~AZURE-LORE~

~AZURE-LORE~

Sejak tiga ribu lima ratus tahun yang lalu, kami para Dracana mewarisi bumi.

Kami adalah bangsa yang kuat, bijak dan dikelilingi oleh seni yang tinggi dan peradaban yang luhur. Kehidupan kami dikelilingi nyanyian dan puja-puji. Oleh kilau kemilau berlian yang diwarnai oleh dye. Oleh puisi-puisi yang yang menceritakan filsafat suci dan unggul.

Hingga para bangsat Dwarfa itu menyerang. Mereka menggali ke dasar bumi yang suci. Ibu dari segala benda, mereka menghina ibu Gaia yang suci. Mereka memuja emas dan perak, memuja patung-patung leluhur mereka yang mati. Berhala yang disembah sebagai ganti Ibu Gaia yang suci, mereka pantas mati.

Kami memulai perang. Menyerang kota dan liang liang kotor mereka, dan bangunan raksasa yang mereka sebut Giganholde. Sedangkan mereka meledakkan sarang-sarang kami. Membunuh putra putri kami yang belum matang. Mereka membunuh kami, dan kami membunuh mereka. Perang berkecamuk hingga beberapa tahun lamanya.

Tapi kami lupa menyadari bahwa darah mereka merah seperti darah kami...

Dan kami tidak menyadari seorang pria dengan darah hitam. Hitam seperti kejahatan kegelapan.

30 tahun yang lalu datanglah seorang pria, namanya Dochall.

Dia adalah bagian dari ras rapuh bernama Manusia. Dia datang dengan perjanjian aliansi, tepat di saat gencatan senjata. Membawa perjanjian dan ketentraman bagi kami. Bangsa Dwarfa memperingati kami. Tapi terlambat..

Dia mencuri pusaka kami dan menggunakannya untuk melawan kami. Dia dan pasukannya memburu kami dan dengan pengetahuan yang dia curi, dia menumpahkan darah kami. Menghancurkan kota suci kami hingga kami harus berlari ke gunung-gunung. Bersembunyi seperti pengecut.

Namun kami bukan bangsa pengecut.

Kami adalah bangsa bijak.

Kami belum menyerah.

Dengan bantuan mantan musuh kami, Dwarfa, kami menciptakan senjata tandingan. Senjata untuk mengakhiri kesewenang wenangan Dochall di muka bumi. Senjata yang kekuatannya berasal dari cahaya. Dia akan mengalahkan Dochall...

Hanya saja senjata ini perlu pelengkap.

Seorang manusia...

Read previous post:  
Read next post:  
Writer MelZhi
MelZhi at ~AZURE-LORE~ (8 years 42 weeks ago)
100

kereeen, kak neko.
prolog yang sangat memancing.
ada nuansa-nuansa final fantasy-nya ya. saya suka. tapi, setuju juga ama kak lavender, ada juga nuansa LOTR nya juga. >_<
.
saya akan usahakan catch-up lanjutannya kak. :)

Writer neko-man
neko-man at ~AZURE-LORE~ (8 years 42 weeks ago)

Jangan khawatir kalau sudah kepanjangan, aku akan buat ringkasan cerita sebelumnya.

Writer neko-man
neko-man at ~AZURE-LORE~ (8 years 42 weeks ago)

semua fantasy kayaknya terpengaruh Tolkien Sensei kok

Writer tsukiya_arai
tsukiya_arai at ~AZURE-LORE~ (8 years 42 weeks ago)
90

cocok dengan keadaan bumi sekarang

^_^

Writer neko-man
neko-man at ~AZURE-LORE~ (8 years 42 weeks ago)

mungkin

Writer 145
145 at ~AZURE-LORE~ (8 years 42 weeks ago)
90

Para Dracana itu perlu lebih dari senjata untuk mengalahkan manusia :D.
-
Dan setelah ditipu mentah-mentah, rasanya cukup narsis kalau merela masih ngaku2 keren.
-
Soal naming... sejujurnya daripada setengah-setengah, mending pakai istilah aslinya saja. Kalau tidak buatlah istilah baru sekalian.
-

Writer neko-man
neko-man at ~AZURE-LORE~ (8 years 42 weeks ago)

Mereka memang narsis habis.
.
Seharusnya begitu ya? hahahaha!

Writer lavender
lavender at ~AZURE-LORE~ (8 years 42 weeks ago)
90

seperti nonton Lord Of The RIngs..

Writer Emelhy
Emelhy at ~AZURE-LORE~ (8 years 42 weeks ago)

^_^

Writer Chaca Marfecc
Chaca Marfecc at ~AZURE-LORE~ (8 years 42 weeks ago)
60

good :)

Writer Midori_Fukuro
Midori_Fukuro at ~AZURE-LORE~ (8 years 42 weeks ago)
80

(mohon)lanjutkan.... :)

Writer musthaf9
musthaf9 at ~AZURE-LORE~ (8 years 42 weeks ago)
80

bagus,
tapi aku masih bingung dengan penyerangan Dracana pada Dwarfa. semacam fanatisme kah?

Writer neko-man
neko-man at ~AZURE-LORE~ (8 years 42 weeks ago)

Drakana itu semacam ras naga. Populasinya sedikit sekali dan hidup berdampingan dengan alam. Ras Dwarfa karena teknologinya yang semakin canggih, mulai menggunakan bor dan peledak yang canggih demi membuat kota dan mendapat bahan tambang seperti emas. Ini menyebabkan Drakana marah, karena menurutnya gunung dan bumi itu suci. sedangkan Dwarfa melubangi mereka demi pertambangan. Ini selain berisik tunnelnya juga mulai sampai gunung suci para Drakana. Selain itu penambang sering menembak mati Drakana yang mengganggu pertambangan.