SSUS - Layang-Layang

Iwan sedang melintas di ruang tamu ketika telepon di ruang tengah berdering. Di tangan kanan Iwan ada layang-layang dari kertas minyak berwarna merah. Setahu Iwan, ibunya sedang ke pasar, dan di dalam rumah tidak ada orang selain dia yang baru akan keluar, jadi dia berlari masuk kembali ke ruang tengah. Dengan tangan kiri diangkatnya gagang telepon.

“Selamat pagi, rumah Dokter Hasan. Cari siapa?” Iwan sudah pernah diajari ayahnya menjawab telepon, tapi kalimat yang diajarkan terlalu panjang buatnya.

“Selamat pagi, Adek. Bisa dengan Dokter Hasan?” Suara seorang wanita terdengar di ujung sana. “Tolong bilang ini penting.”

“Ini siapa ya? Saya Iwan, anaknya Dokter Hasan. Umur enam taun.”

Suara di seberang tertawa kecil, tetapi masih menjaga sikap resminya. “Maaf. Saya dari Rumah Sakit, dari kantornya Dokter Hasan. Ada pesan penting untuk Dokter Hasan. Adek Iwan tolong panggilkan ya.”

Iwan meletakkan gagang telepon di atas meja dan berlari ke halaman belakang sambil mengangkat layang-layangnya, membayangkan layang-layang itu terbang tinggi di angkasa. Di halaman belakang ada kebun kecil. Dokter Hasan sedang merawat anggrek kesayangannya. Sebelum benar-benar berhenti di dekat ayahnya, Iwan sudah memanggil.

"Ayah. Ayah. Ada telpon.”

Dokter Hasan menoleh dan melihat layang-layang di tangan kanan Iwan.

“Oh. Telepon dari mana?” tanyanya. Kemudian dilanjutkan. “Itu layang-layang dapat dari mana, Wan?”

“Dari dekat sekolah. Bagus ‘kan, Yah?” jawab Iwan bersemangat.

“Bagus, bagus. Teleponnya dari mana?”

“Oh iya! Dari kantor. Penting katanya. Iwan pergi main dulu ya Yah.”

Dokter Hasan berdiri tegak, meluruskan punggungnya. “Tunggu dulu di sini. Ayah terima telepon dulu.”

Iwan tidak sempat memprotes karena ayahnya sudah menghilang masuk ke dalam rumah. Dipandanginya semprotan air yang diletakkan Dokter Hasan di tanah.

Di ruang tengah, Dokter Hasan mengangkat telepon. “Selamat pagi. Dokter Hasan di sini. Maaf menunggu. Ada yang bisa saya bantu?

“Selamat pagi, Dok. Ini Wati. Maaf mengganggu di hari liburnya. Dokter Yunus yang mestinya berangkat ke Jogja dialihkan ke Mentawai, karena satu dan lain hal. Dokter Hasan diminta berangkat ke Jogja besok pagi, menggantikan Dokter Yunus. Anggota tim yang lainnya tidak berubah.”

Dokter Hasan menarik napas panjang sebelum menjawab, “Baiklah. Tapi tolong bantu saya jadwal ulang janji pertemuan dengan beberapa pasien. Besok Ibu Diana ada jadwal kontrol. Untuk Ibu Diana saya saja yang menghubungi. Tapi tolong kamu cek jadwal pasien yang lain, dan hubungi mereka untuk jadwal ulang. Kalau mereka tidak keberatan untuk ganti dokter, tolong sekalian carikan pengganti saya. Tiketnya bagaimana?”

“Tiket sedang saya carikan, Dok. Nanti saya hubungi lagi sekalian melaporkan tentang jadwal ulang pasien-pasiennya.”

“Terima kasih, Wati.” Dokter Hasan mengembalikan gagang telepon ke tempatnya sambil merenung.

Di kebun belakang, Dokter Hasan menemukan Iwan sedang menyemprot beberapa ikat tanaman anggrek.

“Wah, wah. Iwan, terima kasih sudah membantu. Ke sini dulu.” Dokter Hasan berjongkok di dekat pintu belakang.

Iwan meletakkan semprotan air, memungut layang-layangnya, dan mendekati ayahnya.

"Iwan, Nak, Ayah mendapat tugas ke Jogja untuk merawat korban Gunung Merapi. Kamu tahu ‘kan, Gunung Merapi yang meletus itu?”

“Iya, Yah. Iwan liat di televisi. Banyak ya yang sakit.”

“Banyaak sekali. Tapi yang tidak sakit juga perlu dibantu, supaya tidak jadi sakit.”

“Kapan berangkat, Yah? Iwan ikut ya? Iwan mau ikut. Iikuut..”

“Ayah berangkat besok pagi. Iwan tidak bisa ikut. Iwan harus sekolah. Lagipula, Ayah punya dua tugas untuk kamu.”

Wajah Iwan yang merengut berubah sejenak. “Tugas apa, Yah?”

“Ayah menugaskan Iwan untuk menjaga rumah dan membantu Ibu. Itu tugas yang pertama. Kalau Ayah pergi, tinggal Iwan satu-satunya laki-laki di dalam rumah. Kasihan kan kalau Ibu ditinggal sendirian.”

“Tugas yang kedua?”

“Tugas yang kedua, tolong rawat bunga-bunga anggrek itu,” kata Dokter Hasan sambil mengangkat dagu, menyapu pandangan ke arah kebun belakang itu.

“Itu ndak keliatan seperti bunga, Ayah. Trus, ndak ada potnya lagi.”

“Itulah uniknya bunga anggrek. Ingat ya, jangan terlalu sering disiram bunganya. Cukup dua hari sekali.”

“Tapi Iwan mau main layang-layang sama Ayah. Kalau Iwan ikut kan bisa main layang-layang sama Ayah di sana.”

Dokter Hasan menundukkan kepala sejenak, kemudian berkata, “Ayah juga mau main layang-layang sama Iwan. Tapi sayangnya tidak bisa dalam waktu dekat. Di sana juga belum tentu ada waktu untuk bermain layang-layang. Iwan tahu tidak? Di sana banyak anak-anak yang tidak sempat memikirkan untuk bermain layang-layang, Mereka sedih karena kehilangan tempat tinggal, kehilangan keluarga, kehilangan teman. Ayah harap Iwan bisa mengerti.”

Iwan masih merengut. “Pokoknya Iwan mau main sama Ayah. Anak-anak itu juga harus main. Ayah kan pernah bilang, anak-anak harus punya waktu untuk bermain.”

Dokter Hasan terkejut. Dia tidak pernah mengatakan kalimat seperti itu kepada Iwan. Mungkin Iwan pernah mendengar dia mengatakan itu kepada salah satu pasiennya lewat telepon. “Ya, Kamu benar, Nak. Benar sekali. Nanti Ayah sampaikan pada anak-anak di sana. Mungkin ada yang suka juga bermain layang-layang.”

“Ah! Kalau begitu, nanti Iwan buatkan layang-layang untuk Ayah, juga untuk anak-anak di sana!” Mata Iwan bersinar-sinar.

“Memang Iwan bisa membuat layang-layang?”

“Belum. Tapi Iwan pasti bisa buat. Nanti Iwan kirim ke sana. Ayah tunggu saja!”

***

Dua minggu berlalu sejak keberangkatan Dokter Hasan ke Jogja. Iwan dan ibunya menerima telepon dari Dokter Hasan setibanya Dokter Hasan di sana, lalu sekali lagi menerima telepon sehari sesudahnya. Setelah itu belum ada kabar lagi.

Selama menunggu kabar dari ayahnya, Iwan mencoba meniru layang-layang merah yang dibelinya dekat sekolah, dan membuat sendiri. Tapi tidak berhasil. Iwan menanyakan kepada teman-temannya, tetapi tidak ada yang tahu cara membuat layang-layang. Suatu hari Iwan bermain layang-layang sendirian. Di daerah tempat tinggal Iwan, ada jarak yang cukup lebar, sekitar dua meter, dari tepi jalan ke deretan rumah-rumah. Di tepi jalan itulah Iwan berlari-lari dengan layang-layang merahnya terbang rendah di belakangnya. Sampai perempatan di ujung jalan, Iwan berbalik dan berlari lagi ke arah rumah. Begitu terus. Bolak-balik.

Pada putaran yang ke sekian, di ujung jalan angin bertiup dan layang-layang Iwan tidak berbelok dengan baik. Karena layang-layangnya terbang tidak melebihi tinggi pohon mangga yang ada di halaman rumah paling ujung, layang-layang itu tersangkut pada dahan. Iwan mencoba menyentak benang layang-layangnya, tetapi layang-layang itu malah semakin tersangkut di dahan pohon mangga.

Dengan hati galau di dekatinya pagar halaman rumah itu. Iwan tahu di rumah itu tinggal Pak Ullank dan ayahnya yang sudah tua, Pak Mansyur. Beberapa hari lalu Iwan mendengar dari ibunya bahwa Pak Ullank brangkat ke luar kota. Berarti tinggal Pak Mansyur di dalam rumah. Kalau dengan Pak Ullank, Iwan beberapa kali bertemu. Dengan Pak Mansyur, lain ceritanya. Seingat Iwan, dia belum pernah bertemu dengan Pak Mansyur, tetapi mendengar dari teman-temannya kalau Pak Mansyur orangnya galak, tidak suka anak-anak.

Dipungutnya sebongkah batu kecil dan diketuk-ketukkan ke pagar besi. Mulanya bunyi dentang batu pada pagar itu terdengar lirih, karena Iwan tidak berharap ada yang keluar. Tapi karena tidak ada yang keluar, keberanian Iwan bangkit dan semakin lama dentang pagar besi semakin keras. Menunggu sejenak, tetap tidak ada tanda-tanda orang di dalam rumah. Iwan meraih gerendel pagar dari luar dan menggesernya agar terbuka.

“SIAPA DI SITU?!”

Iwan terlonjak kaget. Bukan karena suara itu menggelegar, tetapi karena saraf-sarafnya sedang tegang. Cepat-cepat tangannya ditarik keluar pagar.

Pak Mansyur berdiri di pintu depan. Tubuhnya agak kurus, tetapi tegap. Tingginya mungkin sedikit di bawah ayah Iwan, Dokter Hasan.

“Siapa, ya? Ada perlu apa, Nak?” Nada suara Pak Mansyur sedikit menurun.

“S-saya Iwan, anaknya Dokter Hasan. Umur enam taun. Layang-layang. Tersangkut. Mangga. Pohon,” terbata-bata Iwan menjawab.

“Apa? Mau minta mangga? Waah, wah. Tumben ada yang minta baik-baik. Biasanya ambil sendiri trus langsung pergi.”

“Bukan! Bukan! Layang-layang. Itu, layang-layang saya tersangkut di pohon mangga!”
“Apa? Layang-layang?” Pak Mansyur memandang pohon mangga dan baru melihat layang-layang yang tersangkut di dahan bagian luar. “Ooh. Layang-layang, toh. Punyamu?”

Iwan akan menjawab, tetapi Pak Mansyur yang sudah mendekat melihat kaleng yang dipakai Iwan untuk menggulung benang.

“Keliatannya memang punyamu. Yo wis. Ambillah.” Pak Mansyur menarik gerendel pagar hingga terbuka.

Tanpa sadar Iwan sudah mundur dua langkah. Tetapi sinar mata Pak Mansyur membuatnya meragukan cerita-cerita yang didengarnya dari teman-teman.

“Ayo. Kamu bisa ambil sendiri?”

Iwan baru menyadari kesulitannya. Memanjat pohon mangga itu bukan masalah. Mengambil layang-layang itu yang masalah. Ragu-ragu ditatapnya Pak Mansyur, dan dengan lambat digelengkannya kepalanya.

“Hm. Baiklah. Sini Kakek bantu. Tolong ambilkan jolok bambu di halaman samping sana itu.”

Setelah mereka berdua berusah-payah, akhirnya layang-layang itu lepas dari dahan pohon mangga. Iwan berterima kasih dan bersiap-siap pergi, sewaktu Pak Mansyur bertanya,

“Sebentar. Kamu tinggal di mana?”

Iwan agak bingung. Pak Mansyur tidak terlihat pikun, tetapi seakan beliau tidak mengingat jawaban Iwan tadi. “Saya tinggal di rumah sana, Kek. Iwan, anak Dokter Hasan. Dokter Hasan,” katanya dengan nada agak tinggi.

Wajah Pak Mansyur berubah agak muram. Iwan semakin yakin pikunnya Pak Mansyur adalah jenis yang langka. Sebentar kemudian wajah keriput Pak Mansyur tenang kembali. “Ya sudah. Titip salam untuk ibu kamu ya.”

“Terima kasih, Kakek.” Iwan bergerak keluar pagar.

Pak Mansyur masih memanggilnya lagi. “Layang-layang itu kamu bikin sendiri?”

Langkah Iwan terhenti. Dia menoleh. “Ndak, Kek. Ini Iwan beli dekat sekolah. Tapi Iwan mau bikin layang-layang untuk Ayah dan anak-anak Jogja.”

Pak Mansyur memiringkan kepalanya, kurang mengerti. “Ee, terus, mana layang-layang yang kamu bikin sendiri?”

“Belum jadi.” Berat hati Iwan mengingat layang-layang buatannya yang tidak mirip layang-layang.

“Siapa yang bantu kamu membuat layang-layang?”

Iwan hanya menggeleng. Kesedihannya menumpuk.

“Hm. Kalau kamu mau, Kakek bisa bantu. Besok kamu ke sini saja. Minta izin dulu sama ibumu, ya.”

Mata Iwan yang tertunduk sayu perlahan-lahan melebar. Raut wajah Pak Mansyur tidak berubah. Beliau bersungguh-sungguh. Akhirnya mata Iwan membelalak. Tidak percaya. Percaya. Tidak percaya.

“Jadi, mau Kakek bantu kamu bikin layang-layang, Iwan?”

Iwan menekuk lututnya dan melompat tinggi-tinggi. “Ya! Iya! Mau, mau!” Belum hilang suara teriakannya, Iwan melesat ke luar pagar sambil melambai pada Pak Mansyur. “Terima kasih, Kakek! Iwan datang besok!”

***

Keesokan harinya Pak Mansyur mulai membantu Iwan. Dengan tegas Iwan mengatakan bahwa dia ingin membuat sendiri layang-layangnya. Jadi mereka membuat kesepakatan. Pak Mansyur menunjukkan cara membuat layang-layang, dan Iwan menirunya. Dimulai dari meraut bambu, menimbang dengan benang, menentukan kelenturan yang tepat untuk bambu yang dilengkungkan, mengikat keempat ujungnya, menempel kertas, hingga memilih benang yang ringan namun kuat. Pelajaran terakhir nantinya adalah cara menerbangkan layang-layang.

Sambil membuat layang-layang mereka bercakap-cakap, dan Iwan akhirnya sadar bahwa tingkah aneh Pak Mansyur kemarin bukan dikarenakan Pak Mansyur sudah pikun, tetapi karena pendengarannya sedikit terganggu. Terkadang Iwan harus meninggikan nada suaranya agar terdengar olah Pak Mansyur. Dari percakapan itu juga Iwan menjadi tahu mengapa Pak Mansyur tidak menyukai anak-anak. Bukannya Pak Mansyur tidak menyukai anak-anak. Beliau hanya tidak menyukai anak-anak yang mencuri mangga, padahal kalau anak-anak itu meminta dengan baik-baik, dan tidak di waktu tidur siang, mungkin Pak Mansyur akan mengizinkan. Toh Pak Mansyur tidak akan mampu menghabiskan semua mangga itu.

Pak Mansyur juga menceritakan bahwa beliau mempunyai cucu di desa. Di Jawa Tengah. Dekat Jogja. Pak Ullank, anak Pak Mansyur, beberapa hari yang lalu berangkat ke sana untuk memastikan saudara-saudara, istri dan anaknya selamat dari letusan Gunung Merapi. Sewaktu Iwan memperkenalkan diri sebagai anak Dokter Hasan kemarin, Pak Mansyur jadi teringat kabar bahwa Dokter Hasan sudah berangkat lebih dulu ke Jogja. Mengingat Jogja, Pak Mansyur jadi teringat pada anak-cucunya.

Setelah mendengar cerita Pak Mansyur, Iwan tertegun. Tangannya yang sedang mencoba kelenturan rangka layang-layang berhenti di tengah jalan. Diulurkannya lengannya, menyentuh lengan Pak Mansyur, dan ditepuk-tepuknya lengan itu.

“Kakek jangan kuatir. Iwan akan membuat layang-layang juga untuk cucu Kakek.”

Pak Mansyur tersenyum. “Kakek tidak mau dibuatkan layang-layang oleh Iwan. Kakek mau membuat sendiri.”

***

Di hari kedua pelajaran membuat layang-layang, Iwan sudah mampu membuat sendiri. Hanya saja layang-layangnya belum seimbang. Terbangnya miring. Tapi Iwan sudah sangat gembira.

“Horee! Sedikit lagi! Sedikit lagi! Buat lagi! buat lagi!” seru Iwan sambil menerbangkan layang-layang miringnya.

Keesokan harinya Iwan akhirnya berhasil membuat layang-layang yang dapat terbang dengan tegak. Saat layang-layang buatan Iwan itu diterbangkan sore hari di lapangan dekat rumahnya, Iwan melonjak-lonjak kegirangan sampai lupa memegang benang sehingga layang-layangnya oleng dan berayun turun. Pak Mansyur hanya bisa menegur dan mengingatkan, karena Pak Mansyur juga sedang memegang benang layang-layang buatannya sendiri.

Sambil meraih kembali benangnya, Iwan berkata, “Tidak sabar Iwan menunggu Ayah pulang. Ayah harus cepat pulang!”

Loh, bagaimana dengan anak-anak lain? Katanya Iwan mau buatkan juga untuk mereka?”

“O iya ya..” Iwan mengerutkan keningnya. “Tidak masalah. Iwan sudah bisa membuat layang-layang. Tapi kirimnya bagaimana, ya? Iwan ndak tau alamatnya.” Sambil berpikir Iwan memandang layang-layangnya bergoyang ke kiri dan ke kanan, bermain-main ditiup angin. Dan matanya membesar, ketika dia menemukan gagasan hebat. “Iwan tau! Iwan tau!”

Pak Mansyur menoleh kaget. “Tau apa, Iwan?”

“Kita kirim layang-layang ini lewat angin! Kita kirim dengan surat! ‘Tolong titip untuk Dokter Hasan, ayahnya Iwan. Dokter yang hebat.’ Pasti ketemu! Terus titip juga untuk anak-anak di sana. ‘Untuk anak-anak yang hebat, yang suka main layang-layang.’ Ya? Kakek, ya?”

Pak Mansyur lebih memilih mengirim lewat kantor pos, tapi beliau mengakui ini cara yang hebat untuk mengirim layang-layang. “Ya. Ada juga cara seperti itu. Kalau begitu, jangan ditunda-tunda lagi. Ayo kita mulai tulis suratnya.”

Di malam hari, ibu Iwan menemani anaknya menulis beberapa lembar surat untuk Dokter Hasan dan untuk anak-anak lainnya. Ibu Iwan sendiri juga menulis surat untuk suaminya.

Tapi Iwan tidak boleh berlama-lama. Harus segera tidur. Besok harus membuat beberapa layang-layang lagi.

***

Tiba saatnya mengirimkan layang-layang. Sepulang sekolah Iwan menjemput Pak Mansyur dan bersama-sama mereka membawa beberapa layang-layang, sebanyak yang sanggup mereka buat, ke lapangan. Di sana mereka mengikatkan satu per satu surat ke masing-masing layang-layang. Setelah semuanya siap, Pak Mansyur memegang layang-layang pertama dan Iwan siap menerbangkannya.

Tak lama kemudian Pak Mansyur merasakan angin yang bersahabat berhembus. “Yak, Iwan! Angkat!”

Layang-layang itu naik dengan mulus. Lalu Pak Mansyur mengajarkan cara memutuskan benang layang-layang agar benang yang tersisa pada layang-layang itu tidak terlalu panjang. Iwan belum mahir, sehingga dia harus merelakan Pak Mansyur yang memutuskan benang layang-layang itu.

Pak Mansyur menghitung sebelum memutuskan benangnya. “Satu.. dua.. tiga! Putus!”

“Horee! Ayo terbang layang-layang!” Iwan melonjak-lonjak memberi semangat pada layang-layangnya. “Cari ayahku, ya! Juga anak-anak di sana!“

“Anak dan cucuku juga!” seru Pak Mansyur.

Satu per satu layang-layang mereka terbangkan dan putuskan benangnya. Setelah layang-layang terakhir terbang melambai menjauh, Iwan baru teringat sesuatu.

“Kakek! Layang-layangnya habis!”

“Iya. Memang habis. Sudah terbang semuanya.”

“Terus, kita sendiri mau bermain layang-layang, bagaimana?”

Pak Mansyur tertawa. “Ya sudah, kita pulang, buat lagi.”

Senyum mengembang di wajah Iwan. “Iya ya. Mari kita pulang. Kita buat lagi layang-layang. Nanti waktu kita bermain layang-layang lagi, di sana Ayah pasti sudah bermain layang-layang juga.”

_FIN_

Makassar - Nusa Dua, 25 November 2010

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer rey_khazama
rey_khazama at SSUS - Layang-Layang (8 years 41 weeks ago)
80

“Oh. Telepon dari mana?” tanyanya. Kemudian dilanjutkan. “Itu layang-layang dapat dari mana, Wan?”

coba akali dengan teknik lain, brad. agak aneh bacanya. Hehehehe...

Writer samalona
samalona at SSUS - Layang-Layang (8 years 40 weeks ago)

Baik. Terima kasih masukannya. Akan jadi pertimbangan dalam proses edit.

Writer stabilohijau
stabilohijau at SSUS - Layang-Layang (8 years 41 weeks ago)
50

bagus dijadiin novel... heheee

Writer samalona
samalona at SSUS - Layang-Layang (8 years 40 weeks ago)

terima kasih. maklum, masih belajar. maunya tulis cerpen malah jadi calon novel, hehe.

Writer neko-man
neko-man at SSUS - Layang-Layang (8 years 42 weeks ago)
80

kurang natural bagiku. terlalu pesimis. hmm.. tapi oke deh.

Writer samalona
samalona at SSUS - Layang-Layang (8 years 40 weeks ago)

pesimis ya.. hmm
terima kasih, neko-man. saya jadi tahu ada kesan seperti itu dari cerita ini.

Writer shafira
shafira at SSUS - Layang-Layang (8 years 42 weeks ago)
80

iwan manis sekali dan aku merasa karakternya sudah natural. tapi menurutku, mengirimkan layang-layang dengan cara menerbangkannya (meski disertai surat) itu kurang logis dan kemungkinan untuk sampainya juga kecil, lagipula disini tidak dijelaskan iwan tinggal dimana atau mungkin aku yang tidak membacanya, ya?
-
semangat untuk sahabatnya sudah cukup terasa, walaupun kadarnya rasanya masih kurang.
tapi two tumbs up untuk idenya..
^_^
jadi pengen buat cerpen kayak gini, hehehe...

Writer samalona
samalona at SSUS - Layang-Layang (8 years 40 weeks ago)

terima kasih masukan plus-minusnya.
saya kira kami sudah memasukkan petunjuk tentang kota tempat tinggal Iwan, tapi setelah melalui proses rupanya petunjuk itu menjadi tipis atau bahkan tak terbaca sama sekali.
pembelaan tentang menerbangkan layang-layang surat hanya terletak pada kepolosan, imajinasi dan spontanitas seorang anak kecil. layang-layang itu gagasan inti dari cerita ini. kami kesulitan memodifikasinya tanpa merombak cerita secara mendasar. bagaimanapun, saya mengakui tergoda untuk mencari arah yang lain.
terima kasih, shafira :)

Writer samalona
samalona at SSUS - Layang-Layang (8 years 40 weeks ago)

hmm. itu bisa diperdebatkan. tergantung sudut pandang. tergantung pengaruh kebudayaan pop. tergantung yang ideal atau yang realistis. tapi terima kasih masukannya. harus baca psikologi perkembangan anak lagi nih ^^.

dadun at SSUS - Layang-Layang (8 years 42 weeks ago)
80

poin lupa

dadun at SSUS - Layang-Layang (8 years 42 weeks ago)

ada sedikiiit kejanggalan di awal, di bagian: iwan tahu ibunya sedang ke pasar, dan di dalam rumah hanya ada ia sendirian.....
lalu sehabis angkat telpon, iwan langsung bilang ke pak hasan. jeng jeng.... ternyata ada pak hasan juga toh.

oke, emang sedikit janggal. sedikit. tapi kemudian kupaksa untuk memahami kalau yg dimaksud penulis ga ada orang selain iwan itu DI DALAM rumah, sebab ternyata pak hasan dianggap berada DI LUAR.

terlepas dari pesan moral etc., aku merasa cerpen (ini cerpen, bukan?) ini terlalu panjang, terlalu banyak detail yg membuatku kelelahan sehingga aku terpaksa main lompat tali alias skiping *zzz apadeh*

Writer samalona
samalona at SSUS - Layang-Layang (8 years 40 weeks ago)

Betul, dadun.
Suka lompat tali juga ya :D

Writer lavender
lavender at SSUS - Layang-Layang (8 years 42 weeks ago)
90

Pesannya terasa.. Ga hrs nunjukin ttg victim bencana, tp udah dapet sisi semangatnya.. This one is very suit for SSUS..

Writer samalona
samalona at SSUS - Layang-Layang (8 years 40 weeks ago)

Thanks for the support, lavender :)

Writer Midori_Fukuro
Midori_Fukuro at SSUS - Layang-Layang (8 years 42 weeks ago)
90

hi...saya jadi ngeri..
Ini, sih bagus banget..
jadi tambah malas, nih..
gak jadi ngetik deh...

Writer samalona
samalona at SSUS - Layang-Layang (8 years 40 weeks ago)

SSUS bukan lomba kok. Terima kasih Midori menganggap ini bagus, meskipun masih ada kekurangannya. Ayo. Sama-sama belajar.

Writer Shinichi
Shinichi at SSUS - Layang-Layang (8 years 42 weeks ago)
100

wah!

dengan bantuan seorang editor, cerita ini sungguh layak dijadiin novel untuk Sahabat.

bener2 menyentuh :D

saia menilai peran Ibu disini hilang, padalan kemunculuannya pun dalam satu dialog saja akan lebih menghidupkan cerita. soal novel yg saia bilang itu, terletak pada bagian informasi Mentawai yg mau gak mau harus dicantumin demi keutuhan cerita.

dari sudut pandang yg berbeda (titik dimulainya cerita) saia yakin ini bakal lebih menyentuh. tp dengan begini saja, bener2 kerasa.

ah, aroma sastranya jugak kental :D

ahak hak hak

adakah yg mau jdi editornya sebelum cerita ini saia ajuin? :D

saia kasiy 10 untuk layangan dan anak-anak :)

Writer samalona
samalona at SSUS - Layang-Layang (8 years 40 weeks ago)

Betul sekali. Cerita ini semestinya jadi cerpen, tapi unsur-unsur novelnya kelihatan. Baiklah. Satu-satu dulu dikerjakan. Sekarang jadikan dia cerpen. Bayangan novel sungguh menggoda, tapi kita harus fokus :)
Kalau ada yang mau jadi editornya, kami senang sekali. Tetapi saya dan kumiiko_chan juga akan mencoba.

Writer cyber_nana
cyber_nana at SSUS - Layang-Layang (8 years 43 weeks ago)
80

Simple dan mengandung banyak pesan moral. Cerita yang manis.. :)

Writer samalona
samalona at SSUS - Layang-Layang (8 years 40 weeks ago)

Terima kasih, Nana :)

Writer cyber_nana
cyber_nana at SSUS - Layang-Layang (8 years 43 weeks ago)
80

Simple dan mengandung banyak pesan moral. Cerita yang manis.. :)

Writer duniamimpigie
duniamimpigie at SSUS - Layang-Layang (8 years 43 weeks ago)
100

Sederhana, bagus! Saya suka cerita yg sederhana. Tp, gmn kabar Dokter Hasan dYogya? Kasihtw dong Ka, sy penasaran. Moga beliau baik" az ^^

Writer samalona
samalona at SSUS - Layang-Layang (8 years 40 weeks ago)

Itu juga yang jadi ganjalan pikiran. Masih sedang direnungkan mas ^^. Kalau ada saran solusi, dengan senang hati kami akan mendengarkan.
Terima kasih sudah menyukai cerita ini.

Writer cat
cat at SSUS - Layang-Layang (8 years 43 weeks ago)
80

Ah, jadi inget pas main layang2 di rumah pohon.
Hanya saja mikir, tuh kakek kgk sayang layangan nya ntah nyampe ke mana wkwkwk

Writer samalona
samalona at SSUS - Layang-Layang (8 years 40 weeks ago)

Seperti kata pepatah, "Layang-layang dibuat untuk terbang." hehe.

Writer Fany Ijo
Fany Ijo at SSUS - Layang-Layang (8 years 43 weeks ago)
90

Agak sedikit kaku percakapannya, truuuss..
Tugas Iwan dr dokter Hasan ga dikerjain donk. :p
.
“Kakek jangan kuatir. Iwan akan membuat layang-layang juga untuk cucu Kakek.”

Pak Mansyur tersenyum. “Kakek tidak mau dibuatkan layang-layang oleh Iwan. Kakek mau membuat sendiri.”
.
Di sini ceritana pendengaran pak Mansyur kumat yah?
Tapi, nice kolab :D

Writer samalona
samalona at SSUS - Layang-Layang (8 years 40 weeks ago)

Terima kasih masukannya. Masih ditampung, digodok, dan dibiarkan bermalam dulu.
Tentang tugas untuk Iwan, betul itu menggantung. Masih mencari solusi supaya tidak menggantung sekaligus ceritanya tidak jadi kepanjangan.

Writer anggre
anggre at SSUS - Layang-Layang (8 years 43 weeks ago)
60

wah q suka layang2

Writer samalona
samalona at SSUS - Layang-Layang (8 years 40 weeks ago)

sama. tapi aku gak pintar nerbanginnya >.<

Writer cilang
cilang at SSUS - Layang-Layang (8 years 43 weeks ago)
100

aku mau layang2nya. Tapi ndak sampe kemari yo?

Writer samalona
samalona at SSUS - Layang-Layang (8 years 40 weeks ago)

wis ta' kirim loh.

Writer Kumiiko_chan
Kumiiko_chan at SSUS - Layang-Layang (8 years 43 weeks ago)
100

Yayyy.. kak, titip layang-layang juga dong?
hehe :D

Writer samalona
samalona at SSUS - Layang-Layang (8 years 40 weeks ago)

bikin sendiri :D

Writer Kumiiko_chan
Kumiiko_chan at SSUS - Layang-Layang (8 years 40 weeks ago)

saya ga tau bikin layang-layang kak xD
kalo putusin tau, hihi :D