Cortesia : Tuan. Clown dan Tuan Parrot

Entah sudah berapa lama kami terbang. Karpet terus membawa kami seperti mengikuti arah bintang. Aku melihat ke bawah. Untaian kilauan percikan air seperti mutiara ketika dia terkena sinar bulan. Kami mungkin sedang mengitari sungai Par tone. Sungai besar yang bermuara dari mata air di negeri seberang. Suatu informasi yang aneh. Di mana negeri tersebut tidak pernah terpapar dalam sejarah maupun peta dunia yang kami pelajari di sekolah. Ya sepertinya negeri itulah yang akan kami tuju.

Kota Polite pasti sudah jauh sekali sekarang. Bumi memandangku dan Ferro. Dari wajahnya bisa kubaca, ekspresi bingung ya bingung, tapi senang.

“Kau kira bagaimana rupa ayah dan ibu sekarang?” Ferro yang pertama bicara.

“Sudah tua pastinya Fer.” Bumi menyambungkan pikiranku.

”Tapi kenapa mereka tidak mencari kita?” Bumi berhenti memandangku dan mengalihkan pandangannya ke samping.

“Kurasa karena mereka tidak bisa meninggalkan tempat mereka sekarang.” Jawabku

“Maksudmu mereka sudah….” Ferro tidak mau menyelesaikan perkataannya, akan terasa sangat menyakitkan memikirkannya walaupun kami pernah mengira demikian, dulu ketika masih bersama Ibu Retro.

“Aku rasa tidak mungkin. Kalau mereka tahu waktu mereka tinggal sedikit lagi, harusnya mereka hanya ingin menyelamatkan kita bukan sebaliknya menitipkan kita untuk dikembalikan lagi ke tempat semula. Itu terlalu aneh.”

“Setuju dengan Bumi. Mereka mungkin sudah mempersiapkannya.”

“Kalian tidak perlu menyemangati diriku hanya untuk meyakinkan diri kalian. Kalau orang tua kita masih ada. Kemungkinannya kecil. Kalau mereka baik-baik saja untuk apa harus menitipkan kita pada orang lain. Ditambah lagi karpet ini gagal mengantar kita dan malah membuat kita menghabiskan hampir 14 tahun bersama seorang ibu-ibu yang kejam dan tidak pantas mengurus panti asuhan.”
Entah si karpet marah atau kami memang sudah hampir sampai. Dia menukik tajam, untung aku, Bumi dan Ferro masih sempat berpegangan pada pinggirannya. Di bawah kami aliran sungai Par Tone mulai tertutupi oleh lebatnya hutan. Hutan yang terlihat seperti berwarna perak, tidak kurasa ini lebih gelap, pohon-pohon di dalamnya sangat lebat. Aku hampir tidak bisa melihat dasarnya, selain lebat sepertinya mereka tumbuh cukup tinggi. Karpet terus membawa kami menuju bagian tengah yang tidak ditumbuhi pepohonan. Hanya sebuah rumah yang sangat besar dengan pagarnya yang tinggi rumah di bagian tengah. Karpet pun segera mendarat tepat pada pintu rumah besar itu. Inikah kastil Black itu, sekarang sudah menjadi kastil hijau karena ditumbuhi lumut sangat tebal. Karpet terbang meninggalkan kami untuk menyelipkan dirinya ke dalam dan membuka pintu untuk kami.

Kami dipersilakan karpet untuk masuk dan mengikutinya menuju sebuah ruangan. Sebuah perpustakaan keluarga, begitu tulisan di atas pintu itu. Ruangan itu sangat berisik dan ketika pintu dibuka kami menemukan sebuah boneka badut dengan seekor burung beo yang sedang bertengkar dalam sarangnya masing-masing.

--------------------------

Aku, Bumi dan Ferro terdiam karena hal yang pertama kami liat adalah dua sosok makhluk yang bisa berbicara layaknya manusia padahal yang satu adalah boneka dan satu lagi adalah burung beo. Tetapi kurir yang membawa kami ke sini justru mendekati mereka dan sangat akrab.

“Halo Carl, rasanya lama sekali aku tidak melihatmu. Senang akhirnya melihat anggota keluarga Black!” Aku melihat badut itu tersenyum, berusaha membalas belaian untai ujung karpet terbang, tapi tangannya tidak bisa keluar dari kerangkeng dan karpetpun tidak bisa memasukkan ujung dari dirinya.

“Ah sepertinya kita akan selamanya berada di sini Tuan Parrot. Bahkan membalas lambaian Carl saja kita tidak akan bisa. Kecuali…..” Pandangan mata badut itu beralih menuju kami bertiga. Aku merasa dipelototi, kurasa begitu juga Bumi dan Ferro. Dia meneliti kami dari ujung rambut sampai ujung kaki.

“Carl bolehkah aku tahu siapa tamu yang kau ajak ke rumah tuan dan nyonya kita ini?” Karpet yang ternyata bernama Carl menarik Ferro mendekati kedua sangkar tersebut dan khusus di hadapan sang badut, Carl menunjukkan kalung yang kami pakai.

“Keluarga Black…Keluarga Black… bisa bebas… bisa bebas!” Si burung beo yang juga mengamati kalung Ferro akhirnya bersuara. Sepertinya dia senang sekali.

“Ferro tunggu!” Bumi mencegah Ferro yang ingin membebaskan mereka berdua.

“Kenapa?”

“Iya kenapa?” Badut itu ikut-ikutan bertanya pada Bumi tanpa rasa bersalah.

“Kenapa katamu! Mestinya kami yang harus bertanya Siapa kalian! Kalau kalian adalah bagian dari keluarga besar orang tua kami, kenapa kalian dalam kerangkeng yang kalian sendiri tidak bisa keluar dari situ? Jelas sekali tempat tersebut bukan tempat yang diperuntukan sebagai rumah atau kamar kalian. Dan di mana orang tua kami? Harus ada penjelasan kenapa mereka menelantarkan kami dan menyuruh kami kembali ke sini hanya untuk menemukan bahwa mereka tidak ada! ”

“Sudah Bumi…ini terlalu cepat, mungkin kita harus istirahat dulu. Mungkin saja mereka sedang keluar dan tidak menyangka kita akan datang secepat ini.” Aku berusaha menenangkan Bumi. Emosinya tumpah, aku bisa merasakannya, karena aku juga telah memikirkan hal itu sedari tadi. Rasa kangen ini berubah menjadi kecewa ketika yang kami temukan adalah dua makhluk yang tidak biasa ini.

“Atau mungkin sudah…” Bumi melanjutkan perkataanku. Membuatku semakin galau. Sebisa mungkin aku memendam rasa ini.

“Sebenarnya…” Burung beo mengalihkan perhatian kami. kini semua mata kami tertuju padanya.

“Ingat…Tuan Parrot!” Badut memberi peringatan pada burung beo tapi burung beo tidak mengindahkannya.

“Tidak apa-apa Tuan Clown, aku rasa mereka mestinya tahu sesegera mungkin tentang mereka.” Si Badut akhirnya mempersilahkan burung beo yang ternyata bisa bicara dengan lancar itu memberi tahu kami.

“Tapi bila aku sudah memberi tahu soal orang tua, kalian harus berjanji untuk membebaskan kami berdua dari sangkar ini. Sungguh kejadiannya sangat tidak mengenakkan dan akan sangat nyaman untuk kami bila bisa menghirup udara luar kembali.” Dari mata burung beo, Bumi melihat kesungguhannya begitu juga dengan diriku.

“Baiklah aku akan memegang janjiku. Setelah kau cerita maka kalian berdua akan aku bebaskan.” kata Bumi.

Read previous post:  
82
points
(1585 words) posted by sekar88 9 years 18 weeks ago
74.5455
Tags: Cerita | Cerita Pendek | petualangan | 3 witch3s | cerita | Kehidupan | sekar88
Read next post:  
90

Sepertinya kamu juga mumpuni dalam tulisan fantasi, hehehe
Ternyata nama "Parrot" berasal dari burung beo itu ya? begitu pula dengan "Clone"?
Bukankah badut--->clown ((dalam English)??
Dan nama "Clown" telah kamu tulis di bagian percakapan. Atau jangan-jangan "Clone" (yang tertulis pada judul) adalah tokoh yang berbeda dengan tokoh badut?
Maaf...mungkin saya yang lemot dalam mengerti sebuah cerita ^_^V

Salam

my fault-Salah saya. khikhi , kesalahannya fatal lagi . judul kok bisa salah haha, yg bener Mr.Clown khi2

terimakasih sudah diingatkan ^^ dan terimakasih dah komen juga

70

ceritanya bagus, ga bosenin
salm knal
mampir ya

wah apaan tuh maaf lama menghilang hihi

100

ayooo kak sekar...
truss menulisss

OK deh Mba ^^