Mr. C

Sebagai detektif konsultan, aku lebih mementingkan penglihatan periferal dibandingkan penglihatan yang kebanyakan digunakan oleh manusia — fovea. Berkat latihan yang kujalani selama bertahun-tahun dengan penglihatan periferal inilah, aku mampu membedakan ciri-ciri seorang klien dengan klien lainnya dan menandakan beberapa keunikan khusus dalam diri mereka sehingga aku dapat ’menebak’ (meski aku lebih suka menggunakan kata memastikan) apa pekerjaan mereka.

Namun yang paling penting dari kemampuan ini, aku mampu mendeteksi bahaya lebih cepat dan mengetahui apakah ada orang yang membuntutiku atau tidak. Serta, tentu, dapat melihat(walaupun Watson mungkin akan menggunakan kata merasakan) reaksi musuhku sewaktu aku bertarung dengannya. Dengan pengetahuanku di bidang biologi dan anatomi tubuh manusia serta kemampuan melihat arah mana dan dengan tangan apa musuhku akan memukul, dapat dipastikan 99,99999% musuhku akan roboh dengan rentetan tinjuku yang telah kurencanakan sebelumnya.

Akan tetapi, harus kuakui dalam beberapa kasus seperti ’kasus Mr. C’ — yang detailnya kurasa lebih baik kusembunyikan dari pembaca, kuakui emosi sedikit menguasai penglihatan periferalku.
***

Pagi itu aku menerima secarik kertas yang didalamnya terdapat hasil yang akan membuktikan apakah analisaku di hari-hari sebelumnya tepat atau tidak. Ketika membuka kertas itu dan melihat bahwa salah satu hipotesaku tercantum dalam kategori ketiga terbaik, penglihatan fovea menyergapku dan mataku terus memandangi entri yang menduduki peringkat pertama tersebut, terlebih lagi karena kasus ini berasal.... maksudku, terlebih lagi karena kasus ini tidak seperti biasanya.

Mereka yang mengenal diriku dari kasus-kasus yang dituliskan oleh sahabatku Watson tentu menyadari bahwa aku jarang sekali menampakkan emosi sekalipun kasus tersebut berhasil kupecahkan dengan sempurna. Tapi hari itu, aku bersorak, ”Lihat Watson! Lihat! Ini bayarannya!”

Watson yang sedang santai menikmati sarapan paginya, tergopoh-gopoh menghampiriku dan mengintip dari balik bahuku. Setelah emosiku mereda, penglihatan periferal kembali ke dalam kesadaranku dan sekilas aku tidak melihat satu entri penting dari kesepuluh entri yang dicalonkan menjadi juara. Aku meremas kertas itu (meski sebenarnya aku ingin membakarnya saat itu juga) dan melemparkannya ke tong sampah.

Watson menjerit, ”HOLMES APA YANG KAU LAKUKAN?”

Aku mengatakan sesuatu tentang untuk melupakan kasus itu dan memang itulah rencanaku sejak semula. Aku tahu pada akhirnya Watson akan memungut kertas itu dan menyimpannya baik-baik di dalam kotak deposit bank-nya. Seharusnya aku membakar kertas itu sebelum Watson membacanya tapi naluriku sebagai sahabat berkata bahwa Watson layak mengetahui hasil akhirnya dari kasus yang kami lewati bersama ini — apalagi setelah banyak hal yang telah kusembunyikan darinya.
***

Keesokan harinya, walaupun Watson sempat memuji-muji deduksiku tentang betapa tepatnya aku menebak ketiga entri dari sepuluh entri yang kucalonkan, aku tahu keadaan hatinya sedang murung.

”Boxinite, Watson! Boxinite! Tinju akan hidup lebih lama dari bukumu!” kataku mencoba bergurau. Watson mengangkat alisnya mungkin terkejut karena aku tidak biasanya menunjukkan selera humorku. Sobatku yang malang bahkan tidak memiliki semangat untuk memberikan pembelaan pada bukunya.

”Ayolah Watson!” kataku terus terang. ”Tidak baik memikirkan peri hijaumu terus. Setidaknya bukumu akan dimakan orang, kan?”

Watson tiba-tiba mengangkat kepala dari buku yang sedang dibacanya. Keterkejutannya jelas-jelas terlihat dan untuk pertama kalinya semenjak dia mengakui kemampuanku, sobatku mencoba mengelak dari deduksiku.

”Apa maksudmu Holmes? Aku tidak mengerti maksud... mu,”
Aku menatap Watson dengan tajam dan tidak percaya kalau dia berusaha membohongiku!

Tanganku terjulur, ”Berikan kertas itu, Watson! Biar kubakar” kataku meminta kertas Mr. C yang dijadikan Watson sebagai pembatas bukunya. Watson menggenggam kertas itu erat-erat dan aku tahu dia siap mempertahankannya dengan nyawanya.

”Tidak akan Holmes! Tidak akan! Kau boleh melupakan kasus ini tapi aku tidak akan melupakannya!”

Melihat kekuatan tekad di dalam sorot matanya, aku akhirnya menyerah dan menghela napas. Kasus ini sungguh membuatku kerepotan dan membuatku mengeluh beberapa kali bahkan setelah diselesaikan pun.

”Baiklah, Watson!” kataku. ”Sebelum aku melupakan kasus ini, aku ingin kau mengetahui bahwa entri kesukaanmu itu tidak kupilih karena aku tahu kau menyukainya. Jika tebakanku salah, hanya ada dua alasan yang mungkin terjadi. Pertama, aku memang benar-benar salah seperti dalam beberapa kasus yang tidak berhasil kupecahkan yang belum kuceritakan padamu dan kedua, Watson, mereka-lah yang salah! Aku cenderung menyetujui alternatif kedua, Watson, dan sama sekali tidak ada unsur ’nepotisme’ antara aku denganmu. Kau tahu aku bukan orang seperti itu.” Dengan rendah hati aku memakai kata ’tebakan’ dalam penjelasanku dan terpaksa meminjam kata asing yang ingin kulupakan.

Sahabatku sepertinya dapat memahami penjelasanku karena setelah itu dia tersenyum.

”Baiklah, Holmes, aku mengerti! Berkat alasan yang samalah kau tidak mengatakan entri (kata ini kuedit dari kata sebenarnya yang diucapkan Watson) kesepuluh yang ditanyakan Mr. C! Tapi berhentilah MEMBACA PIKIRANKU, HOLMES!” katanya dengan kegalakan yang dibuat-buat.

Aku tersenyum dan berusaha menahan diri atas ketidaksetujuan dengan frasa yang digunakan oleh Watson. ’Membaca pikiran’. Setidaknya dia sudah kembali menjadi Watson yang kukenal. Bodoh tapi dapat diandalkan.

Tulisan ini kutulis malam itu juga sebelum aku berusaha melupakan keseluruhan kasus tersebut dan menyimpannya di suatu tempat yang tidak akan ditemukan siapa pun — kecuali dia detektif sekaliber diriku.

Andai ada yang menemukannya, aku harap dia mencatat baik-baik dalam ingatannya bahwa berbahaya sekali, sekalipun untuk sesaat, jika kau kehilangan penglihatan periferal dan hanya mengandalkan penglihatan fovea (Aku yang Sherlock Holmes sekalipun, yang mampu membedakan jenis abu rokok dari kejauhan berhasil dikecohkan dengan selembar kertas!). Serta jangan melibatkan emosi dalam suatu kasus apalagi jika itu berhubungan dengan wanita.

Salam

Sherlock Holmes.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer fitria evadeni
fitria evadeni at Mr. C (8 years 14 weeks ago)
90

gyaaaaa... baru tau ada fanfic Sherlock holmes disini,
aa saya suka banget Si holmes. khukhukhu.
and saya suka PP anda (Killua zaoldyeck)
kwkwkkw
poin ~ poin

salam kenal :D

Writer Rannah
Rannah at Mr. C (9 years 28 weeks ago)
70

udah lama gak baca fanfic! ini dari point of view si Holmes nya ya? *baru gabung di kemudian.com soalnya saya.. hehe*

Writer lastwritter
lastwritter at Mr. C (9 years 29 weeks ago)

"Holmes kita kedatangan tamu!" Aku berseru girang memanggil temanku. Holmes menemui klien kami dan pandangannya bersinar takjub. Sesuatu yang jarang sekali terjadi.

"Mr. Holmes, Dr Watson --- kenalkan saya," si wanita berbicara dengan suara yang merdu

"Aku tahu! Aku tahu!" kesopanan ala Inggris ternyata tak bisa membendung perasaanku.

Temanku dengan tidak sopan berjalan mengelilingi wanita itu dan menyelidiki lewat kaca pembesarnya. Holmes tidak mengacuhkan lelaki disebelahnya yang merasa risih pacarnya diperlakukan seperti itu.

Tawa wanita itu terdengar seperti musik surgawi. "Perjalanan waktu yang membuat wujud saya kembali seperti semula, Mr Holmes" katanya berusaha menjelaskan tubuh transparannya yang bersinar kehijauan.

Temanku menggeleng tak percaya.
"Pasti ada penjelasan yang masuk akal untuk semua ini, Watson" katanya tanpa mengalihkan pandangan.

"Kudengar dari Mr. C, di masa depan ada teknologi semacam hologram, Watson. Kupikir kita sedang melihatnya"

Aku memandang temanku dengan jengkel karena berusaha merusak kegembiraanku.

Writer franci
franci at Mr. C (9 years 29 weeks ago)
80

"Ayo, Ren. Kita harus bergegas. Satu jam lagi kita sudah harus berangkat" Aku berbicara sambil mematut-matut diri di depan cermin.
.
"Memangnya kita mau kemana?" Ren bertanya heran.
.
Ah, kau mulai lupa lagi. Sepertinya pekerjaan baru membuatmu mudah linglung. Tentu saja kita akan bertamu ke rumah Mr. Watson. Kita harus menghiburnya!"

Writer redscreen
redscreen at Mr. C (9 years 30 weeks ago)
70

waah,
kalau tak baca kasus FF 2010 ku mungkin g bakal ngerti cerita ini sama sekali xD
salam kenal kak lastwritter :D

Writer puthasy_sailormoon
puthasy_sailormoon at Mr. C (9 years 30 weeks ago)
60

keep writing say tak pandai berkomen saya kasih point saja yaa..tolong mampir ke page saya jugaa..thx

Writer lastwritter
lastwritter at Mr. C (9 years 30 weeks ago)

@cat maklumlah kurang 'menggigit' kan ini Holmes yg nulis bukan Watson :D

@145 Poirot ya? aku kurang mengerti ttg 5W+1H itu. Bisa dijelaskan? Dan apa setiap cerita perlu menjelaskan ke 6 kalimat tanya tersebut?

Writer 145
145 at Mr. C (9 years 30 weeks ago)
80

Eh Bien
-
Master Holmes yang terhormat, anda sudah bekerja dengan baik 'memecahkan' kasus ini, tapi sungguh disayangkan anda melewatkan suatu hal penting di dalamnya.
-
Anda menanyakan tentang APA? MENGAPA? dan BAGAIMANA?
Tapi melupakan KAPAN? DIMANA? dan yang terpenting SIAPA?
-
Tak perlu merasa sedih, satu dari tiga bukanlah hal yang buruk.
-
Salam - Kawanmu Yang Tak Pernah Salah

Writer cat
cat at Mr. C (9 years 30 weeks ago)
80

Seharusnya aku kument yg ini dulu.
Setlh bc kasus ff, mr c jd kurang mengigit.

Tp tetep menarik seh.

Writer lastwritter
lastwritter at Mr. C (9 years 30 weeks ago)
70

Lanjutan dari kasus FF 2010