Kasus FF 2010

Aku terkejut menemukan temanku tenggelam dalam kursi malasnya ditemani dengan asap tembakau yang tak pernah berhenti mengepul dari pipanya. Ratusan kertas berserakan di sekelilingnya dan sebagian menutupi tubuh dan wajahnya.

”Astaga, Holmes! Apa yang terjadi?” pekikku seraya menghampiri tubuh yang tak berdaya itu. Sebersit rasa takut merayap dalam darahku kalau-kalau aku menemukan temanku dalam keadaan tak bernyawa.

”Watson, sahabatku! Akhirnya kau datang juga!” kata Holmes letih tapi dengan mata yang berbinar-binar.

”Kasus kali ini amat memerlukan bantuanmu, sobat! Ayo cepat bereskan semua kertas-kertas ini, Watson! Bacalah dan katakan pendapatmu.”

Aku menuruti instruksi Holmes sambil bertanya dalam hati kasus macam apa yang dapat membuatnya seperti kecanduan narkoba itu? Aku memungut sehelai kertas dan membaca kata-kata di dalamnya. Keningku mengeryit dan aku tertegun, lalu sesaat kemudian aku mulai terbahak.

”Holmes! Ini sebuah cerita fiksi!”

”Benar Watson. Benar! Dan tidak ada sebuah sandi yang lebih sulit dipecahkan dibandingkan menyembunyikannya di dalam sebuah cerita, Watson! Andaikata begitu pun, aku cukup yakin dapat menemukannya walaupun memakan waktu tapi bukan sebuah sandi yang diharapkan klien kita yang satu ini, Watson. Ah, malangnya nasibku! Seandainya saja dia meminta sandi....”

Holmes menceracau dan aku khawatir kalau dia sedang dalam pengaruh obat bius. Akhirnya, aku berhasil membereskan kekacauan yang dibuat Holmes dan memilah-milah kelompok kertas itu. Semuanya berjumlah ratusan dan terbagi dalam 74 judul yang berbeda. Aku berpikir tadinya ini sebuah novel tapi masing-masing judul tebalnya tak beda dengan kisah petualangan Holmes yang kutulis.

”Nah, Watson!” Holmes menepuk tangannya dan terlihat segar setelah mengisi ’kekosongan waktu’ dengan bermain biola. ”Jadi apa pendapatmu?”

”Tentang apa?” tanyaku.

Holmes menunjuk kertas yang bertumpuk rapi di lantai.
”Sepertinya ada yang salah alamat” jawabku.

Holmes tergelak, ”Kupikir juga begitu Watson! Tapi seperti yang kubilang tadi, ini sebuah kasus!”

”Well, siapa yang mengirimkannya?” aku bertanya.

”Tidak ada Watson. Tumpukan kertas itu sudah tergeletak begitu saja di depan pintu kamar kita dan kau tahu... aku yakin sekali tidak mendengar ada orang menaiki tangga. Induk semang kita akan memberitahuku jika ada yang ingin bertemu denganku dan lagipula, seperti yang kubilang aku tidak mendengar suara anak tangga ketujuh berderit, Watson”

”Jadi, apa yang membuatmu berpikir ini sebuah kasus, Holmes?” aku penasaran.

”Ambillah satu kertas itu Watson dan berikan deduksi terbaikmu!”

Seperti biasa, Holmes ingin mempermainkanku dengan tebakan-tebakan yang kulakukan. Aku mengambil sehelai kertas, mencoba menelitinya — apa saja yang bisa kutarik kesimpulan.

”Kertasnya Holmes!” aku berseru. ”Bukan dari papirus biasa!” aku dapat merasakan serat kertas itu lebih halus daripada biasanya.

”Bagus, Watson. Teruskan” kata Holmes memberi dukungan. Aku mencari hal-hal yang tidak wajar dan dengan mudah menemukannya.

”Kata-katanya...” aku terpaku. ”Aku tidak yakin Holmes. Aku belum pernah melihat mesin ketik yang dapat mencetak kata serapi ini dan tidak ada kesalahan!”

”Hebat Watson! Kau semakin lihai. Lalu?”

Aku mencari beberapa menit lagi dan tidak menemukan apa-apa.

”Ejaannya, tolong perhatikan ejaannya Watson!”
Mengikuti instruksi Holmes aku melihat beberapa huruf yang salah eja namun dibiarkan begitu saja atau bunyi pelafalan yang aneh.

”Kurasa penulisnya bukan orang Inggris, Holmes.”

”Memang bukan, Watson tapi kata-kata itu memang bahasa inggris, sobat.” Holmes tersenyum. Dan dia menunggu. Aku tahu dia menungguku menarik kesimpulan tentang deduksi-deduksi tadi dengan sebuah kasus yang sedang dihadapinya.

”Well, aku tidak tahu Holmes!” kataku menyerah kalah.

”Oh, ayolah, Watson! Kertas yang baik mutunya, teknik cetak yang teliti dan beberapa kata yang pelafalannya akan terdengar aneh di abad ini. Apa hal itu tidak mengilhami akan sesuatu?”

Penuturan Holmes membuatku melihat dari sudut pandang lain. Aku terbelalak.

”Tidak mungkin Holmes! Itu mustahil!”

Holmes tersenyum. ”Ya, Watson! Klien kita kali ini berasal dari masa depan”
***

Aku membacakan cerita-cerita fiksi tersebut satu demi satu sementara temanku mendengarkan sambil membayangkan dirinya sedang berada di London atau di kota manapun di masa depan. Sesekali temanku mengibaskan tangan, menandakan bahwa aku harus melewati cerita itu dan membaca cerita selanjutnya dan di saat lain dia berhipotesa dengan endingnya dan tebakannya benar. Aku terusik sekali dengan perilakunya yang egois ini sementara aku terlarut di dalam satu atau dua cerita yang ingin kubaca.

Keesokan paginya Holmes terlihat sedang menyisihkan cerita yang dilewatkannya dan menatap setumpuk lebih cerita yang kubaca sampai selesai.

”Holmes!” kataku tak sabar. ”Bisa kau jelaskan kasus ini tentang apa?”

”Ah, selamat pagi Watson! Semoga tidurmu nyenyak semalam. Dan kulihat suaramu baik-baik saja, sahabatku!”

”Holmes!”

”Baiklah, Watson. Sebenarnya aku diminta untuk memilih sepuluh tulisan yang menarik dibandingkan tulisan lainnya.”

”Darimana kau tahu itu, Holmes?” tanyaku melunak.

”Aku sudah menghabiskan satu hari kemaren untuk menemukan sandi di dalam kata-kata ini, Watson dan aku tidak menemukannya! Jika bukan sandi berarti aku harus memilih dan mengeliminasi tulisan lain, Watson.”

”Lalu mengapa sepuluh?” tanyaku

”Surat ini datang tadi pagi, Watson. Bacalah!” kata Holmes seraya menyerahkan secarik kertas yang berserat tinggi padaku.

Yth, Mr. Holmes
Tolong jangan siksa otak anda yang hebat itu untuk menemukan sesuatu yang anda anggap penting. Pilih saja sepuluh Mr. Holmes dan maaf atas keterlambatan ini.

Aku merengutkan dahi. ”Sepuluh untuk apa, Holmes?”

Holmes tersenyum padaku. ”Ayolah, Watson! Orang ini menantangku Watson. Sepuluh untuk masa depan tentu saja! Sepuluh untuk kehormatan dan kemampuanku sebagai detektif!”

Aku mencerap kata-katanya dan mulai memahami. ”Astaga, Holmes! Jika ini semacam undian atau pacuan kuda, demi Rue Morgue kau bukan orang yang tepat! Kau bukan penilai karya sastra yang baik untuk masa ini apalagi untuk masa depan, Holmes!”

Temanku, Sherlock Holmes menggeleng-gelengkan kepalanya.

”Pertama-tama Watson, cerita-cerita fiksi ini bukanlah karya sastra. Kedua, tidak ada ruginya aku menguji kemampuanku melawan waktu dan ketiga, tidak ada bidang yang tidak bisa kukuasai jika aku ingin menguasainya, Watson!”

Aku terdiam dengan tekad Holmes. ”Mau kemana kau?”

”Pergi mencari buku mitologi, Watson” jawabnya. Dan itu adalah hal teraneh yang pernah kudengar seumur hidup.
***

Holmes telah menyelesaikan sepuluh cerita favoritenya dengan sebuah metode yang menurutku tidak adil (karena dia sebagian besar tidak membaca semua cerita itu). Ketika kukonfrontasikan hal ini padanya, dia berkilah bahwa, ”Sebuah hal yang tidak bisa menarik minatku setelah aku memberi perhatian padanya, Watson, tidak akan kupikirkan untuk seumur hidupku lagi.”

Protesku teredam karena sebuah cerita di dalam sepuluh daftar itu menarik perhatianku. Sebuah cerita yang kupikir akan menjadi cerita pertama yang disisihkan Holmes. Sebuah cerita yang diberi judul ”Roh Hijau”.

”Holmes!” pekikku. ”Cerita ini Holmes... Cerita ini!”

”Ada apa Watson? Kau seperti baru saja bertemu...” Holmes berusaha mencari kata-kata yang tepat setelah melihat reaksiku.

”Peri, Holmes! Peri! Aku tidak percaya kau meloloskan cerita ini Holmes! Ini cerita yang romantis...”

”Lalu?” Holmes bertanya dengan nada datar.

”Kau pernah bilang padaku kalau cinta bersifat emosional dan dapat mengacaukan akal sehatmu!”

Holmes menggeleng prihatin melihat kelakuanku. ”Aku selalu melakukan pekerjaanku dengan kepala yang dingin, Watson. Dan jika sebuah cerita romantis akhirnya kupilih, itu karena sebuah analisis tajam yang kulakukan dan bukan karena perasaan sentimentil itu menyentuh hatiku”

Aku tidak percaya dengan kata-kata Holmes dan hendak membantah ketika suara langkah kaki terdengar di tangga dan induk semang kami membuka pintu.

”Ada tamu Mr Holmes!”

”Terima kasih, Mrs Hudson!” sahut Holmes.

Pemuda itu tampaknya baru berusia sekitar 25 tahunan dan wajahnya terlihat tampan. Klien kami menatap temanku Sherlock Holmes dengan berbinar-binar dan menyelidiki seisi ruangan.

”Seumur hidup saya bermimpi dapat ke sini, Mr Holmes! Baker Street 221b.” kata klien kami.

”Keinginanmu sekarang sudah terkabul, Mr. C! Silakan duduk.”

Klien kami menoleh dengan tiba-tiba dan menatap Sherlock Holmes dengan terkagum-kagum.

”Bagaimana—?”

”Mengetahui namamu?” sela Holmes seraya mengangkat kedua bahunya dengan gaya yang cuek. ”Jangan lupa aku detektifnya di sini, Mr. C dan aku satu-satunya Sherlock Holmes”

Aku tersentak dengan kata-kata Holmes yang tidak biasanya dan terkesan arogan itu.

”Tapi bagaimana anda tahu kalau saya tidak ingin nama saya disebarluaskan, Mr Holmes?” tanya klien kami.

”Dari tulisan anda Mr, C. Beberapa hurufnya dibuat seolah berbentuk perisai menandakan bahwa anda berusaha menyembunyikan diri anda dan melindungi anda dari dunia luar. Saya yakin di masa depan akan ada cabang ilmu yang mempelajari tentang tulisan ini, Mr C.” kata Holmes dengan yakin.

”Benar, Mr. Holmes. Namanya—” kata-kata klien kami terpotong karena Holmes mengangkat tangannya.

”Pengetahuan masa depan tidak baik dibawa ke masa lalu, Mr. C. Hal itu membuat kita malas berpikir” dengan gaya khasnya temanku mengetukkan jari telunjuk ke samping kepalanya.

”Baiklah, Mr Holmes, saya mengerti! Dan anda pasti Dr. Watson! Senang sekali bertemu dengan anda berdua di sini! Ngomong-ngomong, err... bolehkah...”

Klien kami tiba-tiba mengeluarkan sebuah buku dari tas yang ditentengnya. Sebuah buku dengan cover berwarna merah dan tulisan emas berjudul A Study in Scarlet. Aku menahan napas. Bukuku!

”...err.. bolehkah saya meminta tanda tangan anda Dr. Watson?” katanya sambil menyodorkan buku itu padaku. Aku tak percaya ini. Aku mengambil buku itu, mengelus halamannya dan melihat tahun terbitnya. 2010! Astaga! Bukuku masih bertahan ratusan tahun semenjak aku tulis. Rasanya aku begitu terharu sampai hampir menitikkan airmata sehingga membuat Holmes mendehem.

”Seperti yang mungkin sudah anda ketahui, Mr. C — Dr. Watson memang seorang sahabat yang sentimentil!”

”Holmes!” protesku malu. ”Siapa yang tidak terharu menandatangani sebuah buku masa depan!”
***

Klien kami duduk berhadapan dan membaca kesepuluh daftar cerita yang dipilih Holmes.

”Inikah yang anda pikir akan menang, Mr. Holmes?” tanya klien kami.

”Tentu, Mr. C! Jika bukan salah satu tentu ketiga-tiganya termasuk di dalam daftar itu”

Sebagai detektif yang kuberi nilai rendah dalam bidang sastra, aku tidak yakin apa yang membuat Holmes bisa seyakin itu.

Klien kami tertawa dan kemudian berkata, ”Menarik, Mr. Holmes! Tapi saya ingin mengetahui hipotesa anda masing-masing dalam setiap karya ini. Terutama mengenai ’roh hijau’ ini. Anda yakin roh wanita itu tidak merasuki diri anda sewaktu memutuskan meloloskan karya ini, Mr. Holmes?”

Holmes menjawab dengan yakin. ”Irene Adler sama sekali tidak mempengaruhi penilaian saya, Mr. C — sebagaimana yang tadi saya katakan pada Watson bahwa saya melakukan pekerjaan saya dengan kepala dingin”

Klien kami tersenyum. ”Anda sangat mengerti sekali Mr. Holmes ketika yang saya maksud adalah Irene Adler!”

Holmes membeku dan aku tak percaya dia berhasil dijebak! Meskipun begitu, bukan Holmes namanya jika ia tidak mampu menyerang balik.

”Anda pun nyatanya selalu terbayang-bayangi oleh roh yang berinisial R. D. — Mr. C!”

Senyum di bibir klien kami tidak menghilang tapi berubah menjadi senyum gugup.

”Saya sungguh ingin tahu bagaimana anda melakukannya, Mr. Holmes! Apakah sidik jari saya membentuk suatu pola yang berinisial R? atau— ah, sudahlah, Mr. Holmes! Mari kita berdamai! Jadi jika anda memilih cerita itu dengan satu dasar analisis yang dingin, saya ingin sekali mendengarnya!”

”Sederhana sekali. Cerita itu saya loloskan karena temanya yang sederhana dan tidak menggambarkan sesuatu yang ’wah’-’wah’ seperti dongeng Raja, puteri, naga, pedang maupun binatang-binatang aneh yang bahkan tidak dapat saya bayangkan, Mr. C. Cukup satu peri pohon yang dapat membuat Watson terlonjak kegirangan dan kalimat-kalimat puitis yang dia sukai!

”Holmes!” kataku dengan wajah yang merah padam. ”Berhentilah mengerjaiku!”

Klien kami tampak menekuni daftar yang diberi Holmes dan menimbang mana yang akan ditanyakannya terlebih dahulu.
”Bagaimana dengan cerita serigala-melolong-bulan ini, Mr. Holmes? Apa alasannya?”

”Ada dua. Pertama, si penulis tidak memberikan nama-nama aneh yang biasa diberikan oleh penulis lainnya apalagi yang sulit dihapal. Dan kedua, dia menjelaskan fakta alam semesta ini dengan akurat sekali. Banyak orang yang lupa, Mr. C, bahwa gunung tertinggi di dunia sekalipun berasal dari laut.”

”Tapi Holmes,” aku berargurmen. ”Sejak awal mula, bumi memang terdiri dari daratan dan laut!”

Holmes mengedikkan bahunya. ”Itu menurutmu, Watson. Kita belum tahu pendapat Mr. C.”

Klien kami tertawa pahit. “Tuan-tuan yang terhormat, saya sudah diracuni dengan abad modern sedemikian dalam sehingga tidak dapat membentuk pendapat saya sendiri. Tapi saya setuju dengan pemikiran penulis ini dan Mr. Holmes bahwa gunung berasal dari laut dan kalau bukan karena pengaruh seorang James Armitage, mungkin saja saat ini Mr. Holmes tidak menjadi seorang detektif.”

Aku tiba-tiba teringat kembali dengan kasus kapal Gloria Scott. Kasus pertama yang ditangani oleh sahabatku, Sherlock Holmes.

”Kalau Anzu, Mr. Holmes? Jangan bilang kalau cerita ini mengingatkanmu pada nama aslimu Sherring—”

Sekali lagi, Holmes mengangkat tangannya untuk memotong ucapan klien kami. Hal ini sungguh di luar kewajaran karena biasanya Holmes tidak pernah menyela perkataan seorang klien. Tapi yang membuatku penasaran adalah indikasi mengenai nama asli Holmes. Aku pun bereaksi spontan.

”Nama asli! Kau tidak pernah bilang bahwa Sherlock bukan nama aslimu, Holmes!” aku sungguh tidak dapat menutupi keterkejutanku.

Holmes hanya tersenyum masam padaku. ”Seperti yang pernah kukatakan, Watson. Beberapa hal ada baiknya hanya disimpan seorang diri. Rencana akan berjalan dengan baik jika hanya si perencana yang tahu”

”Tapi aku temanmu, Holmes!”

”Bisa jadi karena hal itulah yang menjadi alasan mengapa aku menyembunyikannya darimu, Watson. Dan Mr. C, jika kau ingin identitasmu tetap seperti ini, ada baiknya jika kita saling memahami!”

Klien kami mengangguk. ”Jadi?” tanyanya.

Holmes menghela napas. Pertama kalinya aku melihat dia menghela napas.

”Aku yakin aku akan menyelidiki sebuah kasus dengan metode yang sama sekalipun aku kehilangan nama asliku atau nama ’Sherlock Holmes’. Aku tidak percaya nama lebih penting dari fakta, logika dan deduksi tapi cerita itu memiliki riset dan ketelitian yang baik, kuduga. Selain itu, mengikuti permainan duniamu, Mr. C — jika nama sungguh penting di sana dan melihat cara si penulis menuliskan namanya dengan penuh percaya diri, aku dapat melihat di masa lalu — masa lalunya duniamu bahwa penulis ini dulunya pernah bersinar dibandingkan penulis-penulis lainnya.”

Klien kami mengangguk dan sekali lagi aku terpukau bagaimana Holmes dapat mengetahui semua itu. Kemarahanku mereda sedikit.

”Selera Ganesha, Mr. Holmes?” tanya klien kami.

”Ah,...” Holmes mengibaskan tangannya. ”Kuakui yang ini kupilih hanya karena senang membayangkan buku Watson dimakan seseorang”

”Hol—” aku hendak protes namun tidak tahu apakah seharusnya aku malu atau marah?

”Jemma & Naga?” lanjut klien kami.

”Entahlah... yang ini mungkin karena lebih baik dibandingkan cerita-cerita naga lainnya.”

”Memang kenapa dengan yang lainnya?”

”Naga adalah hewan yang egonya tinggi. Aku tidak terima naga yang menjadi budak atau naga yang buta, Mr. C.” sahut Holmes. Aku dan Mr. C bersitatap. Kurasa kami masing-masing merenungkan pertanyaan yang sama dalam benak kami.

”Darimana kau tahu banyak tentang Naga, Holmes?” akhirnya aku bertanya.

”Kau lupa Watson! Kemaren aku membeli buku mitologi”

”Ngomong-ngomong soal mitologi, bagaimana dengan cerita Apollo-Aries ini Mr. Holmes? Apa yang membuatmu memilihnya?”

Holmes terdiam. Dia menatap klien kami dalam-dalam.

”Kurasa kau lebih banyak mengetahuinya daripada aku, Mr. C!”

Giliran klien kami yang terdiam.

Menit demi menit berlalu dan aku semakin tidak sabar. ”Hei, tolong jelaskan padaku!”

Holmes menghela napas. Untuk kedua kalinya.

”Kurasa sudah saatnya kau mengetahui kenyataannya, Watson!” katanya dengan nada yang anehnya terdengar sedih.

”Kenyataan apa?” aku bertanya.

”Kau ingat kemaren bertanya padaku mengapa aku tidak menulis biografiku sendiri seperti yang dilakukan Apollo pada drama-dramanya?”

”Ya” jawabku hati-hati.

”Itu karena aku bukan Apollo!” jawab Holmes. Aku mengerutkan kening dan berpikir.

”Aku tidak mengerti, Holmes!” kataku

”Watson yang baik, kalau aku menulis biografiku sendiri bisa jadi Doyle akan mengamuk! Sekarang saja — jika hipotesaku mengenai keberadaan dia benar adanya — Doyle sudah sedikit cemburu padaku karena ketenaran yang kudapatkan. Itulah alasanku yang sebenarnya menumpahkan semua puja-pujian itu pada, Lestrade!”

”Holmes, kawanku!” aku memohon, ”Tolong, jangan berbelit-belit begini! Siapa itu Doyle?”

Holmes menghela napas. Ketiga kalinya!!!

”Demi kebaikanmu, Watson, aku berubah pikiran. Kurasa belum saatnya kau mengetahui siapa dia. Untuk saat ini aku hanya dapat mengatakan kalau Doyle adalah musuh terberat yang lebih sulit dihadapi dibandingkan Profesor Moriarty!”

Profesor Moriarty! Aku tidak bisa berkata apa-apa. Apa yang lebih buruk dibandingkan Napoleon Kejahatan?

Aku tahu klien kami mengetahui sesuatu apalagi karena dia berasal dari masa depan. Tentunya dia lebih banyak mengetahui kasus-kasus apa saja yang akan ditangani Holmes dan kasus-kasus yang belum kutuliskan.

”Mr. C!” ucapku dengan suara parau memohon.

”Maaf, Dr. Watson! Mr. Holmes benar bahwa pengetahuan masa depan tidak seharusnya dibawa ke masa lalu!”

Aku pun menundukkan kepala dan berkecil hati.

”Bagaimana dengan Zee & Zoo, apakah ini dipilih karena anda teringat kakak anda — Mycroft, Mr. Holmes?”

Untuk kasus yang satu ini sepertinya Holmes mengalah.

”Mungkin, Mr. C. Mungkin.” balas Holmes.

“Tidakkah anda merasa sudah saatnya menceritakan kasus yang anda dan Mycroft tangani sebelum bertemu Dr. Watson, Mr. Holmes?”

Kasus Holmes dan Mycroft! Astaga! Sudah berapa kali aku dikejutkan malam ini? Terlalu banyak rahasia yang disimpan oleh Holmes dariku meski kami sudah tinggal lama bersama!

”Ya, aku akan menceritakannya padamu dalam waktu dekat ini, Watson” janji Holmes yang tampaknya ingin membuatku melupakan tentang Doyle.

”Arrakis, Mr. Holmes? Apa ini mengingatkan pada Irene Adler yang berhasil menipu anda?”

”Hahaha... tentu tidak!” Holmes tertawa dibuat-dibuat. ”Cerita ini mengingatkanku pada Watson yang entah berapa kali sudah ketipu dengan penyamaranku!”

”Salamander?”

”Aku mendapat feel kepengecutan yang pas di cerita itu, Mr. C. Selain itu, aku pemain anggar dan aku mengetahui sedikit kebenaran dalam cerita itu”

”Tapi Mr. Holmes, bukankah cerita tentang ’pedang yang memiliki kesadaran’ juga terdapat dalam cerita lain?” desak klien kami.

”Karena itulah, akal sehatku hanya dapat menerima keberadaan satu jenis pedang yang bisa berbicara. Tapi dua tidak!!”
***

”Jadi, kesimpulannya Mr. C, sekalipun aku tidak mempercayai hal gaib dan mistik, namun jika aku harus terpaksa mempercayainya — hal-hal tersebut tetap tidak boleh di luar batas ’akal sehat alam gaib’.”

Klien kami tersenyum. ”Saya rasa saya pernah mendengar hal itu dari seseorang di dunia saya yang terkenal kejamnya namun kadang baik hati juga, Mr. Holmes!”

Holmes balas tersenyum. ”Dari kata-kata anda saya bisa menebak inisial orang yang bersangkutan, Mr. C.”

”Oh, tidak! Tolong jangan disebutkan, Mr, Holmes! Akan repot jadinya jika Watson menuliskan hal itu dan orang yang bersangkutan kebetulan membacanya!”

Holmes mengangguk.

”Tadi kita sudah mendapat sembilan cerita, Mr. Holmes. Jadi, apa yang satu lagi?” tanya klien kami agak was-was. Aku tersentak dan menyadari bahwa memang baru sembilan yang diungkapkan klien kami.

”Boleh saya melihat notes anda, Mr. C?” tanyaku. Mr. C memberikan daftar yang ditulis Holmes dan aku melihat sembilan cerita yang ada di sana. Aku mencoba-coba mengingat-ngingat cerita mana yang Holmes hapus.

”Saya rasa satu tempat itu biar anda tentukan sendiri, Mr. C.” kata Holmes.

Mr. C. menghela napas. ”Saya tidak ingin terlihat seperti nepotisme Mr. Holmes (aku mengerutkan kening dan menduga-duga istilah apa yang dimaksud oleh Mr. C), jika menurut anda, cerita itu tidak bagus ada baiknya anda menempatkan cerita lain sebagai pengganti.”

”Aku tidak akan mengatakan apakah cerita itu bagus atau tidak, Mr. C. Sekarang aku ingin berganti posisi dan sekali-kali menjadi penjahatnya. Aku sudah bosan jadi detektif. Biarkan ini menjadi oleh-oleh untukmu dan bertanya-tanya apakah aku mendukung cerita itu atau tidak”
Mr. C termenung.

”Terus terang saja” lanjut Holmes. ”Di antara sepuluh cerita ini, aku lebih mengunggulkan cerita yang tak kupilih — sebuah ide menukar satu nyawa untuk satu nyawa. Bukankah di pertemuan pertama kita, kau melihatku sedang memukul-mukul mayat untuk membuktikan apakah memar akan muncul atau tidak setelah kematian, Watson? Saat-saat itu aku pun memiliki ide yang sama untuk memindahkan nyawa orang lain yang sedang sekarat pada tubuh mati yang masih bagus kondisinya. Tetapi, andaikata waktu itu kau melihatku melakukan praktek tersebut dalam pertemuan pertama kita, Watson sobatku — kita tidak akan berada di sini hari ini. Memukul-mukul mayat mungkin masih dapat diterima tapi berusaha memindahkan nyawa akan membuatku dikarantina oleh Lestrade yang bodoh itu.”

”Sayangnya cerita itu memiliki apa yang tadi aku sebut ’akal sehat gaib’ yang tidak masuk akal! Untuk apa Karavansa menjadi Nodea? Toh.. dia tidak memiliki keluarga yang perlu disokong. Andaikata dia menjadi Nodea karena kebaikan hatinya yang bodoh itu harusnya diterangkan bahwa dia itu bodoh dan untuk pertama kalinya hanya Tuan Yulius yang pernah memintanya menjadi Nodea (sebab kalau dia orang yang baik hati dan bodoh seharusnya dia sudah mati lebih awal untuk menjadi Nodea orang lain). Satu-satunya yang masuk akal adalah demi panti asuhannya. Tetapi sama sekali tidak ditambahkan kalimat: Tuan Yulius tidak perlu memuliakan keluarganya ’tapi hanya perlu menyisihkan sedikit uang untuk panti asuhan’.”
***

”Baiklah, Mr. Holmes, terima kasih!” kata Mr. C. ”Saya mengerti. Anda bermaksud mengatakan bahwa di setiap zaman pasti ada pembatasan yang dilakukan terhadap orang-orang genius seperti anda dan juga saya. Saya akan kirimkan bayarannya dua hari lagi Mr. Holmes! Sampai jumpa dan anda juga Dr. Watson!”

Mr C telah pergi dan aku masih memikirkan judul apa yang telah dihapus Holmes.

”Boxinite!” seruku tiba-tiba. ”No. 72! Itu cerita yang kauhapus, Holmes!”

Holmes tersenyum. ”Untunglah daya ingatmu agak telat sedikit, Watson! Jika tidak, kita tidak bisa memberikan oleh-oleh pada klien kita!”

”Itukah cerita yang sama.... ngomong-ngomong apa arti nepotisme, Holmes? (Holmes pun kemudian menjelaskan tentu dengan hipotesanya sendiri).

”Lalu, apa yang menjadi alasanmu memilih cerita itu?” tanyaku ingin tahu.

”Ada dua hal yang kupikir tidak akan berubah selama ratusan tahun ini, Watson. Yang pertama adalah bentuk payung dan yang kedua, kemampuan bertinju. Ilmu beladiri apapun yang akan tercipta di masa depan, Watson, akan berbahaya sekali kalau seorang lelaki tidak bisa bertinju! Itulah moral cerita itu.”

”Alahh... Holmes!” sindirku. ”Kebanyakan alasan-alasan yang kaupilih bersifat subjektif dan tinju terutama adalah olahraga favoritemu! Kau tidak cocok menjadi detektif sastra!”

Holmes hanya tertawa mendengar ejekanku. ”Lihat saja nanti Watson ketika bayaranku tiba!”

Dua hari kemudian, Holmes menemukan secarik kertas di depan pintu apartemen kami dan berseru riang, ”Lihat, Watson! Lihat! Ini bayarannya!”

Aku mengintip melalui pundaknya dan membaca ketiga judul yang akhirnya dipilih oleh masa depan. Holmes pun akhirnya meremas-remas kertas itu dan melemparnya ke tong sampah.

”HOLMES APA YANG KAU LAKUKAN?”

”Tugas sudah selesai Watson, dan sekarang aku harus melupakannya!”

”MELUPAKANNYA!” seruku terkejut.

”Ya, Watson. Ya! Kasus ini sungguh menarik namun sayang aku harus melarangmu untuk menuliskannya, Watson!”

”Mengapa?”

”Ayolah, Watson! Pengetahuan masa depan—”

”—tidak seharusnya dibawa ke masa lalu” aku melanjutkan.

”Jika semua orang berpikiran ke masa depan, Watson, tidak akan ada yang mengurusi masa ini di mana kita hidup. London tahun 1800-an. Tidak akan ada yang berusaha menangkap Profesor James Moriarty. Semua kaum intelek akan berusaha menciptakan ’sesuatu’ yang bisa membawa mereka ke masa depan dan bayangkan jika ide atau kemungkinan membawa sesuatu dari masa depan itu tertanam dalam pikiran seorang Moriarty, Watson! Bayangkan! Apa yang akan terjadi pada London kita yang tercinta ini? Jadi, aku harus melupakan kasus ini dan semua pengetahuan yang kupelajari untuk mengungkapnya. Karena bagaimanapun juga—”

”—otakmu adalah loteng kecil Holmes. Dan hanya pengetahuan yang diperlukan untuk pekerjaanmu saja yang akan kausimpan.” sekali lagi aku melanjutkan.

”Benar, Watson. Benar. Jadi tolong hancurkan secarik kertas itu atau simpan di tempat di mana aku tidak bisa melihatnya sementara aku melupakan kasus ini.”

Mengikuti instruksi Holmes, aku menyimpan kertas dari masa depan itu di deposit bank-ku dan tak pernah sekalipun mengeluarkan dan membawanya ke apartemen kami karena aku takut rasa ingin tahu Holmes akan bangkit kembali ketika melihat kertas itu.

Tiga hari kemudian, Holmes dapat melupakan keseluruhan kasus ini sebagaimana dulu dia melupakan bahwa bumilah yang mengelilingi matahari. Aku memegang janji untuk tidak pernah menuliskan kasus ini sampai tiba hari wafatnya sahabatku. Keinginan menuliskan kasus ini yang telah terpendam selama dua puluh tahun kulepaskan untuk mengenang sahabatku — Sherlock Holmes. Manuskrip ini kusimpan di kotak deposite bank-ku dan aku tidak mau memikirkan apa yang akan terjadi padanya setelah aku wafat nanti.
END

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nagabenang
nagabenang at Kasus FF 2010 (9 years 19 weeks ago)
100

ngalir, dan buagus banget :)

Writer lastwritter
lastwritter at Kasus FF 2010 (9 years 28 weeks ago)

ajak gabung ke sini donk!
atau tulisan ini aja yg mejeng di kastil fantasi?
:)

Writer panah hujan
panah hujan at Kasus FF 2010 (9 years 28 weeks ago)
90

Ahaha, mungkin selain ulasan untuk 10 besar di kastil fantasi, ulasan di sini teramat menarik untuk diikuti oleh mereka. Sayangnya tidak semua peserta ff2010 adalah member k.com jua.
.
Aheu, tulisan lastwritter emang kritis! :)

Writer franci
franci at Kasus FF 2010 (9 years 29 weeks ago)
90

"Apa yang kau lakukan, Mia?"
.
"Eh? Aku cuma membaca sesuatu di komputermu." Aku menjawab Ren sambil tersenyum-senyum.
.
"Kukira kau sudah benar-benar kerajingan membaca. Kau sudah menyelesaikan John Grisham itu selama aku pergi kerja kemarin." Ren bicara lagi "Lalu, apakah ada yg lucu?"
.
"Uhm, tidak ada sih. Aku hanya sangat senang." Aku melayangkan pandangan senang pada Ren.
.
Ren mendekat dan mengelus kepalaku.
"Dan kau pasti berpikir kalau dia keren, kan?"
.
Aku terkikik. "Ya, tentu saja! Nomor dua paling keren setelah kau."
Aku memegang sayang tangannya yang padat dan melanjutkan membaca.

Writer redscreen
redscreen at Kasus FF 2010 (9 years 30 weeks ago)
90

kalau yg ini memang bagus banget kak,
bahasanya tinggi (lebih tinggi di mr. C) @.@
tapi kalau tokoh cerita detektif ku lebih suka ms. Marple daripada sherlock (karena ku memang belum pernah baca sih) xD
tolong kunjungi dan kritik ceritaku juga ya kak
http://www.kemudian.com/node/246992
terima kasih :D

Writer lastwritter
lastwritter at Kasus FF 2010 (9 years 30 weeks ago)

hoho... guru atau paman guru nih? mungkinkah,
”Saya rasa saya pernah mendengar hal itu dari seseorang di dunia saya yang terkenal kejamnya namun kadang baik hati juga, Mr. Holmes!” (dia) yang memujiku?

Ah, Trey jangan membuatku tambah GR! sudah terlalu banyak pujian yg kuterima dan yang paling kusuka adalah pujian darimu yg soal nonjok itu :D

kaya-miskin, puji-cela, mashyur-hina, senang-derita. 8 (delapan kata Racun Barat) lokuttara duniawi ini benar-benar membuatku pusing. Terutama yang kedua :D

Soal semedi, kurasa itu tidak cocok untukmu Trey! Jika ada perjamuan, apalah arti 50k-energi, Trey? (eh, cerita itu share ya?!)

Writer mailindra
mailindra at Kasus FF 2010 (9 years 30 weeks ago)
100

Sepertinya mulai sekarang aku mesti hati-hati dengan jurus-jurusmu. Perkembanganmu sungguh berbahaya. Bahkan dijamuan terakhir, guru mulai memuji-muji perkembanganmu.

Waktunya bersemedi dan berlatih kembali.

Writer lastwritter
lastwritter at Kasus FF 2010 (9 years 30 weeks ago)

@cat wew... baca di hp? itu 14 halaman loh... (gue tulis dari tanggal 29 agustus jam 9.45 malam dan selesai 4 pagi --lebih-lebih dikit lah...

pertanyaan gue, brapa kali tuh tombol 'next' ditekan? :)
btw, tanda bintang 5 artinya point 10 gitu? (kalau dikasih point 9 / 8 gak ada tanda bintang?) hehe... maklum jarang aktif.

@maximus benar aku telat dapat info lombanya (tapi klo ga gitu cerita ini mungkin gak bakal ditulis) di samping pemilihan nama 'lastwritter' ini yg buat gue bener2 jadi penulis terakhir :(

Writer Maximus
Maximus at Kasus FF 2010 (9 years 30 weeks ago)
100

Gulp, two word : It's superb! XD XD
.
Pembuat cerita ini bener2 amazing, bahkan saya merasa sudah berada di kantor Mr.Holmes saat itu juga, standing applause deh :D

Writer cat
cat at Kasus FF 2010 (9 years 30 weeks ago)
100

Gila, seru bgt.
Awalnya aku bc mr c. Tp penasaran jd bc ini dl.
Ni mata nda lari dr layar hp.

Aku suka dgn kata2nya yg mengalir dan pas.

Sayang sekali nda di iktkan ff2010. Seharusnya ini adlh kandidat juara.

Writer Maximus
Maximus at Kasus FF 2010 (9 years 30 weeks ago)

*roll eyes* *kucek2 mata sekali lagi* wow akhirnya ada juga cerita yang berhasil membuat kak cat mecahin celengannya buat ngasih lima bintang full
.
Ya iyalah nggak diikutkan di ff, dari mana penulisnya tau data cerita and judulnya kalau belum dipajang di ff, dan itu notabene setelah deadline berakhir, anda tidak perlu menjadi Mr.Holmes untuk menjawab pertanyaan itu kak cat. Menjadi Dr.Watson sudah cukup XD XD

Writer cat
cat at Kasus FF 2010 (9 years 30 weeks ago)

wkwkwk .. kan ceritenye si holmes dapat kasus dari masa depan. so harusnya dia bisa nebak dunk.

*roll eyes* *kucek2 mata sekali lagi* wow akhirnya ada juga cerita yang berhasil membuat kak cat mecahin celengannya buat ngasih lima bintang full

sebegitunya dirimu .. wkwkwk
sepertinya harus di cek nih hello kitty bank ku wkwkwk ...
sapa tau maxie yg mecahin

Writer lastwritter
lastwritter at Kasus FF 2010 (9 years 30 weeks ago)

hehe... lanjut di "Mr. C" ya...
bentar aku posting dulu.
Eh, btw, ini komen kok jadi ga urut gini, sih?
*protes yuk*

Writer samudera
samudera at Kasus FF 2010 (9 years 30 weeks ago)
90

boleh gak...aku aktif di stories...
trims

makkie at Kasus FF 2010 (9 years 30 weeks ago)
90

heu heu heu..keren...mantab...
runaway jury...?? kirain terinspirasi gurita yang menebak juara piala dunia.. XD

Writer NiNa
NiNa at Kasus FF 2010 (9 years 30 weeks ago)
70

bgus :)

Writer musthaf9
musthaf9 at Kasus FF 2010 (9 years 30 weeks ago)
100

benar-benar ide yang tidak terduga, ga nyangka ada yang nulis bgini.

Writer 145
145 at Kasus FF 2010 (9 years 30 weeks ago)
100

sel-sel kelabu di otakku mengatakan seandainya tidak melebihi kuota kata dan waktu, cerita ini lah yang bakal memenangkan FF 2010 >_<

Writer 145
145 at Kasus FF 2010 (9 years 30 weeks ago)

Wew lumayan akurat juga ternyata tebakannya si Holmes >_<

Writer aphrodite
aphrodite at Kasus FF 2010 (9 years 30 weeks ago)

145 nyamar jadi poirot? :p
iya nih, sayang ga diikutin ke FF T_T

Writer lastwritter
lastwritter at Kasus FF 2010 (9 years 30 weeks ago)

hehe... tq aphro! tapi, FYI, aku juga sama seperti Holmes yang me-eliminasi cerita itu dengan tidak adil ^^
Btw, kolom komentar harus login dulukah baru bisa dibaca?
(rasanya ada error nih...)

Writer aphrodite
aphrodite at Kasus FF 2010 (9 years 30 weeks ago)

kalo mau posting komen memang harus login dulu.
tapi kalo cuma mau baca komen, ga perlu.

Writer aphrodite
aphrodite at Kasus FF 2010 (9 years 30 weeks ago)
100

ya ampun, ini keren banget! :D
dialognya lancar, narasinya juga mengalir. benar2 terasa seperti membaca karangan sir doyle :p
bagian yg paling saya suka ketika holmes nyeletuk tentang pengarangnya. great job!
kukasih nilai sempurna nih walopun cerpenku ga disebut2 ^^
.
oh ya, mr. c itu siapa ya? *mikir*

Writer musthaf9
musthaf9 at Kasus FF 2010 (9 years 30 weeks ago)

bukannya dah dikasi clue, inisial R.D, tahu kan?

Writer aphrodite
aphrodite at Kasus FF 2010 (9 years 30 weeks ago)

iya, kayaknya tadi saya kurang teliti bacanya ^^
"seseorang di dunia saya yang terkenal kejamnya namun kadang baik hati juga" kayaknya saya tau siapa :p

Writer lastwritter
lastwritter at Kasus FF 2010 (9 years 30 weeks ago)
70

Pernah nonton Runaway Jury? atau baca bukunya? kalau udah, kepingin gak sih, sekali-kali loe-loe ingin jadi seseorang yang mencoba memanipulasi para Jury?

Cerita ini ditulis berdasarkan ilham dari John Grisham itu. Siapa tahu di antara 10 cerita itu benar ada yang juara atau jika tidak, yah, gpp... so tetep jadi cerita favorite gue, kok!