Puisi Pemuda : Untuk Mereka

/1/
Seberkas senyum tipis kembali kuhelakan ; menatap sendu sayu dengan pandangan kelabu

Untuk mereka yang berdiri di luar sana kupersembahkan taburan iba ; para laskar yang berjejer rapi di depan bangunan kekuasaan meneriakkan perubahan

Merah!! ; lantang sang pemimpin peminta perubahan dengan suara membahana

Putih!! ; sambut massa dengan semangat yang bergelora

Aku terdiam, terpaku tidak bergerak lebih dari satu jam lamanya. Tidak, aku tidak terpesona...

Hari ini Senin pagi. Dan kau tentu tahu Jakarta ; macet

/2/

Paragraf ini kupersembahkan pada mereka-mereka yang lain ; mereka yang nasibnya waw luar biasa

Egaliter kekuasaan yang sedang asyik menyiapkan rencana plesiran saat sidang sedang berjalan

Mungkin ke Italia, Yunani, atau Mesir. Yah yang mana saja boleh, asal jalan-jalan

Ups! Mulutku mereka tutup. Bukan! Ini bukan jalan-jalan klaim mereka, ini studi banding agar negara kita dapat lebih maju, dapat lebih baik dari sebelumnya.

Dan aku tertawa mendengarnya...

Argumentasi kalian meragukan tuan-tuan. Sini, kemarilah, biar aku hipotesakan tujuan kalian

-

Dua puluh menit, berkunjung ke tempat kunjungan utama sambil berkata "hmm.... hmm..."

Untuk selebihnya? Tentu berwisata ria menjadi pilihan utama ; melepaskan lelah dan penat seraya melupakan maksud kunjungan yang memang sejak awal ingin dilupakan

Anekdot yang menarik, pikirku ; Yang masih tertawa menyulam ironi sambil menonton televisi tentang mereka yang masih tidak bisa makan nasi.

/3/

Paragraf yang ini kupersembahkan untuk mereka-mereka yang lain ; mereka yang nasib-nasibnya dijadikan sumber penghidupan utama para kuli tinta

Untuk mereka ; kali ini kuucapkan tulus, tanpa sinisme atau sarkasme yang tersembunyi

Lukamu adalah luka kami semua, tabahlah, dan tahan lapar dan sulit tidurmu ; sementara aku menyantap makan siang empat sehat lima sempurnaku.

Untuk kalian ; Mentawai yang teratakan, Jakarta yang dilumpuhkan, Jogjakarta yang diledakkan, Wasior yang tanahnya dilongsorkan, dan Nabire yang namanya disebutkan dalam kejadian pesawat yang kecelakaan

Hatur dukaku kupersembahkan pada kalian. Sungguh, dukaku beserta kalian, tapi tunggu sebentar. Ku charge dulu baterai Blackberryku, agar ,Opera mini-ku tidak mati dan aku bisa terus berduka untuk kalian.

/4/

Dua puluh delapan, Oktober.

Egaliter kekuasaan sedang asyik berplesiran.

Lamat-lamat penderitaan terdengar memekik merata memilukan

Anekdot cerita parodi Indonesia sedang dimainkan ; sebagai gladi resik kiamat penghancuran.

Pengejekkan tingkat satu bagi kalian inilah genderang derita bencana ditabuh ; para generasi kedua yang sedang asyik berpangku tangan

Ah, cepat-cepat kututup mulutku. Lupa aku dengan saran seorang teman agar jangan kau hina mereka, nanti akibatnya kau tahu rasa

Nelangsa jadi objek cacian nomor satu di dunia maya, atau setidaknya mati menggelepar di dunia nyata

/5/

Oh sungguh, mereka para makhluk hormonal kurang ajar

Kata-kata kasar, tindakan beringas penuh emosi tak tahu aturan

Teriak-teriak mereka suka sekali, menuntut perubahan, yang bahkan makna neoliberalisme saja mereka tak mengerti

Orasi-orasi, sorak-sorakkan....

Batu-batuan, lempar-lemparan...

Eh, kau yang di sana, yang sedang memegan parang di tangan kanan dan sabit di tangan kiri

Redam emosimu, coba tahan

-

Dosenmu sedang berdecak-decak lidahnya melihat IPK-mu yang hancurnya keterlaluan

Universitasmu sedang berusaha mati-matian menutupi informasi dengan kompromi ekonomi

Ah ya, orangtuamu, mereka barusan pindah rumah, karena tak tahan, gunjingan tentangga, yang tentu saja kau tahu kenapa

/6/

Redam emosimu, Duduk tenang, diam, dan pikirkan

Itu aku serius ; ini bukan guyonan atau candaan, ini masa depan!

Berapa banyak korban yang kalian pikir telah berjatuhan?

Untuk memuaskan hasrat kalian, para makhluk emosian?

-

Seribu atau seratus ribu?

Entah berapa jumlah pastinya aku tak tahu

Pikir saja sendiri, aku tahu kalian pintar aljabar persamaan matematika

Uhhh, kernyitan timbul di dahi kalian ; para makhluk pembenci pendidikan

Lihatlah sekali lagi, apa yang ada di depan kalian. Pikirkan!

Untuk apa yang di depan kalianlah kalian ada. Kau pikir kenapa bapakmu mau bersusah payah mengumpulkan uang untuk kalian sekolah? Dan kenapa ibumu rela mengandungmu sembilan bulan sampai perutnya membuncah?

Huh kalian tak mengerti? Ya sudahlah tak apa-apa, aku menyerah. Pastikan saja generasi setelah kalian, mengerti apa yang kubicarakan.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer fean_lophe
fean_lophe at Puisi Pemuda : Untuk Mereka (8 years 22 weeks ago)
80

kerennn abang..

Writer 043930
043930 at Puisi Pemuda : Untuk Mereka (8 years 31 weeks ago)

simply nice..

makkie at Puisi Pemuda : Untuk Mereka (8 years 39 weeks ago)
Writer Midori_Fukuro
Midori_Fukuro at Puisi Pemuda : Untuk Mereka (8 years 43 weeks ago)
90

baaguus...
maximus, mohon saran dan kritiknya.... :)

Writer Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at Puisi Pemuda : Untuk Mereka (8 years 43 weeks ago)
80

Dah lama ga liat yg beginian, jadi inget masa muda...

(emang belom tua kok)

Anyway, keren abis...

Writer Riesling
Riesling at Puisi Pemuda : Untuk Mereka (8 years 43 weeks ago)
100

Cara penulisannya unik~~ Beberapa kata yang direpetisi pas banget~~

Writer cyber_nana
cyber_nana at Puisi Pemuda : Untuk Mereka (8 years 44 weeks ago)
90

bentuk penceritaan puisi yang keren!

Writer redscreen
redscreen at Puisi Pemuda : Untuk Mereka (8 years 46 weeks ago)
100

puisi kak maximus memang keren xD
ada kodenya juga ^v^
jangan takut bicara benar tapi tanpa emosi?

Writer cat
cat at Puisi Pemuda : Untuk Mereka (8 years 46 weeks ago)
70

Nice poem.

Mengkritik dgn baik.

Semangat pemuda :)
Untk mu Merah Putih

Writer cat
cat at Puisi Pemuda : Untuk Mereka (8 years 46 weeks ago)
70

Nice poem.

Mengkritik dgn baik.

Semangat pemuda :)
Untk mu Merah Putih

Writer elbintang
elbintang at Puisi Pemuda : Untuk Mereka (8 years 46 weeks ago)
70

Nice theme!

Gundah yang pecah
ke sana ke mari
telunjuk di dada

masukan editan : kalau cerita, Max, kau kehilangan plot dan PoV mu berubah dari 3rd jadi 2nd.

Atau gw yg salah baca.

Still here
cheers!

Writer Fany Ijo
Fany Ijo at Puisi Pemuda : Untuk Mereka (8 years 47 weeks ago)
100

ya elah. sainganny berat2.. mana ada yg pindahan kata dari stories lg.. :p
keren max..

Writer cilang
cilang at Puisi Pemuda : Untuk Mereka (8 years 47 weeks ago)

Ahahaha... Untuk kamu Max, jangan terlalu mencolok. Untuk mereka ada Sahara di wajah Ibu Pertiwi. Sampai tremor itu tiba. Hmmm... Bolehlah.... Tak kalah dgn ceritamu... Salut.... Salut....

Writer ikan biroe
ikan biroe at Puisi Pemuda : Untuk Mereka (8 years 47 weeks ago)
100

S-U-M-P-A-H
P-E-M-U-D-A
D-U-A
P-U-L-U-H
D-E-L-A-P-A-N
O-K-T-O-B-E-R
D-U-A
R-I-B-U
S-E-P-U-L-U-H

unik!
meski terkesan memasukkan susunan-susunannya dengan paksa (sebab aku kenal dengan model begini), khas max yg unggul dalam bercerita terasa di puisi ini sehingga runtutannya terasa. kalau aku jurinya, aku sudah punya satu nomine sekarang.

salam

Writer aimie keiko
aimie keiko at Puisi Pemuda : Untuk Mereka (8 years 47 weeks ago)
100

yups.. mengena skali soal 'plesiran'

-dan aku tertawa mendengarnya-

studi banding tanpa juntrungan :D hmmm..

nice, mampir juga ke pusi pemuda kei ya max :D

Writer phunkutero
phunkutero at Puisi Pemuda : Untuk Mereka (8 years 47 weeks ago)

padat yg menggairahkan.

Nice imaji

Writer cemenkz
cemenkz at Puisi Pemuda : Untuk Mereka (8 years 47 weeks ago)

lumayan bagusss....