Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD

Pada suatu sore di tahun keduaku kuliah, beberapa meter sekeluarnya aku dari kelas, aku berpapasan dengan Nia Damayanti dalam perjalananku pulang ke rumah.

Nia sejurusan dan seangkatan denganku di universitas. Namun karena NIM kami berbeda jauh, belum pernah sekalipun kami ditempatkan dalam kelas yang sama.

Sebelum kejadian ini terjadi, aku dan dia sebenarnya lumayan akrab. Kami jarang berbicara. Tapi pada kesempatan-kesempatan langka tatkala kami bertatap muka selama ospek jurusan, kurasa kami berinteraksi lebih baik dibandingkan kebanyakan orang. Kurasa, kami hanya sama-sama merasa cocok dengan satu sama lain, bukan saling suka atau apa. Sebab bagiku sendiri, Nia bukanlah perempuan yang penampilannya menarik perhatian. Walau begitu, tak dapat kusangkal, Nia memang memiliki daya tarik beberapa tingkat di atas rata-rata.

Dia sedang berjalan beriringan dengan temannya. Aku tak ingat siapa. Lalu begitu melihatku, sosoknya yang kurus mendekat dan dengan serta merta dia bertanya, “Rinto, katanya... kamu mau non-him ya?”

Ada jeda beberapa detik—saat langkahku terhenti, dan dengan enggan aku balas menatapnya—sebelum aku membenarkan pertanyaannya tersebut.

“Kenapa?” tanyanya lagi.

Ekspresinya serius. Nada suaranya di antara mendesak dan cemas.

Aku nyerah. Aku ga sanggup lagi. Aku kurang tidur. Aku udah enggak liat ada lagi gunanya.Aku muak ama sistem osjur. Aku pengen lakuin sesuatu buat ngelawan.

Aku lupa apa persisnya yang kukatakan padanya. Aku hanya ingat bahwa aku mengatakannya secara selintas dengan nada muram. Tapi di bawah langit jingga yang menaungi kami hari itu, kata-katanya yang berikut ia terakkan sampai menggema di sepenjuru plaza kampus.

“...Payah. Kamu payah! Rinto payah! ARINTO MUSTOFA ITU ORANG PAYAAAAAAH!”

Ada nada sakit hati dalam suaranya. Aku tak melihat ekspresi penolakan atau kekecewaan yang tersirat di wajahnya. Kurasa Nia saat itu bahkan sudah membalikkan badan dan melanjutkan langkahnya lagi. Aku belum menyadarinya waktu itu, tapi kurasa itu karena sedemikian enggannya ia melihat wajahku.

Saat itu, aku memang terkejut akan reaksinya. Tapi kakiku sudah kembali melangkah bahkan sebelum teriakannya terdengar. Sebab dengan segala kedongkolanku yang tengah menumpuk, akupun tak sudi berlama-lama di hadapannya lagi.

Pada hari itu, untuk pertama kalinya aku mengutuk tempat yang aku sebut sebagai ‘kampus.’ Dan itu bukan kali terakhir kutukan itu aku lontarkan.

Setahun kemudian, akhirnya tibalah saat aku dan Nia bisa sekelas juga. Tapi semenjak kejadian di plaza itu, kami berdua hampir tak pernah saling bicara lagi. Alasannya sulit kujelaskan. Ada hubungannya dengan struktur kemasyarakatan di dalam kampusku. Singkatnya, hubungan kami tak pernah kembali seperti sedia kala.

Kenangan itulah yang untuk suatu alasan menyeruak tatkala Penjaga Toko mengajukan tawarannya padaku. Jauh di lubuk hatiku, aku sudah tahu alasannya mengapa.

Brave Story.” ucap Dodi, tatkala aku bercerita padanya tentang keyakinanku akan dunia paralel.

“Apa?”

Sejak dulu, aku percaya kalau dunia paralel itu ada. Dunia yang berbeda dari dunia yang kutempati sekarang ini. Mungkin dunia yang dipenuhi keajaiban-keajaiban. Tanpa listrik maupun pencakar langit. Hanya menara-menara kastil atau robot-robot bertenaga sihir. Atau mungkin juga dunia yang mirip, dengan kendaraan-kendaraan berbahan bakar dan sebagainya, hanya saja memiliki bentuk dan sejarah yang berbeda dari dunia kita.

Sebut aku pengkhayal. Sebut aku kurang kerjaan. Tapi keyakinanku akan keberadaan dunia lain itu tak lagi bisa diubah.Keyakinanku itu mungkin sudah menjadi semacam ideologi. Semacam kepingan impian masa lalu yang masih belum rela kulepas, yang justru menguat alih-alih melemah seiring aku dewasa.

“Aku sebenarnya enggak terlalu heran sama khayalan-khayalan kayak gitu. Tapi cara kamu nyeritain, enggak tau kenapa bikin aku keinget sama novel itu.” lanjut Dodi lagi.

Perkataannya membuatku terhenyak.

Aku mengerti maksudnya, terutama sesudah mencari sendiri keterangan tentang novel itu di Internet. Tapi aku tak terlalu bisa menjelaskan alasannya...

Inti cerita novel itu memang seputar anak-anak manusia yang berkelana di dunia lain. Tapi berbeda dari kebanyakan dongeng fantasi anak-anak yang lebih dikenal, tema-tema yang secara tersamar mendasari Brave Story adalah sisi suram kehidupan orang dewasa.

Ide mendasar soal bagaimana seandainya kita diberi kesempatan untuk mengubah realitas kita.

Ya, itulah yang kurasakan saat pengalaman aneh ini terjadi.

Alasan: aku mencari Brave Story-ku sendiri.

Penjaga Toko membawaku melewati serangkaian pintu di balik kassa, menuju satu dari sekian banyak ruangan misterius yang tersembunyi di bagian belakang tokonya. Aku perhatikan ada banyak jam antik tergantung di sepanjang dinding-dinding lorong. Jam-jam yang entah mengapa membuatku bergidik. Lalu setelah melewati salah satu pintu, melalui sebuah kaca besar, yang hampir-hampir memenuhi satu sisi ruangan—terbingkai tirai-tirai beludru berwarna gelap bagaikan panggung sandiwara—Penjaga Toko memperlihatkan padaku ‘harga’ yang harus kubayar demi mengubah realitasku itu.

Kutelan ludah, menimbang-nimbang kembali keputusan impulsif ini. Sebab bagaimanapun juga, yang Penjaga Toko bilang akan dipertaruhkan adalah nasib, atau bahkan nyawa dari Arinto Mustofa.

“Tenang saja.” ujar Penjaga Toko. “Kakak masih bisa berubah pikiran. Tentu kami mengerti tak semua orang memiliki keberanian yang diperlukan.”

Penjaga Toko adalah penjaga toko aneh di pusat perbelanjaan dekat rumahku. Toko yang setelah sekian lama tutup, baru belakangan ini buka kembali. Untuk suatu alasan, pada siang itu, ke sanalah aku mendapati diriku berkunjung dan ‘mengalami’ ini semua.

“Ini... benaran bahaya ya?”

“Ya. Tapi pemilihan pelanggan kami dilakukan dengan pengamatan cermat terhadap batas kemampuannya yang sesungguhnya. Kakak tanpa diragukan memiliki kemampuan! Jadi hasil yang kelak Kakak peroleh sepenuhnya ditentukan oleh kekuatan tekad Kakak sendiri.”

Kekuatan tekad?

Apa... yang selama ini kurang dariku hanyalah kekuatan tekad?!

Aku memikirkan semuanya lagi. Lalu terbayanglah kembali kegelapan yang menyelubungi hatiku.

Saat aku kehilangan kepercayaan terhadap masyarakat.

Saat minatku menjalani kehidupan lenyap.

Saat tahu-tahu saja aku apatis terhadap kenyataan.

Kuliahku tersendat. Aku kehilangan kontak dengan teman-temanku. Aku mulai menyadari perbedaan radikal antara jalan pikiran satu orang dengan jalan pikiran orang lainnya. Aku saksikan betapa kelam dunia nyata yang mesti kuhadapi selepas sekolah.

Masa-masa ketika kenyataan dan mimpi seakan melebur tanpa dapat dibedakan. Kondisi yang wajar bila mempertimbangkan kondisi kejiwaanku saat itu.

Masa-masa aku mengalami depresi.

Setelah kupikirkan belakangan, kurasa semua ini mungkin memang dimulai semenjak Nia meneriakiku di plaza kampus waktu itu.

Keputusan tak lazimku untuk menyerah.

‘Pengkhianatanku’ sesudah menjadi yang paling bersemangat agar kami semua menjadi anggota himpunan.

Semua... kepura-puraan dan kerendahdirianku saat berhasil memasuki jurusan dan universitas yang begitu prestisius...

Keputusasaanku tatkala aku terseret ke dalam neraka jiwa...

Hanya ada dua hal yang membuatku bertahan agar tak sampai didepak dari bangku kuliah. Satu, unit kegiatan mahasiswa yang kuikuti. Dua, teman-teman baru yang kutemui menjelang batas akhir masa kuliah.

Satu-satunya unit kegiatan yang kuikuti adalah unit olahraga kendo—olahraga bela diri Jepang yang mengaplikasikan pedang yang dibuat dari potongan-potongan bambu. Terdapat hanya tiga gerakan dasar dalam kendo, yang terus dilatih secara berulang. Kesederhanaannya itulah yang menjadi daya tarik utama buatku yang enggan berpikir rumit.

Lalu teman-teman baru yang kumaksudkan adalah teman-teman kuliahku selama di subjur. Meski jarang terlibat dalam obrolan mereka, mereka memperlakukanku dengan wajar—menyapaku di tengah jalan dan sebagainya—dan alasan itu sudah cukup bagiku untuk memandang mereka berarti.

Dodi salah satu dari mereka. Di antara semua teman seangkatannya, Dodi satu-satunya yang semenjak awal memandangku tanpa prasangka. Kurasa, karena itulah aku lebih menghargainya dibandingkan yang lain.

Sebenarnya, aku jarang berbicara dengan Dodi. Aku juga tak pernah bertemu dengannya lagi semenjak ia diwisuda (ia beres satu semester lebih awal dariku). Tapi percakapan di atas—mungkin satu-satunya saat kami saling memandang pribadi masing-masing—berhubungan dengan terjadinya hal ini.

Soal teman-teman seangkatanku sendiri, mereka tahu aku masih hidup saja buatku sudah lebih dari cukup...

Ada satu hal lagi yang perlu kukatakan tentang kendo. Mungkin ini hanya delusiku, tapi minimnya gerakan dasar yang olahraga itu miliki seakan diimbangi oleh kecepatan terasahnya indera-indera kami. Aku entah bagaimana mulai bisa memperhatikan apa yang kebanyakan orang tak rasakan. Aku menjadi mampu menyamarkan keberadaan. Kemudian hatiku bisa tenang meski pikiranku bergolak. Dengan naluri terasah itulah, aku jadi semakin meyakini keberadaan hal-hal ‘gaib’ di sekitarku. Hal-hal ‘gaib’ yang kini seolah bisa kurasakan dari balik dinding tak kasat mata, yang membatasi diri kita dengan ‘kenyataan yang sesungguhnya’.

Sebab, sejak awal, aku... percaya dunia lain itu ada.

Dunia penuh keajaiban yang berbeda sama sekali dibandingkan dunia yang kuhuni sekarang. Dunia yang di dalamnya terdapat orang-orang yang berbeda, ketentuan-ketentuan yang berbeda, serta perkembangan-perkembangan kejadian yang berbeda pula. Sejarah yang berbeda. Dunia lain... tempat ‘aku’ menyelesaikan segala sesuatu sebagaimana mestinya.

Yang paling kuinginkan, lebih dari segalanya, adalah memiliki dunia lain tersebut!

“Jati diri manusia dibentuk oleh rangkaian-rangkaian keputusan di masa lalu. Ekspresi-ekspresi membentuk guratan wajah. Postur badan dibentuk citra diri bawah sadar. Segalanya ditentukan oleh keputusan-keputusan! Lalu masa lalu tersusun atas memori. Dengan merubah akar memori seseorang, maka merombak kenyataan masa kini menjadi suatu hal yang mungkin dilakukan! Inilah yang kau harapkan, bukan? Wahai, Arinto Mustofa?”

Aku tak sepenuhnya memahami teorinya, tapi secara perlahan, aku mengangguk.

“Intinya, aku bisa mengubah kenyataan ‘kan?”

“Benar!” Penjaga Toko memandangku lekat-lekat sebelum kembali menganggukkan kepala.

“Dengan demikian, masihkah ada yang hendak Kakak tanyakan?”

Aku jawab tidak. Maka Penjaga Toko meninggikan kedua belah tangannya, dan kaca di hadapan kami mulai berpendar.

“Kalau begitu berangkatlah, Arinto Mustofa! Sesuai perjanjian di antara kita, dengan hatimu yang murni dan keberanian yang telah kau temukan kembali, selamatkanlah rakyat Walsa dari ancaman Kegelapan! Tekad baru yang untuk seterusnya kau pegang itulah yang akan menunjukkan jalan!”

Aku mendengar bunyi denging aneh. Pendaran kaca semakin terang. Tersilaukan, mataku sampai terpeham. Kurasakan seisi ruangan berputar. Lalu terus terang saja, aku tak tahu apa persisnya yang tengah terjadi. Saat itu, aku bahkan tak memikirkan alasan mengapa aku melakukan semua ini!

Satu-satunya yang kutahu: seandainya semua ini hanya mimpi sekalipun, ini sebuah mimpi yang benar-benar keren!

Saat Penjaga Toko mengucapkan kalimatnya itu, aku tak lagi melihat dirinya sebagai penjaga toko rendahan. Beliau entah mengapa tampak bagaikan raja, yang untuk suatu alasan, tak lagi punya pilihan selain meminta jasa orang luar untuk mewujudkan kebutuhannya. Karena itulah, kalimatnya tersebut tak terdengar sebagai sebuah perintah. Melainkan sebagai sebuah permintaan, dan menjadi sebuah kehormatan bagiku untuk melaksanakannya.

Beberapa saat sebelum aku memasuki portal, tanpa sadar, aku membungkukkan badan. Entah sebagai bentuk penghormatan, atau semacam ucapan terima kasih. Kemudian untuk suatu alasan, dengan gemetar kusadari betapa miripnya wajah Penjaga Toko dengan sebentuk wajah seseorang yang kukenal...

Dodi!

Aku terkesiap, tapi tak sempat berpikir lebih lanjut tentang itu, karena gravitasi portal kaca telah mengangkat tubuhku dan menariknya ke depan. Membawaku menuju dunia lain.

Hanya sesaat dibutuhkan sampai kakiku terasa menjejak tanah kembali.

Aku terperangah; langit Walsa di atasku tampak gelap dan suram. Seakan gumpalan awan yang berpusar pun merintih akibat siksaan penderitaan. Sekeliling terdekatku dipenuhi puing-puing kehancuran. Sekeliling terjauhku dipenuhi pembusukan dan kematian Aroma abu dan kepahitan merebak. Aku perlu sedikit menahan nafas agar tak merasa tercekik.

Melalui kaca portal, Penjaga Toko (...Dodi?) sebelumnya memaparkan bahwa kota Walsa di dunia lain ini telah jatuh ke tangan sesosok monster jahat bernama Bhoul. Bhoul membantai semua yang melawan. Lalu sesudah menghancurkan kota bersama para pengikutnya, ia memperbudak mereka yang masih tersisa untuk membangun Menara Kegelapan di atas markasnya, sekaligus menjadikan mereka sandera seandainya Tentara Kerajaan datang untuk menghentikan niatnya.

Ada rasa pahit sekaligus kesedihan mengejutkan yang kurasakan, tatkala melihat sendiri betapa bukti pemaparan serupa dongeng itu hadir begitu nyata. Batinku tergetar. Nafasku tertahan. Entah mengapa, aku mendadak merasa malu pada diriku sendiri.

Tapi semua itu tergantikan perasaan menggelora saat aku menemukan senjata yang telah Penjaga Toko siapkan, tertancap bersama sarungnya di tanah lapang di tengah-tengah reruntuhan rumah.

Sebilah pedang bergaya Jepang; panjang keseluruhannya, dari ujung mata hingga dasar gagang, bila diukur dari atas tanah, tepat sampai ke ketinggian ulu hatiku. Panjang yang pas, batinku. Pedang bersama sarung kucabut dan aku kemudian menimbang bobotnya. Belum pernah aku memegang pedang sungguhan sebelumnya, bahkan untuk iaido sekalipun. Tapi genggaman pedang, ukurannya, bersama pembagian titik-titik beratnya secara menakjubkan terasa begitu sesuai untukku.

Kubawa pedang itu di tangan kiri, dan kutatap Menara Kegelapan yang berdiri angkuh di kejauhan itu dengan penuh tekad.

Baru saat itu aku sadar, bahwa selama hidupku memiliki makna dan tujuan, maka tak ada alasan apapun bagiku untuk merasa bersedih! Apa yang orang lain katakan tentangku atau prestasiku sama sekali tak ada artinya. Yang terpenting bukanlah apa yang orang lain lihat pada diri kita, melainkan apa yang kita lihat pada diri kita sendiri. Bagaimana kita melihat semua itu, kemudian bergerak untuk mewujudkan segala yang kita citakan!

Maka aku berlari menembus cahaya sore yang melingkupi hutan. Dari jauh bisa kudengar Tentara Kerajaan telah mencapai batas kesabaran mereka. Medan pertempuran telah menanti!

Begitu mencapai bukaan di dasar menara, aku melepaskan teriakan perang.

“Bhoul! Aku datang untuk menghentikan semua kejahatan yang telah kau lakukan!”

Kucabut pedang yang kubawa dan dengan sigap membantu pasukan berzirah menghadapi monster-monster yang menjaga tempat itu. Tubuhku tahu-tahu bergerak. Aku bahkan tak menyadari saat badanku dengan luwes mengikuti gerakan pedang dan mematikan lawanku yang pertama. Hatiku telah mengeras sesudah melihat kebiadaban makhluk-makhluk ini melalui kaca portal toko.

Pedang kugenggam dengan dua tangan. Inilah saat ketika semua yang telah kulatih selama ini diuji.

Perwira yang kutolong bertanya-tanya tentang siapa diriku. Tapi sekarang bukan saat untuk berbicara, sebab monster-monster baru semakin mendekat!

Kami menerobos gerbang Menara dan melalui lorong-lorong suram dan tangga-tangga melingkar. Mayat dan orang terluka, tua maupun muda, telah bertebaran di mana-mana. Kuperhatikan sebagian di antara tak memakai seragam. Teriakan-teriakan kerusuhan terus menggema. Para penduduk yang diperbudak rupanya telah mengambil kesempatan untuk memberontak sesudah diselamatkan para pionir.

Aku mendadak teringat video game yang dulu pernah kumainkan bersama bersama beberapa teman lamaku. Di game itu, kami memilih satu dari sekian banyak jagoan berpedang dan menghadapi ninja-ninja yang menyerang kami secara mendadak. Mungkin karena pengetahuanku akan kendo, aku yang pemula mengesankan teman-temanku dengan menaklukkan lawan-lawan pertama dengan satu sabetan saja. Tapi tanganku mendadak licin menjelang akhir tingkat, sehingga dengan konyolnya karakterku turut tewas dengan hanya satu sabetan pula.

Hal serupa kutakutkan di sini. Dengan ngeri aku mendapati selalu hanya satu tebasan—satu tebasan cepat dan tanpa ragu—yang kuperlukan untuk menjatuhkan masing-masing lawan. Apa aku sejak dulu aku sekuat ini? Tapi aku sadar keberuntungan ini takkan berlangsung lama. Aku tahu suatu saat genggamanku mungkin ‘selip’ dan ‘kekonyolan’ saat aku memainkan game itu akan kembali terjadi.

“Ssh... Jangan kira... kebangkitan Tuan Yorugias... akan bisa kalian hentikan!”

Kami kemudian mengetahui bahwa para monster yang dipimpin Bhoul membangun Menara Kegepalan untuk menjangkau Kunci Langit, yang selanjutnya bisa mereka gunakan untuk membebaskan Yorugias, Penguasa Langit Kegelapan yang telah dikurung para Pahlawan Agung pada zaman dahulu kala. Dengan ngeri kami akhirnya menyadari bahwa kami berpacu melawan waktu. Keselamatan dunia Walsa terancam, dan yang dapat menolong hanyalah kami.

Kedua lenganku kebas tak tertahankan. Demikian pula nafasku yang terus memburu. Jantungku seakan meledak saat aku akhirnya tiba di puncak Menara. Entah sejak kapan, para perwira yang bertarung bersamaku telah berpisah jalan entah ke mana.

Di hadapanku, sesosok banteng kelabu berotot berjubah, yang berdiri menggunakan dua kaki, berdiri membelakangiku dengan kedua tangan terentang ke atas. Pijar-pijar sihir meletup di atas kepala kami. Secara perlahan, dari depan altar, ia membalikkan badan saat merasakan kehadiranku.

“Kau?” cibir Bhoul. Suaranya begitu menggelegar dan dalam. “Kau, yang tak memiliki kaitan dalam peperangan ini, justru menjadi orang pertama yang sampai kemari? Hahahahahahaha! Lelucon macam apa ini?”

Kengerianku memuncak. Tapi dengan kemarahan terhadap diri sendiri dan sesal untuk mereka yang sia-sia tewas, aku mencoba untuk berani.

“Namaku Arinto Mustofa! Akulah orang yang akan mengambil nyawamu!” teriakku lantang.

“Pulanglah, orang asing! Pertempuran ini tak ada kaitannya dengan dirimu! Ya, aku tahu.” lanjutnya saat melihat keterkejutanku. “Aku tahu kau diutus dari dunia lain! Hal serupa pernah terjadi ribuan tahun lalu saat tuanku terkunci. Tapi yang pasti kau tak tahu, aku tahu kau yang sebenarnya orang seperti apa.”

Genggaman pedangku bergetar. Ia berada tepat beberapa belas meter di depanku. Tapi tubuhku membeku tanpa dapat bergerak!

“Kau pengecut yang telah melarikan diri dari kenyataanmu. Kau yang bermaksud menukar kenanganmu untuk kepuasan diri yang sama sekali tak layak kau dapatkan! Kau kira orang sepertimu sanggup menghadapiku?”

“Bukan...”

“IYA! Kau tak LAYAK berada di depanku! Pulanglah. Kau hanya sampah. Sampah yang bahkan tak pantas mati di tanganku.”

“BUKAN!” Aku menjerit.

Aku melangkah maju dan bertarung dengannya!

Saat berikutnya aku sadar, sepasang tanduknya telah menembus abdomenku. Segala organ pencernaanku hancur. Darah dan empedu mengucur. Aku mencoba mengerang, tapi untuk bersuarapun aku tak bisa. Serasa melayang, tubuhku terangkat ke atas dan kakiku tak lagi menjejak tanah. Air mataku meleleh, baik oleh rasa sakit maupun penyesalan.

Segala sesuatu telah menjadi sunyi.

Tapi saat mata nanarku memperhatikan; rupanya tebasanku yang mengincar kepala berubah menjadi tusukan akibat cepatnya Bhoul merunduk. Karena bersih dari keraguan, seranganku tepat sasaran. Ujung pedangku menembus titik lunak tengkorak Bhoul dan keluar lewat dagunya.

Meski begitu, Bhoul secara luar biasa masih sanggup berbicara.

“Padahal... tinggal sedikit.. kenyataan baru... janjikan Tuan... Maaf... Rufael... bahkan pasukanmu... aku... g-gagal...balas...dend...am...”

Akhirnya, iapun tewas.
Bagaimana mungkin aku bisa lupa? Penentu kehebatan berpedang seseorang tak lain adalah semangat hidup. Hal terakhir yang kurasakan saat itu adalah betapa aku ingin hidup.

“Kerja bagus.”

Samar-samar, suara Dodi kudengar. Lalu kurasakan sensasi seakan tubuhku mengambang hingga mencapai permukaan air. Telingaku berfungsi kembali dan mataku membuka. Keriuhan orang-orang berbelanja seketika memenuhi udara.

Ingatanku kembali. Aku telah tertidur dengan suntuk di salah satu bangku mall dekat rumahku, sembari menunggu hujan yang turun deras di luar. Setahun sudah berlalu semenjak aku diwisuda. Aku sedang tertekan karena tak ada pemasukan. Dodi pun takkan mungkin kujumpai sekarang karena kudengar sedang S2 di mancanegara.

Jantungku yang utuh masih berdebar. Tanpa sadar, aku menelan ludah. Dengan terkesiap kusadari semua itu hanyalah sebuah mimpi.

Mimpi yang amat sangat aneh.

Termenung, aku memikirkan kata-kata Bhoul. Menjelang akhir, aku merasa ada semacam kesamaan yang kumiliki dengannya. Tapi detil lebih banyak tentang itu tanpa dapat kugapai dengan cepat memudar dari ingatan. Kemudian aku teringat kesepakatanku dengan Penjaga Toko. Tapi sebelum aku sempat memikirkannya lebih lanjut...

“...Rinto?”

Aku terhenyak.

Nia Damayanti tampak salah tingkah saat aku mendongak. Kurasa ia melihatku secara kebetulan saat sedang window-shopping kemari. Lalu untuk suatu alasan, ia memutuskan untuk menyapa.

Aku sudah bertahun-tahun tak melihatnya. Sorot matanya yang pengertian, terlihat ajaib sesudah apa yang terjadi tadi. Ada sedikit kecanggungan. Tapi ia tersenyum saat mulai berbasa-basi.

“Hei.”

“H-hei.”

“Lama enggak ketemu ya?”

“Iya.”

“Abis belanja?” Ia menunjuk apa yang terdapat di pangkuanku.

Mengernyit, barulah kusadari hadirnya sebentuk boneka sapi mungil yang belum pernah kulihat. Label merknya masih ada, terbungkus kantung kertas coklat yang entah sejak kapan telah kumiliki juga. Sama sekali tak ada kuitansi atau keterangan soal harga.

Aku terpana.

Aku bergantian memandangi boneka itu dan Nia, yang balas memandangku dengan ingin tahu. Lalu aku teringat transaksiku dengan Penjaga Toko. Kemudian dengan ragu, aku tertegun.

“Buat kamu aja.”

“...Hah?”

Read previous post:  
Read next post:  
Punya ide tentang lanjutan karya ini ? Saat ini belum ada yang menulis lanjutannya. Ayo lanjutkan karyanya.
Penulis Goldwizard
Goldwizard at Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD (9 years 25 weeks ago)
80

hi, alfare. aku baru baca karyamu yang ini. salut bisa menyelesaikan cerita untuk fantasy fiesta tahun ini :)

untuk tata bahasa dan lain-lain, kamu jauh lebih jago daripada aku. jadi komenku agak lebih pribadi ya.

sebagian besar pengarang memasukkan unsur diri mereka sendiri ke dalam cerita. aku juga sering sih, hehe :E tapi..saat kamu memasukkan terlalu banyak unsur dirimu sendiri, kamu cenderung sedikit lupa bahwa ada unsur lain dalam cerita selain dirimu.

haha, aneh ya komennya ~~a

sori, to.

good job :)

Penulis tikamutz
tikamutz at Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD (9 years 30 weeks ago)
100

Keren" karya" yang ikut pada fastasy fiesta tahun ini mantab" dech

Penulis NiNa
NiNa at Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD (9 years 31 weeks ago)
70

Wuih, cerita yang lumayan rumit. dunia pararel? kelihatannya aku ingin lebih jauh mengetahuinya.
Endinnya bagus, nyentak. Wah... ajari aku nulis sampe 3000 kata? dan... aku agak ragu bisa melakukannya, hehehe...

salam :)

Penulis Alfare
Alfare at Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD (9 years 31 weeks ago)

Trims. Tapi ini masih versi gagal sih. ^^
Soal jumlah kata, yah asal kau terus ketik juga ntar banyak sendiri.
Salam juga.

Penulis stezsen
stezsen at Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD (9 years 31 weeks ago)
90

keeereeennnnn bos!!

Penulis Alfare
Alfare at Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD (9 years 31 weeks ago)

_|-|o

Penulis Maximus
Maximus at Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD (9 years 31 weeks ago)
100

Keren sekali bos alfare, saya ngerti 95% ceritanya kecuali bagian yang pas pertama si Nia neriakin si Rinto, mungkin karena aku belum kuliah jadi gak ngerti istilah non-him?? :(
.
Tapi tentang tema dunia paralelnya sangat menarik , dan peralihannya gak terlalu bikin pusing, emang bener gak bisa untuk semua orang seperti kata kak 145, tapi untuk saya fine-fine aja sih :D
.
Anyway, sekuelnya sangat ditunggu :)

Penulis Alfare
Alfare at Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD (9 years 31 weeks ago)

...serius?! Wow. Itu ngejutin.
.
Eniwei, aku udah bikin versi revisinya yang lebih gampang dimengerti. Tapi karena tanggapan-tanggapan yang masuk ke versi ini menarik, aku mutusin buat ga majangin versi itu di kcom dulu.
.
Trims banget Max.
Aku butuh lima hari demi bisa ngetik semua ini dan satu hari buat ngerevisi. Jadi aku beneran terharu.

Penulis aphrodite
aphrodite at Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD (9 years 31 weeks ago)
90

ah, si bos keburu off, saya jadi ga bisa cuap2 di YM deh -.-
ada beberapa hal yg masih belum terjawab nih bos.
- benarkah penjaga toko itu dodi (versi tua)?
- setelah berhasil mengalahkan bhoul, apakah masa kini arinto berubah? atau jangan2 petualangannya itu cuma mimpi dan ga mengubah apapun?
- terus gimana kelanjutan hubungan arinto dan nia?
kyaaa *ditabok karena kebanyakan nanya*
.
aniwei, akhirnya bos bisa nyelesain cerpen ini juga. baguslah ^^v

Penulis Alfare
Alfare at Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD (9 years 31 weeks ago)

whuaah, semua pertanyaannya jenis yang cuma bisa kejawab di sekuel. untuk saat ini sih terserah khayalanmu sendiri aja sih. ^^

Penulis Kirzo
Kirzo at Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD (9 years 31 weeks ago)
70

pretty good!
ide ceritanya ok. cuma untuk istilah2 khusus kampus atau kendo mgkn perlu diberi sedikit keterangan, IMO...
sayang sekali dibatasi limit max 3000 kata sehingga kesannya 'dikejar-kejar' ceritanya
anyhow, it was good =)

Penulis Alfare
Alfare at Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD (9 years 31 weeks ago)

thanks, but for me it wasn't really good enough.
thanks anyhow.

Penulis elbintang
elbintang at Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD (9 years 32 weeks ago)
80

Konyol mungkin masih bisa lebih baik.

Rupanya pesta kali ini benar-benar membuatmu setress?

...
.

Penulis Alfare
Alfare at Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD (9 years 31 weeks ago)

benar sekali, my sister! pesta kali ini beneran membuatku stres! mwahahahahahaha!

Penulis heinz
heinz at Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD (9 years 32 weeks ago)
100

Owh yeah!
Sesama kontestan memberi poin pol!

Penulis Alfare
Alfare at Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD (9 years 31 weeks ago)

aw man. aku belum baca ceritamu!

Penulis mailindra
mailindra at Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD (9 years 32 weeks ago)
100

He..he., numpang ngintip ya, Bos.

Penulis Alfare
Alfare at Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD (9 years 31 weeks ago)

_|-|o
tapi ini jelek!

Penulis anggra_t
anggra_t at Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD (9 years 32 weeks ago)
70

asyik! bos al akhirnya mosting juga XD
.
1. mengenai tema, aku selalu suka dengan tema dunia paralel. selalu mengingatkanku dengan manga kanata kara... :D
.
2. aku kurang suka dengan pembukaannya. kalimat "pada suatu hari..blalblabla.." terlalu dongeng menurutku dan jadi menurunkan estimasi kualitas cerita :(
.
3. aku kurang ngerti dengan jalan ceritanya. "non him" itu apa sih? kenapa si nia marah2 sama rinto sampe teriak2 begitu?
.
4. mengenai narasi, makin ke bawah, makin enak diikuti.
tetapi ada beberapa lubang2 yang masih perlu ditambal dengan informasi tambahan dalam cerita ini, untuk memperjelas lagi..
.
semangat sebagai sesama kontestan! :D

Penulis Alfare
Alfare at Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD (9 years 31 weeks ago)

Kau bener. Entah gimana caranya, aku berhasil masukin semua info tambahan yang berarti itu ke versi revisi. Emang jadinya gila sih.
.
Aku baru sekali ini dapet komentar soal 'estimasi cerita.' Biasanya gaya pembukaan itu emang kupake buat ngasi kesan kalo ceritanya simpel. Sehingga lebih gampang bikin kesan epik di bagian-bagiannya yang berikut.
.
Soal narasi, aku emang baru lancar pas abis bagian pindah dunianya sih. Sekalian nyobain ilmu nulis baru yang belakangan kupelajari.
.
Soal lubang. Emang ada beberapa detil yang sengaja kubiarin ngegantung.
Makasi banget.

Penulis anggra_t
anggra_t at Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD (9 years 31 weeks ago)

Oke! Sesama kontestan kita saling kasi semangat :D

Penulis smith61
smith61 at Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD (9 years 32 weeks ago)

Non him itu non himpunan bukan?

Penulis Alfare
Alfare at Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD (9 years 31 weeks ago)

benul sekali.

Penulis anggra_t
anggra_t at Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD (9 years 32 weeks ago)

oh? jadi artinya bukan anak BEM gitu?

Penulis Alfare
Alfare at Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD (9 years 31 weeks ago)

Bukan BEM. Himpunan. BEM lingkupnya sekampus. Himpunan lingkupnya sejurusan.

Penulis franci
franci at Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD (9 years 32 weeks ago)
80

bagus. bener2 pilah kata yak?
pergulatan di dalam diri sndiri saat kuliah? dilema mencari titik stabil?
.
cerita dunks apa yg terjadi selama rinto berada di dunia "mimpi"? apa dia tak bisa mengingatnya?
.
oh ya, knp judulnya bgitu? aku gk ngerti euy...

Penulis Alfare
Alfare at Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD (9 years 31 weeks ago)

...Bahkan kamu juga mulai berpikiran rumit. Tapi yea, kurasa kurang lebih memang begitu intinya.

Penulis 145
145 at Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD (9 years 32 weeks ago)

MydDKBD --> Mimpi Yang Di Dalamnya Kemampuan Berpedangku Diuji

Penulis franci
franci at Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD (9 years 32 weeks ago)

hahaha.. dasar... (145 ternyata suka membuat judul!)

Penulis elbintang
elbintang at Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD (9 years 31 weeks ago)

Eh...franci, itu emang kepanjangan dari judulnya. 145 gak ngarang.

.

Penulis franci
franci at Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD (9 years 31 weeks ago)

OMG!!!
ternyataaaaaaaa begituuuuuuuu....
(makasi mbak el atas pemberitahuannya)

Penulis Alfare
Alfare at Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD (9 years 31 weeks ago)

^^ sori. Aku emang lupa nulis judul lengkapnya.

Penulis 145
145 at Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD (9 years 32 weeks ago)
80

Ini berat... style yang kau gunakan benar-benar membuatku lelah.
-
Kurasa tak semua orang yang membaca akan paham... uhh tentang temanya.
-
Tak semua orang mengalami hal yang dialami Musto
-
Tapi yah... paling tidak kau menyelesaikannya...

Penulis Alfare
Alfare at Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD (9 years 31 weeks ago)

_|-|o
Aku sadar kau pasti paham apa yang aku lalui demi mengetik ini.

Penulis smith61
smith61 at Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD (9 years 32 weeks ago)
2550

Into the heat we are warriors!

Muantab, menggugah imajinasi, dan membawa pembaca berpikir..

Endingnya apa-apaan tuh..'buat kamu aja'? Apa tokoh utamanya mikir kejadian waktu di plaza sukses terulang karena keberhasilannya di dunia aneh/sisi gelap dirinya?

Btw, kritik fantasy fiesta saya dong Kak..hehehe

Penulis Alfare
Alfare at Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD (9 years 31 weeks ago)

...buset, kau juga mikirnya rumit.
Argh, sudahlah. Ntar juga kau bisa baca revisinya. Bagian terakhirnya emang rada gimanaa gitu. Tapi aku emang tralu bersemangat pas bikin bagian perangnya.

Penulis panah hujan
panah hujan at Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD (9 years 32 weeks ago)
70

...aku bingung kejadiannya terjadi kapan?
.
1. Waktu si Musto masih kuliah, dia pergi ke Toko Buku. Dan akhirnya dia pergi ke sebuah dunia rada aneh yang dia mesti berperang ngelawan sesuatu di sana dan akhirnya dia menang. Dia masuk portal waktu itu.
2. Tau-tau Musto udah ada di sebuah tempat berbeda dan megang kantung belanjaan. Dan ternyata dia mimpi ttg dunia aneh itu.
.
Jadi, di mimpinya itu dia cuma mengulang lagi, ya, hal yang udah terjadi sebelumnya setahun lalu pas dia masi kuliah?
.
Tapi karena aku ga bisa mastiin itu hanya mimpi si Musto aja atau itu beneran nyata ada, jadi aku mikir... apa ini fantasi?
.
Kurasa ini rada ke arah drama, kak Ritsi?

Penulis Alfare
Alfare at Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD (9 years 31 weeks ago)

Alur berpikirmu betul-betul ruwet ya? -.-;

Penulis panah hujan
panah hujan at Fantasy Fiesta 2010 - MydDKBD (9 years 31 weeks ago)

Kau kebalik, bos. Alur berpikirmu yang betul-betul sangat ruwet, kurasa ^o^