di dalam hujan

“ Khoiri, latihannya kan sudah selesai?!” Gerutu Zahra, teman sejak kecilku yang tomboy.

“ Iya, nih! Kamu terlalu bersemangat!” Kata Ilyas menghela napas. Aku hanya tersenyum kearah mereka sambil tetap memainkan bolaku.

“ Eh, mulai mendung. Kayaknya bentar lagi hujan. Pulang, yuk!” Ajak Ilyas. Zahra pun mengiyakannya. Mereka berdua mengajakku pulang bersama, tapi aku hanya tersenyum sambil berkata, “Nanti saja! Aku masih ingin bermain....”mereka berduapun berlalu meninggalkanku sendiri.

Lapangan dibawah jembatan. Tempat yang paling sering kukunjungi untuk bermain bola. Tapi nggak asyik! Aku cuma bisa main sendiri. Teman-temanku yang lain selalu menjawab sama ketika kuajak.

“Capek, ah! Kamu ini terlalu bersemangat Khoiri!”

Seperti itulah jawaban mereka. Kenapa, sih?! Yah…. Aku juga bingung. Aku tdak pernah merasa capek saat bermain yang namanya sepak bola. Rasanya ingin sekali aku bertanding melawan seseorang hingga tak sanggup lagi berlari mengejar bola. Pasti menyenangkan sekali! Tapi… sampai sekarang aku belum bisa menemukan orang yang tepat.

“ Eh, mulai hujan….” Hujan pun mulai membasahi lapangan tapi aku tetap memainkan bolaku. Saat mendongak ke atas, tatapanku bertemu dengan seorang anak perempuan diatas jembatan. Sepertinya seusia denganku. Dia memakai baju dan celana panjang berwarna putih. Dia terus memandangiku.

Siapa, ya, anak itu? Baru pertama kali ini aku melihatnya. Orang baru, ya? Pikirku.

Aku pun memutuskan untuk menyapa anak itu.

“HEI !! APA YANG KAU LAKUKAN DISANA??” teriakku. Tapi anak itu tidak memberikan reaksi sedikitpun. Hujan semakin deras dan aku agak kesulitan mengamati wajah anak itu.

“MAU MAIN BERSAMAKU TIDAK??” teriakku sekali lagi. Mendengar hal itu, anak itu langsung berlari menuju ke lapangan. Anak itu berdiri beberapa meter dihadapanku. Sekarang aku bisa melihatnya dengan jelas. Rambutnya panjang terurai berwarna coklat, matanya sayu, hidungnya mancung, kulitnya putih bersih, wajahnya ramah, tapi entah mengapa dia tidak memakai alas kaki. Akupun tersadar dan segera kuulurkan tanganku.

“Hai! Namaku Khoiri. Siapa namamu?” tanyaku sembari tersenyum. Anak itu pun menjabat tanganku. Tangannya terasa dingin. Mungkin karena hujan.

“ Audrin…” Jawabnya.

“ Nama yang aneh…” Bisikku. Anak itu hanya tersenyum.

Kami pun berbincang-bincang didalam derasnya hujan. Audrin sangat ramah dan murah senyum. Katanya, ia sangat menyukai hujan. Hujan adalah hidupnya. Ia mengatakan hal itu sambil nyengir. Aku juga sangat menyukai hujan. Karena hujan itu penuh keajaiban dan menyejukkan. Audrin anak yang baik. Bagiku ia adalah anak yang sangat menarik. Tidak banyak yang kuketahui tentang Audrin. Yang kutahu, dia terlahir disaat hujan gerimis turun. Itu katanya.

“ Kau juga menyukai sepak bola, ya?” tanyaku.

“ Iya. Tapi karena Audrin perempuan, paman melarang Audrin bermain sepak bola…” Katanya. Sekilas tampak ekspresi sedih diwajahnya.

“ Memangnya kenapa kalau kau itu cewek…? Aku juga punya teman cewek yang selalu bermain sepak bola bersamaku. Namanya Zahra. Anaknya tuh cantik tapi tomboy banget!” jelasku.

“ Zah-ra….?” Gumam Audrin.

Hujan mulai reda. Audrin terlihat begitu tergesa-gesa.

“ Ada apa?” Tanyaku

“ Hujan mulai reda. Audrin harus segera pulang…” Katanya sambil tersenyum

“ Oh, ya sudah…! Nanti kita ketemuan lagi, ya Audrin……?”

“ Ya… Kalau hujan turun lagi, Audrin pasti akan datang…” Itulah yang iya katakan padaku sebelum pergi seiring redanya hujan.

Keesokan harinya saat di sekolah, aku terus memikirkan Audrin. Zahra dan Ilyas menghampiriku yang senyum-senyum sendiri di bangkuku.

“ Hari ini kamu aneh sekali, Khoiri!” Sapa Ilyas.

“ Jangan-jangan kamu bertemu gadis cantik di lapangan itu lagi…?” Goda Zahra.

“ Ya… aku memang bertemu seseorang kemarin…” Jawabku.

“ Eh ?!! Cantik nggak?! Gimana ceritanya?!!” Tanya Ilyas semangat. Wajah Zahra tampak suntuk. Aku tertawa melihat ekspresi wajah mereka itu.

“ HaHa…! Kalian ini kenapa, sih…?!” Kataku berusaha menahan tawa.

“ Loh..? Kamu itu yang kenapa, bego!?” Kesal Zahra.

“ Ng…? Mm… HiHi…” Zahra dan Ilyas terheran-heran melihat aku yang tertawa nyengir sendiri itu.

“ … Begini, kemarin aku bertemu dengan seorang anak perempuan yang cantik. Dia sangat baik dan ramah juga menarik. Aku jadi ingin bertemu dengan anak yang bernama Audrin itu lagi…” Harapku. Zahra terdiam sesaat.

“ Huah… Kenapa selalu kamu, sih, Khoiri ?!” Kesal Ilyas.

“ Huh..! Semenarik apa, sih anak itu…?” Kata Zahra ketus.

“ Pokoknya bagiku dia itu sangat menarik…!” jawabku sembari tersenyum menerawang. Zahra dan Ilyas diam sesaat.

“ Kau suka padanya, ya…?” Tanya mereka hampir bersamaan.

“ Ya… Kurasa aku ‘suka’ padanya…” Jawabku datar.

“ APUAAA?!!” Pekik Zahra.

“ Jangaaan…!! Aku mohon jangan, Khoiri…!!” Kata Ilyas memohon. Aku terdiam sesaat.

“ Hei…! Hei…! Jangan salah paham dulu teman-teman!! Rasa ‘suka’ yang kumaksud itu berbeda, tahu…!! Aku kan baru bertemu dengannya kemarin…?!” Bantahku. Zahra dan Ilyas tidak menanggapiku. Mereka berdiri menjauh.

“ Terserah kalian mau bilang apa tentang perasaanku!! Entah bagaimana menjelaskannya… Yang jelas, aku ‘suka’ Audrin..! Audrin itu temanku yang beharga!!! “ Kesalku kemudian berlari keluar kelas.

“ Wah, baru kali ini aku melihat Khoiri sekesal itu…” Gumam Ilyas. Zahra hanya diam tidak berkomentar apa-apa.

Aku berlari kearah halaman sekolah. Kulepaskan lelahku ditempat sepi itu.

“ Kenapa, sih mereka itu ?! Apa salahnya aku berteman dengan Audrin..?! memangnya salah kalau aku ‘menyukai’ Audrin….?!! AARRGH!!!!!” Sikapku saat itu seperti orang bodoh saja. Tapi, entah mengapa aku begitu kesal saat mereka menyinggung tentang Audrin. Mungkin aku… benar-benar menyukai Audrin…?
Tanpa aku sadari hujan turun sejak tadi. Aku jadi basah kuyup.

“ Kenapa wajah Khoiri seperti itu…?” aku terkejut dan langsung berbalik ke sumber suara itu.

“ Audrin…?!!” Girangku agak terkejut.

“ Kau tidak sekolah?” Tanyaku pada Audrin. Ia hanya tersenyum seperti biasa.

“ Audrin kan sudah bilang, hujan adalah hidup Audrin. Tanpa hujan, Audrin hanya ‘boneka’, seperti ‘mayat hidup’. Berjalan kesana-kemari tanpa arah dan tujuan. Tidak bisa merasakan senang, sedih, marah… Ah?! Maaf…! Audrin jadi ngomong yang tidak-tidak…” Kata Audrin sambil tersenyum nyengir.

Entah mengapa aku merasa iba melihat Audrin. Sebenarnya, kehidupan seperti apa yang ia jalani? Hidupnya bergantung pada hujan… kehadirannya pun bergantung pada hujan. Aku ingin… selalu berada disamping Audrin, karena dia adalah ‘teman’ku. Aku ingin menjadi seseorang yang bisa membuatnya melupakan semua masalahnya. Tapi Audrin tidak pernah mau menceritakan tentang kehidupannya. Setiap kali kutanya, dia hanya tersenyum sambil berkata, “ Terkurung dalam masa lalu yang kelam itu percuma, masa depan yang cerah telah menanti. Lebih baik menatap masa depan, kan…?”

Tanpa kusadari Zahra meihat kami. Ia segera menegurku.

“ Hei, Khoiri! Apa kau tidak kedinginan, hujan-hujan seperti itu? Dasar bodoh!” Ledeknya.

“ Berhentilah mengataiku bodoh, Zahra…!!” Geramku. Zahra memandangi Audrin. Entah mengapa sorot matanya terlihat berbeda. Audrin pun sama. Ia yang biasanya tersenyum lembut, menatap ‘lain’ Zahra. Ada apa sebenarnya…?
Zahra mengalihkan pandangannya kearahku.

“ Cepat masuk sana dan keringkan badanmu! Nanti kamu masuk angin, lagi!” Perintah Zahra.

“ Baik, kapten! Eh, Audrin! Aku pergi dulu, ya!” Kataku seraya berlalu meninggalkan Zahra dan Audrin.

* * *

Lama sekali Audrin dan Zahra berdiam-diaman dan akhirnya Zahra pun membuka pembicaraan.

“ Jadi kau, ya, Audrin si ‘anak hujan’ itu…?” Tanya Zahra. Audrin tersenyum. Tapi senyumnya terlihat sangat berbeda.

“ Hm… Az Zahra, anak yang memiliki kekuatan spiritual yang hebat. Tak kusangka kita bisa bertemu ditempat seperti ini…! Lalu, sejauh mana kamu tahu tentang Audrin…?” Tanya Audrin. Tatapan Zahra terlihat begitu tajam.

“ Tidak begitu banyak yang kuketahui tentangmu. Karena aku lebih sering bertemu dengan ‘dirimu yang lain’ di jalan… uhm…! Sejak lahir kau dijuluki ‘anak hujan’. Kau terlahir ditengah malam saat hujan gerimis. Tetapi, keesokan harinya saat hujan berhenti, kau…. ‘bagaikan tak bernyawa’…” Audrin tersenyum.

“ Orang tuamu sempat mengira kau telah mati. Tapi setelah itu hujan turun dan kau pun menangis selayaknya bayi normal. Keluargamu menganggapmu aneh. Kau selalu dianiaya, dikurung dalam kerangkeng terbuka diluar rumah. Kau tidak punya teman, karena semuanya menganggapmu aneh dan akhirnya menjauhimu. Kau dijuluki ‘setan hujan’…, karena rasa kesepianmu yang begitu besar dan egomu yang berlebihan, kau berkeliaran ditengah hujan dengan wajah memelas. Menyeret orang-orang ‘bodoh’ kedalam kehidupanmu dan mengurung mereka bersama masa lalumu yang kelam…” Zahra diam sesaat.

“ …Jadi kali ini sasaranmu adalah Khoiri, ya…?” tanyanya sembari tersenyum ’aneh’. Audrin tidak memberikan reaksi apa-apa.

“ Jangan ikut campur!” perintah Audrin.

“ Hm..? aku tidak akan ikut campur, karena… kau tidak akan mungkin bisa menyakiti orang seperti dia…” Kata Zahra sembari tersenyum dan beranjak pergi.

“ Apa maksudmu?!!” bentak Audrin.

Zahra pun berbalik kearah Audrin seraya berkata, “Anak seperti dia tidak akan mungkin disakiti oleh orang sepertimu. Karena dialah yang akan ‘menghidupkan’ dirimu yang telah ‘mati’ itu…” Wajah Audrin terlihat seperti menahan amarah.

“…Dia ‘menyukai’mu. Dan aku yakin kau pun ‘menyukai’ Khoiri, Audrin…” kata Zahra seakan bisa membaca pikiran Audrin.
Hujan mulai reda dan sosok audrin pun mulai menghilang.
‘Dialah yang akan menghidupkan dirimu yang telah mati itu…’

“ Khoiri…” Gumam Audrin.

* * *

Hari itu sepulang sekolah, aku, Zahra, dan Ilyas pergi ke mini market. Aku bermaksud membeli sesuatu untuk Audrin. Aku tidak sabar lagi ingin memberikannya pada Audrin. Kuharap dia menyukainya.

Ilyas masih tetap menjauhiku. Tapi entah mengapa semenjak hari itu Zahra jadi aneh. Dia tidak seperti biasanya dan tidak banyak berkomentar lagi. Apa yang dibicarakannya dengan Audrin, ya…?

Sepulang dari mini market, aku pun memberanikan diriku bertanya pada Zahra.

“ Zahra! sebenarnya apa yang kau bicarakan dengan Audrin waktu itu…?” Zahra melirik kearahku sambil meneguk ‘Mizone’-nya.

“ Mm… bukan hal yang penting…” Jawabnya. Aku terus memandanginya. Zahra mulai menunjukkan wajah bosan.

“ Kenapa? Penasaran? Kami hanya membicarakan tentang dirimu, itu saja!” Jawabnya ketus.

“ Aku…?” Tanyaku heran. Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
“Oh, iya! Kenapa kau tidak berkomentar apa-apa lagi tentang hubungan pertemananku dengan Audrin…?” Tanyaku.

“ Untuk apa? Kau mau aku melarangmu berteman dengannya karena dia itu aneh…?” tanyanya dengan tatapan bosan. Mendengar hal itu aku mulai kesal.

“ Percuma!” Kata Zahra ketus.

“ Eh? Apa…?”

“ Meskipun aku melarangmu berteman dengannya, itu percuma! Kau itu keras kepala! Meskipun aku dan dia sama-sama temanmu, tapi entah mengapa… aku merasa iri padanya. Mungkin karena hal ‘itu’, ya…?” Katanya sambil tersenyum lembut. Saat itu, Zahra benar-benar terlihat hangat. Cantik sekali…
Mataku tertuju pada seseorang diujung jalan.

“ Bukankah yang tadi itu Audrin…?!” Aku hendak mengejarnya tapi Zahra mencegahku.

“ Tunggu, Khoiri! Dia bukan Audrin. Kau pasti salah lihat!” Katanya serius.

“Kau ini ngomong apa, sih?! Jelas-jelas itu Audrin, kan…?” Aku langsung berlari kearah Audrin dan segera kutarik lengannya.
“Audrin…!” Audrin pun menoleh kearahku. Aku terkejut melihat ekspresi yang tergambar diwajahnya. Bisa dibilang… ‘tidak ada’.

“Audrin, apa yang terjadi…?” Tanyaku cemas.

Audrin terlihat begitu berbeda. Wajahnya terlihat begitu dingin dan tatapan matanya begitu suram. Berbeda sekali dengan Audrin yang kukenal. Audrin mengangkat tangan kanannya dan mengepalkannya.

“ Hentikan, Audrin….!!!”

BRUAKK!! Pukulan Audrin mengenai wajah Zahra yang berusaha melindungiku. Aku tercengang.

“Audrin…? Kenapa kau…?” Audrin tidak peduli sedikitpun. Wajahnya tetap dingin. Ia terlihat seperti boneka. Zahra terus berusaha melindungiku dari Audrin.

“ Khoiri…! Apapun yang terjadi, jangan dekati Audrin! Saat ini dia bukanlah Audrin…” Kata Zahra.

“ Bukan Audrin…? Kenapa? Apa maksudmu, Zahra….?” Tanyaku. Zahra bangkit dari tempat ia terjatuh.

“ Ternyata benar dugaanku. Waktu ‘itu’ juga… Kau membunuh ‘mereka’ dalam keadaan seperti ini, kan, Audrin…?” Kata Zahra serius. Audrin tidak merespon sedikitpun.

“ Membunuh…?” Tanya Ilyas heran.

“ Apa maksudmu, Zahra…?” Tanyaku.

“ Khoiri, kau ingat cerita tentang ‘setan hujan’ yang kuceritakan padamu beberapa bulan yang lalu…?” Tanyanya. Akupun mengangguk.

“ Dialah yang kumaksud.” Petir terasa menyambar. Mendengar hal itu, aku tidak tahu harus apa.

“ Kau bohong…!” Ucapku kesal. Zahra terdiam. Aku berbalik kearah Audrin dan langsung menggenggam tangannya.

“ Itu tidak benar, kan Audrin…?!” Audrin melayangkan tinjunya ke pipi kananku. Aku pun terhempas.

“ Ugh…!” Aku berusaha berdiri dan kembali memegang lengan Audrin.

“ Ada apa Audrin? Kenapa kau seperti ini ?! Audrin hendak melayangkan pukulannya lagi tapi Zahra segera menarikku.

“ Percuma, Khoiri! Saat ini dia hanya ‘boneka’. Dia tidak mungkin ingat padamu.” Jelas Zahra. Tampak raut wajah Zahra begitu serius. Melihat hal itu, Ilyas berlari menjauh. Entah kemana perginya.

“ Kenapa…?” Aku mendekat kearah Audrin.

“ Khoiri!!” Pekik Zahra.

“ Kenapa, Audrin…? Kau bilang aku ini temanmu. Lalu, kenapa kau bersikap seperti ini?!” Kesalku. Audrin hendak menghajarku.

“ Khoiri…!! Apa yang kau lakukan?!!” Pekik Zahra.

“ Ayo pukul aku!! Jika memang itu akan membuatmu puas, ayo pukul!!!” Aku memejamkan mataku. Audrin pun melayangkan pukulannya di wajahku. Sesaat tidak terjadi apa-apa. Akupun membuka mataku. Kepalan tangan Audrin terhenti 5 cm dari wajahku. Wajahnya terlihat menderita.

“ Ce…pat…per-gi…kho..iri…!” Ucap Audrin terbata-bata.

“ Audrin…?” Wajah Audrin benar-benar terihat menderita. Ia segera berbalik hendak pergi. Aku segera menggenggam tangannya.

“ Tunggu, Audrin!” Audrin menoleh kearahku. Betapa terkejutnya aku melihat wajah dingin Audrin yang tak berekspresi, di matanya yang suram mengalir air mata.

“ Audrin?!” Audrin menghempaskan tanganku. Segera kupeluk dia erat-erat.

“ Sadarlah Audrin…!!” Audrin melayangkan pukulannya kearahku secara bertubi-tubi.

“ Khoiri!!!” Zahra tidak tahu harus berbuat apa. Audrin terus menghajarku.

“Audrin…! Ugh..! mes-kipun Zahra… ber-kata seperti itu… aku… tetap percaya pada Audrin…!” Tangan Audrin tidak henti-hentinya menghajarku. Air mata Audrin semakin menjadi.

“Audrin adalah temanku…! Aku suka Audrin! Aku sayang Audrin! Audrin yang dijuluki ‘setan hujan’, Audrin yang dijuluki ‘boneka es’, maupun Audrin yang selalu tersenyum bagiku sama saja! Audrin tetaplah Audrin! Dan selamanya akan tetap menjadi Audrin , temanku yang berharga. Aku percaya pada Audrin…! Audrin adalah sahabatku…!!” Audrin berusaha menghentikan pukulannya tapi tak bisa.

“AUDRIN…..!!!” Ilyas kembali bersama dengan seorang dokter. Dokter itu langsung memeluk Audrin.

“Hentikan Audrin!! Aku sudah bilang, jangan pernah berkeliaran saat hujan!!” Kata dokter itu. Audrin hanya terdiam. Dokter itu menoleh ke arahku.

“Maaf atas kelakuan Audrin…. Kau tidak apa-apa, kan…?” Tanyanya cemas.

“Anda siapa?” Tanyaku

“Saya Dokter Surya, paman Audrin…” Jawabnya. Aku menatap sinis orang itu.

“Apa yang terjadi pada Audrin sebenarnya…?” Tanyaku. Ia diam sesaat,

“Ng… sebenarnya…”

Dokter itu pun menceritakan semuanya padaku.
Barawal dari 3 tahun yang lalu. Teman pertama Audrin, Alfin, tewas tertusuk pisau. Audrin si boneka es lah pelakunya. Saat itu Audrin tidak sengaja mendengar pembicaraan Alfin dan teman-temannya.

“Hei, Alfin! Bagaimana dengan si anak hujan itu?” Tanya temannya.

“Yaa… dia cukup menyenangkan juga.” Jawab Alfin.

“Jadi sekarang kau benar-benar menganggapnya ‘teman’…?” Alfin sontak berdiri.

“Jangan bercanda!! Mana mungkin aku berteman dengan anak aneh seperti itu…?!” Alfin tidak sengaja melihat Audrin.

30 menit setelah itu, sesaat setelah hujan reda, Alfin ditemukan sudah tak bernyawa lagi di halaman sekolahnya.

Setahun kemudian, Fadil pun mengalami hal yang sama. Penyebabnya tidak terlalu berbeda. Fadil kesal karena Audrin hanya bisa hadir di waktu tertentu saja. Audrin yang merasa tidak dihargai oleh temannya itu pun menenggelamkan Fadil kedalam danau di dekat rumah Fadil.

Setahun pun berlalu dan Audrin bertemu dengan Ardi. Berbeda dengan Alfin dan Fadil, Ardi begitu baik dan sopan juga ramah. Cukup lama Audrin bersama dengan Ardi. Ardi merupakan orang kedua yang mengetahui tentang kehidupan Audrin setelah Dokter Surya. Ardi juga sudah tahu entang Alfin dan Fadil. Tapi, suatu hari saat Ardi berada di jembatan bersama Audrin…

“Audrin, aku mau minta maaf. Aku sudah tidak tahan lagi. Kau selalu mengeluh tentang dirimu padaku, namun aku tidak dapat berbuat apapun. Mungkin pertemanan kita Cuma bisa sampai disini saja…” Mendengar hal itu, Audrin benar-benar marah. Melihat hal itu, Ardi tersenyum.

“Aku tahu kau marah padaku. Nih…! Pistol ini aku curi dari ayahku. Sasarkanlah tepat disini, di jantungku. Itu akan membuatku mati seketika…” Kata Ardi sambil tersenyum sembari menyodorkan sebuah pitol. Audrin pun segera meraih pistol itu.

“Aku senang Audrin mau mempercayaiku. Tapi sebagai teman aku sudah gagal…”

DOOORRR!!!!

Setelah tewas seketika, mayat Ardi terjatuh ke sungai. Audrin hanya memandangi aliran sungai yang kini berwarna merah itu dalam diam.

“Jiwanya telah terbelenggu. Meskipun hujan bisa membebaskan jiwanya, namun itu hanya untuk sesaat.” Jelas Dokter Surya.

“Tidak! Aku tidak boleh membiarkan Audrin seperti ini terus!” Segera kutarik lengan Audrin.

“Audrin! Kau selalu bilang padaku bahwa terkurung dalam masa lalu yang kelam itu percuma. Lalu, kenapa kau jadi seperti ini?! Sadarlah, ini tidak ada gunanya!!” Audrin melangkah mundur sedikit demi sedikit. Ia hendak pergi menjauh. Aku pun mulai kesal padanya.

“Dasar Audrin bodoh!! Percuma kau mempunyai teman jika akhirnya kau akan sendiri juga!! Jangan menanggung semua masalah sendirian…!!” Audrin mulai berlari menjauh.

“Dasar!! Kau selalu saja begitu. Membuat orang lain cemas. Apa kau paham kegelisahan seperti apa yang kurasakan…?!”

Audrin menoleh kearahku sambil terus berlarimenjauh.

“Kalau memang akhirnya kau akan sendirian lagi, lalu buat apa aku menjadi temanmu Audrin sialan…!?!!”

Audrin menghentikan langkahnya tepat di badan jalan. Wajahnya terlihat begitu tercengang.

“Audrin…? Gawat! Dia harus segera menghindar, kalau tidak truk itu akan…!!” Pekik Zahra.

“Cih! SIALAN KAU AUDRIN!!!” Aku segera berlari kearah Audrin. Mobil truk yang tak tentu arah itu melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi.

“AUDRIN….!!!”

BRUAK!!!

* * *

“AUDRIN….!!!”

BRUAK!!!

Audrin terhempas ke tepi jalan karena didorong oleh Khoiri. Dia begitu terkejut menatap Khoiri yang tergeletak ditanah.

“KHOIRI….!!!” Pekik Zahra

Gerimis mulai membasahi. Tiba-tiba Audrin teringat akan Alfin, Fadil, dan Ardi.

“Apapun yang mereka katakan tidak usah diperdulikan! Mereka tidak tahu arti ‘teman’ yang sesungguhnya. Kau adalah temanku. Ingat itu baik-baik…!” kata Alfin.

“Kenapa Audrin hanya bisa hadir saat hujan…? Padahal Audrin adalah satu-satunya teman yang mengerti aku. Tidak bisakah kita bertemu lebih sering lagi…?” Kata Fadil.

“Audrin tidak boleh menanggung masalah sendirian. Itulah gunanya teman. Aku senang Audrin mau percaya padaku…!” kata Ardi.

Yah… selama ini aku telah salah paham. Aku telah menyia-nyiakan teman yang begitu berharga dalam hidupku. Kenapa aku begitu terpengaruh pada egoku…?! Batin Audrin.

‘kalau memang akhirnya kau akan sendiri lagi, lalu buat apa aku menjadi temanmu Audrin sialan…!?!!’

“Khoiri…?!” Audrin bangkit dari tempat ia terjatuh dan segera menghampiri Khoiri.

“Khoiri…?” Audrin mengguncang-guncangkan tubuh Khoiri yang tak kunjung bangun.

“Khoiri tidak boleh meninggalkan Audrin sendirian! Khoiri teman Audrin! Audrin minta maaf…! Audrin tidak mau sendiri lagi!!” Kata Audrin. Sesaat Audrin menangis tetapi setelah itu wajahnya terlihat begitu serius.

“Paman, cepat bawa Khoiri ke rumah sakit!” Pinta Audrin.

“Tapi…!!”

“Audrin akan ikut! Tidak usah pedulikan Audrin!!” Kata Audrin.

Audrin, Zahra, Ilyas, dan Dokter Surya pun segera membawa Khoiri ke rumah sakit menggunakan mobil Dokter Surya. Selama perjalanan Audrin terus menggenggam tangan Khoiri. Tangannya yang dingin terasa begitu hangat bagi Khoiri.

DEG! Audrin terlihat begitu kesakitan tapi ia berusaha menahan rasa sakit itu. Dalam keadaan setengah sadar, Khoiri menguatkan genggaman tangannya.

“Aku percaya, kau adalah anak yang kuat Audrin… Dengan atau tanpa hujan… Audrin tetaplah Audrin…” Bisiknya lemah.

* * *

Semalaman aku dirawat di rumah sakit. Ayah dan ibu sangat cemas ketika mendapat kabar dari Zahra dan Ilyas mengenai hal yang menimpaku. Dan saat tersadar, Audrin lah satu-satunya yang menjagaku. Ia tertidur pulas disampingku. Sepertinya dia menjagaku semalaman.

“Mm… Alfin…, Fadil…, Ardi… maafkan Audrin…” Igau Audrin. Aku hanya tersenyum melihatnya.

Audrin pun tersadar. Dia begitu terkejut melihatku.

“Khoiri sudah sadar?! Khoiri tidak apa-apa?! Khoiri baik-baik saja, kan…?!” Cemasnya. Aku tertegun melihat sikapnya itu. Audrin diam sesaat lalu menghela nafas panjang.

“Maaf… gara-gara Audrin, Khoiri jadi seperti ini…” sesalnya. Aku hanya tersenyum.

“Bukan salahmu, kok…”

“Terima kasih, ya! Berkat Khoiri, sekarang Audrin tidak perlu berharap pada hujan lagi. Audrin sudah menjadi anak yang kuat!” Katanya sambil tersenyum.

“Itu tidak benar. Kau bisa seperti sekarang ini, itu karena sesuatu yang ada dalam dirimu yang tidak dimiliki orang lain telah mendorongmu untuk melakukan semua ini. Untuk membuatmu menjadi kuat…”

“Apa itu…??”

“Hati yang hangat…”

Audrin yang sekarang bukan lagi ‘Audrin si anak hujan’, ‘si boneka es’, maupun ‘setan hujan’. Audrin yang sekarang hanyalah seorang gadis berumur 15 tahun yang mendambakan kehangatan teman-teman sama seperti yang lainnya.

* * *

“Khoiri, main bola, yuk…!” Ajak Ilyas.

“Sebaiknya jangan ganggu dia! Dia kan lagi sibuk…!” Celetuk Zahra.

“Apa, sih?!” Gerutuku.

“Sudahlah, lebih baik kau belajar sana! Bentar lagi ujian, loh…” Ledek Zahra.

“Dasar! Mentang-mentang nilai mate-matikaku jelek…!” Gerutuku.

Jam istirahat saat itu benar- benar cerah. Zahra dan Ilyas bergegas ke lapangan sepak bola. Sementara itu, seorang anak sedang dikerumuni oleh gerombolan cewek-cewek sekelas. Aku pun segera menghampirinya.

“Audrin…! Zahra dan Ilyas mengajak kita main bola. Yuk, ke lapangan!” Ajakku.

“Asyik!” Girang Audrin.

“Huh, Khoiri jahat! Kita kan lagi ngobrol sama Audrin…” Rengek anak-anak cewek itu.

“Kalian tidak boleh berkata seperti itu pada Khoiri!!” Bentak Audrin.

“Ma.. maaf, Audrin… aku tidak bermaksud seperti itu…”

“Sudahlah, Audrin! Memang aku yang salah, kok. Sekarang ayo minta maaf pada mereka!” Perintahku.

“Ya, sudah! Maafkan sikap Audrin tadi, ya, Dina..!” Ucap Audrin sembari tersenyum.

“Ah..! Tidak, tidak! Seharusnya aku yang minta maaf. Padahal aku sudah tahu kalau Khoiri itu kakak angkatmu yang sangat kamu sayangi dan kamu sangat tidak suka kalau ada orang yang menghinanya, tapi aku malah berkata seperti itu…” Sesal Dina.

“Sudahlah, tidak usah dibesar-besarkan lagi! Ayo, Audrin! Zahra dan Ilyas sudah marah-marah, tuh!” Kataku sembari menarik lengan Audrin.

Setalah aku keluar dari rumah sakit, ibu dan ayah meminta izin pada Dokter Surya untuk mengadopsi Audrin. Akhirnya, sekarang aku dan Audrin adalah saudara. Dia juga disekolahkan ditempat yang sama denganku dan sekelas denganku, Zahra, dan Ilyas. Aku tidak tahu kenapa sikap Zahra jadi makin aneh. Semenjak Aku dan Audrin menjadi satu keluarga, sikapnya berubah total pada Audrin. Padahal dulu dia sangat dingin padanya. Sekarang dia terlihat lebih dewasa dan… jujur saja, sepertinya dia kelihatan lebih cantik dibanding sebelumnya. Hm… kenapa, ya sekarang rasanya kalau bersama Zahra aku jadi gugup…? Ah, mungkin pengaruh obat…

Kami asyik bermain bola di tengah lapangan hingga rasanya tidak sanggup mengejar bola lagi. Tawa menghiasi permainan kami. Saat sedang panas-panasnya, gerimis tiba-tiba turun.

“Gerimis…” Gumam Ilyas. Aku, Zahra, dan Ilyas menoleh kearah Audrin.

“Kenapa Audrin… terlahir sebagai ‘anak hujan’, ya…?” Kata Audrin sambil memandangi langit.

“Mm… mungkin karena Audrin ditakdirkan untuk menyejukkan kehidupan kami yang ‘tandus’…” Jawabku.
“Begitu, ya…? Audrin beruntung, dong…!” Ucap Audrin seraya tersenyum. Aku, Zahra, dan Ilyas hanya mengiyakannya dengan senyuman.

Didalam hujan Audrin terlahir ke dunia. Didalam hujan Audrin kehilangan tiga teman yang berharga. Didalam hujan Audrin bertemu denganku. Didalam hujan Audrin menemukan kebenaran dan keberanian. Dan didalam hujan, ada kisah tentang aku dan Audrin…

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer zenith_regalia
zenith_regalia at di dalam hujan (6 years 38 weeks ago)

Jadi, karena Yuu meminta saya untuk berkomentar soal logika ceritanya, saya hanya akan berkomentar soal di seputar itu saja ya
Jadi begini,
Pertama-tama, saya ngerti maksud Yuu mungkin mau nggabungin PoV 1 ma PoV 3 sekaligus dalam 1 cerita. Tapi hasilnya malah rancu dan akhirnya mengganggu logika ceritanya juga kan #ngomong apa saya
Trus ke-2, apa ga bahaya main di bawah jembatan pas ujan lebat ?, ga takut banjir apa sungainya ?. Dan saya juga belum pernah nemuin lapangan di bawah jembatan di Indonesia (mungkin karena saya jarang main ma kuper) #ngomong apa lagi saya
Trus yang ke-3. Pas pertama kali Audrin muncul, pertama saya ngiranya dia berumur 8-10 tahun, ke-2 saya kira dia itu makhluk halus. Ternyata tebakan saya semuanya salah. Harusnya(?) Ketika saya ngebayangin gadis 15 tahun lagi ujan-ujanan sambil make pakaian serba putih, saya langsung kebayang lekukan tubuh, pakaian yang jadi transparan karena basah dan akhirnya malah nunjukin bagian-bagian tubuh yang harusnya ga keliatan #plak
Trus yang ke-4. Apa hubunganya Zahra yang punya kemampuan spiritual ma Audrin ?. Sampe situ saya masih mikir kalo Audrin itu hantu loh, eh ternyata bukan. Dan dari dialog antara Zahra ma Audrin saya jadi menyimpulkan kalo mereka saling kenal (walau ga akrab). Lalu gimana ceritanya mereka saling kenal ? Apa paman Audrin pernah ngebawa Audrin ke Zahra buat konsultasi seputar hal gaib atau semacamnya ?. Karena sampe saya selesai ngebaca ceritanya pun saya masih bingung Audrin ini masuk kategori mana, kayanya lebih cenderung ke kelainan jiwa deh dari pada penyimpangan spiritual. Audrin ga nunjukin tanda-tanda di ganggu makhluk halus atau kena kutukan tuh (lebih ringkes kalo baca komentarnya Duniamimpi gie deh #plak lagi). Eh tunggu dulu, Zahra tau soal pembunuhan yg di lakukan Audrin, dan Ilyas juga kaya'nya kenal juga ma Audrin, buktinya dia yg manggil pamanya Audrin kan ?. Berati si Audrin ini lumayan terkenal dong?. Trus gimana ceritanya si Khoiri ga tau ?
Trus yang ke-5. Penggunaan tempo ma jeda di ceritanya ngga banget. Kaya yg sebagian udah di bahas ma IreneFaye. Trus ada dialognya Zahra yang kelewat panjang dan maksa banget seakan Yuu pengen ngejelasin siapa Audrin hanya dengan 1 dialog itu (eh, ini masih dalam konteks logika cerita ga sih ?)
Trus yg ke-6. Gimana caranya lari sambil nengok kebelakang ? #mulai ngaco
Trus yg ke-7. kecepatan lari Audrin tuh seberapa sih ?. Di tinggal ngobrol perasaan larinya ga jauh-jauh juga, apa karena dia larinya sambil nengok ke belakang ?.
Trus yg ke-8 . Ketabrak Truk terlalu Mainstream(?). Dan saya heran Khoiri ga mati padahal udah di telantarin lumayan lama sebelum di bawa ke rumah sakit. Mungkin cuman ke serempet aja kali, ga di tabrak.
Trus yg ke-9... Sementara itu aja deh :v

Writer zenith_regalia
zenith_regalia at di dalam hujan (6 years 38 weeks ago)

Jadi, karena Yuu meminta saya untuk berkomentar soal logika ceritanya, saya hanya akan berkomentar soal di seputar itu saja ya
Jadi begini,
Pertama-tama, saya ngerti maksud Yuu mungkin mau nggabungin PoV 1 ma PoV 3 sekaligus dalam 1 cerita. Tapi hasilnya malah rancu dan akhirnya mengganggu logika ceritanya juga kan #ngomong apa saya
Trus ke-2, apa ga bahaya main di bawah jembatan pas ujan lebat ?, ga takut banjir apa sungainya ?. Dan saya juga belum pernah nemuin lapangan di bawah jembatan di Indonesia (mungkin karena saya jarang main ma kuper) #ngomong apa lagi saya
Trus yang ke-3. Pas pertama kali Audrin muncul, pertama saya ngiranya dia berumur 8-10 tahun, ke-2 saya kira dia itu makhluk halus. Ternyata tebakan saya semuanya salah. Harusnya(?) Ketika saya ngebayangin gadis 15 tahun lagi ujan-ujanan sambil make pakaian serba putih, saya langsung kebayang lekukan tubuh, pakaian yang jadi transparan karena basah dan akhirnya malah nunjukin bagian-bagian tubuh yang harusnya ga keliatan #plak
Trus yang ke-4. Apa hubunganya Zahra yang punya kemampuan spiritual ma Audrin ?. Sampe situ saya masih mikir kalo Audrin itu hantu loh, eh ternyata bukan. Dan dari dialog antara Zahra ma Audrin saya jadi menyimpulkan kalo mereka saling kenal (walau ga akrab). Lalu gimana ceritanya mereka saling kenal ? Apa paman Audrin pernah ngebawa Audrin ke Zahra buat konsultasi seputar hal gaib atau semacamnya ?. Karena sampe saya selesai ngebaca ceritanya pun saya masih bingung Audrin ini masuk kategori mana, kayanya lebih cenderung ke kelainan jiwa deh dari pada penyimpangan spiritual. Audrin ga nunjukin tanda-tanda di ganggu makhluk halus atau kena kutukan tuh (lebih ringkes kalo baca komentarnya Duniamimpi gie deh #plak lagi). Eh tunggu dulu, Zahra tau soal pembunuhan yg di lakukan Audrin, dan Ilyas juga kaya'nya kenal juga ma Audrin, buktinya dia yg manggil pamanya Audrin kan ?. Berati si Audrin ini lumayan terkenal dong?. Trus gimana ceritanya si Khoiri ga tau ?
Trus yang ke-5. Penggunaan tempo ma jeda di ceritanya ngga banget. Kaya yg sebagian udah di bahas ma IreneFaye. Trus ada dialognya Zahra yang kelewat panjang dan maksa banget seakan Yuu pengen ngejelasin siapa Audrin hanya dengan 1 dialog itu (eh, ini masih dalam konteks logika cerita ga sih ?)
Trus yg ke-6. Gimana caranya lari sambil nengok kebelakang ? #mulai ngaco
Trus yg ke-7. kecepatan lari Audrin tuh seberapa sih ?. Di tinggal ngobrol perasaan larinya ga jauh-jauh juga, apa karena dia larinya sambil nengok ke belakang ?.
Trus yg ke-8 . Ketabrak Truk terlalu Mainstream(?). Dan saya heran Khoiri ga mati padahal udah di telantarin lumayan lama sebelum di bawa ke rumah sakit. Mungkin cuman ke serempet aja kali, ga di tabrak.
Trus yg ke-9... Sementara itu aja deh :v

Writer AndravaMagnus
AndravaMagnus at di dalam hujan (8 years 26 weeks ago)
100

...

Writer ioneavisa
ioneavisa at di dalam hujan (8 years 35 weeks ago)
90

Nice...tapi perlu pembenahan dikit lagi...lam kenal

Writer yuu_chan
yuu_chan at di dalam hujan (8 years 35 weeks ago)

salam kenal kak! makasih udah mampir. n_n

Writer Syair_putih_ahbian
Syair_putih_ahbian at di dalam hujan (8 years 43 weeks ago)

No coment! Tpi slm sukses berkarya! N slm kenal dari pengunjung baru

Writer yuu_chan
yuu_chan at di dalam hujan (8 years 43 weeks ago)

salam kenal. n_n
makasih udah membaca cerita ini.

Writer redscreen
redscreen at di dalam hujan (8 years 49 weeks ago)
60

Ame no Uta (pelesetan taiyou no uta) -dijitak- xD
agak aneh kak, tapi ceritanya bagus ^v^

Writer yuu_chan
yuu_chan at di dalam hujan (8 years 48 weeks ago)

thanks banget.. =)

aneh ya...? maklum lah, yg nulisnya aja rada aneh gimana ceritanya jadi nggak aneh coba..? hehe.. XD

Writer IreneFaye
IreneFaye at di dalam hujan (8 years 49 weeks ago)

“ … Begini, kemarin aku bertemu dengan seorang anak perempuan yang cantik. Dia sangat baik dan ramah juga menarik. Aku jadi ingin bertemu dengan anak yang bernama Audrin itu lagi…” Harapku. Zahra terdiam sesaat.
“ Huah… Kenapa selalu kamu, sih, Khoiri ?!” Kesal Ilyas.
“ Huh..! Semenarik apa, sih anak itu…?” Kata Zahra ketus.
“ Pokoknya bagiku dia itu sangat menarik…!” jawabku sembari tersenyum menerawang. Zahra dan Ilyas diam sesaat.
“ Kau suka padanya, ya…?” Tanya mereka hampir bersamaan.
“ Ya… Kurasa aku ‘suka’ padanya…” Jawabku datar.
“ APUAAA?!!” Pekik Zahra.
“ Jangaaan…!! Aku mohon jangan, Khoiri…!!” Kata Ilyas memohon. Aku terdiam sesaat.

Nah... agak rancu nih ... Pekikan Zahra dan permohonan Ilyas kesannya kayak gak ada angin dan gak ada ujan langsung kayak gitu aja ... trus di dialog berikutnya mereka malah balik lagi ngomongin soal suka-sukaan.
Harusnya sebagai ganti kata "Huah... kenapa selalu kamu sih?"--yang kesannya Ilya kayak gak hanya becanda doang, n gak nyambung banget. Mungkin Ilya harusnya bilang "A, Apa tadi kamu bilang??? Audrin?"
Yang akan menonjolkan sisi misterinya ...

Hal-hal yang lainnya uda ada di komentar-komentar yang lain!

btw, Aku menemukanmu disini Yuu_chan

Writer yuu_chan
yuu_chan at di dalam hujan (8 years 49 weeks ago)

terima kasih atas kritik dan sarannya. aku senang kk mau menyempatkan diri untuk membaca karyaku ini. cerita ini masih banyak kekurangannya jadi mohon maaf.. :) g

'menemukan'...? memangnya kita lagi main petak umpet ya..? hehe... XP

Writer yuu_chan
yuu_chan at di dalam hujan (8 years 49 weeks ago)

makasih udah mau meluangkan waktu membaca karyaku...
makasih juga atas kritik dan sarannya..
maaf kalau karyaku jauh dari harapan dan masih banyak kekurangan lainnya. maklum aku baru mulai aktif menulis...
untuk kedepannya sangat diharapkan kritik dan sarannya lagi... :) mohon bimbingannya ya mbak.. =D

sekali lagi makasih.. (membungkuk dalam-dalam)

Writer dandelion
dandelion at di dalam hujan (8 years 50 weeks ago)
80

keren abis :)
klo bisa kesan mistisnya lbih diperlihatkan lagi coz bisa bikin DAG DIG DUG.
salam kenal.

Writer yuu_chan
yuu_chan at di dalam hujan (8 years 50 weeks ago)

salam kenal juga...

terima kasih banyak atas pujiannya. aku nggak nyangka kesannya sampai segitunya ya...? hehe.. aduh.. jadi malu.. X) (NARSIS mode on!)

sekali lagi aku ucapkan terima kasih (membungkuk dalam2 :))

Writer Ryuhei
Ryuhei at di dalam hujan (8 years 50 weeks ago)

Yu can manis..q mbca cerita mu, q gk akan brkmentar tntang EYD krna q gk tau soal bgtuan, tp yg q tahu, sudut pandangnya amburadul hehe..,sudut pndang koiri tp kok pmbicraan zahra dan audrin untuk pertama kali, bisa ketulis, bkankah koiri dah msuk kdalam? Dan 1 lg, 3 taun yg lalu audrin membunuh 3 orang kan?tu gmana pnyelesaianya apakah audrin dipenjara?atau msuk rehabilitas? Kalaupun dpenjara kurasa 3 tahun sangat singkat untk keluar..tu aja dr ku hehe, salam knal

Writer yuu_chan
yuu_chan at di dalam hujan (8 years 50 weeks ago)

makasih banyak atas kritikannya... komentar sebelumnya juga gitu, menyadarkanku pada 'sudut pandang yang nggak jelas'!!. aku benar2 minta maaf untuk kesalahan fatal yg 1 itu..

untuk pertanyaan2 yg anda utarakan... aku juga jadi bingung. jadi kepikiran malah! 'iya juga ya. audrin sudah membunuh 3 orang. kok nggak dituntut sama sekali oleh keluarga korban ya..? nggak di cari2 juga sama polisi padahal itu tingkat kriminalitas yg nggak wajar buat seorang gadis berusia 12 tahun.. woalah..!? jadi tambah pusing!!' DX

terima kasih atas komentarnya.. (membungkuk dalam2) :) :) :)

Writer herjuno
herjuno at di dalam hujan (8 years 50 weeks ago)
60

Hem, saat pertama kali diperkenalkan dg Audrin,aku mengira kalau dia berumur sekitar 8 atau 10 tahun. Mungkin kamu harus memberikan informasi lebih dalam terkait dirinya di bagian depan.
.
Juga, ada hal yang ganjil menurutku. Kamu kan menggunakan sudut pandang orang pertama, tapi kenapa kamu bisa menceritakan apa yang terjadi dalam pikiran Audrin? Menurutku, itu seharusnya tidak bisa terjadi, hohoho. :D
.
Oke, thanks :D

Writer yuu_chan
yuu_chan at di dalam hujan (8 years 50 weeks ago)

thanks atas comentnya... :)

awalnya emang dalam cerita ini audrin pengen dijadiin anak kecil yg misterius yah.. kira2 usianya 10 tahun lah... tapi nggak tau kenapa malah jadi gini...! hehe..

soal sudut pandangnya... YA AMPUN!! aku juga baru nyadar nih... X(
iya juga ya..? kok sudut pandang pertama malah tau pikiran tokoh lain...? woalah... payah! ini kesalahan fatal! untuk yg satu ini saya benar2 berterima kasih. ini akan menjadi pelajaran untuk karya2 saya yg berikutnya. sekali lagi terima kasih... (membungkuk dalam2, hehe...)

Writer herjuno
herjuno at di dalam hujan (8 years 50 weeks ago)

Sama2, haha. Senang melihat komentar saya dapat membantu orang lain. :)

Writer lindito
lindito at di dalam hujan (8 years 51 weeks ago)

kereenn

Writer yuu_chan
yuu_chan at di dalam hujan (8 years 50 weeks ago)

thanks... ^_^

Writer duniamimpigie
duniamimpigie at di dalam hujan (8 years 51 weeks ago)
80

Ide 'anak hujan'nya KEREN! *thumbs up*
hanya az, lebih baik jika 'sebab Audri hanya hidup saat hujan' itu diungkap ke pembaca. soalna pembaca kan bingung itu 'penyakit kejiwaan' ato ada unsur 'mistis'nya
Tapi... karya keren, tetep az keren yah!

Writer yuu_chan
yuu_chan at di dalam hujan (8 years 50 weeks ago)

hehe.. makasih banget loh... jadi nggak tau mau ngomong apa nih.. pokoknya thanks deh.. >_< n makasih sarannya..

Writer cat
cat at di dalam hujan (8 years 51 weeks ago)
70

sebenarnya idenya bagus,
hanya saja kalau identitas audrin dibuka perlahan-lahan, sehingga kesan misteriusnya lebih terasa mungkin lebih pas.

ada sedikit salah ketik.

practices makes perfect.

Writer yuu_chan
yuu_chan at di dalam hujan (8 years 50 weeks ago)

kalau soal salah ketiknya aku benar2 minta maaf... laptopnya rada "penyakitan" gitu.. jadi susah kalo mau di edit. kalau mau ngetik, itu laptop ngajak ribut dulu..! kagak bisa di ajak kompromi..!
thanks atas sarannya... ^_^