the story of Kenai (part 2)

Hari itu benar-benar tidak akan pernah dilupakan Kenai seumur hidupnya. Hari dimana ia bertemu dengan ‘kesialan yang sesungguhnya’.

“Kenapa kau melototiku terus, hah?!” kesalnya pada tupai itu.

“Kenai! Ingatlah, dia itu ‘penuntunmu’. Kau harus menghargai dan menghormatinya!” Kata Sitka.

“Ya! Penuntun menuju akhir abad bagi duniaku!!” Ucap Kenai ketus.

“Haha, dia mirip sekali denganmu Kenai! Benar-benar serasi, Kenai dan 'Kenai'” Ledek Denahi.

“Denahi, berhenti menyamakan aku dengan tupai bodoh ini!!” Kesal Kenai.

“ ‘Denahi, berhenti bla bla bla dan bla!’ kau hanya menghina dirimu sendiri bodoh!” Ledek Denahi.

“KAU...!!”

“Denahi benar, ‘penuntun’ menunjukkan seperti apa diri kita. Jika kau menganggap ‘penuntunmu’ bodoh, itu artinya kau mengakui bahwa dirimu pun sama bodohnya!” Jelas Sitka.

“Apa?! Kalian meledekku, ya?! Enak saja, aku…!”

“Kenai!” Sitka menatap Kenai dengan tatapan ‘peringatan’.

“Baiklah, baiklah. Selamat malam!!” Ucap Kenai ketus.

Malam itu ia tidak bisa tidur dengan tenang. Semua karena tupai sial itu! Pikirnya. Jika ini hanya mimpi, tolong segera bangunkan aku dari mimpi buruk ini! Siapa saja, tolong!!

Keesokan harinya tidak biasanya Kenai terbangun pagi-pagi sekali. Saat hendak keluar kamar, ia mendapati tupai bodoh itu berdiri di ambang jendela dengan tenang sambil menatap keluar jendela.

“Dasar tupai aneh!” Gumam Kenai.

ia pun segera menuju kesungai sama seperti pagi biasanya. Disepanjang jalan Kenai terus memperhatikan sekeliling. Terlihat cukup berbeda karena selama ini ia selalu bangun telat. Kabut tipis menyelimuti desa. Lumayan dingin rasanya. Jarak pandang pun sedikit berkurang. Tiba-tiba Kenai melihat sebuah bayangan yang berlari ke arahnya. Kalau bisa ia ingin segera melarikan diri tapi bayangan itu semakin dekat ke arahnya.

BRUK!

Kenai pun terjatuh.

“Aduh…” Terdengar suara rintihan seorang gadis. Kenai pun menyipitkan matanya agar dapat melihat dengan jelas apa sebenarnya tadi itu.

Terlihat olehnya seorang gadis yang cantik dan mempesona. Kulitnya putih bersih, rambutnya hitam kelam dikuncir satu.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Kenai seraya menghampirinya. Gadis itu pun memandangi Kenai.

“Ah? Maafkan aku. Tadi aku sangat ketakutan karena rasanya seperti ada yang mengikutiku dari belakang. Karena itu aku berlari sekuat tenaga” Jelas gadis itu.

“Ada yang mengikuti? Siapa?” Tanya Kenai serius. Gadis itu pun memandang ke belakang. Kenai memperhatikan dengan seksama meskipun jarak pandang memendek karena kabut. Tiba-tiba sesosok bayangan menghampiri mereka.

“Itu dia! Itu!!” Pekik gadis itu.

“Siapa disana?!” Pekik Kenai. Tapi tidak ada jawaban sama sekali. Bayangan itu semakin dekat, dekat sekali. Tiba-tiba bayangan itu menyerang Kenai hingga ia pun terjatuh.

“KYAAAA!!” Jerit gadis itu. Kenai pun memperhatikan apa yang ada dihadapannya saat ini. Sesuatu yang kecil, berbulu, dan menyebalkan!

“Apa yang kau lakukan di sini tupai bodoh?!!” Geramnya. Gadis itu tertegun memandangi Kenai.

“Ah, maaf tupaiku jadi menakutimu” Kata Kenai seraya bangkit.

“Tupai itu milikmu?” Tanya Gadis itu.

“Ya… begitulah” Jawab Kenai ragu. Gadis itu diam sesaat lalu tersenyum.

“Terima kasih, sekarang aku jadi lega” Katanya. Kenai terpesona melihat senyuman yang manis dari gadis itu.

“Ah, tidak, aku…”

Tiba-tiba ada orang yang menghampiri mereka.

“Oh, rupanya kau bersama dengan Kenai” Kata Denahi.

“Denahi?”

“Kak Denahi?” Kata gadis itu. Kenai terkejut mendengar apa yang baru diucapkan oleh gadis ini.

“Kau mengenalnya?” Tanyanya pada gadis itu.

“Dia Hani, kerabat Tanana. Seharusnya dia sudah tiba sejak tadi didesa ini. Karena cuaca berkabut kami jadi khawatir mungkin Hani tersesat. Untunglah dia bersamamu Kenai” Kata Sitka.

“Justru aku khawatir kalau sampai Hani bertemu dengan si Kenai” Kata Denahi ketus.

“Apa katamu?! Ngajak berantem, ya?!” Geram Kenai.

“Sudahlah, bukan saatnya kalian bertengkar! Hani, ayo kami akan mengantarmu ketempat Tanana.” Kata Sitka.

“Iya, terima kasih” Kata Hani seraya tersenyum.

Mereka berempat berjalan beriringan. Sitka berjalan paling depan dengan tegapnya. Sedangkan Kenai berjalan dengan gontai di belakang. Denahi heran melihat sikap Kenai yang terlihat tidak bersemangat. Wajah Kenai terlihat begitu cemberut. Sesaat Denahi terdiam kemudian ia melirik ke arah Hani sebentar kemudian kembali memandangi Kenai. Ia pun tersenyum nakal. Ia berjalan menghampiri Kenai, berusaha menyamakan kecepatannya dengan Kenai. Mereka pun berada agak jauh dari Sitka dan Hani. Akhirnya Denahi pun memulai ulahnya lagi.

“Hmm Kami mengganggu ya, ‘Pahalawan Kesiangan’?” Ejeknya. Kenai langsung menatap sinis Denahi.

“Hei, tidak perlu seperti itu adik kecil! Tapi, aku ingin memberitahumu satu hal yang yah, mungkin akan membuatmu sakit hati.” Kenai berusaha tidak memperdulikan Denahi. Tapi, Denahi tetap saja menjalankan ‘rencana’nya.

“Kau tidak punya harapan. Kau tahu kenapa? Itu karena Hani menyukaiku. Sayang sekali, ya Kenai?” Ejeknya seraya berlalu meninggalkan Kenai yang mulai kesal. Tapi, ia berusaha menahan amarahnya karena ia tahu Denahi memang sengaja membuat masalah. Tapi, saat Denahi menghampiri Hani, Hani terlihat tersipu-sipu. Saat itu Kenai benar-benar tidak tahan lagi. Ia benar-benar kesal dan geram. Ia tahu Denahi sengaja memancing emosinya, tapi ini benar-benar keterlaluan karena Denahi dengan jelas-jelas mempermainkan hatinya. Kemarahan Kenai telah memuncak. Ia langsung menghampiri Denahi dan dalam sekejap saja Denahi jatuh tersungkur akibat pipinya yang diterjang kepalan tinju Kenai. Sitka dan Hani benar-benar terkejut. Sitka segera berlari mengahampiri mereka berdua untuk mencegah sesuatu yang lebih buruk terjadi.

“Kau benar-benar menyebalkan!!” Kesal Kenai kemudian berlalu meninggalkan mereka.

“Cih!” Denahi memegangi pipinya yang lumayan terasa perih ia hanya tersenyum kecut.

“Anak itu lumayan tangguh juga” Katanya.

“Apa lagi yang kau katakan pada Kenai?” Tanya Sitka seraya membantu Denahi berdiri.

“Bukan apa-apa” Jawab Denahi kemudian kembali melanjutkan perjalanannya.

* * *

Seharian itu tidak biasanya Kenai menyendiri dan hanya terdiam. Seharian dia berada di kamarnya, memandang keluar jendela di mana Hani sedang diajari sesuatu oleh Sitka. Kemudian ia memandangi Denahi yang mulai menggoda para gadis-gadis. Kenai menghela napas panjang.

“Menyebalkan!” Si tupai bodoh itu melompat ke jendela dan memandang keluar. Kenai memperhatikan tupai itu.

“Apa kau bosan?” Tupai itu tetap memandang keluar. Kenai memperhatikannya dan mulai heran.

“Kau memperhatikan siapa? Sepertinya kau kesal sekali.” Kenai memperhatikan arah pandang tupai itu. Sesaat dia terdiam.

“Denahi?” Tupai itu langsung berpaling ke arah Kenai

“Ternyata benar Denahi, ya? Haha jadi kau juga membenci Denahi? Wah wah” Kenai mulai tersenyum. Dia mulai merasa terhibur.

“Hei, apa kau ingin mendengar ceritaku tentang Denahi?” tupai itu mulai menunjukan sikap tertarik.

“Bagus! Apa kau tahu, dulu itu waktu kami masih kecil, si Denahi…” Kenai mulai bercerita panjang lebar mengenai Denahi. Sesekali tawanya lepas mengingat hal yang menggelikan mengenai Denahi. Si tupai itu terlihat menikmati cerita Kenai. Sitka heran melihat sikap Kenai yang begitu girang. Dia pun menghampirinya.

“Kenai, kau sedang apa?”

“Oh, Sitka? Tidak, aku hanya… hmfh” Kata Kenai yang masih tertawa geli. Sitka melihat si tupai di sisi Kenai.

“Kau menikmatinya tupai kecil?” Tanya Sitka seraya tersenyum. Denahi datang menghampiri Kenai.

“Hei, Kenai apa yang kau lakukan? Berhentilah bermalas-malasan dan sana segera bantu Hani!” Perintahnya. Tiba-tiba tupai milik Kenai melompat dan berlari keluar dengan liarnya.

“Hei, tupai bodoh! Mau kemana kau?!” Teriak Kenai. Ia pun segera mengejarnya kearah gunung.

“Kenai, tunggu!!” Pekik Sitka.

“Anak itu!” Geram Denahi.

* * *

Kenai terus saja berlari mengejar tupai itu dia tidak sadar kalau sudah masuk terlalu jauh kedalam hutan dan mendaki cukup jauh. Dia menghentikan langkahhnya tiba-tiba ketika kehilangan jejak tupai itu akhirnya dia sadar kalau dirinya tersesat.

“ini.. di mana..?” Gumamnya. Dia berjalan beberapa langkah mengamati sekelilingnya.

“Aku tidak tahu kalau ada tempat yang seperti ini..” Gumamnya.

“Hei, tupai bodoh di mana kau…?” tiba-tiba langkah Kenai terhenti oleh sebuah suara. Dia berusaha menajamkan pendengarannya.

Tidak mungkin ada seseorang yang tinggal di tempat seperti ini… pikirnya.

“Hellooo… maaf, apa ada seseorang disana..?” cuaca tiba-tiba berkabut sehingga membuat jarak pandang berkurang. Tiba-tiba Kenai melihat ada sesosok bayangan.

“Sitka.. apa itu kau…?” Tanya Kenai ragu. Kabut semakin menebal dan bayangan itu tiba-tiba menghilang.

Itu pasti cuma khayalanku saja. Cuaca sekarang sedang berkabut aku jadi tidak tahu ada di mana. Tidak.. meskipun kabutnya hilang tetap saja aku tidak tahu di mana aku berada. Ugh.. sial! Ini gara-gara.. eh benar juga, aku harus segera menemukan tupai bodoh itu! Gerutu Kenai dalam hatinya. Saat hendak melangkahkan kakinya tiba-tiba Kenai melihat tupai itu berjalan ke suatu tempat. Segera saja Kenai mengejarnya.

“Hei tupai bodoh, apa-apaan kau!! Gara-gara kau aku…?!” tiba-tiba langkah Kenai terhenti. Dia kembali melihat sebuah bayangan. Bayangan yang sangat dikenalnya. Kenai mematung, rasa tak percaya memenuhi dirinya. Kabut itu telah merusak penglihatannya. Yah.. pasti begitu.. pikirnya. Sosok itu begitu dikenalnya… sosok yang selama ini begitu ia rindukan… lama Kenai berdiri dengan kediamannya, sosok itu mulai bersenandung.

“Natsuo boshi.. mengapa kau sedih…? Semalam aku bermimpi, sedih sekali… aku menangis tersedu-sedu dengan mata merah…” hati Kenai terasa begitu membuncah. Sesak sesesak sesaknya. Yah.. dia tahu lagu itu.. suara itu.. tubuh Kenai bergetar menahan perasaan yang bergejolak di dadanya. Kabut mulai menipis, perlahan sosok itu mulai terlihat seperti sosok seorang wanita dengan rambut hitam kelam yang terurai sampai di pinggangnya.

“Natsuo boshi.. mengapa kau merah..? semalam aku bermimpi sedih sekali.. aku menangis tersedu-sedu dengan mata merah..” Kenai memberanikan dirinya untuk menghampiri sosok itu. Dia berjalan dengan hati penuh kegelisahan dan rasa tak percaya. Kabut semakin menipis dan saat menghampiri beberapa meter dari sosok itu kabut sudah benar-benar tipis sehingga menampakkan dengan jelas sosok asli bayangan itu yang membuat Kebnaitersentak dan hatinya membuncah. Dia gemetar melihat sosok yang sangat di kenalnya itu. Menyaari kehadiran Kenai sosok wanita yang sekarang tampak bercahaya itu mengalihkan pandangannya pada Kenai. Wanita itu tertegun kemudian tersenyum lembut.

“Kenai..” sapanya penuh sayang. Kenai terdiam, gemetaran, bahkan tidak bisa berpikir normal. Pikiran dan hatinya kacau. Wanita itu kemudian berjalan anggun menghampiri Kenai. Kenai hanya terdiam. Wanita itu kemudian memeluknya.

Hangat.. aku tahu kehangatan ini… aroma ini.. pelukan ini.. suaranya.. ya.. aku tahu, aku sangat mengenalnya.. sesak yang memenuhi hati Kenai kini tak terbendung lagi. Tanpa sadar air mata Kenai mengalir di pipinya.

“I.. ibu..” lirihnya. Wanita itu melepaskan pelukannya kemudian tersenyum.

“Elang terbang setinggi-tingginya menangkap mangsanya kemudian kembali untuk menjaga sarangnya. Suatu hari ia terbang terlalu tinggi dan terjatuh ke tanah dan ditangkap oleh kucing. Pemangsa dimana-mana, mengelilingi mereka hingga memaksa mereka melarikan diri. Dan saat mereka menemui jalan buntu tupai tiba-tiba datang dan menunjukkan sebuah jalan rahasia yang sebenarnya tidak ada tapi ada hanya untuk orang-orang yang percaya…” bisik wanita itu. Kenai tertegun.

“apa.. itu..? apa yang ibu katakan..?” Ucap Kenai heran. Kabut kembali menebal dan sosok itu mulai menghilang. Kenai ingin mencegah wanita itu pergi tapi tubuhnya terasa begitu ringan seolah dia terbang. Hal terakhir yang di ingatnya adalah senyum wanita itu yang begitu menunjukkan rasa sayang. Hingga Kenai pun tak sadarkan diri.

* * *

Read previous post:  
64
points
(1731 words) posted by yuu_chan 8 years 49 weeks ago
64
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | petualangan | kenai
Read next post:  
Writer AndravaMagnus
AndravaMagnus at the story of Kenai (part 2) (8 years 27 weeks ago)
100

kaya yg dikejar apa gitu yah?
Hehehe XD
tapi sayah suka bagian pas sang ibu muncul...

Keep it up!
Keep on goin~

Writer yuu_chan
yuu_chan at the story of Kenai (part 2) (8 years 27 weeks ago)

Makasih tuan Jang... eh, Kak Avaaa~~ :3

Writer yuu_chan
yuu_chan at the story of Kenai (part 2) (8 years 37 weeks ago)

makasih kak.
maaf, aku masih belum sempat merevisinya. oh iya makasih atas sarannya sebelumnya. :)

Writer Kika
Kika at the story of Kenai (part 2) (8 years 38 weeks ago)
70

kika juga suka banget sama brother bear ^^

mana lanjutannya nih kak??

Writer yuu_chan
yuu_chan at the story of Kenai (part 2) (8 years 38 weeks ago)

sabar ya kika. masih dalam proses pengerjaan. :)

Writer lukisanlangit
lukisanlangit at the story of Kenai (part 2) (8 years 41 weeks ago)
80

aku penasaran dengan carita lanjutannya :D

Writer yuu_chan
yuu_chan at the story of Kenai (part 2) (8 years 41 weeks ago)

untuk lanjutannya kurasa kakak harus menunggu sementara waktu dulu. (maaf TT_TT)
tapi akan kuusahakan secepatnya. masih mikir lanjutannya bagusnya digimanain. hehe...

Writer cat
cat at the story of Kenai (part 2) (8 years 41 weeks ago)
70

nah yg ini uda semakin rapi he5 ..
uda enak mata ini membacanya.

cara menceritakannya uda mulai mulus.

menunggu lanjutannya.

harusnya berikutnya ada petualangan yg akan dialami kenai dkk
ato tiba2 saja desa mereka diserang atau ada legenda yg bisa menghubungkan dgn kenai he5

Writer yuu_chan
yuu_chan at the story of Kenai (part 2) (8 years 41 weeks ago)

makasih kak. n_n

ide berikutnya masih dipikirkan. soalnya di part berikutnya memang sudah memasuki petualangannya kenai. tapi masih mikir petualangannya mau digimanain biar seru.
apa kakak punya ide? (butuh bantuan TT_TT)

Writer duniamimpigie
duniamimpigie at the story of Kenai (part 2) (8 years 48 weeks ago)
70

oke, cm pemotongan adegan di akhir kurang mantep! Rasana kurang membangkitkan rasa penasaran pembaca. Belum keliatan ceritana bakal dibawa kemana nih... hmmm...
Semangat!

Writer yuu_chan
yuu_chan at the story of Kenai (part 2) (8 years 48 weeks ago)

makasih... =)

kalau soal itu maaf. waktu lagi ngeupload itu tiba2 guru masuk ke kelas (nyuri waktu pada jam sekolah yg padat buat upload) terpaksa prosesnya harus dihentikan sementara waktu dan alhasil pemotongan ceritanya jadi salah tempat.
saat ini juga lagi nggak ada ide sama sekali! bisa bantuin kasi bayangan bagusnya lanjutan cerita ini gimana..?

Writer redscreen
redscreen at the story of Kenai (part 2) (8 years 48 weeks ago)
80

lanjutkan kak :D

Writer yuu_chan
yuu_chan at the story of Kenai (part 2) (8 years 48 weeks ago)

haha.. oke oke.. kalau besok2 ada waktu bakalan dilanjutin secepatnya.. :)

Writer Midori_Fukuro
Midori_Fukuro at the story of Kenai (part 2) (8 years 48 weeks ago)
80

ditunggu, ya :)

Writer yuu_chan
yuu_chan at the story of Kenai (part 2) (8 years 48 weeks ago)

thanks karena udah menyempatkan diri untuk membaca cerita ini.. =)

akan kuusahakan mengupload lanjutannya secepatnya.

Writer Kumiiko_chan
Kumiiko_chan at the story of Kenai (part 2) (8 years 48 weeks ago)
80

kurang panjang, hehe :D

Writer yuu_chan
yuu_chan at the story of Kenai (part 2) (8 years 48 weeks ago)

maaf tadi itu juga nyuri2 waktu. aku janji entar bakal dilanjutin lagi. :) (belajar di sekolah dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore benar2 sangat menyita waktuku buat Kenai dan kawan2!)

terima kasih karena tetap tertarik untuk membaca the story of kenai. aku harap cerita ini tidak mengecewakan. kalau punya ide untuk kelanjutan ceritanya (atau pengennya lanjutannya gimana) silahkan utarakan... :)