu sudah dimulai bahkan sejak sebelum pertemuan paman denganku. Aku bahkan tidak menyangka Tante Themia yang terlebih dahulu menyakiti paman. Kesalahan yang lebih dulu dibuat mengakibatkan kesalahan-kesalahan baru lainnya yang juga harus menyeretku ikut terlibat di dalamnya.

Ternyata aku lahir sebagai seorang simpanan karena ada simpanan lain sebelumnya. Di dalam kehidupan paman dan tante. Apakah paman ingin balas dendam kepada tante yang lebih dulu menyakitinya?

"Selama Themia stroke, aku merasa kacau. Kacau karena semua kejadian yang menimpaku bertubi-tubi. Ditambah aku yakin Juno membenciku karena telah membuat mamanya menjadi seperti itu. Aku merasa gagal, baik sebagai suami maupun ayah. Aku berusaha untuk bertahan dalam kehidupanku yang seperti sudah tidak ada artinya lagi. Saat itulah aku menemukanmu. Dalam hujan, kau nampak begitu sedih. Wajahmu sangat melankolis. Aku rasa kita sama-sama hancur dan bisa saling mengisi. Aku tahu kau begitu muda. Namun jujur saja jiwa mudamu lah yang menjadi penyemangat hidupku. Aku begitu menikmati saat-saatku bersamamu. Bahkan bisa kukatakan, aku menginginkanmu," paman mengatakan semuanya dalam nada berat.

Kini aku memahaminya. Kini aku mengerti mengapa paman menjadikanku seorang simpanan. Kini aku tahu aku pernah menjadi seorang simpanan karena apa. Kini aku tahu semua. Paman tidak serendah yang sebelumnya kupikir. Dia hanya seorang pria yang merasa dikhianati dan tidak diinginkan.

Tak ada asap jika tak ada api. Tak mungkin paman menginginkanku jika istrinya tidak mengkhianatinya. Semua kejadian ini sangat beralasan.

"Menjawab pertanyaanmu, aku rasa Juno tak perlu tahu. Biarkan saja ia membenciku. Aku sudah rela. Yang penting aku tetap menganggapnya sebagai anak yang kubanggakan. Kini aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku rela melepaskanmu, Erika. Demi satu-satunya sisa kebahagiaan Juno,"

Kedua kalimat terakhir paman membuatku tersentak. Ternyata dia tulus mencintai keluarganya. Siang ini, banyak sekali yang baru kuketahui tentang sosok paman. Dia bukan orang yang sesimpel itu. Dia pria yang berusaha bertahan dalam kehidupan pahit yang tidak berpihak padanya.

*

Pukul empat sore, Bandar Djakarta, Ancol.

Juno belum datang. Terkejut aku karena kemarin ia bilang ingin menemuiku. Aku takut dia tak menghubungiku selama dua bulan karena dia sudah tak mau lagi melihatku.

Aku berdiri di dermaga kecil. Dermaga kecil yang menjadi tempat berlabuhnya kapal-kapal milik restoran ini yang dapat digunakan bagi pengunjung.

"Erika?" kudengar seseorang memanggilku.

Aku menolehkan kepalaku ke asal suara itu.

Juno. Masih begitu tampan seperti biasa. Kali ini ia tampak segar. Apalagi dengan senyumannya yang begitu hangat. Ya Tuhan, aku sudah begitu merindukannya. Benar-benar merindukannya. Ingin sekali kukatakan padanya bahwa aku tak sanggup berpisah lagi dengannya.

"Erika," panggilnya kembali, "Aku... Aku merindukanmu," katanya lirih.

Ia merindukanku? Tapi mengapa setelah dua bulan ia baru mau menemuiku? Entah mengapa rasanya sulit mengatakan sesuatu pada Juno. Rasanya aku terlalu gugup.

"Aku akan kembali ke Pulau Jeju minggu depan," Apa?! Juno akan pergi lagi meninggalkan Jakarta, "Kurasa semua urusanku di sini sudah beres. Jadi buat apa lagi berlama-lama di sini?"

Tunggu. Juno tidak boleh pergi. Banyak yang belum ia ketahui. Dia harus tahu alasan utama mengapa semua peristiwa ini terjadi. Satu hal lagi, aku juga tidak mau ditinggalkannya.

"Juno, tunggu. Kamu sudah tahu semuanya? Tentang alasan pertikaian Papa dan Mamamu?" tanyaku

"Aku baru saja mengetahuinya kemarin. Kemarin aku mengunjungi Papa. Kupikir aku harus mengetahui segalanya dari dia. Maka aku bersikeras memaksanya bercerita padaku. Bagaimanapun aku anak dalam keluarganya. Aku harus mengetahuinya. Setelah itu, kupikir semua urusanku sudah beres," jelasnya datar.

"Kamu sudah memaafkannya?"

Juno mengangguk. "Ya, aku sudah memaafkannya. Selama dua bulan ini aku mencoba berpikir banyak. Aku rasa situasi yang semakin menyulitkan kami. Aku tidak ingin lagi memperpanjang masalah ini. Semuanya sudah selesai."

"Bagus kalau begitu," ucapku. Sudah tak ada alasan lagi untuk menahan Juno agar ia tetap berada disini. Berarti ia memang harus pergi. Meninggalkanku. Melemparku dalam heningnya kesendirian.

"Hanya ada satu urusan yang rasanya belum selesai," ujarnya sambil menyeringai penuh misteri.

"Apa?"

"Pernikahanku..," Apa?! Juno akan menikah?!!! "Dengan Erika, wanita yang paling kucintai," katanya sambil tersenyum. "Tapi sampai saat ini aku belum tahu apakah gadis itu mencintaiku atau tidak karena belum mendengar langsung dari bibirnya..."

Aku terpaku. Rasanya begitu terharu mendengar semua ucapan Juno barusan. Seperti segala impian dalam hidupku baru saja terwujud. Juno... melamarku! Sesuatu yang paling kuinginkan selama ini. Belum lagi ditambah ekspresinya yang begitu polos saat mengtakan dia belum yakin apa aku mencintainya atau tidak.

Tentu aku mencintainya. Tapi aku sedikit risih dengan masa laluku. Aku sudah begitu menyakiti keluarga Juno. Aku adalah seorang mantan simpanan. Apa aku bisa menjadi pasangan yang baik untuk Juno?

"Aku mencintaimu. Tapi sepertinya aku tidak bisa menikah denganmu. Kurasa aku bukan wanita yang tepat buatmu." kutundukkan kepalaku saat mengatakannya, tak berani menatap mata Juno.

"Siapa bilang? Aku yakin kita berdua akan menjadi pasangan yang cocok. Aku mencintaimu. Kamu pun mencintaiku. Apa lagi masalahnya? Apa yang membuat kita tidak cocok?"

"Statusku sebagai seorang mantan simpanan," tuturku pela.

"Erika. Kumohon jangan bahas masalah itu lagi. Semuanya adalah masa lalu. Kita harus membuka lembaran baru kehidupan kita. Bersama kita akan menjalani kehidupan baru sebagai pasangan yang bahagia. Hanya kamu dan aku. Juno dan Erika. Tidak ada orang lain," Juno mengeluarkan dua lembaran kertas dari kantongnya, "Ini tiket pesawat kita ke Korea. Kita akan menikah disana. Sekarang ini saatnya kamu menjawab, maukah kamu menikah denganku?"

"Ya, aku mau." jawabku akhirnya. Kurasa sudah saatnya aku memikirkan kebahagiaanku. Kebahagiaan Juno juga. Jangan hanya memikirkan masa lalu. Masa lalu tidak memerlukan kebahagiaan. Kini aku dan Juno yang begitu memerlukannya.

Juno menyunggingkan senyum paling lebarnya selama ini. Dia langsung menarikku ke dalam pelukkannya. Membiarkanku merasakan kehangatannya. Puas berpelukkan, Juno melepaskanku. Namun ia tak membiarkanku jauh dari jangkauannya. Ia menatap wajahku begitu lekat. Menghilangkan jarak di antara wajah kami. Dengan perlahan, ia menyapukan bibirnya yang lembut pada bibirku. Aku terhanyut dalam ciuman kami. Ciuman panjang yang begitu memabukkan.

Senja ini menjadi saksi kisah kami. Kisah cinta kami yang baru saja akan dimulai. Senja ini turut menjadi saksi bahwa aku dan Juno sudah resmi berpisah dengan semua masalah yang pernah mengganggu hidup kami. masa lalu memang tak pernah bisa lepas dari hidup seseorang. Tapi aku dan Juno akan berusaha sekuat tenaga untuk masa depan kami yang bahagia.

Mulai saat ini, aku berpisah secara resmi dengan status simpanan. Tidak ada lagi masalah simpanan dalam hidupku.

"Juno, sebosan mungkin kamu pada diriku nanti, kuharap kamu tidak mencari wanita simpanan untuk menemanimu," bisikku pelan di telinganya. Kami berdua tertawa terbahak-bahak.

"Tidak akan pernah. Sampai kapanpun aku hanya mencintaimu,"

Selesai

21.07
Jumat, 27 November 2009
Calvin

Nantikan kisah pertemuan Juno dan Erika semasa SMA.
Prekuel Simpanan: "Di Bawah Terik Matahari Siang"

Read previous post:  
25
points
(997 words) posted by Calvin 9 years 10 weeks ago
62.5
Tags: Cerita | cinta | Erika | Juno | paman
Read next post:  
Be the first person to continue this post
70

endingnya abrupt banget... ==a
.
padahal aku mikirnya sih, cerita ini bakal memasuki tahap baru setelah latar belakang selingkuh itu ketahuan. ending kayak gini sama sekali ga memuaskan. kenapa? soalnya kau menyia-nyiakan karakter si paman yang akhirnya ketahuan baik dan berpotensi terus digali sampai ketemu ending sejati buat karakter dia.
.
dll. tapi keseluruhan, aku suka gaya penceritaanmu. ceritanya sendiri lumayan bagus. cuma endingnya aja yang maksa.

Writer Calvin
Calvin at Simpanan #5 (Senja Saat Perpisahan) (9 years 9 weeks ago)

Maaf ya kalau endingnya kurang memuaskan. Setelah kupikir2 memang agak terlalu dipaksa selesai sih ceritanya.
:))

Makasih loh Chie_chan sudah mengikuti ceritaku.

80

huah! andaikan hidup ini sesimpel drama ini... XD XD
ehm.. endingnya agak dipaksakan kayanya. aku kurang berasa feel-nya sih. tapi cukup nikmatin juga ^^

Writer Calvin
Calvin at Simpanan #5 (Senja Saat Perpisahan) (9 years 9 weeks ago)

Iya sih, anggra_t kupikir2 memang agak memaksa.
Aku senang kau masih mau mengikuti ceritaku sampai akhir.
:))