4 Tahun Kemudian - Make A Wish

(Saturday, November 27th 2010, 8.15 p.m; Crescent Street #40, Lakerstown)

Aku tak henti-hentinya menguap. Aku sudah berada di tempat ke-sepuluh yang harus kudatangi, dan setelah ini masih ada satu lagi. Lama sekali anak itu berpikir. Come on, come on..

Amanda memejamkan matanya, berpikir ingin mengajukan sebuah permohonan. Sementara orang tuanya berada disamping anak semata wayangnya yang baru saja genap berusia delapan tahun itu. Sebuah kue ulang tahun persegi besar dengan buttercream icing berwarna pink, penuh dengan bunga-bunga serta lilin angka delapan tersaji di depan Amanda. Mereka duduk di gazebo yang terletak di halaman depan rumah megah mereka.

“Ayolah, Cantik, apa yang membuatmu lama berpikir? Ayah harus segera berangkat ke luar negeri.” Ucap ayah Amanda tak sabar.

“Ayah, biarkan Amanda berpikir.” Ibu Amanda membela.

“Bu, apa sih keinginan seorang anak umur delapan tahun? Amanda, katakan saja, kau ingin sepeda baru, satu set mainan Barbie baru, baju baru, atau.. boneka beruang paling besar?”

“Ayah, jangan diganggu.. seharusnya kita mengadakan pesta ulang tahun besar dan mengundang teman-temannya, dengan badut, tukang sulap, dan juga sebuah pinata.. itu yang Amanda mau.” ucap Ibu Amanda.

“Ibu kan tahu aku harus ke luar negeri malam ini. Mana bisa mengadakan pesta besar?”

Amanda masih memejamkan mata, tak menghiraukan kedua orang tuanya yang berdebat.

Aku masih menunggu anak itu mengucapkan permohonan dari dalam hatinya ketika aku merasakan tangan kananku berpendar. Segera aku membalik telapak tanganku bagian dalam, kemudian kudapati wajah temanku yang sangat tampan, berpendar di telapak tanganku yang putih. Oberon.

“Hai, beautiful!” godanya.

“Ada apa, Oberon?”

“Kau di Crescent Street ya?”

“Bagaimana kau tahu?”

“Aku melihat cahaya ungumu berpendar dari luar rumah megah ini. Lalu aku melihatmu. Karena aku ada di depan rumah ini.”

“Oh ya? Sedang apa kau disitu?”

“Aku ada tugas, tepat di depan rumah tugasmu. Sudah dulu, tugasku sudah mulai memohon.” Wajah Oberon hilang begitu saja, tidak memberiku kesempatan untuk menanggapinya. Sementara itu aku mulai mendengar suara hati Amanda.

“Tuhan, aku tidak ingin Ayah sering pergi. Aku ingin Ayah sering berada di rumah, menemaniku bermain dan belajar, seperti dulu, saat Ayah belum menjadi seorang Menteri.”

Hatiku tersentuh. Ketika Amanda meniup lilin, aku segera memainkan jari telunjukku di udara, menuliskan keinginan Amanda menjadi huruf-huruf peri berwarna ungu. Setelah selesai, huruf-huruf itu kemudian menyatu, membentuk gumpalan berwarna ungu. Aku mengambil gumpalan itu dan menyelipkannya di antara helai-helai sayap ungu di punggungku, gumpalan itu lalu menghilang diantaranya, mengiringi diriku yang juga menghilang dari tempat itu. Namaku Rosetta, aku adalah Make-A-Wish Fairy.
*-*-*-*

(Saturday, November 27th 2010, 8.15 p.m; Crescent Street #40, Lakerstown)

Seorang gadis kecil dengan kaos dan celana pendek lusuh berdiri di depan pagar hitam yang menjulang tinggi, menutupi sebuah rumah mewah. Sosoknya yang kurus hampir tak terlihat karena kegelapan malam pekat yang kebetulan langitnya tengah mendung. Dia melihat ke dalam pekarangan rumah itu lewat sela-sela pagar besi tinggi.

Hari ini dia berulang tahun, tapi sejak tadi dia tidak memikirkan mengenai ulang tahunnya. Mungkin karena dia berpikir tidak akan merasakan ulang tahun yang indah. Aku sudah mengikutinya sejak sore, dan dia tak kunjung mengucap harapan di hari ulang tahunnya. Dia hanya terus menyusuri jalanan kota, mencoba menjual tiket lotere.

Gadis itu tak melepas matanya dari apa yang dia lihat di dalam pekarangan rumah mewah itu. Dia melihat seorang gadis kecil yang umurnya sekitar tiga tahun lebih muda darinya, mengenakan rok cantik seperti Cinderella kecil, tengah bersiap meniup lilin di atas kue ulang tahun yang besar, ditemani ayah dan ibunya. Disampingnya sudah ada sebuah kotak kado cukup besar dengan pita warna pink menghiasi, dan sebuah kotak kado kecil tanpa pita.

Aku melihat pendaran warna ungu dari sosok seorang gadis cantik bersayap ungu diantara keluarga kecil itu. Ah, ternyata Rosetta yang bertugas disini.

“Oh, Abbey, apakah kau iri pada anak itu?” tanyaku, yang tentu saja tidak akan gadis kecil itu dengar.

Seandainya aku tahu dimana orang tuaku berada. Seandainya aku punya rumah, kecil saja untukku bisa merayakan ulang tahunku bersama keluargaku. Aku tidak perlu kado, aku hanya ingin meniup kue ulang tahun. Kue yang kecil saja..” aku mendengar suara hati Abbey yang benar-benar membuatku makin tidak tega.

“Abbey, apakah hanya itu keinginanmu? Ayolah, mintalah yang lain, rumah yang besar, kue yang besar.. masa depan cemerlang.. berpikirlah lebih tinggi, Abbey..” ucapku.

Sementara aku berharap Abbey memohonkan sesuatu yang lebih besar, aku memutuskan untuk melakukan kontak dengan Rosetta. Kubuka telapak tanganku dan mengusapkan nama Rosetta dengan jari telunjukku di atas telapak tanganku. Tak lama kemudian aku melihat wajahnya. “Hai, beautiful!” sapaku.

“Ada apa, Oberon?” tanyanya.

Belum sempat aku berbicara banyak, aku mendengar permohonan dari Abbey.

Aku tidak menginginkan hal lain. Aku hanya ingin itu saja. Hanya itu permohonanku.” Abbey seakan menjawab pertanyaanku.

Aku menghela nafas, mau tak mau aku menuliskan permohonannya di udara dengan jari telunjukku. Sudah lama aku menjalani tugas sebagai Make-A-Wish Fairy, dan permohonan yang baru saja kudengar sangatlah sederhana. Udara kini menampakkan tulisan berwarna biru, sebuah permohonan dari gadis kecil bernama Abbey. Semoga permohonanmu segera terkabul, Abbey.

“Pasti gadis itu meminta boneka beruang yang besar.” Aku sempat mendengar lontaran ucapan Abbey pada gadis kecil di dalam rumah mewah itu sebelum aku akhirnya menghilang dari dekatnya.
*-*-*-*

(Saturday, November 27th 2010, 8.30 p.m; Grinwaltz Street #22, Vermont Dunn Town)

“Hari ini cucu kita ulang tahun.” Ucap Stella.

“Cucu?” Norman menimpali.

Aku melihat sepasang kakek nenek berusia 70-an yang tengah duduk di beranda rumahnya yang kecil. Aku baru saja sampai disini, setelah menyelesaikan tugasku mencatat permohonan ulang tahun dari seorang perempuan cantik berusia 17 tahun. Aku jadi membayangkan, nenek itu pasti sangat cantik saat berusia 17 tahun, karena di usia senjanya saja, masih terlihat cantik.

Stella duduk di kursi goyangnya sementara Norman duduk disampingnya, memandang jalanan depan rumah.

“Amanda,” jawab Stella.

“Siapa Amanda?”

Stella menggeleng-geleng. Aku membaca pikirannya. Stella sudah tahu Norman pasti tidak akan mengingat Amanda. Tampaknya sudah cukup lama ingatan Norman mulai memudar karena pengaruh Alzheimer.

“Amanda itu cucu kita yang paling kecil. Anaknya Erick. Kamu ingat Erick? Dia anak terakhir kita.” Stella menjelaskan.

“Erick?” Norman tampak mengingat-ingat, cukup lama sebelum berucap, ”.. kita punya lima anak kan?”

“Bagus kamu masih ingat jumlah anak kita, Norman. Kamu masih ingat nama mereka?”

Norman mengangguk.

“Siapa saja?”

“Erick..”

Stella menghela nafas,”Aku baru saja menyebutkan namanya, Norman. Siapa anak pertama kita?”

Norman tampak berpikir keras.”David?”

Stella tersenyum, “Lalu?”

“Jane..”

Stella mengangguk-angguk,”Lanjutkanlah..”

Norman berusaha keras untuk mengingat. Cukup lama kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya,”Tidaaakk! Aku tidak ingat! Aku tidak ingat nama mereka!” ucapnya setengah berteriak.

Stella prihatin dengan keadaan suaminya, dia kemudian menggenggam tangan Norman,”Tidak apa-apa, Norman. Kamu mungkin lupa sekarang, tapi kamu pasti akan segera ingat lagi.” Hiburnya.

“Aku tidak ingat nama anakku sendiri!” Norman terlihat frustasi.

“Hilda, Norman. Lalu Tommy anak keempat kita, baru kemudian Erick.” Ucap Stella menatap Norman. Norman hanya menunduk.

“Aku ingat.. Aku ingat Hilda dan Tommy..” ada gurat cukup senang di wajah tua yang keriput itu. Seperti baru saja mendapatkan hadiah istimewa.

“Benar kan? Kamu pasti ingat.. Nah, Amanda itu anaknya Erick. Erick sekarang sangat sibuk semenjak dia jadi Menteri. Dia harus tinggal di ibu kota. Oh, aku harus meneleponnya kapan-kapan, mengingatkan dia supaya membagi waktunya dengan baik antara pekerjaan dan keluarganya.”

“Erick seorang Menteri?”

Stella kini tersenyum, tidak ingin memaksa suaminya mengingat-ingat lagi. ”Iya. Kita berdua hadir saat pelantikannya. Hebat kan anak kita?”

Norman tersenyum mengangguk-angguk. Stella melihat reaksi itu, reaksi yang sama seperti saat Norman dulu bangga menghadiri pelantikan Erick.

“Kalau Amanda ulang tahun, kita harus memberinya hadiah.” ucap Norman kemudian.

“Aku sudah mengirimkannya sejak dua hari yang lalu. Sebuah boneka kelinci kecil. Tapi.. aku lupa menghiasi kadonya dengan pita. Padahal anak perempuan pasti suka pita.”

“Ini tanggal berapa?”

“27 November.”

Aku melihat Norman pelan-pelan berdiri dari kursinya. Dengan badan yang sudah mulai membungkuk, dia berjalan pelan-pelan memasuki rumah.

“Norman, kau mau kemana?..” Stella tampak kesal karena yang diajak bicara tiba-tiba pergi begitu saja. Norman tak menjawab.

Stella membiarkannya. Dia masih ingin menikmati malam di luar rumah.

“Mrs. Clove, Selamat Malam.. Sendirian?” seorang wanita muda lewat di depan rumah dan menyapa Stella. Di belakang wanita muda itu aku melihat sosok berpendar ungu. Rosetta.

Kulambaikan tanganku padanya, dan dia membalasnya singkat.

“Norman ada di dalam. Baru pulang? Kamu tidak capek tiap hari bolak balik ke ibu kota?”

“Iya, Mrs. Clove. Tapi tidak apa.”

“Kamu tidak ingin tinggal di sana saja?”

”Saya tidak ingin meninggalkan kota ini, Mrs. Clove. Baiklah.. saya duluan,”

“Ya, Brianna. Istirahatlah,” Stella memandang wanita muda itu berjalan memasuki rumah tepat disamping rumahnya.

Sekitar lima belas menit kemudian, Norman berjalan pelan-pelan keluar. Ada dua benda dibawa oleh tangannya yang lemah. Stella terkejut melihatnya.

“Ini topi.. hadiahmu untukku.. saat ulang tahun pernikahan kita yang pertama..” Norman memberikan topi bundar hitam itu pada Stella.

“Norman..” mata Stella berkaca-kaca.

”Aku masih menyimpannya. Walau aku sudah lama tak pernah menyentuhnya. Tadi.. aku mencari-cari.. dan ketemu di almari kerja usang itu.”

Norman kemudian menyerahkan satu lagi benda di tangannya, setangkai bunga Daffodil berwarna kuning, yang Stella tahu pasti Norman memetiknya dari taman belakang.

“Selamat hari ulang tahun pernikahan, Honey,” ucap Norman.

Stella kemudian berdiri dari kursi goyangnya, memeluk Norman,

“Aku pikir kamu lupa.. Aku mencintaimu, Sayang.”

“Aku juga tidak pernah berhenti mencintaimu.”

Mataku jadi berkaca-kaca melihat pemandangan itu.

“Katakan permohonanmu, Stella.. Ini sama juga hari ulang tahun. Ulang tahun pernikahan kita.”

Stella menggeleng, “Tidak ada lagi yang harus kuminta. Aku sudah memilikimu. Aku sudah tumbuh tua hingga kini bersamamu. Permohonanku dari dulu sudah terkabul. Apa lagi yang harus kuminta?”

Aku tak perlu menuliskan permohonan dari mereka. Terharu sekali aku melihat mereka, dan tak sabar ingin menceritakan tugasku ini pada Oberon, Rosetta, dan Drake. Mereka selalu senang mendengar cerita-cerita tugasku. Tugasku selesai. Aku tersenyum melihat pasangan tua itu sebelum kemudian menghilang.
*-*-*-*

(Saturday, November 27th 2010, 8.40 p.m; Grinwaltz Street #24, Vermont Dunn Town)

Tatiana. Make-A-Wish Fairy dengan cahaya merah muda berpendar dari tubuhnya, dan sepasang sayap merah muda. Aku tengah mengikuti tugas terakhirku ketika melihat Tatiana disana. Sedang menunggu melaksanakan tugasnya. Dia melambaikan tangannya padaku, dan aku membalasnya sebelum kembali mengikuti tugasku memasuki rumahnya.

Namanya Brianna. Seorang wanita muda berparas cantik. Aku melihat Brianna memasuki rumahnya yang sepi. Brianna membuka kotak yang dibawanya, sebuah kue blackforest. Dia mengganti taplak meja putih di atas meja bundar kecil di dekat dapur, dengan taplak meja berwarna hijau, kemudian meletakkan kue itu di atasnya.

Brianna melangkah mendekati laci almari dapur, mengambil sebatang lilin, korek api, dan sehelai lap kering. Diletakkannya korek dan lilin itu di meja makan kemudian dia menuju ke kamar. Brianna memandang foto berukuran 10R di meja kecil dalam kamar, ada gambar sepasang laki-laki dan perempuan. Perempuannya adalah Brianna, tampak sangat cantik mengenakan gaun pengantin berwarna putih. Laki-laki disampingnya, yang pasti adalah suaminya, sangat tampan mengenakan seragam militer, menggandeng tangan Brianna. Ada sebuah medali penghargaan tergeletak disamping foto.

Brianna mengelap kaca yang melindungi foto itu kemudian membawa foto itu kembali ke meja makan. Dia menarik salah satu kursi makan, kemudian meletakkan foto tadi di atas kursi tersebut. Setelah itu Brianna meletakkan sebatang lilin di atas kue dan menyulut apinya. Brianna kemudian menarik kursi yang lain, menghadap foto yang sudah terduduk di kursi seberangnya, terpisahkan meja. Dia duduk di kursi itu, memandang foto di hadapannya.

Brianna hanya diam, terus memandang foto itu. Tiba-tiba air mata mengalir dari mata birunya. Brianna menangis tanpa suara. Sebentar kemudian Brianna berdiri, menuju ke meja dapur dan mengambil selembar tissue untuk mengusap pipinya.

Ada yang menarik perhatiannya ketika dia melihat ke luar jendela dapur. Brianna melihat tetangganya, sepasang kakek nenek yang tengah berpelukan. Aku masih melihat Tatiana diantara kakek nenek itu. Ada setangkai bunga daffodil di tangan si nenek. Brianna tersenyum sekilas, kemudian kembali menangis.

Pelan-pelan Brianna kembali ke kursi makan, menghadap kue dan foto tadi. Brianna menyeka air mata dengan jemarinya kemudian memejamkan matanya. Aku bersiap mendengarkan suara hatinya.

Kita memang tidak bisa seperti Mr. Norman Clove dan Mrs. Stella Clove, bersama-sama hingga usia senja. Tapi aku selalu mencintaimu, dan aku akan selalu berada di rumah kita ini. Oliver.. kau adalah pahlawan negeri ini dan pahlawanku, tunggu aku di surga ya.”

Brianna kemudian membuka matanya dan meniup lilin di atas kue itu, “Selamat ulang tahun, Oliver.”

Memang bukan Brianna yang berulang tahun, tapi aku akan menuliskan permohonan itu dengan jemariku di udara. Setelah selesai melakukan ritual tugasku, aku pun segera pergi.
*-*-*-*

(Saturday, November 27th 2010, 9.35 p.m; Chamberline Street, Lakerstown)

Oke, aku harus konsentrasi dulu dengan pekerjaan terakhirku. Gadis muda ini tampak cemberut, padahal ini hari ulang tahunnya. Dia berjalan gontai memegang payung menerobos hujan deras yang baru saja turun di Lakerstown. Tangan yang satunya memegang ponsel di telinganya.

“Desmond, Kak. Aku benci dia!” ucap Caitlyn, tampak mencurahkan kekesalannya.

“Dia belum juga mengucapkannya padamu?” aku mendengarkan suara dari saluran telepon Caitlyn.

“Sudah jam segini. Dia lupa dengan ulang tahunku.”

“Sabar ya. Pasti ada alasan kenapa Desmond lupa.”

“Aku nggak memancing dia atau apa. Aku berharap tanpa aku bilang, dia sudah mengucapkannya jam dua belas tepat tadi malam. Seharusnya begitu. Tiga tahun bersama, apa mulai sekarang dia sudah nggak perhatian lagi sama aku?”

“Caitlyn, jangan berpikiran buruk. Kamu dimana sekarang?”

“Di jalan. Pulang sendiri. Desmond hanya mengirim SMS dan mengatakan tidak bisa menjemputku.”

“Apakah aku mendengar hujan?”

“Iya, disini hujan, Kak. Seharusnya tadi aku ikut kakak ke Vermont. Lebih baik aku merayakan ulang tahun bersama kakak. Seperti yang pernah kita lakukan tiga tahun lalu. Merayakan ulang tahunku dan ulang tahun Kak Oliver bersama.”

Tidak terdengar jawaban dari seberang. Caitlyn kemudian cepat-cepat berucap,”Maaf, Kak.. seharusnya aku tidak mengingatkan tentang..”

“Tidak apa-apa, Caitlyn. Oh ya, blackforest darimu sudah Kakak santap dan sebagian Kakak berikan pada Mr dan Mrs. Clove.”

“Tetangga kakak itu?”

“Iya. Mereka pasangan yang sangat manis.”

“Itu kue terakhir, Kak. Kue-kue di tokoku sudah habis. Mungkin memang banyak yang merayakan sesuatu hari ini. Kue tart kreasi terbaruku, yang kujual sangat mahal juga sudah terbeli, oleh seorang istri Menteri, Kak! Katanya untuk ulang tahun anaknya.”

“Wow.. adikku memang pembuat kue paling hebat! Selamat ya, Sayang.”

Caitylin tersenyum agak terhibur,”Terima kasih, Kak Brianna-ku.. Ya sudahlah, Kak. Sebentar lagi aku sampai rumah.”

“Iya, jangan kesal. Hari ulang tahunmu kan belum selesai.”

“Iya. Bye, Kak.”

Seusai menutup telepon, Caitlyn kembali berjalan. Ketika sudah dekat dengan rumahnya, Caitlyn melihat sesosok pria berdiri di depan pagar rumahnya, membawa payung.

“Desmond.. kamu.. kenapa berdiri di luar begini? Kamu lupa membawa kunci rumahku? Bagaimana sih, aku memberikan kunci itu bukan untuk lupa dibawa kalau kamu mau ke rumah..” Caitlyn tampak mengomel pada pria itu.

Pria itu hanya tersenyum, “Maaf, kuncinya ketinggalan.”

Caitlyn terdiam, menunggu sesuatu agar diucapkan Desmond. Namun Desmond hanya diam.

“Sayang, kamu kenapa?” tanya Desmond.

Caitlyn menghela nafas, merasa harapannya sia-sia. “Ayo kita masuk..” Caitlyn membukan kunci pagar. Berdua mereka memasuki halaman rumah.

“..tadi katanya nggak bisa jemput aku. Kenapa sekarang tiba-tiba ada di rumah?” Caitlyn memutar kunci pintu depan rumah. Desmond diam tak menjawab.

Begitu Caitlyn memasuki rumah, dia langsung menyalakan lampu. Caitlyn terkejut melihat ruang tamu rumahnya. Ada kue-kue dengan lilin-lilin di atasnya dan bunga-bunga tulip berbagai warna tertata di penjuru ruangan. Caitlyn merasa mengenal kue-kue itu.

“Aku.. sengaja meminta beberapa temanku untuk datang ke tokomu dan membeli semua kue-kuemu sejak pagi..” ucap Desmond. Caitlyn memandangnya, jantungnya berdebar kencang.

“.. kamu bilang, meski selalu membuat kue-kue itu, kamu nggak pernah sekalipun memakannya. Aku ingin, di hari ini kamu harus mencicipinya. And you love tulips..” lanjut Desmond.

“Desmond..”

“Kamu lahir tanggal 27 November jam sepuluh malam kan?..” Desmond meraih kedua tangan Caitlyn,”.. jadi, aku menunggu hingga kini baru aku ucapkan.. Selamat ulang tahun, Sayang..”

Caitlyn melirik jam dinding dan tersenyum sangat bahagia.

Desmond mencium bibir Caitlyn.”I love you,

I love you too,” balas Caitlyn.

Hmm, manusia. Ada-ada saja membuat ide romantis. Aku hanya tersenyum kecil melihat mereka.

“Waktunya make a wish, Sayang.” Ucap Desmond.

Caitlyn langsung memejamkan matanya. Aku bersiap mendengarnya.

Aku ingin Desmond bisa mencapai semua mimpi-mimpinya. Aku ingin Desmond bisa kembali rukun dengan keluarganya. Aku ingin Desmond bisa selalu bahagia dalam lindungan-Mu, Tuhan.”Batin Caitlyn.

Hah? Apa aku tidak salah dengar? Perempuan ini tidak meminta apapun untuk dirinya sendiri. Dia meminta kebahagiaan bukan untuk dirinya, tapi untuk laki-laki yang dicintainya. Kukira dia akan meminta untuk bisa menikah dan bersama selamanya dengan kekasihnya itu. Aku kemudian langsung menuliskan huruf-huruf berwarna hijau di udara. Sembari melakukan tugasku, aku masih mengamati pasangan kekasih itu.

“Caitlyn.. buka kadomu.” Desmond mengambil sebuah kotak kado di atas sofa. Caitlyn menerimanya dan langsung membuka kotak itu. Caitlyn terkejut, mengatupkan telapak tangan di bibirnya. Dia menemukan sebuah cincin emas putih.

“Caitlyn, maukah kamu.. selamanya menjalani hidupmu bersamaku?”

Aku tidak menyangka Tuhan secepat itu membalas permohonan tulus Caitlyn tadi dengan lamaran Desmond. Caitlyn pun tak ragu dan langsung mengangguk. Desmond memasangkan cincin itu di jari Caitlyn. Caitlyn merasa bahagia, memeluk Desmond dengan pandangan ke arah gerimis hujan di luar rumah.

“Desmond, lihat anak itu,” Caitlyn tiba-tiba menunjuk seorang gadis kecil berpakaian lusuh yang berjalan pelan di depan pagar rumah.

“Kasihan dia.” Ucap Desmond. Caitlyn cepat-cepat mengambil salah satu kue ulang tahun dan keluar. Seperti mengerti, Desmond memayungi Caitlyn, mengikutinya berjalan keluar rumah.

“Adik kecil!” panggil Caitlyn menghentikan gadis kecil itu.

“Siapa namamu?” tanya Caitlyn.

Gadis itu menatap Caitlyn,”Abbey.”

“Abbey, kami punya kue untukmu..” Caitlyn menyerahkan sekotak kue pada Abbey. Abbey tampak senang sekali, seakan tak pernah melihat kue ulang tahun.

“Dan kau jangan hujan-hujanan.” ucap Desmond menyerahkan payung yang tadi menaunginya dan Caitlyn.

“Terima kasih, Kak.”

Mereka berdua kembali ke dalam rumah setelah melihat gadis kecil itu berlalu.

“Caitlyn,”

“Ya, Desmond?”

“Aku masih punya kado untukmu.” Desmond mengambil sebuah kotak kado. Caitlyn menerima dan langsung membukanya.

“Cermin?” tanya Caitlyn ketika menemukan sebuah cermin kecil berbingkai batu-batu warna warni berkilauan indah.

“Tidak salah aku membelikanmu kado itu. Kau memiliki hati yang lembut, Sayang. Coba kau lihat ke dalam kaca. Kau akan melihat.. wajah wanita paling cantik di dunia..”

Oke, aku sudah terlalu lama tinggal di sini, padahal tugasku sudah selesai. Aku terhanyut pada mereka. Aku pun bersiap untuk menghilang dari tempat itu. Namaku Drake. Aku adalah seorang Make-A-Wish Fairy. Tugasku menjemput dan menampung permohonan manusia di hari spesial mereka. Aku senang mendengar bermacam-macam permohonan. Be careful what u wish for, it might come true..

(THE END)

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Lentog
Lentog at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (6 years 47 weeks ago)
100

Oh, sebuah cerita yg manis sekali!
Saya kehabisan kata-kata!

Writer Dedalu
Dedalu at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (7 years 42 weeks ago)

wahh, sangat menginspirasi,
alurnya, sudut pandang dan settingnya bagus :D

endingnya kok terasa gantung ya :D

Writer lavender
lavender at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (7 years 42 weeks ago)

saya ga menggantungnya tuh heheheh..
thanks...

Writer just_hammam
just_hammam at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 5 weeks ago)
80

Cerita recomended by Cat dan ianz_doank http://www.kners.com/showpost.php?p=22636&postcount=23
Aku sudah pernah baca dan membacanya lagi ternyata tidak mengurangi keindahan ceritamu ini hehehe
Selamat Lavender... cerita yang indah...

Writer lavender
lavender at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 5 weeks ago)

owh.. thanks.. ^_^

Writer sopidopi
sopidopi at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 32 weeks ago)
80

keren...

Writer lavender
lavender at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 32 weeks ago)

Thankss

80

maniss^^

Writer lavender
lavender at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 36 weeks ago)

thanks...

Writer IreneFaye
IreneFaye at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 38 weeks ago)

Kak Lavender ikutan kolab gila kami yuk!!! Ayuk!!!
ke sini nih:
1. SK
2. Quête Pour Le Château de Phantasm - épisode 1
3. Quête Pour Le Château de Phantasm - épisode 2

Writer lavender
lavender at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 38 weeks ago)

saya ga bisa bikin kyk gt, terlalu keren itu ceritanya, ndak nyandak saya.. T_T

Writer fadly_pwk
fadly_pwk at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 40 weeks ago)
80

ceritanya imajinatif banget dan yang lebih berkesan adalah, tulisannya rapi dan hirarkis.. luar biasa, sumpe.. aku nggak bisa tulis serapi ini.. dua jempol teracung buat cara penulisannya

Writer lavender
lavender at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 40 weeks ago)

makasih dah mampir.. :)

Writer rey_khazama
rey_khazama at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 40 weeks ago)
70

Suka dengan kerapihan menulisnya saja.

Writer lavender
lavender at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 40 weeks ago)

Sebenernya kerapian itu diliat dari apanya sih? *saya tak tahu*
Makasih ya dah mampir :)

Writer rey_khazama
rey_khazama at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 39 weeks ago)

EYD, dan alur cerita, say. :)

Writer Ann Raruine
Ann Raruine at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 40 weeks ago)
100

hebat ! :))
tadix ide aku mirip2 gini, untung gk jadi nanti dbandingin lagi sm kak laven. xp
hihi, mudah2an kakak yg menang, ceritax bagus skali.. :DD

Writer lavender
lavender at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 40 weeks ago)

Wiww.. Amiiinn.. Hehe
Makasih dah mampir :)

Writer Midori_Fukuro
Midori_Fukuro at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 40 weeks ago)

>>>Iklan
terbanglah ke bandaraku, Lavender. 'ketikan' baruku menantimu..
bawalah saran dan krtikmu... :)

Writer lavender
lavender at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 40 weeks ago)

Besok daku kan ke sono, midori hehehe

Writer MungkinLuthfi
MungkinLuthfi at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 40 weeks ago)
90

Indah. Terlalu indah...

Writer lavender
lavender at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 40 weeks ago)

Makasih dah mampir :-)

Writer Redo Rizaldi
Redo Rizaldi at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 40 weeks ago)
80

Wah, ceritanya detail, rapi dan imajinatif :)

cuma satu pertanyaan saya? SI Drake itu baru ya kerja jadi make a wish fairies? ha ha

Writer lavender
lavender at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 40 weeks ago)

hahaha.. Drake itu karakternya sangat menikmati pekerjaannya, jadi suka berlama-lama di TKP.. hehe..
thanks ya udah mampir.. :-)

Writer Redo Rizaldi
Redo Rizaldi at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 40 weeks ago)

ngga, aneh aja, seorang fairy begitu amaze sama kesederhanaan doa atau romantisme yg dibuat manusia.

kecuali ya itu, si drake baru kerja jadi fairy dan ga pernah liat yg begituan ha ha

:)

Writer lavender
lavender at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 40 weeks ago)

wkwkwk.. iya dah.. dia baru diangkat jadi Fairy Tetap, kemarin masih magang2 aja.. *ngeles*

Writer aditya senja
aditya senja at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 40 weeks ago)
80

“Tuhan, aku tidak ingin Ayah sering pergi. Aku ingin Ayah sering berada di rumah, menemaniku bermain dan belajar, seperti dulu, saat Ayah belum menjadi seorang Menteri.”

Writer lavender
lavender at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 40 weeks ago)

thanks for visiting..

Writer cloudiath
cloudiath at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 40 weeks ago)

yeh...
ini dia patokanku.
awalnya aku kira tulisanku yang kebanyakan, ternyata wordcount di k-com yang berbeda.
he...99X, trims...
silakan mampir juga
http://kemudian.com/node/250395

Writer lavender
lavender at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 40 weeks ago)

thanks for visiting.. :)

Writer ikan biroe
ikan biroe at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 40 weeks ago)
90

salut untuk ceritamu yang manis ini...
settingnya bagus..

mampir juga
http://www.kemudian.com/node/250387

Writer lavender
lavender at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 40 weeks ago)

Thank u, blue fish.. Hehe..

Writer mindy_tan89
mindy_tan89 at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 40 weeks ago)
100

luarr biasa !!
=))

Writer lavender
lavender at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 40 weeks ago)

Makasih. Mindy.. :-)

Writer Shinyuu89
Shinyuu89 at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 40 weeks ago)
90

Saling berhubungan! Semua saling berhubungan~ *senang*

Yang terakhir itu sangat uhukromantisuhuk sekali... jadi malu... (Lho? Itu kan bukan kamu)

Pokoknya, nice story :D

Writer lavender
lavender at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 40 weeks ago)

Makasiiihh dah mampiirr.. :-)

Writer MelZhi
MelZhi at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 40 weeks ago)
100

saya selalu suka setting tempat yang kakak buat. kreatif. saya aja selalu nyomot dari tempat yang bener-bener ada karena enggak nemuin nama tempat yang bagus. tapi kakak selalu nemu, waktu itu White Falls City, sekarang Lakerstown.
.
cerita ini pun manis sekali kak. peri permohonan, wah... so cute.
kata-katanya pun tersusun rapi, seperti biasanya.
hahai...
makin ngefans aja saya ama kakak.
gyahaha...

Writer lavender
lavender at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 40 weeks ago)

Soalnya saya lebih comfort dengan setting fiksi, MelZhi, jadinya ngarang muluk namanya hehe..
Waduh, tunggu dulu MelZhi, tunggu ada yg bisa mempilemin slh satu ceritaku dulu baru nge-pens hehe.. *mimpi dulu ah*
Thank you yak hehe.. :-)

Writer auliaputrin
auliaputrin at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 40 weeks ago)
80

sebenernya ga begitu suka sama cerita 'menye', sih. tapi kalo yg ini.. sumpah keren banget kata-katanya. rapi. sayang ceritanya kurang nendang gitu :)

Writer lavender
lavender at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 40 weeks ago)

thank u yaa..

Writer nanase
nanase at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 40 weeks ago)
80

Seperti nonton film Love Actually, beberapa kisah dalam satu timing yang sama. Manis.. XDD. Apalagi tiap scene punya cerita. Paling suka yang adegan sepasang suami istri tua itu. "Kau masih ingat jumlah anak kita, Norman...." Sweet... Coba kalau tiap scene benar-benar diurai kisahnya dan ditulis jadi novel atau dibuat film. Saya mau nonton atau bacanya XDD Naiisss...(nice)

Writer lavender
lavender at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 40 weeks ago)

cepat sekali mampirnya.. hehe. makasih yak dah mampir n comment, n poin..
*
waaahh saya akan senang sekali kalau ada PH yang mau mempilemkan..
please...??? *memohon siapa tahu yang baca ada yang punya PH hehe..*

Writer majnun
majnun at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 40 weeks ago)

saia punya PH, mbak..
Peci Hitam tapinya..
hyahahahahahahaha..

Writer lavender
lavender at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 40 weeks ago)

*nabok pake panci*

Writer IreneFaye
IreneFaye at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 40 weeks ago)

gya!
Panci meraja lela ...(jadi inget rapunzel nih ahahaha)

Writer lavender
lavender at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 40 weeks ago)

bagus yak? 3D kan? saya malah belon nonton..
ntar ah nonton.. xixixi..

Writer Sun_Flowers
Sun_Flowers at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 40 weeks ago)

wkwkwkwkwkwkw.. komennya lucu :p

Writer lavender
lavender at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 40 weeks ago)

agak error itu majnun itu mbak flow..
hehehe..

Writer dhewy_re
dhewy_re at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 40 weeks ago)
80

nice! suka pokoknya...

Writer lavender
lavender at 4 Tahun Kemudian - Make A Wish (8 years 40 weeks ago)

cepat sekali mampirnya.. hehe.. makasih yaaa.. :-)