Yogyakarta, I Love You ..

Diana akan segera menepati janjinya untuk bertemu dengan seseorang yang telah lama dikenalnya lewat internet. Beberapa tahun yang lalu, dia berkenalan dengan seorang cowok inisial M, sebut saja Maulana. Asal Yogyakarta. Diana dan Maulana selalu chatingan setiap malam. Hal yang mereka sering bahas seputar mengenai cinta dan jodoh. Maulana lebih tua 3 tahun dari Diana. Kepribadiannya yang dewasa membuat Diana nyaman untuk bertukar cerita. Walaupun keduanya baru kenal, namun chemistry antara keduanya sudah terlihat. Suatu hari Maulana mengajak Diana untuk tatap muka alias ketemuan. Awalnya Diana menolak ajakan tersebut karena takut dengan sosok yang baru dikenalnya. Maulana bisa memaklumi hal tersebut. Pertemanan lewat dunia maya memang lebih sering membawa dampak negatif, bahkan berita sering menyiarkan kabar tindak kejahatan akibat dunia maya. Maulana berusaha meyakinkan Diana bahwa dirinya orang baik-baik. Dia tidak punya niat jahat sedikitpun pada gadis usia 22 tahun tersebut.

Sampai pada akhirnya Diana menerima ajakan Maulana. Dia tidak tahu apa yang membuatnya mudah percaya dengan lelaki ini. Diana berpikir Maulana lah jodohnya. KArena hatinya terus mengatakan hal tersebut. Bulan Juli tahun ini, Diana memasuki liburan semester genap. Liburan panjang tanpa rencana membuatnya berpikir untuk jalan-jalan ke Jogja. Kebetulan Eyang nya tinggal disana. Diana tidak pergi sendiri. Dia ditemani salah satu teman perempuannya.

Sesampainya di Jogja, Diana mengabarkan Maulana lewat sms, sebelumnya mereka sudah saling tukar nomer handphone. Maulana meminta Diana untuk mengirimkan alamat rumah Eyangnya. Diana tidak seratus persen percaya pada Maulana, walaupun mereka sudah dekat, namun tetap saja perasaan takut ditipu menyelimuti hati Diana. Sehari, dua hari pun berlalu, rasanya sia-sia dia sudah datang jauh-jauh ke Jogja jika tujuan awalnya tidak terlaksana. Tujuan awalnya memang hanya ingin bertemu Maulana. Akhirnya Diana memberikan alamat rumah eyangnya pada Maulana secara detail.

"Aku udah di depan rumah eyang kamu!" sapa suara lelaki disaluran telepon.

Diana mengintip dibalik jendela, dia melihat mobil sedan silver parkir tepat depan gerbang rumah eyangnya. Jantung Diana tiba-tiba berdegup sangat kencang. Antara takut bertemu dengan sosok Maulan yang ia dambakan, dan juga takut disakiti orang jahat. Diana memberanikan diri keluar rumah. Maulana keluar dari mobilnya.

"Haaii, maaf ya malem-malem ganggu." Sapa Maulana bersahabat.
"Haaii jugaa mas, iya gak apa-apa kok. Kan mas bisa ketemuannya sekarang toh?" Diana menirukan logat jawa Maulana.

Diana meminta izin pada eyangnya untuk mempersilahkan Maulana masuk. Perasaannya sedikit lebih tenang. Ketakutan itu berubah menjadi kenyamanan tatkala mereka berbincang di ruang tamu hingga larut malam.

"Ya ampunn, udah jam 10, aku pulang dulu yaa. Besok kamu ada rencana? aku siap jadi tour guide kamu!" Maulana terlihat begitu bersemangat menawarkan untuk menjadi penunjuk jalan pada Diana selama di Jogja.

"Hmm, sebenernya sih gak ada, ah beneran nih mas mau jadi tour guide akuuu?? gratis tapi yaa? hahahahaah." Diana sedikit mencairkan suasana dinginnya malam dengan candaanya.

"Tenang aja dek, gratis buat kamu! ajak temen kamu juga yaa! siapa tadi namanya? Mia yaa?? Hmm..yaudah aku pamit yaa?! assalamualaikum."

Diana mengantar Maulana hingga ke gerbang depan. Cahaya lampu mobil Maulana menghilang di persimpangan jalan.

Keesoakan harinya Diana dan Mia memutuskan untuk jalan-jalan ke pantai Parangtritis. Maulana sudah siap mengantar meereka kesana. Sesampainya disana, Mia memberikan kesempatan kepada Maulana dan Diana untuk mengobrol berdua. Mia pergi dengan alasan mencari oleh-oleh.

"Hmmfft, gimana pantainyaa? bagus ndak?" Tanya Maulana yang duduk disebelah Diana.

"Engg..engg,,bagus mas! coba kalo bisa lihat sunset sekalian yaa! pasti lebih keren." Muka Diana berubah exited ketika memandangi hamparan laut di depan matanya.

"Iya, sayangnya, hari ini langitnya mendung, kayaknya akan turun hujan dek." Maulana menatap langit yang tadinya biru cerah berubah menjadi agak ke abu-abuan dan berawan.

"Iya gak apa-apa, mungkin lain kali bisa lihat sunsetnya mas. Makasi ya, udah nganterin aku kesini."

"Sama-sama dek, aku juga seneng kok."

Perbincangan hangat mereka mendadak terhenti karena dikejutkan oleh datangnya seorang wanita yang tiba-tiba menarik tangan Diana dan menamparnya.

"Ohh, jadi ini ceweknya!! kamu jahat mas!! apa-apaan kamu berdua-duaany disini sama anak bau kencur ini?" Wanita itu mengeluarkan kata-kata kasar dan memaki-maki Diana.

"Aduh, Mir, tunggu dulu, kamu salah paham. Aku bisa jelasin semuanya. Mir, miiirrr, mirnaaaaaaaaaaa!!!" Maulana mengejar wanita itu dan meninggalkan Diana sendiri di pinggir pantai.

Pipinya terasa panas karena tamparan wanita yang tidak dikenalnya tersebut. Air mata Diana mengalir. Dia terkejut dengan kejadian itu. Diana segera mengabarkan Mia lewat pesan singkat. Ternyata, Mia sudah balik ke rumah Eyangnya terlebih dahulu karena dipikirnya Diana akan pulang bersama Maulana. Air mata Diana tumpah seketika, ia tidak dapat membendungnya lagi. Langit yang mendung tadi, berubah menjadi rintikan hujan. Diana segera mencari tempat berteduh. Deringan telepon dari Maulana diabaikannya. Ia merasa dikhianati, walaupun mereka tidak ada hubungan khusus. Namun kejadian ini membuatnya shock. Diana terhenti di depan sebuah ruko yang telah tutup. Dia mengusap-ngusap lengannya berulang kali agar terasa hangat. Tiba-tiba datang seorang laki-laki membawa gitar dan berteduh disebelahnya. Lelaki itu mengenakan celana jeans dan kaos hitam. Potongan rammbutnya yang acak-acakan membuat Diana tidak memperhatikan sosok lelaki itu lebih lama.

"Nunggu siapa mbak??" Lelaki itu tiba-tiba bertanya pada Diana.

Diana yang terlihat tidak tenang berusaha menjauh sedikit demi sedikit. Dia mulai panik dan ketakutan. Tempat yang ia tidak ketahui sebelumnya, dan orang-orang disana sangat asing baginya.

"Mbak, jangan takut! saya orang baik-baik lagi. Kayaknya lagi patah hati ya? kok matanya bengkak?abis nangis yaa? Eitss..eitss tunggu tungguu.. tunggu.. itu ceplakan apa di pipi?? kok merah-merah gitu??" Lelaki itu semakin membuat Diana takut.

"Bukan urusan kamu!!!!" Diana menonjolkan sikap tidak ramahnya.

"Ow, yaudah emang bukan urusan saya kok."

Lelaki itu tidak menanyakan hal-hal lain kepada Diana. Dia hanya mengenjreng gitarnya dan bernyanyi. Diana tersentak. Suara laki-laki itu terdengar bagus. Suaranya sangat merdu. Diana sejenak melupakan kejadian tadi sore di pinggir pantai. Ia seperti terhipnotis dengan suara laki-laki yang terlihat seumuran dengannya. Hujan mulai mereda, dan Diana tak tahu jalan pulang. Satu-satunya cara pulang adalah naik taksi. Tetapi taksi tak kunjung lewat.

"Nunggu apa mbak? taksi? kalo disini jarang taksi. Kalo mau saya cariin dulu." Lelaki itu seakan bisa membaca pikiran Diana.

Diana mengacuhkan obrolan laki-laki tersebut. Matanya terus tertuju pada layar handphone. Ia berharap Maulana menghubunginya lagi. Namun, rasanya tidak mungkin, Diana berkali-kali me-reject panggilan Maulana tadi sore. Dan tidak mungkin Maulana berani menghubunginya lagi.

Beberapa menit kemudian, muncul taksi dihadapannya. Lelaki disebelah Diana tadi benar-benar mencarikan taksi untuknya. Ia mempersilahkan Diana masuk ke dalam taksi. Diana merubah pikirannya bahwa lelaki ini adalah orang baik. Diana langsung masuk ke taksi. Dan ia lupa mengucapkan terimakasih pada lelaki tersebut. Akhirnya Diana bisa sampai di rumah dengan segera setelah menenmpuh perjalanan 1 1/2 jam dari parangtritis.

Sebelum Diana tidur, ia mendapat sms dari Maulana.

"Dek, maaf sebelumnya atas kejadian tadi sore. Pasti kamu marah sama aku! pasti kamu nganngep aku laki-laki yang gak bener. Maaf sebelumnya, aku memang belum cerita tentang Mirna. Iya, Mirna yang tadi sore menampar kamu adalah tunanganku. Aku baru saja ingin menceritakannya pada mu tadi sore, namun Mirna keburu menemukan kita dipantai. Aku gak ada niat jahat sama kamu. Aku anggep kamu kayak adek aku. Gak lebih an. Aku pernah ceritakan ke kamu bahwa adek perempuan ku meninggal karena kecelakaan?? Setelah aku kenal sosok manja dan kekanak-kanakanmu aku seperti menemukan kembali sosok adikku itu. Aku mohon dek, kamu jangan marah sama aku. aku mohon bales sms aku....please..."

Diana mengabaikan pesan tersebut dan pergi tidur.

Keesokan harinya, Diana memutuskan untuk balik ke jakarta. Mia yang tidak tahu menahu tentang kejadian dipantai itu terus bertanya pada Diana, namun Diana belum sempat menceritakkannya. Saat Diana, sedang sibuk mengemasi barang-barangnya. Eyangnya memanggilnya.

"Ada yang nyari kamu diluar ndok?! lihat sana..dari tadi dia nungguin kamu."

Diana tidak enak hati dengan eyangnya apabila ia menolak suruhan eyangnya tersebut. Ia tidak mau dianggap anak pembangkang. Diana segera pergi ke luar dan menemui orang yang mencarinya itu. Diana tidak terkejut, ternyata orang itu adalah Maulana. Diana membiarkan Maulana menjelaskan segalanya padanya. Diana hanya terdiam dan seakan mengacuhkan penjelasana Maulana. PAdahal ia sangat menyimak siap kata yang Maulana keluarkan. Lelaki yang baru dikenalnya tersebut sudah membuatnya buta. Diana terlalu lemah untuk masalah perasaan.

"Aku mohon dek, kamu bisa ngertiin aku. Besok, aku akan ngelangsungin pernikahan. Aku harap kamu datang. Aku gak terlalu berharap banyak, tapi aku mohon semoga kamu nyempatin waktu untuk datang." Maulana menyerahkan selembar undangan warna putih susu.

Diana tidak mengiyakan bahkan hanya sekedar mengangukkan kepala tanda setuju. Kepalanya kaku dan bibirnya kelu. Hatinya sesak, Lelaki itu akan menikahi orang lain. Lelaki yang baru dikenalnya singkat itu, akan mengakhiri masa lajangnya.

Maulana pulang dengan wajah tertunduk. Dia masih belum bisa mendapatkan kata maaf dari adek angkatnya tersebut. Diana kembali ke dalam rumah.

Keesokan siangnya, Diana mendatangi rumah yang telah dihiasi janur kuning tersebut. Para tamu undangan sedang asyik menyantap menu yang telah dihidangkan. Diana mencoba menguatkan diri. Sebelum memasuki rumah, Diana terkejut, Ia kembali bertemu dengan sosok laki-laki yang ditemuinya di depan ruko saat hujan beberapa hari yang lalu. Lelaki itu mengenakan batik dengan tambahan topi fedora putih.

"Haai, eh ketemu lagi kita! apa kabar mbakk?? waduh kok kita bisa ketemu disini yaa?" Lelaki itu lebih terlihat agresif pada Diana.

Perawakannya yang petakilan dan tidak bisa diam, membuat Diana tidak berhenti memandangi tingkah polanya. Lelaki itu terlihat menggendong gitarnya lagi.

"Heii, kalian udah saling kenal??" Tiba-tiba Maulana dan pendampingnya menghampiri mereka berdua.

Diana sedikit takut bertemu dengan Mirna. Namun kali ini Mirna lebih terlihat anggun dan bersahabat. Malah, dia meminta maaf atas kesalahpahamannya beberapa hari yang lalu.

"Dim, kenalin ini Diana... Diana ini Dimas!" Maulana saling memperkenalkan dua remaja di hadapannya.

"Oh, namanya Diana, hey gue Dimas..gue adek sepupunya mas Maulana.." Dimas menyodorkan tanggannya untuk berjabatan dengan Diana.

Dan Diana menerima ajakan salaman tersebut dengan hangat.

"Gue Diana..." Jabatan erat singkat itu membuat mereka saling bertatap muka.

"By the way, makasih buat taksi waktu itu..." Diana teringat akan kejadian waktu itu, Dimas bersedia mencarikan taksi untuknya walaupun tidak di minta, dan Diana lupa mengucapkan terimakasih.

"Hahahahahah, iyo sama-samaa dianaaaa..."

Diana tidak tahu tentang suratan takdir. Diana hanya tahu, Ia pernah kecewa disini. Disini juga ia ditunjukkan bahwa Maulana bukanlah jodohnya. Dia juga tidak tahu apakah Dimas adalah jodoh untukknya. Saat ini ia hanya merasa jantungnya berdegup kencang, dan ia ingin sekali berkata

"Yogyakarta, I Love You" sama halnya seperti, ia ingin mengungkapkan pada pemuda-pemudanya.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer NADIIRE
NADIIRE at Yogyakarta, I Love You .. (7 years 1 week ago)

kenapa 'Yogyakarta'?
Kenapa bukan Paris atau Bandung atau Rawa Buaya?

...karena ketika saya ganti semua kata 'Yogyakarta' dengan 'Pulogadung' pun, semuanya terasa sama

Writer cerpenara
cerpenara at Yogyakarta, I Love You .. (9 years 1 week ago)

hwaaa... ceritanya simple tapi tetep keren :)

Writer kavellania
kavellania at Yogyakarta, I Love You .. (9 years 2 weeks ago)
70

iya temanya klasik. aku tertarik karena ada kata "yogjakarta" tp ketika aku membacanya, ak kecewa karena tidak menemukan "aroma" yogjakartanya di sini. seolah yogjakarta hanya sekedar kata"Yogja"
terus gaya berceritanya kamu itu loh kayak "kurang cerita" maksudku aku membacanya seperti baca laporan kopdaran gitu
selebihnya bagus dan kreatif kok. belajar lagi ya say
mampir ke tempatku. salam kenal :)

Writer dede
dede at Yogyakarta, I Love You .. (9 years 2 weeks ago)
50

sebenernya temanya klasik, cukup bagus. tapi menurutku penggambaran perasaan kurang begitu kena. rasanya ceeritanya kurang detail. mungkin akan lebih bagus kalo dibuat lebih detail n dibuat cerita bersambung.sori klo sok teu, aku juga baru belajar. hehe
komen di punyaku juga yak.... ^^

wah terimakasih sudah nyempatin mampir..oke nanti akan diperbaiki..saya rasapun begituu pendalaman karakter jgua belum begitu dalamm..sehingga kurang ada rasa gregetnyaa terimakasih sekali lagi yaaaa

Writer dede
dede at Yogyakarta, I Love You .. (9 years 2 weeks ago)

sama sama ^^
komen di tempatku jg yak... tq ^^