Desember

Seorang ayah berlari ke kamar anaknya ketika mendengar lantunan nada yang dimainkan dengan gitar. “Kamu sedang apa, Nak?” Ryan tengah membaca buku tentang manajemen bisnis di meja belajarnya. “aku sedang belajar, Yah.”

“lalu dari mana suara gitar tadi?” Tanya sang Ayah dengan dahi yang mengkerut. “oh, tadi aku belajar sambil mendengarkan lagu.” Jawab Ryan sambil menunjukkan ponselnya yang kini sedang memainkan lagu Depapepe. “Oh, Ayah kira kamu yang memainkan lagu itu. Maaf Ayah sudah salah sangka. Ayah cuma ga mau kamu seperti anak teman Ayah. Kerjanya hanya main musik bersama band-nya sampai kuliahnya terbengkalai. Kamu harus kuliah yang benar, supaya kamu bisa melanjutkan bisnis Ayah.” Setelah menceramahi anaknya, sang Ayah meninggalkan kamarnya. Tidak lama setelah itu, Ryan melihat mobil Ayahnya berjalan ke luar rumah, itu artinya Ayahnya sudah pergi dan ia bisa melanjutkan bermain dengan gitar kesayangannya.

Ryan sebenarnya suka sekali bermain musik, terutama gitar. Namun sejak dulu ayahnya tidak suka ia bermain musik. Ayahnya menginginkan Ryan untuk bisa melanjutkan bisnisnya yang sedang berkembang pesat. Padahal Ryan tidak ingin berbisnis. Ia lebih suka berada di atas panggung, menyanyikan lagu yang diciptakannya sendiri, dan ditonton jutaan orang. Tapi ayahnya tidak pernah setuju. Karena itulah Ryan sering bermain sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan ayahnya, seperti tadi. Ia tengah menciptakan sebuah lagu yang akan dipersembahkan untuk seseorang.

Suatu hari, Ryan diajak ayahnya untuk menghadiri pertemuan dengan client di sebuah kompleks perkantoran, di tengah jalan, ia kaget melihat ayahnya memasukkan sebuah CD lagu penyanyi pendatang baru, Rama Hendry Putranto. Yang ia tahu ayahnya hanya suka lagu tahun ‘80-an dan beberapa lagu berbahasa Inggris.

“Yah, tumben dengerin lagu penyanyi baru.”

“Nggak tahu kenapa, ayah suka sama lagunya, suaranya, pokoknya enaklah didengerin.” Jawab ayahnya sambil mendendangkan lagu yang sedang berputar di CD player mobilnya.

“Memangnya ayah tahu siapa yang nyanyi lagu ini?”

“Hmm... penyanyi ini misterius. Dia membuat album, tapi tidak pernah membuat promo, bahkan dia tidak pernah mau bernyanyi live di depan kamera. Katanya juga, saat dia bernyanyi off air, dia selalu memakai topi yang menutupi wajahnya. Sepertinya dia tidak mau diekspos ya?”

“Huh, orang aneh. Kalau tidak mau diekspos, mendingan ga usah jadi penyanyi kan?”

“Hah, masa bodo, yang jelas penggemar dia banyak. Di kantor ayah saja hampir semua perempuan suka dengan lagu yang dinyanyikan dia. Dia nantinya pasti akan jadi penyanyi solo yang sukses”

Ryan tidak memedulikan hal itu, ia hanya ingin semua urusan hari ini cepat selesai dan ia bisa kembali memainkan gitarnya.

Seperti hari-hari sebelumnya, malam harinya, ketika semua orang di rumah sudah tidur, Ryan memanfaatkan kesempatan ini untuk bermain gitar. Kali ini Ryan memainkan sebuah lagu dari Rama Hendry Putranto. Detik demi detik, menit demi menit, waktu yang berlalu begitu ia nikmati sampai akhirnya pintu kamarnya terbuka keras dan di sana berdiri ayahnya dengan muka yang teramat kesal.

“Dari mana kamu dapat gitar itu?!” Ryan tidak dapat berkata apa-apa, sorot mata ayahnya telah membekukan seluruh tubuhnya. “Kan ayah sudah bilang, kamu tidak boleh bermain musik! Mau jadi apa kamu hah?!”

Ayah Ryan merebut gitar yang ada di tangan Ryan tanpa perlawanan. Kemudian, tanpa basa-basi, ayahnya memukulkan gitar itu keras-keras ke lengan kanan Ryan.

“Ampun, Yah... Ryan minta maaf...” jeritan remaja sembilanbelas tahun itu tidak dihiraukan ayahnya. Ia terus memukulkan gitar sampai gitar itu hancur berkeping-keping. Lengan kanan Ryan pun dipenuhi luka dan darah yang mengucur perlahan.

“Kalau sampai ayah melihat kamu bermain gitar lagi, sana jadilah gelandangan, jangan harap kamu bisa kembali menginjakkan kaki di rumah ini.” Ayah Ryan meninggalkan kamar anaknya dengan perasaan jengkel tanpa menghiraukan kesedihan yang dilanda anaknya.

Sudah seminggu rasa sakit di lengan kanan Ryan tidak kunjung hilang. Tapi ayahnya merasa itu bukan hal yang serius. Ia langsung melenggang pergi setelah sarapan. Ia membawa koran yang tergeletak di depan pintu rumah dan membawanya ke dalam mobil.

Jalanan kota pagi ini sungguh macet dan membuat kesal ayah Ryan. Kemudian ia mengambil koran yang dibawanya tadi dan membaca judul berita yang terpampang jelas di sana.

RAMA HENDRY PUTRANTO MENUNJUKKAN JATI DIRINYA

Ia langsung membaca berita heboh itu dan ia mendapat info bahwa besok malam penyanyi baru itu akan tampil live di sebuah acara televisi untuk memperkenalkan lagu terbarunya.

Keesokan harinya seusai pulang kerja, ayah Ryan membatalkan acara makan malam dengan direktur sebuah perusahaan telekomunikasi di Indonesia hanya untuk melihat langsung penyanyi pujaannya menunjukkan identitasnya. Rama akan menyanyi live di sebuah cafe yang terdapat di bilangan Kemang. Dan ke sanalah mobilnya menuju.

Ia sampai tepat ketika Rama baru naik ke atas panggung. Cafe sudah ramai oleh pengunjung dan juga pers. Namun, semua orang di sana dibuat tercengang bukan karena lagu yang akan dinyanyikan, tetapi karena Rama yang terlihat tidak sehat. Dari balik topi yang menutup rambut dan sedikit wajahnya terlihat warna kulit yang pucat, cara berjalannya pun sempoyongan, dan yang paling parah adalah lengan kanan Rama terlihat biru bengkak dan terdapat bekas luka juga di sana.

“Maaf sudah membuat kalian menunggu.” Rama membuka topi yang selama ini menutupi dirinya ketika di atas panggung. Banyak kaum wanita remaja yang teriak histeris karena wajah tampan Rama, ada juga yang hanya berdecak kagum, tapi tidak untuk ayah Ryan. Perasaannya tidak keruan. Ada rasa senang karena akhirnya bisa melihat sang idola, tapi sebagian lainnya menginginkannya untuk marah. Karena yang berdiri di atas sana adalah Ryan Putra Handoko, anaknya sendiri.

“Hari ini kondisi saya memang kurang baik, tapi saya tetap ingin memainkan sebuah lagu yang ingin saya persembahkan untuk ayah saya tercinta. Lagu ini berjudul Desember.”

Dengan badan yang demam, serta tangan kanan yang bengkak, ia tidak berharap bisa memainkan lagu ini dengan baik, tapi hanya satu yang ia inginkan : bisa memainkan lagu ini sebelum tangannya benar-benar tidak bisa digerakkan.

Ryan pun menyanyikan lagu ini dengan menahan rasa sakit di tangannya, seluruh penonton yang ada di cafe pun ikut merasa sedih melihatnya.

Ayah, andai kau tahu
Bukan ini yang kuinginkan
Aku ingin kebebasan

Bebas untuk bermain
Bebas untuk bersuara
Bebas untuk hidup
Dalam kehidupanku sendiri

Andai kubisa merangkai langit
Kan kuberikan seribu awan untukmu
Andai kubisa merangkai laut
Kan kuberikan nyanyian alam padamu

Andai masih bisa kubuat melodi indah
Dengan tanganku ini,
Kuingin terus membuatkan lagu
Untukmu, ayah
Tanpa harus berhenti
Di Desember ini

Seusai memainkan lagu itu, lengan kanan Ryan mulai suit digerakkan. Ia pun mengaduh kesakitan, tapi sekuat tenaga ia tahan agar tidak ada yang tahu hal ini. Di saat itulah ia mendengar seseorang dari kumpulan penonton yang memanggil namanya, bukan nama Rama Hendry Putranto.

“Ayah?”

Semua penonton diam ketika seorang laki-laki berumur 40-an tahun naik ke atas panggung.

“Ryan, apa yang kamu lakukan di sini?”

Ryan gugup. Ia tidak tahu kalau ayahnya akan datang ke acara ini. “Maafkan Ryan, Ayah. Malam ini malam terakhir Ryan bernyanyi dan bermain gitar, setelah itu Ryan tidak akan bermain musik lagi.”

Tiba-tiba saja Ayah Ryan memeluk erat anaknya sambil berurai air mata. “Seharusnya ayah yang minta maaf, Nak. Ayah tidak mengerti apa yang kamu inginkan, bahkan ayah tega membanting gitar ke ke lengan kamu hingga luka begini. Maafkan ayah, Nak.”

Tidak ada sepasang mata pun yang kering di cafe itu. Semuanya terharu melihat ayah dan anak yang ada di atas panggung.

Keesokan harinya, begitu bangun dari tidur, suhu badan Ryan tinggi sekali, ayahnya pun langsung membawa Ryan ke rumah sakit. Menurut diagnosa dokter, demam yang dirasakan Ryan sejak kemarin disebabkan oleh luka-luka yang ada di lengannya. Akhirnya Ryan pun diopname selama beberapa hari, sampai pada suatu hari, ketika Ryan bangun, lengan kanannya lumpuh dan tak bisa digerakkan. Betapa menyesalnya ayah Ryan karena telah melukai Ryan saat itu.

Lagu terakhir yang dinyanyikan dan dimainkan dengan gitar oleh Ryan sempat menduduki peringkat teratas tangga lagu pop Indonesia selama dua bulan lebih.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer yuanggaFP
yuanggaFP at Desember (8 years 32 weeks ago)

akhirnya nemu akun lo gung :D

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Desember (8 years 18 weeks ago)

Kok bisa?
Duh, udah lama ga buka akun ini.

Writer putrizka
putrizka at Desember (8 years 45 weeks ago)
50

write for me

Writer putrizka
putrizka at Desember (8 years 45 weeks ago)
50

better

Writer desypanda
desypanda at Desember (9 years 1 week ago)
60

baguuuus aguung hahaha :D mulai ada peningkatan gung :p keep writing yaa

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Desember (9 years 1 week ago)

Percaya atau tidak, cerpen ini gw bikin karena waktu itu Petir minta bikinin cerita tentang ayah dan anak, ya udah deh gw bikin.

Gw ga nyangka kalo ternyata banyak yang suka. :)

Writer redscreen
redscreen at Desember (9 years 1 week ago)
80

suka, walaupun akhirnya mudah ditebak ^v^
ku selalu ingin menulis cerita cinta bukan antara sepasang kekasih seperti ini, ajarin kak >v<
oya, salam kenal kak rusty :D

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Desember (9 years 1 week ago)

Hahaha...
Kok minta ajarin?
Aku ini pemula lho.
Salam kenal juga. :)

Writer renivanescence
renivanescence at Desember (9 years 2 weeks ago)

keren :)

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Desember (9 years 1 week ago)

Terima kasih.

Writer soechan
soechan at Desember (9 years 2 weeks ago)
80

Bagus banget:-)
jadi pengen denger lagunya kak

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Desember (9 years 2 weeks ago)

Ahahaha...
Silahkan dibayangkan sendiri, karena aku tidak bisa membuat lagu. :)

Writer suasti_was
suasti_was at Desember (9 years 2 weeks ago)
100

bagus banget kak...sukses bikin saya terpana,
jadi inget Ayah saya juga...
hiks3
salam :'(

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Desember (9 years 2 weeks ago)

Ah, masa sih?
Jadi pengen nulis lagi, tapi lagi sibuk sama kuliah, takut di DO. :(

Writer Shinichi
Shinichi at Desember (9 years 2 weeks ago)
60

klise dan sedikit luar biasa.
ada beberapa hal yg menurut saia gak logis, seperti ayah yg gak sukak anakna main musik, tp ia demen dengan musik era 80an. dan lagi, tiba2 ia suka pada penyanyi pendatang baru.
pun begitu, sikap atau karakter ayah ini belum begitu mudah lekat di ingatan pembaca. juga ryan atau rama.

saia pikir, jika karakter tokoh utama itu lebih dimatangkan melalui cara ia berbicara dan apa yg ia kerjakan, ceritanya bakal lebih mudah diserap. dan lagi, tentu tak lupa dengan kelihaian penulis untuk membuat ending yg mengejutkan : bahwa rama adalah ryan.

intinya, kip baca tulis aja

salam

ahak hak hak

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Desember (9 years 2 weeks ago)

Wew, terima banyak senior atas kritik dan saran nya.
*membungkuk hormat*

Writer Ra
Ra at Desember (9 years 2 weeks ago)
80

liriknya bagus...

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Desember (9 years 2 weeks ago)

Aduh, jadi malu. ~(^.^~)(~^.^)~

Writer herjuno
herjuno at Desember (9 years 3 weeks ago)
70

Konfliknya bagus, meski akan lebih nice lagi kalau kamu memberikan clue bahwa Ryan = Rama secara tersirat.
.
Keep writing :D

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Desember (9 years 3 weeks ago)

Jadi lebih bagus kalo ga dikasih terang-terangan ya?
Okey, akan kupertimbangkan untuk cerita selanjutnya.
Terima kasih. :)

Writer herjuno
herjuno at Desember (9 years 3 weeks ago)

Semisal ketika ayahnya membeli CD itu. Keterkejutan Ryan jangan dibuat hanya karena sang ayah tahu2 suka penyanyi baru, tapi mungkin dikasih keterangan seperti ia tampak cemas karena khawatir sang ayah menyadari bahwa suara mereka sama. Semacam itulah.
.
Anyway, gitar itu berat, lo. Kalo dipukul berkali2 gitu apa tangannya nggak patah?

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Desember (9 years 3 weeks ago)

Hmm... Sebenernya niatnya gini, kalo aku tulis Ryan nya cemas, pembaca langsung mikir kalo si penyanyi baru itu ternyata Ryan. Aku mau kasih kesan Ryan nya ga tahu apa-apa pas ayahnya nyetel lagu itu di mobilnya, tapi karena aku pemula, jadi belum terlalu bisa mengeksplorasi kata demi kata.
Hehehehe....

Oh, iya ya, patah. Baru kepikiran. Waktu nulis kukira ga mungkin sampe patah, cuma bengkak-bengkak gitu aja.
Hehehehe.... Ga punya gitar soalnya.

Writer herjuno
herjuno at Desember (9 years 3 weeks ago)

Mungkin kalo dihantamkan sekali lebih masuk akal kali. :D

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Desember (9 years 3 weeks ago)

oh, gitu ya.
Makasih ya atas sarannya.
btw, temennya arudoshirogane ya?

Writer herjuno
herjuno at Desember (9 years 3 weeks ago)

yup betul. Kok tahu?

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Desember (9 years 3 weeks ago)

Dianya ngasih tahu kalo ada temennya yang namanya Herjuno, dan aku baru inget kali kamu komen di cerpenku.
Dia satu kostan sama aku.

Writer Kumiiko_chan
Kumiiko_chan at Desember (9 years 3 weeks ago)
90

aih saia ga rela T.T walaupun saia ga pintar musik tp kasian ryan :'(

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Desember (9 years 3 weeks ago)

Saya yang nulis juga ga tega.
Malahan tadinya mau dibikin buntung sekalian tangannya. *sadis*

Writer Kumiiko_chan
Kumiiko_chan at Desember (9 years 3 weeks ago)

aih.. kasian ryan..
pengarangnya sadis
#ngumpet ah#

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Desember (9 years 3 weeks ago)

yang komen di atas malah bilang mestinya patah.
Hahaha...

Ayo dong komen terus biar point nya naik.

Writer Kumiiko_chan
Kumiiko_chan at Desember (9 years 2 weeks ago)

komen bs menaikkan point ya?
baru tau xD

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Desember (9 years 2 weeks ago)

Iya, kalo komen baru kan bisa ngasih rate cerpen nya. :)

Writer oktaf
oktaf at Desember (9 years 3 weeks ago)
70

pertama,,,aku sk judulnya,,,:D
yaaah mungkin krn si ayah trlalu prhtian dan syang, mkanya ngelarang,,, pst ryan mau bilang "meskipun sayang, gak perlu ngekang kan?",,,paham,,,*smbil manggut2*
ak ja yg pngen dperhtiin tp gd pnh da yg mrhtiin,,,haaa malah curhat,,,
puisinya bgus,,,eh, lirik y?:D

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Desember (9 years 3 weeks ago)

"meskipun sayang, gak perlu ngekang kan?"
Yap, anda benar sekali. :)

liriknya bagus? Aduh, jadi malu. ~(^.^~)(~^.^)~

Writer cat
cat at Desember (9 years 3 weeks ago)
70

Ah berakhir sedih.
Aku berharap di lanjt ampe si ryan bisa maen gitar lagi.
Tp nyanyi kan bisa dgn suara.minta di irin gitar aja. He5.
Maksa yah diriku.

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Desember (9 years 3 weeks ago)

Tadinya maunya Ryan nya main piano, terus dibikin tangannya luka.
Hehehe...