Tak Ada Yang Bisa Membuat Kopi Sehebat Rosiana

Maka wanita itu tanpa ragu langsung menelan pil-pil merahnya dengan bantuan tegukan air bening dari gelas kaca. Ia tidak menemui kesulitan memasukkan pil-pil itu berbarengan ke dalam perutnya. Ini hanya masalah bagaimana lidahnya bergerak mengatur pil-pil itu untuk berbaris di dalam mulut sebelum terjun melewati kerongkongan terbawa arus air yang masuk. Tenggorokannya nampak naik-turun sementara ia memandangi langit-langit kamarnya. Mulutnya menyedot air di dalam gelas dengan pasti, tanpa jeda, dan selama itu ia menahan napasnya. Bahkan saat gelas itu telah kosong, ia masih menengadahkan wajahnya ke langit-langit untuk memastikan bahwa pil-pil itu sudah tak bersisa lagi di mulutnya. Lima butir pil merah sekaligus. Ia menoleh ke arah jam dinding, lima butir pil merah sekaligus, pikirnya, “Mungkin waktu yang kupunya hanya tinggal setengah jam lagi.”

Ia menaiki kasurnya yang masih tertata rapi. Ia tidak tidur semalam dan kini tubuhnya merindukan kenyamanan saat berbaring di kasur itu lagi. Ia membungkus tubuhnya dengan selimut tebal, berusaha menghadapi udara dingin di pagi hari yang diiringi oleh hujan di luar sana. Dengan tenang ia menjatuhkan kepalanya di atas bantal. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan dan segera ia memejamkan kedua matanya. Inilah saat yang sempurna baginya untuk berada dalam kegelapan yang menyejukkan dan hangat sambil mendengarkan suara percik air di tanah yang pelan-pelan mulai membesar. Benar-benar musik pengiring yang sempurna.

Dalam ketenangannya itu, suara-suara lemahnya menohok pikiran. ‘Kenapa? Kenapa perpisahan itu harus menjadi bagian dari hidupku?’ Semua yang dibangun kini telah hancur begitu saja menjadi kepingan debu dan raib tertiup angin. Air matanya mengering dan ia hanya bisa meratapi takdir yang berjalan beriringan bersamanya. Kehidupan telah meletakkan jiwanya pada garis tebal kesepian dan ia hanyalah seorang wanita biasa yang tidak diajarkan untuk melawannya. ‘Mengapa kau tega meninggalkan aku sendiri?’

Tapi bukan! Bukan perpisahan ini yang harus disalahkan. Ini semua diawali oleh pengkhianatan. Bagaimana lelaki itu menggenggam tangan seseorang yang bukan dirinya dengan mesra, berjalan berdampingan, saling mengumbar senyuman, sesekali berpelukan, merentangkan jemarinya di sela-sela rambut panjangnya, dan menciumnya di kening lalu turun ke bibirnya. Sementara dirinya berusaha sekuat tenaga untuk tidak mempercayai matanya, tapi ia tahu pada akhirnya itu semua sia-sia. ‘Mengapa kau tega merobek hatiku?’ Betapa lemah dan rapuh dirinya di hadapan sinisnya bola mata kehidupan. ‘Bukankah kita telah bersama selama 15 tahun? 15 tahun, sayang. Lalu kenapa?’ Suara batinnya mengeras dipenuhi ribuan tanda tanya yang mengurung dirinya. ’15 tahun, sayang… Pernahkah kau berpikir betapa sakitnya ini sekarang… ’

Memang ia terkesan agak berlebihan dalam menanggapi peristiwa yang menimpanya. Perpisahan yang ia tangisi itu tidak terjadi sama sekali, atau setidaknya belum. Suaminya masih berada satu rumah dengannya, memanggilnya dengan sebutan “sayang”, menyantap hidangan yang ia masak sendiri walau akhir-akhir ini jarang dilakukan, dan tidur bersamanya di dalam kamar ini (kecuali malam tadi saat sang suami pulang larut malam lalu tertidur di sofa tanpa melepas sepatunya). Namun, apa artinya semua itu ketika ia sendiri tahu bahwa tali kepercayaannya telah putus. Pengkhianatan! Itu yang mengganggu pikirannya.

Malam tadi, ia duduk di atas kasurnya, menahan rasa kantuk, termenung, melamun, mengenang saat-saat yang telah lewat, kebahagiaan, harapan-harapan, rasa cinta, lalu dengan sendirinya air matanya menetes. Ia memandangi foto pernikahannya, senyumnya yang begitu manis, senyum milik suaminya yang juga terlihat manis, bagaimana kedua tangan sang suami melingkar di pinggangnya, dan ia masih bisa merasakan sentuhan lama itu, hangat, penuh getaran, tulus; namun seketika gambaran itu terpecah-belah dan ia kembali meneteskan air matanya. Sulur-sulur penyesalan meredam segala rasa yang ada, membuatnya merasa seperti rasa sesal itu sendiri. Entah apa yang tepatnya ia rasakan kini. Ia sendiri sudah cukup bingung dengan dirinya, apakah ia sedang diliputi oleh kemarahan atau justru hanya menangis pasrah untuk segalanya.

Bagaimanapun ia tidak bisa mengembalikan waktu. Siang itu mendung, musim hujan telah tiba, ia mengendarai mobilnya sendirian, mobil lama hadiah ulang tahun pernikahan ke 6 dari hasil tabungan yang mereka kumpulkan bersama-sama; masa-masa awal yang indah. Ia pergi untuk membeli kopi karena sebelumnya, “Sayang,” suaminya berkata, “sepertinya kita kehabisan kopi.” Tentu saja sebagai seorang istri yang baik, ia tahu akan hal itu. Bahkan sebelum suaminya menyadarinya. Ia beralasan, “Ya aku tahu, sayang. Tapi akhir-akhir ini hujan selalu turun lebat sekali dan kamu tahu ‘kan aku tak bisa pergi kemana-mana kalau di luar hujan lebat.”

Suaminya segera membalas, “Ya ya aku tahu. Tapi jangan lupa akhir-akhir ini juga aku selalu sibuk. Pekerjaan di kantor menuntutku untuk bekerja sampai larut malam bahkan sampai tugas ke luar kota, aku harus selalu tejaga dan bersemangat. Bangun pagi pulang malam, bangun pagi pulang malam, dan begitu seterusnya. Kamu tahu ‘kan aku harus mempertanggungjawabkan jabatanku ini dengan baik. Jabatanku sekarang bukan sembarangan, orang-orang menaruh kepercayaannya di pundakku dan itu bukan hal yang enteng. Mungkin kamu tak melihatnya seperti itu, tapi aku merasakan ini dan seharusnya…”

“Ya aku tahu, aku akan beli siang ini juga,” ia memotong pembicaraan suaminya, “kamu tak perlu marah seperti itu.” Sang suami berhenti sejenak, menarik napasnya dengan tergesa-gesa lalu melanjutkan, “…seharusnya kamu bisa sedikit lebih menghargai posisiku sekarang.” Ia terdiam, menelaah perkataan suaminya barusan, “apa maksudnya? Jadi selama ini aku kurang menghargai kamu sebagai suami? Apa maksud kamu?”

Sang suami melihat ke arah jam tangannya lalu mengambil tas kerjanya dan berjalan ke luar rumah, “Maksudku adalah aku tak suka dengan sikapmu yang mementingkan dirimu sendiri. Coba lihat saja alasan anehmu tadi, tentang hujan lebat itu, seharusnya kau bisa lebih dewasa. Aku hanya meminta kopi, itu saja.” Ia bangkit dari duduknya, “tapi ini bukan hal yang baru, kamu sendiri tahu aku tak bisa menyetir dengan baik kalau hujan lebat. Kenapa kau selalu menjengkelkan akhir-akhir ini? Kamu sendiri yang egois.”

“Cukup! Aku tak ingin berdebat pagi ini.” Lalu suaminya bergegas menaiki mobil sedannya dan pergi ke kantor. Sedangkan ia kembali ke dalam rumahnya dengan perasaan kesal dan tetap di dalamnya karena hujan kembali turun lebat di siang hari itu.

Tapi beberapa hari setelahnya, ia memutuskan untuk pergi di siang yang mendung itu sendirian dengan mengendarai mobilnya. Ia tak peduli selebat apa hujan akan turun, ia akan tetap pergi menuju sebuah supermarket membeli kopi pesanan suaminya karena ia adalah seorang istri yang baik, karena ia harus mengurus rumah tangganya dengan benar, dan karena ia menyadari bahwa ia harus lebih memperhatikan kesibukan suaminya dan mengesampingkan semuanya. Didasari juga oleh rasa penyesalannya, maka ia memutuskan untuk sekalian membelikan suaminya sebuah cangkir kopi yang baru; dan iapun pergi menempuh jalur yang lebih jauh dari rumahnya untuk hal ini.

Dan di sanalah, di sebuah supermarket besar bergaya modern, dengan kopi, cangkir kopi, dan hasil belanja lainnya di dalam troli yang ia dorong, dari balik kedua matanya ia menangkap sosok suaminya tengah berjalan bergandengan dengan… ‘Siapa dia?’ ia bertanya di dalam hatinya. Tentu saja ia tidak langsung percaya dan mengambil sebuah kesimpulan, ia mengikuti dari jauh, meneliti dengan seksama, berusaha meyakinkan bahwa hari ini tidak pernah terjadi. Tapi daya apa yang ia miliki? Begitu ia melihat sang suami mengecup bibir sang wanita (‘Siapa dia?’), maka saat itulah hujan lebat turun di dua tempat berbeda; mengguyur permukaan bumi yang lembap; dan menenggelamkan hati yang sedang bertanya-tanya.

Lalu pada hari-hari berikutnya, jejak-jejak perselingkuhan itu mulai terlihat jelas. Sikap dingin suaminya yang terasa begitu kentara, kebiasaannya pulang larut malam (ia menelepon ke kantor suaminya suatu kali, dan ternyata suaminya sudah lama pulang dari kantor), potongan tiket bioskop (dua buah!), sehelai rambut panjang di kemeja, dan dering telepon genggam di tengah malam. Ia tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya terhadap kenyataan ini. Dan ia tahu bahwa perkawinannya harus diselamatkan.

Maka semalam tadi ia mengurung diri di kamar, menangis, meratap, melihat potret hidupnya yang tercerai-berai. Emosinya mulai terganggu dan ia memikirkan banyak hal yang pada akhirnya justru menempatkan dia pada posisi bersalah. ‘Siapa lagi yang patut disalahkan?’, pikirannya berkecamuk. ’15 tahun tanpa keturunan, siapa lagi yang patut disalahkan?’ Perkawinan yang indah yang telah ia rasakan kini hanya tinggal sari-sarinya saja yang dapat ia genggam, yaitu ironi. Seakan kesenangan dan kebahagiaan yang telah ia dapat dan sebagian masih ia cari itu tak lagi berbekas di ruang mimpinya, karena apa artinya itu semua jika sejak awal dirinyalah yang ditakdirkan untuk menghancurkan semuanya. Ia membayangkan bila ia menjadi suaminya lalu menjalani 15 tahun kehidupan perkawinan dengan seorang istri yang tak mampu menghadirkan seorang buah hati, dan bertahan di dalamnya dengan penuh kesabaran yang kemudian meluntur dengan munculnya harapan lain dari kehadiran seorang wanita yang lebih baik. Betapa sakit ia memaknai dirinya sendiri. Dan air matanya terus mengalir sampai mengering. Jam 2.15 pagi, sang suami tiba di rumah. Ia segera menghapus air matanya dan berbaring, pura-pura tertidur. Namun percuma, karena bahkan tak sedetikpun sang suami masuk ke dalam kamarnya, ia lebih memilih tidur di sofa di ruang tamu. Ia tahu tentang ini semua, bahwa suatu saat sebuah perpisahan akan terjadi; dan itu diawali dengan adanya jarak yang mulai terbentang di antara keduanya.

Tapi, ia masih mencintai suaminya. Ia masih menginginkan suaminya dan hidup bersama sampai seribu tahun ke depan. Ia sangat mencintai suaminya dan rasa itu takkan pernah berubah. Dalam keterpurukannya kini ia menyadari bahwa mencintai suaminya tanpa henti merupakan obat penawar bagi rasa penyesalannya yang dalam semalam telah berbuah di hatinya. Dengan tanpa keraguan ia memutuskan untuk selalu mencintai suaminya, selama-lamanya. Ia melihat cangkir kopi baru untuk suaminya yang belum sempat ia tunjukkan sejak hari tak menyenangkan itu, lalu tersenyum mengagumi seleranya yang begitu berkelas dalam memilih sebuah cangkir untuk hadiah. Ia tersenyum, menghapus sejenak luka yang mengukir raut mukanya. Setelah itu, ia kembali merenung.

Dan sampai menjelang pagi, renungannya berakhir. Ia telah memikirkan segalanya; hidupnya, suaminya, masa depannya, dan perkawinannya. Ia akan berusaha semampunya untuk melakukan yang terbaik bagi hidupnya. Ia memantapkan hatinya dan menghapus bintik-bintik air matanya. Lalu dengan kepasrahan yang tak dapat lagi ditolong, ia mengambil botol berisi pil-pil merah obat tidur. Ia mengeluarkan semua isinya. Ketika matahari mulai terbit, ia menelan lima diantaranya dan berbaring di atas kasur, berharap jiwanya dapat pergi dari dunia ini dalam kedamaian.

***

Alarm telepon genggam berbunyi. Pukul 6.30 di pagi hari. Tiit tiit tiit…Ramzi, seorang suami yang pulang larut malam dan tertidur di sofa, terbangun dengan rasa kantuk. Ia melihat ke jam dinding lalu menyadari bahwa ia harus segera berangkat ke kantor. Tentu saja hari-harinya sangat melelahkan. Sebagai seseorang pegawai perusahaan internasional yang telah mendapatkan promosi jabatan yang baru, sebagai kepala divisi, ia memiliki tanggung jawab yang besar dan reputasi yang harus dipertahankan. Dan ia tak boleh menyia-nyiakan hal itu, maka ia langsung bergegas beranjak dari sofanya menuju kamar mandi untuk segera memulai hari ini dengan baik. Pagi yang dingin yang dihiasi oleh gerimis tidak turut meruntuhkan semangatnya.

Hanya sekitar 8 menit ia berada di dalam kamar mandi. Ia keluar dengan penampilan yang baru, rapi, necis, dan tampan. Memang ia terbiasa mengganti bajunya di dalam kamar mandi tiap pagi, istrinya selalu menyiapkan setelan untuknya di malam hari. Ia berjalan menuju kamarnya sambil sibuk mengancingkan kemejanya. Di tengah perjalanannya, ia melihat sebuah cangkir berukir yang berisi kopi di atas meja makan. Ia mengagumi bentuk dari cangkir tersebut dengan ukiran yang menghiasi badannya dan pegangannya yang terlihat begitu elegan. Tak perlu waktu lama untuk menyadari bahwa cangkir itu adalah sebuah hadiah dari istrinya. Dan tentu saja tidak ada yang bisa menghalanginya untuk segera mencicipi kopi hangat buatan sang istri yang selalu memuaskan seleranya. ‘Tidak ada yang mampu membuat kopi sehebat Rosiana.’ Ia meneguknya dengan penuh kenikmatan.

Pelan-pelan ia mencoba menghabiskan kopinya. Kehangatannya begitu membuai di lidah. Setiap teguk membangkitkan setiap sel di dalam badannya yang telah letih. Ia menahan aliran kopi di mulutnya dan membiarkannya merembes ke dalam pori-pori lidahnya lalu mengalir melalui kerongkongan yang kering dengan sensasi menari-nari. ‘Tidak ada yang mampu membuat kopi sehebat Rosiana.’ Tidak ada yang lebih menyenangkan selain meminum kopi yang begitu nikmat yang disajikan dalam cangkir yang indah.

Kemudian ia masuk ke dalam kamar. Ia melihat istrinya masih berbaring di kasur. Cangkir kopi menyisakan seperempat isinya dan ia letakkan di atas meja rias sementara ia membuka lemari pakaian lalu meraih dasi garis-garis biru dan ia kenakan sendiri. Setelahnya ia kembali menenteng cangkir kopinya dan berdiri di samping tempat tidur, menatap wajah istrinya yang nampak tertidur tenang.

Kedamaian, itu yang terlihat memancar dari wajah istrinya. Bercak-bercak kecantikan, semangat masa muda, dan kepolosan menyatu dengan caranya sendiri dalam pose berbaringnya. Tidak pernah, pikir Ramzi, dalam beberapa waktu terakhir ia mengingat keindahan ini karena sekarang ia terlalu sibuk, karena dirinya jarang sekali berada di rumah, dan karena satu alasan lain, yang masih segan untuk ia akui, adalah karena ia telah memiliki sosok wanita lain selain istrinya kini. Memang sebuah kenyataan yang perih, tapi ia juga tak bisa menolak jalannya roda kehidupan.

“Sayang,” ia berbisik, “aku harus pergi ke kantor sekarang.” Ia menghabiskan kopinya. Sang istri masih memejamkan mata. “Sayang, aku tak ingin terlambat.” Tapi istrinya tetap diam, tenggelam dalam tidurnya. Maka ia mendekatkan wajahnya dan kembali berbisik, “Sayang, aku harus segera pergi.” Ia tak bisa menunggu lagi, ia menyentuh pundak istrinya yang ditutupi mantel hitam, dengan lembut ia mencoba membangunkannya. Namun istrinya tidak bergeming, saat ia kembali menggoyangkan tubuhnya, sang istri justru bergerak begitu lemah seperti boneka, kepalanya terkulai dan tangannya terasa…dingin!

Ramzi kembali menggoyangkan tubuh istrinya, “Sayang…sayang…ada apa ini?” Cangkir kopi yang dipegangnya jatuh ke lantai dan hampir pecah. Ia menyeka rambut istrinya lalu menepuk pipinya dengan sedikit keras, tetapi tak terjadi apa-apa, ia berteriak memanggil istrinya dengan penuh rasa bingung, namun istrinya tetap diam, dan ia menyadari bahwa istrinya sudah tidak lagi bernapas. Betapa kepanikannya seakan sedang direbus. Matanya membelalak menghadapi fakta ini, ia membuka mulut istrinya lalu memberi napas buatan, tapi sekeras apapun ia menekan dada istrinya hasilnya sia-sia karena sekujur tubuhnya telah berubah dingin. Dan Ramzi, sebagai seorang yang terpelajar, tentu saja mengetahui bahwa itu merupakan gejala dari jantung manusia yang telah berhenti berdetak.

Ia menyebut nama Tuhan, memegang kepalanya, lalu melonggarkan ikatan dasinya. ‘Apa yang harus saya lakukan?’ Istrinya telah meninggal dunia di dalam kamar. ‘Tapi kenapa?’ Masih timbul rasa ketidakpercayaan dalam hatinya, sebuah harapan bahwa istrinya bisa disembuhkan, bahwa Rosiana belum meninggal dan masih dapat ditolong, tapi otaknya tak dapat mengelak kenyataan istrinya telah pergi karena bukti-buktinya begitu nyata. Ia bergegas menelepon ambulans dan bicara dengan tergesa-gesa. Seluruh tubuhnya lemas, “Rosiana…Rosiana…” ia menangis sambil memegang tangan istrinya.

Tapi, di mana sekarang Rosiana berada? Ke mana dia pergi? Rosiana…Rosiana… Rosiana telah meninggalkan bumi. Ia melayang di angkasa, di antara awan-awan yang besar, di mana matahari merekah dan memancarkan jutaan warna ke langit. Ia tahu ini bukan bumi, karena langit berwarna-warni dan pelangi seperti ada di mana-mana. Kumpulan burung berterbangan dengan kelompoknya, mengepakkan sayap dengan kompak sementara ekornya menjuntai dengan begitu indah. Ia takjub melihat burung yang memiliki ekor panjang dan penuh hiasan berkilauan, mirip seperti burung merak, tapi sepuluh kali lebih indah, dan begitu burung-burung tersebut terbang melintasinya, ia merasakan aroma harum yang terpancar. Tidak ada rasa takut yang ia rasa, walaupun kini ia sedang melayang di angkasa, justru ia merasakan sebuah ketenangan di hatinya. Perasaan damai yang menyatu dengan udara kebebasan yang terhirup melahirkan limpahan kebahagiaan yang meleleh lalu menyebar ke dalam laju darahnya. Dunia baru membentang; membangkitkan kembali jiwa yang hilang.

Ia mendarat dengan mulus di atas hamparan bunga mawar yang menyambutnya dengan senyum kemerahan. Bunga-bunga berbaris rapih mengenakan mahkota yang bermekaran. Rosiana tenggelam dalam ribuan mawar yang menyerukan namanya. Ia melepaskan balon-balon gas yang mengikat tubuhnya (yang telah membuatnya melayang) lalu terlentang di atas mawar-mawar itu; menyerahkan tubuhnya yang kini kembali ke masa-masa mudanya, tanpa kerutan, segar, dan bersih. Ia menatap langit yang begitu luas, memenuhi jarak pandangnya dan melahirkan sebuah pesona yang mencairkan liurnya dengan segenap perasaan inderawi yang bangkit kembali. Tidak ada kata untuk menggambarkan kepasrahan ini.

Tubuhnya bergerak, lebih tepatnya bunga-bunga mawar itu menggiring tubuhnya dengan sentuhan lembut yang sedikit menggelitik halus kulitnya. Ia merentangkan kedua tangannya, merelakan dirinya terbawa arus kecil bunga mawar. Sayup-sayup terdengar bunyi dentingan harpa dari kejauhan, melantunkan nada-nada selamat datang. Inilah sebuah cerita kelahiran yang sedang ia perankan yang selalu ia nantikan di kehidupan sebelumnya.

Sorak sorai suara merdu menyambut kedatangannya. Sebuah pesta meriah dengan iringan paduan suara, orkestra, petikan gitar yang mengawang, dan terompet menyatu di telinganya. Para penghuni dunia lain datang dan bertepuk tangan. Merekalah para bayi yang tertawa dan bernyanyi, para hewan berkaki empat yang berdiri dengan gagah, para bidadari yang berkumpul seraya memetik harpa, peri-peri mengepakkan sayap di sekelilingnya, semua ini adalah pemandangan yang tak biasa. Dirinya diperlakukan layaknya seorang ratu. Mereka menghadiahinya seekor kuda putih jantan yang elok.

Seorang puteri menyematkan mahkota bunga mawar di kepalanya sementara beberapa mahluk kerdil menggotong tubuhnya menaiki kuda tersebut. Lalu kuda itu berjalan, membawanya melewati padang rumput dengan para penghuninya yang berjejer di sepanjang jalan tersenyum dan melambaikan tangan padanya. Ke mana kuda putih ini membawanya pergi? Sepanjang jalan, ia disambut oleh kemeriahan tanpa henti, dielu-elukan, dan disanjung. Ke mana ia dibawa pergi? Saat ini ia tak terlalu peduli.

Tapi Ramzi, sang suami, tak dapat menyembunyikan rasa sedihnya ditinggalkan oleh istri yang telah selama 15 tahun tinggal bersama. Ia tahu tidak ada gunanya menunggu kedatangan ambulans, oleh karenanya ia hanya dapat menangis. Ia memeluk tubuh sang istri yang telah kosong, menjatuhkan air mata, tersedu seraya menggemakan nama, “Rosiana…Rosiana…” Dan gema itu sampai ke telinga Rosiana. Ia terkejut mendengar suara suaminya menyebutkan namanya berulang kali. Saat itulah kuda putih itu berhenti dan Rosiana turun disambut dengan karpet merah membentang.

Ia berjalan dengan ragu sementara di sekelilingnya bunga-bunga bermekaran. Dua gadis cilik menuntun tangannya. Ia masih bingung mendengar suara sang suami yang perlahan meredup, sementara di kejauhan ia melihat sebuah altar menantinya. Altar itu seakan memanggil namanya dan ingatannya tak bisa lepas dari momen saat ia menikah 15 tahun lalu. Semuanya seperti terulang kembali. ‘Benarkah ini hari pernikahanku?’

Tapi ia sedikit merasa berat hati saat melihat di altar ada sesosok pria yang berdiri membelakanginya. Ia tahu ia harus berjalan menemuinya, tapi Rosiana tak dapat melepaskan Ramzi begitu saja dari hatinya. Maka ia memperlambat langkahnya. Ia berdiri di samping pria itu lalu pelan-pelan menolehkan lehernya, dan…“Ramzi?” Lelaki itu menoleh dengan wajah bingung, ia terkejut setengah mati, “Ro-Rosiannna..?”

Rosiana langsung memeluk lelaki itu, menitikkan air mata yang menguapkan rasa bahagianya; ia menciuminya, menyentuh wajahnya, membelai rambutnya, menatap kedua matanya, sampai ia yakin itu adalah suaminya. Sementara Ramzi hanya diam, membeku penuh keheranan; ia tak percaya dengan yang ia lihat, istrinya tampak segar bugar, normal, dan hidup. Tersirat kerut keanehan di wajahnya, ‘bagaimana bisa ini terjadi?’

“Rosiana, ada apa ini? Aku kira kamu telah meninggal.”

“Sepertinya iya, sayangku. Ini bukan bumi.”

“Tapi…aku tak mengerti, kenapa kita bisa bertemu lagi?”

Rosiana tersenyum manis, “bagaimana kopinya, sayang?”

“Apa maksudmu?” Ramzi mengerutkan keningnya.

“Terlalu manis?”

“A-aku…kopimu enak sekali, seperti biasanya.”

“Maafkan aku sayang,” Rosiana meraih kedua tangan Ramzi, “tapi aku menaruh banyak pil obat tidur ke dalamnya.”

“A-appaa…? Jadi…aku…”

“Aku tak ingin kita berpisah,” Rosiana memluk erat suaminya, “aku hanya ingin menyelamatkan…pernikahan kita.”

Rosiana memeluknya dengan mesra seakan tak ingin melepaskannya lagi, sementara Ramzi hanya berdiri di depan altar, menanggung sebuah perasaan aneh: ketertawanan oleh perasaan dicintai.

***

Ambulans tiba. Dua orang petugas masuk begitu saja, setelah tidak ada yang menjawab bel. Tidak ada orang di dalam rumah. Mereka berteriak, tapi tak ada jawaban. Pintu sebuah ruangan terbuka, kamar utama, seorang petugas masuk. “Hey, lihat ini.” Dua sosok mayat berbaring bersebelahan di atas kasur. Seorang petugas memeriksanya lalu menyimpukan, “Mati. Dua-duanya.”

“Tapi, operator tidak bilang ada yang meninggal?”

“Tapi mereka berdua sudah mati.”

“Kalau begitu siapa yang menelepon kita?”

“Mungkin laki-laki ini,” menunjuk ke arah Ramzi.

“Aku tak mengerti.”

“Angkat saja mereka berdua.”

Lalu ambulans itu pergi tanpa menyalakan sirine.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

sebuah plot yang tidak biasa

terima kasih mbak KD sudah mampir di sela-sela kesibukannya

100

korsleting!

siapa?